~Thank you for your comments~

Paid for (Chapter 3)

Sunny POV

 

Walaupun tidak dikatakannya, tapi aku tahu dari membaca ekspresi wajahnya kalau aku telah ditolak…

Ting tong

Cklek

Set set set

Rambutku langsung diacak-acak olehnya.

“Jangan murung dong, jagiya.” Dia memperlihatkan senyum khasnya seperti kemarin-kemarin.

Begitu ya… Sooyoung tetap bersikap seperti biasanya.

Dia tidak mempedulikan perasaanku. Atau mungkin dia sudah terbiasa dengan pengakuan macam itu. Selembut apapun perlakuannya, bagaimanapun di mata Sooyoung aku tak lebih dari sekedar kliennya.

Aku mempersilakannya masuk. Sooyoung masuk dan melepas sepatunya di depan pintu seperti biasanya.

“Ah, bau enak apa ini? Kue?” Sooyoung mengangkat wajahnya dan membaui aroma enak yang menyebar di udara kamar apartemenku.

“Iya, kue…”

“Eh? Kamu bikin kue?”

“Iya, untuk Sooyoung…”

Aku sengaja melakukannya untuk melihat reaksinya.

“Benarkah? Wah, aku suka kue, hehe.”

Tapi reaksinya tergolong biasa saja. Dia bahkan menerima dan memakan kue buatanku dengan lahap seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami.

Hmmph, pabo Sunny, memangnya apa yang kamu harapkan setelah ditolak kemarin?

Kuusap bibir Sooyoung dengan ibu jariku.

“Ada krim nempel.” Alasanku.

Bohong, padahal bibirnya sebenarnya bersih.

“Gomawo,” dia tersenyum.

Mungkin aku memang sengaja berusaha memancing ketidaknyamanan Sooyoung, tapi bagaimanapun juga aku menginginkan perhatian dan reaksinya.

Aku membuka kulkas dan mengeluarkan buah apel.

“Ah, biar aku yang-”

Aku menoleh padanya dan tersenyum. “Tidak usah^^ Sooyoung duduk saja di ruang tengah, kali ini biarkan aku yang memanjakan pacarku.”

“Ya sudah kalau itu maumu.”

Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku melakukan ini. Seharusnya setelah ditolak aku memutuskan hubungan dengannya dan move on. Tapi tidak bisa. Keberadaannya sudah terlanjur begitu memenuhi hatiku. Selama hatiku masih berdenyut menyakitkan, aku tidak bisa berhenti.

“Apo!”

Telapak tanganku teriris cukup dalam. Darah yang keluar dari lukaku cukup deras.

Grak!

Terdengar suara deritan kursi lalu derap kakinya mendekat ke dapur.

“Sunny, kamu nggak apa-apa?!”

Sooyoung kaget melihat tanganku berdarah banyak. Dia langsung mengambil pisau dari tanganku dan meletakkannya. Dia membawa tanganku ke bawah pancuran air dan menyalakannya. Kemudian seperti kemarin lagi, dia menggandengku ke ruang tengah, dan mengobati tanganku yang bertambah lukanya.

Sebenarnya luka yang kuakibatkan barusan sepenuhnya disengaja. Walau aku tahu cara seperti ini salah. Tapi diobati dan dikhawatirkan seperti ini olehnya sangat menyenangkan…

“Makanya seharusnya kamu membiarkan aku yang mengupas apelnya.”

Plester luka yang kemarin juga diganti dengan yang baru. Aku terus mempelajari gerak-gerik ekspresinya.

“Sooyoungie… kamu tidak mencium lukaku lagi seperti kemarin?”

Kulihat matanya sedikit membulat seakan baru sadar. Tapi dia tetap mengangkat tanganku ke depan bibirnya.

“Saranghae Sooyoungie…” ucapku tepat sebelum dia melakukannya.

Dia sempat membeku sejenak mendengar kata-kataku sebelum memberi kecupan pada luka baru di tanganku.

“Semoga cepat sembuh…”

“Kubilang saranghae!” Aku tidak tahan lagi, aku langsung menarik kerah bajunya dan memagut bibirnya. Aku menghantamkan bibirku ke bibirnya tanpa pikir panjang. Seusai ciuman, dia menatapku dengan ekspresi yang berbeda. Lebih serius. Tidak ada lagi kelembutan di dalamnya.

“Apa mau kamu? Kamu menyuruhku datang lagi kemari kupikir karena kamu ingin aku melupakan kejadian kemarin dan tetap menginginkan aku menjadi kekasih bayaranmu seperti sebelumnya.”

Bagaimana ini? Apa yang kulakukan barusan?

Sorot matanya tajam…

Sekarang Sooyoung marah sama aku?

Air mata berkumpul di mataku, kali ini tidak bisa kutahan lagi.

“Ma-maafkan aku…” aku mengusap air mata yang jatuh ke pipiku. “Tapi aku tidak bisa memendam perasaanku seolah tidak terjadi apa-apa… karena aku mencintaimu Sooyoung…”

“………………”

“Hiks… hiks…”

“Jadi maunya sekarang gimana?”

“………………”

Ekspresi Sooyoung melunak. “Apa yang Sunny mau aku turuti deh. Tapi aku tidak bisa menjadi pacar resmi kamu kalau itu yang kamu inginkan.”

“…tidak apa-apa… begitu saja sudah cukup, tetaplah berada di sampingku.”

“Kalau begitu aku tetap jadi pacar bayaranmu?”

“Iya…”

Kalau aku menolak, kemungkinan aku tidak bisa bertemu dengan Sooyoung lagi. Aku tidak mau begitu.

“Kalau hanya dengan uang aku bisa menukar waktumu untukku seorang, maka aku rela…”

“…apa aku perlu menurunkan harga yang kuminta?”

“Kamu tidak perlu mengasihaniku… dan kamu juga tidak perlu menurunkan hargamu. Kamu istimewa. Harga kamu melebihi dari apa yang kamu minta.”

“………………”

“………………”

Tiba-tiba saja aku diangkat ke dalam gendongannya.

“Jangan nangis lagi, Sunny.”

“Mianhae…”

Sooyoung menggendongku ke luar kamar apartemen. Pintu langsung terkunci otomatis.

“Sooyoung, kita mau kemana?”

Sooyoung terus berjalan tanpa menjawabku. Sampai di depan lift.

“Tolong tekan tombol naik.”

Aku tidak mengerti tapi aku menurutinya saja. Dalam beberapa detik, lift terbuka, Sooyoung membawaku masuk.

“Sekarang tekan lantai paling atas.”

 

**

 

Kami sampai di lantai paling atas. Tempat terbuka yang dikelilingi tumbuh-tumbuhan dan bisa melihat pemandangan lampu-lampu kota yang indah. Tempatnya juga cukup gelap, cukup romantis untuk menghabiskan waktu berduaan disini.

Dia mendudukkan aku di salah satu kursi dan duduk di sebelahku.

“Kupikir kalau kesini bisa membuat perasaanmu sedikit lebih baik.”

“……………..”

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Saat duduk begini, ketinggian bahunya sangat pas untuk sandaran kepalaku.

Entah berapa lama waktu berlalu di kala kami berdua tenggelam dalam kebisuan. Bagiku seperti ini saja sudah terasa nyaman.

Saat itu ada bintang jatuh lewat.

“Wah! Lihat!”

Aku sempat melihatnya sekilas. Cepat-cepat aku memohon dalam batin.

Semoga Sooyoung juga mencintaiku… membalas perasaanku.

“Tadi ada bintang jatuh, kamu sempat lihat?”

Aku mengangguk.

“Baru kali ini aku melihatnya. Ajaib juga, padahal ini berada di tengah kota.”

“……………..”

“Kamu kedinginan?” Sooyoung menggenggam tanganku. Tanganku agak dingin. “Apa mau disudahi saja?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, ayo kita kembali ke kamarmu.” Sooyoung menggendongku lagi. Dia membawaku ke kamar dan menidurkanku.

 

**

 

Keesokan paginya aku terbangun dengan tubuh lemas.

Sepertinya aku sakit. Aku meraba kening dan leherku. Benar-benar panas.

“Terpaksa hari ini bolos kuliah.”

Aku melirik ke arah jam. Sudah jam 10.

Lagipula aku sudah terlambat 2 jam dari jam kuliah. Dan jadwal pulang kuliah berakhir sudah kurang dari 2 jam lagi. Karena hari ini masuk pagi, tapi aku bangun kesiangan.

Ini karena semalam aku hampir tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan Sooyoung. Aku hanya berpura-pura tidur supaya Sooyoung tidak merasa terbebani harus menjagaku semalam. Dan aku juga tidak ingin membebaninya dengan memintanya menginap setelah apa yang terjadi pada kami kemarin.

“Hahhh…”

Aku ingin menyerah dengan perasaan ini tapi sayangnya perasaan ini tidak bisa dihapus semudah itu.

Kupaksakan diriku untuk bangun dan menuntaskan panggilan alamku. Karena tubuhku sakit aku sama sekali tidak merasa nafsu makan. Sekarang sebaiknya aku ngapain?

“Benar juga, syal rajutanku.”

Lebih baik aku melanjutkannya saja.

Bahkan ketika kugerakkan tubuhku untuk berjongkok di depan lemari sudah membuatku lelah.

Tapi hari ulang tahun Sooyoung sudah semakin dekat, aku harus menyelesaikannya. Aku membawanya ke ranjang. Mengatur bantal-bantalku sedemikian rupa agar nyaman untuk disandari. Juga kumasukkan kakiku ke bawah selimut supaya aku tidak kedinginan. Lalu mataku tertuju pada plester-plester luka yang masih melekat di tanganku. Aku teringat sama Sooyoung yang menciumnya. Aku menempelkannya ke bibirku.

“…………….”

Kemudian kulepaskan plester-plester luka tersebut supaya tidak membuat kaku gerakan tanganku.

“Baiklah, lanjut.”

Kali ini aku akan lebih berhati-hati. Karena aku juga tidak mau kalau sampai darahku malah menodai syal yang susah payah kubuat.

 

**

 

Sore hari.

“Jadi…”

Syal rajutan pertamaku. Tapi karena ini buatan pertama, ketika dilihat secara keseluruhan ternyata hasilnya nggak rapi.

“Aish, ini sih tidak bisa diberikan padanya. Nanti dia malah malu memakainya.”

Lalu aku mencoba membuat yang kedua kalinya.

 

Third Person POV

 

Ting tong

“Itu pasti dia.”

Sunny memasukkan semuanya kembali ke dalam keranjang dan menyelipkannya di bawah kolong kasur. Saat berdiri dari kasur mendadak Sunny merasa pusing tujuh keliling. Akibat berada dalam posisi yang sama dalam jangka waktu yang lama, selain itu dia juga belum makan sejak bangun. Sunny menguatkan dirinya berjalan menuju pintu depan sambil berpegangan pada tembok. Tepat di ruang tengah dia jatuh pingsan.

Bruk

Suaranya terdengar dari luar pintu tempat Sooyoung berdiri.

“Sunny?”

Tidak ada jawaban.

Ting tong

“Sunny, kalau kamu disana jawablah.”

Tetap hening.

Mendadak Sooyoung merasa khawatir.

Cklek cklek

Sudah jelas terkunci, Sooyoung bukannya tidak menduganya. Satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan memasukkan kode angka pada alat yang terpasang di pegangan pintu. Tapi sudah jelas alat ini ada pengamannya, kalau memasukkan angkanya salah lebih dari 3 kali, maka akan otomatis memberitahu petugas keamanan yang berjaga di bawah.

 

Sooyoung POV

 

Haruskah aku minta tolong ke bawah untuk dibukain? Tapi nanti aku ditanya-tanya apa tujuanku datang kemari, kartu identitasku diminta, dan malah diperlama.

Iseng aku mencoba menekan tanggal ulang tahun Sunny.

890515

Tet!

Salah.

Lalu aku mencoba mengganti urutannya.

150589

Tet!

Salah lagi.

Hmm, memang mana mungkin ya memasukkan tanggal ulang tahun sendiri, itu terlalu berisiko karena diketahui orang banyak. Lalu apa yang mungkin? Kesempatanku tinggal 2 kali, tidak, 1 kali lagi kalau aku tidak mau memasukkan salah dan didatangi petugas keamanan.

Lalu tiba-tiba aku seperti mendapat pencerahan.

“Saranghae Sooyoungie…”

Tapi masa sih?

Aku menyipitkan mataku sambil tersenyum masam. Bahkan aku sendiri pun meragukannya. Tapi tanganku seperti bergerak sendiri. Menekan-nekan angka 900210. Kalau ini gagal aku akan minta tolong sama petugas di bawah, bilang kalau keadaannya mendesak.

Tepat setelah aku menekan angka 0.

Cklek.

Terdengar bunyi pintunya.

Heh?! Serius dia memakai tanggal ulang tahunku sebagai kode rumah?!

Aku mencoba menekan gagang pintunya ke bawah dan mendorongnya. Benar-benar terbuka!

Tapi sekarang bukan itu yang penting, aku harus memastikan keadaan Sunny.

“Sunny?” Aku mengintip ke dalam dan aku benar-benar terkejut menemukan dia terbaring di tengah lantai.

 

Third Person POV

 

Cepat-cepat Sooyoung menghambur ke sisinya sampai lupa melepas sepatunya.

“Sunny! Sunny!” panggil Sooyoung sambil mengguncang tubuhnya.

Sunny membuka matanya. “…emmh… youngie?” Dia berusaha mengangkat tubuhnya. “Kok kamu bisa masuk ke dalam…?”

Tapi dia ambruk lagi. Dengan cekatan gadis jangkung itu menangkap tubuh Sunny sebelum dia membentur lantai.

“Omo! Kamu panas sekali!”

“….haaahh…” Sunny menghembuskan nafas lelah.

Sooyoung tidak berkata lebih jauh lagi, dia langsung mengangkat tubuh Sunny dan membawanya ke dalam kamar. Sooyoung membaringkan Sunny di atas kasur dan langsung menyelimutinya. Lalu dia baru sadar kalau dia masih memakai sepatu.

“Aish…” Sooyoung menggigit bibirnya. Merasa tidak enak sudah masuk seenaknya ke dalam kamar privat Sunny memakai sepatu meski gadis itu tidak mengetahuinya.

Sooyoung segera melepasnya dan pergi ke depan untuk meletakkannya. Sekalian menutup pintu.

Sudah itu dia mencari-cari obat demam. Saat itu dia menemukan kotak P3K saat membuka-buka lemari. Tapi merek plester lukanya tidak sama dengan yang dia belikan.

“Huh? Ini bukan yang aku beli kan?”

Bahkan isi obat merahnya juga berbeda. Hanya setengahnya, sementara Sooyoung yakin waktu kemarin pakai isinya masih banyak mendekati penuh, tidak hanya segini.

Masa dia membohongiku? Tapi untuk apa juga? Pikir Sooyoung.

Sooyoung menemukan seutas benang. Padahal di antara deretan lain tidak ada barang yang berhubungan dengan itu. Tapi dia tidak begitu memusingkannya. Karena dia sudah menemukan plester demam dan obat demam. Lalu dia pergi mengambil segelas air. Saat tiba di kamar Sunny Sooyoung baru melihat obat merah dan plester luka yang dia beli kemarin, berada di tempat yang sama dengan yang dia letakkan kemarin. Di meja kamar Sunny.

“Jadi memang berbeda…”

Mana mungkin dia beli lagi. Karena obatnya sudah dipakai beberapa, jadi itu pasti sudah lama. Jadi aku memang benar dibohongin… batin Sooyoung.

Sooyoung menempelkan plester demam ke kening Sunny dengan lembut setelah menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi.

“Sunny, minum obatnya.”

“Ngg… gomawo Sooyoungie…”

Setelah menelan obatnya, Sunny meminum airnya sampai habis.

“Sunny, kamu sudah makan?”

“…belum…”

Melihat keadaan Sunny yang lemah, timbul keinginan dalam diri Sooyoung untuk merawat dan menjaganya sampai sembuh.

Sooyoung pergi ke dapur dan membuatkannya bubur. Sambil menunggu matang, Sooyoung menggunakan waktu itu untuk mengepel lantai ruang tengah Sunny. Tempat tadi dia menginjak-injaknya dengan sepatu. Sampai masuk ke dalam kamar Sunny. Ketika lagi mengepel di dekat kasur, dia menemukan sesuatu di kolong kasur Sunny.

Syal?

Sooyoung berpikir kelihatannya Sunny merajut syal. Tapi dia tidak mau mengutak-atik barang pribadi Sunny makanya dia cepat-cepat mengembalikannya ke tempat semula.

Saat Sooyoung melanjutkan mengepel mendadak dia mendapat pencerahan lain. Dia teringat luka seperti bekas tusukan yang dia tidak ketahui asal-usulnya di jari telunjuk Sunny.

Mungkinkah itu luka bekas tusukan jarum? Batin Sooyoung mengatakan seperti itu.

Setelah bersih, Sooyoung mengembalikan tongkat pel dan embernya ke tempat semula dan menunggu buburnya matang.

………………………………..

“Sunny, bangun, makanan sudah siap.”

“Nggh… aku tidak mau…”

Sunny membalikkan badan membelakangi Sooyoung.

“Kalau kamu tidak makan, tubuhmu akan semakin lemas.”

“……………..”

“Ayolah jagiya, kusuapin.”

Setelah Sooyoung berkata begitu barulah Sunny menurut. Sooyoung meniup buburnya setiap sendok sebelum menyuapkannya ke dalam mulut Sunny.

“Saranghae Sooyoung…”

“……………..”

 

Sooyoung POV

 

Lagi-lagi.

Sorotan matanya menatapku dengan cinta yang terpendam.

Entah sudah yang keberapa kalinya klienku jatuh cinta sungguhan padaku. Mereka semua menyatakan cinta padaku, tapi kutolak. Sunny disini bukan pengecualian.

Hampir 4 tahun yang lalu aku pernah berpacaran dengan klienku sendiri. Seorang yeoja, dan akhirnya aku malah diputusin olehnya dengan alasan kalau dia sudah tidak mencintaiku lagi. Sesudah itu dia pergi ke luar negeri meninggalkanku. Dan dia tidak pernah menemui atau mengontakku lagi. Sejak saat itu aku jadi kapok. Aku tidak mau lagi berpacaran dengan klienku sendiri. Aku selalu menarik batasan yang tegas dalam diriku sendiri, sehingga aku tidak pernah lagi membiarkan diriku jatuh cinta pada klienku.

“Maaf Sooyoung, lagi-lagi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutarakannya…”

Kalau begini jadinya apa aku harus kehilangan klienku lagi?

Aku tidak bisa membalas perasaan-perasaan klienku, jadi pada akhirnya aku selalu memutuskan hubungan dengan mereka. Ada yang mau mengerti dan melepaskanku. Tapi ada juga yang tidak mau memutuskan kontak dan mengejar-ngejarku. Dia terus menghubungiku sampai terpaksa aku memblokir nomornya. Bahkan sampai aku terpaksa pindah apartemen.

“Kenapa kamu mencintaiku Sunny? Sebenarnya, aku bukanlah orang yang sebaik kamu pikirkan.”

Sunny menundukkan kepalanya, kedua tangannya meremas selimut. “…aku tahu… aku tidak bisa menyangkal perkataanmu kalau mungkin aku hanya sekedar mencintai imej yang kamu buat… ”

“Benar, kamu tidak mencintai imejku yang sebenarnya. Karena itu masih belum terlambat.”

Sunny mengangkat wajahnya dan menatapku penuh tanya.

“Sebaiknya kita memutuskan kontrak saja, mumpung perasaanmu padaku belum dalam. Bukannya lebih baik sakit sedikit sekarang daripada nanti sakitnya lebih dalam?”

Matanya bersorot amat menyakitkan. Air di matanya seakan-akan bisa tumpah kapanpun.

“Mengertilah Sunny… ini demi kebaikanmu. Dengan begini kamu akan lebih cepat pulih dan merelakan. Kamu manis, jadi kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Yang bisa membalas cintamu.”

Aku sendiri tak sanggup menatap matanya. Aku berpikir aku harus segera beranjak dari sana.

 

Third Person POV

 

“Kamu tidak perlu bayar untuk hari ini, sekarang aku pamit.”

Saat Sooyoung telah beranjak dan berbalik, tiba-tiba pergelangan tangannya dipegang.

“Bisakah kita jangan putus?”

“……………..”

“Jebal… semua ini terlalu mendadak. Terlalu menyakitkan untuk bisa kuterima…”

“……………..”

“Mungkin aku memang egois dengan perasaanku. Tapi kumohon jangan tinggalkan aku… tidak dengan cara putus kontak seperti ini…”

Dalam diri Sooyoung berkecamuk. Tetap tinggal atau putus kontak. Manakah yang harus dipilihnya?

Sooyoung melepaskan tangannya dari genggaman Sunny. Seketika hati Sunny menjadi remuk.

“Andwae…”

Sunny memejamkan matanya, mencoba mengendalikan air matanya. Juga karena dia tidak sanggup menatap kepergian Sooyoung.

“Hiks… hiks… hiks…”

Sooyoung sudah berjalan keluar, tapi dia menghentikan langkahnya di depan kamarnya. Entah apa yang menghentikannya. Dia masih bisa mendengar suara isakan tangis Sunny dari dalam.

“……………..”

“Jangan nangis.”

Sunny merasakan usapan lembut di kedua pipinya. Ketika dia membuka matanya, rupanya Sooyoung yang mengusap air matanya dengan kedua ibu jarinya.

Ketika Sunny menatapnya dengan mata berkaca-kaca, Sooyoung memaksakan senyum mengasihani. “Sayang kan kalau wajah cantik begini malah nangis.”

Sunny meraih kedua tangan yang mengusap air matanya. “Sooyoungie…! Tolong jangan menghilang dari hidupku! Aku akan membayar berapapun yang kamu mau…!” ucap Sunny dengan suara serak.

Sooyoung tidak yakin apakah harus menganggap itu sebagai sesuatu yang meninggikan atau merendahkan. Tapi faktanya sekarang dia telah kembali berada di hadapan Sunny. Dan dia merasakan tangan yang menggenggamnya gemetaran.

“Iya, aku nggak pergi. Makanya jangan nangis lagi ya?”

Sooyoung menyandarkan kepala Sunny di dadanya dan mengusap-usap punggungnya.

Sunny masih menangis di dadanya.

“Sshh sshh sshh… sudahlah, sekarang kamu harus istirahat supaya sembuh.”

Mereka melepaskan pelukan mereka.

“Tapi Sooyoung nggak akan kemana-mana kan?” tanya Sunny sambil mendongak ke arahnya.

“Aku nggak akan kemana-mana.”

“Aku bisa memegang kata-katamu kan?” senyuman kecil mulai kembali muncul di wajah Sunny.

“Iya, janji.” Sooyoung mengangkat jari kelingkingnya dan Sunny mengaitkannya.

 

Sooyoung POV

 

Malamnya, aku berbaring di tempat tidur yang sama dengan Sunny, tepat di sampingnya.

Kupandangi wajah tidurnya, bibir Sunny sedikit membentuk senyuman dalam tidurnya.

Kemudian aku teringat peristiwa tadi siang.

Kenapa jadi begini?

Bahkan aku sampai menawarkan janji jari kelingking padanya. Sesuatu yang kusangka tidak akan pernah kulakukan lagi. Terakhir aku melakukannya 4 tahun yang lalu dengan gadis itu dan akhirnya malah berujung perpisahan. Yah, waktu itu aku juga masih pemula dalam bidang kekasih bayaran ini. Masih naif. Gampang terlena.

Choi Sooyoung, jangan-jangan kamu mulai terikat secara emosional pada gadis ini tanpa kamu menyadarinya?

Ah tidak, kan aku belum lama bersama dengan Sunny. Tidak seperti ketika bersama dengan gadis itu…

“…mm… Sooyoungie…”

Dasar, bahkan dalam tidurnya pun gadis ini masih menyebut namaku. Tapi wajahnya kelihatan damai.

Aku berkata supaya Sunny merelakanku. Tapi mungkin sebenarnya akulah yang harus merelakan masa laluku. Move on dari kenangan yang menyakitkan dan membuka pintu untuk kesempatan yang baru.

Tapi…

Apa benar itu pilihan yang terbaik?

Apakah meninggalkan masa lalu di belakang selalu adalah sesuatu yang seharusnya?

Bahwa kamu tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah masa lalu.

Pada akhirnya aku selalu merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku. Mengenai gadis itu…

Biarpun dia sudah berkata agar jangan mencarinya lagi. Air matanya yang bercucuran saat kami berpisah tak akan pernah bisa kulupakan.

Pada akhirnya aku cuma lari dari kenyataan. Karena aku tidak pernah bisa menerimanya…

Menerima hubungan kami yang terputus. Sama seperti Sunny yang tidak ingin aku putus kontak dengannya tadi siang.

“Marina…”

Sooyoung

Marina

Nama itu kembali terucap setelah bertahun-tahun kutepis dalam pinggiran ingatanku. Suaranya yang menyebut namaku dengan riang bergema dalam otakku. Kugigit bibirku di kala air mataku mengalir.

“Kangen… kamu dimana sekarang…”

 

Third Person POV

 

Sooyoung membalikkan punggungnya. Berusaha meredam tangisnya. Tapi Sunny terbangun.

“Sooyoung?”

“……………..”

“Kamu nangis?”

“Mianhae, bukan apa-apa. Cuma terkenang masa lalu.” Sooyoung mengelap air matanya. Tubuhnya masih tetap memunggungi Sunny.

“Kamu tidak perlu memaksakan diri.” Sunny menyandarkan kepalanya di punggung Sooyoung. Tangannya berada di pinggang Sooyoung. “Kamu boleh menumpahkan segala yang kamu pendam di hatimu di hadapanku. Biarkan aku menopangmu. Tapi kalau terlalu berat bagimu untuk menceritakannya juga tidak apa-apa. Yang penting ingatlah, kamu selalu masih punya aku untuk tempatmu bersandar…”

“…gomawo Sunny…”

Sunny merasakan tangannya yang berada di pinggang Sooyoung diremas.

 

*~To be Continued~*

 

A/N : Happy Birthday Choi Sooyoung 😛

Advertisements

Comments on: "Paid for (Chapter 3)" (38)

  1. eeeh… udahlah Soo jujur aja.. benernya dah ngerasa aja.. ma Sunny.. siapa gadis masa lalunya? next.. belon.. ultahnya besok

  2. kwonyurivers said:

    Maria siapa thor? Maria ozaw/ggg lanjut thor

  3. hennyhilda said:

    kurang 1 jam lg ultah soo jd ucapin skr ahh tkt nnt ketiduran..hepi bday choi sooyoung makin sukses bwt karir n smuanya n makin cinta m sunny hehehe :p
    Btw sp th maria?nama br lg nh kynya

  4. jung febryliu said:

    Anhyeong…

    Jiaa.. Soo rajin bnget ngepelin aprtemennya sunny.
    Maria??? Siapa tuh?? Nggak pernah denger

  5. Kimrahmahwang said:

    Maria siapa maria??nemu dimana tuh orang, bisa2nya ninggalin org sebaik sooyoung eaa wkwk
    Udahlah soo moveon aja, ada sunny tuhh. Tenang aja sunny gak kaya mantan lu itu, dia 1000kali lebih baik dari yg sebelumnya xD haha lol

  6. Maria merana di atas menara XD wakakakakak,jahat sekaliii si Maria ninggalin my baby Sooyoung,padahal Sooyoung berhati lembut selembut kue bolu /ggg. Btw thor bagi pass slave dong 😀

  7. cie siapa tuh maria thor.
    sedih bener dah si sunny punya harta banyak tp kek ga bahagia gitu mn kisah cintanya begitu

  8. ayolahh soo, akuin ajahh kalo kamu pnya perasaan yg sama ama sunny, jadian ajah sma sunny, jangan jadi pacar bayaran terusss,
    percaya deh sunny yg terbaikkk (y) 😀

  9. Bnar tebakanku lagi, password-nya pakai tanggal ulang tahun Soo. XD
    Tapi di chaptr ini Soo banyak kali yah dapat ‘pencerahan’.
    Spprti sudah diatur aja. XD
    Dan yah memang aku juga klo sakit suka kayak Sunny.
    Mau tiduran tapi bosan, akhirnya malah spanjang hari duduk diam dalam posisi yang sama (biasanya browsing).
    Ujung2nya malah jadi tambah pegal badan.
    Skalipun tetap makan sih walaupun sdikit. JAdi gak sampai pingsan bgitu lah.
    Maria? Siapa kah itu? Maksudnya di real life.
    Smpat ingatnya teman debut Soo di Jepang.
    Tapi itu kan Marina stlah dipikir2 lagi.
    Yah sudah pasti dia akan jadi orang masa lalu Soo lah.
    Trnyata mang gak smudah itu SooSun bersatu, walaupun ujung2nya aku yakin juga sih pasti. XD

  10. eoniii
    .
    FF ini nanti kira2 bakal happy ending atw gmn.?
    bikin penasaran aja
    .
    eoni updatenya jgn lama2
    .
    aqw lumutan nih nunggu nya

  11. Sorry telat ucapkan happy birthday to sooyoungie.
    Moga tubuhmu bertambah tinggi dan nafsu makan bertambah ya.

  12. khfflovers said:

    Hhahaha ada aura “loveless” nyempil di tengah2
    ya ampyuuuun kepo kepoooo
    ga sabar nunggu chap selanjutnya
    msh wait and see nih si syoo sebenernya gmn perasaannya sama si sunny
    wkwkwk
    semangka kakak! 🙂

  13. chincilla said:

    Next thor.. Msh bnyk misteri yg hrus di pecahkan ni..

  14. Ah thor… gue ngebet banget ama ff lo. Serius deh. Udah kyk bunny ngebet pengen jadian sama soo~ wkekwwek

  15. javier janetti said:

    kesian sekali sunny, aduh syoo tega nian klo campakan sunny bunny >< .. cerita nya bikin greget

  16. soneforever said:

    Sooyoung ayo trima sunny,kmu kn jga suka ma sunny.

  17. dirgaYul said:

    Ou ou ou ou.. Trnyata.. Soo yg blm bs move on?? Well..smoga akhiry mrk brsatu dehh.. Mw dong d buatin syal jg*ngarep ahaahahaa

  18. darkart said:

    aduh sunny kyk nya cinta amet ya ama soo
    ampe password rumahny aja tgl ultah soo
    ayolah soo harus move on ada sunny menantimu *cieeeee*

  19. nindz84 said:

    hmm jadi sendu gini ceritnya…
    wah soo uda mulai baper tuh…
    hmm hmm
    penasaran kelanjutannya

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: