~Thank you for your comments~

Posts tagged ‘Dandyu’

Stockholm Syndrome (Chapter 9)

A/N: Cuma sekedar pos ff yang hilang dari pencarian ._.

**

Pagi hari, Sunny langsung disambut oleh pesan cheesy dari seseorang.

 

Dari Taeyeon

Pagi.

Ketika aku melihat mentari pagi yang menyinari wajahku dengan lembut, aku langsung teringat kamu. Ah, cuacanya cerah. Jangan lupa sarapan.

Senyum mengembang di wajah Sunny. Lalu dia segera mengetik balasannya.

“Pagi, hehe. Tahu enggak? Pesanmu barusan made my day^^”

“Nah, kirim.”

Sunny sengaja memakai bahasa inggris sedikit di bagian akhir pesannya. Karena dia tahu Taeyeon pasti sedang berusaha mengira-ngira apa maksud dari kalimatnya.

Setelah mampir ke kamar mandi, Sunny pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tak lupa ponselnya terus dibawa. Supaya bisa langsung balas kalau Taeyeon kembali mengirim pesan.

Saat sedang membuat roti panggang, Sooyoung keluar dari kamarnya. Dia menguap lebar kemudian duduk di kursi depan meja makan.

Tanpa perlu diminta, Sunny sudah menyodorkan piring berisi dua potong roti panggang bersama botol selai coklat.

Sooyoung menatap roti panggangnya masih dengan wajah setengah mengantuk. Sekarang dia tampak melamun menatap rotinya yang masih hangat.

“Mending cuci muka dulu sana.”

“Berisik ah… tanpa perlu kamu suruh juga nanti aku akan cuci.”

Akhirnya Sooyoung mulai menggerakkan tangannya dengan malas. Memoles coklat ke atas rotinya.

Smartphone Sunny berbunyi. Sunny mengambil dan membaca pesan yang masuk. Ternyata ada foto juga. Sebuah bunga mawar yang mekar di pot dengan latar belakang jendela.

“Bunga mawarku juga mau beri salam selamat pagi 🌹.”

“Awww^^”

“Apaan sih, senyum senyum sendiri kayak orang bodoh.” Komentar Sooyoung setelah melihat ekspresi Sunny.

“Memangnya orang enggak boleh senyum senyum karena baca pesan dari pacar?” Balas Sunny seolah menantangnya.

“Pagi-pagi enggak usah pamer kemesraan deh. Bikinin aku kopi.”

“Huh.”

Meski begitu Sunny tetap membikinkan kopi untuknya.

“Mawar merah ini seindah warna rambutmu.”

“Taeyeon, kamu belajar darimana kalimat cheesy seperti itu?”

“Aku enggak makan keju.”

Sunny tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri.

“Hehe, manisnya.”

“Masih lebih manis coklat ini.” Sela Sooyoung. “Mana kopinya hei?”

“Bikin sendiri!” Kata Sunny mulai kesal.

Sooyoung menyalakan ponselnya dan mengusapnya supaya kuncinya terbuka. “Oh begitu ya kata-kata orang yang sudah numpang gratis di rumah ini.”

Sunny berusaha meredam kekesalannya. Dia malah mulai bertanya-tanya kenapa hatinya bisa suka sama orang seperti ini.

Freeloader.” Tambah Sooyoung sekali lagi setelah mencari terjemahan ke bahasa inggrisnya lewat google.

“Grrr, kalau kamu mau aku bayar, aku bayar!”

Sooyoung memasang tampang acuh tak acuh sambil mengorek kupingnya jari kelingking. “Enggak usah, sama saja seperti aku menerima kembali uangku sendiri.”

“Aku sudah tahu kamu pasti enggak mau makanya aku tidak menawarkan mau bayar.”

“Tapi tetap saja namanya tidak tahu diri kalau tidak menawarkan akan bayar kan. Sudah tinggal lama juga.”

“Grrr… ini kopinya.” Sunny meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit kasar.

“Yah, pagi-pagi moodku sudah rusak. Bahkan kopi pagi jadi tidak nikmat lagi. Ya sudah, aku minum susu saja.” Sooyoung beranjak dari tempatnya dan menuju ke kulkas untuk mengambil sebotol susu tanpa rasa. “Sunny mau susu?”

“Aku benci minum susu!”

“Masa? Aku enggak tahu. Ahh, tapi pantas saja kamu pendek,” kata Sooyoung sambil memasang ekspresi menyebalkan. “Ya sudah kamu minum saja kopiku.”

Sooyoung berjalan pergi dengan cuek sambil meminum susunya. Ketika sudah masuk kamar, Sunny melampiaskan kekesalannya dengan menggigit roti miliknya keras-keras.

“Ck, enggak ada bagusnya! Memang tepat aku memilih pacaran sama Taeyeon.”

Tepat saat itu Sunny mendapat sebuah pesan dari Taeyeon.

“Sunny ah, kalau kamu enggak ada acara. Gimana kalau nanti sore kita kencan?”

Sunny pun langsung jawab iya.

**

“Kamu kelihatannya lagi bad mood. Apa kamu membatalkan janji lain karena aku?”

“Ah, bukan begitu. Hanya ada yang sedang menggangguku saja. Tapi bukan karena kamu.”

“Hmmm.”

“Apa aku masih kelihatan kesal?” Tanya Sunny kikuk.

“Iya.”

Sunny mencoba tersenyum. “Sekarang gimana?”

“Sedikit lebih baik. Gimana kalau kita pergi nonton film komedi saja? Supaya kamu tertawa.”

“Ide bagus Taeyeon ah! Aku sudah lama tidak pergi nonton bioskop. Kajja!” Sunny menggandeng lengan Taeyeon.

Setelah menonton bioskop keduanya pergi makan malam di sebuah restoran. Restoran tempat mereka makan tidak mewah, tapi juga tidak buruk.

“Ah filmnya kocak, sudah lama aku tidak banyak tertawa.”

“Syukurlah.”

“Sudah memutuskan mau pesan apa?”

“Ya, ayo pesan sekarang.”

Sunny memanggil seorang pelayan. Kemudian mereka masing-masing memesan makanan dan minuman.

“Menurutmu anehkah kalau kita jadian?” Tanya Taeyeon setelah pelayan pergi membawa pesanan mereka.

“Eh? Kenapa tanya begitu?”

Taeyeon melipat tangannya di atas meja. “Hmm, cuma mau tahu apa pandanganmu mengenai kita pacaran ini. Karena kita tidak pernah membahasnya.”

“Kita kan baru jadian dari kemarin.”

“Iya sih, mungkin terlalu cepat menanyakannya ya?”

“Tapi aku tidak merasa aneh kok. Aku malah merasa nyaman bersamamu. Tidak seperti sama Sooyoung, dia malah membuatku kesal, grrr.” Sunny teringat kembali kejadian tadi pagi.

“Ah, jadi itu penyebab yang membuat kamu tampak kesal tadi.”

“Iya, dia itu menyebalkan, narsis, dan suka banget iseng, huft! Apa sih yang Fany lihat dari orang seperti dia?!”

“Kenapa kamu tidak keluar saja dari rumahnya?”

Perkataan Taeyeon memotong jalan pikiran Sunny dari mencari-cari kejelekan Sooyoung.

“Kamu cuma tinggal sementara di rumahnya kan? Lagian… sekarang kamu sudah menjadi pacarku. Apa kamu tidak kepikiran lebih baik keluar saja dari rumahnya?”

Sejujurnya, keluar adalah hal yang tidak begitu diharapkannya. Tapi apa yang dikatakan Taeyeon ada benarnya. Sampai kenyataan itu seperti menamparnya.

“………………”

Melihat gadis itu hanya terdiam dan menundukkan kepala, Taeyeon memanggil namanya dengan hati-hati. “Sunny?”

“Maaf Taeyeon… kamu benar, kamu sangat benar… Tapi aku baru sadar… kalau rupanya aku masih belum sanggup. Ini terlalu mendadak.”

Mata Sunny mulai berair sampai Taeyeon tercengang menatapnya.

“Aku pacar yang payah ya? Maaf…”

“Eh, anu, Sunny, aku bukannya bermaksud memojokkan kamu. Aku tahu sekarang ini kamu masih belum sanggup merelakannya. Aku sangat mengerti karena sebagian dalam diriku juga masih merasa seperti itu. Maafkan aku juga…”

“Ahaha, sudahlah, kenapa kita malah jadi saling maaf-maafan.”

“Tapi Sunny, aku mau kamu memikirkannya. Karena mau sampai kapan kamu mau tersiksa melihatnya dari dekat tapi tidak bisa memiliki hatinya?”

“…iya.”

**

Sunny membuka pintu rumah Sooyoung dan masuk ke dalam.

“Pulangnya kurang malam.” Itu kalimat sambutan yang langsung dilontarkan oleh Sooyoung begitu melihat sosoknya.

Sunny melepas sepatunya dalam diam dan berjalan melewatinya.

“Tumben, dipikir bakal langsung mencak-mencak.”

Sunny masih tetap terdiam, bahkan saat dia mengambil air untuk minum.

“Yah, tuli ya? Lagi diajak bicara juga.”

Tapi Sunny tetap tidak membuka mulut sama sekali dan berjalan masuk kamarnya.

“Yah! Lain kali jangan pergi seenaknya dan pulang lama!”

Tetap tidak ada balasan.

“Ck, dasar.”

Sunny POV

Saat sedang mengganti baju ke piyama aku teringat kembali kata-kata Taeyeon.

“Kalau kamu merasa kesepian sendirian, bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku saja Sunny?”

Setelah berganti baju, kubuka pintu dan mengintip keluar kamar. Kulihat Sooyoung masih tetap duduk di sofa seperti tadi.

Tidak lama lagi mungkin aku akan meninggalkan rumah ini. Berarti kalau itu terjadi, aku tidak akan bisa melihat sosoknya lagi seperti ini.

Aku menggelengkan kepala.

Tidak, jangan sedih Sunny. Dia itu orang yang menyebalkan. Buat apa sedih berpisah dengannya?

Lebih baik aku segera tidur, tidak usah mikir macam-macam.

Aku menutup pintu dan langsung mematikan lampu dan merebahkan diri ke kasur.

**

Keesokan paginya. Setelah bangun aku meregangkan tubuhku di samping kasur.

“Ahh, tidurku nyenyak.”

Dengan mengejutkan aku bisa tidur nyenyak dengan pemikiran semalam. Aku pergi keluar kamar dan langsung menemukan Sooyoung sedang duduk bersandar di sofa.

Eh? Dia sudah bangun?

Ketika aku mendekat. Rupanya matanya terpejam. Kugerak-gerakkan tanganku di depan wajahnya tapi tidak ada reaksi. Tidur ya? Kulihat tangannya yang rileks masih memegang remot. TV dalam keadaan mati.

Hah? Jangan bilang dari semalam dia ketiduran seperti ini karena nonton TV? Memangnya kamu oom-oom?

Ckckck. Aku menggeleng-geleng melihat kelakuannya. Kuperhatikan wajahnya yang tertidur sekali lagi.

Terbesit dalam pikiranku untuk menyelimuti sosoknya yang sedang tertidur. Juga ritme jantungku yang berdebar sedikit lebih cepat.

Tidak, enggak usah.

Malah rasanya aku ingin menyentil keningnya dengan jariku karena masih kesal sama sikapnya kemarin.

Ya, kulakukan itu saja. Biar saja dia marah. Huhu, rasakan karena sudah menjadi orang yang menjengkelkan. Karena dia enggak ada manis-manisnya.

Kulipat jari tengahku dan kutahan dengan ibu jariku. Kemudian mengumpulkan tenaga ke ujung jariku. Ibu jariku menahan kuat-kuat jari tengahku sambil aku mulai menghitung dalam batin.

Hana… dul…

“………ny…”

Eh? Barusan?

Dia memanggil namaku dalam tidur?

Ah enggak, enggak mungkin. Pasti barusan dia memanggil nama Fany.

Hih, kusentil saja!

Tapi saat itu dia menggeser kepalanya. Dan tiba-tiba hatiku menjadi lunak.

Ck, jangan bilang aku terpengaruh oleh delusiku sendiri, menganggap kalau barusan dia menyebut namaku.

Mendadak seolah ada dua perasaan yang bertentangan sedang berdebat dalam kepalaku.

Sudahlah, sentil saja lagi.

Eh, tapi gimana kalau dia marah-marah nanti.

Gimana sih, tadi katanya mau sentil?

Jangan, kamu sendiri juga pasti enggak mau kalau lagi tidur diganggu kan?

Kamu masih kesal sama dia kan? Sudah, lakukan saja.

“Aduh! Berisik!!”

“Apa yang kamu lakukan? Teriak-teriak di depan muka orang.”

“Eh.”

Sudah bangun ya?

Yah kamu telat.

Baguslah kamu jadi tidak sempat melakukannya.

Sudah hatiku! Kalian jangan bersuara lagi!

“Ngggghhh…!” Sooyoung meregangkan tubuhnya dan menguap lebar. “Huh, pagi-pagi sudah terganggu sama suara berisik. Kamu sengaja karena mau mengagetkanku ya?”

“Aniyo~” jawabku sambil pasang muka polos.

Sebenarnya sih tadinya mau sentil.

“Yah, mana sarapannya?”

“I-iya, kubikin sekarang.”

“Jangan roti atau telor atau ramyun. Hari ini aku mau makan sereal saja.”

“Oke.”

Duh, padahal cuma tinggal tuang susu ke sereal gampang begini saja minta dibikinin.

Selesai kubikinkan dia langsung makan, bahkan tanpa ucapan terima kasih karena sudah kubikinkan. Seenak perutnya seperti biasanya. Tapi aku tidak bisa protes. Aku freeloader katanya, hmmph!

Aku segera pergi ke kamar dan mengirim pesan ke Taeyeon.

Third Person POV

Sore harinya. Hari ini Sooyoung tidak ada kuliah. Sudah seharian dia bermalas-malasan dalam rumah. Dan sudah 3 jam lebih pantatnya terus menempel di sofa ruang tengah.

Saat Sooyoung sedang berpikir ingin mengganti aktivitas lain. Sunny lewat tepat di depannya. Hidungnya menangkap bau harum yang semerbak.

Sooyoung memperhatikan seluruh penampilan gadis itu dari kepala sampai ujung kaki. Sunny memakai make up tipis yang menonjolkan kecantikan wajahnya. Baju manis dengan bagian pundak yang terbuka, rok mini, dan tas cantik. Yang jelas Sunny pasti telah benar-benar meluangkan waktunya demi merias penampilannya. Tapi yang paling membuat Sooyoung tidak suka adalah rok mini yang saat ini Sunny kenakan.

“Mau kemana kamu?”

“Mau pergi kencan.”

“Mulai sekarang dilarang pergi keluar seenaknya lagi.”

“Hah?” Sunny menoleh tidak percaya.

“Kemarin kamu pergi enggak bilang-bilang.”

“Kenapa kalau aku mau kencan harus bilang-bilang sama kamu? Kamu sendiri juga enggak kan. Lagipula terserah aku mau kencan atau mau ngapain dong, huft!”

“Kamu… mau kencan lagi?”

“Itu bukan urusanmu!”

Sunny POV

Apa cuma perasaanku ya, tapi aku merasa nada Sooyoung kedengaran… lain. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi entah kenapa perasaanku mengatakan begitu.

“Kembalikan kuncinya.”

“Eh?”

“Kamu enggak boleh keluar seenaknya. Kemarin kamu bahkan tidak menyiapkan makan malam, tidak pamitan pula. Main keluar sampai jam 10 lebih baru pulang.”

“Yah! Kenapa hanya gara-gara itu lantas aku jadi dilarang keluar?!” Tanyaku merasa diperlakukan tidak adil.

Sooyoung meletakkan susu botol yang diminumnya dengan kasar dan berdiri dengan tiba-tiba. Aku tidak mengerti kenapa tapi tiba-tiba aku didorongnya ke tembok. Kedua tanganku juga ditekan ke tembok.

“Kalau kubilang enggak boleh ya enggak boleh.”

“Apa sih masalah kamu?” Aku menatapnya dengan berani untuk menunjukkan kalau aku tidak takut dengan kata-kata dan perbuatannya. Tapi tiba-tiba dia melakukan sesuatu yang tak pernah kuduga.

Wajahnya berada dekat sekali dengan wajahku. Bibirnya menempel di bibirku.

Tekanan bibirnya memaksaku untuk membuka bibirku, dan akhirnya aku membuka bibirku.

Uhh… kalau diingat lagi, barusan dia minum susu tanpa rasa kan? Bau susunya terlalu kuat, aku tidak suka!

Aku mulai merasa mual.

Setelah beberapa detik yang terasa cukup lama terkurung sama rasa susu yang kubenci akhirnya dia melepaskanku.

“Rasakan, kamu benci susu kan.”

Jangan bilang barusan dia melakukan itu karena tahu aku benci susu? Kenapa kamu jahat sekali sama aku Sooyoungie… padahal aku…

Saat itu aku merasakan sesuatu menggerayangi bagian bawahku. Tangannya menyusup masuk ke balik rok yang kukenakan. Tunggu!

Tapi dia sudah keburu menggosok bagian yang sensitif.

“A-ahhh!”

Meski masih tertutupi celana dalam, tapi aku sendiri tidak mengantisipasi desahan yang terlepas dari mulutku.

“Hehe, sudah lama tidak kusentuh sepertinya kamu jadi sensitif ya Soonkyu.”

“Ti-tidak, jangan elus disana- aghhh!”

Sebelum dapat kucegah lagi, jarinya sudah menyingkirkan celana dalamku dan seenaknya masuk ke dalam. Kini aku merasakan sesuatu bergerak-gerak mengelus bagian dalamku. Dan dia sama sekali tidak berhenti untuk memberiku kesempatan.

Aku ingin merapatkan kedua kakiku, tapi pahanya mengganjal di antara kedua pahaku, membuatku tidak bisa merapat.

Aku hanya bisa meremas lengannya dengan tangan kiriku yang bebas. Jarinya yang panjang terus keluar masuk dan mengaduk-aduk bagian dalamku.

“Uhh… ahh… ahh…”

Badanku menjadi panas terutama di bagian yang dia rangsang. Nafasku mulai tak terkendali.

Kenapa jadi begini… Semenit yang lalu aku masih bertengkar dengannya dan sekarang aku malah dibeginikan olehnya.

Aku mulai merasa lemas akibat sensasi kenikmatan ini. Walau seharusnya aku tidak menikmatinya. Sepertinya aku tengah mengalami apa yang disebut dengan guilty pleasure.

Third Person POV

Sensasi kepuasan itu datang kembali menyapa hatinya. Sensasi mendominasi ketika dia berhasil membuat Sunny tak berdaya.

Sooyoung merasa bersemangat seperti ketika pertama kali dia merasakannya. Suatu perasaan baru muncul dalam dirinya. Perasaan menginginkan gadis ini mendesahkan namanya.

Beberapa menit kemudian Sooyoung mendapat apa yang diinginkannya.

“Sooyoung…”

Tapi bersamaan dengan itu, dia juga melihat air mata gadis itu. Bulir air mata mengalir turun di pipi Sunny, disusul oleh bulir air mata yang sebelah. Membentuk dua aliran kembar. Sorot matanya seolah menyerukan kepedihan yang tidak Sooyoung mengerti.

Setelah melihat itu, Sooyoung seperti membeku di tempat sesaat. Gerakan jarinya terhenti.

Sunny memejamkan matanya, sudah pasrah sepenuhnya di tangan Sooyoung. Bahkan tidak berusaha meloloskan diri meski ada kesempatan.

Sooyoung merasa sedikit bersalah. Tapi egonya tidak suka menjadi orang yang disalahkan. Tangan kirinya meremas pergelangan tangan Sunny erat-erat. Lalu dia menggigit pundak kanan Sunny.

“A-apo Sooyoung…” erang Sunny tapi dia tidak peduli.

Setelah menggigit dia menghisapnya kuat-kuat supaya meninggalkan bekas disana. Seolah ingin menandai bahwa Sunny miliknya.

Jari kanannya kembali bergerak keluar masuk ke dalam Sunny. Kali ini dengan tiga jari.

“A-ahhh…!”

Bagian dalam Sunny berdenyut-denyut merespon jarinya. Pertanda Sunny sudah klimaks.

Sooyoung melepaskannya. Sunny yang merasa lemas kemudian jatuh terduduk di lantai.

Sooyoung mengambil tas Sunny. “Ini kusita. Dan ingat, kamu tidak boleh keluar tanpa aku.”

Sunny hanya bisa memberinya tatapan lemah tanpa disertai jawaban. Karena dia masih sibuk meredakan napasnya.

Advertisements

Stockholm Syndrome (Chapter 8)

Tiffany baru saja selesai pemotretan sebagai model.
“Fany ah.”
“Kamu datang lagi. Ada perlu apa?”
“Kamu mau ke rumah Sooyoung lagi?”
“Ya, tadi Sooyoung mengirim pesan kalau dia sakit, aku akan pergi menjenguknya.”
“Jangan datang ke rumah dia.”
“Taeyeon ah, kamu bukan pacarku. Harus berapa kali aku menolakmu baru kamu mau menyerah?”
(more…)