~Thank you for your comments~

Malam di saat Sooyoung dan Sunny menginap di luar. Marina menatap keramaian jalan dengan hati hampa. Keadaan rumahnya kosong. Setelah anaknya tiada, rumah jadi lebih tenang. Tapi sejak Sooyoung pergi, rumah jadi berasa lebih sunyi lagi. Dia tak tahan berlama-lama di rumah, makanya dia keluar untuk mencari angin. Tapi rupanya walau sudah berada di sekeliling banyak orang, perasaan hampa di hatinya tidak mau pergi.

Marina mendapat pikiran saat dia mulai minum bir yang dia beli dari mini market dan berdiri menunggu lampu merah. Kalau dia akan bunuh diri saja, dengan menutupinya sebagai mati kecelakaan akibat mabuk. Dengan begitu maka ia akan bisa menyumbangkan matanya untuk Sooyoung.

Sooyoung tampak bahagia bersama dengan Sunny. Dengan bisa melihat pasti kebahagiaan Sooyoung akan sempurna, begitu pikir Marina.

Marina sudah menandai semua organ yang bisa dia sumbangkan jika dia mati dalam kartu donor miliknya. Dia menyimpan kartu donor itu baik-baik di dompetnya.

Marina juga berpikir dia ingin bertemu dengan anaknya kembali. Dia menghabiskan kaleng birnya, kemudian membiarkannya terjatuh begitu saja.

Saat dia hampir menyeberang, tiba-tiba ada tabrakan keras terjadi tepat di depan matanya. Marina tidak kena, tapi dia syok melihat pemandangan yang begitu cepat berubah di hadapannya.

Jalanan seketika menjadi riuh. Kemudian ada korban yang tergeletak di aspal berlumuran darah.

Kaki Marina menjadi lemas, kemudian dia jatuh berlutut. Mendadak dia jadi takut. Sangat takut. Hampir saja dirinya mengalami hal serupa jika saja dia maju beberapa detik lebih awal.

Ternyata dia memang takut mati!

Akhirnya Marina pun membatalkan niatnya dan cepat-cepat pulang ke rumah. Benaknya tidak bisa berhenti memikirkan pemandangan mengerikan yang telah dilihatnya semalaman.

Saat Marina tidak bisa tidur, mendadak dia mendapat telepon dari rumah sakit. Kalau baru saja ada pendonor yang datang dan bertanya apakah Marina mau untuk operasi Sooyoung.

Marina jadi berpikir apakah pendonor itu adalah korban kecelakaan tadi.

**

Keesokan harinya, Sooyoung dan Sunny duduk menghadap Marina. Dari sorot matanya, tampak Sooyoung sudah mantap untuk meluruskan perasaannya.

“Marina, aku-“

“Aku tahu.” Potong Marina. “Sekarang kamu pacaran sama Sunny kan.”

“Iya, maafkan aku…”

Marina sudah bisa menduga jawaban Sooyoung. Dia melihat ekspresi Sooyoung tampak sangat menyesal. Walau merasa tersakiti tapi Marina merasa tak tega juga melihatnya.

“Ada berita baik. Ini mengenai donor mata kamu, semalam rumah sakit memberitahu kalau ada pendonor…”

“! Benarkah?!”

“Ya… kamu bisa segera di operasi hari ini. Jadwalnya nanti sore. Untung kamu sudah pulang.”

“Sooyoung, apa katanya?” Sunny berpaling pada Sooyoung karena tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Marina.

“Kata Marina ada donor mata untukku!”

“Benarkah?! Jadi bisa langsung segera operasi?!”

“Ya! Sore ini!”

Sunny merasa sangat senang. Artinya penglihatan Sooyoung akan kembali seperti sedia kala.

Sunny menggenggam tangan Sooyoung. Membuat hati Marina sekali lagi seperti diiris pisau. Tapi setidaknya dia bisa melihat wajah tersenyum Sooyoung.

**

Di depan ruang operasi.

“Sunny, aku sedikit takut…”

“Tenang, semua akan baik-baik saja,” ujar Sunny sambil menggenggam tangan Sooyoung. “Pikirkan hal yang positif Sooyoung, usai operasi kamu akan bisa melihatku.”

“Iya.” Sooyoung merasa menemukan kembali keberaniannya. “Setelah aku bisa melihat, bisakah kita pergi kencan lagi?”

“Tentu saja, kita akan pergi kencan berapa kali pun kamu mau.” Sunny mengecup kening Sooyoung.

Setelah itu brankar yang ditiduri Sooyoung didorong masuk ke ruang operasi.

Sunny memejamkan matanya dan berdoa. Begitu juga dengan Marina.

Dua-duanya duduk menunggu dalam kebisuan. Walau keduanya sama-sama tidak saling menyukai kehadiran satu sama lain, tapi mereka tetap menunggu disana dengan sabar demi Sooyoung.

Menit-menit berlalu. Marina sampai terkantuk-kantuk. Sementara Sunny berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.

Operasi berjalan dengan sukses.

Usai operasi mereka bisa melihat Sooyoung yang belum sadarkan diri. Sebagian wajahnya masih di perban.

Jantung Sunny berdebar-debar memikirkan hari dimana perban itu akan dibuka dan kekasihnya akhirnya bisa melihatnya.

Jadi tidak sabar, pikir Sunny.

**

Siang hari, Sunny berjalan-jalan di tempat keramaian. Memikirkan apa yang sebaiknya dia beli untuk hadiah ucapan selamat paska operasi Sooyoung. Walau mungkin sedikit terlalu awal untuk bergembira, tapi Sunny merasa tidak ada salahnya.

“Apa sebaiknya kubelikan makanan saja ya? Sooyoung pasti suka kalau kuhadiahkan makanan-makanan yang enak. Hehe, dasar shik shin.”

Sunny senyum-senyum sendiri memikirkannya saat dia berjalan menuju food court. Tapi senyumnya lenyap saat dia mendapat pesan singkat dari seseorang.

**

Sunny kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Sooyoung. Sekalian bermaksud untuk mengabarkan berita duka yang dia dapat.

Ketika pintu kamar Sooyoung dibuka, Sunny sudah langsung mendengar rengekannya.

“Ahhhhh~! Jadi nggak sabar pingin cepat-cepat dibuka perbannya~”

Sunny bersyukur bahwa setidaknya itu pertanda bahwa Sooyoung sehat-sehat saja.

“Ini aku belikan chicken katsudon.”

“Yahhhhh~ Kenapa nggak niku udon atau hamburger?” rengek Sooyoung.

“…………….”

“Bercanda kok, heheheh. Gomawo Sunny.”

“Kutaruh di meja ya.” Sunny meletakkan plastik berisi chicken katsudon di meja dan duduk di samping Sooyoung.

“Aku benar-benar berterima kasih. Kamu sudah membiayai operasiku. Budi baik Sunkyu tidak akan pernah kulupakan selamanya!” Sooyoung mencoba sedikit bergurau pada kalimat terakhirnya.

“Ya.”

“Ada apa? Kupikir kamu bakal lebih senang dari ini?” tanya Sooyoung ketika mendengar respon Sunny yang singkat dan sepertinya memendam sesuatu.

“Maaf, barusan aku mendengar kabar kalau Bibiku meninggal karena kanker…”

“Apa? Bibi kamu meninggal?”

“Ya, makanya aku harus segera pulang ke Korea untuk melayat.”

“Yah, kalau begitu pulanglah. Pamanmu pasti menunggu kepulanganmu.”

“Aku juga berniat begitu, cuma aku kecewa dan sedih… Padahal kamu bahkan belum keluar dari rumah sakit tapi hal ini malah terjadi…”

“Yah, kadang nasib memang begitu.”

“Padahal aku kan ingin mengajak kamu pulang kembali ke Korea sama-sama…”

“Hmm, sini Sunny.” Sooyoung membuka lengannya, memberi isyarat supaya Sunny mendekat ke pelukannya.

Sunny mendekat dan membiarkan Sooyoung memeluknya.

“Semua akan baik-baik saja, begitu katamu kan?” kata Sooyoung sambil mengusap punggung Sunny.

Sunny teringat dengan kata-kata yang dia ucapkan sendiri sesaat sebelum operasi Sooyoung.

“Kata-katamu waktu itu memberiku ketenangan batin. Karena itu sekarang gantian kubisikin ke kamu dengan harap supaya kamu juga bisa mendapat ketenangan yang sama.”

“Iya, semua akan baik-baik saja.” Sunny tersenyum dan memejamkan matanya. Seketika perasaannya menjadi lebih baik setelah mendengar kekasihnya berkata begitu.

Sooyoung menepuk punggungnya beberapa kali sebelum mereka melepaskan pelukan.

“Setelah bisa melihat, aku pasti akan pulang kembali ke Korea untuk menemuimu.”

“Benarkah? Kamu benar-benar akan kembali ke Korea?”

“Aku janji.”

“Kalau begitu akan kutunggu kamu di Korea.”

“Haha, kalau aku tidak kembali pasti kamu akan terbang ke Jepang untuk menjemputku kan?”

“Itu sudah jelas.”

**

Akhirnya Sunny pulang kembali ke Korea. Dan tibalah hari untuk melepas perban yang menutupi Sooyoung.

Ketika Sooyoung membuka kelopak matanya, dokter adalah yang pertama kali dilihatnya, setelah itu Marina.

“Bagaimana?”

“Ke-kelihatan… aku benar-benar bisa melihat kembali…” ucap Sooyoung dengan nada bergetar.

Air mata mengalir keluar tanpa bisa ditahannya. Sooyoung tersenyum sambil menitikkan air mata haru. Walau pengalaman butanya tidak lama. Tapi sekarang dia menjadi sangat menyadari betapa pentingnya penglihatan. Selama ini dia kurang mensyukuri anugerah penglihatannya, menganggap sudah seharusnya ada.

“Terima kasih dokter. Terima kasih Tuhan. Terima kasih juga siapa pun yang telah menjadi pendonorku…”

“Syukurlah Sooyoung.” Marina ikut menangis.

**

Sooyoung sudah keluar dari rumah sakit. Lalu sekarang tibalah saatnya untuk mengucapkan perpisahan.

Sooyoung merasa tersiksa ketika dia harus mengepak barang-barangnya dari apartemen itu. Apartemen yang telah dia tinggali bertahun-tahun bersama dengan Marina. Begitu banyak kenangan tersimpan dalam apartemen yang kecil tapi nyaman itu. Marina sendiri merasa sedih melihat Sooyoung sedang membereskan barangnya satu per satu. Ingin sekali dia menghambur ke arahnya, menarik kopernya dan menyuruh supaya jangan pergi. Tapi Marina tahu dia tidak bisa melakukan itu. Sooyoung berhak memilih kebahagiaannya. Meski kebahagiaannya tidak mengikutkan dirinya di dalamnya. Yang membuatnya tidak tahan adalah setelah kehilangan anaknya, sekarang dia juga akan kehilangan Sooyoung. Marina berniat mungkin dia akan pindah apartemen setelah ini.

Sooyoung menatap sedih foto mereka yang sedang tersenyum terpajang di ruang tengah.

Tapi hatinya sudah memilih Sunny. Sooyoung tetap harus melangkahkan kaki keluar dari apartemen itu. Untuk mengejar kebahagiaannya di Korea sana. Dia sempat menyalahkan dirinya sendiri yang begitu plin-plan, sempat berpindah hati sehingga telah menyakiti keduanya.

“Aku pergi…”

“Sayonara…”

Jangan pernah kembali lagi, batin Marina, meski matanya berkaca-kaca ketika menatap punggung Sooyoung.

Sooyoung berjalan dengan wajah tertunduk saat melangkah pergi sambil menggeret kopernya.

**

Hari kedua, Sunny mulai lelah batin setelah menerima ucapan-ucapan turut berduka dari orang-orang.

Coba ada Sooyoung di saat seperti ini, batin Sunny sambil menghela nafas.

“Sunny, aku berharap mulai sekarang kamu mau membantu menggantikan posisi paman. Tentu saja kamu tidak akan langsung dibebani dengan posisi CEO, kamu akan belajar sedikit demi sedikit sampai kamu bisa.”

“Tentu saja, paman.”

Saat itu ada seseorang yang berdiri di dekat Sunny. Sunny sedikit terperanjat dan seketika merasa bersalah karena menyadari bahwa dia belum sempat memberi kabar.

“Aku turut berduka, Sunny.” Gadis itu mengulurkan tangannya.

“Terima kasih.”

“Kamu tidak memberi kabar.”

“Maafkan aku, aku sungguh-sungguh lupa.”

Yuri menghembuskan nafas dalam dan berusaha memaksakan diri tersenyum menerima penolakannya. “Aku benar-benar telah dilupakan ya.”

“Ah…” Sunny merasa dia telah salah bicara, tapi dia tidak bisa menariknya kembali. “Maafkan aku…”

“Ya sudahlah, sekarang itu tidak penting. Aku tahu kamu mengalami masa yang berat. Tetaplah tegar Sunny.”

Kamu juga, Yul, batin Sunny.

Yuri masih merasa kenyataan ini pahit. Namun dia merasa tetap harus menerimanya. Kalau dia sudah bukan lagi orang yang sepatutnya berada di sisi Sunny untuk membahagiakannya. Karena baginya kebahagiaan Sunny lebih penting dibanding perasaannya sendiri.

“Kamu pasti kembali bersama dengannya.”

“Iya.”

“Jadi berarti kita putus ya…”

“Iya…” Sunny tidak sanggup menatap Yuri, takut melihat kepedihan di matanya. Tapi Yuri tetap tampil tegar karena tidak mau dikasihani ataupun menambah kesedihan Sunny.

“Tidak apa-apa.” Yuri menepuk pundak Sunny.

**

Sunny merasa lega karena akhirnya dia bisa kembali ke apartemennya.

“Ahh… capek sekali. Sooyoung cepat datang dong~” Sunny merengek seperti anak kecil sambil memeluk gulingnya.

Tapi, dengan ini hubungannya dengan Yuri telah berakhir. Saat bertemu tadi keduanya telah meluruskan segalanya.

Sunny merasa tidak enak seolah telah mempermainkan perasaan Yuri.

“Tapi aku sukanya Sooyoung, jadi tidak bisa kupaksakan juga kan…”

Saat sedang berbaring begini, Sunny teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Sooyoung. Waktu itu Tiffany yang pertama mengenalkannya. Bahkan dia masih ingat senyuman pertama yang ditunjukkan oleh Sooyoung, bahasa tubuh, dan kalimat yang diucapkannya.

“Salam kenal Lee Sunny, namaku Choi Sooyoung.” Setelah berkata demikian Sooyoung membungkukkan sedikit badannya khas gaya Korea.

Dari kesan pertamanya saja, Sunny sudah merasa Sooyoung sangat ramah dan sopan, makanya Sunny mau mencobanya. Dan setelah itu Sooyoung menjadi kekasih bayarannya secara rutin.

“Begitu banyak hal yang telah terjadi ya…”

“Awalnya aku ditolak, dan kemudian dia pergi meninggalkanku ke Jepang karena mantannya. Tak lama kemudian aku menjadi kekasih bayaran karena mengikuti jejaknya dan menjalin hubungan dengan Yuri. Tapi kemudian dia menghubungiku kembali dan aku menyusulnya ke Jepang dan pada akhirnya aku berhasil meraih hatinya.”

“Ah Choi Sooyoung… pengorbanan yang dikeluarkan untuk mendapatkan hatimu tidaklah mudah. Tapi syukurlah akhirnya aku bisa mendapatkan hatimu.” Sunny tersenyum kecil. Terutama mengingat tahun-tahun ketika Choi Sooyoung pergi meninggalkannya. Walau ada Yuri di sisinya, tapi hatinya merasa agak sepi. Seperti menantikan sesuatu yang tidak akan terjadi. Seolah hatinya tidak bisa berhenti berharap, tidak bisa move on.

Ting tong.

Sunny bangkit dari tempat tidurnya dan pergi untuk membuka pintu. Tentu saja orang yang berdiri dibalik pintu adalah orang yang sejak tadi diharapkannya. Matanya langsung bertemu pandang dengan mata Sooyoung yang berwarna coklat tua.

“Salam kenal Lee Sunny, namaku Choi Sooyoung,” ucap Sooyoung kemudian membungkukkan sedikit badannya.

Sunny tersenyum karena teringat kelakuan Sooyoung sama persis seperti waktu pertama kali mereka bertemu. Bahkan kata-katanya juga.

“Pfft, apaan tuh? Memangnya ini pertemuan pertama kita?”

“Tapi ini kan pertemuan pertama mataku bisa melihat kembali sejak kita jadian. Dan karena aku tidak sabaran, tujuan pertama yang kupilih setelah mendarat di Korea adalah pergi ke rumah kamu,” kata Sooyoung sambil menggoyang sedikit tiang kopernya.

Sooyoung memperhatikan Sunny dari kepala sampai ujung kaki. “Sunny, kamu benar-benar cantik melebihi bayanganku. Benarkah aku dianugerahi kekasih secantik ini?”

“Ahaha.” Sunny tersenyum manis, tapi satu detik kemudian matanya mulai berair. Sunny merasa terharu. “Syukurlah.” Dia langsung menuju ke dekapan Sooyoung.

Saat bisa memeluk Sunny kembali, Sooyoung merasa sangat bahagia.

Akhirnya aku bisa melihat Sunny kembali.

*~Fin~*

A/N : Tadinya aku berencana mau membikin sad ending. Tapi setelah dipikir-pikir daripada tambah galau. Terutama karena berita Sica, jadi kuputuskan bikin happy ending saja. Makanya updatenya lama karena bentrok ide. Mudah-mudahan endingnya memuaskan 🙂

Advertisements

Comments on: "Paid for (Chapter 10 – End)" (22)

  1. Wah jadi yang prtama comment. :O

  2. Tadinya malah ngira Yuri bakalan ama Marina. XD
    Tapi klo bnaran malah klihatan aneh yah.
    Klo soal Sica sih aku pribadi gak galau kok. Malah bagus untuk smua pihak mnurutku.
    Lagipula syukur ini brita kluar sblum comeback SoShi. Jadi kuharap gak ada ‘drama’ ala Sica lagi.
    Tapi yah….. Gak yakin juga sih. :p
    BTW tumben gravatarnya polos, gak ada SooSun.

    • Lol iya ya, harusnya Yuri sama Marina XD

      Soalnya masih ada yg sakit hati soal sica di Twitter

      Gak tau nih, mgkin keubah pas utak atik

  3. akhirnya soosun happy ending
    kirain endingnya kocak tapi bagus soo dewasa disini
    gue juga gak galau kalau soal sica, semua nya saling mendukung pilihan masing” jadi yah fokus comeback soshi aja deh hehe
    semangat !

  4. snsd lover said:

    Yahh !! Finally..nsib baik thor bikin happy ending..klu thor bikin sad ending bisa2 kering air mataku..i hope soosun make more moments for help you bikin lbh byk ff lagi..

  5. nindz85 said:

    horeee akhir nya bersatu…hepi.ending
    mimin buat lbh banyak ff soosun atw u
    yulsic ya….hehehe

  6. darkart said:

    yeeeeey akhirny happy ending
    untung authorny gk jd bikin sad ending
    krn dr pertengahan ceritanya udh mulai sedih trs
    tp yg penting soosun sudah bersatu
    keren thor….

  7. Kimrahmahwang said:

    Akhirnya bisa bersatu juga soosun setelah berperang batin selama ini. Emang hati gabisa boong mau dibawa ke siapapun kalo ujung2nya dia yaudah mau diapain lagi hahaha
    Yeayy happy ending :3

    Kalo soal sica, udah nerima semuanya. Malah jadi bisa ngedukung satu sama lain kan. Keluarnya juga baik2 dibanding yg lainnya, bahkan sment sendiri juga nyuruh buat ngedukung apa yg sica lakuin di masa yg akan datang. Sukses terus buat sicaa^^

  8. hennyhilda said:

    Woww akhirnya penantian sunny ga sia2 buat dapetin hatinya sooyoung walo mesti ngorbanin prasaan orang lain tapi hidup itu bukankah emank kejam hehehe

  9. Yeeeeaaaaahhhhh… happy ending.. untung ga sad.. tambah sedih aja entar kalo sad..

  10. khfflovers said:

    *galau krn berita sica* andwaeeeee kenapa harus diingetin lagiiii :'((((

    Btw sebenernya dr sisi org umum sih agak kesian juga sama orang2 yg udah “dikorbanin” sama soosun. Kan mereka pasti sakit hati tuh cm jadi pelabuhan hati sesaat gara2 tuh soosun punya perasaan labil amat.
    anyway, sebagai soosun shipper ya pasti seneng lah dua2nya bersatu lagi sprti sedia kala apalagi tanpa perlu ada pertumpahan darah *apalah

    Semangat author! Ditunggu karya2 sela jutnya yeaaa ^^

  11. Woahhh, eonnie, daebak 😀
    Tapi kenapa ending-nya cepat ? Perjanjiannya kan jadi beribu-ribu episode eon ? 😀
    Kwkwkwkwkw 😀
    Tapi tak apalah, aku terpuaskan kok 😀 Reader yang lain pasti juga.

    Kukirain juga tadi nih ff bakalan sad end kak, udah mau ngamuk kian aku eon. Kekeke :v

    Cieeee, blog eonni udah makin canggih nih yeeeee :p
    Rasanya kayak aku ketinggalan abis. Udah berapa dekade sih eon aku kagak mampir ??? 😀
    Rindu banget sama eonni-nya *upss sama ff nya deng. Kwkwkwkwkwkw 😀 😀 😀

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: