~Thank you for your comments~

A/N: Happy 70th Independence Day for Indonesia 🙂
Enjoy~

**

“Hahhh…”
Sudah gelas kelima dia kosongkan, namun masih belum cukup untuk meredam rasa sakit hatinya. Sunny melirik jam sekilas. Jam menunjukkan pukul 8.03 malam. Masih banyak waktu, pikir Sunny. Karena itu dia enggan beranjak dari sana.

“Bartender, tequila.”
Seorang yeoja memutuskan untuk duduk di sebelahnya.
“Maaf, sejak tadi kuperhatikan tampaknya Anda sudah kebanyakan minum. Sedang patah hati?”
Sunny melirik sekilas yeoja yang duduk di sebelahnya.
“Yahh… tak apa, aku kuat minum.”
“Aku juga tequila.” Pesan gadis itu pada bartender.
“Sebenarnya aku juga sedang patah hati.”
“Hee… berarti kita sama.”
“Tequila.” Bartender itu meletakkan dua gelas bersamaan, di hadapan Sunny dan gadis itu.
“Hahhh…” Setelah menghela nafas, Sunny melanjutkan menenggak tequila miliknya. Dia heran kenapa di saat dia justru sangat mengharapkan bisa tenggelam dalam bius tequila, kadar toleran terhadap alkohol pada tubuhnya justru menangkalnya.
“Mungkin aku seharusnya lupakan saja cinta dan pelihara seekor kucing.”
“Pfft-!” Gadis di sebelahnya tergelak menahan tawa.
“Haha terdengar lucukah? Setidaknya kucing bisa menemaniku tanpa mengeluh di kala aku kesepian. Aku juga bisa mengelus, memeluk, dan menciumnya sesukaku.”
“Hmm.” Gadis itu tampaknya mengiyakan walau masih menyimpan senyum. “Bagaimana kalau kubantu cintamu?”
“Eh?” Sunny kembali melihat ke arah gadis itu.
Seringai terbentuk di bibir gadis misterius itu. “Tapi pertama-tama, kamu harus kuculik dulu.”
“Ekhhhh?!”

**

Sooyoung melihat telepon genggamnya berbunyi dan menampakkan nomor yang asing baginya. Dia menjawab dengan malas-malasan.
“Yea?”
“Choi Sooyoung, gadismu ada padaku.” Ucap suara misterius itu.
“Hahhhhh??” Sooyoung memperpanjang kata ‘hah’nya sambil mengernyit.
“Saat ini gadis yang kamu sayangi sedang berada dalam tawananku. Apabila kamu ingin dia kembali datanglah ke alamat yang kuberikan. Kamu tidak boleh melapor ke polisi apabila kamu masih sayang dengan nyawanya.”
Kemudian hubungan terputus. Meninggalkan Sooyoung yang masih tercengang. Sooyoung berusaha mencerna kata-katanya.
“Siapa sih? Telepon iseng ya? Tapi gimana kalau betulan. Tadi apa katanya? Gadis yang kusayangi…? Jangan-jangan! Fany ah?! Yah!!”
Sooyoung bermaksud menghubungi nomor itu tapi sebuah pesan memotong apa yang hendak dilakukannya. Isinya berupa alamat, dari nomor yang sama.
“Jangan-jangan ini alamatnya. Gimana ini… haruskah aku telepon polisi, tapi gimana kalau betulan, nyawa Fany bisa dalam bahaya…”
“…………”
“Tidak ada salahnya kucoba hubungi nomor Fany dulu.”
Sooyoung mencoba menghubungi nomor Tiffany. Nomornya tersambung tapi tidak diangkat-angkat walau dia sudah menghubungi 3 kali.
Sooyoung menggigit bibirnya. Sorot matanya bercampur antara bingung dan panik. “Yah… masa benaran ini?”

**

Dalam waktu sepuluh menit Sooyoung sudah sampai di tempat. Dia mengendalikan mobilnya dengan kecepatan melebihi batas kecepatan dan untungnya tidak kena tilang.
“Datang juga.” Gadis itu tersenyum melihat sosoknya yang panik. “Masuklah.”
Tanpa diminta Sooyoung sudah masuk duluan ke dalam rumahnya.
“Apa mau kamu? Uang tebusan? Kalau iya cepat katakan berapa?!!” Bentak Sooyoung dengan lantang.
“Heh, berdarah panas sekali. Tenang, aku tidak perlu uangmu, kukembalikan gadismu.”
Setelah berkata begitu Taeyeon menatap seorang gadis berambut merah yang bersembunyi dibalik sofa. Gadis itu menurut dan keluar dari tempat persembunyiannya.
“Eh? Huh, apa itu, jadi gadis yang kamu maksud adalah Sunny?”
Mata Sunny menekuri lantai sebelum menatap Sooyoung dengan sedikit perasaan bersalah.
Tepat saat itu hp Sooyoung berbunyi, dari Tiffany.
“Halo.”
“Halo Sooyoung, maaf baru telpon. Tahu enggak aku tadi lagi apa? Tadi aku lagi nonton Fifty Shades of Grey di bioskop, hehe. Makanya hpku di silent, maaf ya. Jadi ada apa menelpon?”
“Ah, enggak, hanya mau menanyakan kabar kamu saja.” Sooyoung sedikit tertegun mendengar betapa cerianya nada suara Tiffany di telepon. Sama sekali tidak terdengar ada nada kesusahan.
“Ohhh, haha, sekarang ini aku lagi terpesona sama OSTnya Fifty Shades of Grey, Earned it, by The Weeknd. Karena kedengarannya bagus jadi langsung kuputuskan untuk membelinya di iTunes, kyaaaa~ I’m so in love already! Nanti lagunya kukirimkan padamu. Cobalah dengar, ne?”
“Ah, iya, gomawo.”
“Hehe, later~”
Kemudian teleponnya ditutup.
“E-ehehe,” kata Sunny memaksakan senyum.
“Mwo… jadi penculikannya hanya main-main.”
“Ya,” jawab Taeyeon mengiyakan.
“Hahhh… rugi aku sudah panik. Pulang ah!” Sooyoung berbalik pergi.
“Tunggu! Bawa gadismu.” Potong Taeyeon.
“Dia bukan gadisku! Dan awas! Jangan sampai aku memergoki kalian melakukan penculikan main-main ini lagi atau kulapor polisi sungguhan!”
“Kamu mau tahu kenapa kami melakukan ini?” Kata Taeyeon.
“Enggak mau tahu! Pokoknya pastikan jangan sampai terulang lagi.” Sooyoung keluat dari rumahnya sambil menghentakkan kakinya setiap langkah dengan kesal.
“Ah, dia marah…” kata Sunny merasa bersalah.
“Dianya saja yang cepat naik darah,” kata Taeyeon.
“Tapi dia tidak datang kemari karena aku…”
“Jangan khawatir Sunny, aku rasa kejadian malam ini sudah mengeklik suatu tombol dalam dirinya.”
“Eh? Maksudnya?”
“Kamu tahu? Semakin banyak kamu membuatnya kesal, semakin kamu akan berada dalam pikirannya. Biarpun awalnya hanya berupa perasaan marah, lama-lama dia akan bisa jatuh cinta sungguhan padamu!”
“A-ahaha, masa semudah itu. Ini kan bukan drama Korea.”
“Heh, kamu akan tahu. Mungkin tidak sekarang, tapi bisa saja suatu saat.”
“Yah, kuharap kamu benar.”
“Yah! Sunny ah, ngapain masih di dalam?! Mau pulang atau tidak?!” Terdengar suara Sooyoung bersamaan dengan suara klakson mobil.
“Ah, neee!”
“Tuh, sudah dipanggil.”
“Ahaha, itu kan karena sementara ini aku tinggal serumah dengannya. Maaf merepotkan, Taeyeon, aku pulang ya.”
“Kamu sudah simpan nomorku kan? Jangan lupa kamu bisa menghubungiku kalau ada apa-apa.”
“Ne.”
Sunny berlari-lari kecil keluar dan masuk ke mobil Sooyoung.
Sooyoung mendecak kesal dan menjalankan mobilnya.
Sunny merasa berkecil hati saat duduk di sebelah Sooyoung yang sedang mengemudi. Cara duduknya tegang dan kedua tangannya terkepal di atas pahanya.
“Anu…”
“…………….”
“Mianhae Sooyoung…”
Sooyoung tidak membuka mulut, hanya terus fokus pada jalanan di depannya. Pikirnya perlakuan diam jauh lebih ampuh dalam menyampaikan perasaannya daripada ngomel panjang kali lebar.

Sampai di rumah, setelah memarkir mobil di garasi, meletakkan kunci mobil, dan duduk tenang di sofa, Sooyoung baru tersenyum ketika melihat OST lagu yang dikirimkan oleh Tiffany.
“Heh, mana coba dengar.”
Lalu dia menekan tombol play dan mulai mendengar. Sementara Sunny sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia mengganti bajunya dan mencuci muka.
Melalui perkenalannya yang singkat dengan Taeyeon tadi. Sunny tahu bahwa Taeyeon sudah lama jatuh cinta dengan Tiffany, kekasih Sooyoung saat ini. Taeyeon mengaku kalau dia telah berusaha mencari tahu segala info mengenai Sooyoung. Karena itu sebelum mereka bertemu hari ini, Taeyeon sudah kenal Sunny karena pernah sempat mengestalk rumah Sooyoung sebelumnya.
“Fuhh… aku bisa mengerti perasaannya. Kami memang sama-sama bertepuk sebelah tangan.”
Mungkin memang harusnya aku melupakan cinta dan memelihara seekor kucing saja, batin Sunny. Kemudian dia teringat perkataan Taeyeon.
“Aku juga pernah beli seekor anjing dan memeliharanya, tapi akhirnya kutitipkan pada kakak laki-lakiku.”
“Jangan menyerah dulu Sunny. Aku saja juga tidak mau menyerah soal Tiffany.”

Sunny mengintip keluar dari balik pintu kamarnya. Sooyoung masih mendengarkan musik di ruang keluarga. Tampaknya moodnya sudah lebih baik setelah mendengar musik yang dikirim oleh Tiffany. Seketika hatinya terasa perih.

**

Paginya, Sunny sedang memasak ramyun sambil melamun. Bahkan saat mengaduknya sekalipun. Sampai ketika dia mengangkat pancinya, tidak sengaja dia menjatuhkannya hingga menimbulkan bunyi keras. Ramyun dan kuahnya berceceran di lantai.
“Ah, celaka…”
Sooyoung yang mendengar suara keras itu keluar dari kamarnya dan melihat apa yang terjadi. Wajahnya tampak jengkel karena suaranya membuat dia bangun.
“Mi-mianhae, segera kubereskan.”
“Kamu tahu, semalam aku bergadang mengerjakan tugas dan aku ngantuk sekali, baru tidur 4 jam. Kurang dari 2 jam lagi aku ada kelas. Padahal seharusnya aku masih bisa tidur 1 jam lagi tapi kamu malah sudah membangunkanku. Bagaimana aku bisa lanjut tidur kalau sudah begini.”
“Mianhae…”
“Bagaimana kalau kamu keluar saja dari rumah ini.”
DEG!
“Mengganggu saja. Setelah bereskan ramyun itu cepat bereskan barangmu lalu keluar dari rumah ini.”
“A-andwae…”
“Cepat, jangan berlambat-lambat.”
“Andwae!”
Sunny terbangun dengan kedua tangan mencengkram selimutnya.
“Mi-mimpikah?”
Setelah menyadari kalau itu cuma mimpi, tubuhnya menjadi rileks. Sunny meletakkan tangannya di atas kedua matanya.
“Payah, kalau begini harus kuurungkan niatku untuk masak ramyun pagi ini.”
Sunny menyingkirkan tangannya dan menatap langit-langit kamar dengan sedih.
“Aku tidak mau diusir dari rumah ini. Jangan sampai itu terjadi…”
Sunny bangun dari tempat tidurnya dan mengecek jam. Sudah jam 8.12.
“Mudah-mudahan Sooyoung sudah tidak marah padaku lagi.”
Sunny menarik nafas dalam sebelum membuka pintu.
Saat itu dia melihat Sooyoung sedang bersandar di sofa dengan wajah tertunduk, tapi tampak aneh di mata Sunny karena Sooyoung tidak melakukan apa-apa.
“Eh?”
Sunny mendekatinya dengan hati-hati. “Sooyoung?”
Sooyoung mengangkat wajahnya. “Payah, di saat begini malah demam…”
“Eh?” Sunny mengecek dengan menyentuh kening Sooyoung dan keningnya sendiri untuk perbandingan suhu.
“Iya, kamu panas sekali!”
“Padahal hari ini ada tugas penting yang harus kukumpulkan, tapi badan ini terlalu lemas untuk kugerakkan.”
Sooyoung memaksa untuk berdiri tapi setelah itu jalannya terhuyung-huyung dan setelah beberapa langkah dia ambruk.
“Sooyoung!” Sunny segera membantu memegangnya. “Jangan dipaksakan.”
“Tidak bisa… tugas ini harus… kukumpulkan… kalau tidak, nilaiku bisa tidak lulus… bisa-bisa aku mengulang semester…”
Tiba-tiba Sunny mengambil keputusan. “Aku mengerti, biar aku yang datang menggantikanmu.”
“Hah?”
“Aku bisa kumpulkan untukmu. Cukup pinjamkan aku kartu pelajarmu saja.”
“Kamu mana bisa menyamar jadi aku! Kamu pendek dan rambutmu berwarna merah menyala begini!”
“Aku bisa pakai wig. Walau ketahuan sekalipun selama aku berhasil mengumpulkan tugasmu tidak apa-apa kan? Kamu tidak kekurangan absen kan?”
“Ya… tapi… apa aku sungguh bisa memercayakan tugas ini padamu?”
“Tentu saja, percayalah padaku.”
“Hmm, biasanya kalau dalam drama-drama, si karakter akan tidak sengaja meninggalkan atau menjatuhkan atau malah merusakkan tugas penting semacam ini.”
“A-anu, ini kan bukan drama. Lagian, aku janji pasti akan menjaganya sampai terkumpul dengan selamat.”
Sooyoung menyipitkan mata sambil menatap Sunny seolah sedang menilai kesungguhan gadis itu. Sunny membalas tatapannya dengan segala tekad yang bisa dia kumpulkan.
“Baiklah, jangan ketinggal atau jatuh ataupun rusak ya, ini tugas dan kartu pelajarku.”
“Ne, kamu istirahat yang tenang saja.” Sunny mengantar Sooyoung masuk ke kamarnya, dengan terlalu banyak menyentuh Sooyoung seperti seorang kekasih obsesif. Sunny sempat mengagumi kamarnya karena baru kali ini dia menginjakkan kaki ke dalam kamar Sooyoung.
Sunny menyelimuti Sooyoung. Di saat begini, Sooyoung baru tampak lemah di matanya.
“Kamu enggak perlu urusin aku, yang penting cepat berangkat sana, kelas dimulai jam 9 tepat.”
“Ya, aku pergi.” Sunny berbalik dan berjalan pergi.
“Eh! Eh! Mau langsung pergi saja tanpa tanya kampus dan kelasku?”
“Oh.” Sunny baru menyadari keteledorannya. “Iya ya, hehe, telmi aku.”
“Dasar…”
Sooyoung mengambil pulpen dan menyobek secarik kertas dari buku notesnya lalu menuliskannya.
Aku ingin bisa berguna bagi Sooyoung, batin Sunny.
“Nih, kamu bawa tasku juga.”
Setelah menerima alamat dan kelasnya, Sunny segera memakai wig kepunyaan Sooyoung dan mengganti baju kemudian segera berangkat. Tak lupa ikut membawa tas Sooyoung dan memakai high heels.

Sunny POV

Duh…
Hak tinggi yang kupakai ini mungkin tingginya sekitar 15 cm. Tidak nyaman buat dipakai berjalan maupun naik tangga. Apa boleh buat soalnya Sooyoung jauh lebih tinggi dariku, kupikir aku tidak mau membuat perbedaan tinggi badan yang mencolok.
Tapi sampai sejauh ini tampaknya semua lancar-lancar saja. Aku bisa mengetap kartu pelajar Sooyoung di alat pengabsen dan tidak ada teman sekelas yang menegurku karena menganggapku asing. Sepertinya malah tidak ada yang memerhatikan karena mahasiswanya banyak. Mungkin lebih dari 50 orang. Dan yang terpenting, aku berhasil mengumpulkan tugas Sooyoung tanpa meningkatkan kecurigaan!
Untunglah karena hanya disuruh semua mahasiswa maju untuk mengumpulkan tugas dengan menumpuknya secara acak.
Saat aku meletakkannya, ada suatu rasa kepuasan menyebar dalam batinku.
Hehe, senang rasanya bisa berguna bagi Sooyoung.
Setelah mengikuti pelajaran secara alami, aku pun mengikuti arus ketika kelas sudah berakhir. Membereskan alat tulis dan beranjak keluar dari kelas.
Ah, lega sekali rasanya.
“Eh Sooyoung mana?”
Glek!
Ada seorang gadis yang tampaknya mencari Sooyoung setelah kelas berakhir.
“Kok enggak ada? Apa sudah pulang?”
Cepat-cepat aku kabur dari sana sebelum ketahuan.
Biarlah, biar dia kira Sooyoung sudah pulang. Dan aku juga tidak perlu melakukan interaksi yang tidak perlu. Lagian juga bukan tugas kuliah kan. Yang penting misi mengumpulkan tugas berhasil dilaksanakan.
Hehe, jadi tidak sabar pingin cepat sampai di rumah untuk mengabarkan berita baik ini pada Sooyoung.

**

“Aku pulang~”
Hal pertama yang kulakukan adalah melepas high heels 15 cm yang kukenakan ini.
“Fuh, akhirnya lega juga kakiku.”
Sambil melepas wig aku berjalan ke kamar Sooyoung.
“Sooyoung, aku sudah kumpulkan tugasmu,” kataku sambil membuka pintu kamar. Tapi aku cepat-cepat merapatkan mulut karena ternyata Sooyoung sedang tidur. Kuletakkan tasnya dengan hati-hati di samping meja belajar.
Setelah kuperhatikan wajahnya yang sedang tidur sejenak, aku keluar kamar. Saat itu aku merasa perutku lapar.
“Oh iya, belum makan dari tadi pagi.”
Sudah hampir jam setengah 2 sekarang.
Dari kelihatannya pasti Sooyoung juga belum makan dari tadi.
“Baiklah aku akan masak untuk aku dan Sooyoung.”
Karena Sooyoung lagi sakit, kupikir lebih tepat membuatkannya bubur. Lagipula bikinnya tidak susah.
Setelah jadi langsung kubawakan ke kamarnya.
“Sooyoung ah, aku sudah bikinin bubur nih.”
Sooyoung mengeluh karena masih ingin tidur.
“Makan, makan. Walau sakit jangan tidur terus saja.”
“Huh, kamu cerewet seperti Eommaku saja.” Keluh Sooyoung sambil memaksakan badannya yang lemas untuk bangun.
Setelah kuhidangkan, hal pertama yang dia katakan adalah. “Ini terlalu panas untuk dimakan, payah.”
“Yah, berterima kasihlah karena sudah kubikinkan.”
“Hhh, iya deh. Gomawo.”
Dia meniup-niup buburnya supaya cukup dingin untuk dimakan. Sementara aku menikmati pemandangan orang yang kusukai makan makanan buatanku. Ah, andai saja aku bisa menyuapinya. Tapi nanti Sooyoung malah jengkel.
“Kamu sudah minum obat?”
“Belum.”
“Kenapa tidak minum?”
“Enggak punya, tadi aku sempat cek di lemari obat, rupanya sudah habis.”
“Kalau begitu akan kubelikan.”
“Enggak usah.”
“Masa enggak. Kamu butuh obat, kalau tidak kapan sembuhnya.”
“Ini bukan penyakit parah. Kalau makan dan istirahat cukup juga bisa sembuh.”
“Tapi akan lebih cepat sembuh kalau minum obat.”
“Hari ini aku sudah cukup merepotkan kamu, jadi enggak usah.”
Apa karena itu? Sooyoung merasa enggan merepotkanku lebih jauh?
Aku merasa senang. Mana mungkin aku merasa repot kalau itu demi orang yang kucintai.
“Sama sekali tidak repot. Cukup ke apotik terdekat saja masa repot.”
“Tidak! Jangan!”
Aku kaget karena dia mendadak meninggikan suaranya.
“Ke-kenapa?”
“Ah itu… karena… aku sudah meminta pacarku untuk datang nanti makanya… a-aku enggak ingin sembuh dulu.”
Eh? Jadi begitu… rupanya karena Sooyoung ingin dimanja oleh pacarnya. Bodoh sekali aku karena berpikir Sooyoung tidak ingin merepotkanku…
“Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku harus keluar dari rumah ini ya?”
“Ah iya, kalau bisa sampai malam.”
“Iya.”
Aku merasa seperti diusir. Kehadiranku tidak diperlukan olehnya…

**

Aku berjalan-jalan keluar, sekalian mencari angin.
Seharusnya sekarang aku bisa mengepak barangku dan keluar.
Tapi kenapa ya… kenapa aku tidak rela meninggalkan rumah Sooyoung.
Kupikir akulah yang bisa selalu berada di sisinya ketika dia membutuhkannya. Tapi Sooyoung sudah punya pacar.
Secara kebetulan, aku melihat ada apotik. Aku bisa beli obat demam sekarang kalau aku mau. Tapi katanya Sooyoung tidak ingin cepat sembuh.

**

Di rumah Sooyoung.
Seorang gadis sedang berdiri di samping tempat tidur Sooyoung. Menatap Sooyoung yang tidur dengan penuh kasih sayang.
“Katanya kalau kamu menularkan demammu ke orang lain, kamu bisa sembuh.”
Gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan menunduk. Bibirnya perlahan mendekat seinchi demi seinchi. Gadis itu sempat terhenti sesaat, tapi akhirnya perasaan cintanya yang kuatlah yang menang. Bibirnya menempel pada bibir Sooyoung.
Sooyoung merasa ada sesuatu menekan bibirnya, jadi dia terbangun.
“Fany?”
“Mianhae aku bukan Fany, Sooyoung.”
Sebentuk wajah yang sangat Sooyoung kenal masuk dalam pandangannya yang masih setengah membuka. Sooyoung mengedipkan mata dan menatap Sunny sekali lagi.
“Kenapa?” Tanya Sunny sedikit tersipu.
“Hahh… Sunny rupanya. Eye smile kamu mirip. Tadinya kukira kamu Tiffany.”
“Anu, aku sudah belikan kamu obat demam.” Sunny mengubah topik.
Sooyoung beralih ke posisi duduk. “Tadi kan sudah kubilang tidak perlu membelikanku obat demam.”
Tapi meski ngomel begitu, Sooyoung tetap menerima obat dari Sunny.
“Airnya?”
“Oh iya bentar.” Sunny pergi keluar untuk mengambilkan segelas air.
Ketika Sooyoung minum obatnya, Sunny merasa sedikit lega.
“Ngomong-ngomong.”
“Ya?”
“Barusan kamu cium aku ya?”
“Uhh…”
To the point sekali, batin Sunny.
“Iya.” Sunny memutuskan untuk menimpalinya dengan terang-terangan juga.
“Hahh…” Sooyoung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku sudah pernah bilang kan kalau aku sudah punya pacar sekarang?”
“Iya, sudah tahu. Tapi bukan berarti aku bisa langsung berhenti mencintaimu Sooyoung.”
Sooyoung menatapnya lebih lama. Sunny tidak dapat menerka apa yang dipikirkan oleh Sooyoung.
“Ah, Tiffany lama.”
Perkataan Sooyoung seolah mengisyaratkan Sunny kalau dia tidak mau membicarakan topik ini lebih jauh.

☆☆To be Continued☆☆

Advertisements

Comments on: "Stockholm Syndrome (Chapter 7)" (21)

  1. Ambil tmpat dulu.

  2. soneimagination77 said:

    Soo lu lama banget nyadar si seksi girl itu bakalan buat lu bahagia! ntar dia udah ogah sama lu kelelep kangen ntar!
    lanjut author, kalau bisa bikin si Soo nyesel sampek mapus gegara ditinggal Sunkyu!

  3. Si sunny emang beneran cinta ama syoo atau cman karena efek sindrom stockholm?

  4. ViviMNJ said:

    Kapan jadiannyaa??

  5. Author nya keren amat ><
    Bagus bgt jalannya gk terpikirkan wkwk

    Bagus sunny berjuang!

  6. wooooow kasian banget sunny ga dianggep ada terus nih.. ayoayo tae semangat bantu sunkyu biar soosun sm taeny bersatu hahahahahaha

  7. Makin kesini, si soo makin heartless. Makin sakiiitttt dibacanya 😢

  8. Kimrahmahwang said:

    Cepet sadar choi sooyoung, kalo perempuan yg selama ini selalu ada disamping lu bakalan lu butuhin nanti. Sunny dibikin ngebatin mulu…pfftt
    Bikin fany selingkuh sama taeyeon aja, biar soosun bisa bersatu kan entar jadinya taeny dan soosun yeaaayyy😂😂

  9. darkart said:

    wah makin keren aja nih
    sunny udh blak blakan aja ama soo
    ckck, soo cepat lah sadar ada sunny
    untuk mu…

  10. Ya elahhh soo kenapa kagak sukanya ama sunny ajah sih, fany biar ama taeng dehhh,
    Atau soo gak mau bahas perasaan lebih jauh karena soo udah suka sunny??

  11. khfflovers said:

    TAEYEON AAAAAH! AKHIRNYA DATANG JUGA LU! GUA TUNGGU UDAH DARI JAMAN EPISODE FANY KENAL SYOO, EH BARU DATANG JUGA! SANA BAWA FANY LO PERGI BIAR GA GANGGUIN SOOSUN!
    wkwkwk
    ya ampun sebel pengen nabok syoo kalo beneran dia mau ngusir sunny dari rumah
    amit2 jangan sampe deeh…
    BTW DANDYU JJANG!!!
    AUTHOR JJANG!!!

  12. Nggak fokus mau komen apa :v lagi ngeblank soalnya :v
    Pokok’e HADIRRRRR!!!! 😀

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: