~Thank you for your comments~

Paid for (Chapter 7)

A/N : Aku buat Marina manggil Sooyoung “Suyon-chan” biar lebih manis, ahaha XD

Enjoy~


“Daijoubu desu ka?”

“Daijoubu desu.”

“Hontou ni?”

“Hontou ni hontou ni. Arigatou Suyon-chan, sudah menemaniku melalui saat-saat seperti ini. Jujur kalau tidak ada kamu aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan melewati keadaan ini.”

“Aku cuma berharap kamu tidak memaksakan diri.”

“Daripada itu, sekarang kan hari ulang tahunmu. Tentu saja aku harus senang di hari ulang tahunmu ini.” Marina tersenyum.

Sooyoung ikut tersenyum. Sudah setahun sejak Sooyoung menjalin hubungan kembali dengan Marina. Kini mereka sedang merayakan ulang tahun kecil-kecilan. Hanya potongan kue kecil berbentuk segitiga dan satu buah lilin.

“Gomene Suyon-chan, aku tidak sempat membeli kamu hadiah karena aku terlalu larut dalam kesedihanku… tapi setidaknya aku bisa menawarkanmu doaku sebagai hadiahnya.” Marina melipat tangannya. “Semoga tahun ini pun kamu diberkati oleh Yang di Atas.”

Sooyoung juga ikut berdoa demi kebahagiaan mereka.

**

Sementara itu di Korea.

Sunny menemukan syal buatannya yang tersembunyi dalam lacinya yang paling dalam.

“Sooyoung…”

Terkadang Sunny benci Sooyoung. Benci karena dia tiba-tiba memutuskan hubungan seenaknya tanpa berkata apa-apa. Tapi di sisi lain, Sunny tidak pernah bisa melenyapkan perasaan ini.

“Saengil chuka hamnida…” ucap Sunny dengan berurai air mata sambil memeluk syal itu di dadanya.

**

Dalam suasana yang temaram itu, Sooyoung merasa terhanyut dalam nuansa romantis. Sooyoung jadi cukup bergairah. Namun Sooyoung tak sampai hati mengajak Marina untuk berhubungan seks. Karena khawatir akan membangkitkan ingatan menyakitkan soal perkosaan di masa lalu dalam diri Marina. Jadi ditahannya hasrat itu sendirian dan malamnya Sooyoung memuaskan diri diam-diam.

**

Di ruang keluarga apartemen Yuri.

“Jagiya.” Yuri memeluk bahu Sunny dari belakang. “Belum tidur?”

“Aku tak bisa tidur.”

“Aku kesepian seorang diri di atas ranjang nih…” desah Yuri manja.

“Hmm, baiklah, tapi jangan berpikir yang aneh-aneh ya.”

“Yah, aku tidak byuntae tahu. Aku hanya minta ditemani tidur…” Yuri setengah merengek.

“Haha, sekarang siapa yang manja?” Sunny mencolek pipinya. “Baiklah, aku juga sudah mau tidur.”

Yuri tersenyum dan tanpa diminta dia menggendong Sunny ala pengantin dan membawanya ke kamar.

Sunny tersenyum sedih, dalam batin berkata “Kenapa semua hal selalu mengingatkan aku pada dirinya? Padahal aku sudah berniat untuk move on.”

Selama ini mereka menjalani hubungan yang inosen. Yuri pernah meminta sekali, tapi karena ditolak dia tidak pernah meminta lagi. Sunny merasa lebih nyaman dengan jalinan cinta tanpa nafsu begini.



Sooyoung POV

“Sooyoung.”

“Sunny…”

Ini pasti mimpi. Karena kalau bukan, berapa persen kemungkinan Sunny muncul di hadapanku sekarang…

Sunny meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.

“Saranghae.”

Kenapa Sunny…

Sunny berjinjit dan mencium bibirku.

Bibirnya terasa lembut dan genggaman tangannya hangat…

Ini pasti cuma perasaanku saja. Soalnya ini kan mimpi. Berarti imajinasiku sangat kuat sampai-sampai bisa merasakan hal seperti ini.

Tapi… mungkinkah aku merindukan kehangatan dan kelembutan itu?

Aku merasakan aliran air di pipiku.

Belum sempat ciuman itu kurasakan lebih jauh, aku sudah terbangun dari alam mimpi. Dan aku baru sadar kalau aliran air di pipiku berasal dari mataku sendiri.

Kenapa aku nangis?

**

Third Person POV

 

“Sooyoung, malam ini kamu mau makan apa?”

“Ah, terserah, tapi chicken katsudon juga boleh.”

“…baiklah, akan kusiapkan chicken katsudon yang enak!”

Sooyoung mencoba tersenyum, tapi dari nadanya dia bisa merasakan Marina memaksakan diri untuk terdengar kuat.

Sudah 2 tahun lebih sejak anak perempuannya meninggal, kini Marina sudah mulai pulih dari luka batinnya. Tapi ternyata sekarang muncul masalah baru lagi. Kali ini masalahnya berakar pada Sooyoung.

“Sebentar lagi hampir ulang tahunmu kan ya…”

“Ah? Benarkah?”

“Ya.”

“Hmm… ulang tahun ya…”

Semenjak dunia Sooyoung menjadi gelap, dia semakin merindukan gadis itu melebihi apa pun. Sudah hampir 3 tahun mereka tidak berjumpa. Keinginannya untuk bertemu sangat kuat. Dan mimpinya beberapa hari yang lalu baru saja membuktikannya.

“Marina… maukah kamu mengabulkan permintaanku?”

**

Sunny hampir tidak memercayai matanya ketika dia membaca nama ‘dari Choi Sooyoung’ dalam pesan yang didapatnya.

“Apa?” tanya Yuri.

“Ah, tidak.” Sunny refleks menegakkan smartphonenya sedikit supaya Yuri tidak bisa membacanya.

Kemudian Yuri melanjutkan menonton film tanpa berpikir panjang. Sementara hati Sunny berdesakan oleh ribuan pertanyaan.

Benarkah ini dari Sooyoung? Sooyoung yang itu?

Tapi Sunny tidak kenal Choi Sooyoung yang lain selain mantan kekasih bayarannya itu. Satu-satunya orang bernama Sooyoung yang lain hanya Appanya, tapi nama marganya tentu saja Lee.

Kenapa dia baru menghubungiku sekarang?

Hati Sunny merasa sakit.

Dia ingin memastikannya tapi tidak mau membuat Yuri terluka.

Karena Sooyoung mengajaknya ketemuan!

Dan seketika rasa rindu yang telah dia pendam selama hampir 3 tahun menguasainya. Dia sangat kangen Sooyoung sampai-sampai dia ingin menangis sekarang ini. Karena tidak ingin menangis di hadapan Yuri, maka Sunny berkata mau ke kamar mandi. Kemudian dia segera masuk ke kamar mandi.

Dia menatap nomor yang mengiriminya pesan. Nomor ini memang jelas bukan nomor di negara Korea Selatan. Kemungkinan besarnya nomor negara Jepang, seperti yang tertulis dalam pesan kalau Sooyoung ingin mereka bertemu di Jepang. Sunny menahan isak tangisnya dan menekan ikon telepon hijau. Dia benar-benar meneleponnya tanpa ragu. Meski seharusnya dia tahu tagihan pulsanya pasti akan mahal karena telepon interlokal.

Dia menunggu telepon berdering.

Tuttttt

Tuttttt

Tuttttt

Terus menunggu sambil berusaha menghentikan suara tangisnya dengan menahan nafas.

Tuttttt

Tuttttt

Tuttttt

Tuttttt

Setelah dering ketujuh berhenti, terdengar suara.

“Sunny…”

Mendengar suaranya kembali setelah sekian lama membuat perasaan Sunny seketika kembali ke masa lalu. Bahkan jauh lebih kuat. Juga perasaan lega yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata.

“Kenapa kamu baru menghubungiku sekarang…?”

“Maaf…”

“Juga, apa-apaan itu, kenapa mengajak ketemuan di Jepang? Kamu pikir…” Sunny menarik ingus. “Aku bisa pergi kesana? Aku bahkan tidak mengerti bahasanya sedikit pun!”

“Maaf… aku pasti yang akan pergi menemuimu kalau saja aku bisa…”

“Apa maksudmu?”

“Keadaan finansialku tidak memungkinkan…”

“Alasan!” Sunny menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Bilang saja sekarang kamu sombong setelah lama tinggal di negara lain!”

“Maaf… tapi aku memang benar-benar tidak punya uang untuk pergi ke Korea…”

“Kamu pikir terus berkata maaf bisa membuatmu dimaafkan? Kamu tahu nggak kalau kamu itu sangat menyebalkan?!” Sunny terus membentak sambil menahan tangisnya yang semakin deras. “Tiba-tiba muncul setelah lama menghilang… kamu jahat… sungguh… tidak berperasaan…”

“Aku tidak memaksa untuk bertemu… kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa-”

“Katakan dimana.”

“Jadi… kamu akan datang?”

“Iya! Makanya kamu harus kasih tahu yang jelas dimana kita akan bertemu!”

“Baiklah, nanti kukirim lewat pesan. Lebih baik kita sudahi karena nanti mahal. Bila ada sesuatu yang ingin kamu katakan lebih jauh lagi, katakan saat kita ketemuan langsung.”

Klik

Tuttttt… Tuttttt… Tuttttt…

Sunny mengusap air matanya. Dia menuju ke depan wastafel, meletakkan ponselnya di tempat yang tidak akan terjangkau oleh air dan mencuci air mata yang membasahi mukanya. Sunny bercermin, memandang matanya yang merah.

Sooyoung pabo…

Kemudian Sunny mengelap tangan dan mukanya. Tepat setelah itu, ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Sunny mengambil dan membacanya. Pesan tempat ketemuan dari Sooyoung.

Setelah melihat tanggalnya, nafas Sunny langsung tertahan.

Hari ketemuan mereka pas hari ulang tahun Sooyoung!

Setelah kira-kira sepuluh menit sehabis mencuci muka, Sunny keluar dari kamar mandi dan menemukan Yuri berdiri tak jauh dari kamar mandi. Paras Sunny langsung menunjukkan rasa bersalah.

“Aku khawatir karena mendengar suara bentakan dari arah dalam. Kamu nggak apa-apa Sunny?”

“……………”

“Kamu barusan nangis?”

“Yuri ah… ini akan menyakitimu, tapi aku harus mengatakannya… apakah tidak apa-apa?”

Yuri mengernyitkan dahi. “Jadi soal apa?”

“Barusan… telepon dari orang yang dulu kucintai.”

“!”

“Sudah hampir 3 tahun… dia mengajak ketemuan.”

“Ke-kenapa sekarang…”

“Maafkan aku Yuri… tapi jujur aku ingin bertemu dengannya…”

Yuri memegang kedua pundak Sunny. “Su-Sunny ah, jangan! Sudah. Biarkan saja orang seperti itu. Kurasa bertemu dengannya hanya akan melukaimu. Dia hanya mempermainkan perasaanmu. Nyatanya selama hampir 3 tahun dia tidak menghubungimu kan? Sudah, cuekin saja. Jangan terus terbawa perasaan sama orang masa lalu.”

Sunny menunduk. Dalam batin mengakui bahwa yang dikatakan Yuri benar. “Maaf Yuri… kalau tentang dia aku nggak bisa cuek…”

“Walau dia akan melukaimu apa kamu masih tetap akan pergi?!”

“Iya…”

Yuri melepaskan tangannya dari pundak Sunny dan mengerang frustasi sambil membelakanginya. “Tidak bisa dipercaya…!”

“Maafkan aku Yuri… kamu bebas memutuskanku kalau kamu benci diriku yang seperti ini…”

Yuri menghembuskan nafas dalam dan menjatuhkan diri di atas sofa. Dia melipat tangannya dan menarik nafas. “Sunny ah, katakan yang sejujurnya, kamu mencintaiku atau orang itu?”

“…………….”

“Sunny ah, sudah, katakan saja yang jelas. Aku sudah bisa menduga jawabanmu. Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku hanya ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri.”

“…………….”

“Fuuhhhh… oke maaf, mungkin aku terdengar menyudutkanmu.”

Yuri bangkit berdiri dan mendekati Sunny. Suaranya tidak terdengar keras lagi. Tatapannya juga lebih lembut dibanding tadi.

“Maaf kalau aku kehilangan kendali barusan. Sebenarnya sejak 3 tahun lalu aku sudah tahu. Ya, kamu sendiri yang memberitahuku.” Yuri menyentuh dahinya sendiri, matanya menatap lantai. “Hanya saja setelah melewati 3 tahun yang damai tanpa gangguan ini kurasa aku telah berubah. Aku jadi egois, aku jadi menginginkan hatimu hanya untuk diriku seorang.”

“Aku tidak akan menyalahkanmu. Kalau aku yang berada di posisimu, aku juga maunya begitu…”

Yuri menurunkan tangannya dan kembali menatap Sunny.

“Makanya tidak apa-apa. Bila kamu ingin bertemu dengannya, pergilah.”

“Yuri ah…”

“Aku tidak apa-apa. Aku akan merelakannya karena aku sangat mencintaimu, Sunny ah. Makanya aku akan berbesar hati.” Yuri memaksakan senyum.

Mata Sunny berkaca-kaca lagi.

“Gomawo… dan… mianhae…”

**

Di cafe pertemuan.

“Maaf sudah merepotkanmu, Marina.”

“Tidak apa-apa. Daripada itu apa kamu yakin tidak perlu ditemani?”

“Ya, aku ingin bicara berdua saja.”

“Baiklah kalau begitu. Mau kupesankan minuman?”

“Aku bisa pesan sendiri.”

Akhirnya Marina pergi. Sooyoung melepas kacamata hitamnya dan menggantungkannya di kerah bajunya. Jantungnya jadi berdebar-debar. Dia menunggu Sunny dengan sabar.

**

Dari jauh Sunny sudah melihat Sooyoung, tapi tampaknya Sooyoung tidak melihatknya. Mendadak Sunny merasa seluruh pikirannya hanya terpusat pada Sooyoung. Dalam setiap langkah, debaran di hatinya semakin intens. Kini mereka hanya berjarak satu meter.

“Sooyoung.”

“Oh, hei, Sunny.”

Sunny duduk di depannya.

“Gimana kabarmu Sunny?” tanya Sooyoung sambil tersenyum.

Sunny mempelajari sejenak wajah gadis jangkung yang sudah lama tidak dilihatnya, kemudian berkata.

“Basa basi.”

“Ahaha, kamu nggak suka basa basi macam begini ya. Tapi ini kan yang biasanya dikatakan orang setelah lama tidak berjumpa.”

“Yah, seperti yang terlihat, aku sehat-sehat saja. Makanya aku bisa datang menemuimu kan?”

Ini tidak sesuai dengan gambaran Sunny. Dalam bayangannya, Sooyoung akan memandangnya dengan lebih nostalgia, dengan lebih lembut. Sekarang ini, rasa senangnya Sooyoung terasa seperti dibuat-buat atau sedikit dipaksa. Atau barangkali memang itu yang diinginkan Sooyoung supaya mereka tidak terasa canggung.

Sunny meluangkan waktu sejenak sekali lagi untuk memandang wajah cinta pertamanya. Wajah itu masih secantik 3 tahun yang lalu. Sunny ingin sekali menelusuri tangannya di rambut Sooyoung yang tergerai. Sambil mencium bibirnya untuk meluapkan rasa kangen.

“A-apa?”

“Aku kangen kamu Sooyoung…” ucap Sunny tulus. Setelah sekian lama akhirnya perasaan kangennya menemukan tempat pelampiasan juga.

“A-ah, aku juga…”

Sunny menatapnya dengan tatapan penuh cinta sama seperti 3 tahun yang lalu, bahkan lebih intens.

“Benarkah? Kamu benar-benar kangen aku?” Sunny memancing Sooyoung tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Dia melipat tangannya di atas meja dan memiringkan kepalanya dengan sikap manis.

Sooyoung jadi salah tingkah.

“Apa kamu masih menjadi kekasih bayaran, Sooyoung?”

“Ngg, sudah tidak lagi.”

“Begitu ya…”

Sunny merasa sedikit kecewa karena tadinya dia berharap bisa menyewa Sooyoung untuk menjadi kekasih bayarannya sekali lagi selama berada di Jepang.

“Oh ya, hampir lupa. Aku punya sesuatu buat kamu.”

“Eh?”

Sunny mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Selamat ulang tahun.”

Sunny mengalungkan syal buatannya 3 tahun yang lalu di leher Sooyoung.

Sooyoung POV

Aku mengusap tekstur kain di leherku sambil menatap Sunny.

Kemudian bayangan 3 tahun yang lalu muncul kembali dalam benakku. Saat itu aku menemukan syal yang masih dirajut di bawah ranjang Sunny saat aku mengepel kamarnya.

Ini… jangan-jangan syal rajutan Sunny yang waktu itu?!

Ke-kenapa?

“Aslinya itu hadiah untukmu 3 tahun yang lalu, akhirnya baru bisa diberikan sekarang.”

DEG!

“Aku membuatnya dengan sepenuh hati, karena itu aku akan sangat senang apabila kamu mau memakainya, terutama selama musim dingin.”

Hangat…

Kehangatan ini… persis seperti yang kudambakan…

Tanganku meremas syal di leherku.

Kenapa kamu bisa sebaik ini Sunny?

Kamu mau datang kemari dari Korea. Ke tempat yang kamu tidak kenal bahasanya sama sekali.

Kenapa juga kamu masih sudi ketemu denganku setelah aku dengan seenaknya memutuskan kontak?

Padahal, kalau aku jadi kamu, aku… aku sudah pasti akan benci setengah mati dan masa bodoh kalau diajak ketemuan…

Aku menunduk karena rasanya aku hampir menangis.

“Eh? Sooyoung, ada apa? Ataukah kamu tidak suka hadiahnya?” suaranya terdengar khawatir.

Sunny… Sunny…!

Tidak, aku harus menahan diriku. Aku mengangkat wajahku dan tersenyum padanya.

“Terima kasih untuk hadiahnya, akan kujaga baik-baik.”

“Itu akan sangat berarti buat aku. Ngomong-ngomong, kapan kamu akan pulang kembali ke Korea?”

“……..mungkin tidak akan…”

Lagipula orangtuaku sudah tidak mau menganggapku lagi…

“Ah, begitu ya…”

Dia tidak memaksa tapi dia kedengaran sedih mendengar jawabanku.

“…………….”

“…………….”

Kemudian kami jatuh ke dalam keheningan yang agak canggung selama beberapa saat.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya ketika dia tiba-tiba membuka kembali percakapan dengan berkata.

“Lama nggak ketemu kamu makin cantik Sooyoung.”

“A-ah, kamu juga sangat cantik, Sunny.”

“Ehehe, padahal kupikir kamu akan langsung narsis ketika kubilang cantik.”

“Masa?”

“Sepertinya kamu berubah Sooyoung…”

DEG!

“Apakah itu hal yang jelek?”

“Ngg, aku tidak bilang itu hal yang jelek.”

“…………….”

“Ngomong-ngomong, aku masih baru di Jepang ini, jadi aku belum tahu banyak. Jadi bisakah kamu mengantarku jalan-jalan berkeliling? Ngg, bukan sebagai pacar bayaran juga, kamu cukup mengantarku berkeliling sebagai seorang teman saja.”

Sunny POV

Aku berkata begitu karena sebagian benar dan sebagian yang lain adalah karena aku ingin sekali lagi meluangkan waktu bersenang-senang bersama dengannya.

Meski sudah ditolak, aku sangat ingin bisa kembali akrab bersama dengan dia, walau hanya sebagai teman. Hatiku tidak bisa berhenti berharap.

“Maaf Sunny, tidak bisa, aku ada urusan…”

Dan sekali lagi aku ditolaknya.

“Ah, aku mengerti…” Aku telah mencoba untuk berlapang dada. Tapi rupanya aku masih belum kebal terhadap penolakan ini.

Hatiku terasa sesak sampai ingin rasanya segera pergi dari sini. Tapi aku masih menguatkan diri untuk bertanya.

“Apa kita masih bisa bertemu lagi Sooyoung?”

“…..mungkin tidak…”

“A-ah begitu, kamu tidak mau bertemu denganku lagi?”

Sooyoung tidak menjawab.

Setelah aku bersusah payah datang kemari, inikah yang kudapatkan?

Padahal tidak apa-apa meski ditolak, setidaknya aku masih ingin kita bisa berteman kembali.

Apakah Sooyoung sudah berubah sekarang? Ah tapi dia sendiri yang memutuskan hubungan dulu, berarti dia memang sejahat itu?

Benar kata Yuri, aku hanya dibuatnya terluka.

“Ha-haha… kamu yang duluan bilang mau ketemu lalu kenapa sekarang malah diam?”

Hentikan Sunny. Kalau kamu meneruskan kalimat itu kamu hanya akan meninggalkan kesan yang buruk.

“Sa-saranghae, Sooyoung.”

Aku tidak tahu kenapa malah kata-kata itu yang meluncur keluar dari bibirku. Barangkali karena memang aku tidak mau meninggalkan kesan yang buruk.

Kemudian aku beranjak dari meja dan pergi meninggalkannya.

**

“……………..”

“Suyon-chan…”

“Marina, kamu melihat dari jauh?”

“Aku tidak bisa meninggalkanmu. Apa kamu sudah menceritakannya? Soal dirimu pada gadis bernama Sunny itu.”

Sooyoung tersenyum pedih. “Tadinya aku ingin, tapi setelah mengobrol dengannya, aku merasa aku tak bisa mengatakannya.”

“Apa kamu yakin? Mau dibiarin begini saja?”

“Aku sudah banyak menyakitinya… lebih baik tidak menambah luka di hatinya…”

“Biar kukejar.”

“Jangan!”

“Suyon-chan.”

“Biarkan saja! Biarkan… jangan cerita apa-apa soal keadaanku. Supaya dia bisa tetap hidup dalam kebahagiaan.”

Marina duduk di hadapan Sooyoung dan menatapnya dengan penuh empati.

“Dari mengobrol dengannya barusan, walau tidak menggunakan penglihatan pun aku sudah bisa merasakannya.” Sooyoung menunduk, kini dia membiarkan air matanya mengalir dengan bebas. “Kalau Sunny masih sangat mencintaiku…”

Marina diam, menunggu Sooyoung melanjutkan.

“Marina, aku tidak pernah menyangka… kalau seseorang bisa sangat mencintaiku seperti dia.”

“Sudah 3 tahun… orang sepertiku…” Air mata Sooyoung berjatuhan di meja. “Tidak pantas… mendapat cintanya…”

Marina sekarang ikut menangis bersamanya.

Sooyoung menghapus air matanya, menyadari kalau ini adalah tempat umum. Dia mengambil kacamata hitamnya yang terhalang oleh syal pemberian Sunny dan memakainya kembali.

“Ayo kita pulang.”

Marina langsung berinisiatif berdiri lebih duluan dan memegangi Sooyoung. Mengarahkan jalan Sooyoung, menjadi mata bagi dirinya.

“Marina, apakah Sunny sekarang cantik?”

“Iya… sangat…”

“Hmm, sudah kuduga. Tapi sayang, aku sudah tidak bisa melihatnya lagi…”

*~To be Continued~*

A/N : Ceritanya malah jadi sad banget. Ah author tidak tahu #la?

btw, tanggal 21 Maret author ultah, ngarep ucapan dan komentar wkwkwk XD #maunya

Advertisements

Comments on: "Paid for (Chapter 7)" (48)

  1. Chap kali ini no no yadong ya thor kkekkee

    Soo butaaaa?! Astaga bener bener mirisngini. Tapi kayaknya si yuri lebih miris lagi.

    Thooorrr selamat ulang tahun.
    Semoga selalu diberikan apa yg author butuhkan.
    Tetep lanjutin ff yg keren” ini ya thorrr.
    😘😘

    • Hani & Prince lbh miris karena terlupakan di chapter ini #eh

      Mana bisa yadong terus 😛

      Sip, amin
      Thanks yo XD

  2. khfflovers said:

    Astaganaga kenapa nih cerita tokohnya jadi pada ngenes bikin reader ngelus2 dada author *eh ngelus2 dada sendiri
    btw pas bgt tgl 21
    happy bday author mai! Moga2 makin sukses di dunia nyata maupun di dunia lain *eh dunia ff mksdnya
    hehe
    ditunggu karya selanjutnya ! 🙂

    • khfflovers said:

      Astaga pdhl sdh ada kalimat dunia syoo jadi gelap trus akar masalah pd syoo, tp msh belum dong kalo yg bermasalah itu matanya
      tuh matanya syoo kenapa lagi hadeeeh
      jangan2 pas nglamunin sunny trus si doi kecelakaan lagi -_-

      moga2 jgn ada crita si yuri sunny marina ato tokoh2 lainnya ngorbanin mata mereka nih
      nti ini cerita udah ngenes jd tambah ngenes jadinya. Kesian
      mendingan sembuh dg ajaib
      hohoho 😀

    • Thank you^^

  3. hennyhilda said:

    Heh mkzdnya pa itu?sooyoung buta?aigooo knp thor
    Aduhhh bnrn jd pusing saya hhhh *mijit2 kepala stlh baca ni

  4. Haa Soo buta?! Knp buta long bisa c.. lanjut

  5. Ambil tmpat dulu& Happy birthday. Tar di FB juga kutulis deh. Jadi aku ucapin di 3 tmpat lho. 😛

    • Yo thanks :3

    • Hmmm….. Soo jadi buta tampaknya.
      Yah walaupun keadaannya sprti itu, entah mngapa aku ttap kurang suka sih klo Sunny balik k Soo.
      Lbih stuju ama Yul aja. XD
      Di FF ini kesannya hati Soo bercabang.
      Masih tinggal bareng Marina (trlpas kondisi fisiknya saat ini), tapi masih memikirkan Sunny.
      Yah mungkin ini yang brarti trlambat mnyadari prasaan cinta yang sbnarnya ditujukan untuk siapa.
      Klo bnar keadaannya sprti itu, maka bnar2 mirip dngan ‘seseorang’. #senyum kecut
      Wajar klo ditinggalkan.
      Tapi karna ini FF dan author-nya SooSun shipper, maka jadilah yang ada Sunny malah ttap balik k Soo.
      Yah FF mang beda dngan realita. Walaupun trkadang sama, namun perbedaan juga sring trjadi.

  6. astaga Soo buta.. oh gosh.. miris banget..

    Happy Birthday ^_^ Wish You All The Best…

  7. syoo knapa nyampe buta????

    happy birthday to you~~~~

  8. chincilla said:

    Authorrr tanggung jwab sdh bkin sya benci soyun-chan.. 😭😭😭
    Lanjut thor,,
    dtgu kbr dri yuri yg rela dtinggal sunny,, 😢
    mdh”an sica muncul buat nyemangatin yuri,.😄😄

  9. chincilla said:

    Wahh,, ultah yaa,,
    Otanjobi omedete., WUATB
    Dan moga mkin kreatif nulisny,, 😄😄

  10. Omoo? itu soo kenapa? kok bisa buta?
    haduhh makin ngenes dh sooyoung,
    ahhh kenpa soo gak jujur ama sunny sihh,
    pliss sunny jangan benci sooyoung,
    eh btw author nya ultah yakk,
    Happy birthday thor, semoga makin sering dapet ide buat lanjut ff nya 😀

  11. Beninsooyoungsters said:

    Selamat ulang taun!!! Semoa makin keten ke depannya ya uthor nim amiiiin!!!
    Kok Sooyoung bisa buta? Kok anak Marina meninggal? Kok kok kok? 😦

  12. Kimrahmahwang said:

    Sooyoung gabisa liat?kokbisa?emang sebelumnya kenapa??
    Yahh soosun masih belum bisa bersatu ya ternyata…

    Btw Happy birthday thor, maap telat 😀 semoga jadi pribadi yg lebih baik lagi dari sebelumnya dan apa yg diinginkan bisa tercapai 🙂

  13. Aahh thor aku baca nya nangis-_- sakit bangeett 3 tahun lalu di tolak,pas ketemuan di tolak lagi yaampun apa daya sunny-_- happy birthday thoorr bte maaf telat hehehehehe. Semoga ff nya makin bagus baguuss dan banyak reader nyaa yeaayy hehehe

  14. taenyfanficivaydiwa said:

    yah soo nolak sunny lagi… soo buta thor ? kasian
    btw happy birthday thor maaf telat hehehe

  15. Lilis alawiyah said:

    Bb-buta. Sooyoung buta. Gimana bisa. Ah chap ini nyakitin bnget.

  16. Oh my god…soo buta
    Ini cerita miris banget deh
    HAPPY BIRTHDAY author,,
    Meski telat,asal ngucapin,,haha

  17. Udah ucapkan happy birthday via tweet ya. Jadi kadonya tertahan di kantor polisi

  18. Lilis alawiyah said:

    Unnie twitter unnie apa? Nanti aku follow, aku mau minta pw ff nya locksmith, aku udah punya semua pw nya. Cuman email aku agk gak sehat. Punya aku @lilisalawiyah3. Yah unnie aku mau baca ulang soalnya.

  19. Lilis alawiyah said:

    Sama fbnya. Hehe

  20. Duh thorr lo ultah tanggal 21 kemaren? Omg sorryy gue baru sempet buka wp. Happy birthday thor! Semoga ff lo makin aduhai lah pokoknya wkwk. Ini soo buta bikin hatiku ikut2an buta(?)

  21. soo buta, tp karna apa???

  22. dirgaYul said:

    Lha?? Jd tmbah komplek ceritay y?? Hadewh.. mlah tmbah pnasarn.. Knp Soo jd buta?? Pdhal g ad crita dy skit?? Yok yok yok bca lg

  23. nindz84 said:

    loh kok soo nya jadi buta?
    kshan soo…
    knp jaadi sedih gini…

  24. darkart said:

    soo ternyata masih memendam perasaan ama sunny toh
    huft knp hidup soo jd menderita sih hiks hiks
    yg kuat ya soo

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: