~Thank you for your comments~

A/N : Hai hai, gimana kabar readers? Basa-basi #plak
Jujur akhir-akhir ini minat menulis ff lagi berkurang. Karena ide stuck, cerita kurang seru, gampang bosan, dan lagi banyak kerjaan (sok sibuk) #plak lagi

Ya sudah, cuma sekedar menyampaikan curhat singkat saja.

Lalu untuk awal chapter ini jangan kaget ya karena genrenya 18+ 😛

Lalu tentu saja tiap scene diambil per shot dalam pengambilan film, cuma sudah males jelasin haha
Lalu cerita dalam film sebagian besar diambil dari cerita lamaku di fictionpress.

Enjoy~

“Bagaimana? Kamu menyukai pekerjaan barumu sebagai artis film?”
“……………..”
“Tidak ada reaksi ya.”
“Sangat parah,” kata Sunny sambil meremas lengannya sendiri.
“Tapi dari yang kulihat kamu sangat menikmati berinteraksi dengan yeoja bernama Choi Sooyoung itu. Kulihat dia bahkan sering menemani kamu pulang dari klub.”
“Itu nggak ada hubungannya. Dia sendiri yang punya kemauan, bukan berarti aku menyukai tindakannya.”
“Menurut rumor yang beredar katanya Choi Sooyoung menerima peranan pemeran utama demi biaya operasi Appanya. Hemm, ini menarik.”
“Ini nggak ada hubungannya dengan Sooyoung!”
“Wah wah, jadi kamu membelanya?”
“!” Sunny menggigit bibir dan meremas lengannya lebih erat lagi. “A-aku tidak membelanya…”
“Benarkah? Tapi kelihatannya kamu sangat menikmati memerankan adegan seksual bersama dengannya dalam film itu. Jangan bilang kamu mulai jatuh hati sama gadis itu?”
DEG!
“Kamu harus dihukum.”
Sunny menjadi takut.
“Kemari.”
Tubuh Sunny gemetar.
“Kubilang kemari!”
Sunny berjalan takut-takut mendekati yeoja itu.
“Lepaskan seluruh bajumu dan berbaring di kasur.”
Sunny melepaskan seluruh bajunya dengan tangan gemetar dan gerakan slow motion. Lalu berbaring di atas ranjang dengan setengah hati. Sementara yeoja itu tersenyum menikmati seluruh tindak tanduk Sunny.
“Bagus, begitulah Sunnyku.”
Gadis itu meraih sebuah dildo dari laci mejanya, lalu sebuah botol berisi cairan pelumas. Dia menuangkan isinya ke dildo, lalu duduk di dekat Sunny.
“Buka kakimu yang lebar.”
Sunny memejamkan kedua matanya, sudah menyadari sepenuhnya nasib apa yang sebentar lagi akan menghampirinya. Dia melebarkan pahanya.
Yeoja itu menyeringai. Lalu menyodokkan dildo itu dengan kasar ke dalam milik Sunny.
“Akhhh!”
Punggung Sunny tersentak kaget.
Yeoja itu menggerakkan dildonya keluar masuk.
“Uhh…! Ahh…!” Jari jemari Sunny meremas seprai kuat-kuat.
“Bagaimana rasanya? Lebih enak daripada melakukannya sama Sooyoung kan?”
Di saat nama gadis itu kembali disebut, Sunny jadi teringat sosok Sooyoung yang ramah. Dia ingin menangis, tapi ditahannya karena tidak mau terlihat lemah.
“Ahhh… ahhh… ahhh…!”
“Lihat kamu menikmatinya. Kamu benar-benar yeoja nakal. Pecandu seks!”
Sunny merasa terhina, tapi memang tidak bisa membohongi kalau tubuhnya menikmati seks yang cukup kasar ini, walau batinnya tidak menginginkannya. Dan memang Sunny tidak akan menyangkal kalau yeoja ini yang telah membuatnya mudah terangsang seperti ini.
“Ayo lihat kamu kuat sampai berapa menit.”
Yeoja itu mempercepat gerakan tangannya.
Tubuh Sunny bergetar hebat di saat dia mencapai klimaks. Dia terkulai lemas. Nafasnya memburu. Keringat mulai terbentuk di tubuhnya.
“Masih belum.”
Yeoja itu terus tanpa ampun menggerak-gerakkan dildonya keluar masuk tanpa mempedulikan tubuh Sunny yang masih sensitif sehabis klimaks.
“!”
“Ahh, Sunny yang pasrah benar-benar seksi…” ujarnya dengan nafas memburu. “Desahkan namaku, Sunny,” katanya sambil menghujamkan dildo itu dalam-dalam ke Sunny.
Sunny merasa ngilu karena ujung dildonya masuk terlalu dalam, serasa menyentuh rahimnya.
“Hyo-Hyomin…”
“Bagus, ini sebagai hadiahnya.” Hyomin membuat gerakan memutar seperti bor, sampai Sunny merasa seperti diaduk-aduk.
“Ahhhh!”
“Fufufu, nikmat kan?”
Malam itu Sunny dibuat klimaks sampai 4 kali. Pada klimaks yang keempat Sunny sudah merasa sangat kecapekan sampai-sampai tidak merasakan apa-apa lagi setelah itu.
“Lho? Sudah cuma segitu saja? Payah. Ya sudahlah, lagian nggak seru mempermainkan yeoja yang sudah tak berdaya.”
Dia melempar dildonya ke kasur lalu meninggalkan Sunny begitu saja. Sunny pun ketiduran setelah merasa sangat lelah.

**

Keesokan harinya.

“Sedikit lagi, film ini akan selesai. Semuanya hwaiting!”
“Hwaiting!” ujar seluruh kru kompakan.

Sooyoung tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis pendek yang berdiri di depannya. Dalam hati terus bertanya-tanya apa gerangan yang membuat mata cantik itu tampak sendu hari ini.
“Sunny, kamu nggak enak badan? Kalau kamu lagi sakit mendingan minta sisa syuting hari ini dibatalkan saja.”
“Gwenchana…” jawab Sunny tanpa memandang ke arah Sooyoung.
Saat itu muncul desakan untuk memeluk Sunny dalam diri Sooyoung. Tapi dia berusaha menahan perasaan itu karena tinggal beberapa detik lagi pengambilan gambar dimulai.
Sooyoung mengulurkan tangannya untuk Sunny gandeng. Dan Sunny menggandengnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Action!”

Sooyoung dan Sunny berjalan sambil bergandengan tangan di pantai.
Tidak banyak yang mereka bicarakan, keduanya hanya berjalan berdampingan di sepanjang tepi pantai.
Ombak menyapu jejak sepatu mereka.
Sooyoung mengajak Sunny turun ke karang-karang yang agak menjorok ke arah laut. Sooyoung sempat teringat tempat ini persis ketika dia terjatuh ke laut dan pertama kalinya bertemu dengan Sunny. Perasaan nostalgia menyelusup hatinya. Dia juga bertanya-tanya apakah Sunny merasakan hal yang sama dalam hatinya.
Mereka duduk disana menikmati pemandangan yang indah. Lama keduanya terdiam. Angin laut membuat rambut mereka berkibar-kibar.
“Baiklah sekarang aku akan bicara yang manis-manis supaya kamu dimabuk cinta!” ujar Sooyoung.
“Heh?” tanya Sunny heran dengan sikap Sooyoung yang tiba-tiba.
“Es krim, coklat, permen kapas, kue, donat…”
“Chankaman Sooyoung, itu hanya nama-nama manisan, itu nggak sama dengan bicara manis.” Sunny mulai tertawa.
“Oh benarkah?” Sooyoung ikut tertawa.
Ketika tawa mereka pelan-pelan mulai mereda, mereka baru menyadari betapa dekatnya wajah mereka.
Tiba-tiba angin bertiup kencang dari belakang Sunny.
“Kyaaaa!”
Rambutnya jadi agak berantakan. “Uuhh…”
“Haha.” Sooyoung tertawa kecil dan kemudian membantu Sunny menyelipkan rambutnya di belakang telinganya.
Pada saat itu secara alami bibir Sooyoung menyentuh bibirnya. Mereka ciuman.
“Sunny, kita masih bisa bertemu lagi kan…?” ucap Sooyoung lirih usai berciuman.
“Kita akan bertemu lagi.”

Matahari sudah mulai tenggelam.
“Ayo, kita pulang.” Sunny bangkit berdiri.
“…………….” Sooyoung menarik ujung baju Sunny. “Aku masih ingin lebih lama bersamamu…”
“Sooyoung, aku juga… tapi sudah mau gelap, sebaiknya kita pulang.”
Sooyoung menggeleng.
“Aku nggak mau! Aku nggak mau pisah denganmu Sunny! Kamu tidak tau betapa tersiksanya aku tidak bertemu denganmu sehari saja!”
“Sooyoung…”
“Membayangkan kamu hanya berduaan saja dengan laki-laki itu, lama-lama kamu akan menyerah dan akhirnya tidur bersamanya…” jari jemari Sooyoung meremas batu-batu karang di bawahnya dengan geram tapi matanya tidak mau berhenti meneteskan air mata.
“Sooyoung!” Sunny meremas lengannya. “Kan sudah kubilang aku tidak pernah tidur dengannya! Aku menolak tidur bersamanya!” Sunny mengatupkan rahangnya menahan marah.
“Tapi mau sampai kapan…? Tidak mungkin kamu bisa terus beralasan…” ekspresi marah Sooyoung perlahan-lahan mulai berubah menjadi kesakitan.
Sunny segera memeluk Sooyoung. Kemudian dia memejamkan matanya erat-erat dan berkata “Tolong jangan sebut-sebut dia… selama kita bersama, aku ingin melupakannya sejenak…”
Sooyoung menangis. “Kalau…”
Sooyoung membenamkan wajahnya ke bahu Sunny. “Aku nggak bisa memilikimu, jangan jadi milik orang lain! Sunny ah!”
“Iya…” ucap Sunny sambil mengigit bibirnya untuk meredam sedikit sakit hatinya. “Aku nggak akan jadi milik siapa-siapa… demi Sooyoung…”
Sooyoung menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku Sooyoung, aku sudah melukaimu…”

“Apakah ini takdir kita…?” tangis Sooyoung dalam hati.
“Di antara kita terbentang jurang yang tak mungkin diseberangi?”

Dengan enggan akhirnya mereka pun berjalan pulang ke rumah. Mereka sengaja tidak naik kendaraan agar bisa lebih lama berduaan, tapi ternyata itu bukan pilihan yang tepat.

Saat itu sedang sepi, dan tahu-tahu sudah ada tiga orang laki-laki yang mengelilingi mereka. Tampang mereka sangar-sangar malah ada juga yang memiliki bekas luka yang besar di wajahnya. Dan mereka sudah terpojok tidak bisa lari lagi.
“Harta atau nyawa?” tanyanya dengan nada mengancam.
Sunny tidak berbicara apa-apa, dia hanya menyerahkan dompetnya. Sementara Sooyoung sudah gemetar ketakutan.
Salah seorang dari mereka merenggut dompet Sunny dengan kasar dari tangannya. Dia tersenyum menyeringai dan temannya mulai tertawa.
Ketika pria dengan bekas luka itu menatap Sunny dua kali mendadak keinginannya berubah.
“Kamu manis juga.”
Dia menatap Sunny dengan bernafsu. Lalu memegang tangannya.
“Lepaskan!”

Dan sekarang adalah adegan yang menentukan. Sutradara memberi instruksi-instruksi pada Sooyoung dan Sunny beserta pemain lainnya yang terlibat. Sebelum pengambilan gambar dilanjutkan.

Sooyoung tertegun melihat pria itu menarik Sunny dan Sunny tampaknya tidak berdaya melawannya.
Sooyoung langsung cepat bertindak.
“Hyaaaaahhh!”
Sooyoung pura-pura memukul pria itu sekuat tenaga. Lalu setelah itu melayangkan pukulan bertubi-tubi padanya sambil berkata.
“Sunny cepat lari!”
Tapi Sunny tidak mau hanya kabur seorang diri saja. Dia juga ingin melindungi Sooyoung.
Sunny mengambil sebuah tongkat yang tergeletak begitu saja untuk dijadikan senjata.
Tapi saat baru mau mengayunkan tongkatnya, perutnya tertusuk pisau.
“Akh!”
“Sunnyyyyyyyyy!” Sooyoung memekik histeris ketika melihat darah membasahi perut Sunny.
Kemudian para perampok itu lari tunggang langgang takut ada yang datang.
Sunny menjatuhkan tongkatnya lalu jatuh berlutut sambil memegangi perutnya. Parasnya mengerut kesakitan.
“Sunny!”
Cepat-cepat Sooyoung memeluknya lalu mengambil HPnya dan menelepon ambulans dengan suara panik.
“Sunny! Bertahanlah…!” teriak Sooyoung sambil berurai air mata.
“Uhh… Sooyoung…” ucap Sunny lirih.
“Maaf Sunny. Ini gara-gara aku! Andaikan aku tidak memaksa kita pulang dengan berjalan kaki!”
“Bukan… ini pasti hukuman untukku…”
“Eh…?”
“Karena telah membuatmu menderita…” Sunny berhenti sebentar untuk menarik nafas yang terasa sesak. “Juga… tidak memperjuangkan perasaan kita…”
Sooyoung terdiam menatap Sunny. Dalam scene ini nantinya akan diisi suara batin.
“Sunny menyalahkan dirinya atas pernikahannya…?”

“Sooyoungie… kau pernah bilang… kalau kau tidak bisa menggapaiku… justru… aku yang selalu merasa seperti itu…”
“Sunny! Sudah jangan bicara lagi…!” tangis Sooyoung putus asa. Dari tadi dia melihat Sunny kesakitan, tapi masih tetap memaksakan diri untuk berbicara.
Karena ambulans belum juga datang, dia sudah mau berteriak memanggil bantuan, tapi Sunny menutup mulutnya.
Nafas Sunny mulai terengah-engah. “Tidak perlu… aku hanya ingin mati… dalam pelukanmu… bukan di rumah sa…kit…” sambil berkata begitu Sunny mengerenyit kesakitan.
“Sunny!” jerit Sooyoung sambil menggenggam erat tangan Sunny, dari tadi tubuhnya sudah gemetar karena syok. Dadanya terasa sakit.
‘Tidak! Aku tidak percaya ini!’ jeritnya dalam hati.
“Sunny! Aku lebih baik mati bersamamu daripada ditinggal mati olehmu!” Sooyoung menempelkan pipinya ke wajah Sunny sambil menangis. “Kita akan selalu bersama, kita sudah janji…”
Sunny tersenyum. “Aku mencintaimu, Sooyoung…”
Saat Sunny berkata begitu rasanya darahnya seperti berdesir.
“Aku juga! Aku sangat sangat mencintaimu Sunny!” teriak Sooyoung keras-keras, supaya Sunny yang hampir kehilangan kesadaran itu bisa mendengarnya.
Setelah mendengar suara Sooyoung untuk yang terakhir kalinya, Sunny menghembuskan nafas terakhirnya. Tangannya tergeletak. Matanya terpejam, lalu tidak bergerak lagi.
“A-aa…” Suara Sooyoung bergetar. Sooyoung tiba-tiba meremas dadanya dan merasa sangat kesakitan. Penyakit jantung yang pernah dideritanya sewaktu kecil kembali kumat. Padahal waktu remaja dokter mendiagnosis kalau dia sudah sembuh.
Sooyoung ambruk disisi Sunny. Dan ambulans yang baru datang itu akhirnya membawa tubuh Sunny dan melarikan Sooyoung ke rumah sakit.
Sooyoung hanya bisa berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan pasrah. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya benar-benar terasa seperti mau pergi meninggalkan dunia ini.
“Sunny…” di sisa-sisa hidupnya yang terakhir, dia masih mengingat Sunny. Seluruh kenangannya bersama dengan Sunny terputar ulang dalam otaknya seperti sebuah film. Dimulai dari pertemuannya yang secara tak sengaja di kampus.
“Aku… akan menyusulmu sekarang…” sesudah berkata itu Sooyoung menutup mata untuk selama-lamanya. Mesin pendeteksi detak jantung pun berbunyi nyaring.

Demikianlah, akhirnya film itu berakhir.
Semua kru bersorak merayakannya.
Sutradara tersenyum puas menatap Sooyoung yang masih meratapi perannya.
“Filmnya sudah selesai, kamu sudah boleh berhenti menangis sekarang.”
“Aku tahu.” Sooyoung tersenyum dibalik air matanya “Cuma rasanya sangat sedih. Karena mereka berdua harus meninggal di akhir cerita setelah semua yang telah mereka lalui bersama.”
“Ya, apa boleh buat. Saya sendiri juga menyayangkannya, tapi setidaknya film ini berhasil diperankan dengan baik berkat kamu dan Sunny.”
Sutradara memberikan Sooyoung sapu tangan.
“Kamsahamnida.”
“Ya, sisanya nanti tinggal bagian dubbingmu.” Katanya sambil menepuk bahu Sooyoung.
Setelah mengelap air matanya, Sooyoung mencari-cari sosok Sunny tapi dia tidak menemukannya.
“Permisi, apakah ada yang melihat Sunny?”
“Entahlah, mungkin sudah pulang?”
“Oh, tadi aku melihat Sunny pergi ke lantai atas rumah sakit ini.”

**

Sunny menatap langit malam.
“Tenang sekali… rasanya aku juga ingin segera tenang…”
Sunny melepas sepatunya. Lalu berjalan ke ujung bangunan.

☆~To Be Continued~☆

Advertisements

Comments on: "Heart’s Desire (Chapter 4)" (38)

  1. beninsooyoungsters said:

    jangan bilang kalo Sunny mau bunuh diri? andwaaaeeeee!!!
    lagian Hyomin ini siapa sih kok nyebelin banget jadi setan eh maksud gue orang wkwk
    Sooyoung bener2 jatuh cinta sama Sunny nih kayaknya kyaaaak !!! *heboh sendiri*

  2. hyomin member t-ara….tapi kenapa harus jadi antagonis 😥

  3. akhirnyaaaa di post juga, setelah nunggu berabad-abad *digamparAuthor*
    andweeee, sunny mau ngapain ituuu? jangan sampe bunuh dirriiii,
    hyomin itu siapa? kok kayanya berkuasa banget atas sunny, wahh jangan2 hyomin bakal bkin ribet hubungan soosun nih,
    sunny bner2 udag pnya rasa juga nih ama sooyoung 😀
    lanjutt lagi thor, tp jangan lama2 yakkk 😀
    penasaran tingkat akut nihh 😀

  4. wah sunny bunuh diri. kita turun ke lantai bawah utk bersiap2 tangkap sunny dg kasur (?)

  5. ah , ada sunbyung couple , huhuhu #tangisbahagia
    tp hyomin nya jdi jahat -_-
    eh , itu si soonkyu mau bunuh diri

  6. jung febryliu said:

    apa sih hbungan sunny sma hyomin…. smpai sunny nggak ngelak waktu di sksa sma hyomin..
    filmnya nggak happy ending yahh.. kasian banget mati bersama demi cinta..tapi ff bakal happy ending kan thor??

  7. Kyaaaaaa…….,ko’ hyomin tiba” nongol shi?
    Sunny mo bunuh diri yha?
    lompat aj bunny,aq siap menangkapmu
    #plak

  8. Reader kwon said:

    Yah yah yah itu sunny mau kemana ,dan jangn bilang mau bunuh diri..? Andwee

    Thor kapan author lanjutin ff yang love pain and happiness?

  9. hjohnbossanova said:

    hehe aduh kok bersambung lagi… maaf nih lama baru comment. asyik ceritanya moment tiap adegan juga dapat,

    masalah Sunny belum dijelasin ya.

  10. Kimrahmahwang said:

    Hyomin kejam banget ewh, hyomin nya dibikin masuk penjara atau mati aja gitu-,-
    Sunny mau ngapain ke ujung bangunan??pls jangan bunuh diri, entar sooyoung gimana u.u

  11. Lilis alawiyah said:

    Alur nya kcepetan. Tpi bagus cerita nya. Hmm jjang.

  12. bagian sunny sama hyominnya kurang 😬 kurang sadis 😱 wahahahaha /kabur
    partnya panjangin eon/? hyomin nya ketemu sooyoung terus rebutan/? tapi ribet juga ya/? next chap jangan lama-lama eon :”D

  13. jgn bilang sunny mau bunuh diri? sunny cuma kuat 4 ronde doank,lagi donk sunny #plakkk hahaa

  14. Wahh chinggu masukin unsur BDSM
    Hubungan sunny sm hyomin menarik kykny
    Ditunggu lanjutan ny ya
    😀

  15. hennyhilda said:

    Aishhh sp it hyomin??bqn gr2 j ngerusak hub soosun n maksa sunny bhub intim grrr #cari tali bwt gantung th org dpohon toge
    sooyoung yg udh jth cinta jd lbh menghayati perannya
    ehhh tp sunny mw ngapain th bk sepatu pk d atap segala.nnt km jth syg #alamak keceplosan saya hahahaha 😀
    bnr2 g sbr bwt kelanjutannya
    semangat author
    ganbatte

  16. Febylia Lie said:

    hyomin ganas..
    tapi aku suka membayangkan wajah sunny yg pasrah seperti itu..
    ahh.. *brb mau nyari yoona*
    gak suka kalau sunny jadi jabs* thor ><
    tapiaku suka membayangkan sunny yg sensual wkwkwk *readers labil*
    ditunggu next chapnya ya

  17. yah syutingnya udah selese , sunny masih lanjut dong sama sooyoung

  18. Rachmalia said:

    Gak nyangka kalo itu Hyomin O.o
    Yahh… masa Sunny mau bunuh diri?…
    nanti Sooyoung gimana?

  19. What?? Jangan loncat bunnyyyy!!!!

  20. Eonnie lanjutttttttttttttt

    Maaf cuma bisa coment disini karena keasyikan sama storynya >:):):)

  21. Lanjutin dong thorrr penasaran parahhhhhh

  22. dirgaYul said:

    Bantaaaii Hyomiiinn!!!*kabuuurr

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: