~Thank you for your comments~

Archive for the ‘SNSD’ Category

Stockholm Syndrome (Chapter 10)

Maaf, mendadak aku ada urusan penting, jadi aku tidak bisa datang.

Kemudian tombol kirim ditekan. Dalam waktu kuramg dari sedetik langsung sudah sampai ke Taeyeon. Ponsel pintar itu tanpa seijin pemiliknya telah digunakan untuk membatalkan janji kencan dengan Taeyeon.

“Nah, beres.”

Sooyoung tersenyum puas karena telah menggagalkan aksi kencan keduanya. Tepat setelah itu terdengar suara bel pintu yang membuat perasaan Sooyoung was-was. Instingnya mengatakan kalau dia harus menyembunyikan Sunny sekarang juga. Sooyoung menarik lengan Sunny yang tadinya masih terduduk di lantai.

“Berdiri, cepat.” Desak Sooyoung ketika melihat Sunny bangun dengan gerakan lambat. Kemudian dia menyeret gadis itu masuk ke kamarnya. “Kamu tetap di dalam. Jangan bersuara, kamu tidak akan kuampuni kalau sampai berteriak.” Lalu Sooyoung menutup pintunya dan mengunci dari luar. Kuncinya dimasukkan ke dalam saku celananya. Lalu dia pergi membuka pintu dan langsung disambut dengan eye smile seorang gadis.

“Hei~ apa kedatanganku mengagetkanmu?”

Ada perasaan tidak suka saat Tiffany mendadak datang tanpa memberitahu seperti ini ke rumahnya.

“Ada apa mendadak datang?” Tanya Sooyoung memaksakan senyum, berusaha untuk tidak menampakkan rasa tidak sukanya.

“Lho, apa kamu lagi sibuk?”

“I-iya, lumayan.”

“Tapi boleh kan aku masuk?”

“Silakan,” kata Sooyoung walau sebenarnya dia ingin menyuruh Tiffany pergi sekarang ini.

“Hehe, permisi ya.” Tiffany masuk dan melepas high heelsnya. “Kamu lagi apa barusan?”

“Err… mengerjakan tugas,” jawab Sooyoung bohong.

Tiffany melewati sofa dan melihat botol susu bekas diminum Sooyoung.

“Oh, kamu enggak habis? Aku habiskan ya.” Tiffany langsung meminum habis dari sedotan bekas Sooyoung tanpa ragu sedikit pun.

Sooyoung yang melihatnya pun langsung teringat Sunny. Dia berdoa dalam batin supaya jangan sampai Tiffany tahu soal Sunny.

“Ngomong-ngomong aku bawakan makanan nih. Kamu pasti suka.”

“Iya, aku suka.”

“Haha, kamu bahkan belum tahu makanannya tapi sudah bilang suka, shik shin^^”

Tiffany menunjukkan apa yang dibawanya. “Aku belikan kamu kue dan es krim Baskin Robbins. Tapi aku tidak tahu apa rasa es krim favoritmu, jadi maaf ya kalau kurang suka rasanya. Ini, simpan di kulkas.”

“Oh, gomawo.” Sooyoung menerimanya, membuka tutupnya untuk melihat sekilas isinya. “Oh, harusnya sudah bisa kuduga isinya pasti pink,” Sooyoung memutar bola matanya setelah melihat warna pink di dalamnya.

“Hehe, sorry, can’t help it^^”

“Yah tidak apa-apa, aku juga suka pink kok.” Sooyoung pergi memasukkannya ke dalam kulkas.

“Ayo sekarang kita makan kuenya setelah itu baru makan es krimnya setelah agak dingin di kulkas sebentar.”

Tiffany meletakkan kotak kuenya di atas meja dan membuka kotaknya.

“Ah, harusnya sudah kuduga,” kata Sooyoung setelah melihat warna krim kuenya juga berwarna pink.

“Ehehe^^”

Sementara itu di dalam kamar Sunny.

Sejak lima menit yang lalu tiba-tiba Sunny merasakan rasa sakit yang amat sangat di bagian perutnya.

“Apopopopo… kenapa ini… ada apa dengan tubuhku…”

Rasa sakitnya sangat menusuk sampai Sunny merasa tersiksa.

“Aduh rasanya mau mati…”

Sunny memegangi perutnya. Wajahnya berkerut menahan sakit.

“Apooo… gimana ini… apa aku bilang ke Sooyoung, tapi…”

Sunny mendadak teringat ancaman Sooyoung mengenai jangan bersuara.

Tidak ada telpon di kamar ini.

“Tapi katanya dia tidak akan mengampuniku kalau aku berteriak…”

Haruskah kutahan saja? Tapi bagaimana kalau ternyata aku sakit parah? Gimana kalau aku mati jika kubiarkan? Batin Sunny.

 “Aduh… sakit… ini terlalu sakit untuk kutahan…”

Sunny berjalan menuju ke meja dan mengambil kertas dan pulpen merah.

Sementara di ruang tengah, Sooyoung dan Tiffany sedang mengobrol santai sambil makan kue.

“Bentar, aku ambilin minum ya,” kata Sooyoung.

“Ya.”

Sooyoung beranjak ke dapur. Saat melewati kamar Sunny, dia melirik pintu kamarnya sekilas dengan waspada. Seolah-olah takut setiap saat gadis itu dapat berbuat ulah yang membuat sosoknya ketahuan Tiffany.

Bagus, kamu diam terus saja ya, batin Sooyoung.

Saat itu dia menginjak sesuatu yang terasa berbeda dengan permukaan lantai. Sooyoung menunduk ke lantai dan melihat kalau dia sedang menginjak selembar kertas.

Kenapa bisa ada kertas disini, batin Sooyoung ketika dia mengambilnya. Sebelum berniat dibuang dia membacanya terlebih dulu. Hangul yang tertulis berkata seperti ini.

Tolong aku, sepertinya aku sakit parah

Sunny

Sooyoung mengerutkan dahinya.

Apa ini? Dia sengaja melakukan ini untuk membuatku cemas ya?

Begitu pikiran pertama yang terlintas di kepala Sooyoung, kemudian dia pergi mengambil minuman. Saat sedang menunggu gelas terisi penuh dari dispenser dia terus memikirkan kalimat yang tertulis di kertas itu berulang-ulang. Otaknya seperti berusaha menganalisis maksud kata-kata Sunny yang sebenarnya.

Mungkin dia kurang kerjaan. Tapi gimana kalau itu sungguhan? Mungkinkah dia benar-benar sedang merasa sakit? Tapi kenapa dia tidak berteriak minta tolong saja daripada melakukan itu kalau dia benar-benar sakit? Sakit apa yang mungkin diderita oleh Sunny? Sampai tadi kami melakukan itu dia masih tampak baik-baik saja. Yah… tentunya selain dia menangis tadi…

Benak Sooyoung terus bertanya-tanya sampai dia tidak sadar kalau gelasnya sudah penuh dari tadi. Dia baru merasakannya ketika tetesan airnya mengenai kakinya.

“Wah! Wah! Tumpah!”

Sooyoung menghentikannya dengan panik. Sekarang terdapat genangan air yang cukup lebar di dekat kakinya.

“Duh, tapi Fany sudah menungguku. Yah, airnya juga enggak sebanyak itu, nanti saja deh lapnya.”

Sooyoung memegang masing-masing gelas di kedua tangannya. Dia melewati kamar Sunny untuk mengeceknya lagi. Tepat saat itu selembar kertas dikeluarkan lewat celah pintu bawah.

Tolong aku, kumohon… kalau dibiarkan mungkin aku bisa benar-benar mati

Sunny

Sooyoung mengatupkan rahangnya menahan amarah dan kecemasan yang bercampur dalam hatinya. “Gadis tolol… awas saja kalu bohong.”

Dia meletakkan kedua gelasnya dan mengambil kunci kamar dari saku celananya. Dia sudah bertekad akan tidak mendengarkan apa kata Tiffany nantinya, setidaknya sampai Sunny telah diperiksa oleh dokter. Kata mati yang tertulis di kertas dalam warna merah itu membuatnya tidak bisa mengabaikan gadis itu begitu saja. Dan di detik Sooyoung membuka kunci pintu dan membukanya itu, debaran jantungnya mengatakan Sooyoung kalau dia jauh lebih mementingkan hidup Sunny dibanding apa yang akan dipikirkan oleh Tiffany mengenai perselingkuhannya.

Cklek

Sooyoung melihat Sunny lagi duduk bersandar di tembok dekat pintu. Dengan buku dan pulpen merah di pangkuannya.

“Ada apa?!” Tanya Sooyoung cemas melihat wajah Sunny berkerut kesakitan.

“Pe-perutku sakit sekali… rasanya seperti ditusuk…” erang Sunny sambil memegangi perutnya.

Mata Sooyoung yang langsung menilai wajah dan bahasa tubuhnya bisa tahu kalau Sunny saat ini tidak sedang berakting.

“Ck, panggil ambulans. Ah tidak, kalau kubawa kamu ke rumah sakit dengan mobil sekarang akan lebih cepat daripada harus menunggu ambulans datang.”

Sooyoung meninggalkan Sunny untuk pergi ke kamar mengambil kunci mobil.

Tiffany yang mendengar keributan itu datang menghampiri Sooyoung di depan pintu kamarnya.

“Ada apa?”

“Minggir!”

Tiffany kaget mendengar nada tingginya, tapi jauh lebih kaget lagi melihat Sooyoung pergi ke kamar yang satunya dan keluar membopong seorang gadis asing di punggungnya dengan wajah kalut.

Sooyoung menekan tombol garasinya yang langsung terbuka secara otomatis dan dengan susah payah mendudukkan Sunny di kursi tengah. Lalu masuk menyalakan mobilnya.

“Apa maksudnya ini Sooyoung? Sebenarnya ada apa?!” Tanya Tiffany dari luar mobilnya.

“Mianhae, aku juga belum tahu apa penyebabnya. Yang jelas sekarang ini aku harus membawanya ke rumah sakit Seoul. Kutitipkan rumah padamu sementara.”

“Yah!”

Sooyoung sudah tidak peduli lagi. Dia memindahkan gigi dan menjalankan mobil meninggalkan rumahnya.

“Duh sakit…”

Sooyoung mendengar rintihan lemah Sunny sekali lagi. Dia berusaha mencoba tenang sambil fokus pada jalan di depan.

“Tahan ya, ini lagi perjalanan. Sebentar lagi kamu akan baik-baik saja, Sunny. Ada aku disini,” ujar Sooyoung bersuara lembut. Mungkin baru pertama kalinya dia bersuara selembut ini pada Sunny.

Meski harus menyetir dengan buruk, dia bertekad akan membawa Sunny ke rumah sakit secepat mungkin.

Sunny POV

Sooyoung yang berkata seperti itu terdengar sangat lembut sampai aku hampir tidak memercayai pendengaranku.

Benarkah? Tapi bisa saja Sooyoung berkata begitu hanya untuk menenangkanku saja.

“Eh Sooyoung, andai aku mati-“

Diiinnnnnn!!

Suara klakson mobil ini keras sekali sampai aku agak kaget. Sooyoung barusan sengaja membunyikannya.

“Jangan bicara mati, aku tidak suka.”

“……..maaf…”

“Dan jangan bilang kamu mau mati juga. Karena itu tidak sopan pada orang yang telah bersusah payah demi kamu.”

“Iya…”

Sunny menarik nafas. Lalu mengucapkan kalimat itu setelah menahan napas beberapa detik. “Sooyoungie, aku cinta kamu.”

Mata Sooyoung membulat. Sama sekali tidak menduga pernyataan cinta yang tiba-tiba di tengah perjalanan.

“Sekarang dan selamanya, aku ingin terus bersamamu.”

Sambil berkata begitu Sunny meminta maaf pada seseorang dalam batin. Maafkan aku Taeyeon, biarpun bertepuk sebelah tangan tapi kurasa aku memang lebih suka menjadi tawanan cinta Sooyoung.

“Bodoh, mana mungkin selamanya, kita kan bukan makhluk abadi.”

“Iya ya…” Sunny tersenyum getir.

“Tapi, sekarang kamu berutang sama aku. Makanya aku tidak keberatan kalau kamu terus bersamaku untuk membayarnya.”

“Eh? Itu artinya… aku boleh terus tinggal? Sama Sooyoung?”

“Ya.”

**

Di rumah sakit.

“Bagaimana keadaannya dokter?”

“Dia terkena usus buntu. Dia perlu operasi. Lebih cepat lebih baik.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi dokter? Segera operasi dia!”

“Pertama keluarganya harus menandatangani surat persetujuan operasi dulu.”

“Kalau begitu cepat operasi karena aku keluarganya!” Protes Sooyoung tanpa pikir panjang.

Akhirnya Sunny dibawa ke ruang operasi dan operasi dimulai.

Sooyoung memanjatkan doa selama menunggunya. Dia bahkan lupa sama sekali soal Tiffany sampai dia datang.

“Fany…”

Wajahnya penuh dengan tuntutan minta penjelasan.

Sooyoung menggigit bibir. Merasa tertekan oleh hawa tidak enak yang memenuhi ruang tunggu itu. Akhirnya dia pun berkata.

“Lebih baik kita putus saja…”

Darah Tiffany mendidih. Tanpa penjelasan, tanpa alasan atau berkelit atau apapun itu tiba-tiba saja dia diputuskan. Siapa yang bisa terima diperlakukan seperti itu?

Tiffany melampiaskan amarahnya dengan melayangkan tamparan ke pipi Sooyoung.

Plak!

“Kamu jahat… padahal kupikir kamu sayang aku… tapi rupanya kamu bahkan sama sekali tidak mencoba untuk mempertahankan hubungan kita…”

“Apalagi yang bisa kukatakan. Kurasa walau aku buka mulut dan beralasan dengan segala macam alasan pun tidak ada bedanya lagi. Karena fakta aku sudah selingkuh diam-diam di belakangmu, kamu pasti akan tetap membenciku.”

“Rupanya memang Taeyeon benar… bodohnya aku karena tidak percaya dengan omongannya.”

“……………”

“Aku jadi merasa bodoh sudah memercayaimu…”

“……………”

“Sekarang jawab aku Sooyoung, siapa yang kamu pilih? Aku atau gadis itu?”

Sooyoung menunduk. Cukup lama dia membisu sebelum menggerakkan bibirnya mengucapkan satu patah kata.

“……..ny…”

“Katakan yang jelas Choi Sooyoung! Hubungan kita tinggal bergantung pada jawabanmu.”

“Aku pilih Taeyeon saja.”

“Grrrr…!”

Plak!

“Aku tidak mau mengenalmu lagi! Jangan sampai aku menemukan kamu nanti ngemis-ngemis minta balikan lagi!”

Tiffany memunggunginya dan berjalan pergi dengan cepat. Menghempaskan setiap langkahnya dengan kesal, tidak peduli meski suaranya bergema di lorong yang kosong.

Walau sosoknya sudah tidak terlihat lagi, perkataan Tiffany masih terngiang dalam otaknya.

“Puh-haha. Hahahaha. Hahahaha!” Kemudian Sooyoung menutup mulutnya, sadar kalau dia masih berada di rumah sakit.

“Ngemis katanya. Memangnya Choi Sooyoung itu siapa.” Sooyoung menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. “Maaf saja Fany ah, tapi Choi Sooyoung bukan orang yang akan menarik kembali kata-katanya sendiri. Ups, tentu saja beda ceritanya kalau sedang bercanda.”

“Mengenai aku pilih Taeyeon tadi tentu saja cuma bercanda karena aku bahkan tidak kenal dengannya. Yang kutahu hanya Kim Taeyeon norak yang sudah membuatku ditolak sama Sica, menyebalkan,” ujar Sooyoung berkata sendirian seolah-olah ada yang meminta penjelasan.

Sementara di saat yang bersamaan Taeyeon dan Jessica bersin.

“Aku atau gadis itu?”

“Hmm, kalau kujawab 2ny mungkin lucu juga, ahaha. Karena Sunny dan Tiffany sama-sama belakangnya ny jadi 2ny deh. Ahaha!”

Sooyoung ketawa sendiri dari pemikiran-pemikiran konyolnya.

“Tapi…” Sooyoung memejamkan matanya. “Kalau mau kujawab dengan serius, sudah pasti jawabannya adalah…” Sooyoung membuka matanya kembali dan menatap ke ruang operasi yang masih tertutup, dimana lampu yang masih menyala merah tepat di atas ruang itu mati dan kemudian pintu ruang operasi terbuka.

Advertisements

Stockholm Syndrome (Chapter 9)

A/N: Cuma sekedar pos ff yang hilang dari pencarian ._.

**

Pagi hari, Sunny langsung disambut oleh pesan cheesy dari seseorang.

 

Dari Taeyeon

Pagi.

Ketika aku melihat mentari pagi yang menyinari wajahku dengan lembut, aku langsung teringat kamu. Ah, cuacanya cerah. Jangan lupa sarapan.

Senyum mengembang di wajah Sunny. Lalu dia segera mengetik balasannya.

“Pagi, hehe. Tahu enggak? Pesanmu barusan made my day^^”

“Nah, kirim.”

Sunny sengaja memakai bahasa inggris sedikit di bagian akhir pesannya. Karena dia tahu Taeyeon pasti sedang berusaha mengira-ngira apa maksud dari kalimatnya.

Setelah mampir ke kamar mandi, Sunny pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tak lupa ponselnya terus dibawa. Supaya bisa langsung balas kalau Taeyeon kembali mengirim pesan.

Saat sedang membuat roti panggang, Sooyoung keluar dari kamarnya. Dia menguap lebar kemudian duduk di kursi depan meja makan.

Tanpa perlu diminta, Sunny sudah menyodorkan piring berisi dua potong roti panggang bersama botol selai coklat.

Sooyoung menatap roti panggangnya masih dengan wajah setengah mengantuk. Sekarang dia tampak melamun menatap rotinya yang masih hangat.

“Mending cuci muka dulu sana.”

“Berisik ah… tanpa perlu kamu suruh juga nanti aku akan cuci.”

Akhirnya Sooyoung mulai menggerakkan tangannya dengan malas. Memoles coklat ke atas rotinya.

Smartphone Sunny berbunyi. Sunny mengambil dan membaca pesan yang masuk. Ternyata ada foto juga. Sebuah bunga mawar yang mekar di pot dengan latar belakang jendela.

“Bunga mawarku juga mau beri salam selamat pagi 🌹.”

“Awww^^”

“Apaan sih, senyum senyum sendiri kayak orang bodoh.” Komentar Sooyoung setelah melihat ekspresi Sunny.

“Memangnya orang enggak boleh senyum senyum karena baca pesan dari pacar?” Balas Sunny seolah menantangnya.

“Pagi-pagi enggak usah pamer kemesraan deh. Bikinin aku kopi.”

“Huh.”

Meski begitu Sunny tetap membikinkan kopi untuknya.

“Mawar merah ini seindah warna rambutmu.”

“Taeyeon, kamu belajar darimana kalimat cheesy seperti itu?”

“Aku enggak makan keju.”

Sunny tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri.

“Hehe, manisnya.”

“Masih lebih manis coklat ini.” Sela Sooyoung. “Mana kopinya hei?”

“Bikin sendiri!” Kata Sunny mulai kesal.

Sooyoung menyalakan ponselnya dan mengusapnya supaya kuncinya terbuka. “Oh begitu ya kata-kata orang yang sudah numpang gratis di rumah ini.”

Sunny berusaha meredam kekesalannya. Dia malah mulai bertanya-tanya kenapa hatinya bisa suka sama orang seperti ini.

Freeloader.” Tambah Sooyoung sekali lagi setelah mencari terjemahan ke bahasa inggrisnya lewat google.

“Grrr, kalau kamu mau aku bayar, aku bayar!”

Sooyoung memasang tampang acuh tak acuh sambil mengorek kupingnya jari kelingking. “Enggak usah, sama saja seperti aku menerima kembali uangku sendiri.”

“Aku sudah tahu kamu pasti enggak mau makanya aku tidak menawarkan mau bayar.”

“Tapi tetap saja namanya tidak tahu diri kalau tidak menawarkan akan bayar kan. Sudah tinggal lama juga.”

“Grrr… ini kopinya.” Sunny meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit kasar.

“Yah, pagi-pagi moodku sudah rusak. Bahkan kopi pagi jadi tidak nikmat lagi. Ya sudah, aku minum susu saja.” Sooyoung beranjak dari tempatnya dan menuju ke kulkas untuk mengambil sebotol susu tanpa rasa. “Sunny mau susu?”

“Aku benci minum susu!”

“Masa? Aku enggak tahu. Ahh, tapi pantas saja kamu pendek,” kata Sooyoung sambil memasang ekspresi menyebalkan. “Ya sudah kamu minum saja kopiku.”

Sooyoung berjalan pergi dengan cuek sambil meminum susunya. Ketika sudah masuk kamar, Sunny melampiaskan kekesalannya dengan menggigit roti miliknya keras-keras.

“Ck, enggak ada bagusnya! Memang tepat aku memilih pacaran sama Taeyeon.”

Tepat saat itu Sunny mendapat sebuah pesan dari Taeyeon.

“Sunny ah, kalau kamu enggak ada acara. Gimana kalau nanti sore kita kencan?”

Sunny pun langsung jawab iya.

**

“Kamu kelihatannya lagi bad mood. Apa kamu membatalkan janji lain karena aku?”

“Ah, bukan begitu. Hanya ada yang sedang menggangguku saja. Tapi bukan karena kamu.”

“Hmmm.”

“Apa aku masih kelihatan kesal?” Tanya Sunny kikuk.

“Iya.”

Sunny mencoba tersenyum. “Sekarang gimana?”

“Sedikit lebih baik. Gimana kalau kita pergi nonton film komedi saja? Supaya kamu tertawa.”

“Ide bagus Taeyeon ah! Aku sudah lama tidak pergi nonton bioskop. Kajja!” Sunny menggandeng lengan Taeyeon.

Setelah menonton bioskop keduanya pergi makan malam di sebuah restoran. Restoran tempat mereka makan tidak mewah, tapi juga tidak buruk.

“Ah filmnya kocak, sudah lama aku tidak banyak tertawa.”

“Syukurlah.”

“Sudah memutuskan mau pesan apa?”

“Ya, ayo pesan sekarang.”

Sunny memanggil seorang pelayan. Kemudian mereka masing-masing memesan makanan dan minuman.

“Menurutmu anehkah kalau kita jadian?” Tanya Taeyeon setelah pelayan pergi membawa pesanan mereka.

“Eh? Kenapa tanya begitu?”

Taeyeon melipat tangannya di atas meja. “Hmm, cuma mau tahu apa pandanganmu mengenai kita pacaran ini. Karena kita tidak pernah membahasnya.”

“Kita kan baru jadian dari kemarin.”

“Iya sih, mungkin terlalu cepat menanyakannya ya?”

“Tapi aku tidak merasa aneh kok. Aku malah merasa nyaman bersamamu. Tidak seperti sama Sooyoung, dia malah membuatku kesal, grrr.” Sunny teringat kembali kejadian tadi pagi.

“Ah, jadi itu penyebab yang membuat kamu tampak kesal tadi.”

“Iya, dia itu menyebalkan, narsis, dan suka banget iseng, huft! Apa sih yang Fany lihat dari orang seperti dia?!”

“Kenapa kamu tidak keluar saja dari rumahnya?”

Perkataan Taeyeon memotong jalan pikiran Sunny dari mencari-cari kejelekan Sooyoung.

“Kamu cuma tinggal sementara di rumahnya kan? Lagian… sekarang kamu sudah menjadi pacarku. Apa kamu tidak kepikiran lebih baik keluar saja dari rumahnya?”

Sejujurnya, keluar adalah hal yang tidak begitu diharapkannya. Tapi apa yang dikatakan Taeyeon ada benarnya. Sampai kenyataan itu seperti menamparnya.

“………………”

Melihat gadis itu hanya terdiam dan menundukkan kepala, Taeyeon memanggil namanya dengan hati-hati. “Sunny?”

“Maaf Taeyeon… kamu benar, kamu sangat benar… Tapi aku baru sadar… kalau rupanya aku masih belum sanggup. Ini terlalu mendadak.”

Mata Sunny mulai berair sampai Taeyeon tercengang menatapnya.

“Aku pacar yang payah ya? Maaf…”

“Eh, anu, Sunny, aku bukannya bermaksud memojokkan kamu. Aku tahu sekarang ini kamu masih belum sanggup merelakannya. Aku sangat mengerti karena sebagian dalam diriku juga masih merasa seperti itu. Maafkan aku juga…”

“Ahaha, sudahlah, kenapa kita malah jadi saling maaf-maafan.”

“Tapi Sunny, aku mau kamu memikirkannya. Karena mau sampai kapan kamu mau tersiksa melihatnya dari dekat tapi tidak bisa memiliki hatinya?”

“…iya.”

**

Sunny membuka pintu rumah Sooyoung dan masuk ke dalam.

“Pulangnya kurang malam.” Itu kalimat sambutan yang langsung dilontarkan oleh Sooyoung begitu melihat sosoknya.

Sunny melepas sepatunya dalam diam dan berjalan melewatinya.

“Tumben, dipikir bakal langsung mencak-mencak.”

Sunny masih tetap terdiam, bahkan saat dia mengambil air untuk minum.

“Yah, tuli ya? Lagi diajak bicara juga.”

Tapi Sunny tetap tidak membuka mulut sama sekali dan berjalan masuk kamarnya.

“Yah! Lain kali jangan pergi seenaknya dan pulang lama!”

Tetap tidak ada balasan.

“Ck, dasar.”

Sunny POV

Saat sedang mengganti baju ke piyama aku teringat kembali kata-kata Taeyeon.

“Kalau kamu merasa kesepian sendirian, bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku saja Sunny?”

Setelah berganti baju, kubuka pintu dan mengintip keluar kamar. Kulihat Sooyoung masih tetap duduk di sofa seperti tadi.

Tidak lama lagi mungkin aku akan meninggalkan rumah ini. Berarti kalau itu terjadi, aku tidak akan bisa melihat sosoknya lagi seperti ini.

Aku menggelengkan kepala.

Tidak, jangan sedih Sunny. Dia itu orang yang menyebalkan. Buat apa sedih berpisah dengannya?

Lebih baik aku segera tidur, tidak usah mikir macam-macam.

Aku menutup pintu dan langsung mematikan lampu dan merebahkan diri ke kasur.

**

Keesokan paginya. Setelah bangun aku meregangkan tubuhku di samping kasur.

“Ahh, tidurku nyenyak.”

Dengan mengejutkan aku bisa tidur nyenyak dengan pemikiran semalam. Aku pergi keluar kamar dan langsung menemukan Sooyoung sedang duduk bersandar di sofa.

Eh? Dia sudah bangun?

Ketika aku mendekat. Rupanya matanya terpejam. Kugerak-gerakkan tanganku di depan wajahnya tapi tidak ada reaksi. Tidur ya? Kulihat tangannya yang rileks masih memegang remot. TV dalam keadaan mati.

Hah? Jangan bilang dari semalam dia ketiduran seperti ini karena nonton TV? Memangnya kamu oom-oom?

Ckckck. Aku menggeleng-geleng melihat kelakuannya. Kuperhatikan wajahnya yang tertidur sekali lagi.

Terbesit dalam pikiranku untuk menyelimuti sosoknya yang sedang tertidur. Juga ritme jantungku yang berdebar sedikit lebih cepat.

Tidak, enggak usah.

Malah rasanya aku ingin menyentil keningnya dengan jariku karena masih kesal sama sikapnya kemarin.

Ya, kulakukan itu saja. Biar saja dia marah. Huhu, rasakan karena sudah menjadi orang yang menjengkelkan. Karena dia enggak ada manis-manisnya.

Kulipat jari tengahku dan kutahan dengan ibu jariku. Kemudian mengumpulkan tenaga ke ujung jariku. Ibu jariku menahan kuat-kuat jari tengahku sambil aku mulai menghitung dalam batin.

Hana… dul…

“………ny…”

Eh? Barusan?

Dia memanggil namaku dalam tidur?

Ah enggak, enggak mungkin. Pasti barusan dia memanggil nama Fany.

Hih, kusentil saja!

Tapi saat itu dia menggeser kepalanya. Dan tiba-tiba hatiku menjadi lunak.

Ck, jangan bilang aku terpengaruh oleh delusiku sendiri, menganggap kalau barusan dia menyebut namaku.

Mendadak seolah ada dua perasaan yang bertentangan sedang berdebat dalam kepalaku.

Sudahlah, sentil saja lagi.

Eh, tapi gimana kalau dia marah-marah nanti.

Gimana sih, tadi katanya mau sentil?

Jangan, kamu sendiri juga pasti enggak mau kalau lagi tidur diganggu kan?

Kamu masih kesal sama dia kan? Sudah, lakukan saja.

“Aduh! Berisik!!”

“Apa yang kamu lakukan? Teriak-teriak di depan muka orang.”

“Eh.”

Sudah bangun ya?

Yah kamu telat.

Baguslah kamu jadi tidak sempat melakukannya.

Sudah hatiku! Kalian jangan bersuara lagi!

“Ngggghhh…!” Sooyoung meregangkan tubuhnya dan menguap lebar. “Huh, pagi-pagi sudah terganggu sama suara berisik. Kamu sengaja karena mau mengagetkanku ya?”

“Aniyo~” jawabku sambil pasang muka polos.

Sebenarnya sih tadinya mau sentil.

“Yah, mana sarapannya?”

“I-iya, kubikin sekarang.”

“Jangan roti atau telor atau ramyun. Hari ini aku mau makan sereal saja.”

“Oke.”

Duh, padahal cuma tinggal tuang susu ke sereal gampang begini saja minta dibikinin.

Selesai kubikinkan dia langsung makan, bahkan tanpa ucapan terima kasih karena sudah kubikinkan. Seenak perutnya seperti biasanya. Tapi aku tidak bisa protes. Aku freeloader katanya, hmmph!

Aku segera pergi ke kamar dan mengirim pesan ke Taeyeon.

Third Person POV

Sore harinya. Hari ini Sooyoung tidak ada kuliah. Sudah seharian dia bermalas-malasan dalam rumah. Dan sudah 3 jam lebih pantatnya terus menempel di sofa ruang tengah.

Saat Sooyoung sedang berpikir ingin mengganti aktivitas lain. Sunny lewat tepat di depannya. Hidungnya menangkap bau harum yang semerbak.

Sooyoung memperhatikan seluruh penampilan gadis itu dari kepala sampai ujung kaki. Sunny memakai make up tipis yang menonjolkan kecantikan wajahnya. Baju manis dengan bagian pundak yang terbuka, rok mini, dan tas cantik. Yang jelas Sunny pasti telah benar-benar meluangkan waktunya demi merias penampilannya. Tapi yang paling membuat Sooyoung tidak suka adalah rok mini yang saat ini Sunny kenakan.

“Mau kemana kamu?”

“Mau pergi kencan.”

“Mulai sekarang dilarang pergi keluar seenaknya lagi.”

“Hah?” Sunny menoleh tidak percaya.

“Kemarin kamu pergi enggak bilang-bilang.”

“Kenapa kalau aku mau kencan harus bilang-bilang sama kamu? Kamu sendiri juga enggak kan. Lagipula terserah aku mau kencan atau mau ngapain dong, huft!”

“Kamu… mau kencan lagi?”

“Itu bukan urusanmu!”

Sunny POV

Apa cuma perasaanku ya, tapi aku merasa nada Sooyoung kedengaran… lain. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi entah kenapa perasaanku mengatakan begitu.

“Kembalikan kuncinya.”

“Eh?”

“Kamu enggak boleh keluar seenaknya. Kemarin kamu bahkan tidak menyiapkan makan malam, tidak pamitan pula. Main keluar sampai jam 10 lebih baru pulang.”

“Yah! Kenapa hanya gara-gara itu lantas aku jadi dilarang keluar?!” Tanyaku merasa diperlakukan tidak adil.

Sooyoung meletakkan susu botol yang diminumnya dengan kasar dan berdiri dengan tiba-tiba. Aku tidak mengerti kenapa tapi tiba-tiba aku didorongnya ke tembok. Kedua tanganku juga ditekan ke tembok.

“Kalau kubilang enggak boleh ya enggak boleh.”

“Apa sih masalah kamu?” Aku menatapnya dengan berani untuk menunjukkan kalau aku tidak takut dengan kata-kata dan perbuatannya. Tapi tiba-tiba dia melakukan sesuatu yang tak pernah kuduga.

Wajahnya berada dekat sekali dengan wajahku. Bibirnya menempel di bibirku.

Tekanan bibirnya memaksaku untuk membuka bibirku, dan akhirnya aku membuka bibirku.

Uhh… kalau diingat lagi, barusan dia minum susu tanpa rasa kan? Bau susunya terlalu kuat, aku tidak suka!

Aku mulai merasa mual.

Setelah beberapa detik yang terasa cukup lama terkurung sama rasa susu yang kubenci akhirnya dia melepaskanku.

“Rasakan, kamu benci susu kan.”

Jangan bilang barusan dia melakukan itu karena tahu aku benci susu? Kenapa kamu jahat sekali sama aku Sooyoungie… padahal aku…

Saat itu aku merasakan sesuatu menggerayangi bagian bawahku. Tangannya menyusup masuk ke balik rok yang kukenakan. Tunggu!

Tapi dia sudah keburu menggosok bagian yang sensitif.

“A-ahhh!”

Meski masih tertutupi celana dalam, tapi aku sendiri tidak mengantisipasi desahan yang terlepas dari mulutku.

“Hehe, sudah lama tidak kusentuh sepertinya kamu jadi sensitif ya Soonkyu.”

“Ti-tidak, jangan elus disana- aghhh!”

Sebelum dapat kucegah lagi, jarinya sudah menyingkirkan celana dalamku dan seenaknya masuk ke dalam. Kini aku merasakan sesuatu bergerak-gerak mengelus bagian dalamku. Dan dia sama sekali tidak berhenti untuk memberiku kesempatan.

Aku ingin merapatkan kedua kakiku, tapi pahanya mengganjal di antara kedua pahaku, membuatku tidak bisa merapat.

Aku hanya bisa meremas lengannya dengan tangan kiriku yang bebas. Jarinya yang panjang terus keluar masuk dan mengaduk-aduk bagian dalamku.

“Uhh… ahh… ahh…”

Badanku menjadi panas terutama di bagian yang dia rangsang. Nafasku mulai tak terkendali.

Kenapa jadi begini… Semenit yang lalu aku masih bertengkar dengannya dan sekarang aku malah dibeginikan olehnya.

Aku mulai merasa lemas akibat sensasi kenikmatan ini. Walau seharusnya aku tidak menikmatinya. Sepertinya aku tengah mengalami apa yang disebut dengan guilty pleasure.

Third Person POV

Sensasi kepuasan itu datang kembali menyapa hatinya. Sensasi mendominasi ketika dia berhasil membuat Sunny tak berdaya.

Sooyoung merasa bersemangat seperti ketika pertama kali dia merasakannya. Suatu perasaan baru muncul dalam dirinya. Perasaan menginginkan gadis ini mendesahkan namanya.

Beberapa menit kemudian Sooyoung mendapat apa yang diinginkannya.

“Sooyoung…”

Tapi bersamaan dengan itu, dia juga melihat air mata gadis itu. Bulir air mata mengalir turun di pipi Sunny, disusul oleh bulir air mata yang sebelah. Membentuk dua aliran kembar. Sorot matanya seolah menyerukan kepedihan yang tidak Sooyoung mengerti.

Setelah melihat itu, Sooyoung seperti membeku di tempat sesaat. Gerakan jarinya terhenti.

Sunny memejamkan matanya, sudah pasrah sepenuhnya di tangan Sooyoung. Bahkan tidak berusaha meloloskan diri meski ada kesempatan.

Sooyoung merasa sedikit bersalah. Tapi egonya tidak suka menjadi orang yang disalahkan. Tangan kirinya meremas pergelangan tangan Sunny erat-erat. Lalu dia menggigit pundak kanan Sunny.

“A-apo Sooyoung…” erang Sunny tapi dia tidak peduli.

Setelah menggigit dia menghisapnya kuat-kuat supaya meninggalkan bekas disana. Seolah ingin menandai bahwa Sunny miliknya.

Jari kanannya kembali bergerak keluar masuk ke dalam Sunny. Kali ini dengan tiga jari.

“A-ahhh…!”

Bagian dalam Sunny berdenyut-denyut merespon jarinya. Pertanda Sunny sudah klimaks.

Sooyoung melepaskannya. Sunny yang merasa lemas kemudian jatuh terduduk di lantai.

Sooyoung mengambil tas Sunny. “Ini kusita. Dan ingat, kamu tidak boleh keluar tanpa aku.”

Sunny hanya bisa memberinya tatapan lemah tanpa disertai jawaban. Karena dia masih sibuk meredakan napasnya.

Stockholm Syndrome (Chapter 8)

Tiffany baru saja selesai pemotretan sebagai model.
“Fany ah.”
“Kamu datang lagi. Ada perlu apa?”
“Kamu mau ke rumah Sooyoung lagi?”
“Ya, tadi Sooyoung mengirim pesan kalau dia sakit, aku akan pergi menjenguknya.”
“Jangan datang ke rumah dia.”
“Taeyeon ah, kamu bukan pacarku. Harus berapa kali aku menolakmu baru kamu mau menyerah?”
(more…)

Stockholm Syndrome (Chapter 7)

A/N: Happy 70th Independence Day for Indonesia 🙂
Enjoy~

**

“Hahhh…”
Sudah gelas kelima dia kosongkan, namun masih belum cukup untuk meredam rasa sakit hatinya. Sunny melirik jam sekilas. Jam menunjukkan pukul 8.03 malam. Masih banyak waktu, pikir Sunny. Karena itu dia enggan beranjak dari sana.

(more…)

Stockholm Syndrome (Chapter 6)

“Aku dapat tawaran untuk menjadi model fashion. Tapi kurasa peran itu lebih cocok untukmu Sooyoung. Bagaimana? Kamu mau mencobanya? Aku bisa mengenalkanmu. Tentu saja pekerjaan ini dibayar.”
“Tapi aku enggak pernah menjadi model sebelumnya.”
“Tidak masalah, mereka memberi kesempatan pada model yang masih pemula. Faktanya, dulu aku juga pernah menjadi model fashion disana. (more…)

Black Out (English Version)

 

A/N: Hi 😀 you guys might have read this. Yes, this is the english version of Black Out, previously publised in this worpdress blog http://maifate.net/2012/03/22/black-out/

Actually, I have also published this fanfiction before on Asianfanfics more than 2 and a half years ago. *cheers.

Here’s my profile if you’re curious http://www.asianfanfics.com/profile/view/177991

 

English is not my native language. Please forgive me if there was any grammatical error (I already used spell check though). I hope you enjoy reading this^^

 

**

Sunny’s now watching television at the dorm. Currently other members are going out, only her and Sooyoung.

Sooyoung sat beside her, she’s busy online with her laptop. Sunny steal a glance at her, she’s like in her own world. Having fun by herself.

“Ya, what are you doing?”

“Replying Sones.”
(more…)

Paid for (Chapter 10 – End)

Malam di saat Sooyoung dan Sunny menginap di luar. Marina menatap keramaian jalan dengan hati hampa. Keadaan rumahnya kosong. Setelah anaknya tiada, rumah jadi lebih tenang. Tapi sejak Sooyoung pergi, rumah jadi berasa lebih sunyi lagi. Dia tak tahan berlama-lama di rumah, makanya dia keluar untuk mencari angin. Tapi rupanya walau sudah berada di sekeliling banyak orang, perasaan hampa di hatinya tidak mau pergi.

Marina mendapat pikiran saat dia mulai minum bir yang dia beli dari mini market dan berdiri menunggu lampu merah. Kalau dia akan bunuh diri saja, dengan menutupinya sebagai mati kecelakaan akibat mabuk. Dengan begitu maka ia akan bisa menyumbangkan matanya untuk Sooyoung. (more…)