~Thank you for your comments~

Paid for (Chapter 6)

Sooyoung POV

Aku tidak bisa membalas perasaan Sunny, makanya kupikir lebih baik jika aku menghilang dari hidupnya supaya lama-lama Sunny juga akan bisa melupakanku. Seperti yang biasanya kulakukan pada klien-klienku sebelumnya. Pada akhirnya, mereka benar-benar move on dan aku hanyalah salah satu dari sekian banyak lembaran masa lalu semua klienku.

Kini aku tinggal bersama dengan Marina di Jepang. Hidup kami cukup susah. Bahkan aku harus mengambil beasiswa untuk melanjutkan kuliah disini. Orangtuaku tidak mau menganggapku sejak aku mengaku pacaran sama Marina sewaktu di Korea, apalagi ketika kubilang aku akan pergi ke Jepang untuk menemui Marina, mereka sangat marah. Sejak saat itu aku sudah putus hubungan sepenuhnya dengan orang tuaku, mereka tidak akan mau membantu finansialku lagi dan tidak ingin mengenalku lagi. Jadi sekarang aku sepenuhnya mengandalkan uang tabunganku dan kerjaan part timeku sendiri. Selain itu, tidak ada saudara atau relatif yang tinggal di Jepang yang bisa membantu. Marina sendiri juga susah karena dia harus menghidupi dirinya sendirian dengan anaknya. Dia sekarang yatim piatu karena itu keadaannya tak jauh beda denganku.

Meski begitu, aku cukup bahagia bisa tinggal di Jepang seperti yang kuimpikan. Sekarang aku sudah menerima kenyataan dan bahkan membantu membesarkan anak Marina bersama-sama. Marina juga tampaknya bahagia dengan kembalinya aku ke dalam hidupnya.

Namun, di antara semua klienku, satu-satunya yang paling mengganggu pikiranku adalah Sunny. Terutama di saat aku melalui keadaan yang berat. Kadang aku penasaran seperti apa keadaannya sekarang. Penasaran apakah sekarang dia sudah bisa move on dan berpacaran dengan seseorang.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan ini. Tapi aku berdoa semoga Sunny juga bahagia di Korea sana.

**

Sunny POV

“Cuacanya cerah ya. Aigoo, aku klise sekali.”

“Ahaha, tapi untung cuacanya cerah kan? Kalau nggak, mana bisa sekarang kita membawa Prince dan Hani jalan-jalan di luar begini.”

“Iya.”

Sore ini aku sedang berjalan-jalan bersama dengan Yuri kekasihku di sekitar taman. Kami berdua sama-sama membawa anjing peliharaan kami. Sebenarnya ini adalah anjing milik Tiffany yang kadang-kadang dititipkan padaku.

Kulihat Hani berlarian dengan aktif sampai tali penuntun yang digenggam Yuri tertarik sampai batas. Aku tidak mengerti apa yang dia endus di tanah berumput.

Rasanya aku ingin bermanja pada kekasihku. Aku memindahkan tali yang kupegang ke tangan kiriku. Kemudian tangan kananku memeluk lengan Yuri.

Yuri kelihatannya senang dengan skinship yang kulakukan. Kami berdua duduk di sebuah kursi di taman itu. Yuri menitipkan Hani padaku untuk pergi membeli es krim di dekat sini. Sambil menunggu Yuri, aku menonton kelucuan Hani dan Prince. Keduanya tampak berteman dengan asyik sampai aku sedikit iri.

“Rawrrr!” ucapku dengan nada tinggi.

Mereka berhenti bermain dan mendongak ke arahku.

“Ehehe.” Aku mengayun-ayunkan kakiku, senang karena perhatian mereka sekarang tertuju padaku.

“Guk! Guk! Guk?” ucapku sembarangan.

Hani dan Prince memiringkan kepalanya. Aku dengar anjing memiringkan kepala mereka kalau mereka tertarik atau ingin mendengar lebih jelas.

“Guk! Guk!” ucapku lagi, berharap mereka akan menyalak membalasku.

“Guk!”

Yang membalas suaraku ternyata orang lain, dan orang itu adalah Yuri dengan kedua es krim di tangan dan wajah yang tersenyum.

“Ahaha, apa yang kamu lakukan? Meniru mereka?”

Aku tersenyum menunjukkan eye smileku. “Hehe, iseng saja.”

Yuri memberikan es krim berwarna pink padaku.

“Rasa apa ini? Strawberry?”

“Bukan, raspberry.”

“Eh, nanti kecut.” Aku memajukan bibirku.

“Kalau gitu mau tukar dengan punyaku?” Yuri menyodorkan es krim miliknya yang berwarna putih.

“Apa punyamu? Rasa vanilla?”

“Bukan, white chocolate.”

“Oh, tidak usah tukar, tapi aku boleh cobain punya kamu?”

“Boleh, tapi aku juga boleh makan punya kamu ya?”

“Neee~”

Yuri duduk di sebelahku dan kami sama-sama menikmati es krim berkerucut ini. Entah kenapa aku sama sekali tidak merasa jijik menjilat bekas Yuri. Begitu juga dengan dia.

“Prince mau?” godaku.

Dia hanya memiringkan kepalanya dan menatapku dengan bola matanya yang hitam legam itu.

“Ahaha, masa kamu mau ngasih es krim ke anjing?”

“Prince bikin gemas soalnya.”

“Eh, tumpah tuh.”

Aku baru menyadari kalau yang Yuri maksud adalah es krim yang kupegang. Esnya meleleh ke atas jari telunjukku.

“Ah~”

Aku segera memindahkannya ke tangan kiri. “Aku nggak ada tisu pula.”

Saat aku berpikir ingin menjilatnya, Yuri lebih dulu meraih tanganku dan mengemut es krim yang meleleh di jari telunjukku.

DEG!

“Hehehe.” Yuri tersenyum nakal padaku.

Aku gemas dengan tingkahnya, jadi langsung kuangkat tangan yang memegang es krim di atas pahanya dan kumakan dengan rakus. Aku merasa dingin karena esnya mengenai langsung ke gigiku.

Sebenarnya aku senang dengan perlakuan Yuri, tapi kalau saja tidak mengingatkanku pada seseorang…

**

Di rumah sakit Jepang.

Marina menangis tersedu-sedu karena anak perempuannya baru saja berpulang. Anaknya jatuh dari tempat tinggi ketika tidak diawasi sebentar. Kacaunya ini terjadi saat mereka seharusnya sedang meluangkan waktu keluarga yang menyenangkan di mall.

Sementara Sooyoung sibuk menghibur Marina.

“Aku sudah sangat mencintai anak itu, Sooyoung…”

“Aku tahu… aku juga sangat menyayangkan… tapi tidak ada yang bisa dilakukan… semua sudah terjadi…”

“Kenapa aku melepas pandanganku dari dia…!!” tangis Marina semakin menjadi-jadi.

Sooyoung segera merangkulnya. “Tidak usah menyalahkan diri lagi…” Dia ikut menangis di bahu Marina.

**

Sepulang dari taman, mereka berdua menuju ke apartemen Yuri setelah mengembalikan Prince pada Tiffany.

Sunny kaget begitu sampai di apartemen Yuri, dia menjumpai banyak balon-balon merah berbentuk hati menghiasi ruang keluarganya.

“Wo-wow… memangnya hari ini ada perayaan apa?”

Yuri hanya tersenyum. “Perlukah hari istimewa untuk mengejutkan kekasihku? Bukannya bila dilakukan di saat hari yang tidak spesial justru malah lebih mengejutkan?”

“Haha, iya kamu benar, aku sama sekali tidak menyangka.”

Sunny mendongak dan melihat balon-balon itu masih berterbangan di langit-langit ruangan. Dia berusaha menggapai salah satu tali, tapi tidak sampai. Yuri yang sedikit lebih tinggi yang mengambilkannya.

“Gomawo.”

Sunny menarik turun balonnya dan memegang mulut balonnya. Ternyata ada sesuatu yang tertulis di balonnya…

“Saranghae, Sunny.”

Yuri mengucapkan kalimat yang persis tertulis di balon hati merah itu sambil menatap Sunny dengan tatapan mesra.

Sunny merasa sangat terharu. Matanya sampai berkaca-kaca.

“Kamu suka?”

Sunny tidak menjawab, tapi dia melepas balonnya dan mencium bibir Yuri sebagai gantinya. Balonnya terbang ke atas langit dan berbaur bersama dengan balon-balon lainnya. Sementara sepasang insan itu berbagi ciuman dengan mesra. Sampai Yuri merasa ada sesuatu menggelitiki kakinya. Dia berusaha tidak memedulikannya dan tetap fokus pada ciumannya, tapi lagi-lagi sesuatu(?) itu mengganggunya.

Yuri menghentikan ciuman dan melihat ke bawah. Hani sedang mendongak memandangnya dengan tatapan polos, mulut terbuka dan lidah terjulur keluar.

“Aish, Haniiiii~! Kenapa kamu menggangguuuu~! Lagi asyik juga.” rengek Yuri seperti anak kecil.

“Kaing……”

Hani melangkah mundur dengan wajah tertunduk.

“Kasihan Hani.”

“Kita lanjutkan lagi, Sunny ya.” Yuri meraih pinggang Sunny. Tapi Sunny melepaskan diri.

“Andwae, mungkin Hani lapar.” Sunny menghampiri anjing yang lesu itu dan mengusap-usap kepalanya. “Sabar ya.”

“Huhuuuuuu…” Yuri yang merasa sedih. Merasa kalah diperhatikan daripada anjing.

Sunny tersenyum sendiri mendengar kekonyolan Yuri. Dia mengangkat Hani ke gendongannya. Lalu dia berpaling ke arah Yuri sambil memeluk Hani.

“Kalau kamu ingin lebih dari itu, kamu harus berusaha lebih keras, Yuri ah~” godanya sambil beraegyo.

Yuri merengek seperti anak kecil. Sementara Sunny masih senyum-senyum sendiri.

**

Jam 2.24 malam.

Akhirnya Sooyoung bisa tertidur setelah sejak tadi sore berduka, karena kelelahan. Tapi belum lama Sooyoung tertidur dia mendengar suara. Arahnya dari ruang keluarga.

Sooyoung jadi terbangun dalam keadaan sangat lelah.

“Marina?”

Dia tidak melihat Marina tidur di sebelahnya. Lalu dia beranjak dari kasur dan pergi menuju asal suara. Begitu keluar dari kamar dia langsung mendapati wanita itu. Sedang mengepel lantai dengan bertenaga.

“Marina, apa yang…” Sooyoung tertegun.

Tapi kelihatannya Marina tidak mempedulikan kehadirannya. Dia terus mengerahkan tenaga yang berlebihan untuk mengepel lantai dengan tongkat pelnya.

Sooyoung berjalan mendekat dengan derap langkah yang keras. “Mana ada sih yang mengepel lantai jam 2 malam,” kata Sooyoung sambil merampas tongkat pel Marina. Antara sebal karena tidur yang dia dapatkan dengan susah payah terganggu dan juga sedih karena dia mengetahui betapa terpukulnya wanita itu.

“Kembalikan padaku Sooyoung.”

“Kamu sebaiknya istirahat…”

“Kubilang kembalikan padaku!” Marina merebut tongkat pel itu dari tangan Sooyoung dengan paksa. Kemudian mengepel lantai dengan lebih kalut lagi.

“Marina…”

“Percuma! Aku tidak bisa tidur! Makanya kalau tidak menyibukkan diri aku tidak akan bisa mengenyahkan ingatan itu keluar dari kepalaku!” Mata Marina membelalak. Dalam kepalanya terus menerus terlintas gambaran anaknya ketika dia menemukan anaknya tergeletak tewas dengan mengenaskan di lantai.

“Ti-tidak! TIDAAAAKKKKKK!!”

“Ma-Marina?!”

Marina menjatuhkan tongkat pelnya dan sekarang memegang kepalanya dan menjerit histeris. “AAAAAAAAHHHHHHHH!!!!”

“MARINA!” Sooyoung segera memeluknya.

“TIDAK! SINGKIRKAN INGATAN ITU KELUAR DARI KEPALAKU! AKU TIDAK MAU!! ANAKKU! ANAKKUUUU!!!!”

“MARINA! MARINA!” Sooyoung berteriak lebih keras, berharap Marina berhenti dan mendengarnya.

Tapi tidak lama kemudian, Marina pingsan dalam pelukannya.

Sooyoung menangis lagi. “Marina… kenapa nasibmu sangat malang…”

Tapi sebenarnya yang menderita bukan hanya Marina, Sooyoung pun merasa ikut tersiksa melihat Marina menderita begini.

Sooyoung menggendong Marina ke kamar dan membaringkannya di atas kasur. Setelah menyelimuti Marina, dia menatap wanita yang tak sadarkan diri dengan tatapan iba bercampur perih.

“Tapi setidaknya dengan begini sekarang dia bisa istirahat…”

*~To be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Paid for (Chapter 6)" (27)

  1. huaaaa.. kasian Soo.. dan Yul sama Sunny damai2 aja.. cie yg perhatian ama Sunny yg jauh disana kkk.. Next

  2. Kok gue malah jd ngarep sama yulsun yah thor? Wkwkwkwkwk

  3. jung febryliu said:

    Yg tabah aja yah marina…. Soo selalu ad kok buat ngehibur kamu..

  4. chincilla said:

    Yul sma suny romatis bnget..
    Kasihan sma sooyoung yg lgi stress di jepang..

    Tpi thor, kok rsanya ch 6 in kependekan deh..
    Lanjutin ya thor.. Ganbatte.. XD

  5. hennyhilda said:

    Aya naon jd bgini???
    Aq blh ngomong g thor?maaf klo jd lancang..
    Pas chap ni knp tkesan dpaksain y alur critanya thor???author tkesan tburu2 dsni,ky pgn cepet2 nyelesain.tp aq sk d bagian yuri m sunny yg dtaman krn kliatan mesra bgt hehehe
    Maaf y thor bwt komen yg d atas

    • Sudah pelan kalau menurut aku sendiri 😛
      Dan sbnarnya malah sebaliknya yg kamu pikirkan
      Alur cerita yg awalnya terpikir lbh cepat dr ini, alias chapter ini 60% gak ada dlm rencana
      Jangan kaget, kadang aja dlm drama ada loncat bbrp tahun 😛

      Kalau reader pada kaget artinya aku sukses bikin cerita ff ini unexpected, hoho XD

      • hennyhilda said:

        Hahaha mungkin aq lg lemot baca chap ni *plakk mank u lemot
        Soalnya g trima j krn soo tiba2 prg k jepang n yulsun yg jadian n skr yg anaknya c marina metong

      • Haha mgkin karena kamu maunya SooSun yg jadian sungguhan
        Masih ada harapan buat SooSun kok 😉
        Tp jadi kayak drakor banget ya? XD

  6. Kimrahmahwang said:

    Yulsun adem ayem aja hubungannya tapi soo menderita di jepang. Marina jangan kek gitu lagi, kasian syoo..
    Ciee syoo masih mikirin sunny haha

  7. hani tukang ganggu moment!! hihihih

  8. choileesyaa said:

    ya ampun yulsun kasian banget digangguin hani 😀 jadi inget pas sica sama dongwook oppa ciuman digangguin sama kucingnya sica 😀

  9. snsd lover said:

    annyong thor…aku readaer baru..ffnya keren..lanjutin dong..ksian sama yulsun digangguin Hani..knpa ngak tnggal sja Hani sama Tiffany ?? Boleh mntk pw yg di protek nggak ??? Terutama pw eien no kizuna..mahu tahu ending nya..
    email:yayahany17@gmail.com

  10. khfflovers said:

    Kalo dipikir2 gini kasian juga si marina
    udah deh mending si soo nemeni marina dan sunyul bahagia berdua
    biar dunia damai juga(?)
    kakakak~
    Kaing~

  11. Coba hani gak ganggu, dari kiss kiss bisa lanjut ke ranjang/?

  12. Ambil tmpat dulu. 🙂

    • Jujur di FF ini aku lbih suka pasangan YulSun.
      Meskipun tahu ujung2nya (99%) bakalan SooSun, tapi tetap aja aku mrasa Yuri di sini tak pantas untuk dikecewakan.
      Di sini dia gentle dan baik bangt. Aku suka Yul ‘oppa’. 
      Chapter ini yang membuat kaget hanya di bagian anaknya Marina kecelakaan n meninggal aja.
      Efeknya untuk alur crita amsih blum trlalu trlihat.
      Smntara ini dngana danya kjadian ini, mnurutku malah smakin mendekatkan Soo dngan Marina.
      Tapi entahlah nantinya bagaimana. Tuh kan Yul kasihan gak bisa romantis lama2 ama Sunny gara2 digangguin ama Hani.
      Trlihat jlas skali klo authornya gak rela ama YulSun couple. 😛
      Tapi yah mang kasihan sih ama Marina.
      Sjak awal crita kayaknya hidupnya susah trus disetting dalam FF ini.
      Sudahlah biar Soo ama Marina aja n Yu lama Sunny. XD

      • Yah memang kurang rela sama YulSun tp kalau memang gak rela sepenuhnya dr awal gak bakalan ada YulSun 😛
        Puk puk Marina

  13. Reader Kwon said:

    lanjut lanjut lanjut

  14. Hmm. Kau sengaja ya bikin anak marina mati agar sooyoung cepet2 balik ke pelukan sunny ya?

  15. Lilis alawiyah said:

    Kya nya, sunny udah membuka pintu taubat (?) buat yul. Hehe . Soo mendrita bnget, kan kasian taeyeon #gakNyambung.

    Lanjut yah, jangan lupa only u, hehe

  16. kasian marina kehilangan anaknya,
    sunyul makin mesra ajahh, tp aku masih berharp soosun 😦

  17. dirgaYul said:

    Soo knp jd buruk gtu nasiby?? Tp skurlh Sunny bahagia brsma Yuri.. YulSun?? Hehehe lanjutin lah..

  18. nindz84 said:

    hmm.setelah merasakan perih setidaknya suny bisa bhagia
    soo yg sabar ya…..

  19. darkart said:

    aduh yulsun manis bgt sih awwww…
    soo and marina yg kuat ya…

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: