~Thank you for your comments~

A/N : Chapter akhir. Bakalan lebih tragis lagi, jadi kalau nggak kuat lebih baik jangan dibaca.
Enjoy~

“Yoona…”
Perlahan kelopak mata seorang pelayan itu terbuka. Yang menyambut paginya yang cerah adalah seorang gadis cantik ber-eye smile.
“Pagi^^”
Yoona langsung memeluk gadis itu kemudian membelai-belai rambutnya.
“Saranghaeyo, Tiffany…” bisiknya.
“Nado saranghae^^” ucapnya sambil balas memeluk Yoona.
Yoona tersenyum bahagia. Ingin rasanya dia tertidur seperti ini selamanya. Tapi kemudian sesuatu yang selalu berbekas dalam ingatan Yoona terjadi. Tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu yang hangat. Ketika Yoona membalik tangannya dia melihat noda darah membanjiri tangannya.
“A-aaah!”
Noda darah itu semakin banyak.
Kemudian dia menatap wajah Tiffany, dilihatnya mata gadis itu terpejam dan wajahnya semakin bertambah pucat.
“Hu-”
“Huwaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”

Yoona POV

Aku tersentak bangun. Badanku sedikit panas, keringat membanjiri tubuhku, dan nafasku tidak beraturan.
Tampaknya mimpiku barusan bermaksud mengingatkan perbuatanku.
Bahwa aku tidak bisa lari dari dosa ini.
Sejak hari itu aku selalu menyesali keputusanku.
Ya, kenapa aku melakukannya?
Meski aku berpikir sekeras apa pun aku tidak akan bisa mendapat jawabannya. Yang ada hanya mencari-cari jawaban untuk memuaskan ego sendiri.
“………………”
Barangkali ini yang namanya takdir.

Third Person POV

Di saat yang bersamaan, Yuri sedang meratap sendirian di dalam kamarnya.
“Taeng sedang apa ya sekarang?”
“Mungkinkah… dengan suatu keajaiban, suatu hari dia akan kembali ke kastil ini?”
“Seperti Yoona… dia pun akhirnya pulang kembali.”
Tentu saja Yuri tak pernah menyangka bahwa kejadian itu akan terjadi satu bulan kemudian.

___________________________________________________________________________

1 bulan kemudian.

Hari ini cuaca cerah. Musim gugur telah tiba.
Dengan kematian Raja, otomatis tahta kerajaan jatuh pada Yuri. Sekarang dia menjadi seorang Ratu.
Tapi gara-gara itu, sekarang para rakyat mulai berani memberontak.
Para prajurit penjaga gerbang sudah dikalahkan.
Dari luar terdengar suara teriakan para pemberontak.
Udara yang begitu menekan terasa sampai ke dalam istana.
Tidak lama lagi, mereka akan berhasil membobol pertahanan istana ini.
Kerajaan ini sudah diambang kehancuran, batin Yoona.

Yuri kaget melihat Yoona muncul dengan memakai pakaiannya.
“Yoona?”
Dia melihat ekspresi yang tak dapat diterjemahkan melumuri paras Yoona.
“Tidak ada yang perlu ditakuti Yuri unnie, karena aku selalu ada buat kamu.”
Tanpa berkata apa-apa, Yoona mendekat dan memakaikan jubah hitam berkerudung di bahu Yuri.
“Pakailah bajuku ini dan larilah lewat belakang.”
“Yoona… aniyo… aniyo…” kata Yuri setelah dia sadar apa yang akan dilakukan Yoona.
Yoona tersenyum dan menyeka air mata Yuri.
“Gwenchana, karena kita kembar, tidak akan ada yang bisa membedakan kita.”
“A-a….ahh….”
Yoona mencium kening Yuri, “Aku menyayangimu Yuri unnie, selamat tinggal…”
Mungkin Yoona sendiri sudah sadar dengan apa yang akan menantinya di depan sana.
Kalau ini bisa menebus dosaku karena telah membunuh Tiffany, pikirnya melankolis.
Lalu Yoona mendorong Yuri menjauh. Saat itu Yuri merasa waktu seperti berjalan lambat.
Yuri berbalik dan melihat punggung Yoona semakin menjauh.
“Tunggu Yoona!”
“Tidak peduli siapa yang lebih kuat.”
“Eh?” Yuri tidak mengerti.
“Tidak peduli siapa yang lebih lemah. Tidak peduli siapa yang bersumpah melindungi siapa. Lebih dari semua itu…” Yoona berpaling dan tersenyum.“Karena kita adalah keluarga.”
Yuri tercengang. Seakan Yoona sekarang sudah berada jauh dari jangkauannya.
Benar kan? kata Yoona dalam batin.
Ketika melihat wajah Yoona yang tersenyum saat itu ingin rasanya Yuri menjerit, tapi suaranya tidak mau keluar.
Mungkin ini adalah terakhir kalinya aku melihatmu. Tapi aku tidak ada penyesalan.
Yoona berjalan dengan wajah terangkat. Tatapan matanya tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Dengan satu gerakan tangan, pengikat rambutnya terlepas.
Sret
Rambut hitamnya terurai dengan bebas.

Sekarang aku adalah Ratu dan kamu adalah pelarian.
Kami adalah sepasang kembar yang terpisahkan oleh takdir yang kejam
Jika mereka harus menyebut kamu jahat
Kalau begitu setidaknya aku yang berbagi darah yang sama denganmu juga harus dipanggil begitu

Taeyeon yang dengan kemampuan leadershipnya dalam 3 bulan telah berhasil seorang diri mengumpulkan para rakyat yang memberontak untuk melawan Raja.
“DENGAR! JANGAN BIARKAN KITA RAKYAT KECIL TERUS TERTINDAS!! HARI INI JUGA KITA AKAN MEMBUMIRATAKAN KASTIL ITU!!”
“WOOOOOOOOO!!!”
“SEMUANYA JANGAN TAKUT!! IKUTI AKU!!”
“WOOOOOOOOO!!!”

**

Yoona POV

“Ratu!” teriak seorang yeoja berpakaian baju besi sambil mengacungkan pedangnya padaku.
Dia adalah yeoja yang kurasa adalah pemimpin revolusi ini.
Aku mengenalnya, dia adalah yeoja dalam foto itu. Yeoja yang dicintai Yuri unnie dengan segenap hatinya.
Tatapan matanya sangat dingin. Tidak menunjukkan belas kasihan.
Begitu ya…
Dia telah kehilangan orang yang dicintainya.
Aku mengerti perasaannya.

“Kekuasaanmu sudah berakhir. Aku datang untuk mengambil kepalamu!”
Aku tersenyum karena sepertinya dia tidak sadar kalau aku bukanlah Ratu yang sebenarnya. Tapi di dalam hati aku menatapnya dengan dingin. Sebab yeoja ini adalah yeoja yang mengkhianati Yuri unnie.
Dengan begini Yuri unnie akan terselamatkan, hanya itu saja yang penting bagiku.
__________________________________________________________________________

Walaupun seluruh dunia harus menjadi musuhmu. Aku akan selalu melindungimu. Jadi tetaplah jadi dirimu sendiri dan tersenyum.

Akhirnya belnya telah dibunyikan. Memberi sinyal terakhir.
Hukuman telah ditetapkan.
Para petugas membawaku keluar dari penjara. Kedua tanganku terikat di belakang. Aku akan dihukum pancung. Aku dipaksa berlutut. Kepalaku dipasang ke papan kayu. Aku berada di tengah menjadi tontonan masyarakat.
Aku memejamkan mataku.
Semua teriakan dan sorakan mereka sama sekali tidak kuindahkan.
Aku sama sekali tidak takut. Karena ini semua akan berakhir dalam sekejap.
Jika ini untuk menolongmu, tidak ada rasa sakit yang tak dapat kutahan.
Ketika aku membuka mataku kembali. Di antara kerumunan aku melihat seseorang memakai tudung hitam.
Yuri unnie?
Dia kelihatan berbeda. Kelopak matanya bengkak seolah habis menangis berhari-hari.
Bahkan dari kejauhan aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.
Kenapa…
Padahal aku tidak ingin kamu melihat sosokku dalam keadaan begini. Bisa-bisa akan meninggalkan bekas luka yang tak akan pernah sembuh di hatimu…
Mendadak aku jadi ingin ikut menangis. Barangkali karena kami sehati. Tapi aku berusaha menggerakkan bibirku untuk tersenyum.
Setidaknya aku ingin kamu mengenang wajahku yang tersenyum.
Aku menuturkan kata-kata yang sangat kusukai semasa kecil.
Sa-rang-hae

Yuri unnie… kalau aku terlahir kembali… aku ingin bisa bermain bersamamu lagi…
Berbahagialah…

…………………………

Yuri membelalak syok sampai urat-urat matanya mengejang.
Kalung batu alam yang dipakai Yoona terputus dan menggelincir melewati genangan darahnya.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Teriakan Yuri tenggelam bersamaan dengan teriakan para rakyat jelata di sekitarnya.

___________________________________________________________________________

Pada jaman dahulu kala ada sebuah kerajaan yang kejam
Dan orang yang berdiri di atas kerajaan itu adalah saudari kembarku yang manis

………………………………..
………………………………..

Yuri POV

Yoona… adalah harapan hidupku.
Sebagian diriku.
Belahan jiwaku.
Walau kami terpisah, tapi aku yakin suatu saat kami pasti akan bertemu kembali.
Karena itu aku masih bisa memandang langit biru. Masih bisa menyambut hari esok dengan senyum. Karena mengetahui dia masih hidup dan baik-baik saja di suatu tempat.
Padahal yang kuinginkan hanya bisa berada di sisinya, tapi… itu tidak akan terjadi.
Karena kini dia sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya…
Dan aku tidak akan pernah bisa menemuinya meski betapapun aku memohon pada bintang jatuh seperti masa kanak-kanak dulu…

Aku menggigit ujung bibirku kuat-kuat sampai pelan-pelan terasa darah memenuhi rongga mulutku.
Seolah mengatakan padaku bahwa ini adalah kenyataan. Percuma kamu lari. Kenyataan tidak akan berubah.
Aku telah kehilangan segala-galanya.

Sambil memakai kerudung yang kamu pakaikan padaku…
Aku terus berlari dan berlari.
Melewati tanah asing yang tidak kukenal.
“Hahh…! Hahh…! Hahh…!”
Tadi aku sempat melihat sosoknya berdiri disana. Tatapan matanya dingin dan kejam.
Aku tidak mau percaya.
Taeyeon…
Taeyeon yang…!
Taeyeon yang baik hati dan tersenyum dengan noraknya itu yang melakukannya!

Jahat!

Jahat!

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Sampai luka di bibirku yang sudah mengering robek kembali.
Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi.
“Awas saja pasti akan kubalas…”
Tidak akan kumaafkan dia yang telah mengambil Yoona dariku!
Aku terus berlari sejauh mana kakiku sanggup membawaku.
Sampai aku kehilangan kesadaranku.

………………………………
………………………………

Aku terbangun ketika merasakan sentuhan di bibirku.
Seorang yeoja dengan sorot mata sayu duduk di sebelahku.
Jari telunjuknya mengusap bibir bawahku.
“Aku baru saja memberikan obat ke bibirmu, jadi untuk sementara jangan jilat bibirmu dulu.”
Seperti menangkap pertanyaan yang terpancar di mataku, dia berkata.
“Saat aku pulang, aku menemukan kamu yang sedang pingsan di tengah jalan.”
“………………”
“Siapa namamu?”
Kepalaku mendadak mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk.
“Yuri… sepertinya namaku Yuri,” kataku sambil memijat-mijat pelipisku.
Hanya itu saja yang kuingat, aku tidak bisa ingat nama panjangku.
“Sepertinya?” tanya gadis itu heran. “Oke, lalu, apa yang sedang kamu lakukan?”
Aku berpikir sejenak.
Lho?
Apa yang terjadi?
“Sepertinya aku tidak ingat. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada disana, atau apa yang sedang kulakukan saat itu…”
Gadis itu membelalak lebar. “Eh? Jadi kamu kehilangan ingatan?”
“Entahlah… mungkin?”
“Tapi kepalamu tidak terluka. Mungkinkah pada kasusmu kamu kehilangan ingatan karena syok?”
“………………”
Akhirnya aku tinggal bersama dengan gadis ini untuk sementara waktu. Tapi meski begitu aku merasa ada sebuah lubang di hatiku yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

___________________________________________________________________________

“Sudah lama aku tidak bermain-main seperti ini.”
Dia berlari-lari sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar dan tersenyum seperti tak ada beban. Dia menoleh padaku. Angin laut membuat rambutnya terlihat seperti menari-nari.
“Bagaimana? Kamu sudah ingat?”
Sudah satu minggu berlalu sejak aku tinggal bersama dengan gadis ini.
“Aniyo… tapi aku merasa seperti ada sesuatu yang harus kulakukan. Sesuatu yang sangat penting…”
“Hmm, aku memang tidak tahu seperti apa urusan pentingmu itu. Tapi tenang saja, kamu tidak perlu memaksakan diri, santai saja maka kamu akan ingat kembali.”
Dia tersenyum.
Ah, lagi-lagi senyum itu. Senyum yang bisa membuat semua kekhawatiranku seperti menguap tak berbekas.
Saat itu aku sempat berpikir mungkin hidup bersamanya tidak seburuk itu.
“Ah, lihat! Kerang ungu,” dia memungutnya. “Menurut mitos di negeri ini, katanya kalau kamu mengucapkan permohonan pada kerang ini dan melemparnya ke laut, keinginanmu akan terkabul.”
“Oohh…”
“Tapi hanya bisa satu permohonan.”
Dia memejamkan matanya. Kerang itu berada di dalam kedua tangannya yang terlipat.
“Semoga Yuri mendapatkan ingatannya kembali.”
“Eh?”
Setelah itu ia membuka matanya dan melempar kerang itu ke laut. Aku mengawasi saat kerang itu terbang ke udara hingga tertelan gulungan ombak.
“Jessica…”
Dia tersenyum tapi senyum itu tidak bertahan lama, karena beberapa detik kemudian dia jatuh pingsan.
“Jessica!”
Aku segera menggendongnya dan membawanya pulang ke rumah.

**

“Hmm, keadaannya buruk.”
“Apa penyakitnya parah dokter?”
“Pengobatan medis yang sekarang belum bisa mengobati penyakitnya. Saya memperkirakan hidupnya tidak akan lama lagi. Ternyata dia juga mengidap penyakit yang sama seperti yang dialami sepupunya, Tiffany.”
“!”
Aku tidak tahu kalau penyakitnya seserius itu.
Ketika mendengar nama Tiffany seperti ada sesuatu yang ‘klik’ dalam diriku. Tapi aku masih belum ingat sepenuhnya.

Saat dokter itu sudah pergi. Kugenggam tangannya. Saat aku melakukan itu, dia membuka matanya dan menatapku dengan lemah.
“Kenapa kamu memohon untukku? Kenapa… kamu malah tidak memohon untuk dirimu sendiri?!” kataku tanpa bisa menahan intonasi suaraku.
“Karena jika aku memohon untuk diriku sendiri, aku rasa tidak akan terkabul… karena meminta untuk diri sendiri adalah perbuatan egois…”
“Jangan mati! Teruslah hidup! Kamu tidak boleh mati!”
Tapi Jessica hanya menggeleng.
“Satu-satunya keluargaku Tiffany juga mengidap penyakit yang sama. Dia telah tiada. Barangkali ini takdir. Tidak lama lagi aku akan menyusulnya.”
“……………..”
Kepalaku semakin sakit mendengar nama Tiffany.
Apa ini? Kenapa rasanya aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya?
Mendadak aku jadi tidak tenang.
Kenapa hanya mendengar namanya bisa membuatku seperti ini…
Kubiarkan mataku terpejam.
“Fany ah… aku kangen kamu… kenapa seseorang dengan teganya membunuhmu…”
“!”
“Seharusnya kita bisa menghabiskan sisa hidup kita yang tinggal sebentar bersama…”
Bunuh?
Kemudian beberapa kejadian yang sangat familier terulang kembali dalam benakku.

“Aku benci… aku benci gadis bernama Tiffany itu… aku berharap gadis itu lenyap saja dari dunia ini!”
“Yoona, bunuh…”
“Kuperintahkan padamu, cari tahu dan bunuh gadis bernama Tiffany itu.”

Air mata seorang gadis yang wajahnya sangat mirip denganku.
“………..Tiffany… aku tidak bisa melupakannya. Apa yang kulakukan padanya terus menghantuiku…”

“Tidak ada yang perlu ditakuti Yuri unnie, karena aku selalu ada buat kamu.”
Gadis itu memakaikan jubah hitam berkerudung di bahuku.
“Pakailah bajuku ini dan larilah lewat belakang.”
Kemudian dia juga menyeka air mataku.
“Gwenchana, karena kita kembar, tidak akan ada yang bisa membedakan kita.”
Dan mencium keningku dengan lembut, “Aku menyayangimu Yuri unnie, selamat tinggal…”

Kemudian scene terakhir penuh darah yang menjadi mimpi burukku…

“HUWAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Jessica tersentak kaget mendengar teriakanku.
“AAAAAAAAAAAAKKKKHHHHHHHH!!!”
Aku mengacak rambutku dengan liar dan menggeleng.
Aniyo… aniyo…!
Aku melihat sebuah vas bunga di sudut mataku. Kemudian dengan sengit aku mengambil dan membantingnya.
PRANG!
“Yuriii! Apa yang kamu lakukan?!”
Aku menatap pecahan vas bunga itu. Yang sekarang hancur berkeping-keping seperti hatiku.
Bahkan aku lupa diri kalau sekarang aku hanya numpang disini.
Aku… seharusnya aku!
Kemudian aku mengambil jubah hitam milikku dan memakainya.
“Eh? Yuri, kamu mau kemana?!”
“………………” Aku tidak menjawabnya.
Hanya dengan mengingat kenangan itu kembali telah menyulut api dalam hatiku.
Tiba-tiba dia bangun dari tempat tidurnya, kemudian menarik jubah yang kukenakan sebelum aku sempat keluar dari rumah.
“Jangan pergi! Jangan pergi!” pintanya memelas. “Yuri, aku mencintaimu… tetaplah tinggal disini bersamaku!”
Kalau aku memilih berada di sisinya.
Aku akan menjalani tiap hari dengan damai. Sebagai rakyat jelata biasa.
Dan Jessica pasti akan memberikan seluruh cintanya padaku agar aku bisa bahagia.
Sebenarnya aku juga ingin berada disisinya. Menemaninya sampai maut memisahkan kita.
Tapi…
Setelah aku ingat semuanya.
Aku tidak bisa tinggal diam.
Karena aku telah bersumpah.
Lagipula andai aku menetap disini tidak lama lagi dia pun akan meninggalkanku.
Maka kulepaskan tangannya.
“Mianhae Jessica, bagaimanapun aku harus pergi. Ada sesuatu yang penting yang harus kulakukan.”
“Apa kamu akan pulang…?”
“…mianhae, lupakan saja aku.”
“Tapi kenapa Yuri? Aku tidak mau melupakanmu!”
“Maaf, tapi carilah orang yang lebih baik. Hapus aku dari ingatan dan hatimu.”
“Andwae! Aku sudah terlanjur merasa nyaman bersamamu…!”
Aku tidak mau menatap matanya, karena nanti hatiku menjadi lemah. Jadi akhirnya aku mengatakan hal yang tak berperasaan padanya.
“Kalau aku tetap menetap disini pun pada akhirnya kau akan meninggalkanku.”
“!”
“Jadi selamat tinggal.”
Sambil menutup pintu hatiku, aku pergi meninggalkannya.

Maafkan aku Jessica.
Karena setelah tujuanku tercapai
Aku akan menghilang dari dunia ini…
Ya Yoona, aku akan menyusulmu setelah mengakhirinya…

**

Third Person POV

Yuri pulang kembali ke tanah airnya. Kemudian dengan sebuah surat Yuri memanggil Taeyeon untuk datang sendirian. Tentu saja dengan niat membalas dendam. Dan Taeyeon benar-benar datang sendirian.
Mereka saling berhadapan dengan jarak beberapa meter.
“Siapa kamu?” tanya Taeyeon sambil menyipitkan matanya.
“……………..” Yuri masih tetap memakai kerudung itu sehingga Taeyeon tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang oleh bayang-bayang kerudung.
“Tanah yang lapang… tempat yang pantas untuk kematianmu,” ucap Yuri dengan nada rendah.
“Mwo?”
Taeyeon menyadari ada yang tidak beres dengan pemanggilnya ini. Memanggilnya sendirian melalui sebuah surat. Karena itu untuk jaga-jaga dia membawa sebuah pedang. Sekarang kecurigaannya semakin meningkat karena dia dapat merasakan aura membunuh terpancar dari sosoknya yang serba hitam itu.
“Siapa kamu? Apa maumu?”
Kemarahan Yuri meletup-letup. “Hanya satu. Nyawamu.”
Kemudian Yuri langsung bergerak dengan gesit menuju ke arahnya.
“!”
Yuri mengayunkan pedangnya. Refleks Taeyeon mencabut pedangnya.
Trang!
Pedang mereka beradu di udara. Taeyeon mencoba melihat wajah penyerangnya dalam waktu yang singkat itu.
Yuri tersenyum. Tentu saja dia sudah mengantisipasi ini. Dan berjalan tepat seperti dugaannya. Karena itu ia langsung mencabut belati kecil yang tersembunyi dibalik jubahnya dengan tangan kirinya.
“!”
Sret!
Taeyeon masih sempat menghindar. Hanya menggores kecil pinggang kanannya. Tidak fatal.
Sambil masih menghindar, Taeyeon dengan cepat melayangkan serangan balasan berupa sebuah tendangan di kaki Yuri.
Tapi tidak kena, karena Yuri melompat ke belakang.
“!!”
Belum sempat Taeyeon menarik nafas, dia membelalak terkejut karena belati yang tadinya berada di tangan Yuri sekarang melayang menuju wajahnya.
Untung Taeyeon sempat melihat ketika tangan Yuri bergerak, sehingga di detik-detik terakhir Taeyeon berhasil menunduk menghindarinya tanpa terluka.
Belati itu terlempar jauh ke belakangnya tanpa sempat Taeyeon lihat lagi ke arah mana jatuhnya.
Sekarang keduanya saling berhadapan kembali dalam jarak beberapa meter. Keduanya memasang ancang-ancang.
Jantung Taeyeon berdebar-debar. Merasa sedikit tertekan oleh kemampuan sosok yang berdiri di hadapannya.
Apaan barusan? Dia melakukan semua itu dalam hitungan detik. Apalagi dia melempar pisau itu dalam keadaan melompat ke belakang!
“Sekarang semua sudah berakhir,” ucap Yuri dengan nada misterius.
Apa katanya? Batin Taeyeon.
Tiba-tiba Taeyeon merasa seluruh tubuhnya sakit.
“!”
Taeyeon jatuh berlutut. “Ukh…” Tangannya memegang pinggang kanannya yang terluka.
“Di belati yang kulempar tadi sudah kuoleskan racun. Jadi meski goresan di pinggangmu tidak fatal, racun itu akan menyebar ke seluruh tubuhmu,” jelas Yuri sambil berjalan mendekatinya.
Trang!
Yuri melucuti pedang Taeyeon. Pedang itu terlempar beberapa meter darinya.
Duk!
Kakinya menendang bahu Taeyeon hingga dia jatuh terbaring.
“Akh!” Taeyeon mengerang kesakitan.
Sekarang dia menduduki tubuh Taeyeon yang sudah hampir tidak bisa melawan.
Angin bertiup, melepaskan tudung yang dipakainya.
Baru kali ini Taeyeon bisa benar-benar melihat wajah penyerangnya. Taeyeon tertegun melihat wajah yang begitu mirip.
“Akulah Ratu Yuri,” ujar Yuri dengan sorot mata bengis.
“Mustahil! Kamu! Kamu seharusnya sudah mati dihukum pancung waktu itu!”
Taeyeon sendiri sudah memastikan mayatnya.
Yuri mengatupkan rahangnya.
“Yang kamu bunuh itu adalah saudara kembarku, Yoona. Membunuhnya sama dengan membunuh sebagian diriku!”
“Apa? Saudara kembar?!”

Yuri POV

Lalu aku mendengar suara yang seharusnya tidak bisa kudengar.
Suara gemerisik.
Angin sepoi-sepoi yang membelai kulitku. Bau pohon-pohon. Baru rerumputan. Bau matahari.
“Putri”
Suara yang lembut. Hari ketika kita masih kanak-kanak. Siang yang nostalgik itu. Kami diam-diam menyelinap keluar dari istana, saling berkejaran di padang rumput yang luas. Bagiku dia adalah pengganti Yoona. Setelah lama aku tidak bisa tersenyum setelah ditinggalkan oleh Yoona.
Kemudian kami berbaring di bawah bayang-bayang pohon dan memandangi bunga sakura berguguran.
Warna pink itu… sangat cantik.
Pemandangan yang menyerupai adegan dalam cerita dongeng itu… masih membekas dalam ingatanku sampai sekarang.
“Ini rahasia kita.” Dia tertawa. Aku pun ikut senang.
“Putri memang lebih cantik kalau tersenyum.”
“Taeng…”
“Nanti kita harus melakukan ini lagi.”
“Eh?”
“Di musim panas, musim gugur, musim dingin, musim semi, musim panas tahun depan, dan musim-musim berikutnya. Aku akan mengantar Putri kapan saja Putri menginginkannya. Dengan begitu Putri tidak akan kesepian lagi kan? hehe.”
Kenapa… dia begitu mengerti perasaanku?
“Ne, janji ya Taeng?”
“Janji, mulai sekarang terus ingatlah bahwa meski Putri melewati hari yang berat, tapi Putri tidak sendirian.”
“Ne, aku tidak akan khawatir selama kamu bersamaku, Taeng.”
Kami mengaitkan jari kelingking kami.
Janji masa kecil yang manis…
Yang akhirnya tidak bisa terpenuhi…

Third Person POV

Tampaknya dia telah memilih tempat yang salah. Tempat ini begitu mirip dengan kenangan masa lalunya. Air mata mulai menyesaki matanya.
“Meskipun kamu adalah orang yang kucintai…”
Menetes-netes ke pipi Taeyeon yang masih tercengang.
“Dengan tanganku sendiri…”
Yuri mengangkat pedangnya di atas dada Taeyeon.
Melihat kebencian yang tersalur hingga ke ujung mata pedang itu, Taeyeon pun berkata dengan pasrah. “Bunuhlah aku…”
Sesaat tubuh Yuri membeku.
“Dengan begini aku akan bisa menyusul Tiffany…”
“Benar, aku akan membunuhmu…”
Dan di saat terakhir pun dia tetap saja masih mengingat Tiffany, benar-benar menyebalkan, batin Yuri.
“AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU KARENA TELAH MENGAMBIL NYAWA YOONA!!!”
JLEB
Tubuh yang dia tindih itu sempat tersentak ketika mata pedangnya menembus jantungnya, lalu setelah itu tidak bergerak lagi. Diam untuk selama-lamanya.
Angin berhembus kencang. Dan cuaca berubah menjadi mendung.
Ketika dicabut, carah muncrat membasahi pipi dan bajunya.
“Sudah berakhir…”
Yuri menutup mata Taeyeon supaya matanya tidak menatap balik dengan mengerikan seperti itu.

Yuri POV

Kamu selalu yang melindungi aku. Tapi sebenarnya aku juga selalu ingin melindungi kamu. Jika aku terluka sedikit saja, kamu selalu mengkhawatirkan aku
tapi kenapa…
Padahal kita kembar tapi kenapa aku tidak menyadari penderitaanmu?

“Yuri unnie…”

Ah suara yang sangat familier itu…
“Maafkan aku Yoona… seharusnya aku menjaga baik-baik nyawa yang telah kau lindungi ini, tapi aku…”
Aku sudah tidak sanggup lagi
Rasanya terlalu menyakitkan…
Semua orang sudah meninggalkanku sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi…
Kemudian aku mengangkat pedang yang berlumur darah Taeng ke leherku sendiri. Air mataku terus mengalir tanpa henti.

Saat itu berbagai kemungkinan yang terjadi andai aku memiliki takdir yang lain mengalir seperti sungai dalam kepalaku.
Andaikan ingatanku tidak kembali apakah yang akan terjadi padaku?
Mungkinkah aku akan hidup bahagia bersama Jessica sampai akhirnya dia pun meninggalkanku?
Mungkin tidak buruk, walau akhirnya tetap saja menyakitkan…
Atau jauh sebelum itu.
Andai Yoona tidak pernah kembali. Pasti Yoona masih hidup di suatu tempat diluar sana.
Ah, bukan itu yang harusnya kusesali.
Kenapa aku menyuruh Yoona membunuh Tiffany?
Kenapa aku begitu egois ingin memiliki cinta Taeng?
Kenapa aku tidak bisa menghapus dendam ini?
Pada akhirnya aku pun mencabut nyawanya dengan tanganku sendiri.
“Mianhae Yoona aku memang jahat…”
Benar, seperti Appa yang menjadi seorang tiran setelah ditinggalkan Umma.
Mungkin memang darah keji mengalir dalam diriku. Karena kehilangan orang yang dicintai maka seorang manusia bisa berubah menjadi seekor binatang.
Aku sudah sampai disini sekarang. Semuanya sudah tidak dapat ditarik kembali. Percuma kusesali. Karena penyesalan tidak akan mengembalikan Yoona dan Taeng…
Sudah terlambat untuk memperbaikinya.
Karena sudah kehilangan segalanya, saat itu aku tidak memiliki rasa takut lagi.
“Selamat tinggal dunia…”

……………………………………
……………………………………

Tetesan-tetesan air hujan mulai turun ke bumi.
Seolah menangisi dua raga yang tak lagi bernyawa di tanah lapang itu. Posisi tubuh Yuri menindih tubuh Taeyeon.
Air hujan membasahi wajah keduanya. Seolah membentuk jejak-jejak air mata fana di mata keduanya.
Keduanya telah pergi ke tanah yang jauh untuk bertemu kembali dengan orang yang dikasihinya di dunia sana.

*~The End~*

Advertisements

Comments on: "Aku no Futago Chapter 3 – End)" (37)

  1. soshiprecious9 said:

    Ambil tmpat dulu. :p
    Slalu update gak bilang2. :p
    PAgi2 pula. :p

    • Akhirnya sungguh tragis.
      Empat nyawa trbuang sia-sia + satu orang yang dicampakkan. -_-
      Smua ini brmula gara2 Yuri juga sih yang cemburuan sampai2 nyuruh Yoong buat bunuh Fany.
      Mana Sica juga gak tahu lagi klo yang nyuruh bunuh Fany iti Yuri dan mncintainya pula. :p
      Tapi yang aku herankan kok Taeng bisa langsung mnduga aja klo yang dalang di balik smua ini Yuri.
      Padahal kan dia cuma ktmuin pisau berlambang ‘SONE’ aja. Yang tinggal di Krajaan SONE kan masih ada banyak yang bisa dijadikan trsangka. -_-
      Aku paling suka kutipan pas Sica bilang klo memohon untuk diri sndiri tidak akan manjur karna egois sifatnya, jadi dia memohon untuk orang lain.^^

      • Yg dicampakkan itu jg bakalan pergi pd akhirnya
        Iya, poor Sica
        Dlm pikiran Taeng kan kalau pemimpinnya dihancurin otomatis seluruh kerajaan hancur. Lagipula kan Raja nya semena mena sblm digantiin Yuri

      • Brarti jahat dong si Taeng.
        Padahal ada kmungkinan klo Yuri gak brsala.
        Walaupun mang Yuri dalang di balik smuanya, tapi seandainya salah aja kan kasihan dong seolah jadi korban.

      • Yah maybe. Tp memang pemimpin yg tiran harus dihukum sih, makanya pengikut Taeng banyak

  2. Yoongkumaseororo said:

    Huwaaa… Smuanya pada mati… Caranya trgis pula ;(
    gak nyangka bakalan secepat ini…
    Nyesek bngt…
    Apalgi bgiannya Yoong yg rela gantiin posisi Yuri…
    Dikit trobati sih waktu romance YulSic, tp trnyata cuma smentara, stelah itu… tambah nyesek lagi -_-

    haaah… Gak nyangka 1 perintah dari Yuri tu menyebabkan 4 nyawa hilang dengan sia2…
    Tp keren sih… Angst nya dapet banget….

    • Super duper angst
      Ya di awal kubilang cuma 3-4 chapter
      Chapter 2 kujadiin jatah 2 chapter sekaligus itu sbnarnya
      Thanks komentarnya 🙂

  3. T.T
    jessica nya juga dtinggalin ,,
    gada yg bahagia ,,

  4. hjohnbossanova said:

    sad ending … kayaknya di sini Yuri jadi kayak jahat banget hehe

  5. wah gila, mati semua

  6. blue ocean said:

    lalu buat apa aq jg hidup d dunia ini..
    authoorrr bersumpahlah membuat cerita yg happy ending setelah ini yaaa.. hiks hiks..

  7. teresone said:

    hiks T_T gak ada yg bahagia
    semuamati, mboya ige, T_T
    kasian amat sih kembaraan-kembaran ku itu.
    tapi overall keren eon angstnya dapetttt banget good jobeon ❤

  8. ending sungguh tragis. kudoakan moga arwah-arwah berdamai di atas. juga bersama selamanya.

  9. Nice thor. feelnya beneran dapet.
    semoga mereka berdua damai dialam sana ya, dengan pasangannya masing”
    Taeyeon sama Tiffany
    Yuri sama Jessica
    nah Yoona ketemu sama bidadari disana, Seohyun (?)
    kwkwkwk.

    keep update, thor!

  10. baru baca endingnya, kejamnya. si yuri kejam, yoona kejam, taeng kejam -_-

  11. andai yuri gak menyuruh yoona membunuh
    andai yoona gak mengikuti perintah yuri u/ membunuh tifanny..
    andai taeyeon gak menemukan jasad tifanny..
    andai taeyeon gak membalas dendam untuk membunuh orang yg udh membunuh tifanny
    andai yuri gak melihat cara yoona mati..
    andai taeyeon gak memenuhi surat panggilan yuri..
    maka kejadian tragis ini gak akan pernah terjadi
    kerenn thor.. aku sampaii nangis.. tp bener deh yoona matinya sadis banget

  12. Akhir cerita yg sangat tragis 😥

  13. bener2 tragis

  14. thor.. aku silln reader.. keke akhirnya nongol dgn ajaib kerena baca ff mu yg tragis ini.. em..maafkan aku thor..
    aku jnji akan bisa hadir di setiap karyamu untk mndukungmu terus.
    aku ingin mengatakan bahwa semua karyamu DAEBAKKKK!!!!!!!

  15. aku nemu lagunya/? lol, pas nemu langsung inget ff ini. kau tuan putri dan aku pelayan~
    jleb banget jleb. hebat eonni, lagu durasi sekitar 5 menit kurang bisa jadi ff sebagus ini TT^TT mewek dah mewek/? keren uwooooo

    • itu lagu vocaloid
      ahaha, terlalu memuji ah
      soalnya wktu pertama kali liat MV buatan fans tentang lagu itu langsung terkesan, lalu akhirnya bikin ff ini

      • suka banget lagunya TT^TT pertama baca ff ini biasa aja, bagus lah. eh pas nemu lagu tentang ff ini langsung mewek//? tapi ff eonni terkesan lebih simple daripada aslinya -_-v aku sampe bingung itu cinta segi berapa lol

      • Iya memang kubuat beda dikit dr versi lagunya, karena di lagu ada hubungan sm kerajaan lain

  16. dirgaYul said:

    Huaaaa sad ending.. Taetae kejam. Sdh kejam salah kenalin org lg.. Bewh dasarr.. Yuri pinter kelahi kereenn y.. Tp cm dkit hehehee.. Authory ndri bs kelahi g y??*kefooo hohohoo

  17. Aishhh, seriusan nih kak tamatnya begini ?
    Kakak tega ?
    Huaaaaaa, jahat amat. Kenapa nggak ada satupun yang bahagia ? Ini namanya tragedi berdarah.
    Sica unnie gimana kak ? Masa asli nggak ada yang bahagia. Kenapa kakak lenyapin semua tokohnya ? Tega ah.
    Setidaknya biarkanlah tadi unnie YulSic hidup bahagia sebentar sebelum terpisah oleh kematian
    Tapi apa boleh buat. Aku cuman seorang readers. Dewanya disini kan kak Maifate. Terserah kakaklah

    Tapi ngomong” aku suka waktu Jessica unnie bilang : karena meminta untuk diri sendiri adalah perbuatan egois…”. Keren binggo kakkkkkkk. Tulusnyaaaaaaa. Seharusnya Jessica unnie bahagia. Huaaaaa
    Ah sudahlah. Percuma menangisi, toh dewa Maifate sudah berkehendak lain. Bye *ngambek

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: