~Thank you for your comments~

Paid for (Chapter 2)

Jam setengah 7 sore di suatu tempat di Korea Selatan.

Ting tong

Sooyoung datang! Teriak batin Sunny.

Sunny langsung menjadi lebih semangat ketika mendengar bel apartemen berbunyi. Dia langsung menghentikan aktivitas menjelajahi akun sosialnya di sofa dan pergi ke pintu depan dengan langkah sedikit melambung. Membuka pintu dengan hati antusias. Memikirkan apa yang akan disuguhkan Sooyoung hari ini. Kemarin dia bilang akan membawa kejutan.

Dia langsung disambut oleh senyum hangat gadis jangkung itu.

“Aku pulang jagiya.” Sooyoung menunduk untuk mengecup pipi Sunny.

“Jadi apa kejutan hari ini?”

“Ahaha, kamu sudah tidak sabaran ya?”

Sunny bergeser untuk mempersilakan Sooyoung masuk.

“Hehe, permisi.” Sooyoung melepas sepatunya.

“Jadi, gimana harimu?”

Satu lagi hal yang Sunny suka adalah perhatian Sooyoung pada hal-hal yang walaupun berkesan sepele tapi berasa lebih akrab. Dan juga dia tidak pernah menyinggung soal kesepakatan menjadi kekasihnya dalam suasana romantis, sehingga membuat dia terasa benar-benar seperti kekasih sungguhan.

“Ah, biasa-biasa saja, seperti kemarin.”

“Hmm, kalau aku, aku terus memikirkan Sunny. Malahan dari kemarin malam setelah aku pulang.”

“Kamu menggombal kan?^^”

“Benaran kok. Kan aku harus memikirkan kejutan untuk kekasihku. Oh ya, kamu sudah makan?”

“Sudah.”

“Baguslah, aku tidak mau kamu melewatkan makan sampai jadi sakit.”

“Tapi kalau aku sakit, kamu akan merawatku kan, Sooyoungie?”

“Pasti, tapi lebih baik kamu tetap sehat. Karena hatiku akan sakit kalau melihat kamu sakit…” Jemari Sooyoung yang lentik membelai pipi Sunny yang halus. Ucapan Sooyoung terdengar sangat tulus sampai Sunny tidak bisa meragukannya.

“Kamu biasa sebaik ini sama semua orang?”

“Hmm, kalau kubilang iya nanti kamu cemburu. Tapi kalau kubilang enggak, nanti berkesan aku bohong. Aku jadi bingung…”

Sooyoung meraih Sunny ke dalam pelukannya. “Tapi aku sayang kamu Sunny. Kamu sangat manis dan baik, syukurlah aku bisa jadi pacarmu…”

“Sooyoung…”

Sooyoung melepaskan pelukannya. “Jadi, apa kamu bisa menebak apa yang akan kuhadiahkan padamu?”

Sunny meresponnya dengan menggeleng.

“Haha, kalau bisa nanti nggak jadi kejutan namanya. Baiklah, sepertinya sudah saatnya untuk menunjukkannya padamu.”

Sooyoung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Jjang!”

Sebuah botol bening plastik dengan penutup dari kayu. Seutas pita berwarna pink terikat di leher botol, mempermanis penampilannya. Di dalam botol ada banyak sekali kertas warna-warni yang dilipat berbentuk bintang.

Mata Sunny membulat. “I-ini.”

“Ya, origami bintang, bisa juga disebut Lucky Star. Tapi ini bukan origami biasa.” Sooyoung membuka tutup botolnya dan menyodorkannya pada Sunny. “Coba kamu ambil satu lalu buka.”

“?”

Sunny mengikuti perkataan Sooyoung dan membuka dengan hati-hati salah satu bintang yang diambilnya. Di dalamya ada sebuah kalimat tertulis. Your eye smile is beautiful.

“Aku bikin sebanyak 365, supaya kamu bisa membukanya satu per satu tiap hari dalam setahun dan membaca apa yang tertulis di dalamnya. Setiap bintang kalimatnya berbeda-beda. Kalau mau tahu apa yang kutulis, cari tahu saja sendiri ya,” kata Sooyoung sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Semua ini… masa sih… kamu bikin semuanya dalam sehari?!”

“Kenapa? Kaget?”

“Ke-kenapa kamu repot-repot?!”

“Karena kalau hanya bikin 12 untuk tiap bulan, Sunny nggak akan kaget kan?” Sooyoung merong. “Kalau nggak kaget bukan kejutan namanya!”

“Tapi kan nggak mesti sebanyak ini… kamu kan cukup bikin 30 untuk satu bulan saja…”

“Tapi aku ingin menyenangkan Sunny karena Sunny pacarku.”

“Pabo… lihat matamu, kamu kurang tidur gara-gara bikin ini ya?” Sunny merasa iba ketika dia melihat kantung matanya hitam. Sunny mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Sooyoung.

Sooyoung menyentuh tangan yang mengelus pipinya. “Tapi kamu senang kan?”

“Bagaimana aku bisa tidak senang? A-aku cinta kamu Sooyoung…”

“Sunny…”

Sooyoung melihat mata Sunny berair.

“Ahaha, kenapa aku malah jadi menangis. Mungkin karena aku terharu? Baru kali ini aku menerima hadiah tangan yang begitu luar biasa.”

Sooyoung meletakkan botolnya di meja terdekat. Kemudian dia mencium mata Sunny sambil menggenggam tangan Sunny dengan kedua tangannya supaya dia berhenti menangis.

Sunny POV

Bagaimana ini… rasanya aku semakin menyukai Sooyoung.

Aku sangat mengidamkan kekasih seperti dirinya. Aku memeluk tubuhnya erat-erat dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Malam ini jangan pergi kemana-mana. Tetaplah di sisiku.”

Sesaat aku khawatir Sooyoung akan menolak ketika dia melepas pelukanku dengan lembut.

“Iya, jagiya.” Dia menyunggingkan senyum padaku. Dan tiba-tiba saja aku digendong di kedua tangannya. Lalu aku di bawa ke kamar dan dibaringkan ke kasur.

“Sooyoung?” tanyaku tidak mengerti apa yang ingin dilakukannya.

“Berbaringlah sebentar sambil menunggu, aku akan menyiapkan sesuatu.”

Saat dia berjalan keluar kamar, dia memadamkan lampunya. Sekelilingku langsung menjadi gelap gulita.

Apa yang mau dia lakukan pakai gelap-gelapan?

Kupejamkan mataku sambil aku menunggunya.

Masa sih dia ingin berhubungan intim? Omo!

Ah tidak, aku berpikir berlebihan. Sooyoung kan hanya kekasih bayaran, mana mungkin dia berbuat sampai sejauh itu.

“………………”

Tapi bukan tidak mungkin kan?

Bagaimana ini kalau beneran terjadi? Kyaaaa! Tubuhku belum siap!

Tenang Sunny! Jangan berpikir kotor dulu.

Aku mendengar lagu instrumental yang lembut dari balik pintu. Lalu terdengar suara pintu terbuka, aku membuka mataku dan langsung bertemu dengan banyak cahaya lilin. Sepertinya Sooyoung membawa gelas-gelas lilin dengan nampan. Apa itu juga yang di samping lilin? Baskom?

Aku berpindah ke posisi duduk dan melihat dia meletakkan MP3 speaker mini berwarna pink di atas meja. Alunan musik instrumental yang lembut mengalir dari benda itu. Kemudian dia juga berjongkok dan meletakkan lilin-lilin di sudut-sudut kamar. Sehingga kamarku sekarang tampak bercahaya redup yang membangkitkan nuansa romantis.

Sesudah itu dia berjalan ke sampingku.

“Sunny, maukah kamu melepas bajumu?”

DEG!

“Soo-Sooyoung, kamu mau apa?” tanyaku dengan suara terbata dan jantung berdegup kencang.

Dari penerangan kamar yang remang, aku masih bisa melihat senyum tersungging di wajahnya.

“Percayalah padaku, Sunny.”

Melihat senyum itu aku tidak bisa berkata tidak. Sooyoung seperti mempunyai pesona yang membuatku sukar menolaknya. Aku ingin mempercayainya.

Aku melepaskan baju atasku. Aku sedikit malu karena ini pertama kalinya aku bertelanjang di hadapannya.

“Cu-cukup lepas atasan?”

“Iya, sekarang tengkuraplah.”

Kurasakan Sooyoung berpindah posisi ke atasku. Dia setengah menduduki pahaku.

“Ini servis spesial untuk Sunny tercinta.”

Kemudian aku merasakan dia menggosok dan menekan punggung bawahku dengan lembut. Tangannya hangat sekali, membuatku terbuai oleh rasa nyaman.

Aku menoleh ke samping ke tempat baskom itu berada. Baskom itu mengeluarkan uap, sepertinya itu air hangat. Kulihat ada sebotol minyak untuk pijat diletakkan di dalam baskom air hangat itu. Sepertinya tadi dia juga mencelupkan tangannya ke dalam baskom itu sebelum menyentuh punggungku.

Jadi rupanya Sooyoung ingin memberiku pijatan.

“Gimana? Apakah rasanya nyaman?”

“Sepertinya aku bisa ketagihan…”

Dan aku tidak bohong. Tingkat rasa nyaman ini melebihi dari apa yang kuminta.

Aku bisa merasakan pijatannya merayap naik menyentuh kaitan braku, lalu jari-jarinya menyusup mengusap bagian bawah kaitan bra tanpa membuatku terusik sama sekali. Lalu dia juga memijat punggung atasku dan turun kembali.

Bukan hanya telingaku yang dimanjakan oleh alunan musik yang lembut. Aroma wangi yang menenangkan juga menerpa hidungku. Mungkinkah ini wangi lilin aroma terapi?

“Gelas lilin dan MP3 speaker mini itu kamu bawa sendiri?”

“Iya, kamu kaget juga?”

“Kamu benar-benar penuh dengan kejutan.”

Aku memejamkan mata untuk menikmati kepuasan ini. Bahkan jika Sooyoung sekarang memintaku untuk membayar dua kali, ah tidak, tiga kali lipat untuk servis spesialnya pun aku tidak akan ragu untuk membayarnya. Karena perlakuannya padaku memang membuatnya layak mendapatkannya. Aku merasa disayang.

Saking nyamannya sampai mataku mulai terasa berat. Saat itu Sooyoung menyudahinya di saat yang tepat.

“Jangan pergi…”

Di tengah rasa kantukku yang melanda, aku masih sempat memohon padanya sambil menarik ujung lengan bajunya.

“Aku hanya akan membereskan ini, aku akan kembali sesaat lagi, ne jagiya?”

“…kutunggu…”

Lagu dari MP3nya dimatikan, lalu dia membereskan gelas-gelas lilinnya.

Aku menjaga diriku agar tidak terlelap sepenuhnya. Aku belum mau tidur sebelum yakin dia akan berada di sisiku semalaman.

Beberapa menit setelahnya, Sooyoung kembali sesuai janjinya. Dia berbaring di sebelahku dalam kegelapan dan aku langsung meringkuk ke tubuhnya. Dia mengelus rambutku.

“Selamat tidur, Sunny.”

Mendengar dia menyebut namaku sesaat sebelum tidur dan sebuah kecupan hangat di keningku membuat tidurku sangat indah malam itu. Dan dia sungguh-sungguh tidur di sisiku sampai besok pagi.

Third Person POV

Sunny masih melamun membayangkan pengalaman romantis kemarin.

“Hellooo~ Moshi moshiiii~ Ciao ciaooo~ Busy busy~ pagi-pagi sudah melamun saja,” kata Tiffany sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Sunny.

“Oh, Fany ah.”

“Ada sesuatu yang bagus terjadi sama kamu?”

“Iya.” Sunny bertopang dagu di atas kedua tangannya sambil menyentuh pipinya. “Semalam Youngie romantis banget…”

“Youngie?” Tiffany menaikkan sebelah alis.

“Choi Sooyoung.”

“Sorot matamu seperti dimabuk cinta, jangan bilang kamu benar-benar jatuh hati sama dia.”

“Habisnya dia tuh perfect banget. Rasanya aku ingin memintanya menjadi kekasihku sungguhan.”

“Hmm Sunny Sunny, kuharap kamu tidak patah hati jatuh cinta pada orang seperti Sooyoung.”

“Apa kamu berpikir aku benar-benar tidak punya kesempatan? 1% pun?”

“Kalau kamu benar-benar menunjukkan keseriusanmu pada dia, bisa saja dia malah kabur.”

“Tapi kalau aku belum bayar dia, masa dia berani kabur?”

“Entahlah, mungkin kamu menilainya berlebihan, Sunny ah. Bisa saja sifat Sooyoung yang sebenarnya tidak sepenuhnya seperti yang kamu imajinasikan.”

**

Sunny POV

Aku tidak mau percaya semua yang Sooyoung lakukan padaku itu fake. Walau mungkin ada yang akting untuk memuaskan klien, aku ingin mempercayai sebagiannya adalah tulus. Begitu yang kupikirkan saat membuka bintang-bintang hadiahnya kemarin. Kalau tidak, mana mungkin dia akan menghabiskan waktu sebanyak ini untuk membuatkan 365 bintang.

I love the shape of your lips. So sexy.

Aku senyum-senyum ketika membacanya. Biarpun seharusnya jatahnya sehari satu, tapi aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mengintip isi tulisan di bintang yang lain. Ada yang memakai bahasa inggris, dan ada juga yang berbahasa korea.

You’re a nice size to hug.

You’re so cute, Sunny bunny^^

Lalu aku jadi kepikiran. Kenapa hanya aku terus yang mendapatkan? Bukannya tidak ada salahnya kalau aku juga memberi hadiah yang spesial buat Sooyoung?

Hadiah buatan tangan, itu pasti lebih berasa spesial. Seperti bintang-bintang buatan Sooyoung ini.

Lebih baik jangan hadiah yang sama, tapi apa ya?

Saat itu pandangan mataku bertubrukan pada syal berwarna biru keabuan dari wol milikku.

Benar juga! Kenapa aku tidak membuatkannya syal rajutan tanganku sendiri? Kalau benar-benar niat aku pasti bisa membuatnya.

Hehe, dengan begitu aku juga bisa sekalian menghangatkan lehernya di kala musim dingin.

Baiklah, aku harus beli buku tutorialnya dan bahan-bahan yang diperlukan.

Tentu saja aku akan merahasiakan ini dari Sooyoung sampai syalnya jadi.

Segera aku mengganti pakaian dan pergi ke toko buku untuk mencari buku tutorial.

“Ah, ada!”

Segera aku membelinya dan langsung membaca bahan-bahan apa saja yang diperlukan dan pergi membelinya.

**

Third Person POV

Sorenya, Sunny sedang berlatih merajut setelah membaca tahap-tahap dasar dari buku tutorialnya.

“Ini, terus begini. Apo!”

Jari telunjuk kirinya tertusuk jarum.

“Jangan menyerah,” katanya memberi dorongan pada dirinya sendiri sambil mengemut darah di jarinya.

Ting tong

“Aish, sudah waktunya ya?”

Sunny memasukkan rajutannya yang belum jadi ke dalam setumpuk keranjang berisi benang dan peralatan lainnya. Sunny menyimpannya ke dalam lemari. Lalu dia segera ke pintu depan.

Cklek

“Kangen aku?” Sooyoung menampakkan senyum khasnya yang menunjukkan pipi chubbynya.

“Kangen~” kata Sunny sambil memajukan bibirnya.

“Hehe, imutnya,” Sooyoung mencolek pipi Sunny. “Tapi maaf, hari ini aku nggak bawa kejutan.”

“Yaahhhhhhh…”

“Tapi bercanda, aku bawa bahan-bahan nih.” Sooyoung mengangkat sedikit plastik berisi bahan-bahan makanan untuk mengarahkan perhatian Sunny kesana. “Akan kumasakkan sesuatu buat makan malam, makanya aku datang setengah jam lebih awal, hehe.”

“Yeeeeeeee^^”

“Jadi hari ini ngapain saja?” tanya Sooyoung sambil melepas sepatunya.

“Hmm, ada saja deh.” Sunny senyum-senyum sendiri memikirkan syal rajutannya.

Sooyoung berjalan ke dapur dan memakai celemek punya Sunny.

“Apa yang akan kamu masak?”

“Spaghetti. Mudah-mudahan kamu suka karena ada pakai kerang.” Sooyoung mengambil panci dan mulai mengisinya dengan air.

Sunny menatap punggung gadis jangkung itu dari belakang. Merasakan perasaan yang begitu besar padanya.

“Sooyoung…”

“Hmm?”

“Kamu itu spesial, tahu nggak?”

Sooyoung tertawa kecil, “Haha, apa sih tiba-tiba. Tunggulah di ruang tengah selagi aku masak.”

“Aku ingin melihatmu memasak.”

Sooyoung menoleh dan tersenyum. “Mau kuajarin?”

Jadi akhirnya, Sooyoung mengajari tiap tahap memasak spaghettinya pada Sunny. Tapi Sunny lebih terpesona olehnya daripada mendengarkan. Dan ini tidak terlewatkan oleh pengamatan Sooyoung.

Sooyoung menyandarkan dahinya di atas kepala Sunny. “Kamu mendengarkan tidak sih?” godanya sambil tersenyum.

Paras Sunny sedikit merona karena ketahuan. Sekaligus terkagum dengan pembawaan Sooyoung yang begitu percaya diri.

“Apa perlu kucatatkan langkah-langkah memasaknya padamu? Hahaha.”

Mata Sunny tertuju pada daerah pinggang Sooyoung. Sunny mencolek pinggangnya dengan jari telunjuknya.

“Haha, kamu ngapain?”

Sunny mencoleknya beberapa kali lagi.

“Ahaha, hentikan ah, geli.” Sooyoung berpaling dan menangkap tangan yang terus mencoleknya. Saat itu Sooyoung menyadari luka di jari Sunny. Kelihatannya masih baru.

“Eh, kamu terluka Sunny?”

“A-ah.”

Sunny baru teringat kalau dia tertusuk jarum pas merajut tadi. Dia belum mengobatinya, hanya diemut saja.

Sooyoung langsung mematikan kompor listriknya dan menggandeng tangan Sunny ke ruang tengah.

“Tidak apa-apa Sooyoungie, cuma luka kecil saja. Aku sendiri bahkan lupa kalau aku terluka.”

“Biarpun kamu hampir tidak merasakannya, tapi tetap saja harus diobati, karena takutnya nanti jadi infeksi.”

Sooyoung mendudukkan Sunny di atas sofa.

“Obatnya ada dimana?”

“Em, di lemari…” kata-katanya terputus karena Sunny baru menyadari kalau dia menyimpan keranjang rajutannya di lemari yang sama dengan dia menyimpan kotak P3Knya.

“Jadi di lemari mana?” Sooyoung mulai membuka beberapa lemari. Jantung Sunny berdebar lebih cepat ketika Sooyoung sudah sangat dekat dengan lemari tempat dia menyimpan rajutannya.

“Eh itu, habis!” seru Sunny berbohong. Sebenarnya dia tidak ingin berbohong, tapi dia sudah terikut-ikut oleh perkataan Sooyoung mengenai ‘Kalau nggak kaget bukan kejutan namanya’

“Kenapa nggak bilang dari tadi?”

Sooyoung menutup lemarinya dan menjauh dari sana. Sunny merasa lega karena rahasianya aman.

“Ma-maaf, soalnya tadi lupa kalau sudah habis.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan membelinya di apotik atau mini market terdekat.”

“Tidak usah repot-repot, Sooyoung,” kata Sunny merasa sedikit tidak enak akibat kebohongannya.

“Tidak boleh begitu, kamu harus punya obat pertolongan pertama untuk jaga-jaga kalau ada keadaan darurat.” Sooyoung melepas celemeknya dan memakai kembali jaketnya. “Aku tidak akan lama.”

Pintu tertutup dan terdengar suara kakinya melangkah menjauh. Dan kemudian apartemen kembali sunyi.

Sunny menghembuskan nafas panjang. Lalu dia beranjak dari sofanya dan mengeluarkan keranjang berisi syal rajutannya.

“Mianhae aku membohongimu…”

Lalu Sunny memindahkannya ke tempat lain yang lebih aman, di lemari pakaiannya.

“Tapi kenapa dia harus selembut itu, kalau begini debaran ini jadi tidak bisa kuhentikan…”

Belasan menit kemudian, Sooyoung telah kembali dan jari telunjuk kiri Sunny yang terluka langsung diobatinya. Selama diobati, Sunny terus memandang wajah Sooyoung. Sesekali hanya mengalihkan pandangannya ke jarinya yang diobati. Jantungnya berdebar dengan ritme yang sedikit lebih cepat, tapi dia merasa nyaman.

Selesai dibungkus dengan plester luka, Sooyoung menanamkan ciuman di atas plesternya.

“Semoga cepat sembuh.”

Setelah itu Sooyoung menyadari tatapan Sunny padanya. “Kenapa?”

“Ah ani, cuma baru pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini.” Sunny buru-buru menunduk untuk menyembunyikan senyum malu-malunya.

Sooyoung tersenyum lembut dan menggenggam tangannya. “Kamu suka? Waktu kecil dulu, Umma selalu melakukan hal seperti itu waktu aku nangis supaya sakitnya cepat hilang. Kurasa kasih sayang itu diperlukan ketika mengobati luka seseorang supaya sakitnya cepat sembuh.”

“………………” kediaman Sunny menyimpan sejuta perasaan yang tidak sanggup diungkapkannya.

“Oh iya, hampir lupa sama masakannya. Kamu tunggu saja ya.” Sooyoung mengedipkan sebelah matanya dan beranjak ke dapur.

Sunny mengangkat tangannya ke depan dadanya. Tangan kanannya membungkus jari telunjuk kirinya yang terbalut plester luka. Sunny memejamkan matanya erat-erat dan menggigit bibirnya.

Bagaimana ini? Aku semakin ingin Sooyoung…

**

Kami berdua sudah selesai menyantap spaghetti buatan Sooyoung.

“Gimana? Apakah rasanya enak?”

“Enak sampai ke suapan terakhir…”

“Hehe, baguslah kalau begitu.”

Aku meraih tangan Sooyoung yang berada di atas meja.

“Sooyoungie…”

“Hmm?”

“Jadilah pacarku…”

Mulanya Sooyoung melongo mendengar perkataanku, tapi dua detik berikutnya dia kembali tersenyum.

“Bicara apa sih kamu? Aku kan memang sudah pacarmu.”

Aku menggeleng dan sekarang menggenggam tangan Sooyoung dengan kedua tanganku. “Tidak, bukan sebagai pacar bayaran, tapi menjadi pacarku yang sesungguhnya.”

“…………….” Dia kelihatan tenang, tapi kediamannya membuatku susah bertahan pada keinginanku. Bila sorotan matanya mampu berbicara, aku positif seratus persen dia hendak menolakku.

“A-ahaha, begitu ya, kamu tidak bisa?” Aku melepaskan tangannya dan menarik tanganku. Rasanya sangat berat saat melepaskannya.

“Maaf… aku tidak seharusnya mengajukan permintaan aneh…”

Air mataku rasanya hampir tak terbendung lagi. Aku langsung beranjak dari kursi, menimbulkan bunyi deritan pada lantai. Lalu aku setengah berlari ke kamar mandi. Di dalam sana aku menumpahkan air mataku sambil berusaha meredam suara tangisku.

Tok

Terdengar suara ketukan di pintu.

“Sunny, kamu baik-baik saja?”

Aku cepat-cepat menyeka air mataku dan menelan.

“Ne, aku nggak apa-apa,” jawabku tanpa membuka pintu.

Mudah-mudahan suaraku tidak kentara seperti habis menangis.

“Mianhae Sooyoungie, mendadak aku merasa sakit perut. Bisakah hari ini kamu pulang saja? Ta-tapi besok tetap datang seperti biasanya.”

“……………..”

“……………..” aku ikutan diam menunggu reaksinya.

“Baiklah, jaga dirimu, Sunny.”

Aku bersandar di depan pintu, menenangkan jantungku yang berdebar menyakitkan. Dari dalam aku mendengar dia membereskan peralatan makan, lalu membawanya ke dapur. Aku tak berani keluar.

Sudah itu beberapa menit kemudian, aku mendengar suara pintu apartemenku tertutup. Sudah itu tidak terdengar suara lagi di dalam kamar apartemenku.

Aku merosot jatuh ke lantai dan melanjutkan tangisanku.

“Hiks… Sooyoung…”

“Aku menyukaimu…”

“Aku mencintaimu…”

Begitu terus kataku berulang-ulang seperti orang bodoh.

*~To be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Paid for (Chapter 2)" (29)

  1. Tinggalin jejak dulu.

    • Memang mau dibaca brapa kali pun juga, image Soo yang biasanya konyol di real life n sbagian bsar FF, klo jadi romantis bgini agak trasa aneh.
      Dan Sunny di sini juga entah mngapa trlihat agak ‘lemah’ klo mnurutku.
      Mungkin kurang smangatnya.
      Yah sudah bisa diduga sih klo bakalan jatuh cnta bnaran n nembak Soo.
      Yang blum bisa ditebak adalah jalan crita slanjutnya, akan dngan cara apa mrka brsatu?
      Bnarkah hanya dngan syal yang dirajut olh Sunny dngan setulus hati itu bisa menghubungkan mrka pada akhirnya?
      Just let see.

  2. kyril fadillah said:

    sunny sudah bener2 jatuh cinta pada sooyoung dan sudah menyatakannya langsung tapi ga ada jawaban
    lanjut lagi thor penasaran apa jawaban youngi atas pertanyaan sunny

  3. penasaran ama perasaan youngie.. dia suka ama sunny juga gak ya..??

  4. Huu.. kasian Sunny.. tpkan Soo blm jwb.. jd pnsrn Soo bkl jwb apa.. Next

  5. hennyhilda said:

    Penasaran sbnrnya pa yg da dpikiran soo ttg sunny.pa dy sk jg pa g krn perhatiannya bnr2 lembut bgt sprt kekasih sungguhan..hayo lohh

  6. Huuaaa Sunny Bunny ku kasian): tapi kaya nya enak dipijitin Sooyoung,mau juga dong:3

  7. yess ahh sunny udah minta soo jadi pacar sungguhannya,gmna jawabanya sooyoung yahh?
    semoga mau deh, sooyoung sweet bangett.

  8. beninsooyoungsters said:

    wah baru tau ada FF ini 😦 pairing SooSun lagi kyaaaah 😀
    wah Sooyoungie lu terlalu susah untuk di tebak
    hwaiting Sunny-ah!! kejar terus Sooyoungnya!!

  9. jung febryliu said:

    Anyeong….

    Ahhh… Mkin penasaran sma sooyoung nihh, cpet2 update yah 😀

  10. Rachmalia said:

    Soooyyooouuunngg!!!!
    Sebenernya perasaan Soo sama Sunny tuh gimana sih??? Bingung 😐
    Lanjut thor….. 🙂

  11. khfflovers said:

    Kepooooo banget sama sooyoung pov
    lanjut kaaaak! Udah kepo banget nih
    hehehe

    Btw aku jd pengen dipijet juga kyk gtu
    huhuhu

  12. Kimrahmahwang said:

    Padahal cuma pacar bayaran tapi sooyoung bertindak udah kaya pacar asli. Niat banget bikin 365 bintang dalam sehari…

    Semoga aja emang sooyoung beneran ada perasaan sama sunny biar sunny gak bertepuk sebelah tangan. Pasti bakalan lebih cute lagi kalo pacaran beneran bukan bayaran xD

  13. Ah….. sedih… kesian bunny…..

  14. sooyoung sweet bener bikin 365 bintang.
    wah pengen nyoba

  15. ceritanya bagus huhuhu, aku ga pernah mikir konsep kayak ff ini padahal simple tapi baguus :’v apalagi sunny yang kesemsem sama sooyoung (karena kalo rl sunny playgirl sana sini/? :’v)
    kapan ada sooyoung pov/? eh tapi nanti ketauan isi hati sooyoung juga ya jadi ga penasaran lagi yaa :’v semangat eon, jangan lama-lama/? :’v

  16. Lilis alawiyah said:

    Wahh wahh kayanya yang bkal agak gemees dehh, soo nya agak misterius. Perlakuannya itu loh khusus ataw umum.

    D tunggu only u.

  17. chincilla said:

    Gk nyngka sooyoung bisa romantis kek gitu.. Kkk

  18. javier janetti said:

    itu sooyoung romantis pake banget, pantes aja sunny makin2 .. makin seru aja nih ><

  19. soneforever said:

    Sooyoung ayo trima sunny,klau kmu nolak nnti nyesel loh.

  20. tumben soo bisa romantis kaya gitu, biasanya kan romantis ya sama makanan
    to jangan2 cuma peran ya aja sebagai pacar bayaran

  21. dirgaYul said:

    Hikshikshiks.. cinta datang begitu saja.. Terima dong Soo cintay Sunny. Jangan bkin Sunny nangis..

  22. darkart said:

    ya ampun sedih amat ya jd sunny huhuhu…
    kenapa mencintai seseorang hingga semenyedihkan itu ya hiks…

  23. nindz84 said:

    soo romantis juga ternyata..hehehehe
    aduh…sunny..cup.cup..jadi nangis gini….

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: