~Thank you for your comments~

A/N : Setelah dipikir-pikir, akhirnya ff ini melebihi 3 chapter. Supaya tidak terkesan buru-buru juga πŸ™‚
Mengingat ff ini bertema mature, jadi reader harus tahu diri sendiri. Segala akibat negatif dari membaca ff bukan tanggung jawab author.

Happy readingβ˜†

Sejauh ini akting kami tidak mengalami masalah yang berarti. Sunny bisa memerankan peranannya dengan sangat baik, begitu juga denganku.
Akting menangisnya hebat, hampir seperti dia bisa mengeluarkan air matanya dengan mudah. Bukan bermaksud menghina tapi awalnya kukira keahlian nomor satunya hanya dirty dancing. Aku memang harus mengubah pandanganku padanya. Gadis ini sangat menarik, dan juga manis…

**

Akhirnya Sunny pun dinikahkan dengan seorang namja pengusaha kaya yang lebih tua beberapa tahun darinya.
Tapi sehari setelah pernikahan, Sooyoung dan Sunny diam-diam melakukan sebuah pertemuan rahasia.
Begitu bertemu keduanya langsung berpelukan saling melepas rindu.
Sooyoung membelai-belai rambut Sunny dalam pelukannya.
“Aku jadi merasa berdosa telah mengajakmu bertemu diam-diam seperti ini.”
“Tidak, aku sendiri yang menginginkannya.”

Sooyoung POV

Setelah ini aku mengusap air matanya dengan kedua tanganku, menatapnya dalam-dalam lalu kiss…
“Jangan nangis lagi, Sunny.”
Chu~
Pertama kucium keningnya, lalu turun ke matanya dan terakhir menuju bibirnya. Kupejamkan kedua mataku dan mengulum bibir Sunny.
Aku bisa merasakan tangannya meremas bajuku di pinggang.
Bibir yang lembut. Bibir yang menyelamatkanku ketika aku berhenti bernafas.
DEG!

“Cut! Bagus Sooyoung! Tak kusangka ini improvisasi yang bagus. Berasa lebih penuh perasaan!”
“Ehehe.”
Sebenarnya dalam naskah tertulis aku harusnya mencium langsung bibirnya, tapi sebagai orang yang memerankan tokoh utama Choi Sooyoung, aku merasa kalau dilakukan seperti ini lebih pantas mengingat perbedaan tinggi badan kami. Dan juga mungkin… tadi aku terbawa oleh perasaanku sendiri.
“Jangan senang dulu,” komentar Sunny dengan nada serius. “Ini bukan drama panggung yang bisa seenaknya kamu improvisasi, kebetulan saja sutradara menyukainya.”
“Iya, aku tahu kok. Ini bukan pertama kalinya aku akting.”

Dan akhirnya. Tibalah saatnya kami harus memerankan adegan tersebut.

I-ini…

Mendadak aku merasakan tekanan yang sangat kuat. Aku yang biasanya bisa tenang dengan kehadiran orang-orang yang menontonku saat berakting, tapi sekarang seluruh inderaku malah menjadi sadar sepenuhnya.
Semua mata memandang dengan penuh judge. Staff yang memegangi mikrofon, direktor, cameraman, staff penata make up, sutradara, dan masih ada beberapa orang lagi.
Sementara disini aku harus setengah telanjang dibalik selimut di atas ranjang. Berwajah sensual dan melakukan adegan intim yang memalukan bersama dengan seorang gadis yang belum lama kukenal di bawah semua tatapan mata itu.
Omo! Ini sangat awkward!
Tak kusangka…
Kukira memerankan adegan ini hanya enaknya saja.
Belum lagi, ukh… rasanya nggak enak karena aku harus memerankannya tepat sehabis makan siang.
Memang selama ini aku hanya asyik menonton saja. Dan karena aktingnya begitu nyata aku sering melupakan hadirnya pihak ketiga, pihak keempat, pihak kelima, dan seterusnya dalam pembuatan scene itu.

Third Person POV

Sooyoung berbaring di atas ranjang, memandang dada Sunny yang menggantung di atasnya. Biarpun di bawah sana mereka memakai celana tapi tetap saja dia sangat gugup.
“Aku harap kamu sudah siap,” kata Sunny sambil menatap wajah Sooyoung yang gugup.
“Sudah,” jawab Sooyoung dengan jantung berdegup kencang.
Sunny meraba dada Sooyoung yang polos tanpa sehelai benang pun, lalu sedikit meremasnya.
Nafas Sooyoung tercekat.
“Tuh, kamu terlalu tegang. Mananya yang sudah? Yah pokoknya berusahalah.”

Pengambilan gambar dimulai. Diawali dengan keduanya saling berbagi ciuman yang panas. Kemudian ciuman Sunny mulai turun ke dadanya.
“Ahh…” Sooyoung mendesah karena baru kali ini merasakan dadanya dicium. Tangannya meremas rambut Sunny.
Ciuman Sunny turun ke perutnya dan semakin ke bawah. Kali ini dia benar-benar harus mengandalkan aktingnya. Karena Sunny tidak benar-benar menyentuhnya di bawah sana. Sooyoung berusaha memasang wajah sensual, tapi sangat gagal, karena malah tampak seperti orang yang menahan sakit.
“Cut! Cut! Ulangi lagi!”
“Sooyoung, yang kamu lakukan tidak tampak seperti seks yang normal. Kenapa kamu berwajah seperti itu?
Orang yang benar-benar melakukan seks tidak akan berwajah seperti kamu. Itu hanya kamu saja yang membuat wajah seperti itu selama seks. Kriteria yang kita inginkan berbeda dari apa yang kamu lakukan.” kritik sutradara pedas.
“Maaf…”
“Sekali lagi, yang lebih menghayati.”

Biarpun sutradara sudah berusaha untuk tidak kesal, tapi tergambar dengan jelas di wajahnya. Karena dari semua shot. Wide shot, medium shot, bahkan close up tidak ada yang bagus.
Walau sudah berulang kali take, tapi Sooyoung tetap tidak bisa berakting seperti yang diharapkan sutradara. Bahkan Sunny sendiri pun sudah kelihatan capek karena harus terus menerus mengulang padahal dia aktingnya sudah bagus.
Terpaksa syuting harus dibatalkan hari ini.

………………

Wajah Sooyoung masih syok saat mereka berpakaian kembali.
“Sekarang kamu lihat kata-kataku kan? Kalau jadi artis yadong itu tidak mudah,” kata Sunny sambil memakai branya kembali di ruang ganti baju.
“………………” Sooyoung masih speechless. Tampaknya sangat terpukul dengan situasi ini.
“Bukan hanya kamu saja di dunia ini yang merasa awkward ketika harus melakukan adegan seks untuk film. Banyak juga artis-artis lain. Kuberitahu ya, meskipun adegan itu tidak sampai 1 menit saja bisa menghabiskan waktu lebih dari 6 jam.”
“………………”
“Yah kenapa diam saja? Pokoknya pertama kamu harus membuang rasa malumu. Anggaplah orang di sekelilingmu adalah labu selama kamu berakting. Fokuslah hanya pada lawan mainmu, yaitu aku. Orang akan melihat tubuhmu itu memang sudah risiko. Mereka yang hadir disana menontonmu pun juga punya rasa malu. Lalu kalau rasa malu sudah diatasi berikutnya adalah akting.”
“………………”
Keduanya sudah selesai berpakaian, tapi Sooyoung tampaknya masih sedang merenung. Bahkan ketika mereka sudah pamit pulang kepada semua staff dia tetap diam.
Sunny menghela nafas lalu menggandeng tangan Sooyoung.
“Ikut aku.”
Sooyoung baru sadar dari lamunannya.
“Eh? Mau kemana?”
“Ke apartemenku. Kita harus melakukan sesuatu untuk membetulkan adegan no good mu hari ini.”
“Hah? Gimana?”
Sunny setengah menyeret Sooyoung pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pun dia sama sekali tidak melepaskan tangannya.
Sunny memutar kunci pintu apartemennya dengan cepat. Lalu masuk membawa Sooyoung dan segera mengunci pintu apartemennya. Tujuannya hanya satu dan sudah jelas. Sunny membuka pintu kamarnya.
Sooyoung dihempaskan ke atas kasur.
“Sekarang lepas bajumu.”
“Eh? Ehh?!”
Sunny melepas atasan bajunya, berikut dalamannya.
“Atau kamu mau aku yang lepaskan?”
“Sebentar! Kita ini mau apa?!”
“Sudah jelas kan? Praktek. Cara terbaik untuk mengajarkan akting adalah dengan praktek langsung.” Sunny membiarkan pakaiannya tergeletak begitu saja di lantai.
“Ta-tapi kalau mendadak seperti ini!”
“Lalu bagaimana kamu akan mengatasi pengambilan film besok kalau kamu masih tetap sama seperti hari ini? Film tidak akan selesai dan semua staff akan rugi kalau pemeran utamanya bermasalah.”
“Ta-tapi aku-”
“Sudah, jangan banyak cerewet, sekarang buka,” kata Sunny sambil melepaskan seluruh busana yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
“Huwaaaaaa Su-Sunny! Masa dibuka semuanya?!” Pekik Sooyoung dengan wajah merah padam. Sekarang Sooyoung tidak bisa melupakan celah kecil di antara paha Sunny yang tadi sempat dilihatnya.
“Kamu juga lepaskan semuanya.”
“Andwae! Masa kita benar-benar harus melakukannya?!”
“Lalu menurutmu cara apalagi yang lebih baik untuk mengasah aktingmu?! Kalau nggak mau ya sudah, pulang saja sana! Jangan membuang-buang waktuku! Terserah kalau nanti kamu membuat adegan no good lagi.”
“Iya deh iya, aku mau. Jangan marah Sunny.”
Akhirnya Sooyoung mengalah dan mulai melepas bajunya.

**

Setelah Sooyoung telanjang sepenuhnya, keduanya memposisikan diri di atas ranjang. Sunny yang berada di atas. Sooyoung memegang kedua lengan Sunny.
“Baiklah, sekarang aku akan merangsangmu sedikit,” kata Sunny seperti setengah meminta ijin.
Sooyoung mengangguk dan menelan ludah dengan gugup. Dadanya berdebar penuh antisipasi.
Sunny menunduk dan mengemut lehernya.
“Ahh…!”
Sooyoung merasa geli karena rambut Sunny menggelitik lehernya. Juga nafasnya yang hangat.
Ciuman Sunny turun ke dada Sooyoung, meninggalkan jejak basah. Tangan Sunny membelai-belai dada Sooyoung dengan gerakan yang lembut.
Tiba-tiba Sooyoung mendorong kedua bahu Sunny.
“Ternyata aku memang tidak bisa!”
“Ya, Sooyoung, ini baru permulaan.”
“Aku tetap tidak bisa dengan perasaan yang sekarang!”
Sunny menjadi kesal lagi. “Lalu kenapa kamu menerima tawaran ini?!”
“Aku butuh uang untuk biaya operasi ayahku!”
“Kamu pikir hanya kamu di dunia ini yang butuh uang?! Jangan manja! Kalau sudah menerima kerjaan kamu harus selesaikan tanggung jawabmu dengan baik!”
“Aku tahu! Tapi aku…! Aku ini masih virgin!”
“Mwo? Kamu masih virgin?”
Sooyoung menggigit bibir, lalu menutup mata dan mengangguk.
“Benar, ini pertama kalinya buat aku, jadi…”
Sunny menghembuskan nafas dalam lewat hidungnya. Posisinya masih setengah duduk di atas perut Sooyoung.
“Baiklah aku mengerti. Kalau kamu tidak mau pertama kalimu dengan aku, pergilah dan tidurlah dulu dengan orang yang kamu cintai. Baru setelah itu kita bisa lanjut latihan.”
“Kamu bicara seolah-olah aku bisa seenaknya tidur dengan siapa saja. Lagian itu tidak mungkin, karena aku sudah putus dengan kekasihku…”
“Kenapa kalian putus?”
“……………”
“Baiklah, aku nggak akan ikut campur.”
“Semua karena dia cemburu. Aku… meski hanya mendapat peran pendukung tokoh utama, tapi aku mendapat scene dimana aku harus melakukan adegan ciuman. Karena aku tidak mau sembunyi-sembunyi maka aku menceritakannya. Dan meminta Jessica datang ke tempat syuting film untuk menontonku pada hari itu.”
“Jessica itu mantan pacarmu?”
“Iya, tapi setelah melihat adegan itu dia cemburu berat. Dia langsung minta putus. Aku sudah meminta pengertiannya kalau itu hanya akting film dan itu memang pekerjaanku. Tapi dia tidak mau mengerti. Dia bilang, justru karena itu hanya film, artinya di masa depan aku pasti akan mendapatkan tawaran seperti itu lagi.”
“……………..”
“Setelah itu aku tidak bisa membujuknya untuk bertahan lagi, karena apa yang dia katakan itu memang benar…”
“Baiklah, sentimentalnya cukup sampai disana. Sebelum larut malam.”
“Mianhae… malah jadi curhat.”
“Sudahlah, yang penting, jadi kamu tidak berniat untuk tidur dengan siapa-siapa sebelum melakukannya denganku?”
“Pikirmu aku mau tidur sama siapa… pacar juga nggak punya…”
“Ya sudah, kita lanjutkan.” Sunny menahan kedua tangan Sooyoung di samping kepalanya. “Rasakan dan ingat baik-baik dengan tubuhmu,” kata Sunny sebelum menutup jarak di antara bibir mereka.
“Umph?!”
Sunny membungkam mulut Sooyoung sebelum dia sempat protes. Lidah Sunny masuk ke dalam mulutnya. Menjelajahi rongga mulut Sooyoung, menyentuh gigi dan lidahnya.
Tangan Sooyoung mengepal dengan kuat.
Gadis ini kuat juga untuk ukuran tubuhnya, batin Sooyoung.
Setelah cukup lama, Sunny melepaskan ciumannya.
“Kukira kamu tertarik sama aku waktu di klub malam, Sooyoung. Jadi aku salah ya?”
Dada Sooyoung diemut oleh mulut Sunny yang hangat dan basah. Lalu memainkan dengan lidahnya.
“Ahhh… hahh… hahh… hahh…!” Sooyoung mendesah keras.
“Kamu sensitif sekali ya.”
“Kamu sering melakukan ini dengan seseorang?” tanya Sooyoung di sela-sela nafasnya yang memburu.
“Itu masalah privasiku,” kata Sunny sambil memberi kecupan pada abs Sooyoung.
“Tapi… kamu adalah orang pertama yang melakukan ini padaku. Jadi harusnya aku berhak tahu.”
“Kalau kamu segitunya benci tubuhmu kusentuh maka anggap saja ini tidak dihitung sebagai pengalaman pertamamu.”
“Aku nggak benci… hanya saja, ahh…! Ini terlalu mendadak.”
“Jadi kamu cinta sama aku, Sooyoung?”
“Su-Sunny…”
Sunny berpandangan dengan mata Sooyoung yang sayu. Sunny tidak bisa menerjemahkan apa itu sorotan mata seseorang yang tengah menahan nikmat atau sesuatu yang lain yang lebih dari itu.
“Jangan jatuh cinta sama aku, Sooyoung. Sudah pernah kubilang kan.”
“Uhh…”
“Baiklah, kuhentikan sampai disini saja. Aku rasa kamu sudah bisa menangkap gambaran rasa nikmat secara seksual.”
Sunny menyingkir dari atas tubuhnya.
“Aku mau mandi sekarang. Kalau kamu capek, kamu boleh menginap malam ini,” kata Sunny sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi. Meninggalkan Sooyoung yang masih berbaring di atas kasurnya.
Sekejap Sooyoung merasa rindu dengan kehangatan Sunny. Dengan kelembutan kulitnya yang bergesekan dengannya ketika Sunny berada di atasnya tadi. Juga dada Sunny yang melekat erat di atas dadanya tadi. Jantungnya berdebar-debar kalau kembali mengingat sentuhan Sunny. Perasaannya diawang-awang ketika Sunny menstimulasi dadanya tadi.
Kurang…
Sooyoung masih menginginkan lebih.

**

Sunny berdiam diri di bawah pancuran air hangat.
Bagian selangkangannya sedikit basah setelah menyentuh Sooyoung barusan.
“Untung saja aku segera pergi… kalau lebih lama lagi bisa-bisa aku juga jadi ingin disentuh olehnya…”
Tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka.
DEG!
Sunny kaget melihat Sooyoung berdiri di ambang pintu.
“A-ada apa?”
Sayup-sayup terdengar Sooyoung berkata. “Kurang… aku masih belum cukup belajar…”
Mata Sooyoung memancarkan nafsu dan gairah terpendam.
Sebelum Sunny sempat berkata apa-apa, Sooyoung mematikan kran air kamar mandi, lalu menarik tangan Sunny keluar dari kamar mandi.
“Eh? Eh?”
Sooyoung langsung menjatuhkan gadis itu ke atas ranjang, tidak peduli tubuhnya masih basah. Sooyoung langsung menaiki tubuhnya.
“Kamu sudah menyentuh tubuhku sementara kamu belum memberiku kesempatan untuk menyentuhmu.”
Sooyoung menjilat telinga Sunny. Gadis itu memekik kecil karena Sooyoung tepat menyentuh titik yang sensitif di telinganya.
Tangan Sooyoung meremas-remas dada Sunny. Biarpun gerakannya sama sekali tidak terlatih tapi Sunny kembali bergairah.
“Se-sentuh aku youngie…” ucap Sunny pasrah. Kali ini dia sudah menyerah pada naluri seksualnya.
Tidak butuh dikatakan dua kali, Sooyoung langsung melakukan apa yang menjadi haknya. Lidahnya menjilat butiran-butiran air yang masih menempel di dada Sunny. Memberi sensasi nikmat tersendiri buat Sunny.
Setelah melihat Sunny menggigil, Sooyoung menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
Sebelah tangan Sooyoung merayap ke punggung Sunny untuk menekan punggungnya supaya bisa memasukkan dada Sunny lebih dalam ke dalam mulutnya. Sooyoung menghisapnya dengan rakus.
“Ahh… ohhh…” Sunny meremas seprai. Tubuhnya menggeliat nikmat sampai mengakibatkan ranjang menimbulkan bunyi derit.
“Apa begini sudah benar?”
“N-ne…! Jangan berhenti… lidahmu…”
Lidah Sooyoung meraba puting Sunny yang sudah tegang.
Jari Sooyoung menggesek-gesek celah privat Sunny. Jarinya semakin basah oleh cairan cinta Sunny.
“Ngghh… masukin.”
Sunny meraba tangan Sooyoung yang berada tepat di daerah kewanitaannya. Lalu Sunny sendiri yang mendorong masuk jari Sooyoung. Daerah itu sangat licin sampai 2 jari Sooyoung dapat masuk dengan mudah. Sooyoung terus memandang wajah Sunny yang merintih nikmat saatnya jarinya bergerak keluar masuk.

Sunny… pasti pernah melakukannya dengan seseorang.
Tapi aku tidak peduli, aku sangat mencintainya. Syukurlah Sunny adalah yang pertama kalinya bagiku, batin Sooyoung.

**

“Hari ini tampaknya wajahmu lebih cerah,” kata sutradara.
“Eh? Masa?” Tanya Sooyoung. Dia sendiri tidak sadar.
“Iya, dan kamu bahkan memerankan adegan barusan dengan sangat baik. Benar-benar berbeda dibanding kemarin.”
Sooyoung cengar-cengir, merasa sedikit malu tapi juga senang.
Sekarang posisinya yang berada di atas Sunny, sementara sutradara berkata dari samping mereka.
“Pokoknya kamu harus memandang Sunny seolah-olah dia satu-satunya bagimu di dunia ini. Bahwa kamu menginginkannya, membutuhkannya, dan tidak ingin melepaskannya.”
“Ne.”
Tidak usah dikatakan pun sepertinya aku sudah memiliki perasaan seperti itu, batin Sooyoung. Tatapannya bersorot penuh kasih sayang kepada gadis yang berbaring di bawahnya.
Seorang penata rias menyemprot punggung dan tubuh mereka dengan seprai yang membuat seolah tubuh tampak berkeringat. Lalu setelah memastikan rambut mereka tidak terlalu rapi, maka tinggal menunggu aba-aba.

“Action!”

“Jadi, kita benar-benar akan melakukannya?”
Sunny mengangguk dengan mantap.
“Keperawananku milikmu Sooyoung, bukan suamiku.”
“Sunny… saranghaeyo.”
“Nado saranghae, Sooyoung.”
Sebenarnya kata-kata Sooyoung barusan memiliki nilai yang lebih dari sekedar akting. Tapi tentu saja tidak akan ada yang sadar.
Bibir mereka kembali bertemu untuk yang kesekian kalinya dalam sebuah kecupan yang lama dan dalam. Lalu Sooyoung menghujani leher dan dada Sunny dengan ciuman. Sunny mengeluarkan desahan-desahan sensual sambil menanamkan kukunya di punggung Sooyoung.

……………….

“Cut! Kerja bagus!”
Suara sutradara membawa kesadaran Sooyoung kembali. Selama beberapa detik tadi dia begitu menikmati membelai tubuh Sunny, syukurlah tidak ada masalah dengan aktingnya.
Sooyoung memandang Sunny yang pergi untuk mengganti baju. Jantungnya masih berdebar-debar.

β™‘~To Be Continued~β™‘

Advertisements

Comments on: "Heart’s Desire (Chapter 3)" (24)

  1. dah lama nda mampir tyt byk FF baru di wp ini. #buka2 halaman WP
    fiuuhhh bsok pagi deh aku mulai baca~
    baca skrg juga tanggung, udh mo bubaran kantor juga.

    minta ijin dulu, bacanya bru besok.

  2. Kimrahmahwang said:

    Mana ada yg bisa nolak kalo dikasih tubuhnya Sunny, beuhh bener2 menggoda. Sooyoung yg awalnya ragu2 aja malah menikmati :p
    Sunny tau gak sih kalo sooyoung mulai ada perasaan sama dia??dan kenapa sooyoung gaboleh jatuh cinta sama Sunny??sooyoung bakal menerima kekurangan elu kok, Sunny bunny πŸ˜€

  3. ulllaaalaaaa, akhirnya dipost juga lanjutannya,
    sooyoung ternyataa kau masih virginn, hahaha sampe gugup begituu, sunny jd guru privat yg hebat, baru di sentuh dikit sooyoungnya udah langsung nyerang balikk, πŸ˜€ kenapa sooyoung gak boleh cinta ama sunny, kenapaa? *korbaniklan*
    jawaban sooyoung beneran dari hati tuhh, kira2 ucapan sunny jg dari hati gak yahh?
    btw deg deg an bacanya, hahaha apa gua yg blom terbiasa yakk, πŸ˜€

  4. Beninsooyoungsters said:

    Waaaaah daebaaak, setengah hot ini NC nyah πŸ˜€
    Curiga nih, Sunny sebenernya suka Sooyoung kaaan? *naik naikin alis* *reader sotoy*
    Pain, Love and Happiness *kalo hak salah judul* nya kapan nih thor mau ngelanjutnyah? Udah kangen nih :3

  5. mau coment apa? soosun. mau susu pisang eh gak nyambung sorry ya.

  6. Ehm…,mian baru comnt d sini,
    Si imut sunny dibikin binal ma si author nhi…..,tapi gpp deh aq suka…aq suka…
    Lanjutx jgn klamaan yha… πŸ™‚

  7. sooyoung mah mudah jatuh cinta *elap ingus* panjangin aja ffnya, jessica jadi orang ketiga/? *kabur*
    semangat deh eon :”)) saya tau beratnya buat ff walau pendek dan tidak dicomment *elap ingus lagi/?*

  8. jung febryliu said:

    kan udah praktek langsung jdi aktingnya bgus yah nggak youngie*wink

  9. Lilis alawiyah said:

    Anyyeong.

    Baca baca langsung begini,aduh. Tapi ceritanya bgus bnget.

    Ma’af unnie #mungkin saya jarang mampir, apa lagi komen. Mianhae #BOW

    munkin sya masih patah hati sama sekandal sica unnie. Sekalilagi ma’af.

  10. wehehehe sooyoung baru belajar udah expert yaa πŸ˜€

  11. Thor kpn nih lnjutannya ?

  12. hennyhilda said:

    Yess ff nya udh d update lg >.<
    sooyoung lucu bgt c pk blg segala mzh kurg bwt belajarnya.blg j mzh pgn hahahaha πŸ˜€
    da pa y sunny qo nyuruh sooyoung jgn jth cinta m dy?pdhl kn cinta g bz dduga dtgnya hhh jd pnsrn m alasannya sunny -.-
    n ff ni bqn hawa panas j amp aq pasang kipas angin fiuhhhh
    semangat author
    ganbatte

  13. Wakakak hot abis thoorr~

  14. Tyatyman said:

    Gilak keren thor.. Sooyoungnya msh polos gt smg ceritanya happy ending tp seru thor, salut dah.. Ditunggu lho kelanjutannya

  15. blue ocean said:

    Hosh hosh.. mantaph!!!
    Author you are my fave author for making love scene.. i want more !!!#plak

  16. dirgaYul said:

    Wahahahaa.. Sunny yg prtma ut Sooyoung, tuiitt deh. Jd kyk ngbayangin film yes or no yg prtma. Tp lbih hot crita ff yak ahahhaaa..*emg dasar otak yadong gw mah hihihii..

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: