~Thank you for your comments~

A/N : Maaf, lama nggak update ff ini. Makanya chapter kali ini spesial lebih panjang 😀
Di chapter ini akan ada banyak foto-foto untuk gambaran suasana.
Mudah-mudahan seru.

Enjoy~☆

“Huh, menyebalkan, kenapa aku harus sekelas sama kamu lagi?!” kata Nickhun kesal.
Taeyeon hanya membalasnya dengan merong sambil menarik ujung kelopak matanya.
“Cih, ngeledek ya?! Ngajak berantem?!”
“Hahahaha, lihat si Khunnie, masa berantem sama anak cewek? Sama sekali nggak jantan!” beberapa teman sekelas cowok menertawakannya.

“Mwo?!”
Walau masih anak-anak tapi justru dia malah merasa kesal karena dibilang tidak jantan, terpaksa dia menahan dirinya. Nickhun berjalan menjauhi Taeyeon sambil mendengus.
“Gayanya sok jagoan, dikiranya berantem bisa menyelesaikan segalanya,” komentar Jessica.
“Iya, walau sudah lama berlalu dia masih ingat terus saja.”
Saat itu Nickhun berpapasan dengan Tiffany. Tiffany menunduk seakan takut-takut.
“Minggir, jelek!” bentak Nickhun.
Lalu Tiffany menangis setelah Nickhun pergi.
Taeyeon menghela nafas dan mendekati Tiffany. “Walau sudah kelas 5 SD kamu masih saja menangis karena hal sepele ya, Fany ah.”
“Habis… dibentak begitu kan aku jadi teringat sama kejadian dulu…”
“Sudahlah, kalau dia ganggu kamu cuekin saja. Kita duduk sebelahan saja, supaya dia tidak ganggu kamu. Nah, hapus air mata kamu ya? Sebentar lagi pelajaran dimulai.”
Jessica melihat Taeyeon menghapus air mata Tiffany dengan jarinya. “Enaknya diperhatikan sama Taeyeon…” Dia merasa sedih karena tahun ini dia tidak sekelas dengan Taeyeon. Kelas miliknya berjarak tiga kelas darinya. Waktu interaksinya bakal berkurang, pikirnya.

Jam istirahat.
Jessica duduk di kursi yang terletak di depan kelas dan menghela nafas.
“Masih muda kok sudah menghela nafas.”
Jessica mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan wajah yang penuh senyum.
“Ruan Ruan.”
“Hehe.”
“Bicaramu barusan seperti ahjumma saja.”
“Jinjja? Padahal kurasa biasa saja.” Taeyeon duduk di sebelahnya. “Habis aku tidak pernah melihat anak-anak seumuran kita menghela nafas.” Taeyeon mengayun-ayunkan kakinya ke depan sambil duduk. “Jadi kenapa kamu menghela nafas?”
Jessica sedang menimbang-nimbang dalam hati apakah hendak berterus terang atau tidak.
“Atau kamu merasa pelajaran matematika kelas 5 SD mulai susah? Memang perkalian dan pembagiannya jadi lebih rumit dibanding waktu kita kelas 3 SD. Sudah itu terkadang ada soal cerita, jadi malas baca ya kan? Ehehe. Kalau sulit tanyakan saja padaku. Walau bukan yang paling pintar di kelas tapi aku cukup mahir matematika.”
“Karena tahun ini aku tidak bisa sekelas dengan Ruan Ruan…”
“Eh? Oh, jadi karena itu kamu menghela nafas? Tenang saja kalau begitu. Kita kan masih bisa bermain saat jam istirahat.”
“Aku ingin waktu lebih lama dari itu…”
Taeyeon berdiri dan menarik tangan Jessica. “Ayo kita main kejar-kejaran di lapangan saja.”
“Hah? Kejar-kejaran? Nggak mau ah, capek.”
“Belum mulai kok sudah bilang capek?”
“Habis panas kan? Ini sedang musim panas.”
“Masa takut panas. Ayolah, menyenangkan lho. Kita akan merasa lebih segar.”
Taeyeon setengah menyeret Jessica sampai ke tengah lapangan.
“Mulai, kamu yang jadi. Jadi kamu harus kejar aku.”
“Eh?!”
Taeyeon berlari beberapa meter ke depan lalu berbalik menatapnya. “Ayo kejar aku Sica~”
Tidak punya pilihan lain, maka Jessica menggerakkan tubuhnya untuk lari. Tapi walau bagaimanapun berusaha dia selalu tertinggal selangkah di belakang Taeyeon.
Sepuluh menit kemudian.
“Nggak kena~ Ayo! Masa larimu cuma secepat itu Sica? Kamu bahkan belum bisa menangkapku!”
Jessica membungkuk dan memegang kedua lututnya. “Hahhh…! Hahhh…! Aku sudah capek!”
“Baru juga sepuluh menitan kan?”
“Kalau sudah capek ya capek!”
“Baiklah, aku mengerti, wajahmu sudah merah. Ayo kita berteduh.”
Taeyeon berjalan menghampiri Jessica. Saat Taeyeon sudah sejarak jangkauan tangan, senyum tersungging di bibir Jessica. Tidak mau melewatkan kesempatan itu, dia memegang bahu Taeyeon sambil berseru. “Kena!”
Sedetik kemudian Taeyeon baru sadar apa maksudnya.
“Aish, kamu ini ya, curang.”
“Ehehe, yang penting kena kan? Kamu belum bilang kalau permainannya sudah berakhir.”
Dengan menyesal, Taeyeon perlu mengakuinya kalau Jessica benar. Mereka berdua kembali duduk di kursi depan kelas.
“Untung aku bawa tisu.”
Taeyeon memberikan dua lembar tisu untuk Jessica. Lalu dia sendiri pun mengelap keringatnya.
“Ah, capek sekali.”
“Tapi sekarang kamu tersenyum.”
Jessica menyadarinya kalau sewaktu dia bermain dengan Taeyeon, dia jadi melupakan kesedihannya dan senyum masih tersungging di bibirnya.
“Lain kali main ya?” ajak Taeyeon.
“Iya.”
“Biar sekalian kamu latihan lari untuk pelajaran olahraga, kekeke.”
“Kamu mengejek ya?” kata Jessica sambil memukul ringan lengannya.

**

1 bulan kemudian.
Malam harinya Taeyeon benar-benar hiperaktif. Besok akan diadakan study tour untuk giliran angkatan mereka. Sudah diatur bahwa dua kelas sekaligus akan bepergian pada hari yang sama. Dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat hari esok. Jadinya dia hanya tidur setengah dari waktunya yang biasanya, tapi meski kekurangan tidur pun esok harinya dia bangun lebih cepat. Segala persiapan sudah disiapkan sejak kemarin malam, yang tersisa hanya tinggal mandi, ganti baju, dan sarapan. Taeyeon bangun dengan bersemangat. Menyelesaikan segala aktifitas yang diperlukan dan tiba di stasiun Seoul lebih awal. Sampai disana dia menemukan guru dan beberapa anak-anak dari sekolahnya, lalu dia ikut berkumpul.
20 menit kemudian mulai ramai. Setelah semua anak diabsen, lalu mereka naik kereta dengan tertib. Mereka akan pergi menuju Busan.
Karena Jessica tiba lebih dulu, maka dia bisa duduk di sebelah Taeyeon. Apalagi karena mereka diperbolehkan duduk dengan bebas. Sementara Tiffany terpaksa harus duduk 4 kursi di belakang Taeyeon.
Jam 6 tepat kereta berangkat. Perjalanan memakan waktu kurang dari 3 jam.
“Jadi nggak sabar ya kan Sica? Ini pertama kalinya aku ke Busan bareng teman-teman. Aku hanya pernah pergi sekali kesini bersama dengan orangtuaku.”
“Iya.”
Jessica membawa sebuah kamera dalam tas dengan harap dia bisa mengambil beberapa foto kenang-kenangan dengan Taeyeon selama di Busan. Pada jaman mereka saat itu, hanya sedikit sekali anak-anak SD yang membawa kamera saat pergi berwisata. Sebagian karena orangtua mereka takut anaknya lupa atau lalai dan meninggalkan kamera yang dipinjam. Karena saat itu kamera masih terbilang benda yang berharga.
Seisi kereta penuh dengan murid-murid yang saling mengobrol sepanjang perjalanan. Sebagian ada yang tertidur karena kurang tidur semalam.
Taeyeon sendiri tadinya excited ketika baru duduk di kereta, tapi setengah jam kemudian dia mulai mengantuk. Akhirnya dia pun tertidur. Kepalanya jatuh ke pundak Jessica.
Jessica membiarkannya dan malah merasa senang.
Ketika sudah sampai di Busan, ada 2 bus yang sudah bersiap-siap untuk menjemput. Lalu mereka semua naik ke bus untuk diantar ke tujuan pertama, yaitu Taejongdae.
Taejongdae adalah sebuah taman alam di Busan. Merupakan salah satu tempat yang pantas dikunjungi karena keindahan alamnya apabila berwisata ke Busan.
Ketika sudah sampai, mereka naik kereta Danubi karena tempatnya cukup luas.
image

image

Satu kereta terdiri dari 3 gerbong kosong untuk penumpang. Sebagian ada beberapa orang yang memilih berjalan kaki mengelingingi tempat ini jika mereka memiliki tubuh yang fit.
Umumnya biasanya orang harus mengantri untuk menaiki kereta Danubi, namun khusus untuk mereka sudah disewakan 2 kereta untuk ditumpangi.
Dan seperti sudah takdir, Taeyeon duduk dengan diapit oleh Tiffany dan Jessica.
Mereka semua diinstruksikan oleh Guru untuk turun ketika kereta sampai di depan observatorium.
image

Lalu mereka diberitahukan agar jangan kemana-mana sampai batas waktu dan diberitahu letak toilet. Setelah itu murid-murid mulai berpencar. Sebagian ada yang mengamati dari deck, sebagiannya masuk ke dalam toko untuk melihat souvenir.
Taeyeon yang kebocahan langsung berlari ke ujung deck. Karena merasa kurang puas lalu dia berlari-lari naik ke lantai atas lewat tangga.
“Jangan lari-lari, nanti jatuh!” tegur Gurunya, tapi Taeyeon terlalu bersemangat untuk mendengarkan.
“Woah! Pemandangan yang indah!” puji Taeyeon penuh kagum ketika dia sudah memandang dari tempat yang lebih tinggi.
“Hahh…! Hahh…! kamu benar-benar penuh energi,” kata Jessica sedikit terengah-engah setelah berhasil menyusul Taeyeon.
“Padahal cuma naik satu lantai, Sica.”
“Habis kamu pakai lari-lari segala.”
“Disini pemandangannya lebih keren dibanding di bawah.”
“Ruan Ruan.” Jessica bermaksud mengeluarkan kameranya dari tas, namun Taeyeon sudah berkeliling ke tempat lain lagi.
“Oh! Sica bawa kamera ya?!” seru salah seorang teman sekelasnya.
“I-iya.”
“Kebetulan, fotoin kita dong dengan latar belakang laut di belakang.”
Kemudian beberapa temannya mulai berpose.
“Nanti minta hasilnya ya?”
“Uh, iya,” kata Jessica merasa tidak mampu menolak karena yang minta ada 5 orang.
“Kimchiiiii~”

“Taetae!”
“Oh? Fany ah, kok baru kelihatan?”
“Karena kebelet tadi aku pergi ke toilet.”
“Oh pantas.”
“Tapi pemandangan di sisi sini juga bagus,” kata Tiffany ketika melihat ke bawah.
image

“Amajing~” ucap Taeyeon mencoba menggunakan bahasa inggris.
“Salah Taetae, yang benar bacanya amazing.” Tiffany mencoba membenarkan, tapi Taeyeon tidak begitu peduli dengan salah pengucapan kata.
“Fany ah, ayo kita lihat souvenir.” Taeyeon menunjuk ke dalam toko. Lalu dia menggandeng tangan Tiffany dan membawanya pergi.
Sementara Jessica yang barusan selesai memfoto teman-temannya dan sekarang mencari keberadaan Taeyeon.
“Mana dia?”
Matanya berusaha mencari-cari anak perempuan berkaos biru muda itu. Saat itu bukan hanya Taeyeon saja yang memakai kaos biru muda, sehingga agak sulit menemukannya. Jessica pergi ke arah yang salah. Dan dia malah disamperin teman-teman sekelasnya yang lain lagi yang minta difotoin juga.
“Eh, katanya kamu bawa kamera? Fotoin kami juga dong?”

“Taetae, ini lucu. Mau beli sepasang?^^” Tiffany mengangkat sebuah hiasan berbentuk kura-kura.
“Ah, kudengar arti simbolik kura-kura bagus.”
Saat itu ada seorang anak laki-laki mengendap-endap di belakang Tiffany. Kemudian dia iseng menyingkap rok yang dikenakan Tiffany.
“Kyaaaaaaa!!”
“Hahaha! Rasain! Makanya jangan pakai rok kesini!” teriak anak laki-laki itu kabur sambil merong.
“Ih, lagi-lagi Nickhun! Dia selalu saja bikin aku kesal!”
Pink… pikir Taeyeon tidak bisa melupakan pemandangan yang dilihatnya barusan.
“Jadi Taetae, kamu mau beli?”
“Ah, kurasa aku akan membelinya untuk orangtuaku.”
“Ne, aku juga mau membelinya sebagai oleh-oleh orangtuaku^^”
Mereka berdua membelinya, lalu Taeyeon memasukkannya ke dalam kantong celana pendeknya.

**

Ketika mereka sudah disuruh berkumpul lagi, barulah Jessica menemukan Taeyeon.
“Hei Sica, kemana saja kamu?”
“Justru aku yang harusnya bilang begitu!” kata Jessica setengah kesal. Dia sampai berkeringat karena berkeliling-keliling mencari Taeyeon.
Jessica sempat tidak rela melihat tangan Taeyeon yang masih bergandengan dengan Tiffany. Apalagi Tiffany tersenyum manis di sisinya.
Mereka sedang duduk di dekat patung ketika Guru mengingstruksikan semua murid untuk berjalan mengikutinya dan pemandu wisata. Mereka tidak akan naik kereta, tapi berjalan ke tempat selanjutnya yang letaknya tidak jauh dari sana.
“Maaf Sica, ayo, kali ini kita sama-sama.”
Tiffany sedikit tidak rela melihat Taeyeon menggandeng Jessica dengan tangan yang satunya.
Semua murid berjalan mengikuti Guru dan pemandu wisata mereka yang berjalan di depan.
Pemberhentian selanjutnya adalah Taejongdae Cliffs.
image

“Bagi yang mau turun, silakan ikut, tapi bagi yang merasa tidak cukup kuat, tidak apa-apa tidak usah ikut, kalian bisa menunggu disini. Kalau mau ikut sampai di pertengahan jalan juga silakan. Tapi bagi yang tidak ikut jangan berjalan sendiri-sendiri, pastikan selalu berbarengan.”
Kali ini mereka akan menuruni tangga sampai ke tebing bawah. Saat itu sedang musim panas, jadi cuaca yang panas pun cukup menguras energi.
“Bagi yang ikut turun, hati-hati! Perhatikan langkah kalian!”
“Sudah sampai sini tentu saja harus ikut sampai ke bawah, ya kan Sica?” kata Taeyeon bersemangat.
“Eh? I-iya…” kata Jessica mendadak tidak yakin. Dia mungkin saja bisa turun sampai ke tebing bawah sana, tapi untuk naik ke atas lagi? Itu berarti dia harus menaiki kembali semua tangga yang telah dia turuni, ditambah dibawah terik matahari sekitar 33 – 34 derajat, karena di bawah tidak ada tempat, semacam pohon untuk bernaung.
image

“Kalau Taetae ke bawah, aku ikut^^”
“Begitu dong.”
Akhirnya Jessica pun mengiyakan, karena didorong oleh rasa tidak mau kalah sama Tiffany.
Taeyeon menuruni tangga mengikuti Guru dan pemandu wisata dengan lancar.
Sementara Jessica dan Tiffany berada beberapa langkah di belakang Taeyeon.
“Fuhh… panas ya Jessie?”
“Sangat, malah,” kata Jessica dengan peluh mulai bercucuran di pipinya.
Tiba-tiba Taeyeon berhenti di bawah bayang-bayang.
“Ah, Sica, Fany, sini sini.”
“?”
Taeyeon mengeluarkan spray dari tas yang dibawanya dan menyemprot lengan dan kakinya, berikut mukanya. Sekarang mereka sudah berdiri di sebelah Taeyeon dan melihat apa yang dilakukannya.
“Ini spray untuk melindungi kulit dari sengatan sinar ultraviolet. Supaya kulit kita tidak terbakar.”
“Wah, persiapanmu bagus juga, Taetae.”
“Ah, sebenarnya orangtuaku yang memaksa memasukannya ke dalam tasku. Ternyata berguna juga. Nah berikan tangan kalian.”
Taeyeon menyemprotkannya pada masing-masing lengan Tiffany dan Jessica, lalu juga bagian kaki mereka yang tidak tertutupi. Tiffany dan Jessica menggosok-gosoknya supaya menyebar dengan rata.
“Muka juga ya? Nah, pejamkan mata kalian.”
Tiffany dan Jessica memejamkan mata rapat-rapat saat isi spray itu disemprotkan ke muka mereka.
“Ahh!” pekik Tiffany.
“Jangan buka mata, digosok yang merata.”
“Ahh kerasa sedikit di bibir.”
“Jangan dimakan,” kata Taeyeon sambil memasukkan spraynya kembali ke dalam tas. “Sudah yuk, ayo kita lanjut turun.”
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan turun sampai ke tebing bawah.
image

Di tengah jalan, Jessica sempat memotret pemandangan di depannya.
image

Lalu dia baru menyadari bahwa filmnya tinggal tersisa dua.
Ke-kenapa tinggal segini? Jangan-jangan semalam aku lupa menggantinya dengan yang baru? Ah, andwaeeee!!
Sampai di bawah, jalanan sudah tidak rata. Jadi mereka harus berhati-hati melangkah.
“Kyaaaa!”
“Tiffany!”
“Ah, gwenchana. Tapi kalau tahu begini, seharusnya aku memakai sepatu.”
Taeyeon melihat ke sandal pink yang dikenakan Tiffany, lalu ke arah sepatu yang dikenakannya sendiri. Saat ini dia sendiri hanya memakai sandal sepatu, tapi karena ada pengencangnya jadi tidak mudah terlepas.
“Pegangan.” Taeyeon menggandeng tangan Tiffany.
Lagi-lagi Jessica merasa iri. Karena dia memakai sepatu, jadi dia tidak bisa beralasan untuk minta pegangan sama Taeyeon.
Ketika harus turun di bebatuan dekat tebing pun, Taeyeon yang melompat turun lebih dulu, dengan mudahnya dia melakukan itu. Lalu dia menawarkan tangan untuk membantu Tiffany turun. Tentu saja tidak hanya terbatas pada Tiffany, dia juga bermaksud membantu memegangi Jessica turun. Tapi Jessica sempat ngambek dan tidak mau menerima uluran tangan Taeyeon.
“Kenapa? Ayo pegangan?”
Jessica berusaha cuek dan hendak turun sendiri, tapi dia berpijak di batu yang tidak stabil.
“!”
“Awas!” Taeyeon memeluk Jessica, dia berhasil mencegah Jessica terjatuh.
“Hati-hati! Kalau jatuh di tempat bebatuan begini bahaya tahu!” bentak Taeyeon.
“Maaf…”
Melihat Jessica tampak menyesal, suara Taeyeon melunak. “Kalau lain kali orang lain menawarkan bantuan, terima saja untuk memudahkanmu, ya?”
Jessica mengangguk.
Lalu mereka melanjutkan turun. Saat itu kura-kura yang ada di kantong celana Taeyeon terjatuh karena dia meloncat saat turun bebatuan, dan dia tidak sadar.
Jessica memungutnya.
“Ah Ruan Ruan-”
“Woah! Disini jauh lebih keren daripada di observatorium tadi!”
Taeyeon langsung menebarkan pandangan ke segala arah.
image
image

Jessica menarik-narik lengan bajunya.
“Ngg, ada apa Sica?”
“Kamu menjatuhkan ini.”
Jessica memberikan hiasan kura-kura yang dipungutnya.
“Ah, kura-kuraku! Gomawo, aku tidak sadar telah menjatuhkannya.” Taeyeon menerimanya dan kali ini memasukannya ke dalam tas.
“Itu souvenir yang kamu beli tadi?”
“Iya.”
“Sama… Tiffany?”
“Iya, kenapa? Kamu juga mau? Tapi ini aku membelinya untuk orangtuaku, jadi bukan untuk aku sendiri.”
“Ah, tidak, tidak apa-apa, bukan berarti aku menginginkannya.”
“Sekali lagi terima kasih ya.”
“Iya, sama-sama…”

Mereka tetap disana selama beberapa menit untuk menikmati pemandangan, meski matahari bersinar dengan terik.
“Anak-anak, jangan berdiri terlalu tepi ya.” Gurunya memperingatkan.

Tiffany yang menyadari lebih dulu ketika Jessica mengeluarkan kamera dari tas yang dipikulnya. “Lho Sica, kamu bawa kamera rupanya?”
“Iya.”
“Kalau begitu kita foto bertiga disini saja gimana? Kita minta tolong Songsaengnim untuk fotoin,” usul Tiffany.
“Ah.”
“Ide bagus, biar kupanggilkan,” sela Taeyeon.
“Songsaengnim!” seru Taeyeon sambil menghampiri Gurunya.
“Bagus, kamu bersemangat sekali,” puji Gurunya.
Memang yang turun sampai ke tempat mereka berpijak hanya sedikit, bisa dihitung dengan jari. Sebagian karena merasa terlalu panas di bawah atau merasa tidak akan sanggup untuk naik kembali.
“Oh, jadi kalian mau minta difoto bertiga? Boleh, kemarikan kameranya.”
Jessica sengaja memilih berdiri di tengah supaya Tiffany tidak sebelahan sama Taeyeon. Tapi Tiffany tampaknya tidak protes dengan itu. Mereka berdiri berdampingan. Jessica menggandeng tangan Taeyeon.
“Kimchiiiiiii~” seru Gurunya supaya mereka tersenyum meski berada di bawah terik matahari.
Mereka bertiga tersenyum pada kamera. Dan momen mereka bertiga saat itu dengan latar belakang tebing dan laut diabadikan dalam kamera.
“Kamsahamnida!” seru mereka bertiga bersamaan.
“Tidak masalah, ini.” Kameranya dikembalikan pada Jessica.

“Nah, sudah cukup kan? Ayo sekarang kita naik kembali, semuanya!”
Perjalanan untuk naik kembali sangat lelah dan berat dibanding ketika turun ke bawah. Apalagi mereka sambil membawa tas.
Tiffany dan Jessica sampai terengah-engah. Muka Jessica bahkan sampai memerah dan keringat membanjiri bajunya.
“Gwenchana? Mau kubantu bawakan tasnya?” Taeyeon menawarkan diri pada mereka berdua.
“Tapi kamu sendiri juga capek kan Taetae?”
“Iya sih, tapi aku nggak gitu kewalahan sampai segitunya. Atau kita berhenti sebentar untuk istirahat saja gimana?”
Akhirnya mereka setuju untuk berhenti 5 menit dan duduk.
“Fuhh, dengan jarak yang jauh begini, apalagi ditambah panasnya seperti di oven.”
“Haha, di oven? Taetae berlebihan.”
“Makanya Songsaengnim tadi sudah bilang kalau nggak kuat nggak usah ikut turun kan,” kata Jessica.
“Kata siapa aku capek, aku masih bisa terus. Aku cuma tidak bisa meninggalkan kalian saja.”
Jessica merasa sedikit kesal, menganggap Taeyeon agak sok.
“Bagus, kalau begitu tolong bawakan ini.” Jessica melepas tasnya dan menyorongkannya ke dada Taeyeon.
“Ah, tadi kan aku juga menawarkan untuk bantu bawain.”
“Tapi nanti jangan mengeluh dan minta aku membawanya sendiri ya,” kata Jessica langsung berjalan lebih dulu.
“Neeee~”
Lalu Taeyeon dan Tiffany saling berpandangan.
“Tiffany mau dibantu dibawakan juga?”
“Ah, tidak usah, nanti merepotkan Taetae.”
Jessica merasa sedikit lebih ringan tanpa membawa beban di punggungnya. Dan dia juga senang bisa berjalan mendahului Taeyeon dan Tiffany.
“Taetae…”
“Ah gwenchana,” kata Taeyeon sambil masih memeluk tas Jessica di dadanya.
“Bukan itu, tapi aku hampir tidak sanggup lagi…”
“Ah, bertahanlah, mau kubantu bawakan juga tasnya?”
“Jangan!”
“Ya sudah, tinggal sedikit lagi kita sampai di atas. Nanti kita beli minuman.”

Setelah sampai di atas, Taeyeon merasa kakinya hampir tidak sanggup digerakkan lagi. Dia memang tidak mengatakannya, tapi terlihat jelas dari sejumlah keringat yang dikeluarkannya.
Fuh, makanya jangan sok, batin Jessica senang sambil berjalan mendekati Taeyeon.
“Sini, tasku.”
“Ah, iya, ini.”
“Berat kan? Makanya jangan sombong.”
“Ah, tapi syukurlah, setidaknya aku bisa membantu meringankan bebanmu.” Taeyeon malah meresponnya dengan tersenyum.
Dan Jessica malah menemukan dirinya berdebar-debar melihat senyum Taeyeon.
Jessica merutuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia malah terpesona melihat Taeyeon yang tersenyum meski wajahnya berkeringat.
“Taetae, ini tisu basah.”
“Gomawo Tiffany, ini sangat menolong.” Taeyeon menyeka keringatnya. “Ah, terasa agak sejuk.”
“Ini buat Sica juga.” Tiffany memberi tisu basah untuk Jessica juga. Dan Jessica mau tidak mau harus menerima untuk mengelap keringatnya.

Mereka semua menunggu semua murid berkumpul kembali. Saat Jessica lagi berteduh dan menikmati angin berhembus ke wajahnya. Tiba-tiba sesuatu yang dingin ditempelkan ke pipinya dari samping.
“Kyaaaa!”
“Hehe, kaget ya?”
“Ru-Ruan Ruan ah!”
“Ini, aku belikan es teh buat kamu.”
“Ah, gomawo.”
Jessica ingin mengeluarkan uang dari tasnya untuk membayar Taeyeon, tapi Taeyeon berkata.
“Tidak usah, kutraktir ini.”
“Gomawo, tapi apa benar tidak apa-apa? Ini uang dari orangtuamu kan?”
“Ani, aku juga membawa sebagian uang tabunganku. Aku membeli es teh itu dengan uang tabunganku. Jadi sekarang nikmati saja es teh itu dengan tenang.”
Mereka bertiga meminum es teh tanpa saling berbicara. Setengahnya karena ingin melepas lelah, sehabis perjalanan mendaki barusan. Sebagiannya karena belum ada topik yang bisa dibicarakan.

Guru sedang berdiskusi dengan pemandu wisata dan beberapa menit kemudian menginstruksikan semua murid untuk kembali naik kereta Danubi, kali ini mengelilingi daerah ini sambil menikmati pemandangan sekitar. Dan kemudian pada akhirnya memutari kembali ke daerah pintu masuk.
Kemudian mereka naik bus dan pergi dari sana.
Setelahnya sebagian besar perjalanan dihabiskan dengan mengelilingi kota Busan dengan Bus sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.

Pukul 6.45 sore.
Mereka sudah sampai di stasiun dan duduk di dalam kereta, bersiap-siap menunggu keberangkatan kereta.
Terdengar suara cempreng milik seseorang, karena dia suaranya paling keras.
“Aku sudah beli banyak oleh-oleh dan makanan.”
“Selalu saja makanan tidak pernah lupa ya, Sooyoung.”
Mendengar itu Taeyeon jadi teringat, dari tadi dia tidak banyak minum. Tenggorokannya terasa kering sampai rasanya sebentar lagi dia akan terkena sakit tenggorokan.
“Ah, aku lupa beli minuman.”
“Kamu mau beli minuman?” tanya Jessica saat melihat Taeyeon beranjak dari kursinya.
“Iya, di mesin penjual otomatis. Aku haus sekali, dari tadi belum minum, jadi aku perlu beli sekarang.”
“Kalau begitu aku titip ya, Taeyeon. Belikan aku susu pisang.”
“Aku juga dong. Belikan aku cola.”
“Aku juga, melon, eh nggak jadi, susu strawberry saja!”
“Air putih.”
“Sprite!”
“Susu kacang kedelai!”
“Teh.”
Tiba-tiba saja banyak teman-temannya yang menitip.
“Iya, iya, semua pasti akan kubelikan,” kata Taeyeon sambil mencoba mengingat semua pesanan mereka sambil menerima uang dari mereka.
Taeyeon turun dari kereta. Perutnya berbunyi.
“Ah, aku juga harus beli makan malam kalau tidak aku tidak akan bisa makan sampai pulang. Sampai di rumah bisa jam 10.30, dan belum tentu Umma bisa menyiapkan makan jam segitu. Setidaknya kan aku bisa makan di kereta.”
Maka Taeyeon pun pergi membeli makan lebih dulu. Kemudian ke mesin penjual otomatis.
Taeyeon sudah membeli minuman untuk dirinya sendiri dan minuman untuk Jessica, sekarang dia sedang mengingat-ingat pesanan teman-temannya yang lain sambil memasukkan uang ke dalam mesin.
“Hmm, kalau nggak salah tadi ada yang mau teh, air, cola, sprite, susu kacang kedelai, lalu susu… yang benar strawberry apa melon ya?” Mendadak Taeyeon bingung. Mereka tadi semuanya meminta hampir bersamaan, jadi ingatannya agak kacau.
“Ah sudahlah, aku beli dua-duanya, nanti kalau salah satu salah ya buat aku. Lagipula aku juga suka.”
Saat sedang mengumpulkan minumannya di tempat pengambilan, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera diberangkatkan.
“Eh?!”
Taeyeon panik, dia tidak sempat lagi memasukkan sebagian minumannya ke dalam tas. Semua dipegangnya dalam pelukan.
Dari dalam kereta Jessica yang sedang gelisah menanti Taeyeon segera memandang keluar jendela. Dia melihat Taeyeon sedang berlari-lari menuju kereta, tapi sekitar beberapa puluh meter di depan kereta, dia tersandung dan jatuh, minuman-minumannya menggelinding.
“Aduh, apa yang dilakukannya sih? Sudah mau berangkat keretanya masih disitu!” Jessica menjadi gemas melihat Taeyeon yang sedang berusaha memunguti semua minuman yang menggelinding. Dia langsung beranjak dari kursinya. Tanpa pikir panjang dia ikut turun.
“Ruan Ruan!”
“Ah, Sica! Tolong bantu aku!”
Jessica berjongkok dan ikut membantu memungut sambil mendesak.
“Cepat! Cepat! Kamu ngapain saja sih sampai lama sekali?!”
Akhirnya mereka berhasil memunguti semua, tapi terlambat, saat itu kereta sudah mulai berjalan.
“Ah, chankaman!”
Tapi kereta tidak akan berhenti hanya untuk menunggu 2 orang yang terlambat.

Hati Jessica seperti merosot melihat kereta itu melesat semakin cepat, dan akhirnya telah meninggalkan stasiun sepenuhnya.
Keretanya…
Kereta yang akan membawa mereka pulang kembali ke Seoul meninggalkan mereka.
“Ahhh… kita ketinggalan deh. Tahu gitu, harusnya kubiarkan saja minuman yang menggelinding terlalu jauh. Ah tidak, mungkin malah seharusnya tidak usah kupungut segala. Tapi uang teman-teman nanti…”
Taeyeon menyadari anak perempuan yang berdiri di sebelahnya terus terdiam.
“Sica?”
Dia melihat air mata menitik di wajah Jessica.
“Ke-kenapa nangis?”
“Aku takut Ruan Ruan… kita ketinggalan kereta… bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kita? Sudah hampir malam…”
Jessica menangis. Melihat itu, Taeyeon jadi merasa dirinya harus tegar.
“Tenang, kita masih bisa pulang. Kita hanya tinggal menunggu sampai kereta berikutnya.”
“Uhh…” Jessica mulai menangis sesenggukan.
“Aduh, jangan menangis lagi. Tenang saja, pasti masih ada kereta yang akan lewat. Kita pasti bisa pulang ke Seoul dengan selamat. Jadi hapus air matamu ya? Lalu kita bisa menanyakan pada petugas jam berapa kereta berikutnya akan datang.”
“Tapi Ruan Ruan… bukannya kita perlu uang untuk naik kereta. Kamu punya uang?”
“Eh?”

Sementara di dalam kereta berkecepatan tinggi.
“Apa?! Taeyeon dan Jessica ketinggalan di stasiun?!” kata Gurunya ketika teman-temannya melapor. “Wah, kereta ini nggak akan berhenti sampai di Seoul.”
“Bagaimana ini Songsaengnim?” tanya seorang murid cemas.
“Ini pasti gara-gara aku menitip minuman padanya, huweee…” salah seorang anak mulai menyalahkan dirinya.
“Sudah, sudah, nanti aku akan meminta kenalan bapak untuk menjemput mereka. Jadi tenang saja.”

**

“Karena terburu-buru turun tadi, aku tidak bawa apa-apa,” kata Jessica.
“Hmm.” Taeyeon mengecek isi dompetnya. Sisanya hanya selembar uang besar 50000 won, dan 1000 won kembalian dari minuman, beserta dengan recehan.
Karena harga tiket kelas standardnya 40000 won, berarti…
“Hanya bisa beli 1 tiket pulang.”
“Ehhh?!”
“Aku tidak apa-apa, kamu pulanglah, akan kubelikan tiketnya. Aku sudah cek jam 10.30 nanti ada kereta yang akan menuju ke Seoul. Itu kereta terakhir hari ini.”
Jessica menarik baju Taeyeon. “Tapi kamu bagaimana?”
“Gwenchana.”
“Apanya yang gwenchana?! Kamu bisa menunggu sampai besok lho!”
“Aku yakin teman-teman pasti sudah melaporkan keabsenan kita pada Songsaengnim. Aku yakin dia pasti akan melakukan sesuatu. Jadi ya? Akan kubelikan tiketnya sekarang.”
“Andwae! Aku nggak mau!”
“Daripada menunggu sampai kapan-“
“Tidak! Pokoknya tidak! Kamu pikir aku mau naik sendirian pulang meninggalkanmu? Lagipula justru aku malah tidak akan merasa tenang sendirian naik kereta di tengah malam begitu!”
Jessica dan Taeyeon saling beradu pandang. Taeyeon memikirkan argumen Jessica.
“Benar juga, nanti siapa yang akan menjagamu selama di kereta.”
“Ya kan?!”
“Tapi tetap saja lebih baik pulang daripada menunggu disini-”
“Tidak! Tidak! Tidak! Sudah cukup, aku tidak mau! Kita berdua sama-sama menunggu disini. Katamu Songsaengnim pasti akan melakukan sesuatu.”
“Benar, makanya kita tunggu saja.”
Taeyeon dan Jessica duduk di salah satu kursi umum. Taeyeon meletakkan minuman-minuman yang sedari tadi dipegangnya di samping tempatnya duduk.
“Jadi beneran kamu mau nunggu disini bersamaku?”
“Benar, jadi sudah cukup bertanyanya!”
“Baiklah kalau begitu.”
Taeyeon mengeluarkan sekotak makanan yang tadi dibelinya.
“Aku lapar, aku mau makan.”
Melihat makanan yang dimakan Taeyeon, Jessica jadi sadar dengan kondisi perutnya yang kosong. Semua keributan tadi membuatnya lupa bahwa dia juga belum makan malam. Jessica memandang dengan mulut berair. Melihat itu Taeyeon menawarkan.
“Kamu mau beli makanan? Aku ada uang.”
“Nggak usah.”
“Kalau begitu, kamu mau setengah?”
“……………..” Jessica terlihat sungkan.
“Gwenchana, lagipula porsinya kebanyakan untukku.”
“Boleh?”
“Silakan.”
Taeyeon memberikan kotak itu beserta sumpit kayu yang digunakannya. Makanan itu berupa nasi dengan beef teriyaki. Jessica memakannya dengan lahap.
“Haha, kamu benar-benar kelaparan ya? Tapi jangan makan terlalu cepat, santai saja.”
Setelah memakan sebanyak setengah, Jessica mengembalikannya pada Taeyeon, lalu dia meminum susu pisang miliknya.
“Kalau masih mau minum, ini ada banyak, haha.” Taeyeon menawarkan. “Meski ini milik teman-teman, tapi kurasa mereka tidak akan keberatan kalau berbagi untuk kita di saat seperti ini.”
Jessica hanya terdiam.
“Aku makan ya.”
Jessica mendadak baru sadar bahwa sumpit yang bekas digunakan olehnya kini dipakai oleh Taeyeon.
“Wae? Kamu mau lagi?”
“Ah, bukan.” Jessica cepat-cepat berpaling, merasa malu sendiri.
“Tapi memang beef teriyaki ini rasanya enak.”
Setelah selesai makan, Taeyeon menenggak botol airnya sampai hampir habis.
“Ahh, hari ini benar-benar hari yang panjang. Mungkin harus kutulis dalam diari.”
“Memang kamu nulis diari?”
“Tidak juga, hanya kalau ada momen-momen tertentu, seperti study tour ini, ingin rasanya kutulis supaya kalau aku lupa, aku bisa membacanya dan ingat kembali.”
“Heee… benar juga katamu.”
Jessica membuka risleting tasnya dan mengeluarkan kamera.
“Kenapa kamu mengeluarkan kamera?”
“Ah, tidak…”
Kameraku… pada akhirnya selalu saja ada gangguan. Aku tidak pernah bisa membuat foto kenang-kenangan berduaan saja dengan Taeyeon selama berada di Busan.
“Hei, masih ada sisa film?”
“Eh? Iya, masih ada satu, memangnya kenapa?”
“Gimana kalau kita ambil foto saat ini? Buat kenang-kenangan.”
“Pabo, ketinggalan kereta memangnya momen yang menyenangkan bagi kamu?”
“Kenapa tidak? Rasanya mendebarkan, seperti sedang bertualang rasanya, karena bisa dibilang kita melakukan hal yang tidak biasanya kan?”
“Hmm, memang, tapi cuma kamu yang bilang ketinggalan kereta seperti bertualang.”
Taeyeon tertawa geli. Melihat itu Jessica jadi tertular ikut tertawa juga.
“Ahaha, sama sekali tak kusangka aku akan bisa tertawa seperti ini karena ketinggalan kereta.”
“Tapi kamu harus sering-sering tertawa Sica, haha. Tertawa itu menyenangkan dan baik buat tubuh.”
Foto berdua saja… sebenarnya memang itu yang paling diharapkan Jessica dalam study tour ini.
“Baiklah, ayo kita foto buat kenang-kenangan. Tapi apa bisa foto berdua seperti ini? Kamu pernah mencoba memfoto diri sendiri?”
“Kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya. Sini, biar aku saja yang pegang.”
Mereka merapat. Taeyeon mengangkat kamera dengan lensa menghadap ke arah mereka.
“Tunggu, kamu angkatnya terlalu keatas.”
“Begini?” Taeyeon menurunkan sedikit anglenya.
“Masih kurang, tingginya harus sejajar dengan mata kita, biar pemandangan di belakang terlihat. Kalau terlalu ke atas nanti cuma kelihatan kursi yang kita duduki.”
“Oke, begini ya?”
“Iya, sudah pas.”
“Menurutmu ini lensanya benar-benar sudah menghadap ke arah kita kan?”
“Iya sudah.”
“Oke, kalau begitu siap? Aku akan menekan tombolnya.”
“Ya, tekanlah.”
“Kimchiiii~”
Jepret.
“Kira-kira gimana ya? Apa terlalu dekat? Tapi padahal aku sudah menjulurkan tanganku sejauh mungkin.”
“Entahlah, kita hanya bisa tahu hasilnya kalau sudah dicuci.”
“Kalau sudah jadi nanti perlihatkan ya?”
“Ne.”
Mudah-mudahan hasilnya bagus, batin Jessica ketika menyimpan kembali kameranya.
Taeyeon bersandar dan melirik ke arah jam.
“Ah, sudah 1 jam sejak kita ketinggalan kereta.”
“Gimana kalau stasiun semakin sepi… matahari sudah terbenam…” kata Jessica merasa cemas lagi.
Taeyeon merangkul pundak Jessica.
“Ruan Ruan?”
“Tenang saja, aku yakin tidak lama lagi pasti akan ada yang menjemput kita.”
“Iya.”
“Oh ya, dan bisakah kamu berhenti memanggilku Ruan Ruan? Cukup Taeyeon saja. Soalnya lama-lama berasa agak aneh.”
“Eh, tapi padahal itu nama panggilan yang bagus…”
“Tapi aku merasa lebih seperti namaku dipanggil kalau menyebut dengan namaku.”
“Baiklah, kalau memang kamu merasa tidak nyaman. Sekarang aku akan memanggilmu dengan Taeyeon.”
“Iya, begitu lebih baik.”
“Ah, anak-anak, syukurlah kalian masih ada.”
Taeyeon dan Jessica bersamaan berpaling pada seorang ahjussi tak dikenal. Melihat itu Taeyeon langsung bersikap waspada. Ekspresi wajahnya tidak lagi tampak seperti bocah yang polos.
“Ada apa ahjussi?”
Taeyeon berwajah tegas supaya tidak anggap remeh walau hanya seorang anak-anak.
“Ah, bukan, bukan, Paman tidak bermaksud jahat. Hanya saja Paman dimintai tolong oleh Gurumu untuk menjemput kalian pulang ke Seoul.”
“Songsaengnim?”
“Iya.” Dia mengeluarkan ponselnya, menekan tombolnya, lalu tidak lama kemudian terdengar sebuah jawaban.
“Bagaimana?! Apa kamu sudah menemukan dua anak perempuan itu?!”
“Nih,” kata Ahjussi itu memperdengarkan suara Songsaengnim lewat ponsel yang di loudspeaker.
Taeyeon langsung menerima ponselnya. “Ah, songsaengnim?! Ini benar Songsaengnim?!”
“Benar, ini songsaengnim. Aku yang meminta tolong pada Ahjussi ini untuk menjemput kalian berdua pulang. Ahjussi ini orang baik kok, kalian bisa tenang karena dia orang kepercayaanku selama bertahun-tahun. Kalian bisa pulang sekarang.”
“Benar ya songsaengnim?”
“Iya, maaf karena tidak bisa menjemput kalian secara pribadi.”
“Iya, kami mengerti kok.”
“Syukurlah, mianhae ahjussi, tadinya kupikir penjahat.”
“Haha, gwenchana, kalau dari sudut pandang kalian memang bisa dimengerti kok. Justru aku kagum pada kewaspadaanmu. Kalian memang harus selalu waspada terhadap orang asing. Nah, sekarang ayo kita beli tiket untuk pulang.”
“Jadi ahjussi juga akan ikut?”
“Benar, kalau kalian merasa tidak nyaman, aku tidak akan duduk dekat kalian. Tapi aku akan tetap mengawasi kalian. Karena itu memang sudah tugasku, untuk memastikan kalian pulang dengan selamat.
Akhirnya mereka pulang naik kereta jam 10.30 ke Seoul. Sampai di stasiun mereka langsung dijemput oleh kedua orangtua Taeyeon dan Jessica yang sudah menunggu dengan cemas. Tentu saja keduanya dinasehati. Lalu mereka berterima kasih pada ahjussi yang sudah mengantar mereka.
Sebelum pulang ke rumah masing-masing, Taeyeon dan Jessica sempat berpandangan sekali lagi. Mereka sama-sama saling tersenyum akan hal yang baru saja mereka alami. Lalu mereka sama-sama mengucapkan selamat tinggal.
Sampai di rumah Taeyeon terkejut mendapati telpon rumahnya berdering.
Siapa ya yang telpon pada jam segini? Pikir Taeyeon sambil mengangkatnya.
“Yeoboseyo?”
“Ah Taetae! Akhirnya diangkat juga…” Helaan nafas lega dapat terdengar dibalik sana.
“Eh? Ini suara Tiffany ya?”
“Ne! Aku cemas sekali memikirkan kamu belum pulang. Ini kamu benar-benar sudah pulang kan?”
“Tentu saja, kalau tidak bagaimana aku bisa mengangkat telpon darimu?”
“Ahaha iya juga, gara-gara cemas aku sampai tidak bisa berpikir jernih.”
“Kamu secemas itu?”
“Tentu saja. Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian…”
Taeyeon merasa senang. “Maaf, sudah membuat khawatir, tapi sekarang sudah tidak perlu lagi karena aku dan Jessica sudah sampai di rumah sekarang.”
“Fuhh…”
Kasihan Tiffany, dia pasti tidak bisa tidur sampai sekarang gara-gara khawatir, batin Taeyeon.
“Ya sudah, karena sudah malam, kamu tidurlah.” Suara Taeyeon melembut.
“Ne, aku akan tidur. Aku sudah tenang sekarang. Untung hari ini minggu.”
“Ya, sampai ketemu besok.”

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Itsumademo Issho ni Itai (Chapter 7)" (35)

  1. akhirnya yg ini update juga… ga berasa yah dr TK sekarang SD kls5 hihi tuanya gue #plak

    aduh abis SD SMP itu masa2 puber banget >_< #plak blm tentu mereka ada umur… lol

  2. Wihh sica mh agak jutek yah orgnya, beda ama fany. Fany mh bnr2 tulus, baik, perhatian lgi. Tpi kok taetae tetep sama yah merhatiin mereka?? Apa bnr kata2nya dlu yg tdak akn pernah membedakn antara sica ma fany? Tpi klo udh gede pasti taetae bkal milih antara kduanya. (:

  3. wah anak kelas 5 SD uda pada bisa berdebar nie
    kasihan sica, uda mulai sayang ma ruam ruam tp kendalanya si fany
    lanjut ya thor
    ampe mereka SMA
    biar ada drama cinta segitiga
    ato segiempat
    kl aja muncul si yul

  4. udah dilanjut yeay 😀 moment tangsic nya jjang 🙂 terus dilanjut ya
    fighting

  5. ceritax daebak! ^^
    lanjut next chap thor!
    ‘n’ jangan lama ngilang ^_^

  6. Beninsooyoungsters said:

    Hahaha baru kali ini ada orang nyasar bukannya sedih tapi bahagia *colek MaoMao*
    Kayaknya Taeyeon suka ma Fany nih, andwae! Sama Sica aja sih, sekali kali TaengSic :3

  7. Hufft … Masa orng ketinggalan kereta mereka malah asik berfoto ..
    Arggg .. Tae pilih Fanny donk ,, ntar Jessie sma Yul ajja .. Itu si Sooyoung ga pernah kelewat sma yg namanya makanan ..Hahaha
    Di tunggu klnjutannya .
    Semangat terus .^^

  8. Nyasar membawa berkah,, maomao bisa ber22an sm ruan ruan
    kaya’y taeng belum ada perasaan nih sm jeti
    kira2 siapa nnti piihan taeng ??

  9. Akhirnya dilnjutin juga…
    Taeng pilih ciapa hayo????
    Kyaah soyoung nyempil dikit kyak upil#
    Lanjut chagi

  10. Woah pjgx bkin pegeel mta,v sneng alx puas bngt bcax,sering2 ja thor part2x yg pjg2 gini hehep:-)

  11. Taeng masih blum ada rasa nich ma jeti kira-kira ntar dewasa taeng milih siapa?

  12. Yeon TaeNy said:

    Annyeong thor *bow

    Wah kali ini lebih puas baca ffnya.Sering” ya thor update ff yg ceritanya lebih panjang hehehe 😀

    Muda-mudahan aja nnti taeyeon pilih dua”nya, jadi bakalan enak kan wkwkwkw

  13. Kimrahmahwang said:

    Akhirnya ff ini update juga, nunggu banget ff ini buat di update haha
    Ciyeee sica seneng tuh bisa berduaan sama taeyeon udah gitu bisa foto bareng pula, cuma berdua doang :p kasian juga sih sama fany, disini berasa kek orang ketiga dari taeyeon sama sica xD

    Ditunggu next chap :3

  14. Aku mengharapkan taeny. Smga taeny thor

  15. Reader kwon said:

    Ahirnya lanjut juga ni chap yess
    Seru seru ahahai msih kls 5 sd udahmain cinta”an ahai
    Lanjut lgi thir mkin seru ..^^

  16. wahhh senangnya jadi taeng 😀
    disayang sica ma fany kekeke 😄

    kira” nanti gmna yahh kalo dah dewasa??
    nanti taeng pilih siapa? kasian kalo yg gak terpilih 😦
    moga aja ada pendamping yg terbaik bagi yg gak terpilih /?

    oke ditunggu next chapnya thor~
    jangan lama” yah kutunggu 😉

  17. Lanjut hor ☺
    Kalo boleh tolong lanjutin horror party dog..penasaran..
    Thx

  18. seandianya fany ikut2an turun dari kereta, pasti menarik.

    nc ya

  19. Baca nya bikin nyesek keingat sica 😦
    Chinggu bakal lanjut bikin ff terus kan?
    Btw Taengsic moment ny daebakk dsn
    (y) (y)
    Ngarep” bgt ending taengsic

  20. author… nama sica bakal terus ada kan…? *nyesek untuk taengsic n yulsic*

  21. update lagi dong ok
    di tunggu ya
    cerita nya bagus

  22. hennyhilda said:

    Yeahhh akhrnya ff nya update lg >.<
    Taeyeon bnr2 gentle bgt ky aq #narsis mode on wkwkwk 😀
    semangat author aq tnggu kelanjutannya
    ganbatte

  23. byunice said:

    Taenysic udah gede aja nih hahahaha.. Thor g berharap cuma 1 buat Jessica bahagia aja di ff ini.. Masih nyesek sama berita Jessica di dunia nyata 😭😭😭

  24. Ini kaya bukan study tour skolah, tp petualangan Taenysic^^. Ngbayangin taeng sllu kuat pas jalan2 jd mikir kalo ni anak kaya di drama yg di ikutin 2 cwe yg sama”naksir.sama dia. Wkwkwk salut banget sm chingu yg bisa bikn karngan kay gini, yg bikin ckikikan sndiri gara” kejeolusan JeTi . erasa ni kid leader punya pesona anggun banget gitu ya di mata mreka hohohoho^^

    Oke d lanjutt

  25. dirgaYul said:

    Bca ptualangan bocah2 ini kok jd kyk capek jg y ahahahaa.. Tp untung TaeSica bs ktmu sm bpk itu y.. klo g kn ksian mrk huaaa.. Fanny setia bnget nungguin Tae plg uhhhh..

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: