~Thank you for your comments~

Sunny POV

Langit langit kamar adalah yang pertama kulihat ketika aku membuka mataku. Selang beberapa saat pikiranku masih kosong. Lalu aku menyadari bahwa hari sudah terang.
Eh? Sudah pagi ya?
Ketika aku bergerak ke posisi duduk.
Nyut!
Daerah selangkanganku seketika mengingatkanku pada kejadian semalam.

“Aww…”
Aku juga melihat bekas merah kecoklatan di kasur. Tapi ini berarti urusanku disini sudah selesai.
Biarpun sakit aku memaksakan diri untuk bangun. Kuambil pakaianku yang kemarin tergeletak begitu saja di lantai. Kemudian kembali berpakaian meski sambil menahan sakit.
Ketika aku keluar dari kamar, aku melihat sosoknya yang sedang sarapan pagi sereal dengan santai.
“Oh, sudah bangun rupanya.”
“Aku pamit, permisi,” ucapku sambil sedikit membungkukkan badan.
“Mau kemana kamu.”
“Eh?”
“Siapa yang mengijinkan kamu pergi?”
“Eh itu-”
Aku ingin menjelaskan kalau perjanjian kita cuma sampai aku menyerahkan keperawananku. Tapi kalimatku terpotong ketika melihat dia meletakkan sendoknya dengan kasar di meja lalu berjalan ke arahku.
Dia menarik aku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu. Kemudian mendorongku ke atas kasur dan mulai melucuti pakaianku.
“Ya-yah!”
Aku ingin menendangnya tapi rasa sakit di bawah sana menghentikanku.
Sooyoung tampaknya mengerti dengan benar kondisiku dan tersenyum penuh kemenangan. Tangan dan lidahnya mulai menjamah dadaku.
“Se-stop! Nggh…!”
Aku ingin meloloskan diri tapi rasanya aku malah semakin terjerat dalam kenikmatan ini.
Ah seharusnya tidak jadi seperti ini. Tapi aku malah menikmati stimulasi yang dia berikan padaku.
Dia mengunci pergerakan tanganku dengan memborgolnya ke tepi ranjang dan aku semakin tidak bisa melawannya.
Kali ini dia menempelkan vibrator ke selangkanganku.
Bzzzzzzzzzz
Getaran yang dihasilkannya kembali mengguncang duniaku. Apalagi kali ini tanpa disertai oleh rasa sakit.
“A-ahhhh…!”
Dia terus menempelkan vibrator itu disana hingga aku mencapai klimaks tiga kali, kemudian ketiduran karena kelelahan.

Ketika aku bangun yang kedua kalinya, tanganku sudah terbebas dari borgol. Samar hidungku mencium bau enak. Aku melihat ada sekotak pizza ukuran personal di samping aku tidur. Perutku terasa lapar karena sejak pagi belum diisi makanan.
Ini maksudnya buat aku?
Aku membukanya dan melihat isinya masih penuh. Pizza meat lovers. Tampaknya masih hangat. Aromanya menggoda lidahku, daging itu, hmm, membuat mulutku berair. Dengan cepat aku menghabiskan 1 potong. Ketika sedang menggigit potongan kedua aku berpikir.
Oh iya, rasanya ada yang kurang.
Benar juga, kemana ponselku? Kemarin aku masih membawanya di dalam tas.
Sambil menghabiskan potongan kedua aku menjelajahi seisi ruangan untuk mencarinya. Mengangkat baju karena siapa tahu terkubur di bawahnya. Meminggirkan boneka di atas meja, dan lain-lain. Tapi tak kunjung menemukannya.
Tas yang kubawa kemarin sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
“Jangan-jangan disembunyikan Choi Sooyoung?”
Hanya itu satu-satunya penjelasan yang logis.
Aku menuju ke pintu kamar dan mencoba menggerakkan gagang pintunya.
“Terkunci.”
Kamar ini memiliki jendela, hanya berupa dua balok kaca kecil yang tebal. Itu pun tidak cukup tembus pandang dan letaknya agak ke atas. Seperti kamar kos minimalis.
Tunggu, jangan-jangan aku dikurung disini?
Seharusnya aku berteriak, namun entah kenapa aku memiliki firasat bahwa walau aku berteriak, tidak akan ada yang mendengar.
Aku kembali berbaring di atas kasur seolah menyerah dengan keadaan. Aku berpikir hendak menunggu Sooyoung datang saja. Saat memikirkan dia tiba-tiba saja senyum Sooyoung terlintas dalam pikiranku, terbayang momen kencan pertama kami.

**

“Uwah!”
Ketika sedang berjalan masuk ruangan aku tidak memperhatikan kalau lantai yang kupijak lebih rendah, aku hampir kehilangan keseimbangan tapi dia dengan sigap memegangi pundakku.
“Go-gomawo.”
Sooyoung tetap kelihatan lebih tinggi meski aku memakai sepatu hak.
Tanpa berkata banyak dia langsung menyodorkan uang untuk membeli tiket musikal. Aku pun termasuk dibayarinya.
“Ah, biar aku bayar kamu. Berapa?”
“Enggak usah, kutraktir.”
Kemudian dia membeli popcorn dan minuman.
“Kamu mau?”
“Ah tidak usah.”
Kami masuk ke dalam dan duduk di nomor kursi yang tercantum dalam tiket.
Kemudian dia mulai memakan popcorn meski musikalnya belum dimulai. Dia terus menghabiskan waktunya dengan mengunyah sampai kupikir mungkin dia sengaja membeli popcorn supaya tidak perlu harus canggung berbicara denganku. Setelah merasa begitu, aku pun memikirkan cara supaya bisa mengobrol sedikit.
“Eng, boleh aku minta popcornnya sedikit?”
Dia tidak membalas perkataanku namun dia memindahkan popcornnya ke tengah-tengah, di antara kami duduk.
“Minta ya.”
Aku mengambilnya beberapa kali sampai memegang tangannya dengan timing yang seperti tidak disengaja.
Dia melirik ke arah tangannya sekilas kemudian sekarang pandangannya tertuju ke wajahku. Aku mencoba untuk memasang senyum manis. Aku memang sengaja ingin mengakrabkan diri dengannya. Supaya seolah aku menyerahkan keperawananku padanya atas jalinan asmara satu malam. Supaya aku tidak merasa seperti wanita kotor yang menjual diri. Ya, pada akhirnya aku melakukan ini hanya demi keegoisan diriku.
Dia balas tersenyum. Saat itu aku mendapat hasrat ingin menciumnya. Tidak tahu kenapa. Yang jelas itu pertama kalinya aku merasa ingin mencium seseorang yang baru saja kukenal.
Pada saat aku sedang dipenuhi oleh pertimbangan ingin menciumnya atau tidak, lampu di sekitar dipadamkan. Kegelapan menyelubungi kami. Lalu sedetik kemudian lampu di sekitar panggung menyala.
Akhirnya aku tidak melakukannya dan menarik tanganku kembali ke atas pangkuanku.
Setelah menonton setengah jam, tenggorokanku mulai merasa tidak nyaman. Karena aku tidak minum sama sekali setelah makan popcorn caramel yang manis. Tepat saat itu sebuah gelas plastik masuk ke dalam pandanganku dari arah samping.
“Habiskan minumanku. Karena aku enggak habis, sayang kalau dibuang.”
Aku menatapnya seolah ingin bertanya ‘benar buat aku?’
“Kalau enggak mau ya buang saja.”
Ketika aku menerimanya, isinya masih setengah. Masa dibuang?
“Gomawo.”
Minuman yang kuterima darinya berupa teh tawar. Minuman yang tepat untukku saat ini karena tidak menyisakan rasa manis di mulutku.
Tapi bukannya ini berarti ciuman tidak langsung? Karena bibir Sooyoung baru saja menyentuh sedotan ini.

**

Kenapa ya aku malah memikirkan soal ciuman?
Tapi sejak kemarin melakukannya sampai hari ini sama sekali tidak ada ciuman.
Apa aku ingin dicium olehnya?

**

Di kampus.
“Ya Sica, mau ya jadi pacarku?” Rayu Sooyoung selembut mungkin. Sudah lama memang Sooyoung berusaha mengejar Jessica dengan gigih.
Gadis itu tersenyum dan melepaskan diri dari rengkuhan Sooyoung dengan mulus.
“Hem, enggak ah, kamu bukan tipeku Sooyoung ah.”
“Kamu mau minta apa pun pasti akan kubelikan. Makanya jadi pacarku ya?” Kata Sooyoung setengah memohon. “Ah, atau enggak, beri aku kesempatan kencan sekali saja, ya?”
“Maaf Sooyoung, kalau mau jadi pacarku itu seenggaknya kamu harus setara dengan Taeyeon atau Yoona,” katanya sambil menyibakkan rambutnya ke belakang dengan angkuh.
Sooyoung menahan geram sambil mengepalkan tangan. Lagi-lagi dia ditolak. Dia memang tidak akan pernah bisa mencapai kepopuleran Taeyeon dan Yoona. Padahal menurut dirinya sendiri dia juga cantik. Namun Taeyeon dan Yoona seperti berada di level yang lebih tinggi. Keduanya memang sangat populer di kampusnya. Karena itu Sooyoung menjadi dengki dengan mereka. Yang bisa dia banggakan hanyalah dia memiliki harta warisan yang sangat besar. Yang bahkan bisa untuk sembilan keturunan. Meski itu pun biasanya berakhir dengan ejekan karena hartanya bukan diperoleh oleh keringat Sooyoung sendiri.
Punggungnya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
“Hei, orang yang barusan ditolak Sica.”
“Ck! Jangan memanggilku begitu, Yul.”
“Sudahlah, berhenti mengejarnya. Dia berada diluar jangkauanmu. Lebih baik kamu stop daripada terluka lebih dalam karena mengejarnya.”
“Huh, enggak Sica, enggak cewek lain sama aja, di kampus ini mereka semua mengidolakan Taeyeon dan Yoona. Padahal jelas-jelas mereka berdua sudah punya pacar.”
“Sudahlah, jangan sirik. Beberapa hal memang berada diluar jangkauan kamu. Tidak ada yang bisa diperbuat. Daripada itu seharusnya kamu memperbaiki sifat kekanakanmu. Kapan kamu lulus? Sudah 5 tahun kan? Kamu sudah 26 tahun juga.”
“Ck itu lagi. Ngaca dulu sana. Kamu sendiri juga belum lulus.”
“Hahaha, maklumlah aku sibuk dengan pekerjaan.”
“Alasan.”
“Sooyoung, carilah orang lain. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu. Kamu tidak tahu, barangkali saja jodohmu lebih dekat dari perkiraanmu.”
“Yul, aku ingin sekali menonjok kamu. Haruskah kamu selalu mengomentari aku tiap kali aku mendekati Sica?”
“Yah jangan marah. Habis jujur saja, kamu yang begitu malah terlihat terlalu ngebet di mata siapa pun yang melihat. Wajar saja kalau orang yang kamu suka malah menjauh.”
“Ck, mungkin aku cuma kurang beruntung.”
“Yuri benar, kamu seharusnya mengubah sikapmu.” Tiba-tiba Hyoyeon datang menimpali mereka.
“Tuh kan Hyo saja setuju.”
“Cerewet, cerewet.” Sooyoung berjalan pergi meninggalkan mereka.
“Ya kan, dia juga tidak bisa menerima nasihat orang lain.”

**

Sooyoung POV

Menyebalkan.
Aku iri? Ha!
Taeyeon dan Yoona saja yang diberi kredit terlalu banyak padahal mereka gak sebagus itu. Overrated!
Salahkah kalau merasa kesal karena kurasa mereka tidak pantas terlalu dielu-elukan seperti itu?
Aku mengendarai mobil pribadi pulang ke rumah. Sepanjang jalan berusaha menahan diri untuk tidak ngebut. Hanya melampiaskannya dengan meremas setir jauh lebih erat dari biasanya.

Third Person POV

Saat Sunny masih melamun soal kencan kemarin, dia merasa mendengar suara-suara dari arah depan. Seperti suara garasi terbuka, pintu terbuka.
Sunny berpikir mungkin itu Sooyoung telah kembali.
Sunny baru beranjak bangun saat mendengar suara kuncinya dibuka. Dia sedikit kaget saat pintu kamar dibuka dengan kasar. Tampaklah Sooyoung berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah botol. Sunny baru menyadari kondisinya sendiri. Dia sama sekali belum berpakaian sejak tadi!
Tanpa basa basi Sooyoung masuk kamar dengan setengah membanting pintu dan naik ke atas ranjang. Sunny langsung ditindihnya.
Dalam momen yang singkat, mata Sunny menelusuri lekuk wajah Sooyoung, berusaha menerjemahkan apa arti dibalik sorotan matanya. Tampaknya terjadi sesuatu padanya.
Tapi Sooyoung tidak memberinya jeda untuk menerka-nerka. Sambil masih menduduki Sunny, Sooyoung membuka botol tersebut. Lalu menumpahkan isinya ke badan gadis yang ditindihnya.
“Ekh?!”
Sunny memekik kecil ketika cairan asing berwarna coklat keemasan dan kental itu melumuri badannya, terutama paling banyak di sekitar dadanya.
Sooyoung menjilat bibirnya.
“Baiklah, selamat makan.”
Dia meletakkan botolnya di samping kemudian mulai menjilat dan mengecap cairan itu dengan nikmat.
A-apa ini? Batin Sunny. Lalu dia melihat gambar dan tulisan di botolnya. Ada gambar lebah dan tulisan honey. Ternyata itu botol madu!
Sunny menjadi bergairah dengan cara Sooyoung menjilatinya. Dia sama sekali tidak memberikan perlawanan, malah menikmatinya.
Dituangi makanan dan dijilati seperti ini berasa sangat sensual dan erotis. Sunny tidak pernah membayangkan dia akan mendapat pengalaman seperti ini.
Di sisi lain, Sooyoung masih merasa agak kesal. Karena itu dia ingin makan sesuatu yang manis. Tapi dia tidak ingin makan dessert biasa. Harus yang istimewa. Yang spesial. Yang tidak dijual dimana pun juga. Lalu dia ingat dia masih menyisakan botol madu di lemari makanannya yang masih sisa banyak. Madu dan Sunny, kombinasi yang sempurna untuknya saat ini.
Cairan yang kental dan manis itu memanjakan lidahnya. Sooyoung sengaja berlama-lama, untuk meresapi makanan yang istimewa ini. Ketika merasa kurang, Sooyoung menambahkan dengan menuang madunya lebih banyak ke atas tubuh Sunny lagi.
Usai sesi ngemil madu yang cukup lama itu, perasaan Sooyoung sedikit membaik. Semua madu yang dituangkan ke tubuh Sunny telah dijilati Sooyoung sampai tak bersisa. Kemudian dia baru menyingkir dari atas Sunny.
“Mandilah, akan kusiapkan baju gantinya. Makan malam nanti kusiapkan di atas meja makan.”
Sunny mengawasi punggung Sooyoung sampai dia keluar kamar. Badannya lengket dan berkilau di bawah cahaya lampu. Saliva Sooyoung juga masih tertinggal disana.

**

Sunny membersihkan dirinya di bawah pancuran air hangat. Rasanya seperti sudah lama sekali dia tidak mandi padahal terakhir kali adalah kemarin.
Saat itu dia memperhatikan bayangan tubuhnya. Karena di kamar mandi ada cermin besar.
Tangannya mengusap dadanya. Disana ada bekas ciuman Sooyoung. Dia memperhatikan bagaimana rintik-rintik air berjatuhan ke bekas ciuman tersebut kemudian meluncur turun mengikuti lekukan badannya. Tangannya mengepal disana. Rasa sakit di antara pahanya masih terasa, tapi sudah lebih baik.

**

Sunny POV

“Makanan sudah siap.”
Aku tidak mengerti. Barusan dia memperlakukan aku seperti objek. Lalu sekarang dia mengundangku untuk makan bersamanya.
Tapi hari ini dia sama sekali tidak memaksa memasuki diriku. Apakah karena dia memikirkan aku yang masih sakit di bawah sana? Tapi masa benar begitu?
Kutatap wajahnya seolah ingin mencari jawaban atas pertanyaanku. Kurasa aku tidak mungkin sanggup menanyakannya.
“Kenapa? Kamu tidak mau makan? Maaf saja kalau makanannya tidak sesuai sama selera kamu.”
“Bukan, aku suka kok.”
Dia menyiapkan ramen untuk kita berdua.
“Itu… pizza di dalam kamar masih sisa.”
“Nanti kusimpan. Kukira kamu akan menghabiskannya.”
Walau ukurannya personal tapi kurasa masih terlalu banyak untukku.
“Anu… aku mau pulang.”
“Tidak kuijinkan.”
“Kenapa kamu melakukan ini?”
“Itu tidak perlu kamu tanyakan.”
“Keluargamu. Mana keluargamu?” Aku bertanya begitu karena barangkali aku mungkin bisa bicara dengan mereka.
“Itu masalah privasi.”
“Kamu tidak bisa seenaknya begini-”
Saat aku berbicara tiba-tiba terpotong oleh bunyi notifikasi.
Huh, sekarang dia malah memperhatikan ponselnya dan tidak mendengar omonganku.
Saat itu aku tak sengaja melihat tetesan air menitik ke atas meja dari arah wajahnya.
Eh? Air mata?
Kutatap lekat wajahnya untuk mencari tahu. Tapi tangannya telah menghalangi garis pandangku.
DEG!
Masa dia menangis?
Tiba-tiba hatiku terasa pedih seolah aku sendiri yang mengalaminya.
Ketika dia menyingkirkan tangannya, ekspresi wajahnya telah mengeras. Seolah dia telah bersikap masa bodoh. Tapi di matanya masih tersisa genangan air.
Detik itu aku berpikir ingin memeluknya. Meski dia telah menyakitiku tapi aku sama sekali tidak merasa dendam. Pada akhirnya aku terlambat menyadari ketika perasaan ini berubah menjadi perasaan yang lebih dalam.

β™‘~To be Continued~β™‘

Advertisements

Comments on: "Stockholm Syndrome (Chapter 2)" (35)

  1. penasaran stockholm syndrom itu apa tp sengaja ga mau nyari tau mgkn dgn berjalannya cerita nanti jg tau, ini berasa slave versi terbalik semoga idenya mengalir terus ya, ditunggu lanjutannya…

    • Iya, kayak Slave versi terbalik lol XD
      Mungkin karma karena disana Sunny dah seenak dengkul sama Sooyoung #eh

  2. Ambil tmpat dulu.

  3. byun913 said:

    sunny mulai suka eh youngie mlh naksir org lain… jd sunny cman objek ya soo

  4. dari judulnya kaya lagu muse.. tapi isi nya.. wow bingitss πŸ™‚ penasaran sama lanjutannya πŸ™‚

  5. Gw gak tau penyakit apa itu stockholm syndrom, lanjut deh

  6. riestakim said:

    Anyeong πŸ˜€ gw penasaran sama judul nya,tpi gw takut buat nyari di mbah google :v #plak Wah Soo ditolak Sica ckck #pooryoungi :3 Ditunggu kelanjutannya Thor Fighting!

  7. Aaah ternyata youngi nya naksir ama jessi
    Bingung mau komen apa lagi
    D tunggu lanjutan nya thor

  8. hennyhilda said:

    Nc nya kurang 😩😩 #plakk yg dkomen malah nc nya πŸ˜’

  9. Lilis alawiyah said:

    Stockholm syndrom itu apakah (?) perasaan di mana orang yang di culik, merasa nyaman , ketergantungan, atau menyayangi si penculiknya. Ada beberapa kisahnya kokk, tpi bukan ke cinta sih. Benarkah?? Yang aku tau itu.

    Eh ngomong ngomong, soo wataknya keras bnget yah. Aku agak gk suka soo yg kya gini. Biasanya kan dia konyol.

  10. Semacam biopar kh?!

  11. Story ini kebalikan dari slave sepertinya, kasian sunny jadi objek pelampiasan. Jessi pake nolak soo segala.
    Kenapa soo nangis ya? Ada apa dgn keluarganya soo? Lanjut lg thor πŸ™‚

  12. Kimrahmahwang said:

    Sunny kasian, cuma dijadiin mainan nya sooyoung doang. Udah apa syoo gausah ngejar2 sica, jelas2 dia udh nolak masih aja dikejar…
    Coba liat ke sunny tuh, ahgilee dah kesian sunny nih. Sunny udh mulai jatuh cinta sama syoo yee?
    Syo kenapa nangis tuh??

  13. Sunkyu hanya jadi pelampiasan aja sama soo jahat banget padahal sunkyu udah mulai suka, yuri mah ngomong seperti itu untuk nyingkirin saingan ya thor hahaha

  14. wahahaha. kocak emang pas sooyoung sama yuri ejek-ejekan belum lulus padahal duo maknae udah lulus duluan. YEEEEE SOOYOUNG YANG BERKUASA (lol biasanya sunny yang berkuasa, dan sooyoung yang jatuh cinta/?)
    ini unnie ide tentang nc kenapa selalu ada/? aku mah butek kalo bikin ff ginian :’v suka alur ff ini, cepet/? jadi mudeng, soalnya otak lagi butek kalo ceritanya belibet x”D ff soosun menipis :”) dan saya bersyukur unnie update ff/? .ggg

  15. snsd lover said:

    aku tertanya-tanya apa maksud tajuk tu???itu first time aku dengar perkataan stockholm..apa-apapun aku suka dengan ff ni..sunny jadi mangsa soo pulakk..suka dgn sikap soo yg ganas..knapa soo nngis ??? fighting thor buat sambungannya..aku akan tetap sabar nungguin #LOVEfromMalaysia πŸ™‚

  16. Hmm… karakter sooyoung disini bagus, laen dari yg laen yg biasanya periang, kocak, de el el. Jadi… egois, keras, de el el… aku suka alurnya coz ga bikin bingung, walau judulnya ane masih belum tau maksudnya.. γ…‹γ…‹γ…‹γ…‹~ lanjutkan brayy~

  17. choileesyaa said:

    stockholm syndrom akhirnya tau juga artinya btw itu soo kasian amat ditolak sama sica πŸ˜€

  18. choileesyaa said:

    stockholm syndrom akhirnya tau juga artinya btw itu soo kasian amat ditolak sama sica πŸ˜€

    keren thor ceritanya *yadong mode on

  19. dirgaYul said:

    Apa apa apa?? Perasaan apa itu?? Aiihh tbc.. Sakity tuuhh di situ.. Mmmm..Sunny mrsa iba dgn keadaan Soo?? Tapi ntar trs kpan d lepasy dong?? Ditunggu Thor.. Semangat yaaa

  20. khfflovers said:

    Aw aw ya ampun so sweet banget seh ni couple ber2 hehehe
    berasa 50 shades of sooyoung hahaha
    jangan2 syoo ini dalam masa rebutan warisan nih. Makanya dia nangis itu soalny msh ada hubunganny sama kelnya kalii
    lanjut pelis penasaran banget hehe
    semangat kakak! πŸ™‚

  21. Kim/Choi said:

    Bagus ceritanya. Ini cerita pertama kakak yang aku komen. Maaf yah selama ini udah jadi silent readers.
    Ceritanya bagus, sumpah, keren. Gara” author sering buat cerita yang pairingnya SooSun, lama” tanpa sadar aku jadi sangat sangat menyukai couple ini. Kenak penyakit apa tuh namanya kak ? SooSunsitas kah ? πŸ˜€
    Entahlah, intinya mereka (SooSun) jadi couple favoritku akhir” ini. Semenjak aku jadi readers di sini.
    Tolong dilanjut yah kakkkkkkkk. Itu juga, Paid For, the best fanficlah pokoknya.
    Jejak pertamaku. Salam kenaaaaaaaaalllllllllll πŸ˜€ ^^

    • Salam kenal, mudah2an gak jadi silent lagi πŸ˜›
      Haha penyakit SooSunatic kali (tp itu nama shippernya sih)
      Thank you πŸ™‚

  22. beliveintaeyeon said:

    gwe telat baca ini ff tpi gpp lah yg pnting bisa baca …..
    ff ini bgus soalnya gwe suka yg
    main keras2an πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    apa lagi gwe blum nemu yg cast nya soosun …..
    Dan soo yg lbih mendominan itu yg gwe tunggu2 …..
    oke lah Di tunggu next chapter nya πŸ˜€

  23. aaaaa baru sempet baca! lol bagian “kapan lulus?” itu yang paling kocak! good job!~

  24. Gue yang bacanya jadi resah sendiri . padahal gaada yadongannya di chapter ini πŸ˜‚
    Itu sunny mau dikurung sampe kapan soo ? Udah kawinin aja gausah ngejar jessica

  25. Ternyata soo sukanya sama sica..
    Terus yul gimana, taeng pasti ama ppany hehehe
    Sunny udah mulai suka nih ama sooyoung hehe
    Cinta bersemi di atas ranjang hehe πŸ˜‚

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: