~Thank you for your comments~

Wishing Well (Chapter 1)

Chapter 1 : The Fox and The Bunny

Seekor rubah sedang mematai seekor kelinci berwarna coklat yang sedang memakan buah cranberry. Sudah beberapa menit rubah itu mengawasi mangsanya dengan sabar. Menunggu momen yang tepat sambil melangkah semakin dekat tanpa disadari oleh makhluk mungil itu. Telinga kelinci itu berdiri, tampaknya menangkap sinyal bahaya mendekat. Kemudian kelinci itu berlari dan langsung dikejar oleh sang rubah.

 

**

 

Nafasku memburu disertai dengan kakiku yang mulai terasa lelah. Tapi aku tidak boleh berhenti berlari, sebab predator itu masih terus mengejarku dengan gigi taringnya yang tajam. Kalau aku sampai tertangkap, cakar dan giginya yang tajam itu akan mencabik-cabik tubuhku. Maka kupaksakan paru-paru dan kakiku, mengeluarkan batas maksimal yang tak pernah kubayangkan. Sambil terus berlari melewati hutan belantara, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Aku masih bisa mendengar suaranya dari belakang. Jantungku was-was akan seberapa dekatnya jarak rubah yang mengejarku. Tapi aku tak punya waktu untuk menoleh ke belakang. Dan tidak ada siapa pun yang akan menolongku. Di dunia yang kejam nan cantik ini aku harus berlari sendirian. Untuk melindungi diriku.

Tiba-tiba hujan turun deras. Dengan cepat aku menikung dan bersembunyi di balik semak-semak. Hujan adalah berkat. Karena bau hujan telah menyapu bau tubuhku, membuat bauku menjadi samar pada indera penciumannya. Dan setelah beberapa kali menoleh mencari-cari tanda keberadaanku dia pun berbalik pergi.

Aku menengadah menatap langit yang sekarang sudah mulai gelap. Setetes hujan turun membutakan mataku sekejap. Setelah mengedip-ngedipkan mata beberapa kali, air hujan itu mengalir turun dari mataku.

Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Seluruh keluargaku musnah dimangsa oleh hewan buas yang bahkan tak kuketahui wujudnya, karena mereka tidak pernah pulang ke rumah. Dan baru saja kebetulan aku berhasil lolos dari rubah. Mungkin tidak lama lagi aku pun akan jadi salah satu pelengkap dalam rantai makanan. Tapi tidak, aku tidak mau berakhir dimakan oleh predator. Aku harus mencari tempat berlindung dari hujan. Tapi tiba-tiba tubuhku ambruk dan badanku terasa panas. Apakah aku akan segera mati? Tapi padahal aku masih belum mau mati…

 

**

Kurasakan tubuhku berayun-ayun. Bagian atas leherku sedikit sakit. Aku membuka mataku. Ternyata aku sedang digondol oleh seekor makhluk yang lebih besar dariku. Sepertinya makhluk yang tadinya mengejarku. Dia meletakkanku di tanah. Aku melihat makhluk itu meneteskan air liurnya. Dia akan segera memakanku. Tapi badanku masih panas, aku tak punya tenaga untuk berlari lagi. Aku tidak punya pilihan lain selain memelas padanya.

“Kumohon jangan makan aku, rubah…” pintaku sambil menangis.

“Aku harus makan, sudah seharian ini aku tidak mendapatkan buruan. Aku lapar.”

Dia membuka mulutnya hendak menggigitku. Mati dengan daging tercabik-cabik rasanya pasti akan sakit sekali!

 

**

 

Kelinci yang akhirnya berhasil kutangkap dengan susah payah ini terus menangis ketika aku hendak menggigitnya.

Ck! Padahal kelihatannya enak, tapi kalau tiap kali dia menangis begini aku jadi merasa seperti makhluk jahat. Padahal sebagai rubah seharusnya kelinci ini memang mangsaku. Tapi sekarang yang terjadi nafsu makanku turun mendengar tangisannya.

“Kalau kamu tidak memakanku, aku janji. Suatu saat aku pasti akan membalas budi padamu.”

Membalas budi? Memangnya apa yang bisa dilakukan seekor kelinci untuk membalas budi pada rubah?

“Karena itu kumohon… jangan makan aku…” ucapnya memelas dengan bercucuran air mata.

“Cih! Ya sudah sana cepat pergi! Merusak nafsu makanku saja!”

“Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku… aku sedang sakit…”

“Hah! Ya sudah sesuka kamulah!”

Aku berjalan pergi meninggalkannya. Kelinci itu masih terdiam disana, masih menangis. Suaranya terdengar memilukan.

Memang seharusnya kumakan dari tadi, huh!

“…………….”

Tapi katanya dia sedang sakit. Perasaanku bercampur aduk.

Aku berjalan kembali ke hadapannya.

“Kamu memutuskan akan memakanku…? Baiklah… baiklah… makan saja aku bila itu bisa mengeyangkanmu. Tapi kumohon langsung matikan aku secara instan supaya aku tidak merasakan sakit…”

“……………..”

“Seperti tembus saja otakku atau jantungku supaya aku langsung mati…”

Aku menggondolnya dan membawanya menuju sarangku. Aku meletakkan kelinci itu di tengah-tengah rerumputan dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Badannya hangat sekali. Sepertinya dia memang benar sakit.

“Huh? Kukira kamu akan memakanku?”

“Sudah jangan banyak cerewet, tidur saja. Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak akan memakanmu. Selamat malam.”

Akhirnya aku melakukan hal-hal yang sama sekali tidak pernah kusangka akan kulakukan. Aku malah tidur bersama dengan mangsaku.

 

**

 

Terdengar suara kicauan burung pertanda hari sudah pagi. Aku membuka mataku. Badanku sudah tidak terasa panas lagi. Mungkin karena dia menghangatkan tubuhku semalaman? Aku masih sedikit tidak percaya kalau tubuhku masih utuh. Dia benar-benar tidak memakanku? Padahal katanya kemarin dia belum makan seharian. Aku merasa terharu. Tidak kusangka aku akan bertemu dengan seekor predator yang baik hati.

Lalu kulihat dia membuka matanya.

“Pagi.” Aku tersenyum padanya.

“Huh, kamu masih disini? Cepatlah pergi.”

“Tidak, aku sudah bilang akan membalas budimu kan?”

“Huh, kalau kamu ingin membalas budi sekarang cepat carikan aku makanan. Badanku terasa sangat lemas untuk digerakkan saking laparnya.”

“Baiklah akan kucarikan, tunggu sebentar.”

Dia berjalan pergi.

 

**

 

Huh, apa yang kupikirkan. Masa aku malah meminta tolong seekor kelinci untuk mencarikanku makanan. Mana mungkin dia bisa mendapatkan daging untukku.

Tidak lama kemudian dia kembali. Dan benar firasatku. Dia kembali dengan membawa daun besar berisi cranberry. Aku sama sekali tak terhibur walau dia tampak menggemaskan karena membawakannya dengan kedua tangannya.

“Masa kamu serius menyuruh aku makan cranberry.”

“Eh? Tapi ini enak lho.”

“Sudahlah, kamu makan saja itu.”

Aku memaksa tubuhku untuk bangun. Kemudian aku mencari sumber air untuk minum lebih dulu. Aku minum di tepi sungai. Setelah aku puas minum aku baru sadar kalau ternyata kelinci itu masih mengikutiku.

“Sebaiknya kamu menjauh dariku sebelum aku ingin memakanmu lagi.”

“Tapi aku belum membalas budi.”

“Ck!”

“Sudahlah, lupakan omong kosong balas budi itu.”

Aku pergi berburu dan berhasil menangkap seekor ayam liar dan memakannya. Sambil memakan aku bertanya-tanya dalam batin. Huh, kenapa aku bisa berbelas kasihan pada kelinci itu. Padahal aku bisa memakan ayam ini dengan tanpa perasaan.

Setelah kenyang, aku kembali ke sarang ternyata kelinci itu masih berada disana. Kali ini dengan sarang penuh dengan buah-buahan kecil dan sayuran.

“Kamu, apa yang kamu lakukan?!”

“Ah, sudah pulang? Lihat aku membawakan banyak makanan.”

“Aku tidak bisa memakan semua ini! Aku mau daging!”

“Kenapa tidak? Kamu bahkan belum pernah mencobanya kan? Cobalah, enak kok.”

Lalu dia memakan kubis dengan nikmat. Sampai berbunyi kruk kruk begitu. Seolah-olah kalau dia berbuat begitu, aku akan tergoda untuk mencobanya.

“Ck, seenaknya saja.”

“Setidaknya cobalah buah-buahan yang kubawa. Rasa manis, kamu pasti suka.”

Kulihat ada kombinasi warna biru, hitam, dan merah. Blueberry, blackberry, cranberry, strawberry, dan raspberry. Hee~ hebat juga dia bisa mengumpulkan semua ini. Meski kelihatannya tidak enak, tapi kalau dipikir-pikir dia membawakan ini semua untukku. Dan apa yang dikatakannya benar, aku bahkan belum pernah mencoba memakan mereka.

Mulanya aku mengendus semua jenis buah itu, kemudian mencoba menggigit satu buah blueberry. Rasanya manis. Lalu aku mencoba menggigit strawberry. Rasanya kecut. Aku kembali memakan blueberry, tapi ternyata yang kumakan kali ini rasanya kecut, berbeda dengan sebelumnya. Perpaduan rasa ini membuatku tertarik untuk mencoba memakannya lebih banyak lagi. Dan tanpa kusadari ternyata aku memakan hampir semuanya. Dia tersenyum melihatku.

“Gimana? Mengejutkan enak kan?”

“Hmm, mungkin.”

“Kok mungkin sih? Enak kok.”

“Tetap saja favoritku adalah daging. Tapi kurasa ini lumayan buat pencuci mulut.”

Dia tersenyum memperlihatkan gigi-giginya. Ternyata kelinci ini manis juga. Mendadak aku jadi malu. “Yah, kurasa nggak buruk juga.”

 

**

 

Sejak hari itu, aku mulai hidup berdua bersama dengan kelinci ini. Dengan mengejutkan aku tidak lagi merasa sendirian. Dan aku juga mulai perlahan-lahan berubah menjadi vegetarian.

“Ngomong-ngomong siapa namamu? Daripada aku terus memanggilmu rubah.”

“Nama?”

“Iya, sesuatu yang manusia gunakan untuk memanggil satu sama lain.”

“Hmm.”

“Kalau namaku Sunny. Ibu kandungku memberiku nama ini mengambil dari nama matahari dan kelinci.”

“Aku nggak punya nama. Aku sudah ditinggal sendirian sebelum Ibuku sempat memberiku nama.”

“Kalau begitu mau kuberikan nama untukmu?”

“Terserah.”

“Hmm… gimana kalau Sooyoung?”

“Kenapa Sooyoung?”

“Karena kamu tampaknya masih muda? Hehe, bercanda. Tapi karena sekarang lagi musim panas, Summer, jadi kurasa cocok.”

“Ya sudah.”

“Kamu tidak menyukainya?”

“Tidak, aku menyukainya, kurasa bagus juga.” Tak kusangka aku tersenyum padanya. Sepertinya aku mulai menyukai kehadirannya.

“Baiklah, mulai sekarang namamu Sooyoung. Cobalah panggil namaku.”

“Ngg, Su-nny?”

“Ne, Sooyoung.”

Lebih dari aku. Dia justru yang tampak sangat senang.

Tiba-tiba aku mencium hawa bahaya. Aku langsung menjadi waspada.

“Sooyoung?”

“Grrrrrrrrrhhh!!”

Seekor serigala mendekat dari balik semak-semak. Aku tahu dia pasti mengincar Sunny. Aku berdiri di atas Sunny, menundukkan kepala dan menunjukkan aura permusuhan pada serigala itu.

Dia mematai kami selama beberapa saat. Tampaknya berusaha mencari celah kalau aku lengah. Akhirnya setelah menunjukkan selama beberapa saat kalau aku tidak akan membiarkannya mengambil Sunny, dia pun menyerah dan berjalan pergi. Setelah sosoknya tak kelihatan lagi.

“Sooyoung…”

Aku melihat matanya berair. Dia pasti sangat ketakutan.

Aku menjilat pipinya.

Tenanglah, aku pasti akan melindungimu dari hewan buas lain. Karena kamu temanku yang berharga.

Walau aku tidak mengucapkan kalimat itu padanya dan hanya terus menjilat tubuhnya. Ini jilatan kasih sayang. Bukan hawa nafsu ingin memakannya.

“Terima kasih…” ucapnya menahan haru.

“Sebaiknya kita pulang. Berbahaya kalau berkeliaran di sekitar sini. Ada kemungkinan serigala itu masih bersembunyi di dekat sini.”

“Iya.”

 

**

 

Guntur menggelegar. Tampaknya hari ini pun akan hujan lagi. Padahal kemarin baru saja hujan seharian. Kami berada di dalam sarang gua seperti biasa. Untung gua ini kedap air.

“Sooyoung, aku kedinginan, maukah kamu merapat padaku?”

Walau aku sudah melapisi tempat tidur dengan rumput baru tapi tampaknya itu tidak cukup. Tubuhnya kelihatan menggigil. Tanpa membalas kata-katanya, aku melakukannya.

“Apakah sudah lebih hangat?”

“Ne…”

“………………..”

“………………..”

“Di saat begini, kadang aku berpikir. Andaikan saja kita manusia…”

“Sooyoung…”

“Yah, tapi itu nggak mungkin kan.”

“Kamu mau jadi manusia?”

“Eh? Yah, sebenarnya sejak 3 tahun yang lalu aku ingin sekali menjadi manusia.”

“Kenapa kamu ingin menjadi manusia?”

“3 tahun yang lalu, waktu itu aku masih bayi. Saat sedang berkeliaran di hutan aku terluka karena terjepit perangkap yang dibuat oleh manusia. Saat itu ada seorang pemuda yang menyelamatkanku setelah mendengar tangisanku. Dia tampaknya sangat terluka melihat aku tersakiti karena ulah manusia. Kemudian dia mengobatiku selama 3 hari di rumahnya dan meminta maaf dan setelah itu membebaskanku kembali ke hutan. Karena itu rasanya aku ingin sekali menjadi manusia dan menemui pemuda itu untuk mengucapkan terima kasih.”

“Sooyoung…”

“………………..”

“Mungkinkah kamu jatuh hati pada pemuda itu?”

“Hah? Ma-masa?”

“Lihat, kamu bahkan tergagap begitu.”

“A-ah, sudah ah, ayo tidur!”

“………………..”

 

**

 

Keesokan harinya. Setelah makan pagi dan minum, Sunny mengusulkan Sooyoung mengikutinya ke suatu tempat.

“Sunny, sebenarnya kita mau kemana?”

“Sudahlah, ikut saja dulu. Nanti kujelaskan.”

Akhirnya Sooyoung mengikuti Sunny tanpa berkata apa-apa. Sunny membawanya menuju pinggiran hutan, dekat dengan desa manusia tapi masih merupakan bagian dari hutan. Disana ada tempat terbuka yang luas, dan di tengah-tengah itu ada sebuah sumur.

“Su-sumur? Sebenarnya kita mau apa kesini?”

“Kamu tahu apa itu Wishing Well?”

“Hah?”

Advertisements

Comments on: "Wishing Well (Chapter 1)" (40)

  1. Kimrahmahwang said:

    Fabel ya ternyata, hebat binatang nya bisa ngomong._.
    Sooyoung manis juga, walaupun keliatan dari luar garang tapi kalo sama sunny jadi hangat gitu eaa
    Pemuda yg nolongin syo siapa??next chapterr

  2. Tinggalin jejak dulu.

    • Hmmm… Sebenarnya pas baca ada bunny lagi, langsung ingatnya FF ‘Sunny Bunny’ yang waktu itu.
      Tapi knapa Soo jadi rubah? Rubah itu kan identik dengan penipu dan licik.
      Mndingan skalian aja Soo yang jadi serigalanya.
      Trus itu klo mang Soo lapar, ngapain juga Sunny pakai digondol dulu?
      Langsung makan di tempat aja (klo bgitu jadi gak ada critanya yah?) -_-
      Trus ini critanya tar mrka bakalan jadi manusia yah?
      Tapi si namja manusia-nya kayaknya baik hati.
      Klo orang baik hati jadi peran pihak ketiga, kadang berasa kasihan juga.
      Yah semoga aja happy ending buat semuanya deh. XD
      Twist ending: Trnyata yang makan alias membunuh orang tua Sunny adalah Soo. -_-
      #Brcanda.

      • Yah memang karena kangen ff Sunny Bunny, jd Sunny jadi kelinci lagi hahaha XD
        Bukannya memang imej Soo cocok jd rubah betina? *ditabok Sooyoung*

        Kurasa biasa kalau binatang menggondol makanannya dulu untuk dibawa ke tmpt yg lbh aman untuk memakannya 😛

        Haha jd inget kalau Sunny sendiri pernah dimakan sm ortu Soo di ff Sunny Bunny

  3. Jadi ngebayangin gimana serigala sma kelinci hidup bareng kyk gitu. Soo so sweetttttt….

  4. wahhhh authornya comeback, 😀
    akhirnya buat ff soosun lagi,
    wahh rubah sama krlinci bisa deket yaahh,
    lanjut lgi thor, berharap mereka jadi manusia 😀
    lanjut lagi tborrr 😉

  5. Aaahhh soo baik banget sih ga sampe makan sunny dan lebih milih hidup bersama

  6. Aiishh bisa bayangin Sunny nyari makan buat Soo,unyu banget pasti XD

  7. jadi rubaaah? kalo jadi jerapah, cinta terlarang di kebun binatang// :”D
    lucu ya kalo ceritanya hewan gitu, keliatan masih imut imut bukan gadis dewasa/? bagus eonn, setidaknya ff ini keliatan lebih rapi dan berwarna/? :”D jadi orang ketiganya laki laki/?

    • Kalau jerapah agak susah karena Soo ketinggian wkwkwk

      kalau di kebun binatang kurang seru dan kurang liar(?) #plak XD
      Mereka sudah dewasa kok, sbg hewan 😛
      Ya, namja

  8. khfflovers said:

    Huaaa bayanginnya berasa unyu2 gimana gitu hehehe
    jangan2 mreka ke sumur trus minta permohonan jadi manusia trus ntar syoo bingung mau milih sunny apa namja itu wkwk
    Tapi ga bisa bayangin aja rubah vegetarian hohoho

  9. Yeee…..,Soosun….
    I love soosun,next chap udh jd manusia kan????
    klo udh jd manusia nanti soo jgn nyakitin sunny yha…..!!!

  10. hennyhilda said:

    Wahhh ff yg ngegemesin ky sunny 😀
    pertemanan yg aneh antara rubah n kelinci n mungkin jg bz jd cinta nantinya hihihi *g sbr nungguin momen mereka yg tnp sadar tlh jatuh cinta hahahaha 😀

  11. Ahh manisnya rubah dan kelinci berteman. Rubah itu licik, jangan jangan pada akhirnya sooyoung jadi makan sunny. Sunny ngapain ngajak sooyoung ke wishing well? Mau berubah jadi manusia, dan mencari manusia yang udah nolong dia dan akhirnya jatuh cinta deh

  12. hay thor salam kenal… saya reader baru.
    sunny ngegemisin saat ngikuti rubah kemana pun, tp gk kebayabg sooyoung jd rubanya.

  13. Untung Syo rubah ya bukan serigala, coba kalo Syo serigala mungkin pas jadi manusia dia bisa di katakan Cantik-Cantik Serigala, entar saingan sama lagi Ganteng-Ganteng Serigala (?) wkwkwk

  14. beninsooyoungsters said:

    Weeeh SooSun jadi binatang hahahaha unyuuuu :3
    menarik euy ceritanya diiilanjut ya author yang baik 🙂

  15. Seharusnya jadi jerapah mengingat kaki sooyoung super panjang hehehe. Tp mana bisa jerapah makan daging.
    Terus terus lanjut

  16. Rachmalia said:

    ngebayangin SooSun jadi hewan gimana ya?
    bingung sendiri hehe 😀
    Tapi, rubah Soo baik gak mau makan bunny Sun
    Baru tau kalo rubah bisa jadi vegetarian. hehehe

  17. Mr.Silent Reader said:

    What does the fox say ? kkk~, bagus thor ceritanya ^^ oh ya thor ff yang Horror party itu masih ada kelanjutannyakah ? hehehe…di tunggu kelanjutannya

  18. weeee snsd jadi hewan. agak risih ngebayanginnya, tapi kalo cukup imajinasi, mayanlah buat penghibur hari-hari libur. mereka bakal jadi manusiakah? ga kebayang deh dari dua spesies berbeda ;p ditunggu thor!

  19. blue ocean said:

    Ya ampun thor ffmu publish bny buaanggeettt seneng deehhh 🙂
    Mulai yg plg baru dl deh utk memulai lmbaran baru hehehe..

    Love this pairing ♥♥♥
    Aaa aq tau tu pasti mreka jd manusia khaann ???
    Smua strategimu sdh trbaca author hohohoho #ahjuma laugh#
    Tp ne so sweet bnget nich mana ada pemangsa menyayangi mangsanya.. sama kyk istilah
    The lion loves the lamb

    • Yah sudah lbh dr 3 tahun soalnya
      Dan lagi dulu2 jaman lg semangat nulis ff dan lg banyak wktu luang

      Haha entar kalau mulai baru malah kelamaan nunggu updateannya 😛

      Yah itu sudah jelas, tp blm bisa nebak endingnya kan? ^^

  20. Febylia Lie said:

    Wahh soo mulia sekali hatimu mau melepaskan mangsamj Dan menjadikan mangsamu sahabatmu.. Kerenn.. Ngebayangin soon melindungi sunny Dari srigala.. He he lanjutkan thor

  21. nih kaya film rama ya thor, cuma bedanya klo rama kan mang aslinya tp klo ini kebalikannya

  22. dirgaYul said:

    Jangaaannn tinggalin Sunny bunny doongg.. akuu gak relaaa huhuhu..

  23. dirgaYul said:

    Jangaaannn tinggalin Sunny bunny doongg.. akuu gak relaaa huhuhu.. Nangis dkit td ngbayangin “rubah”lindungin”kelinci” dari serigala..

  24. Kim/Choi said:

    Nice story (y)
    Betul” kagum sama kakak Author. Bisa dapat cerita kayak gini, keren bangetttttttttt…….
    Lanjutkan Thor. Aku harap ceritanya berakhir bahagia 😀 Karena aku SooSunatic, sama kayak Author 😀

  25. Weh rubah ama kelinci bisa deket gitu
    Sooyoung senantiasa menjaga sunny bunny sampai kapan pun kok hehe

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: