~Thank you for your comments~

Posts tagged ‘SooFany’

Stockholm Syndrome (Chapter 10)

Maaf, mendadak aku ada urusan penting, jadi aku tidak bisa datang.

Kemudian tombol kirim ditekan. Dalam waktu kuramg dari sedetik langsung sudah sampai ke Taeyeon. Ponsel pintar itu tanpa seijin pemiliknya telah digunakan untuk membatalkan janji kencan dengan Taeyeon.

“Nah, beres.”

Sooyoung tersenyum puas karena telah menggagalkan aksi kencan keduanya. Tepat setelah itu terdengar suara bel pintu yang membuat perasaan Sooyoung was-was. Instingnya mengatakan kalau dia harus menyembunyikan Sunny sekarang juga. Sooyoung menarik lengan Sunny yang tadinya masih terduduk di lantai.

“Berdiri, cepat.” Desak Sooyoung ketika melihat Sunny bangun dengan gerakan lambat. Kemudian dia menyeret gadis itu masuk ke kamarnya. “Kamu tetap di dalam. Jangan bersuara, kamu tidak akan kuampuni kalau sampai berteriak.” Lalu Sooyoung menutup pintunya dan mengunci dari luar. Kuncinya dimasukkan ke dalam saku celananya. Lalu dia pergi membuka pintu dan langsung disambut dengan eye smile seorang gadis.

“Hei~ apa kedatanganku mengagetkanmu?”

Ada perasaan tidak suka saat Tiffany mendadak datang tanpa memberitahu seperti ini ke rumahnya.

“Ada apa mendadak datang?” Tanya Sooyoung memaksakan senyum, berusaha untuk tidak menampakkan rasa tidak sukanya.

“Lho, apa kamu lagi sibuk?”

“I-iya, lumayan.”

“Tapi boleh kan aku masuk?”

“Silakan,” kata Sooyoung walau sebenarnya dia ingin menyuruh Tiffany pergi sekarang ini.

“Hehe, permisi ya.” Tiffany masuk dan melepas high heelsnya. “Kamu lagi apa barusan?”

“Err… mengerjakan tugas,” jawab Sooyoung bohong.

Tiffany melewati sofa dan melihat botol susu bekas diminum Sooyoung.

“Oh, kamu enggak habis? Aku habiskan ya.” Tiffany langsung meminum habis dari sedotan bekas Sooyoung tanpa ragu sedikit pun.

Sooyoung yang melihatnya pun langsung teringat Sunny. Dia berdoa dalam batin supaya jangan sampai Tiffany tahu soal Sunny.

“Ngomong-ngomong aku bawakan makanan nih. Kamu pasti suka.”

“Iya, aku suka.”

“Haha, kamu bahkan belum tahu makanannya tapi sudah bilang suka, shik shin^^”

Tiffany menunjukkan apa yang dibawanya. “Aku belikan kamu kue dan es krim Baskin Robbins. Tapi aku tidak tahu apa rasa es krim favoritmu, jadi maaf ya kalau kurang suka rasanya. Ini, simpan di kulkas.”

“Oh, gomawo.” Sooyoung menerimanya, membuka tutupnya untuk melihat sekilas isinya. “Oh, harusnya sudah bisa kuduga isinya pasti pink,” Sooyoung memutar bola matanya setelah melihat warna pink di dalamnya.

“Hehe, sorry, can’t help it^^”

“Yah tidak apa-apa, aku juga suka pink kok.” Sooyoung pergi memasukkannya ke dalam kulkas.

“Ayo sekarang kita makan kuenya setelah itu baru makan es krimnya setelah agak dingin di kulkas sebentar.”

Tiffany meletakkan kotak kuenya di atas meja dan membuka kotaknya.

“Ah, harusnya sudah kuduga,” kata Sooyoung setelah melihat warna krim kuenya juga berwarna pink.

“Ehehe^^”

Sementara itu di dalam kamar Sunny.

Sejak lima menit yang lalu tiba-tiba Sunny merasakan rasa sakit yang amat sangat di bagian perutnya.

“Apopopopo… kenapa ini… ada apa dengan tubuhku…”

Rasa sakitnya sangat menusuk sampai Sunny merasa tersiksa.

“Aduh rasanya mau mati…”

Sunny memegangi perutnya. Wajahnya berkerut menahan sakit.

“Apooo… gimana ini… apa aku bilang ke Sooyoung, tapi…”

Sunny mendadak teringat ancaman Sooyoung mengenai jangan bersuara.

Tidak ada telpon di kamar ini.

“Tapi katanya dia tidak akan mengampuniku kalau aku berteriak…”

Haruskah kutahan saja? Tapi bagaimana kalau ternyata aku sakit parah? Gimana kalau aku mati jika kubiarkan? Batin Sunny.

 “Aduh… sakit… ini terlalu sakit untuk kutahan…”

Sunny berjalan menuju ke meja dan mengambil kertas dan pulpen merah.

Sementara di ruang tengah, Sooyoung dan Tiffany sedang mengobrol santai sambil makan kue.

“Bentar, aku ambilin minum ya,” kata Sooyoung.

“Ya.”

Sooyoung beranjak ke dapur. Saat melewati kamar Sunny, dia melirik pintu kamarnya sekilas dengan waspada. Seolah-olah takut setiap saat gadis itu dapat berbuat ulah yang membuat sosoknya ketahuan Tiffany.

Bagus, kamu diam terus saja ya, batin Sooyoung.

Saat itu dia menginjak sesuatu yang terasa berbeda dengan permukaan lantai. Sooyoung menunduk ke lantai dan melihat kalau dia sedang menginjak selembar kertas.

Kenapa bisa ada kertas disini, batin Sooyoung ketika dia mengambilnya. Sebelum berniat dibuang dia membacanya terlebih dulu. Hangul yang tertulis berkata seperti ini.

Tolong aku, sepertinya aku sakit parah

Sunny

Sooyoung mengerutkan dahinya.

Apa ini? Dia sengaja melakukan ini untuk membuatku cemas ya?

Begitu pikiran pertama yang terlintas di kepala Sooyoung, kemudian dia pergi mengambil minuman. Saat sedang menunggu gelas terisi penuh dari dispenser dia terus memikirkan kalimat yang tertulis di kertas itu berulang-ulang. Otaknya seperti berusaha menganalisis maksud kata-kata Sunny yang sebenarnya.

Mungkin dia kurang kerjaan. Tapi gimana kalau itu sungguhan? Mungkinkah dia benar-benar sedang merasa sakit? Tapi kenapa dia tidak berteriak minta tolong saja daripada melakukan itu kalau dia benar-benar sakit? Sakit apa yang mungkin diderita oleh Sunny? Sampai tadi kami melakukan itu dia masih tampak baik-baik saja. Yah… tentunya selain dia menangis tadi…

Benak Sooyoung terus bertanya-tanya sampai dia tidak sadar kalau gelasnya sudah penuh dari tadi. Dia baru merasakannya ketika tetesan airnya mengenai kakinya.

“Wah! Wah! Tumpah!”

Sooyoung menghentikannya dengan panik. Sekarang terdapat genangan air yang cukup lebar di dekat kakinya.

“Duh, tapi Fany sudah menungguku. Yah, airnya juga enggak sebanyak itu, nanti saja deh lapnya.”

Sooyoung memegang masing-masing gelas di kedua tangannya. Dia melewati kamar Sunny untuk mengeceknya lagi. Tepat saat itu selembar kertas dikeluarkan lewat celah pintu bawah.

Tolong aku, kumohon… kalau dibiarkan mungkin aku bisa benar-benar mati

Sunny

Sooyoung mengatupkan rahangnya menahan amarah dan kecemasan yang bercampur dalam hatinya. “Gadis tolol… awas saja kalu bohong.”

Dia meletakkan kedua gelasnya dan mengambil kunci kamar dari saku celananya. Dia sudah bertekad akan tidak mendengarkan apa kata Tiffany nantinya, setidaknya sampai Sunny telah diperiksa oleh dokter. Kata mati yang tertulis di kertas dalam warna merah itu membuatnya tidak bisa mengabaikan gadis itu begitu saja. Dan di detik Sooyoung membuka kunci pintu dan membukanya itu, debaran jantungnya mengatakan Sooyoung kalau dia jauh lebih mementingkan hidup Sunny dibanding apa yang akan dipikirkan oleh Tiffany mengenai perselingkuhannya.

Cklek

Sooyoung melihat Sunny lagi duduk bersandar di tembok dekat pintu. Dengan buku dan pulpen merah di pangkuannya.

“Ada apa?!” Tanya Sooyoung cemas melihat wajah Sunny berkerut kesakitan.

“Pe-perutku sakit sekali… rasanya seperti ditusuk…” erang Sunny sambil memegangi perutnya.

Mata Sooyoung yang langsung menilai wajah dan bahasa tubuhnya bisa tahu kalau Sunny saat ini tidak sedang berakting.

“Ck, panggil ambulans. Ah tidak, kalau kubawa kamu ke rumah sakit dengan mobil sekarang akan lebih cepat daripada harus menunggu ambulans datang.”

Sooyoung meninggalkan Sunny untuk pergi ke kamar mengambil kunci mobil.

Tiffany yang mendengar keributan itu datang menghampiri Sooyoung di depan pintu kamarnya.

“Ada apa?”

“Minggir!”

Tiffany kaget mendengar nada tingginya, tapi jauh lebih kaget lagi melihat Sooyoung pergi ke kamar yang satunya dan keluar membopong seorang gadis asing di punggungnya dengan wajah kalut.

Sooyoung menekan tombol garasinya yang langsung terbuka secara otomatis dan dengan susah payah mendudukkan Sunny di kursi tengah. Lalu masuk menyalakan mobilnya.

“Apa maksudnya ini Sooyoung? Sebenarnya ada apa?!” Tanya Tiffany dari luar mobilnya.

“Mianhae, aku juga belum tahu apa penyebabnya. Yang jelas sekarang ini aku harus membawanya ke rumah sakit Seoul. Kutitipkan rumah padamu sementara.”

“Yah!”

Sooyoung sudah tidak peduli lagi. Dia memindahkan gigi dan menjalankan mobil meninggalkan rumahnya.

“Duh sakit…”

Sooyoung mendengar rintihan lemah Sunny sekali lagi. Dia berusaha mencoba tenang sambil fokus pada jalan di depan.

“Tahan ya, ini lagi perjalanan. Sebentar lagi kamu akan baik-baik saja, Sunny. Ada aku disini,” ujar Sooyoung bersuara lembut. Mungkin baru pertama kalinya dia bersuara selembut ini pada Sunny.

Meski harus menyetir dengan buruk, dia bertekad akan membawa Sunny ke rumah sakit secepat mungkin.

Sunny POV

Sooyoung yang berkata seperti itu terdengar sangat lembut sampai aku hampir tidak memercayai pendengaranku.

Benarkah? Tapi bisa saja Sooyoung berkata begitu hanya untuk menenangkanku saja.

“Eh Sooyoung, andai aku mati-“

Diiinnnnnn!!

Suara klakson mobil ini keras sekali sampai aku agak kaget. Sooyoung barusan sengaja membunyikannya.

“Jangan bicara mati, aku tidak suka.”

“……..maaf…”

“Dan jangan bilang kamu mau mati juga. Karena itu tidak sopan pada orang yang telah bersusah payah demi kamu.”

“Iya…”

Sunny menarik nafas. Lalu mengucapkan kalimat itu setelah menahan napas beberapa detik. “Sooyoungie, aku cinta kamu.”

Mata Sooyoung membulat. Sama sekali tidak menduga pernyataan cinta yang tiba-tiba di tengah perjalanan.

“Sekarang dan selamanya, aku ingin terus bersamamu.”

Sambil berkata begitu Sunny meminta maaf pada seseorang dalam batin. Maafkan aku Taeyeon, biarpun bertepuk sebelah tangan tapi kurasa aku memang lebih suka menjadi tawanan cinta Sooyoung.

“Bodoh, mana mungkin selamanya, kita kan bukan makhluk abadi.”

“Iya ya…” Sunny tersenyum getir.

“Tapi, sekarang kamu berutang sama aku. Makanya aku tidak keberatan kalau kamu terus bersamaku untuk membayarnya.”

“Eh? Itu artinya… aku boleh terus tinggal? Sama Sooyoung?”

“Ya.”

**

Di rumah sakit.

“Bagaimana keadaannya dokter?”

“Dia terkena usus buntu. Dia perlu operasi. Lebih cepat lebih baik.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi dokter? Segera operasi dia!”

“Pertama keluarganya harus menandatangani surat persetujuan operasi dulu.”

“Kalau begitu cepat operasi karena aku keluarganya!” Protes Sooyoung tanpa pikir panjang.

Akhirnya Sunny dibawa ke ruang operasi dan operasi dimulai.

Sooyoung memanjatkan doa selama menunggunya. Dia bahkan lupa sama sekali soal Tiffany sampai dia datang.

“Fany…”

Wajahnya penuh dengan tuntutan minta penjelasan.

Sooyoung menggigit bibir. Merasa tertekan oleh hawa tidak enak yang memenuhi ruang tunggu itu. Akhirnya dia pun berkata.

“Lebih baik kita putus saja…”

Darah Tiffany mendidih. Tanpa penjelasan, tanpa alasan atau berkelit atau apapun itu tiba-tiba saja dia diputuskan. Siapa yang bisa terima diperlakukan seperti itu?

Tiffany melampiaskan amarahnya dengan melayangkan tamparan ke pipi Sooyoung.

Plak!

“Kamu jahat… padahal kupikir kamu sayang aku… tapi rupanya kamu bahkan sama sekali tidak mencoba untuk mempertahankan hubungan kita…”

“Apalagi yang bisa kukatakan. Kurasa walau aku buka mulut dan beralasan dengan segala macam alasan pun tidak ada bedanya lagi. Karena fakta aku sudah selingkuh diam-diam di belakangmu, kamu pasti akan tetap membenciku.”

“Rupanya memang Taeyeon benar… bodohnya aku karena tidak percaya dengan omongannya.”

“……………”

“Aku jadi merasa bodoh sudah memercayaimu…”

“……………”

“Sekarang jawab aku Sooyoung, siapa yang kamu pilih? Aku atau gadis itu?”

Sooyoung menunduk. Cukup lama dia membisu sebelum menggerakkan bibirnya mengucapkan satu patah kata.

“……..ny…”

“Katakan yang jelas Choi Sooyoung! Hubungan kita tinggal bergantung pada jawabanmu.”

“Aku pilih Taeyeon saja.”

“Grrrr…!”

Plak!

“Aku tidak mau mengenalmu lagi! Jangan sampai aku menemukan kamu nanti ngemis-ngemis minta balikan lagi!”

Tiffany memunggunginya dan berjalan pergi dengan cepat. Menghempaskan setiap langkahnya dengan kesal, tidak peduli meski suaranya bergema di lorong yang kosong.

Walau sosoknya sudah tidak terlihat lagi, perkataan Tiffany masih terngiang dalam otaknya.

“Puh-haha. Hahahaha. Hahahaha!” Kemudian Sooyoung menutup mulutnya, sadar kalau dia masih berada di rumah sakit.

“Ngemis katanya. Memangnya Choi Sooyoung itu siapa.” Sooyoung menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. “Maaf saja Fany ah, tapi Choi Sooyoung bukan orang yang akan menarik kembali kata-katanya sendiri. Ups, tentu saja beda ceritanya kalau sedang bercanda.”

“Mengenai aku pilih Taeyeon tadi tentu saja cuma bercanda karena aku bahkan tidak kenal dengannya. Yang kutahu hanya Kim Taeyeon norak yang sudah membuatku ditolak sama Sica, menyebalkan,” ujar Sooyoung berkata sendirian seolah-olah ada yang meminta penjelasan.

Sementara di saat yang bersamaan Taeyeon dan Jessica bersin.

“Aku atau gadis itu?”

“Hmm, kalau kujawab 2ny mungkin lucu juga, ahaha. Karena Sunny dan Tiffany sama-sama belakangnya ny jadi 2ny deh. Ahaha!”

Sooyoung ketawa sendiri dari pemikiran-pemikiran konyolnya.

“Tapi…” Sooyoung memejamkan matanya. “Kalau mau kujawab dengan serius, sudah pasti jawabannya adalah…” Sooyoung membuka matanya kembali dan menatap ke ruang operasi yang masih tertutup, dimana lampu yang masih menyala merah tepat di atas ruang itu mati dan kemudian pintu ruang operasi terbuka.

Advertisements

Stockholm Syndrome (Chapter 8)

Tiffany baru saja selesai pemotretan sebagai model.
“Fany ah.”
“Kamu datang lagi. Ada perlu apa?”
“Kamu mau ke rumah Sooyoung lagi?”
“Ya, tadi Sooyoung mengirim pesan kalau dia sakit, aku akan pergi menjenguknya.”
“Jangan datang ke rumah dia.”
“Taeyeon ah, kamu bukan pacarku. Harus berapa kali aku menolakmu baru kamu mau menyerah?”
(more…)

Stockholm Syndrome (Chapter 6)

“Aku dapat tawaran untuk menjadi model fashion. Tapi kurasa peran itu lebih cocok untukmu Sooyoung. Bagaimana? Kamu mau mencobanya? Aku bisa mengenalkanmu. Tentu saja pekerjaan ini dibayar.”
“Tapi aku enggak pernah menjadi model sebelumnya.”
“Tidak masalah, mereka memberi kesempatan pada model yang masih pemula. Faktanya, dulu aku juga pernah menjadi model fashion disana. (more…)

Stockholm Syndrome (Chapter 5)

Sekarang Sunny telah sampai di depan apartemen kecilnya. Dia membuka kunci pintu dan langsung disambut dengan bau tidak sedap karena kamarnya sudah berhari-hari dalam keadaan tertutup.
(more…)

Stockholm Syndrome (Chapter 4)

Choi Sooyoung. Seorang gadis pecundang berusia 26 tahun. Masih lajang. Belum pernah bekerja, bahkan kuliahnya masih belum selesai. Motivasinya nol besar. Tidak punya ambisi selain berusaha menjalin hubungan dan meraih cinta sejati dengan seseorang.
(more…)

Stalker + Stalker (Chapter 2)

Seperti biasa keesokan harinya Tiffany mengecek hadiah dari stalker aneh yang sejak 2 hari yang lalu mulai muncul tiba-tiba.
Seperti biasa hadiah itu ada di dalam tas plastik dari toko Tiffany & co. Dan ada sebuah kertas berisi pesan.
“Kali ini jam tangan ya?”

I’m always watching you.

From your secret lover♡

(more…)

Cinta Segisembilan (Chapter 6)

Yuri & Yoona

Sehabis makan malam bersama, Yuri pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Setelah itu dia kembali ke kamar.
Yoona sedang duduk di tepi kasur sambil menekan-nekan telapak kakinya.
“Lagi apa Yoona?” (more…)