~Thank you for your comments~

“Aku dapat tawaran untuk menjadi model fashion. Tapi kurasa peran itu lebih cocok untukmu Sooyoung. Bagaimana? Kamu mau mencobanya? Aku bisa mengenalkanmu. Tentu saja pekerjaan ini dibayar.”
“Tapi aku enggak pernah menjadi model sebelumnya.”
“Tidak masalah, mereka memberi kesempatan pada model yang masih pemula. Faktanya, dulu aku juga pernah menjadi model fashion disana.
Mereka akan membantu mengarahkanmu. Selama kamu memenuhi kriteria untuk menjadi model mereka. Kamu kan tinggi, dan kakimu juga panjang. Kurasa kamu memenuhi kriteria. Kamu hanya perlu modal percaya diri saja.”
“Hmm, jadi model fashion ya? Sepertinya menarik.”
“Jadi kamu coba?^^”
“Ya, tolong perkenalkan aku.”
“Oke.”

**

Di rumah Sooyoung.
Sunny berbaring di tempat tidur sambil memegangi perutnya.
“Aduh… perutku sakit dari pagi. Mungkin karena ini hari kedua.”
Sunny melirik jam. “Sudah malam, tapi dia belum pulang juga.”

**

Sementara di lokasi pemotretan.
“Ya begitu, wajahnya menghadap kesana. Pandangan kesini. Tangan menopang dagu. Bagus, tahan sebentar.”
Blitz kamera menyilaukan pandangannya sesaat. Di detik itu, darah Sooyoung terasa berdesir. Rasa ketertarikannya terhadap dunia model ini mulai timbul. Terutama karena dirinya diperhatikan oleh seseorang.
Tiffany mengawasi dari samping dan tersenyum puas. Seolah sedang melihat anak didiknya tumbuh sesuai yang diharapkannya.
Setelah sesi memotret selesai.
“Sini, sini.”
Sooyoung menghampiri Tiffany.
“Kamu tertarik dengan hasilnya?”
Tiffany memberi gesture dengan menggerakkan dagu dan pandangan matanya. Sooyoung mengikuti arah pandangannya dan melihat seorang staff yang sedang menghubungkan memori kamera ke komputer. Di layarnya muncul foto-foto yang barusan diambilnya.
“Anda sudah boleh pulang Sooyoung-ssi. Sesi pemotretan telah selesai.”
“Benarkah?”
“Iya, sisanya tinggal proses pilah pilah foto dan mengedit foto yang dipilih. Jadi pekerjaan model sudah selesai ketika sesi pemotretan berakhir.”
“Ayo kita pulang, Sooyoung. Gantilah bajumu.”
“Ah, iya.”

**

“Hufft, lama sekali.” Sunny berguling di atas kasur. “Setidaknya rasa sakitnya sudah hilang.”
Sunny berguling-guling lagi. “Ah, tapi aku juga jadi belum makan malam. Sooyoung lamaaaaaa~”

**

Di dalam mobil, di depan rumah Tiffany. Mereka sampai lebih cepat dari perkiraan. Makanya Tiffany merasa masih belum puas dan tidak segera beranjak keluar dari mobil. Dia ingin meluangkan waktu ini untuk mengobrol lebih lama dengan Sooyoung. Sooyoung juga merasakan hal yang sama. Karena itu dia mematikan mesin mobil.
“Bagaimana? Kamu suka menjadi model barusan?”
“Ya, tidak kusangka, pengalaman yang benar-benar menarik! Aku mau lagi jika ada tawaran.”
“Oh, aku jamin masih ada tawaran lagi untuk kamu.”
“Masa?”
“Kelihatannya pemiliknya menyukaimu. Buktinya setelah melihatmu, kamu langsung diterima kan?”
“Terima kasih sayang, sudah memberiku kesempatan ini.”
“Hehe, sama-sama.”
“Em Fany, boleh enggak aku minta sesuatu?
“Ya?^^”
“Bisakah kita… sexy time?” Tanya Sooyoung sambil berusaha meredam malu.
“Heh, ahaha dasar Sooyoung. Ternyata diam-diam kamu belajar bahasa inggris hanya untuk mengucapkan kalimat yang nakal ya?”
Sooyoung nyengir mesum.
“Baiklah, aku juga sedang mood. Mau lakukan dimana?”
“Di mobil? Mau pindah ke kursi tengah?”
Keduanya berpindah tempat duduk ke kursi tengah. Tiffany menduduki pangkuan Sooyoung sambil melingkarkan lengannya di leher Sooyoung. Keduanya saling berpandangan.
“Kamu biasa senakal ini? Berpikir ingin melakukan sexy time di dalam mobil^^”
“Kamu juga nakal Fany, buktinya kamu langsung mengiyakan ajakanku begitu saja,” kata Sooyoung, tangannya sudah meraba-raba pinggang Tiffany dibalik bajunya.
Tiffany tersenyum dan membungkam mulut Sooyoung melalui ciuman panas. Tiffany mengulum bibir Sooyoung, bahkan lidahnya sampai masuk dan bertautan dengan lidah Sooyoung. Gadis jangkung itu memejamkan matanya.
“Emph…”
Desahan terlepas dari bibir Sooyoung di sela-sela ciuman. Keduanya sama-sama melepaskan ciuman setelah kekurangan udara.
Mereka saling bertatapan dengan nafas tersengal-sengal.
Tanpa diminta, Tiffany langsung melepaskan baju atasannya sendiri. Sekarang tampaklah bagian atas tubuhnya yang seksi yang mengenakan bra berwarna hitam yang tak kalah seksinya.
“Malam ini aku milikmu, baby.”
Sooyoung menyukai keagresifan Tiffany. Tanpa membuang waktu, dia langsung melepas kaitan bra Tiffany dengan hanya satu tangan. Kemudian menggigit tali branya turun dengan giginya.
Tiffany menyukainya godaan Sooyoung. Dia melepas kemeja Sooyoung dengan tidak sabaran. Gairah dalam dirinya telah tersulut.
Sooyoung merasakan tangan Tiffany menelusuri lekuk tubuhnya, bahu, dada, otot perutnya. Kemudian dia melahap dada Tiffany, mempermainkan dadanya sesuka lidahnya. Tangannya melepas kancing dan risleting jins yang dikenakan Tiffany.
Saat itu Sunny sudah ketiduran di rumah.
Sementara suasana dalam mobil menjadi semakin panas. Terutama didukung oleh penerangan yang cukup temaram, hanya cahaya dari lampu di luar yang masuk sebagian melalui jendela. Keduanya saling merapat. Saling bergesekan kulit. Saling menikmati tubuh satu sama lain. Peluh mulai terbentuk dari tubuh mulus mereka. Tapi itu tidak memadamkan gairah keduanya.
“Give it to me, baby…”
Sooyoung memasukkan jarinya ke dalam liang kewanitaan Tiffany.
“Akhh…!!” Tiffany mengerang nikmat sambil meremas pundak Sooyoung. “Sooyoung… ahh… ahh… ahh…!!”
Tiffany berusaha menahan desakan klimaks yang ada dalam dirinya. Dia ingin menikmati stimulasi Sooyoung selama mungkin. Tiffany menggoyang pinggulnya untuk merasakan sensasi jari Sooyoung di dalamnya.
Tiffany sama sekali tidak merasa malu mempertontonkan sisi dirinya yang liar dan suara desahannya yang seksi. Pikirannya terbutakan oleh sensasi yang dia rasakan. Tiffany merasa diawang-awang ketika akhirnya dia mencapai klimaks. Bagian bawahnya sudah sangat basah sekali. Untung Sooyoung menyediakan tisu di mobilnya. Setelahnya mereka memutuskan untuk menyudahinya dan kembali berpakaian.
Tiffany melirik jam digital di mobil. 11.54.
“Wah, sudah selarut ini?”
Tiffany bercermin sejenak melalui kaca spion mobil untuk merapikan rambutnya sedikit.
“Baiklah, malam ini cukup sampai disini. Terima kasih sudah mengantarku Sooyoung. Kamu juga langsung pulang ya. Jangan keluyuran.”
“Haha iya.”
“Kalau begitu sampai ketemu lagi.” Tiffany memberi kecupan kilat di pipinya kemudian keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya.

**

Sunny terbangun ketika mendengar suara-suara dari arah garasi. Suara seperti mobil diparkir. Sunny melihat jam sekilas. Sudah pukul 12.09.
Malam sekali pulangnya, pikir Sunny sambil mengerutkan dahi.
Karena masih sangat mengantuk maka Sunny melanjutkan tidur lagi. Tidak berminat menyambut Sooyoung lagi karena sebetulnya dia sendiri tidak suka dengan Sooyoung yang pulang kemalaman.

**

Sunny melihat ke ruang keluarga. Disana Sooyoung sedang duduk santai di sofa, sambil menonton TV dan makan keripik kentang.
Sunny meremas gagang pintu. Dibutuhkan waktu beberapa detik untuk mengumpulkan keberanian untuk keluar dan duduk di sisi Sooyoung.
Sikap Sooyoung masih sesantai sebelum Sunny duduk di sebelahnya. Tetap memasukkan tangan ke dalam bungkusan keripik kentang dan memakan dengan mengeluarkan bunyi.
“Eh Sooyoung, tidak adakah yang bisa kulakukan untukmu?”
“Hmm?”
Hari ini adalah hari keempat Sunny mendapat menstruasi dan sejak dia datang kesini memang dia sama sekali belum disentuh Sooyoung.
“Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan? Bukannya rumah sudah bersih?”
“Bukan itu…”

Sunny POV

Kalau begini jadi tidak ada bedanya dengan dulu sebelum aku pulang ke rumah, waktu itu juga dia sama sekali tidak menyentuhku sebelum aku dipulangkan.
Aku ingin Sooyoung menyentuhku. Dan aku ingin melihat Sooyoung menikmati menyentuhku, sama seperti aku menikmati disentuh olehnya. Tapi mana bisa aku minta begitu, bahkan menstruasiku masih belum tuntas.
“Kamu tidur saja, sudah jam 11.”
“Kamu sendiri belum tidur.”
“Nanti, ini kan malam minggu.”
Dia mengangkat bungkusan keripik kentang ke atas mulut dan menuang sisa remahan keripik kentangnya langsung ke mulut.
“Yahhh… sudah habis. Tapi masih lapar. Enaknya makan apa ya.”
“Nanti gendut lho.”
“Aku tipe yang enggak bisa gendut walau banyak makan. Walau makan larut malam pun tidak ada bedanya.”
“Huh, curang.”
“Ahaha, irilah sesukamu.”
Dia beranjak dari sofa kemudian pergi ke depan kulkas. Dia mengambil puding pisang. Lalu kembali duduk di sebelahku dan mulai makan.
Kuperhatikan dia makan dari samping, tapi tampaknya dia sama sekali tidak terganggu dengan tatapanku dan tetap makan.
Akhirnya kuhentikan gerakan tangannya kemudian tanpa permisi langsung kulahap puding pisang yang berada di sendok.
“Bayar, karena kamu sudah makan jatahku.”
Aku tetap menelannya.
“Bagaimana kamu akan membayarku?”
Dia meletakkan puding pisangnya di meja dan mendekat. Dia mendekat dan terus mendekat hingga tanpa kusadari aku telah berbaring di atas sofa dan dia berada di atasku.
“Tidak ada yang boleh mencuri jatah makanan favorit Choi Sooyoung dan kabur begitu saja.”
Sorot matanya saat mengucapkan kalimat barusan bagai membiusku. Dadaku berdebar-debar memikirkan apa yang akan dilakukannya. Ya, aku sudah siap jika dia mau menyentuhku. Malah sebenarnya ini yang kuharapkan.
Aku tidak tahu berapa lama kami berada dalam posisi seperti itu tapi saat Sooyoung menyingkir dariku, aku merasa kecewa.
“Yah, sekali ini tidak apa-apa.”
Dia menghabiskan puding pisangnya kemudian mematikan tv dan membuang gelas plastiknya ke tempat sampah.
“Selamat malam.”
Dia pergi ke kamarnya sendiri dan setelah itu sekeliling rumah menjadi hening.

**

Beberapa hari kemudian.
Aku tidak boleh diam saja. Kalau ingin Sooyoung memperhatikanku, aku harus berusaha memikatnya.
Setelah semalam memutuskan demikian, hari ini aku pergi keluar untuk membeli pakaian dalam yang seksi. Apalagi menstruasiku sudah berhenti.
“Yang warna merah saja, supaya tampak hot.”
Setelah membelinya, aku langsung pulang ke rumah. Kesempatan selagi Sooyoung belum pulang. Tak membuang waktu, aku langsung melepas semua pakaianku dan memakai lingerie yang baru saja kubeli kemudian bercermin.
Wow! Aku terlihat sangat seksi! Terutama bagian dadaku. Kataku sambil memegangnya dengan kedua tangan. Lingerie yang kubeli ini di bagian dada ke bawah membentuk tali-tali seperti jaring. Bahkan kain celana dalam yang menutupi bagian bawahku ini tampak sangat rapuh dan mudah sobek.

Saat aku sedang asyik mengagumi keseksianku di cermin, terdengar suara pintu dibuka dengan kunci.
Kebetulan yang pas!
Bisa langsung kuperlihatkan penampilanku sekarang. Aku segera keluar kamar untuk menyambutnya.

“Ah lapar, makan apa ya?” kata Sooyoung sambil melepas sepatunya.
“Sooyoung.”
“Hmm?”
Kukedipkan sebelah mataku.
Lalu posenya… mungkin begini. Aku membungkuk sedikit, meletakkan kedua tanganku di atas lutut dan membusungkan dadaku yang tertekan ke tengah untuk memberikan dia pemandangan dadaku yang menggoda.
Tatapan matanya tertuju pada tubuhku.
Gimana? Serangan seksi dariku!
“Bikinin aku ramyun dong Sunny.”
Eh?
“Lapar soalnya.”
“Ba-baiklah.”
Kemudian aku beranjak ke dapur dan malah membuat ramyun.
Tunggu, apa yang kulakukan? Masa serangan seksiku tidak mempan?
Hiks hiks.
Sudah beli lingerie ini mahal mahal.
Tapi akhirnya tetap kumasakkan ramyun juga.
Kuhidangkan ramyun yang sudah matang ke atas meja bersama dengan pancinya.
“Ramyun panas memang paling nikmat.” Sooyoung mencium baunya, mulutnya tampak berair. Lalu dia segera memakannya dengan sumpit.
“Srruuupp…! Srruuupp…! Ah panas! Srruuupp…! Enak!”
Sedangkan aku berdiri di samping dengan tampak bodoh melihat dia makan dengan lahap.
Aku dicuekin T_T
Walau aku memasang wajah merengut pun dia tetap tidak membagi ramyunnya. Dia tidak peduli dan tetap makan dengan mengeluarkan suara berisik.
Ah sudahlah, ini bodoh, aku pergi ganti baju saja.
“Mmhh! Tunggu Sunny!” Katanya dengan mulut penuh makanan.
“Ya?”
Apakah sekarang saatnya kesempatanku?
“Ambilkan aku air. Jangan dingin, yang hangat saja, tapi jangan terlalu panas ya.”
Dan sekarang aku malah disuruh mengambilkan air…
Aku kecewa.
Tapi aku malah tetap pergi mengambilkannya.
“Ini.”
“Gomawo.”
Dia langsung meneguknya sampai habis.
“Ahhh!”
Dia meletakkan gelasnya di atas meja sambil menyunggingkan senyum puas.
Kulihat panci ramyunnya sudah habis, jadi kubawa ke dapur untuk dicuci. Sementara dia masih duduk disana mengusap perutnya yang kenyang.
Akhirnya aku malah jadi seperti pelayannya, batinku sedih sambil mengelap panci yang kini sudah bersih sekarang.
Ketika aku kembali ke ruang tengah. Dia menghadangku. Aku menengadah dan bertemu pandang dengan matanya.
“Sekarang perut sudah terisi, energiku sudah pulih,” katanya dengan seringai khas miliknya.
Lalu dia menarik tanganku dan berjalan menuju kamarku. Setelah pintu ditutup, aku langsung didorong ke atas ranjang. Dia melepas bajunya hingga telanjang bulat dan naik ke atasku.
“Pakai lingerie seksi segala, kamu sengaja begini untuk memancingku ya? Dasar gadis nakal.”
Tangannya menggenggam lingerie yang kupakai, kemudian-
Brek brek
Dia merobek lingerie yang kupakai dengan kasar dan bertenaga, matanya menatapku nyalang, sampai kupikir dia hendak memperkosaku.
“Kamu mau kuginiin ya?”
Tangannya mengusap perutku bagian bawah.
“Ah! Geli!” Aku menggeliat.
“Hehe, reaksi yang bagus.”
Setelah sekian lama tidak disentuh, akhirnya sekarang saatnya…
Dia menindih tubuhku dan mulai menikmati tubuhku dengan penuh gairah. Aku mendesah tak tertahankan di kala lidahnya bermain mengitari dadaku, meninggalkan jejak-jejak basah.
Ada satu hal yang kusadari. Walau mungkin bisa dibilang aku terlambat menyadarinya.
Bahwa selama melakukannya Sooyoung tidak pernah sekalipun menciumku. Di bibir maksudku.
Aku benar-benar diperlakukan seperti seks objek. Kini kesadaran itu baru mulai mengenaiku.
Aku tidak mau seperti ini! Aku tidak mau jadi gadis lemah!
Setelah aku berpikir begitu, aku memegang kepalanya dengan kedua tanganku lalu memaksanya untuk bertatapan denganku. Dia malah tersenyum nakal.
“Apa? Kamu mau lebih? Heh, benar-benar tidak sabar-”
Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, aku sudah mempertemukan bibirku dengan bibirnya.
“Mmhh-?”
Kupejamkan mataku dan kutekan kepalanya dengan tanganku. Aku melanjutkan memperdalam ciumanku di bibirnya.
“Mmmph! Mmph!”
Kurasakan dia ingin memisahkan diri makanya kuangkat kakiku dan kupeluk pinggangnya dengan kedua kakiku. Sementara tanganku yang satunya kugunakan untuk meremas tangan Sooyoung. Kukunci pergerakannya rapat-rapat.
Kemudian aku berkonsentrasi untuk memagut bibirnya. Kuluapkan segala perasaanku supaya Sooyoung menyadari perasaanku yang sebenarnya.
Selama berciuman ini jantungku berdetak dengan keras di dadaku sampai kupikir Sooyoung mungkin dapat merasakannya.
Setelah sekitar satu menit aku memisahkan bibirku darinya, namun aku sama sekali tidak melepaskan pandanganku darinya.
“Lepas.” Satu kata yang dingin dan tatapan yang dingin.
Setelah kulepas dia langsung menyingkir dariku. Dia berdiri dari kasur dan membelakangiku.
“Sooyoung ah…”
“Jangan panggil namaku semesra itu. Aku sudah punya pacar.”
Kalimat itu bagai menghujam hatiku.
“Eh…? Sudah punya pacar?”
Dia mengangguk.
“Kalau begitu kenapa-” Aku menyadari suaraku sendiri terdengar bergetar. “Kenapa kamu mau begituan denganku?”
“Hhh, kamu sendiri yang duluan memancingku kan.”
Setelah berkata begitu dia langsung pergi meninggalkan kamar.
Aku ditinggalkan begitu saja dengan sisa-sisa lingerie yang sobek dan kenyataan yang membuatku patah hati. Air mata mulai berkumpul di mataku. Aku tak kuasa menahan tangis.

Advertisements

Comments on: "Stockholm Syndrome (Chapter 6)" (22)

  1. Tinggalin jejak dulu.

  2. Anyeong thor, gw save dulu yah. Tar komen lagi

  3. oh noooo…!!! sooyoung! kau membuang kesempatan emas begitu saja…? aihhh~ sunny rapopo sunny rapopo rapopo~
    I like it, tapi… kekekeke nyesek juga sih kalo ada di pihak si sunny wkwkwkwkwkwk 대박 lah pokok nya 👍👍👍👌

  4. riestakim said:

    Duh Sunny patah hati :v kasian :’3 Akhirnya SooTiff ada sexytime wkwkw 😀 Thank’s for update thor,karna gue udah nunggu ni ff :v haha

  5. darkart said:

    hi thor
    wah soo mau ama fany dan sunny jg ya
    ckckck kasian sunny

  6. Hahahah kepencet
    Oh gosh itu sexy time banget fany dan sooyoung. Secara pikiran soo emang setia sama fany yaaa cuma cinta sama fany hhihihi tapi kelakuan tetep deh mau juga sexy time bareng sunny. Lagian sunny mancing siii.

    Nah lhooo sooyoung keren deh ngaku kalo punya pacar 😍😍👏👏 need mor soofany moment aseeekkk

    Semangat thor ditunggu kedatanganmu ku tungguuuu

  7. soneimagination77 said:

    Sunny kasihan ih bagaimanapun kan dia cewek, ya walaupun Syo juga cewek, awas Syo entar nyesal, semoga happy ending bukan sad ending seperti yang aku kira…
    Lanjut author!

  8. iya juga yaa kok soo gak pernah kiss sunny, ah jadi penasaran kenapa yaa..
    pacar yg dimaksud soo fany ya? kasian sunny

  9. ViviMNJ said:

    Auuwww kasihan Sunny😢

  10. Kimrahmahwang said:

    Kirain sunny udh tau kalo syoo udh punya pacar. Kirain juga sunny tetep gamau nyerah buat dapetin syoo walaupun dia udh punya pacar…tapi ternyata belom..

    Sunny nasibnya ga bagus amat sih. Jangan tinggalin gadis sebaik sunny syoo. Tiati entar malah nyesel…
    Etapi fany juga baik kan..tapi syoo lebih jodoh ke sunny drpd tiff wakakakak XD

  11. Kok sedih….. :”””” sooyoungie nakaaaaallllllll!!!!jahat omg jahaaatt 😭😭😭😭😭😄

  12. Annyeong
    Akhirnya update *-*
    Terakhirnya kasian sunny.. Tp ya namanya sooyoung sukanya sm fany. Mau diapain.tinggal sunnynya aja yg mesti berjuang kek syoo sebelumnya. Fighting sunny :v

    Ternyata pikiran sunny kocak juga
    Gimana kalo digambarin ya :v

  13. Kasian sunny patah hati, soo kapan jatuh hati ke sunny nya, 😞😞

  14. khfflovers said:

    aih… sempet applause dlm hati td…
    setia juga nih syoo, hbs punya fany udah ga ngapain2 sunny lagi
    padahal udah diserang pake lingerie merah…
    eh habis gitu ternyata…
    *gubrak

  15. Karena lagi dikampus, yadong nya di skip doelo :v
    Kwkwkwkwkwkw

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: