~Thank you for your comments~

A/N : Update biar nggak galau.
Happy Reading♡

Naskah filmnya menceritakan tentang drama sepasang perempuan yang diam-diam saling mencintai di tengah konflik antar keluarga mereka berdua. Mereka seharusnya adalah musuh, tapi mereka berdua sudah terlanjur saling mencintai, karena mereka berawal dari pertemanan di kampus tanpa tahu-menahu soal konflik keluarga mereka.
Lucunya konflik mereka disebut konflik ‘jangshin vs danshin’ oleh para staff. Disebut begitu karena orang-orang yang memerankan keluarga tokoh utama yang diperankan Sooyoung semuanya bertubuh lebih tinggi dari tinggi tubuh orang-orang yang memerankan keluarga tokoh utama yang diperankan Sunny. Sooyoung dan Sunny jadi tampak benar-benar cocok berperan sebagai putri dalam keluarga itu.
Drama ini menggunakan nama asli mereka berdua, karena kata si penulis naskah dia menyukai nama mereka. Tentu saja sudah mendapat persetujuan dari keduanya. Lagian Sooyoung malah berpikir ini lebih mudah, karena dia akan bisa lebih menghayati.

**

Di sebuah kampus. Saatnya pengambilan gambar untuk scene pertama yang sangat klise.
Sooyoung menarik nafas dalam beberapa kali.
“Scene pertama. Action!”
Papan klip dibunyikan.
Sooyoung tampak berlari-lari menuju kampus sambil membawa sebuah map di tangan dan tas kecil.
“Ya bagus, ekspresinya dapat.”

Scene berikutnya di belokan. Dia bertabrakan dengan Sunny sampai kedua-duanya terjatuh. Berkas-berkas dalam map yang dibawa Sooyoung berjatuhan, begitu juga dengan punya Sunny.
“Yah!” Teriak Sooyoung.
“Harusnya aku yang bilang begitu! Matamu ditaruh dimana sih?!”
“Ish.”
Tapi mereka tidak punya waktu untuk berdebat lebih jauh. Keduanya memungut kertas-kertas yang berserakan dengan terburu-buru karena sama-sama dikejar waktu, mereka pun tidak begitu memperhatikan detail.
Lalu mereka masing-masing berlari ke arah yang berlawanan.

Scene berikutnya Sooyoung menemukan kelasnya.

Lalu scene selanjutnya, Sooyoung masuk ke dalam kelas dan berjalan mengambil sebuah tempat duduk.
Sooyoung menarik nafas lega karena tidak terlambat. Dia juga masih mendapat absen.
Ketika tiba saatnya dosen meminta tugas untuk dikumpulkan dalam beberapa menit, Sooyoung memeriksa sekilas lagi kertas-kertas yang ada dalan mapnya. Lalu dia menjadi terheran-heran karena isi tulisannya agak berbeda dengan ingatannya.
“Apa jangan-jangan ini punya gadis yang kutabrak tadi?”
Celaka!
Padahal dia tidak boleh keluar kelas. Dan dosennya tidak akan menerima tugas yang dikumpulkan terlambat. Sekali saja tidak mengumpulkan akan memberatkan dirinya untuk perhitungan nilai akhir nanti.
Jadi akhirnya Sooyoung terpikir.
Kenapa tidak mengumpulkan punya gadis itu saja? Setelah diperiksa ternyata tugasnya sama, artinya mereka seangkatan dan satu jurusan.
Karena tidak punya pilihan terpaksa Sooyoung mengeluarkan pulpen.
Shot berikutnya adalah close up tangan Sooyoung menulis hangul namanya di map.

Kemudian shot berikutnya Sooyoung mengumpulkan tugas Sunny sebagai tugas miliknya.

Scene berikutnya.
Saat kelas sudah berakhir.
Sooyoung sengaja berkeliaran seputar kampus untuk mencari gadis itu.
“Mana sih si pendek itu?”
Keduanya bertemu secara tak sengaja.
“Akh!”

Lalu keduanya saling menceritakan hal yang terjadi di kelas. Ternyata Sunny juga mengumpulkan tugas Sooyoung sebagai tugas miliknya.

Sunny menghela nafas.
“Hahh… aku pasti sedang sial…”
“Apa maksudmu? Semalam aku mengerjakan tugas itu dengan sungguh-sungguh tahu.”
Sunny menghembuskan nafas lagi. “Hanya semalam? Sementara aku disini sudah mengerjakannya dari 3 hari yang lalu. Bagaimana kalau nilaiku sampai menurun gara-gara mengumpulkan tugasmu dengan atas namaku?”
“Ya sudah, kalau begitu sekarang ayo kita bilang ke dosen. Kajja!”
“Nggak mungkin. Kalau kita berusaha menjelaskan begitu nanti malah dikira kita berbuat curang dan malah tidak mendapat nilai. Kita yang rugi sendiri.”
“Omonganmu ada benarnya juga.”
“Ya sudahlah, pasrah saja. Yang penting kalau nilai dari tugasmu sudah cukup untuk lulus saja…”

Ketika beberapa hari berikutnya tugas mereka dikembalikan. Sooyoung mendapat nilai A dari mengumpulkan tugas yang aslinya milik Sunny, sedang Sunny hanya mendapat nilai B.
“Syukurlah, setidaknya dapat B.”
“Apa maksudmu? Meremehkan aku ya?” Sooyoung mencibir.
“Nggak, cuma ternyata kerjaanmu lebih baik dari dugaan saja, padahal pakai sistem kebut semalam, ehehe. Tapi ahh, coba kalau nggak ketukar begini aku pasti sudah dapat A.”
“Mianhae.”
“Kamu harus membayar perbedaan nilai ini.”
“Iya deh, mau dibayar apa? Traktir makan di kantin? Atau malah restoran?”
Sunny berdiam diri sejenak.
“…bisakah kamu membayarku dengan pertemanan?”
“Eh?”
“Ya? Bertemanlah denganku…?” Kata Sunny, kali ini terdengar setengah memohon.

**

Sooyoung POV

Syuting hari pertama berjalan dengan lancar dengan hampir tidak ada adegan no good.
Malamnya aku datang kembali klub untuk mengecek apakah Sunny masih bekerja disana dan ternyata memang masih. Aku duduk diam, kali ini tidak menyamar sebagai namja dan mendengar beberapa penonton mengelu-elukan nama Sunny.

Kenapa aku datang lagi? Bukannya aku bisa melihatnya di lokasi syuting? Atau aku hanya penasaran? Apa benar kata Hyo kalau hatiku bergetar melihat sisi Sunny yang liar seperti ini?

Bahkan aku juga menunggunya sampai dia pulang.
Ketika kami bertemu muka bukan kata sapaan yang halus yang terucap, melainkan
“Kamu datang untuk melihatku?”
“Mungkin.”
“Sebaiknya kamu jangan jatuh cinta padaku. Meski waktu itu aku sudah menolongmu sekalipun.”
“Si-siapa yang bilang aku jatuh cinta sama kamu? Aku mau datang kesini terserah aku kan?”
“Hmm benar juga, tidak ada ya. Mungkin aku yang terlalu berprasangka. Daripada itu kamu sudah mempersiapkan untuk syuting besok?”
“Sudah.”
“Baguslah kalau sudah, nah sampai sini saja, kau jangan mengikutiku lagi, aku mau pulang.”
“Tunggu, biar kuantar.”
“Kamu juga ingatlah, seorang yeoja tidak baik sendirian malam-malam begini. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu aku bisa merasa bersalah.”
“Aku juga, kalau sampai kamu kenapa-kenapa aku juga merasa bersalah. Karena itu biarkan aku mengantarmu pulang.”
“Sooyoungie, kamu tidak usah mempedulikanku. Aku tidak suka merepotkan. Lagipula kalau sampai terjadi apa-apa denganku pun itu bukan urusan kamu.”
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja aku peduli!”
Aku memegang tangannya. Tapi dia menatapku balik dengan wajah sedih.
“Bukannya di mata orang seperti kalian memang menganggap gadis sepertiku ini kotor, pelacur, iya kan?”
Mendengar itu aku jadi tertegun.
“Karena itu tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Biarkan aku sendiri…”
Dia melepaskan tangannya dari genggamanku lalu terus berjalan.
Saat itu aku merasa, kalau ada sesuatu yang kelam yang dia sembunyikan di balik senyum dan aktingnya dalam film hari ini.
“Sunny…”
Meski begitu aku tetap khawatir sama Sunny, jadinya aku tetap diam-diam mengikutinya seperti stalker sambil menjaga jarak. Sambil memperhatikan keamanan diri sendiri. Untunglah tidak terjadi apa-apa.

**

Third Person POV

Keesokan harinya.
Ketika sedang mengambil adegan yang tidak melibatkan dirinya, Sooyoung akan terus menonton Sunny. Dia begitu memperhatikan gerak-geriknya sampai Sunny bisa merasakan tatapannya yang menusuk.
“Apa?”
“Nggak ada apa-apa,” jawab Sooyoung.

Sampai dirinya berkeringat. Kemudian keringatnya harus dilap oleh seorang staff.
Lalu giliran mereka harus akting berdua lagi.

“Action!”

Sooyoung dan Sunny sedang berjalan-jalan bersama di tengah-tengah kota, mereka melihat ada seorang peramal jalanan. Kelihatannya sedang sepi.
“Hei, gimana kalau kita coba minta diramal?”
“Mwo? Kamu percaya sama hal seperti ramalan?”
“Ah peduli apa, sekedar iseng ingin tahu kan boleh.”
“Ya sudah.”
Lalu sambil bergandengan mereka melangkah ke arah peramal itu.
“Oh baru kali ini aku bertemu dengan pasangan yang begini berani seperti kalian.”
Sooyoung tersenyum pahit. Entah kata-kata peramal ini benar-benar bermaksud memuji atau hanya sekedar sindiran belaka.
“Hmm…” kedua tangan peramal itu bergerak-gerak mengelilingi bola kristal dengan gaya yang dibuat terlihat mistik.
“Kalian cocok tapi kalian tidak akan bisa bersama karena kalian akan dihadapkan dengan takdir yang tidak akan bisa dihindari… dan bila dipaksakan akan mengakibatkan hubungan kalian akan berakhir dengan tragis…”
Sooyoung agak syok mendengar kata-kata peramal itu. Sunny juga tapi dia tidak menunjukannya.

**

Malamnya, ketika Sunny hendak pulang dari klub. Dia melihat siapa yang telah menunggunya dalam penampilan namja. Sunny menghembuskan nafas dalam.
“Datang lagi? Kembali berpenampilan seperti namja pula. ”
“Memangnya apa salahnya? Lagian aku merasa lebih aman dalam penampilan ini.”
“Belum tentu. Ada juga beberapa pelanggan namja gay disini. Kalau mereka menganggapmu manis entah apa yang akan mereka lakukan pada pantatmu.”
“Ekh?!”
“Serius.”
“Huwaaaa…”
Sunny nyengir setelah berhasil membuat yeoja jangkung itu ketakutan. “Bercanda, biarpun mereka gay tapi bukan berarti mereka akan sembarangan menerkam namja tanpa pandang bulu. Mereka juga punya selera dan harga diri. Nyatanya penari strip tease namja di klub pun masih baik-baik saja.”
“Kuharap kamu benar…”
“Jangan khawatir. Kalau misalnya kamu mau diterkam pun tinggal ngaku saja kalau kamu yeoja yang sedang cross dressing sambil lepaskan wig mu itu.”
“Huuuu… seenaknya saja bicara.”
“Hehehe.”
Setelahnya keduanya berjalan dalam kebisuan. Tapi Sooyoung merasa nyaman dengan kediaman yang menyelingkupi mereka. Sooyoung berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Sunny yang walau pendek tapi cepat. Sampai akhirnya Sunny membuka mulut lebih dulu.
“Jadi, mau sampai kapan?”
“Hah?”
“Kamu akan mengikutiku seperti ini.”
“Bi-bicara apa? Rumahku kan searah.”
“Oh ya? Kalau begitu mana? Biarkan aku mampir sebentar.”
“Ukh, sebenarnya memang beda arah…”
“Hahh… tuh kan.”
“………………” Sooyoung menggigit bibirnya.
“Atau jangan-jangan Sooyoungie, kamu ingin menyewa aku sebagai penari strip tease pribadimu?”
“Mwo?!”
“Kenapa tidak bilang dari awal? Tapi tidak gratis ya.”
“Nggak! Nggak! Aku sedang butuh uang! Mana mungkin aku malah ingin menyewa penari strip tease!”
Sunny tersenyum kecut. “Benar juga ya. Makanya kamu menerima tawaran film ini. Jadi merasa bodoh sudah bertanya.”
Sooyoung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Fuuhhh…” Sunny menunduk dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya yang tebal. “Jangan berbuat macam-macam sama aku ya.”
“Hah?”
“Siapa tahu kamu mengikutiku karena ingin menyerangku saat aku lengah.”
“Enak saja! Kamu pikir aku penjahat kelamin?!”
“Haha, aku hanya bercanda. Baguslah kalau bukan.”
Sunny menatap jalan di depannya.
“Yahh… di klub ada begitu banyak orang yang menatapku dengan nafsu, jadi aku harus extra hati-hati kan?”
DEG!
“Kurasa kamu juga salah satunya, ya kan?”
“Uh…”
“Hmm… arraseo, kesempatanmu akan tiba pada waktunya.”
“Ehhh?!”
“Ya, kalau kita memerankan adegan seksual nanti, kamu akan bisa menyentuhku sepuasmu.”
Sooyoung tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap kata-katanya.
“Karena demi film, kuperbolehkan kamu menyentuh setiap jengkal tubuhku. Karena itu Sooyoungie, sabar saja ya.” Sunny tersenyum. “Tentu saja itu kalau kamu tidak keberatan menyentuh gadis seperti aku…”
“……………”
Akhirnya Sunny pun pulang dengan ditemani Sooyoung, walau sebenarnya dia tidak suka ditemani.

**

Pada syuting hari berikutnya.
Cerita sudah memasuki tahap dimana kedua keluarga mereka sudah mengetahui hubungan gelap mereka, mereka sangat syok, makanya Sooyoung dan Sunny dilarang bertemu.
Bahkan Sunny dijaga dengan ketat, saat kuliah maka dia harus kuliah, tidak boleh keluyuran atau diam-diam mencari-cari kesempatan untuk bertemu dengan Sooyoung. Bahkan handphonenya dirampas Ibu tirinya. Dia juga tidak bisa keluar seenaknya karena kunci pagar disimpan oleh Ibu tirinya.
Sooyoung yang sedih hanya bisa pasrah.
Sementara Sunny pun hanya bisa menitikkan air mata ketika tahu mereka dilarang bertemu lagi.
Seminggu lebih sendirian, hampir dua minggu tanpa kehadiran Sooyoung di sisinya,
Dia selalu merindukannya.
Senyum dan tawa Sooyoung selalu membayangi benaknya.
Bahkan melihat kalung hadiah yang diberikan oleh Sooyoung pada ulang tahunnya saja sudah membuat hatinya pilu.
Sunny mengelus-elus kalung itu, ditatapnya kalung itu dengan sedih.
Lalu Sunny mengalungkannya di lehernya. Diciumnya benda itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Rasa rindunya yang semakin hari kian menumpuk rasanya sudah tak tertahankan lagi.

……………..

Dari kamar yang remang-remang gelap di lantai 2, Sooyoung melayangkan pandangannya ke luar jendela.
Pikirannya sesak dipenuhi dengan berbagai macam perasaan. Marah, sedih, kesal, dan kecewa terlukis jelas di wajahnya. Tapi di atas semua perasaan itu, dia sangat merindukan Sunny.

Sooyoung dapat dengan mudah menerapkan semua perasaan itu di wajahnya saat berakting karena dia mengingat Jessica.
Sooyoung masih ingat dengan jelas perasaan semacam sehari tidak bertemu dengannya saja sudah rindunya setengah mati apalagi sudah hampir dua minggu tidak bertemu.
Walau sekarang kini perasaannya sudah lebih kebal dibanding dulu.

……………..

Dari tadi hujan terus tidak mau berhenti, malah tambah deras, seperti seolah merupakan wujud dari perasaannya saat itu.
Lampu-lampu rumah yang menerangi jalanan seperti sejuta kunang-kunang yang menggoda mata. Terasa dekat tapi tak mampu digapai. Sama seperti Sooyoung… keluh Sunny dalam batin.
Tak sengaja pandangannya melayang ke arah pagar rumah, tapi dia terkejut ketika melihat sebuah sosok di depan pagar rumahnya. Sosok itu tampak menggigil karena derasnya hujan dan angin yang rasanya merasuk tulang, apalagi dia tidak memakai jas hujan padahal hujannya sederas ini! Kedua tangannya memeluk lengannya sendiri berusaha mengurangi rasa dingin. Dan ketika sosok itu menengadahkan kepalanya menatap ke arah kamarnya baru Sunny dapat benar-benar melihat dengan jelas.

“Sooyoung?!”
Buru-buru Sunny bergegas keluar dari kamarnya, berlari menuruni tangga, kemudian tanpa menyambar payung ataupun jas hujan, Sunny sudah berlari keluar pintu menuju pagar.
“Sooyoung!” jeritnya menahan tangis. Sunny menangis dengan rasa rindu yang begitu memuncak dan karena melihat Sooyoung basah kuyup diguyur derasnya hujan.
“Sunny…” nama itu terselip dari bibir Sooyoung ditengah-tengah rasa dinginnya.
Melalui celah-celah pagar, Sunny segera menggenggam tangannya.
“Sooyoung! Ya ampun tanganmu dingin sekali! Sudah berapa lama kamu disini?! Kenapa kamu disini?! Kamu kehujanan!”
“Tadi… aku lagi memikirkanmu… dan kemudian rasanya aku jadi sangat rindu ingin bertemu denganmu…” desah Sooyoung sambil menggigil.
“Nanti kamu sakit…” Sunny membawa tangan Sooyoung dan melekatkannya di pipinya sambil menangis. Berharap tangan Sooyoung bisa mendapatkan sedikit kehangatan yang tersisa di pipinya.
“Demi bertemu denganmu, aku rela…” ucap Sooyoung tulus. Ditatapnya wajah Sunny yang menangis dengan hangat.

Rasanya Sunny tidak ingin melepaskan tangannya lagi, dia malah ingin meraih Sooyoung ke pelukannya tapi itu tidak mungkin karena ada pagar yang menghalangi mereka. Pagar yang  memisahkan mereka tanpa belas kasihan.
Sunny mengatupkan rahangnya menahan tangis yang tidak mau berhenti bersamaan dengan derasnya hujan yang menyirami mereka.
“Sunny!” teriak suara Ibu tirinya yang penuh dengan kemarahan.
Dan ketika melihat siapa orang yang bersama dengan Sunny, meletus kemarahan Ibu tirinya. Dengan geram Ibu tirinya menghardik Sunny dengan kasar.
“Ah! Sakit!” teriak Sunny kesakitan.
“Sunny!” teriak Sooyoung tidak rela. Mereka sama-sama tidak mau melepaskan genggaman tangan mereka.
“Yah! Cepat lepaskan tanganmu!” bentak Ibu tirinya dengan kasar sambil menariknya.
Sunny menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sunny…! Sunny…!” Sooyoung sudah mau menangis dan putus asa ketika melihat Sunny kesakitan ditarik-tarik dan dijambak oleh Ibu tirinya.
“Sunny!” bentak Ibu tirinya semakin tidak sabar.
“Nggak mau!” tangisnya.
“Ada apa?” tanya Ayah Sunny yang terheran-heran ketika muncul di ambang pintu.
“Appa! Cepat bantu! Sunny membandel!”
Ayahnya kemudian membantu.
“Sunny! Jangan begitu! Patuhi Ibumu!”
Karena Sunny ditarik oleh kedua orang tuanya, akhirnya tangan mereka terlepas.
“Sooyoung!”
“Sunnyyyyy!”
Hati Sooyoung sangat sakit ketika melihat Sunny diseret dengan paksa masuk ke dalam rumah. Kemudian pintu dibanting dengan kasar di hadapannya, meninggalkan dirinya seorang diri di tengah derasnya hujan.
“Sunny…” desah Sooyoung lirih sambil meremas pagar besi dalam genggamannya.

“Ya! Cut! Bagus! Feeling kalian tersampaikan!”
Sooyoung dan Sunny langsung diselimutin oleh staff dan diberi minuman hangat. Juga pemeran kedua orang tua Sunny.
“Yah, tak kusangka kalian benar-benar memerankannya dengan sangat baik. Padahal karena sudah ada air hujan dalam setting aku tidak memaksa kalian untuk mengeluarkan air mata.”
“Ah tidak juga.” Sooyoung merasa tersanjung.
Sementara reaksi Sunny datar, dia pun pergi untuk ganti baju.

☆~To Be Continued~☆

A/N : Chapter kedua ini juga kumasukin dalam kategori 18+ karena meski tak ada NC tapi bahasanya 😛

Advertisements

Comments on: "Heart’s Desire (Chapter 2)" (35)

  1. yahh , padahal gue berharap emg ada adegan 18+ real lho , wkwk
    wah , kek nya si sunny bikin penasaran syoo , nanti jess bakal muncul gak nh?

  2. kyril fadillah said:

    walaupun sudah 18+ tapi belum ada adegan NCnya soosun dan seprtinya harus lebih sabar menunggu
    lanjut lagi thor penasaran dgn adegan NCnya dan apakah nantu jessie muncul dalam hubungan soosun

  3. Kimrahmahwang said:

    Sifatnya Sunny bikin penasaran nih dingin2 cuek gimana gitu. Apa pas adegan yg hujan2 itu soosun bener2 dari hati eaaaa. Tinggal ditunggu aja adegan ehem nya xD

  4. misterius deh sunny, sifatnya dingin gitu,
    ganbatte soo ayo cari tau tentang sunny,
    kayanya soo mulai ada hati ama sunny, ampe rela nyamar lagi buat anter sunny,
    adegan film nya romantis yakk, tp wlo cma adegan film karna pake nama asli jd berasa emang itu kisah asli, kasian kalo soosun harus di tentang begitu, 😀
    blom ada NC nya yak, rakpopo lah.
    Lanjutttt thor, makin banyak ngepost ff makin gak galau hehehehe,

  5. dua cerita dalam satu ff ^^ wow daebak!!

  6. jung febryliu said:

    Kirain NCnya bagian ini

    Mungkin chapter brikutnya ada yah..!

  7. Beninsooyoungsters said:

    Filmnya kayak beneran deh ._. *ngomong apa sih*
    Nanti ada Jessica gak thor?

  8. Reader kwon said:

    Aku ga’ sempat coment di chap 1 jdi akucoment di sini aja
    Chap 1 lumayanlah dan ku sempat bingung dkit hehe tpi keren
    Chap 2 keren bngits thor cepet updateya thor heheh

  9. Apakah abis ini chap terakhir? Btw thor gimana sama kelanjutan love pain happiness? Gasabar mau baca lagi

  10. Aaaaa penasaran semakin gila ini adegannya. Hahaha soo bener” gak sabar yaaa nunggu adegan itu.

  11. baca commentnya, pada berharap nc nya cepetan ada lol lol xD
    sebenarnya gak bingung dengan sikap sunny, pasti ada apa-apanya ini… /jeng jeng

  12. khfflovers said:

    Huaaaa suka suka suka
    *lsg gabung sama chap 1 ya hehehe
    makin penasaran sama chap slanjutnya..
    pengennya ada sunny pov sih. Tp kalo g ada jg gpp kok, biar krasa misteriusnya
    hahaha
    Author, bisa bagi no hp ga? Ntar saya komennya lwt sana. Soalnya inet kacau di sini, komen saya srg ga masuk
    huhuhu
    semangkaaaa! 🙂

  13. belum ada 18+ ny nih #plaakk ahahaa.. film yg diperankan soosun keren jg

  14. wah udah mau mulai nih hihihi. sooyoung menghianati perannya banget ya, sunny malah kayak kecewa gitu

  15. NC…NC… NC…. 😀

  16. Wah ini mah chapter selanjutnya harus udah di adegan r**jang hehehe ><

  17. Lama banget nunggu adegan nc nya..wkwkwk.
    tp sunny kaya nyembunyiin sesuatu gitu.

  18. harusnya ini diangkat ke film lho. km cari investor buat angkat film ini saja

  19. hennyhilda said:

    Hmm udh tbc lg 😦
    Sunny agk misterius nh tp kynya da sdkt jg m soo
    n mereka td coba meramal it cm dlm adegan syuting pa dkehidupan nyata mereka c thor?cz aq g bingung krn g da penjelasan it bwt syuting pa g n dtunggu next chap nya
    semangat author
    ganbatte

  20. Hoy hoy hoy… Soo emng cocok jd cwo.. handsome cwo ideal aaahh poko ny lovely dovely dah soo ..

  21. Lilis alawiyah said:

    Cerita nya jadi ada 2, nyata dan film. Saya suka cerita tentang yang 1 polos, 1 agresif. Tapi lebih suka 2-2 nya polos sih, kaya yoonhyun. Hehe tpi couple ini aku juga suka kok. Yah pokok nya author jjang dehk. Tpi pengen request ff agak nyeremin kaya horror party gituh, hehe. Tpi semua karya author keren kok.

    Ma’af saya komen mundur, dari part 3 ke 2. Tpi sya jujur merasa bersalah. Jarang mampir atau komentar.
    Mianhae dan gomawo

  22. Apdet dong thorr penasaran nih

  23. blue ocean said:

    Hiks…
    Adegan aktingny penuh emosi..

  24. dirgaYul said:

    Sunny.. Sooyoung.. i love you.. Kena bnget feelnya.

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: