~Thank you for your comments~

A/N : Update buat menemani malam minggu~ :3
Happy reading♡

Flash back

Malam itu seharusnya seperti malam-malam yang biasanya. Namun ada yang berbeda. Di dalam kamar, sepasang gadis sedang duduk di atas ranjang. Sunny sudah merasa ada sesuatu yang sedang dipendam dari gadis yang duduk di depannya ini.

“Mau cerita apa Fany ah? Katakan saja.”


“Sunny ah, sebenarnya… baru-baru ini aku juga mulai jadian dengan seseorang.”

“Hah? Sama siapa?”

“Nickhun dari 2PM.”

“Wah, selamat! Aku memang sudah dengar gosip tentang kalian sejak lama. Tapi aku tak menyangka kalian benar-benar jadian.”

“……………”

“Tapi kenapa kamu kelihatan susah? Kalau kamu khawatir fans tidak akan menerima ya apa boleh buat. Sudah risiko yang kita hadapi sebagai seorang artis.”

“Iya, tapi bukan itu yang kukhawatirkan.”

“Taeyeon sudah tahu belum?”

Mendengar nama itu disebut, jantungnya berdegup kencang.

“Itulah Sunny ah… aku tak mampu mengatakannya langsung di depannya. Bagaimana kalau Taeyeon memang benar-benar mempunyai perasaan padaku?”

“Kurasa Taeyeon memang benar-benar mempunyai perasaan padamu Fany ah. Feelingku mengatakan begitu.”

“Ahh… itu tambah membuat susah mengatakannya.”

“Kamu tidak mencintai Taeyeon lagi? Kukira kalian saling mencintai.”

“Tentu saja kamu berpikir demikian karena memang sebenarnya aku mencintai Taeyeon.”

“Lalu kenapa kamu…”

“Aku tahu… tapi berita dating Yoona dan Sooyoung yang terbongkar tiba-tiba begini tanpa persetujuan dari mereka membuat aku jadi takut. Bagaimana kalau berita dating aku dan Taeyeon terbongkar? Bagaimana dengan nasib SNSD kalau begitu? Kita sudah sampai sejauh ini bagaimana kalau aku dan Taeyeon sampai ikut menjatuhkan kalian? Lalu apa kata SM?” Tiffany membenamkan wajahnya di kedua tangan.

Sunny menyentuh pundaknya.

“Tenang Fany ah, kamu terlalu khawatiran.”

“Iya, tapi bagaimana caranya untuk memberitahukannya pada Taeyeon? Kurasa bukan hal yang bijak kalau aku menyembunyikan soal ini darinya.”

“Kalau begitu katakan saja kalau kamu melakukan ini demi menutup-nutupi hubungan kalian.”

Tiffany menggeleng.

“Tidak semudah itu Sunny ah. Aku sudah kenal Taeyeon selama sepuluh tahun tapi terkadang masih saja ada hal-hal yang tidak kumengerti tentang dirinya. Bahkan terkadang… dia tidak ragu-ragu menunjukkan keposesifannya padaku…”

“Kamu tidak akan tahu sebelum mencobanya. Yakinlah kalau semua akan baik-baik saja. Yang penting sampaikanlah perasaanmu yang sebenarnya.”

**

Tiffany POV

Aku sudah memberitahu pada semua member. Dan aku sudah bilang kalau aku sendiri yang akan mengatakannya pada Taeyeon. Tapi tetap saja tak semudah dikatakan…



Di ruang tengah.

Kulihat dia berjalan menuju depan kulkas dan membukanya. Mungkin ini timing yang cukup tepat.

“Eh Taeyeon, kamu mau makan es krim?”

Dia menatapku dengan heran.

“Kamu serius mau makan es krim jam segini?”

“A-ah, kenapa tidak? Makan es krim malam-malam juga tidak ada salahnya.”

Paboya! Kenapa malah jadi bicara tentang es krim?!

“Eng Taeyeon…”

“Ah Ginger dan Prince sudah dikasih makan malam belum?”

“Sudah, tadi Sunny yang memberi makan.”

Jangan mengulur-ngulur waktu lagi, sekarang cepat katakan!

Tapi saat kata-kata itu hampir di ujung lidah, mendadak saja aku merasa ketakutan. Seperti seorang anak kecil yang harus menunjukkan nilai rapornya yang jelek pada orang tuanya yang galak. Ada rasa seperti ingin menunda untuk hari ini.

Tapi seharusnya aku mengatakannya sekarang!

Kukepalkan tanganku di sebelah pinggangku.

Third person POV

“Tippany… apa kamu benar-benar berpacaran dengan Nickhun?”

Pertanyaan itu tepat menusuk hati Tiffany.

Taeyeon tidak berani menatap langsung pada Tiffany, karena dia takut Tiffany mengiyakannya. Hatinya tidak akan cukup kuat menahan perih kalau harus mendengar Tiffany mengiyakannya sambil menatap matanya. Taeyeon mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan menghela nafas menghela nafas ketika menutup pintu kulkas. “Aku tidak akan menyalahkanmu kalau memang kamu mulai menaruh hati padanya. Dia memang tampan…”

“Taeyeon.”

“Benar, dari awal memang hubungan kita bukan sesuatu yang benar, mungkin memang lebih baik seperti ini.”

Pada kalimat Taeyeon yang seperti itu, Tiffany menjadi speechless. Padahal jauh di lubuk hatinya Tiffany sempat berharap Taeyeon akan melarang dan memintanya untuk segera putus dengan namja itu. Tapi mendengar kata-katanya sekarang Tiffany jadi tidak yakin Taeyeon masih mencintainya.

“……………..”

Taeyeon membuka tutup botol dan meminum isinya beberapa teguk. Air dingin mengaliri tenggorokannya. Dia berharap setelah minum, dia dapat lebih mengontrol kata-katanya. Tapi akhirnya tetap saja dia tidak dapat menahan diri untuk melontarkan kalimat yang cukup menyakitkan Tiffany.

“Ah, mungkin aku juga cari namjachingu saja ya? Aku sudah terlalu lama menjomblo.”

Tiffany membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan matanya yang tergenang air.

“Ya, carilah…”

Terdengar sedikit nada putus asa dibalik suaranya tapi Taeyeon sudah terlalu syok untuk menyadarinya.

Tanpa disadarinya, kalimat Tiffany sebenarnya juga melukai hati Taeyeon.

Mulut Taeyeon membuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Tiffany berjalan masuk ke ruang kamarnya. Sementara Taeyeon masih terpaku di tempat. Dia meminum air dinginnya beberapa teguk lagi. Tangan kanannya yang memegang botol bergetar.

“A-apa-apaan itu… jadi dia memang sebenarnya tidak pernah mencintaiku lebih dari sekedar sahabat? Jadi selama ini cuma aku yang berdebar-debar sendirian…? Menganggap kalau dia juga memiliki perasaan yang sama denganku?”

Perasaan marah bercampur sedih dan tidak percaya terlukis di wajah Taeyeon.



**



Malam itu mereka tidak tidur bersama.

Tiffany tidur sekamar dengan Sunny sementara Taeyeon sendirian di kamar.

“Aku sudah mengatakannya pada Taeyeon, Sunny ah,” kata Tiffany sambil membelakangi Sunny dan memeluk guling.

“Fany ah… lalu kenapa kamu tidak kelihatan bahagia?”

“Taeyeon ternyata sudah tidak mencintaiku lagi, semua cuma harapan kosong.”

“Masa…”

“Benar.”

“Gwenchana?”

“…sudahlah aku mau tidur, aku sedang tidak ingin berbicara panjang lebar.”

“Arraseo… kumatikan lampunya ya?”

“Hmm.”

Sunny sebenarnya masih khawatir, namun dia memutuskan untuk tidak mengorek lebih jauh lagi.

Lampu pun dimatikan.



Sementara di kamar Taeyeon.

Taeyeon merebahkan dirinya di atas kasur. Ranjang yang ditidurinya jadi terasa lebih luas sekarang dengan tanpa kehadiran Tiffany di sisinya.

Taeyeon mengambil smartphonenya, membuka isi pesannya. Pesan dari Sooyoung yang memberitahu soal Tiffany sudah punya pacar sekarang.

“…………….”

Taeyeon memilih membuka instagram.

Jika kamu memang benar-benar mencintai seseorang, maka kamu harus belajar bagaimana cara untuk melepaskannya, batin Taeyeon sambil  mengepost sesuatu pada instagram. Setetes air mata meluncur turun dari matanya dan membasahi seprai. Diikuti tetesan berikutnya.


Setelah itu hubungan mereka jadi agak sedikit renggang, meski keduanya tetap berusaha mempertahankannya.

End of flashback.

**

Sunny POV

Sebentar lagi ulang tahun Sooyoung. Apa yang bisa kuhadiahkan untuknya? Makanan? Jangan, rasanya nggak romantis dan sudah terlalu biasa buat Sooyoung. Coba kalau aku bisa memberinya hadiah ciuman di pipi?
Kuketuk kepalaku.
Jangan, nanti perasaanku akan terlihat sangat jelas. Kalau aku jadi Yuri mungkin masih bisa kulakukan padanya.

**

Hari ulang tahun Sooyoung.
Aku sangat senang karena hari ini Sooyoung akan datang main ke dorm pada malam harinya. Setelah dia merayakannya bersama dengan keluarganya pada sore harinya.
“Sooyoung sudah datang!” suaranya yang khas terdengar begitu pintu dibuka.
“Kamu ini, datang-datang menyebut diri sendiri,” komentar Hyoyeon.
“Biar lebih meriah, haha.”
“Biar hari ini tambah umur pun masih tetap seperti Sooyoung yang biasanya,” tambah Jessica.
“Ahaha, bagus kan kalau aku nggak berubah? Tokoh utama sudah datang. Mana nih ucapannya?” seru Sooyoung yang paling bersemangat.
“Ngarep banget sih unnie,” kata Yoona sambil tersenyum lebar.
“Ah maknae, selamat ulang tahun!” Kata Sooyoung sambil memeluk Seohyun.
“Lho? Ini ulang tahun unnie sendiri kan?” kata Seohyun sambil tertawa dan menepuk-nepuk punggungnya.
“Mau ngelawak palingan,” kata Yuri.
“Ahaha!”
“Kok sendirian? Mana namja chingumu?” Lagi-lagi Tiffany menggodanya.
“Nggak ada, memangnya dia harus kubawa kemari? Kalau ketahuan orang aku membawanya kemari gimana? Harus kukantongin dulu di saku?” Canda Sooyoung.
“Jangan! Jangan! Kalau dia datang sudah kusepak!” Kata Hyoyeon mencoba melucu.
“Ya benar! Malam ini kan hanya khusus untuk anggota SNSD saja!” Jessica mengiyakan.
“Atau Kyungho oppa jadi yeoja dulu baru boleh, ahahahaha!” kata Yuri.
Lalu mereka semua tertawa bersama.
Akhirnya aku tak terpikirkan sesuatu untuk dihadiahkan untuknya.
Aku tersenyum ketika kami bertemu pandang. Dia membalasnya dengan senyum ceria.
Semua member mengucapkan selamat ulang tahun padanya, disertai dengan pelukan.
Ketika kini tiba giliranku.
“Se-saengil chukae hamnida Sooyoungie.”
“Ne, gomawo Sunny.”
Aku hanya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tanpa disertai pelukan.
Mwo? Kemana diriku yang biasanya?
Tapi rupanya Sooyoung yang berinisiatif sendiri untuk memelukku. Selama beberapa detik aku berada dalam dekapannya dan merasakan kehangatannya. Aku merasa sedikit malu karena semua member memperhatikanku.
“Sunny pasti bosan dengan ke-alayanmu, Sooyoung!” seru Tiffany.
“Mwo? Kata siapa aku alay?”
“Waktu kamu datang tadi memangnya gak alay? Iya kan Taeyeon?” tanya Tiffany sambil menyenggol lengan Taeyeon.
“Eh? Iya.”
“Ayo kita keluarkan kue ulang tahunnya, unnie,” sela Yoona.
“Kajja!” Seru Yuri bersemangat.

**

Malam itu suasana dipenuhi kehangatan dengan lagu nyanyian selama ulang tahun yang dinyanyikan oleh semua member.
Ah, meski setahun kami banyak merayakan pesta ulang tahun karena member kami banyak tapi tidak buruk juga. Suasana seperti ini justru terasa menyenangkan.
Sooyoung pernah bilang kalau dia ingin menikah di usia 24 tahun.
Jujur, aku masih sedikit khawatir apa dia masih mengharapkan itu di sudut hatinya?
Tanpa sadar aku sudah menatap wajahnya terlalu lama padahal dia duduk di sampingku.
“Ngg? Kenapa Sunny?”
“Ah aniyo.”
“Ah sebentar, aku mau ke toilet dulu.”
“Yah, sebentar lagi kan mau potong kue.”
“Waktu mau kesini aku tidak semoat ke toilet.”
“Cepatlah, sementara kami akan menyalakan lilin.”
“Ne.”
Saat itu dia meletakkan smartphonenya di atas meja. Beberapa detik setelahnya ada sebuah pesan masuk.
Tanpa berpikir panjang aku mengambilnya. Sementara yang lain masih sibuk dengan makanan, minuman, dan menyalakan lilin.
Aku membuka isi pesan tersebut.
DEG!
“Selamat ulang tahun, chagiya. Semoga panjang umur, sehat, dan sukses selalu. Sekarang lagi merayakannya bersama dengan member-membermu? Kangen oppa? Oppa selalu kangen denganmu.”

Setelah itu beberapa detik setelahnya, ibu jariku menekan tombol delete. Dan pesannya selamanya hilang dari folder pesan smartphone Sooyoung.
Ah, aku benar-benar yeoja jahat. Kalau ini drama pasti aku adalah tokoh antagonisnya…
“Maaf lama!”
Aku cepat-cepat meletakkannya kembali di atas meja ketika mendengar suaranya. Tapi dia sempat melihat aku meletakkannya.
“Ngg? Wae Sunny? Ada notifikasi?”
“Ah, aniyo! Aniyo…”
Untung dia membiarkannya sampai sana dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
Ah, aku benar-benar jahat.
Ditambah barusan aku berbohong padanya…
“Lilinnya sudah dinyalakan semua!” kata Taeyeon bersorak kekanakan.
Aku mengeluarkan smartphoneku dan memberikannya pada Tiffany.
“Bisa tolong fotokan aku bersama dengan Sooyoung dan kuenya, fotografer Hwang?”
Tiffany tersenyum dan menerima smartphoneku. “Leave it to me.”
“Buat permohonan dulu!”
Dia melipat tangannya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Suasana menjadi hening. Aku tersenyum melihatnya berdoa dengan sungguh-sungguh. Saat itu kelihatannya Tiffany mengambil foto kami. Lalu aku jadi ingin ikut memohon dengan harapan permohonanku bisa ikut terkabul.
Semoga Sooyoung tidak cepat menikah, supaya dia bisa selalu bersama dengan SNSD. Dan semoga Sooyoung putus dengan Jung Kyungho.
Omo… aku baru saja meminta hal yang jahat. Mianhae Sooyoung… tapi ini semua karena aku sangat mencintaimu.
Selesai berdoa, Sooyoung membuka matanya dan tersenyum lebar sebelum meniup semua lilin kuenya.
“Yeeeeeee!!”
Semua bertepuk tangan. Lalu Sooyoung mulai memotong-motong kuenya menjadi beberapa bagian. Tiffany mengembalikan smartphoneku.
“Gomawo.”
Aku sudah terpikirkan sebuah hadiah yang bagus untuknya. Aku akan mengedit foto yang diambil Tiffany barusan dan mengeposnya di Instagram. Meski Sooyoung tidak punya Instagram saat ini pun tidak apa-apa, dia pasti akan melihat hasil editanku cepat atau lambat.
Aku sibuk memilih-milih tampilan efek yang bagus. Aku melakukannya tanpa rasa dorongan kewajiban untuk mengepost sesuatu di hari ulang tahun member seperti yang biasanya diharapkan oleh para sone. Aku mengedit foto ini dengan suasana hati yang senang. Semua karena demi hadiah ulang tahun Sooyoung.
Alangkah bahagianya kalau aku bisa menikah dengan Sooyoung.
Pemikiran itu membuatku bekerja mengikuti isi hatiku. Memberikan bingkai jendela di tepi foto. Tirai tipis berwarna pink yang cantik. Ditambah dengan bunga-bunga berwarna merah.
Selesai, tinggal pos di Instagram. Meski hanya editan amatiran tapi menurutku sudah cukup indah.
image

Aku menulis “Kita akan hidup dengan bebas, terima kasih♡” ditambah dengan hashtag happybirthdaySY.
“Waaa editanmu kyeopta, Sunny!”
“Eh?”
Tiffany tiba-tiba mengambil smartphoneku dan menunjukkannya ke depan Sooyoung.
“Lihat ini, ini editan Sunny. Tadi dia sampai repot-repot memintaku foto ternyata dia mau bikin editan ini.”
“Itu, di pos di Instagram?” Tanya Sooyoung.
“Iya!” kata Tiffany bersemangat sambil menekan ikon refresh.
“Waaahhh~” Sooyoung menatap dengan penuh ketertarikan dan ikut mencoba menekan tombol refresh. Dalam sekejap jumlah orang yang menyukainya bertambah setiap kali di refresh.
Syukurlah kelihatannya dia menyukainya.
“Baiklah, kalau gitu sudah kuputuskan. Potongan kue pertama buat Sunny!”
“Eh?”
Aku menatap mereka dengan pandangan tidak mengerti.
“Yeeeeee, chukae!” Kata Tiffany sambil bertepuk tangan.
“Ah?”
Aku diserahkan sebuah piring dengan potongan kue terbesar yang katanya merupakan potongan pertama dari kue tersebut.
“Ini, selamat karena telah berhasil memenangkan hatiku di hari ulang tahunku.”
“Yah curang! Peraturan darimana itu?” Protes Yoona.
“Peraturan yang kutetapkan sendiri, ahaha.”
Ini potongan pertama? Bolehkah aku merasa spesial? Pikirku sambil memakan sesuap.
Tapi Choi Sooyoung ini, jangan-jangan dia modus ingin membuatku jadi gendut dengan memberi potongan yang besar? Ditambah dengan krim begini banyak.
Tapi aku tetap memakannya. Mengunyahnya di dalam mulutku. Rasanya manis. Semoga cintaku pada Sooyoung pun bisa terus semanis ini.

Setelah acara memotong kue, kami ke ruang karaoke di dorm. Sambil minum-minum alkohol.
“Ayolah Hyunnie, minum sedikit saja,” ajak Tiffany.
“Unnie, kalian berdua sudah mabuk.”
“Ah, kami nggak mabuk! Ya kan Taeyeon ah?”
“Nee!”
“Kalian terlalu hiperaktif untuk orang yang nggak mabuk.”
“Ah siapa peduli. Ini kan hari ulang tahun Sooyoung, kita semua harus ikut bahagia, benar nggak?!”
“Setujuuuu!” Seru Yuri tak kalah mabuk.
Kemudian Taeyeon merekam video untuk di pos di Instagram.

Aku masih teringat dengan pesan yang kuhapus di HP Sooyoung. Karena masih merasa agak bersalah aku mencoba membuatnya melupakan tentang namja itu. Walau hanya bersifat sementara.

**

Malam itu semua member menginap di dorm. Semua sudah terlalu mabuk atau kelelahan, jadi mereka semua sudah masuk ke kamar.
Aku juga harus bersiap-siap untuk tidur nih.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi, saat aku hampir sampai ke depan kamar aku melihat seseorang sedang duduk di sofa sendirian. Sooyoung.
“Ne oppa, kami baru saja selesai berpesta. Mianhae karena nggak bisa ketemu.”
Dia tidak melihatku karena duduk membelakangiku. Aku penasaran dengan isi pembicaraannya. Jadi aku berjalan lebih dekat ke tempatnya, berusaha tidak menimbulkan suara. Kupasang telingaku baik-baik.
“Eh? Tadi Oppa ada mengirim pesan padaku? Tapi aku sama sekali tidak menerimanya tuh. Aku sudah cek di folder tapi juga nggak ada.”
Aku menggigit bibirku, teringat kembali dengan perbuatan jahatku.
“Memang oppa bilang apa? Oh? Gomawo. Ne, aku juga kangen oppa. Ah, oppa cheesy.”
Mau sampai kapan aku berniat mendengarkan mereka? Mendengar suara Sooyoung yang sedang bermanja dengan namja chingunya. Meski hati ini sakit tapi tetap saja aku tak bisa beranjak dari sini.
“Ne, nado saranghae. Selamat tidur, op-pa.”
Sooyoung tersenyum kemudian mematikan ponselnya. Setelah itu dia tampak berbunga-bunga lalu beranjak dari sofa, ketika berbalik dia langsung kaget dan menebah dadanya.
“Huwaaa kaget aku! Ngapain kamu disini Sunny?!”
“Ah nggak, cuma melihat orang yang sedang senyum-senyum bodoh sambil menelpon pacarnya.”
“Huh, suatu saat kalau sudah punya pacar kamu juga akan mengerti apa yang kulalui.”
“Begitu ya… sepertinya tidak akan dalam waktu dekat ini…”
Tapi seandainya aku bisa bersamamu…
“Yah, yang sudah dipublikasi berpacaran memang beda. Lebih sukanya berinteraksi sama pacarnya daripada sama membernya.”
“Mau nyindir ya? Ya, aku nggak seperti itu, kalian sudah seperti keluargaku.”
“Iya deh iya, aku percaya. Kan kamu barusan bilang kalau kamu nggak bertemu pacarmu di hari ulang tahunmu.”
“Huh, nguping itu nggak baik lho.”
Aku melihat jam dinding. Sekarang jam 11.59 PM. Tinggal sepuluh ah sembilan detik lagi!
“Ah, sekali lagi saengil chukae hamnida, Sooyoung.”
“Kenapa lagi ini? Tadi bukannya sudah ngucapin?”
“Ah, karena kalau aku tidak bisa menjadi orang pertama yang mengucapkannya, aku ingin setidaknya jadi orang terakhir yang mengucapkannya sebelum berganti hari.”
Kulihat Sooyoung tertegun oleh ucapanku. Eh? Apakah aku terlalu obvious?
“Wae?”
“Ah aniyo, kamu baru saja mengatakan hal yang persis sama dengan oppa.”
Aku membelalak lebar.
“Dengan namja chingumu maksudmu?!”
“Iya, katanya dia mau jadi orang yang terakhir kali mengucapkannya sebelum berganti hari. Aha, hahahaha, tapi rupanya malah jadi Sunny. Sama sekali tidak disangka.”
“Jadi aku mengganggu ya…”
“Ah cuma begitu saja tak apa-apa, tapi berarti kalian cheesy sekali. Omonganmu di pos instagram tadi juga cheesy sekali. Bisa-bisa orang salah paham.”
Glek.
“Kalau begitu tinggal kuhapus saja.”
“Ah jangan! Biarkan saja! Biar jadi kenang-kenangan, hehe. Gomawo ya Sunny.”
Dia menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut.
Tiba-tiba aku menginginkan lebih.
Kenapa tidak dipeluk saja sih?
Jadi aku yang lebih dulu memeluknya. Menyandarkan kepala di bahunya yang kurus.
“Wae? Kamu ingin dipeluk? Ya sudah, meski sudah melewati hari ulang tahunku, tapi ini servis spesial.”
Jangan bilang spesial spesial terus. Nanti aku jadi berharap lebih.
“Hmm Sunny, baumu wangi sekali.”
“Eh?”
“Seperti kue ulang tahunku. Ah, benar juga, tadi kamu makan banyak.”
Mendadak aku jadi sedikit kesal dan melepaskan diriku dari pelukannya. Dia ini memang pintar membunuh suasana romantis padahal waktu sama namja chingunya dia tidak seperti ini.
“Benar, ini semua gara-gara kamu yang ingin membuatku gendut.”
“Heh, itu kan pemberian spesial. Kok malah jadi dibilang aku berniat membuatmu gendut?”
“Awas ya kalau beratku naik.”
“Supaya wajahmu tidak terlalu tirus, Sunny ah.”
“Ah sudahlah! Aku mau tidur.”
“Ish, dikasih potongan spesial malah ngambek. Tahu gitu kuberi ke Yoong saja yang begitu menginginkannya.”
Tapi setelah sudah di dalam kamar aku tersenyum tanpa sepengetahuannya.

☆~To Be Continued~☆

Advertisements

Comments on: "Love, Pain, and Happiness (Chapter 4)" (31)

  1. jiahhhh,, si sunny jahat banget,, tapi gpp lah. eheheh
    dan juga tae sama ppany langsung ngomong aja nihh. ckckc
    lanjut thot

  2. Taeny aga lumayan bnyak di part ni haha, sunny cemburunya main hpus pesan orang hihi tambak seru aja couple soosun. Dilanjuttt thorrr

  3. sunny ngapus pesan dr jkh oppa jd inget gw dulu hahaa.. semoga hub soosun ada titik terang ny,kasian sunny bunny

  4. Sunny cemburu nih yee…

  5. Knp y w seneng bgt ni ff.. ap krna soosun yak.. ga tao deh poko ny aq nunggu2 ni ff

  6. Susah juga jadi sunny hmm
    Penasaran Gmn y nanti kalo syoo tau kl Sunny menganggap ny lebih

    Nice chapter chinggu
    Hwaiting (y)

  7. Beninsooyoungsters said:

    Kyaaa mulai peluk peluk hayo hayooo~
    Real life nya dapet banget ih, berasa beneran kayak elu di ceritain sama Sunny asli *apaan sih* *semoga lu ngerti maksud gue* :p

  8. ksian sunny n taeng ya..
    sama2 gbs meraih cintanya cz tiffany sama sooyoung sdh punya namjachingu msg2..

  9. ih taeny mah enak ketauan sama sama suka 😦 nah itu soosun nya masih gajelas perasaanya sooyoung ke sunny . coba aja chap ini cuma ada moment soosun yg sweet bgt tapi gaada kyungho nya pasti wah *-* ayodong author mah suka gitu bikin penasaran aja gimana sooyoung nya nih …

  10. Little Kim dee said:

    sii sooyoung sbnrnya sadar g sihh klo sunny pnya perasaan lbih sma dia,,krna sooyoung sllu ngelakuin sesuatu yg mmbuat sunny berbunga”..

  11. Soosun masih diawang2 nih, ga jelas
    Klo teany biarpun masing2 dah punya pacar tp ketahuan saling suka

  12. Kimrahmahwang said:

    Mainnya peluk2an ya sekarang si soosun, Dikasih potongan pertama pula. Potongan pertama kan orang spesial, Sunny spesial dong buat sooyoung :p

    Taeny jangan renggang dong, kalo kalian masih saling cinta ngomong aja jujur apa salahnya. Lagian kan emang maunya kalian tetep bareng2 kan. Kenapa juga fany jadian sama nikon-,-

  13. duh salah paham nh taeny…kasihan sunny memendam rasa cinta bt soo…semngat yak sunny…

  14. aku udah baca smpe dua kali dan ga bosen sama ceritanya.. yang pertama lupa komen hehe maaf ^_^
    kalo soosun baca berkali kali juga seru ^_^d

  15. Reader kwon said:

    Chap yang ini seru thor
    Chap sljunnya pasti lbih seru
    Lanjut thor jangn lamalamayaa..

  16. sisi jahat sunny sudah muncul. suahat hahahaha…iiya carilah namja. kabur dulu sebelum dilempar oleh LS
    kisah cinta taeny sudah dihentikan. benar2 tragis.

  17. Reader kwon said:

    Ga’ bosen bacanya thor ,aku udah baca dri chap 1 sampe 4 ga’ bosen walaupun udah 6 kali setiap kli bka wpnya author pasti bca haha

    Thor update yang cptya thor.. 😀

  18. trnyata Sunny mmendam rasa ke Soo… tpi Soonya dah pnya pacar nh.
    tpi kyaknya ak hrus bca dri part prtama nh… permisi tor, mhon ijin…

  19. Cinta emang bisa membuat orang baik menjadi jahat yah…

    Lanjut thor jangan lama-lama yahh…

  20. hennyhilda said:

    Hihihihi lucu bgt soosun ni..
    yoonhyun aq kgn xan 😦
    Semangat author
    ganbatte

  21. Unnie bikin yang sad ending dong sekali – kali tentang soosun

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: