~Thank you for your comments~

Passion [One Shot]

Pairing SooSun.

Disclaimer: Author WP ini (Maifate) tidak menulis ff ini. Ff ini milik teman author, yang bernama panggilan Oya. Saya hanya membantu mempublish di WP ini. Katanya ini hadiah buat saya. Tapi sayang kalau sudah dibikin tidak di publish, karena siapa tahu ada juga reader yang mengharapkan membaca cerita one shot bukan? Mengingat saya sudah lama tidak bikin one shot.

Komentar-komentar readers akan membuat dia senang 😀

Enjoy~☆

Langit hari ini terlihat mendung. Angin berhembus kencang, pepohonan bergerak gusar menjatuhkan daun-daun hijau yang mungkin masih melakukan fotosintesis. Bisa dibilang, seperti itulah keadaan hatiku sekarang. Gelisah, tidak tenang.

Penyebabnya? Entahlah, aku sendiri tidak tahu pasti.
Seperti saat ini, duduk menatap papan tulis dengan pandangan kosong, merasakan dinginnya udara kelas tanpa satu orangpun. Ya, ini memang kebiasaanku untuk datang lebih awal setiap hari. Banyak yang mengatakan bahwa aku berlebihan, atau terlalu rajin. Namun, entahlah. Aku hanya lebih suka keadaan sepi dimana hanya ada aku sendiri dan beberapa molekul oksigen yang menemaniku.
Jangan salah sangka, bukannya aku tidak suka bersosialisasi, hanya saja setiap orang memiliki preferensi yang berbeda, bukan?
“Hei, jangan melamun.”
Suara itu memecah lamunanku. Kurasakan telapak tangannya mengusap bahuku lembut. Walaupun tidak mengalihkan pandangan, aku sudah tahu siapa pemilik suara itu. Suara yang selalu kudengar setiap saat dan waktu.
“Hei, jawablah jika seseorang menegurmu! Ya Tuhan, pendengaranmu tidak hilang, kan?”
Kutarik napas panjang, dan melirik sedikit kearahnya. Menangkap pandanganku, ia kemudian memamerkan senyuman andalannya.
“Nah, akhirnya nyawamu kembali. Sini, cepat berikan makalahmu.” Pintanya sambil menggerakkan tangan yang terulur seolah menyuruhku untuk bergerak cepat.
Aku menghela napas. Dia memang selalu seperti ini. Menyalin hasil kerja kerasku semalaman. Bahkan disaat ujian, dia bisa dengan mudah lulus di segala mata kuliah tanpa belajar sedikitpun. Sedangkan aku, butuh begadang berhari-hari. Lupakan soal mencontek. Mencontek adalah salah satu bagian dari usaha, bukan? Aku menyalahkan diriku karena tidak pernah berani untuk melakukannya walaupun ingin. Jadi, sebenarnya apa yang sedang aku permasalahkan?
“Ya ampun, Choi Sooyoung! Kenapa kau malah melamun lagi?! Berikan makalahmu siniii!!!”
Tidak mungkin dia telah menyelesaikan tugasnya, kan? Dengan cepat ku keluarkan makalah yang telah kukerjakan semalaman. Belum sampai tanganku untuk menyerahkan sejilid kertas itu, dia sudah terlebih dulu menepis tanganku. Aku menatapnya bingung.
“Baiklah, lupakan itu. Ada yang mau aku bicarakan denganmu.”
Masih menatapnya dengan malas, aku menghela napas lagi “Tenang saja, makalahku pasti mendapatkan nilai bagus.” Kataku santai. Dia tak menjawab dan malah menatapku tajam. “Tinggal salin saja, aku tidak mood untuk berbicara. Pergilah.” Lanjutku setelah memastikan sejilid kertas yang ia tepis tadi berada dalam genggamannya, dan mengembalikan pandanganku ke papan tulis yang sejenak terlupakan.
Dia tersenyum getir menatap benda ditangannya dan menatapku lagi, namun kali ini tingkahnya sangat mengejutkanku. Bagaimana tidak, dia melempar makalah yang tadi kuberikan, lalu menggebrak mejaku dengan keras.
Aku terperanjat kaget, dan membelalakkan mataku untuk menatapnya. “Lee Sunny! Apa maksudnya ini?!” Sontak aku menaikkan nada bicaraku.
“Sudah kubilang, lupakan makalah ini karena ada yang ingin aku bicarakan!” Walaupun untuk ukuran tinggi badan aku yang menang, namun ku akui untuk nada bicara, dia selalu lebih tinggi dariku.
Kupejamkan mata sejenak. Berusaha menghirup oksigen yang kupikir masih segar. Namun sepertinya oksigen disini telah menipis sehingga membuat napasku tercekat.
“Choi Sooyoung, tatap mataku sekarang!”
Setelah berhasil mengatur napas, aku menatapnya. Dia masih menatapku dengan tatapan yang bahkan lebih tajam dari duri, seolah dapat menusuk bola mataku. Kami terdiam beberapa saat hingga aku menemukan sesuatu yang bercahaya di sudut matanya. Dan itu membuatku sedikit kaget karena melihat air matanya yang sudah menetes.
Nah, ada apa sebenarnya? Mengapa orang ini terlihat sangat sedih dipagi-pagi buta seperti ini. Tidak lulus ujian? Tidak mungkin. Dia bukan tipe orang yang akan bersedu-sedan hanya karena gagal ujian. Putus hubungan dengan pacarnya? Itu juga tidak mungkin karena belakangan ini dia tidak menjalani hubungan dengan siapapun. Terjatuh dijalan? Ah, mungkin saja. Tapi apa hubungannya denganku?
“Ada apa denganmu, Sooyoung?”
Suaranya bergetar. Dia menangis? Tapi kenapa?
Ku ulurkan kedua tanganku untuk menangkup wajahnya, namun ia lagi-lagi menepis tanganku dengan kasar.
“Jawab!!!”
Aliran air matanya makin menjadi-jadi. Ia menangis tanpa suara.
Dengan panik, kuraih lagi wajahnya dan berusaha menghapus air matanya “ Aku baik-baik saja! Sungguh! Sudahlah jangan menangis.” Aku berusaha sekuat tenaga menahan kepedihan mataku. Jangan sampai aku juga ikut menangis. Ini benar-benar tidak lucu.
Kumohon, jangan dipagi hari seperti ini…
“Sunny, kumohon… Jangan mena—“
Dia menggelengkan kepalanya, menjauhkan dirinya dari jangkauanku. Menggambil kembali tasnya dan bergegas pergi. Baru saja aku beranjak ingin mengejar, namun aku terhenti karena ucapannya.
“Maafkan aku, tapi sepertinya aku tidak ingin menginap dirumahmu malam ini”
Dengan itu, ia benar-benar pergi. Ia pergi tanpa sekalipun menoleh. Membuatku makin bingung dengan keadaan ini. Keadaan yang tercipta karena perbuatan bodohku sendiri. Karena kejadian malam itu…
Ugh, Sial!
Frustasi, kuacak-acak rambutku sampai tidak berbentuk. Belum puas, kupukul-pukul kepalaku ke meja hingga terasa sakit.
Sudah sial, jangan jadi bodoh, Sooyoung….
Kepalaku sangat pusing sekarang. Ku usap pelipisku yang ternyata terasa  panas. Lebih baik hari ini tidak usah kuliah, mana bisa konsentrasi belajar dalam suasana hati buruk dan kepala pusing seperti ini. Aku membulatkan tekat untuk membereskan barang-barangku, dan pulang. Tapi, pikiranku tetap melayang-layang pada kejadian di suatu malam empat hari yang lalu.
Malam itu benar-benar merusak pikiranku!
***
“Hei, tidurlah. Ini sudah malam.” Sunny menepuk  sisi tempat tidur yang kosong disebelahnya. Dia berbicara dengan mata setengah terpejam. Sepertinya sudah sangat mengantuk. “Agghhh sini cepat, belajar sampai larut malam tidak akan membuatmu jenius, Sooyoung.” Lanjutnya sambil menggerak-gerakkan kakinya ke segala arah.
Lucu sekali…
“Hei! Kenapa malah tersenyum ?!”
Aku tersadar ketika sebuah bantal mendarat tepat di wajahku. Masih bingung dengan keadaan pikiran yang belum kembali seutuhnya, aku malah menggaruk kepalaku yang tidak gatal, dan sekali lagi bantal mendarat tepat diwajahku.
“Sepertinya kau jadi bodoh gara-gara terlalu banyak belajar.” Sunny menghela napas dan bersiap untuk ‘mendaratkan’ bantal ke wajahku lagi. Namun, kini dengan sigap kutangkap bantal itu.
“Hei, berhenti melempar bantal ke wajahku. Kau pikir wajahku ini samsak???”
Sunny tertawa renyah, kemudian mencuatkan bibirnya pura-pura cemberut. “Habisnya kau selalu belajar dan melupakanku disini. Untuk apa kau mengajakku menginap jika aku hanya kau suruh tidur, hah?!” Nah, sekarang dia membuang muka. Sepertinya benar-benar kesal. Lucu sekali.
Tak tahan melihat wajahnya, aku beranjak dari meja belajar dan mencubit kedua pipinya “Ugh, kau lucu sekali. Aku tidak tahan.” Aku terus mencubit, dan meremas pipinya hingga bibirnya sedikit mencuat maju dan terbuka. Dan dia mengeluarkan suara suara sok imut andalannya. Aku terkekeh geli melihatnya. Tak kuasa menahan daya tarik sahabatku yang lucu dan menggemaskan ini.
“Sekarang, bibirmu seperti ikan koi… hihihihihi” ucapku saat masih meremas kedua pipinya.
Bukannya melepas remasan tanganku diwajahnya, Sunny malah menggenggam tangan kiriku dan menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya. “Emh… aku ngantuk sekali… ayolah cepat tidur…”
Tanpa sadar, aku tersenyum. Kulepas kedua pipinya dan kini kutenggelamkan dia dalam pelukanku. Sunny selalu suka dipeluk. Itulah sebabnya dia sering menginap dirumahku. Orangtua dan kedua kakaknya terlalu sibuk untuk terus memeluknya seperti ini. Pernah sekali kutanyakan padanya alasan kenapa ia tidak meminta pelukan dari keluarganya, dan dengan wajah sedih, dia menjawab “Mereka terlalu sibuk dengan harta dan tahta. Aku tak enak mengganggu waktu mereka hanya untuk meminta pelukan konyol disaat tidur.” Begitu jawabnya.
Aku merasa sedih dengan keadaan keluarganya. Mereka di hormati, di sanjung dan di agung-agungkan di masyarakat umum, tapi ternyata mereka melupakan seorang gadis lemah lembut yang butuh pelukan dan kasih sayang didalamnya.
Pikiranku terbuyarkan oleh beban yang tiba-tiba menimpa pundak kananku. Ku renggangkan sedikit pelukanku untuk melihat wajahnya, dan seperti yang sudah kuduga. Dia tertidur pulas.
Imut sekali… Seperti bayi…
Sebenarnya aku ingin melepaskan pelukanku dan memposisikan tubuhnya secara benar di tempat tidur, tapi tangannya melekat erat di pinggangku. Kucoba beberapa kali untuk melepaskannya, tapi nihil. Dia malah mempererat pelukannya dan membuatku sulit bernapas. Aku hanya bisa pasrah dan membiarkannya memelukku.
“Sunny, aku mau mematikan lampu sebentar.”
Ketika hendak beranjak, secara paksa Sunny menarikku dengan kuat membuatku kehilangan keseimbangan. Jika kedua tanganku tak dapat menahan beban tubuh ini, pasti aku sudah menimpanya. Kulihat matanya masih terpejam. Bagaimana bisa orang yang sedang tidur mempunyai tenaga sebesar itu?
Ku ulurkan sebelah tanganku untuk menggapai remote control lampu di meja samping tempat tidur dan menekan salah satu tobol bertulisan ‘OFF’ diatasnya. Ketika lampu utama sudah padam, kunyalakan lampu tidur yang berwarna kekuningan dan tidak terlalu terang. Kini perhatianku kembali pada gadis dibawahku yang sedari tadi masih memelukku. Aku terkikih lagi menatap ekspresinya.
“Ya ampun… kau benar-benar lucu….” Lagi-lagi aku tersenyum saat mengagumi wajah tidurnya. Ku ulurkan jemariku untuk menyingkirkan rambut-rambut nakal yang menghalangi wajah manisnya. Kuperhatikan wajahnya sekali lagi. Aku baru menyadari jika ia sangat memukau dibawah sinar temaram lampu tidur kamarku. Sinar kekuningan memancar lembut menerpa segala benda yang berada di sekitar dan memantulkan bayan-bayang semu. Entah kenapa, aku merasakan tekanan dalam diriku untuk terus menatap wajahnya lebih lama. Tanpa sadar, jemariku bergerak secara otomatis menjelajahi seluruh objek di wajahnya.
Kening…
Mata…
Hidung…
dan…
bibir…

DEG

Jantungku berdegup kencang seolah ingin lari dari tempatnya. Jarak antara wajahku dengan wajahnya tak sampai satu jengkal, sangat dekat hingga dapat kurasakan hembusan napasnya yang teratur dan hangat. Sejak kapan wajah kami jadi sedekat ini?
Dorongan dalam diriku terus mengancam untuk terus menatap objek terahir yang tadi kusentuh. Warnanya merah muda, sedikit lembab, dan berbau manis. Kira-kira bagaimana rasanya ya?
Mungkin aku sudah gila ketika aku menatap objek itu. Mungkin aku sudah gila ketika muncul keinginan untuk merasakan kelembutan objek itu. Mungkin aku sudah gila ketika perlahan kubunuh jarak yang berada diantara kami, dan mempertemukan bibirku dengan bibirnya pertama kali seumur hidupku…
***
Kugelengkan kepalaku kuat-kuat, berharap ingatan itu menghilang terbawa angin. Namun nihil, ingatan itu terus berputar-putar seperti video rusak yang harus diganti. Kupukul kepalaku berkali-kali, belum puas, kuacak-acak juga rambutku hingga benar-benar tak bisa kujelaskan bagaimana bentuknya. Bahkan aku tak perduli untuk menjelaskannya.
Memori tentang malam itu terus berputar di otakku seakan tak ada memori lain yang bisa di ingat. Bayangan tegas tergambar dibalik mataku, bagaimana bias sinar temaram itu menyinari wajahnya, juga bibirnya yang kemerahan terasa sangat pas ketika berada diatas bibirku, seolah bibir itu memang ditakdirkan untuk ku lumat setiap saat, dan jangan lupakan rasa manis itu.
Seperti… Vanilla?
Bantal yang tak bersalah, kupukul-pukul tanpa perasaan. Kubekap wajahku dengan bantal itu dan berteriak sekuat tenaga “Aaarrrrgghhhhh!!!!!!!!!”
Sooyoung, kau benar-benar sudah gila.
***
Sudah tiga hari berlalu semenjak keributanku dengannya di kelas pagi itu. Sudah ratusan pesan dan panggilan tak terjawab terpampang di layar besar telepon genggamku. Dan mungkin sudah puluhan kali dia muncul di depan pintu rumahku dengan alasan ‘khawatir’. Tapi aku masih tidak sampai hati untuk membalas pesan ataupun menerima panggilannya. Apalagi menemuinya.
Membayangkan wajahnya saja sudah membuat hatiku sakit. Dia dengan seenaknya mendiamkanku dan membuatku bingung dengan segala tingkah dinginnya. Menempatkanku seolah-olah dalam posisi memikul kesalahan. Padahal aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Iya, benar. Sebenarnya apa yang terjadi?
Seingatku, tak ada yang salah terakhir kali kami bertemu. Maksudku, terakhir kali sebelum keributan itu.
Sekitar seminggu yang lalu, aku menginap dirumahnya, dan seperti biasa, aku tertidur di pelukannya. Lalu pagi harinya, kami sarapan bersama keluarganya, bermalas-malasan di sofa sampai sore, kemudian malamnya, dia mengantarku pulang. Sepertinya semua berjalan normal dan tanpa sedikitpun kesalahan.
Kecuali, mimpi itu…
Mimpi yang sampai kapanpun tak akan aku ungkapkan pada siapapun di dunia ini. Mimpi aneh yang membuatku tak bisa tidur untuk memikirkan betapa nyata rasanya. Setiap detik kejadiannya masih bisa ku ingat dengan jelas seolah terpahat didalam kepalaku. Hingga muncul satu tanda tanya besar didalam batinku.
Apakah itu benar-benar hanya mimpi?
Aku masih bisa merasakan ujung jarinya yang menjelajahi wajahku, dan berhenti tepat di bibirku. Tatapan intens yang dia berikan saat itu benar-benar menusuk hingga membuat jantungku berdebar tidak normal.
Dan…
Ciuman itu…

DEG

“Tidak mungkin, Sunny. Kau pasti Cuma mimpi.” Gumamku seraya menatap bayangan diriku di cermin lekat-lekat. Kupejamkan mataku sejenak, mengingat kembali sensasi mendebarkan yang terus terngiang belakangan ini. Merasakan kembali tatapan dan dekapan hangat yang sangat kurindukan. Namun, segala memoriku selalu tertuju pada kejadian ‘itu’.
Kuraba bibir bawahku perlahan berniat untuk menepis segala memori yang tertanam di bibir ini. Jantungku masih berdetak mengerikan. Sangat mengerikan hingga kutakut aku akan terserang penyakit jantung. Bibirku juga terasa bergetar. Rasa manis bibirnya masih terasa, seolah bibirku juga bisa mengingat keseluruhan memori malam itu.
Ah… Bibirnya…
Bibir hangatnya mendarat tepat diatas bibirku, tidak bergerak untuk beberapa saat. Kemudian sedikit bergerak menciptakan suara decakkan lembab, mengulum, dan melumat lembut membuat jantungku makin berdetak histeris. Kurasakan jantung dan bibirku meleleh bersamaan.
Aku menatapnya saat itu, namun matanya terpejam seolah sedang menikmati satu persatu ritme gerakan yang tercipta. Kupejamkan kembali mataku bermaksud untuk membalas ciumannya, namun sayang, dia sudah melepaskan kaitan antara bibir kami.

DEG

Astaga…
Kenapa aku berharap jika itu bukan mimpi?
***

Masih menggenggam kenop pintu, Sooyoung menatap tak percaya kearah seseorang yang sekarang berada di depannya.
“Sunny?!”
Sementara orang yang disebut namanya tak menggubris tatapannya dan hanya melengos tak perduli. Ia melempar tas ransel bawaannya keatas ranjang dan menghempaskan tubuhnya kemudian.
“Ah, aku rindu kamar ini.” Ujar Sunny sambil menatap langit-langit kamar yang terasa bagaikan kamar miliknya sendiri.
Sang pemilik kamar masih berdiri terpaku di ambang pintu. Menatap tak percaya dengan apa yang sekarang dia lihat. “K-kau… m-mau menginap?”
Tak mendengar jawaban apapun, Sooyoung menutup pintu kamarnya pelan lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Melihat Sunny yang terbaring dengan kaki masih menapak di lantai dan tas ransel yang di lempar sembarangan, membuat Sooyoung tersenyum. “Setidaknya mandi dulu sebelum tidur. Aku tidak mau ada orang bau yang tidur satu selimut denganku.” Kata Sooyoung meledek.
Setelah memindahkan tas ransel Sunny keatas kursi kayu di pojokan kamar, Sooyoung merasa cemas karena perkataannya sama sekali tidak ditanggapi. “Apakah dia masih marah?” begitu pikirnya.
Ketika Sunny merasakan pertambahan berat diatas ranjang tempat ia berbaring, dalam sekejap ia membuka matanya dan duduk menghadapi si pemilik kamar dengan tatapan tajam, membuat nyali orang itu sedikit menciut.
“Maafkan aku, Sunny….” Ucap Sooyoung memecah keheningan. Ia tertunduk didepan Sunny, merasa bersalah untuk bahkan hanya menatap matanya.
“Untuk?”
Mendengar respon dingin lawan bicaranya, Sooyoung semakin bersalah. Dan memutuskan untuk tetap menjawab pertanyaan Sunny sebesar apapun perasaan ragu yang ia rasakan. “Untuk segalanya…” Namun hanya kata singkat yang terucap dari bibirnya.
Sunny menatap Sooyoung yang tertunduk dihadapannya. Ia menghela napas, dan kembali menatap Sooyoung. Namun, entah apa yang merasukinya, mimpi yang berusaha ia lupakan itu kembali terngiang dan membuat pandangannya mendarat pada bibir sahabatnya. Berusaha menyapu bersih pikiran kotornya, Sunny menggelengkan kepalanya kuat-kuat sehingga membuat Sooyoung menatapnya heran.
“Sunny, kenapa? Kau pusing?”
Tanpa berkata apa-apa, Sunny beranjak menuju kursi kayu dimana Sooyoung meletakkan ranselnya dan mengambil baju ganti beserta sikat gigi, dan menghempaskan dirinya dengan cepat dibalik pintu kamar mandi.
Sooyoung mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari bahwa sahabatnya telah menghilang dari hadapannya. Ketika terdengar suara decakkan air, ia menyadari bahwa Sunny sedang berada di kamar mandi.
Gadis tinggi itu tersenyum. Menyadari bahwa sikap kekanakan sahabatnya itu adalah pertanda bahwa ia tak lagi marah padanya. Ia terkekeh sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu berjalan mendekati pintu itu.
“Sunny, aku turun sebentar. Kau mau susu?”
Tak mendengar jawaban setelah menunggu beberapa saat, Sooyoung tertawa kecil dan menganggap itu sebagai jawaban ‘iya’ dari Sunny. Bagaimanapun, Sunny selalu minum susu sebelum tidur. Itu yang Sooyoung tahu, dan tak akan mudah ia lupakan karena Sunny sudah melakukan rutinitasnya itu sejak mereka kecil.
Beberapa saat kemudian, Sunny keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan oversized T-Shirt dan Hotpants. Sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk, ia menuju meja rias Sooyoung dan mencari-cari hairdryer di laci tempat Sooyoung biasa menyimpan benda itu. Merasa kesal karena tidak menemukan apa yang ia cari, Sunny berjalan cepat kearah ranjang dan menghempaskan dirinya begitu saja.
Bertepatan dengan itu, Sooyoung tiba dikamarnya dengan membawa dua gelas susu dan mengalami sedikit kesulitan untuk menutup pintu. Sunny melihat sahabatnya yang sedang kesusahan, namun memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Ia memejamkan matanya, tidak perduli.
Setelah meletakkan dua gelas susu di meja sebelah tempat tidurnya, Sooyoung bergegas menutup pintu kamarnya yang tadi ia tinggalkan terbuka. Setelah kembali dari pintu, ia melihat Sunny yang berbaring dengan handuk menutupi rambutnya. Sooyoung terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya yang masih pura-pura marah.
Sooyoung duduk di tepi ranjang dan meraih kepala Sunny yang tertutup handuk. “Sunny, sini keringkan rambutmu dulu. Nanti kau bisa sakit.” Dan menggosok pelan rambut sahabatnya. “Bangun dulu, biar kubantu mengeringkan rambutmu.”
Sunny membuka matanya dan menuruti perintah Sooyoung. Sooyoung melanjutkan aktifitas menggosoknya sambil tersenyum. “Soo, Hairdryer mu mana?” Tanya Sunny tiba-tiba.
“Kau lupa ya? Kan seminggu lalu kau lempar hingga pecah belah.” Sooyoung tertawa kecil, tapi terhenti ketika melihat Sunny memandangnya datar. “Waktu itu kau bermaksud membunuh serangga. Bukannya melempar sandal, kau malah melempar hairdryerku. Kau tidak ingat?” lanjut Sooyoung tanpa mengalihkan perhatiannya dari rambut Sunny.
Sunny menghela napas dan kembali menatap sahabatnya. “Maafkan aku atas itu. Aku akan membelikanmu yang baru.” Sooyoung tersenyum, dan menggelengkan pelan. “Tidak usah, santai saja.” Sahut Sooyoung santai.
Mereka terdiam beberapa saat hingga Sooyoung selesai mengeringkat rambut Sunny. “Kurasa sekarang sudah cukup kering, kan?”
Mereka saling menatap selama beberapa detik. Sunny merasakan tekanan dalam dirinya untuk segera meraih sahabat didepannya. Ia mengulurkan tangannya, meraih pinggang Sooyoung. Memeluknya secara tiba-tiba membuat Sooyoung kaget dan terdiam kaku. Sunny tidak perduli, kini ia hanya ingin memeluk sahabatnya, dan merasakan kehangatan yang sangat ia rindukan.
“Maafkan aku karena aku marah. Aku merindukan pelukanmu.”
Sooyoung menghela napas lega, lalu membalas pelukan Sunny dan mengusap lembut punggung sahabatnya. Membiarkan Sunny menenggelamkan wajahnya dalam dekapannya. ”Aku juga minta maaf ya…”
Setelah beberapa menit mereka berpelukan, Sunny melepaskan pelukan mereka. Ia terlihat memainkan jemarinya seolah sedang memikirkan sesuatu. “Umh… Sebenarnya… Aku merasa aneh…” Sooyoung tidak berkata apapun, ia hanya menatap Sunny, mengantisipasi apa yang akan sahabatnya katakan.
Karena tidak lekas mendengar kelanjutan perkataan Sunny, Sooyoung menyodorkan susu kepada sahabatnya. “Bicara besok saja. Ini minum, lalu tidur.”
Sunny menerima segelas susu itu dan meminumnya seperti orang kehausan. Ia dapat menghabiskannya dalam sekali tenggak. Sedangkan Sooyoung, ia hanya meminum setengah, dan meletakkan gelas yang masih berisi setengah air susu itu ke meja, meraih gelas Sunny dan meletakkannya juga ke meja.
Tiba-tiba Sunny tertawa terbahak-bahak membuat Sooyoung mengernyitkan dahinya bingung. “Sooyoung…. Hahahaha!” Sunny terus tertawa selama beberapa menit membuat Sooyoung benar-benar heran. “Kenapa sih?” juga sedikit kesal.
Sekuat tenaga Sunny menahan tawanya, menunjuk kearah bibir Sooyoung. Sooyoung menyentuh atas bibirnya dan menyadari kebodohannya. “Ah, ternyata Milk Moustache.” Ia menyeka bibirnya, namun noda susu masih menempel disana, membuat Sunny terkekeh.
“Masih adaa disanaaa…” Sambar Sunny penuh aegyo melihat Sooyoung kebingungan membersihkan bibirnya yang masih belum bersih sempurna. Karena kesal, Sooyoung ingin beranjak menuju cermin. Dengan cepat, Sunny meraih pergelangan tangan Sooyoung dan menariknya untuk kembali duduk.
Sooyoung mengernyitkan dahinya lagi. Tapi Sunny tak perduli. Dia terus menatap noda susu yang berbekas di bibir sahabatnya lekat-lekat membuat Sooyoung salah tingkah.

Kemudian tiba-tiba ide gila terbesit di otak Sunny

“Sooyoung…” Panggil Sunny dengan suara yang sangat pelan terdengar seperti berbisik, tapi terdengar jelas oleh lawan bicaranya.
Sooyoung menelan ludahnya. “E-eoh..?” Ia berusaha menjawab walau terbata karena merasakan tatapan tajam Sunny kearah bibirnya, dan itu membuat jantungnya terasa seperti ingin meledak.
“Kau tahu, jika di dalam drama-drama, cara membersihkan Milk Moustache yang efektif itu  seperti ini…”
Sunny menarik kerah baju Sooyoung, menyingkirkan jarak diantara mereka secara perlahan.
Sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, Sooyoung perlahan memejamkan mata, menikmati degub jantung yang masih menggila dalam dadanya.
Refleks, Sunny mencondongkan kepalanya ke sisi kiri agar hidung mereka tidak menjadi penghalang antar bibirnya yang bergetar menantikan kelembutan objek yang ada di depannya.
Desahan pelan terdengar ketika Sooyoung merasakan Sunny mengulum bibir atasnya dengan kuat. Hisapan kuat dari Sunny membuat Sooyoung sedikit kualahan.
Namun ia tak menyerah. Sooyoung membuka bibirnya dan meraih pinggang Sunny bermaksud memperdalam ciuman mereka.
Merasakan respon Sooyoung, Sunny buru-buru melepaskan kaitan antara bibir mereka.
Masih dengan kening yang menyatu, dan saling berpandangan. Sunny merasa wajahnya memanas, sehingga rona kemerahan muncul di sekitar pipinya, begitupun Sooyoung.
Napas mereka masih memburu, tak bergerak sedikitpun seolah suasana membekukan tubuh mereka. Sepersekian detik kemudian, Sooyoung tersadar dan bergegas mengambil setengah gelas susu yang tersisa tanpa memutuskan tatapan matanya pada Sunny, kemudian dia minum susu tersebut sampai habis. Sehingga membuat noda susu tampak di bibirnya sekali lagi.
Sunny terdiam. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga Sooyoung angkat bicara. “Sepertinya, aku butuh bantuan untuk membersihkan noda ini.“ Ia menyeka sedikit noda susu itu dengan jari telunjuknya, kemudian mengulum jarinya perlahan. “Ugh… Ini manis…” Bisiknya pelan. Sangat pelan hingga lebih terdengar seperti desahan daripada bisikan.
Oh my god, Sooyoung…
Sunny meraih tengkuk Sooyoung dengan gusar. Membunuh segala jarak diantara mereka, membuang segala ragu, menepis segala gundah, bersama dengan alunan detak jantung yang berdegub seirama.
Sooyoung merespon dengan pasti. Memposisikan diri, berusaha menguasai tubuh lain dibawahnya. Mata mereka terpejam, hanya insting yang menggerakkan seluruh tubuh mereka.
Suhu terasa seperti meningkat lima derajat celcius. Peluh mengalir tak henti, bersamaan dengan suara tarikan napas tak berujung, berhiaskan desahan-desahan nikmat sahut menyahut dilantunkan oleh kedua insan yang terus menggeliat meleburkan segala hasrat, gairah, dan cinta.

Sooyoung merasa mimpinya menjadi sebuah kenyataan.

Sunny tak lagi memperdulikan mimpinya.

Mimpi, satu kata yang menyatukan mereka.

Sudah cukup lama mereka menahan. Kini tak ada satu katapun yang dapat mereka ungkapkan, hanya berharap segala tetes peluh, desir nikmat, dan bisik desah dapat menafsirkan beribu kata, bahasa, dan makna yang ada di dunia kepada satu tujuan.
Iya, satu tujuan.

Cinta.

END

Advertisements

Comments on: "Passion [One Shot]" (22)

  1. Nanggung thor
    #plakk

  2. So sweet bgt soosun couple.. Terbaik

  3. Ambil tmpat dulu.

    • Overall critanya ringan dan santai.
      Hmmm….. Klihatannya ‘konflik’ dalam one shoot ini agak ‘kurang’ klo mnurutku.
      Tapi mungkin yah karna ini one shoot, jadi wajar klo prmasalahan yang diangkat tak trlalu kompleks.
      Tapi pnggunaan bahasanya yang ‘puitis’ (dalam narasi) jadi nilai lebih sndiri, skalipun bahasa yang dipakai (dalam percakapan kedua tokohnya) mang cenderung ke baku untuk ukuran SooSun, yang dalam crita ini kedua karakter tersebut memiliki hubungan yang sudah sangat dekat, sehingga mungkin bagi sbagian orang akan terkesan ‘kurang familiar’ melihat dua orang yang hubungannya sangat dekat seperti itu memakai bahasa baku? #Justmyopinion
      Lalu sdikit kritk n saran aja sih, untuk sudut pandang siapa-nya, sbaiknya dituliskan, mengingat di tengah2 crita ada prgantian sudut pandang dari Soo tiba2 jadi k sudut pandang Sunny. Sehingga bagi yang baca, atau stidaknya aku, tiba2 mrasa ada yang janggal dngan sudut pandang ‘aku (orang pertama)’ yang tiba2 brubah itu.
      Hmmm….. Skian dulu deh komntarnya. 🙂

  4. Akhirnya update….
    Cara classic membersihkan milk mustache… hmmm classic

    Btw, author-nim, anda sudah dapat ijin dari yg buat cerita untuk mempublish ff ini???

  5. byun913 said:

    sooyoung modus sunny kesenangan…

  6. Lilis alawiyah said:

    Cerita yang santai. Walau agak nanggung. . . Tapi kerenlah untuk ukuran 1shoot.

  7. Jenong judes yul poenya said:

    Kurang lengkap thor…… NC-nya!! #mukavolos

  8. darkart said:

    salam kenal thor, ya ampun ceritany klise tp keren bgt
    salam buat yg buat ff nya thor…
    feel nya dapet bgt!

  9. soneimagination77 said:

    Soosun Jjang!

  10. So sweet~ Perlu di coba caranya. Eh.. XD
    Bahasanya berat, ilmiah banget 🙂

  11. eka_chandra09 said:

    Soosun sweet tpi lucu
    Itu nanggung bner

  12. Kimrahmahwang said:

    Padahal cuma nikmatin susu tapi terasa nikmat banget buat mereka. Lebih dari manis itu mah. Sweet ih soosun :3

  13. anyeong! aku new readers! kalo jujur sih ini oneshoot lumayan agak asyik sih cuman ada beberapa yg agak gimaa gituu?! tapi tetep daebak koo

  14. hennyhilda said:

    Uwohhh manis banget sprti susu yg dminum oleh Soosun hohoho
    Hmm sebenarnya agak bingung saat baca ini karna ga dijelasin yg lagi ngomong itu siapa ampe akhirnya aq harus ulang lagi bacanya n bener2 perhatiin kata demi kata di ff itu..
    Itu ja sih hehehhe

  15. khfflovers said:

    Awwq udah lama ga baca soosun so sweet bingit hehehe
    yg kemarin2 sangar2 mulu soalnya hehe
    yaah lumayan lah buat selingan ringan yg menyegarkan
    btw waktu awal2 baca rasanya agak bingung ini pov nya siapa… tp semakin kebawah untungnya udah bisa mengikuti
    hehe
    semangat author oya! Ditunggu karya2 selanjutnya di wp ini :)))

  16. wah bener bener penuh passion ya hahaha sunny gak sabaran amat sih

  17. alur cerita a bagus,ringan tapi langsung kena pada intinya..

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: