~Thank you for your comments~

Horror Party (Chapter 3)

Sooyoung masih tetap mendekap tubuh Sunny. Melindungi gadis mungil itu dari seramnya gempa yang mengguncang bangunan itu.
Sunny yang ketakutan dari tadi terus membenamkan wajahnya di bahu Sooyoung. Kedua tangannya meremas punggung Sooyoung.
Diam-diam Hyoyeon yang melihatnya merasa sedikit iri. Dia memang tidak punya perasaan cinta terhadap Sooyoung ataupun Sunny, tapi dia juga menginginkan pelukan yang menenangkan seperti itu dari seseorang.
Tak lama kemudian, gempa yang terasa seperti berabad-abad bagi Sunny itu berhenti.
“Tenang Sunny, sudah berhenti kok gempanya.”
“Ne… sebenarnya dimana kita?”
Saat ini posisi mereka berada di depan kelas. Kalau melihat ke arah belakang, seperti ada deretan meja dan kursi yang tak teratur. Seperti sudah lama tak terawat. Dan tentu saja ada beberapa lubang di lantai. Sarang laba-laba di setiap sudut.
“Kalau melihat papan tulis dan meja kursi yang lebih kecil, ini seperti kelas untuk anak SD.”
“SD? Bukannya kita di sekolah SMA kita? Sebelum kita jatuh akibat gempa itu.”
“Tidak tahu, aku juga bingung kenapa ini bisa terjadi.”
“Tunggu. Jangan-jangan… ini semua terjadi karena…”
“Karena apa, Sunny??”
Tiba-tiba Hyoyeon membawa telunjuknya ke depan bibirnya. “Sstt! Kalian diam sebentar.”
Sooyoung : “Hah?”
Hyoyeon berusaha menajamkan pendengarannya. “Kau dengar itu?”
Sooyoung : “Ada apa Hyoyeon?”
Sunny : “Aku tidak mendengar apa-apa.”
“Aku seperti bisa mendengar teriakan Jessica. Mungkin dia berada tidak jauh dari sini.”
Lalu Hyoyeon berjalan menuju pintu ruangan.
“Eh? Hyoyeon! Mau kemana?!” tanya Sooyoung cemas ketika Hyoyeon membuka pintu.
“Tidak apa-apa, aku tidak akan pergi jauh. Aku hanya akan mengecek keluar sebentar untuk memastikan apa itu benar suara Jessica lalu kembali. Kalian tunggulah disini dan jangan kemana-mana.”
Sebenarnya salah satu alasan Hyoyeon tidak mengajak mereka juga karena dia khawatir. Hyoyeon sudah mempunyai firasat sekarang mereka berada di tempat yang bukan sekolah mereka lagi. Dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Kalau Hyoyeon yang biasa, dia pasti sudah takut dan minta ditemani mereka. Tapi setelah melihat Sunny yang menggigil ketakutan mendadak hasrat ingin melindungi keduanya muncul.
Setidaknya kalau dia tidak mengajak Sooyoung dan Sunny maka dia bisa meminimalisir bahaya. Selain itu Hyoyeon juga tidak bisa membiarkannya andai itu benar-benar suara Jessica.

Setelah pintu ditutup, kesunyian kembali melanda ruangan itu.
Jantung Sunny mendadak berdebar-debar sampai dia rasa dia bisa mendengar suara debarannya sendiri. Karena hanya berduaan saja perasaan cintanya yang terpendam terhadap Sooyoung tiba-tiba saja mengusik hatinya.
“Mudah-mudahan Hyoyeon cepat kembali…” kata Sooyoung mulai takut. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari saku rok.
“Sekarang jam setengah delapan malam. Tidak ada sinyal…”
Setelah mendengarnya berkata begitu, Sunny juga mengeluarkan ponselnya untuk mengecek sinyal sekaligus waktu.
“Iya, tidak ada sinyal.”
Sooyoung kembali duduk di lantai.
“Kalau ini di rumah pasti sekarang kami sekeluarga sedang jam makan malam. Umma, Appa, unnie…”
“………………”
Tiba-tiba ruangan terasa berguncang lagi.
“Gempa lagi?!”
“Ahhhhh!” Sunny memekik ketakutan.
Sooyoung meraih Sunny ke dalam pelukannya.
“Mudah-mudahan kamu tidak apa-apa Hyoyeon,” ujar Sooyoung sambil menuturkan doa untuk sahabatnya diluar sana.
Detik-detik berlalu. Tanpa mereka sadari, mereka telah melaluinya sambil terus berpelukan seperti itu. Sooyoung memeriksa ponselnya sekali lagi. Sudah lima menit berlalu.
“Hyoyeon, cepatlah kembali… kenapa lama sekali? Katamu cuma sebentar…” ucap Sooyoung merasa semakin kalut. Tangannya menggenggam ponselnya lebih erat sampai ujung-ujung jarinya memutih. “Kamu tidak mungkin meninggalkan kita kan…?”
“………………..”
“Sunny ah, kamu tidak berpikir bahwa terjadi sesuatu pada Hyoyeon diluar sana kan?”
“Hentikan, aku tidak mau membayangkan hal terburuk.”
“Mianhae… aku juga tidak mau.”
“Ini salahku…”
“Apa?”
Sunny memejamkan matanya dan meremas baju Sooyoung.
“Kalau saja tadi aku tidak mengusulkan untuk melakukan ritual Genie, ataupun mencegah kalian pulang… mungkin semua ini tidak akan terjadi.”
“Kamu bicara apa sih Sunny?”
“Ini tanggung jawabku. Aku sama sekali tak menduga akan terjadi hal seperti ini…”
“Tunggu, tunggu sebentar. Kamu mau bilang kalau ini terjadi karena kita melakukan ritual Genie? Kamu yakin?”
“Memang apa lagi kalau bukan?!”
Sooyoung sampai terenyak kaget mendengar intonasi Sunny.
“Ah maaf… tapi kalau kamu pikir kembali. Setelah kita melakukan ritual Genie lalu kita berada di tempat asing ini, bukannya itu semua terlalu kebetulan?”
“Tapi masa bisa terjadi hal semacam ini? Kan aneh.”
“Tidak ada kata aneh kalau berhubungan dengan hal mistik. Aku barus sadar kalau ritual Genie mungkin… memang bukan sekedar main-main, tapi mungkin memang hal mistik. Kalau ini terjadi karena kita salah melakukannya…”
Sooyoung menelan ludah. “Ta-tapi, aku benar-benar hanya menyebutkan sembilan kali kok.”
“Aku juga sembilan kali. Tapi bagaimana dengan member yang lain? Apa kamu bisa positif seratus persen kalau mereka hanya menyebutkan sembilan kali? Bisa saja keceplosan seperti katamu waktu kita melakukannya kan?”
Sooyoung kehabisan kata-kata.
“Kita tidak akan tahu…”
“……………….”
“Hei Sooyoung, bagaimana kalau kita menyusul Hyoyeon?”
“……………….”
“Tapi tidak usah kalau kamu takut. Kita tunggu disini seperti kata Hyoyeon.”
Sooyoung takut. Tapi di sisi lain dia juga mencemaskan yeoja berambut pirang itu.
“Kita susul saja. Aku tidak tahan kalau kita cuma berdiam diri disini saja.”
“Ayo.”

Sunny dan Sooyoung berdiri, lalu keduanya menuju pintu kelas.
Grek!
Pintunya terasa agak berat ketika digeser. Keduanya menatap ke arah lorong yang kosong.
Sooyoung menelan ludah. Dia segera mencari tangan Sunny dan menggenggamnya untuk menenangkan debaran jantungnya. Sunny yang dapat merasakan ketakutan gadis jangkung di sebelahnya pun mengejek.
“Ahhh, memang lebih enak sama Taeyeon yang pemberani daripada sama Sooyoung yang penakut ya.”
“Kamu jahat Sunny…”
“Ya ya, makanya jangan jauh-jauh dari Sunny unnie ini.”
“Ne, Sunny oppa.”
“Sunny unnie!”
“Sundaddy!”
Sampai mereka baru sadar kalau suara mereka bergema di lorong.
“Ck, ya sudahlah, terserah apa katamu.”
Kadang ejekannya suka membuat Sunny jengkel, meski begitu itu tidak mengurangi rasa cintanya. Karena itu Sunny selalu menanggapi ejekannya dengan balas mengejeknya. Tapi di situasi macam ini bukan saatnya saling mengejek.

Sooyoung dan Sunny terus berjalan pelan-pelan sambil bergandengan tangan. Sunny berjalan di sebelah kanan, sedang Sooyoung di sebelah kiri.
Setiap hembusan angin yang dirasakan kulit Sooyoung membuat dirinya merinding. Dia berjalan lebih rapat ke Sunny.
Sooyoung melirik keadaan sekelilingnya yang cukup gelap. Kemudian dia tidak berani lagi. Cukup melihat seperlunya saja daripada nanti dia menjadi panik.
‘Kumohon semoga tidak ada sesuatu yang muncul’ doa Sooyoung dalam hatinya berkali-kali.
Sunny sendiri juga agak takut. Tapi dia justru lebih khawatir memikirkan nasib member yang lain.
Benaknya terus bertanya-tanya apakah mereka semua baik-baik saja? Terutama Tiffany dan Jessica. Mereka berdua kan yang paling tidak tahan dengan hal seperti ini. Apa mereka semua sedang saling mencari-cari seperti dirinya dan Sooyoung sekarang ini?
Tapi di depan Sooyoung dia berusaha tetap tampil tenang. Supaya Sooyoung tidak bertambah panik dan supaya Sooyoung dapat mengandalkan dirinya.
“Lebih baik kita periksa setiap kelas yang kita lewati, siapa tahu ada petunjuk.”
“Ya, kamu benar. Kita coba di ruang kelas ini.”
Mereka berdua masuk ke dalam ruang kelas bertuliskan 1-1. Keduanya mencari petunjuk keberadaan member lain sekaligus petunjuk untuk keluar dari tempat ini.”
Lima menit kemudian. Setelah memeriksa lemari dan meja.
“Tidak ada apa-apa ya?”

Klotak!
“!”
Sooyoung langsung berlindung dibalik punggung Sunny.
“Itu hanya suara sapu yang jatuh, Sooyoung.”
Sooyoung menebah dadanya. “Fiuhhh… kukira apa.”
Dalam situasi sesunyi ini memang suara sekecil apapun dapat mengagetkan. Sunny juga sempat kaget tadi, walau dia tidak bereaksi sedrastis Sooyoung.
“Kita ke kelas berikutnya.”
Sepanjang jalan, mereka memeriksa belum pintu kelas yang dilewati. Ada juga ruang kelas yang terkunci. Tapi belum terlihat seorang pun ataupun petunjuk.
Mereka sudah berkeliling sekitar 15 menit. Dan sudah tiga menit mereka lalui dalam kebisuan.
Sooyoung menyikut-nyikut Sunny.
“Apa sih?!”
“Ngo-ngomong dong! Kalau terlalu sunyi begini seram tahu! Seperti tiba-tiba bakal ada yang muncul!”
“Ya sudah kamu panggil nama yang lain saja.”
“Ya, begitu mungkin lebih baik. Hyoyeon! Kamu dimana?!” panggil Sooyoung
Tidak ada jawaban, yang terdengar hanya gema suaranya sendiri.
“Taeyeon! Sica! Fany! Yuri! Yoong! Seohyun!”

Sunny menghentikan langkahnya ketika sampai di lorong yang terbagi dua. Satunya menuju ke arah utara dan satunya menuju ke arah barat.
“Firasatku tidak enak. Lebih baik kita lewat jalan yang ini saja,” kata Sunny sambil menghadap ke lorong yang berada di arah barat.
“Kamu yakin? Siapa tahu kita bisa bertemu member lain kalau ke arah sana?”
Tapi karena Sunny sudah keburu bergerak, maka Sooyoung tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
Setelah melewati dua kelas, langkah mereka terhenti karena di tengah lorong ada lubang besar.
“Bagaimana kita bisa lewat?”
Sunny melihat di dekat mereka berdiri ada papan yang cukup panjang.
“Kita lewat pakai ini saja.”
“Hah?! Tidak mau ah! Kelihatannya rapuh! Mending kita memutar ke lorong yang tadi.” Sooyoung memutar badannya dan bermaksud pergi. Berharap Sunny akan mengikutinya, tapi.
“Hup.”
Bruk
Sekarang papan itu menjadi jembatan bagi lubang itu.
“Su-Sunny ah!”
Dilihatnya Sunny sudah berusaha menyeberang dengan menginjaki papan itu. Sunny menapak selangkah demi selangkah dengan hati-hati sambil menyeimbangkan diri dengan tangan.
“Sunny!”
“Diamlah! Jangan berteriak terus! Nanti aku jatuh!”
Sooyoung menutup mulut dan akhirnya hanya memperhatikan Sunny menyeberang dengan cemas. Padahal jaraknya hanya empat meter, tapi terasa lama sekali. Akhirnya Sunny sudah sampai di seberang.
“Ayo, menyeberanglah Sooyoung.”
Sooyoung memandang Sunny yang berdiri di seberang lalu melihat ke bawah lubang. Gelap sekali. Seolah dirinya sedang melihat ke jurang tak berdasar. Sooyoung menelan ludah lalu menggeleng.
“E-enggak mau ah!”
“Tidak apa-apa, papan ini cukup kuat untuk kuinjak. Bukannya berat badan kita sama Sooyoung?”
“Tapi aku takut!”
“Makanya jangan terlalu melihat ke bawah!”
Sooyoung menarik nafas dalam dan akhirnya memberanikan diri menginjak papan itu. Dia berjalan satu langkah.
Oh Tuhan…
Rasanya lubang di bawahnya seperti hendak menghisapnya. Atau tiba-tiba akan muncul hantu yang akan menariknya. Kakinya jadi gemetar. Gemetarnya begitu terasa sampai papan itu ikut bergetar.
“Su-Sunny ah…!”
“Tenang Sooyoung! Jangan panik!”
“!”
“Kamu pasti bisa. Jangan berpikir hal-hal yang menakutkan. Pegang tanganku.” Sunny mengulurkan tangannya.
Sooyoung mengerahkan segenap keberaniannya untuk melangkah beberapa langkah lagi sebelum tangannya bisa menggapai tangan Sunny. Ketika kakinya sudah bisa menapak lantai lagi dia langsung memeluk Sunny.
Sunny menepuk-nepuk punggungnya sampai dia tenang.
“Sooyoung payah, masa gitu saja takut.”
“Memangnya salah kalau takut?!” tanya Sooyoung setengah malu.
“Ah, iya iya.”
Tiba-tiba lantai yang mereka tapaki terasa berguncang lagi.
“Gempa lagi?!”
“!!” Sunny langsung membenamkan wajahnya di bahu Sooyoung.
Guncangannya hanya beberapa detik. Tapi akibat gempa tersebut, papan yang mereka letakkan bergeser kemudian terjatuh ke dalam lubang itu. Walau sudah ditunggu beberapa detik tidak kedengaran suara jatuhnya. Seperti suara benturan papan itu ke lantai. Seolah menghilang ke dunia lain.
Sooyoung tidak mau membayangkannya.
Setelah gempa itu reda, Sunny baru berani mengangkat wajahnya lagi.
“Tuh, kamu sendiri takut sama gempa.”
Sunny menunduk malu. “Biar! Setiap orang punya sesuatu yang ditakutinya, itu hal yang wajar.”
“Ah, tapi kita jadi nggak bisa balik kesana lagi.”
“……………..”
“……………..”
“Memang lebih baik kita terus saja.”

Mereka terus melanjutkan berjalan melewati lorong.
Sepuluh menit kemudian.
“Hyoyeon! Taeyeon! Tiffany! Yuri! Jessica! Yoona! Seohyun!” panggil Sooyoung dari tadi.
“Mungkin… mereka terpisah sangat jauh dari kita, sampai-sampai tidak bisa mendengar. Atau mungkin… ada sesuatu yang lebih pada tempat ini, yang tidak kita ketahui.”
“Ja-jangan bilang begitu ah Sunny. Kamu membuatku takut!”
“Karena tempat ini tidak ada sinyal HP. Seolah… kita terisolasi dari dunia luar. Dan dari tadi rasanya kita seperti sedang berputar-putar saja.”
“Ma-masa sih?”
Sunny mengangguk.
“Me-memang semua kelas terlihat sama, tapi kan-”
“Entahlah, mungkin ini perasaanku saja.”
“Hentikan… kamu dan firasatmu itu sama sekali tidak membuatku tenang. Fany ahh! Sica! Taeyeon! Hyoyeon! Yuri! Yoong! Seohyun! Kalau ada jawab dong!” panggil Sooyoung sekali lagi, dengan lebih putus asa.
“Yu- uhuk! Uhuk!” Sooyoung tersedak. “Uhuk! Uhuk!”
“Sudah dari belasan menit lalu kamu terus memanggil nama mereka. Kalau kamu terus berteriak nanti suaramu habis.”
“Aku tidak peduli!” Sooyoung memanggil nama mereka semua sekali lagi.

Sunny berhenti melangkah.
“Ada apa?”
“Sepertinya memang kita hanya berputar-putar saja dari tadi…”
“Hentikan kata-kata seperti itu lagi!”
“Aku serius! Lihat saja tulisan di papan kelas ini!”
Sooyoung menengadah ke atas dan betapa terkejutnya ia ketika melihat tulisan ‘1-1’ di papan kayu itu.
Begitu kagetnya ia sampai sejenak ia lupa bernafas.
“Sudah kubilang…”
“Nggak-nggak mungkin… bukannya kita sudah melewati lubang besar itu!?”
“Mana kutahu… Berarti kalau kita lewat sini-“
Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Sunny segera berjalan pergi.
“Eh?! Tu-tunggu Sunny!”
Sunny berjalan hingga lorong terbagi dua arah. Dia memilih lewat lorong yang berada di posisi barat sekali lagi. Dan terus berjalan sampai tiba di lubang besar.
Sooyoung berdiri di sisi Sunny. Melihat ke dalam lubang yang menganga di lorong itu. Rasanya barusan dia sudah melihat lubang ini.
“Sudah kuduga, kita memang hanya berjalan memutar.”
“Ta-tapi kan harusnya nggak mungkin. La-lalu kita harus gimana?” tanya Sooyoung terbata-bata. “Ah, kalau begitu kita lewat lorong yang satunya saja?”
“Ja-jangan kesana! Firasatku sungguh-sungguh nggak enak!”
“Tapi mau gimana lagi? Katamu kita hanya berjalan memutar. Lagian mau pakai apa kita menyeberang lubang besar ini? Papannya sudah jatuh kan?”
“………………”
Sooyoung menelan ludah. Dia merasa seperti ada sesuatu yang sedang memandangi mereka berdua dari bawah lubang itu.
Jangan-jangan makhluk itu marah karena tadi papan yang mereka gunakan untuk menyeberang jatuh kesana dan mengganggunya?
“Yu-yuk cepetan! Kalau melihat lubang itu lebih lama rasanya aku seperti mau kehisap!” Sooyoung cepat-cepat meraih tangan gadis itu dan menyeretnya pergi menjauh dari lubang itu. Kemudian kali ini malah dia yang lebih dulu memimpin jalan tanpa disadarinya. Masih setengah menyeret Sunny. Kali ini mereka melalui jalan yang tidak mereka pilih sebelumnya.

Setelah berjalan beberapa meter, hidung Sooyoung menangkap sebuah bau di udara.
“Bau apa ini?” Sooyoung mengendus beberapa kali.
“!”
Sunny menghentikan langkahnya, hingga langkah Sooyoung ikut terhenti.
Sooyoung ingin menatap raut wajah Sunny untuk bertanya ada apa, tapi dia tidak bisa melihatnya karena Sunny menunduk dan poninya menghalanginya.
“Aku takut…”
Alarm tanda bahaya dalam diri Sooyoung seakan tertekan begitu mendengar Sunny berkata seperti itu. Padahal sejak tadi Sooyoung terus bertumpu pada harapan terhadap gadis itu. Karena bagaimanapun juga, Sooyoung tetap menganggap Sunny lebih berani darinya.
Ketika melihat bahasa tubuh Sunny, Sooyoung baru menyadari bahwa mungkin dia terlalu fokus pada rasa takutnya sendiri sampai-sampai tidak menyadari rasa takut yang dipendam Sunny. Saat itu Sooyoung benar-benar merasa dia bukan seorang sahabat yang baik sampai-sampai tidak menyadarinya.
“Hei Sooyoung, bagaimana kalau kita… terjebak disini selamanya?”
“Kenapa kamu sudah pasrah begitu Sunny? Ini tidak seperti sifatmu eh namamu.”
“A-aku…” jawab Sunny dengan suara gemetar.
Sooyoung meletakkan tangannya di pundak Sunny.
Sunny mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan tatapan Sooyoung yang lembut
“Gwenchana Sunny. Semua akan baik-baik saja. Kita akan menemukan yang lain. Lalu kita akan pulang dari sini bersama-sama…” Tangannya yang sedang menggenggam tangan Sunny dia ubah menjadi mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Sunny. Kemudian mengangkatnya ke depan wajah Sunny. “Aku janji, ne?”
Pandangan Sunny beralih dari jari kelingking mereka ke wajah Sooyoung. Sooyoung masti menatapnya dengan lembut hingga membuat harapan Sunny melambung tinggi.

“Lagipula aku masih punya kertas yang tadi.” Sooyoung mengeluarkan potongan kertas miliknya dari saku roknya dan menunjukkannya pada Sunny. “Bukannya selama ada ini kita semua pasti akan tetap saling terhubung?”

Sunny POV

Jantungku terus berdebar-debar. Jangshin ini benar-benar mampu membuat detak jantungku kacau. Dengan kata-katanya dan sorotan matanya yang tulus itu…
“Supaya kamu lebih tenang.”
Sooyoung melepaskan kalung berbentuk salib yang melingkari lehernya. Kemudian memasangkannya di leherku.
“Pakai ini, ini kalung yang diwariskan oleh Nenekku. Katanya selama kamu pakai ini, kamu akan terlindung dari bahaya.”
Aku menyentuh kalung itu. Karena menggantung di dada rasanya jadi dekat di hatiku…
“Dulu waktu aku kecelakaan pun aku tidak terluka parah karena aku percaya di dalam kalung itu ada doa Nenek.”
“Apa tidak apa-apa aku memakai kalung ini…? Ini peninggalan yang berharga kan?”
“Ah, Nenek pasti tidak keberatan kalau kupinjamkan padamu. Kajja?”
Dia kembali menggandeng tanganku. Kali ini genggamannya terasa lebih mesra. Dan kehangatannya membuatku merasa terlindungi. Dia bahkan berjalan di depan untukku. Sooyoung yang biasanya penakut melakukan ini untukku…
Dia begitu gentle…
Mungkinkah… Sooyoung juga punya perasaan yang sama denganku?
Boleh kan…? Kalau aku berdelusi begini…

Third Person POV

Bukan karena Sooyoung mendadak jadi pemberani. Dia hanya jadi lebih tegar karena barusan telah membuat janji akan keluar dari tempat ini bersama-sama dengan Sunny.
Setiap mereka melangkah maju, bau yang pekat itu semakin mengusik indera penciuman mereka. Bau busuk.
Ketika mereka berbelok di sudut, mereka pun menemukan sumber bau yang sangat tidak menyenangkan itu.
Sebuah mayat teronggok di pinggir lorong. Dengan belatung-belatung mengerubunginya.
“AH-AHHHH-AHHHHHHHHHHHH!!! MA-MAYAT!”
Sooyoung cepat-cepat menutup hidung dan memalingkan wajahnya dari pemandangan mengerikan itu. Sekarang pemandangan ini akan selamanya berbekas di otaknya.
“Uph…!” Sunny menutup mulutnya dan segera menarik diri dari tempat itu.
“Eh?! Tu-tunggu Sunny!” Sooyoung berlari mengejarnya.
Setelah bermenit-menit memendam keresahannya, akhirnya Sunny tidak sanggup lagi. Di ujung lorong yang berseberangan, Sunny membungkuk dan memuntahkan semuanya.
“HOEEKKK!!”
“Ahh…” terbesit rasa iba dalam diri Sooyoung ketika melihat wajah Sunny yang seperti tersiksa saat memuntahkannya.
“HOEEEKKKK!!”
Sunny merasakan tangan hangat Sooyoung membelai-belai punggungnya.
“Sudah lebih enakan?”
“……uhhh…!” Sunny mengelap bibirnya dengan punggung tangan dari sisa-sisa muntahkan dengan rasa jijik. Matanya berkaca-kaca.
Sooyoung sendiri merasa nafasnya sesak. Dia sangat mengerti. Walau sudah berusaha dia tetap tidak bisa membuang pemandangan mengerikan itu dari memori otaknya. Meski Sooyoung mati-matian menahan diri untuk tidak memuntahkannya keluar karena nanti perutnya akan terasa kosong.
“I-itu bukan mereka Sunny! Baju yang dipakai mayat itu jelas bukan baju mereka!”
Sebenarnya Sooyoung ingin mengatakan kalimat yang lebih baik. Namun dirinya yang sedang sama-sama terguncang tidak bisa menemukan kalimat yang dapat lebih menghibur.
Sunny menangkupkan wajahnya ke kedua tangannya. “Kenapa jadi begini…? Kenapa ada yang seperti itu disini… Sebenarnya kita terjebak di tempat macam apa…?”
Sooyoung melihat badan Sunny sedikit berguncang. Semua ini masih misteri bagi mereka.
“Sunny… kamu menangis?”
“…..huuu…. huuuu…. huuuuu….”
Hati Sooyoung yang sudah sempat menemukan keberanian kembali menciut. Apalagi melihat Sunny seperti itu.
Sooyoung menggigit bibirnya dan menunduk. “Aku juga tidak mau lagi…”
Matanya berkaca-kaca.
“Kyungho songsaengnim…” bisik Sooyoung lirih.
DEG!
Nama yang tabu untuk disebut itu terdengar oleh telinga Sunny. Dan sesaat semua kelembutan yang dirasakan oleh Sunny terhadap Sooyoung barusan tersapu seketika. Delusi dan harapannya juga. Tergantikan oleh perasaan dengki.
Selama dua tahun ini, entah sudah berapa kali Sunny merasakan perasaan sakit hati ketika melihat Sooyoung tersenyum pada Kyungho. Ataupun berkencan dengannya. Bahkan ketika nama itu sekedar terucap dari bibir seseorang pun sudah kembali mengingatkan sakit hatinya. Selama dua tahun ini dia terus memendamnya.
“Ha-hahh…!” Sunny merasa dadanya sesak. Ditambah dengan perasaan tersiksa berada di tempat ini dia sudah tidak tahan lagi. Dia telah mencapai titik hancur.
“Sunny?”
“Gara-gara aku sekarang mereka semua terperangkap dalam sekolah mengerikan ini… Ini salahku…”
“Sunny, ini bukan salahmu… jangan mulai menyalahkan diri lagi ya-”
Tapi Sunny keburu menepis perkataannya. “Kamu nggak ngerti perasaanku!”
“!!”
Kalimat itu mengungkapkan sebagian isi hati Sunny yang sebenarnya mengatakan bahwa Sooyoung tidak mengerti rahasia hatinya. Cintanya yang terpendam.
Nafas Sunny tidak beraturan. Sunny merasa hatinya perih, seperti dicabik-cabik. Melihat Sooyoung hanya membuat perasaannya semakin kacau.
Dirinya dulu sempat bertanya.
Kenapa Sooyoung jadi makin cantik?
Lalu dia sudah menemukan jawabannya. Karena dia mendapatkan cinta dari namja itu kah?
Dan pemikiran itu membuatnya kembali terluka.

Sunny POV

“Pergi…”
“Sunny…”
“Tinggalkan aku… sekarang ini aku sedang tidak ingin melihat wajahmu…”
“Ke-kenapa? Apa salahku Sunny…?”
“Kamu menyebalkan tahu nggak sih!”
Karena kamu menyukai Kyungho dan aku sama sekali tidak punya kesempatan. Karena Kyungho adalah namja, walau aku bersikap setomboy apapun aku tetaplah seorang yeoja. Ah tidak, ini bukan masalah namja ataupun yeoja. Aku hanya merasa sebal karena kamu pacaran dengannya! Menyebalkan!
“Selama kita berkeliling juga kamu kebanyakan merengek padaku. Aku tidak mau dengar rengekanmu. Telingaku sudah sakit dengar teriakan tiga tarafmu. Lebih baik kamu pergi sendiri saja sana!”
Lalu kenapa kamu bersikap ramah padaku? Kamu hanya memberi aku harapan untuk dihancurkan kembali.
“Juga ini, ambillah kembali!”
Aku menarik kalung yang menggantung di leherku hingga talinya terlepas. Kemudian aku melemparnya ke arahnya. Aku sepenuhnya sadar kalau aku telah menjadi orang tak berperasaan padanya.
Dia kelihatannya sangat terluka melihat reaksiku. Juga ketika kalung itu membentur dadanya kemudian jatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di lantai kayu.
Huh!
Rasa sakit yang kurasakan ini nggak ada apa-apanya dengan apa yang kamu rasakan. Tahukah kamu? Selama 2 tahun ini aku memendam sakit yang tak pernah kamu bayangkan. Yang kalau dijumlah rasanya akan beribu-ribu kali lipat dari yang saat ini kamu rasakan.
Kemudian aku memalingkan punggungku dan terus berjalan.
“Su-Sunny…?!” aku mendengar keraguan dari nada suaranya.
“Jangan mengikutiku!”
“!”
Kemudian aku terus berjalan tanpa menengok ke belakang lagi. Aku tidak mendengar suara langkahnya di belakangku. Kelihatannya dia masih syok.
Aku ingin membuatnya sakit hati. Ya, aku ingin membalas dendam dengan membuatnya merasakan sakit hati. Sebentuk perasaan indah bernama cinta kini telah berubah menjadi dengki. Dia memang pantas mendapatkannya. Supaya dia sadar kalau dia telah sangat melukaiku.
Kalau dipikir-pikir sejak dulu aku memang sudah sinis ketika mendengar rumor datingnya. Tapi ternyata malah sungguhan.
Bahkan setelah pacaran dengan Kyungho, dia masih memperlakukanku dengan gentle. Heh, beraninya.
Seolah itu bukan apa-apa buatnya.
Benar-benar jahat.
Padahal aku menyukainya dengan tulus…
Ah Tuhan… kenapa aku harus memiliki perasaan seperti ini…?
Mataku kembali berair. Kubiarkan mengalir turun ke pipiku.

Aku tidak tahu sudah berapa menit aku berjalan. Bahkan aku rasa aku sudah terpisah jauh dari Sooyoung. Tapi ketika merasakan gempa bumi lagi aku cepat-cepat merunduk. Sebuah lampu terlepas dari langit-langit dan terjatuh tidak jauh dari tempatku berjongkok.
Prang!
Ketika melihat pecahannya berserakan di lantai aku menyadari kalau aku hampir saja terluka parah. Kalau lampu itu jatuh ke kepalaku…
DEG!
“Kyaaaaaa!!!”
Aku tidak mau! Aku takut mati!
Kenapa!? Aku harus mengalami ini?!

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Horror Party (Chapter 3)" (29)

  1. first kah?
    wih soosun bikin delulu lagi ya apalagi moment mereka kemarin sweet banget /.\
    sabar ya sunny, nanti juga sooyoungnya suka sama kamu lagi tungguin aja entah sampai kapan ._.
    balik ke cerita
    jadi mereka pindah dunia (?) itu gara gara main genie gitu?ini tuh ceritanya semacem kaya horror tapi kalau aku bacanya juga semacem ada feel monster yg bakalan nongol nanti ._.

    • iya
      sangat sweet terutama di video mnet itu bikin delulu, mana editannya mantabh lg XD ada love lovenya ❤
      harus itu, biar kupelet si Syoo biar jatuh cinta setengah mati sm Sunny fufufu XD #kabur

      ya begitulah
      wkwkwkwk XD
      yah horror gak selalu dr hantu jg sih, banyak jg yg dr manusia

  2. SoShiPrecious9 said:

    Ambil tmpat dulu.

    • soshiprecious9 said:

      Lagi2 SooSun brantem.
      Dan pnybabnya gara2 si namja gaje itu.
      Akhirnya jadi juga dijadikan ‘namja gaje pihak ktiga’ yah si BF-nya Soo itu. XD
      Aku kira itu ‘jimat plindung’ pas Sunny lari dari Soo bakalan ttap dipakai, biar bisa trlindung dari ‘setan’ gitu. Klo gak tar krasukan lagi kayak Fany. -_-
      Tapi kayaknya sih klo Sunny gak bakalan smudah itu krasukan yah.
      Wah sram bangt tuh cuma brputar2 di tmpat yang sama. Ktmu mayat pula. -_-
      Tapi apakah mayat itu ada pran pnting? Sprti trnyata adalah tokoh kunci atau malah plakunya?
      Dan aku hran, knapa gak TaeNy, gak SooSun, sama2 jatuhnya di ruangan klas dan ktmu lubang menganga tanpa dasar trus yah? Apakah nanti pairing lainnya juga akan mnmui dan mngalami hal yang sama juga?
      Lalu k mana juga itu si Hyo?

      • iya, ahhhh #depakJKH
        gak penting, karena memang di tmpt itu lumayan banyak mayatnya #plak (sama2 korban yg tersesat spt Soshi)

        yah itu kan kebetulan aja 😛 habis memang tempatnya banyak bolong2 dgn lubang
        nanti jg diceritain, biar dianggepnya Hyo menghilang secara misterius dulu

  3. annyeong…

    Duh,SooSun jadi mencar deh gara2 Sooyoung nyebut nama KyungHo, Sunny jadi murka kan 😦
    Tapi bisa jadi juga sih apa yg dibilang Sunny itu soal Genie,kalo salah satu dri member ada yg kurang/lebih ngucapin nya makanya mereka terjebak di dunia lain.
    Btw,Hyoyeon kemana? Setelah dia denger teriakan Jessica dan berusaha nyari sendiri kok dia ngilang gitu aja?

    • aku jg murka sm JKH #gak nanya

      aku cuma bisa ksh tau
      gempa yg sering terjadi itu sebenarnya ngaruh pd dunia/dimensi yg mereka jelajahin saat ini

  4. Duh , padahal awal2 baca udah senyum2 gaje , eh pas akhirnya T.T
    Kenapa nama itu mesti dsebut sooyoung ,

  5. untung yg ini gak ada yg kesurupan ._.

    ff ini ngingetin ama horo movie factory, jadi bisa ngebayangin gitu mereka ngiter2 sekolah 😀

    duh itu s hyo ngilang kemana ya, knp gak pergi bertiga aja. mana ada insoden diakhir pula, jadi mereka mencar2 deh 😦

  6. itu si hyo kemana? masa ngilang? yaahhh soosun pisah gara2 kyungho.
    cinta jadi dengki:( … itu sunny knapa??
    ditunggu next chapt thor penasaran~

  7. si hyo ngilang ke mana? apa emang suara jessica yg di dengarnya ato ilusi saja?
    ahh soo ngerusak moment deh dgn mengatakan nama itu.. tapi gue penasaran siapa yg mengatakan lebih/kurang kalimat itu..

  8. hjohnbossanova said:

    kerasa feelnya… bayangin jalan2 di sekolah malam2 nemu mayat terus cuma berputar-putar…

    keren deh moga-moga inspirasinya ada terus n updatenya rutin haha

  9. huuuuuuu buluku berdiri termasuk jantungku berdebar2. ini benar2 mirip dg film padahal ini cuma ff.
    gara2 namja itu (malas kusebutkan) soosun berantem. untung gak main tarik rambut ato tampar pipi.
    kemana hyoyeon? apa jgn dihisap oleh monstar ato setan? part lalu taeny. skrng part soosun. selanjutnya siapa.
    kutunggu next chap

  10. Yoongkumaseororo said:

    eh? Soo mati2an nahan muntah biar perutnya gak kosong dgn kata lain dia lg usaha spaya gak cepet lapar,..
    hehehe msh sempet aja mikirin makanan, tp idenya bagus tu…
    Sperti biasa ya pasangan SooSun gak lengkap kalo gak berantem dulu tp biasanyakan brantemnya krna hal spele tp lucu (?) nah nih malah brantem beneran… Soo sih ngancurin suasana aja nama cowoknya disebut2 di dpn Sunny, pdhal sblmnya smpet kagum deh sama Soo yg mendadak jd gentle jd gubrak kan…

    Yaaa jd tu gmana mreka jd pisah… Hyo jg tu kemana? Oh ya, baru nyadar Hyo satu2nya yg gak punya pasangan, kalo tiap pairing tu punya petualangan sndiri, entar Hyo berpetualangnya ma Siapa? Disini critanya Soo udah jalin hubungan ma JKH couple realnya ya, oh no jgn2 Yoong jg udah jg nanti bawa2 LSG?

    • haha bener, itu yg aku pikirin jg XD
      habis di tmpt gitu mana ada makanan jg sih

      ah aku jg sebel sm JKH >.<
      nanti Hyo jg diceritain, sabar ya

  11. Uuwwaaahh soosun dapet banget feel nya hyo kemana tuh ga balik lagi tegang nya naik turun tp keren

    author di tunggu lanjutan nya ya ga sabar pengen baca lanjutan nya 🙂

  12. Miss New New said:

    hai haai

    baca chap ini gak kerasa tau2 dah abis aja

    gini ya rasanya orang yg benci ama ‘tbc’ hehe

    mudahan ide nya lancar jadi bisa cepet update

    sunny menurutku ehois, ah cinta kan memang egois *makan areng

    haduh parah bgt tempat ituh… jangan cepat2 kau keluarkan mereka dari sana thor biar seru hahahaha

  13. *sherin said:

    Ciee full soosun hahaha
    next thor

  14. ihh malem malem baca part 3 cerita ini bener” bikin merinding.. apa yg terjadi dengan taeny? apa mereka semua terpisah di dimensi yg berbeda??? ahh thor semakin dipikirkan aku semakin penasaran.. lanjutkan!!

  15. hyosoosun kenapa malah jadi mencar

  16. nthen chii said:

    Duh, g bs napas -_-” hahaaa
    Makin ngeri aja -_-” tapi skaligus senyum2 gajelas :p
    Wkwkwkw
    Sunny paboo.. Kalo sndirian kan g tau bakal ada apa lagi malah mikirin perasaannya sndiri. Lagian si sooyoung knapa malah sebutin nama gurunya -__-”
    Errrr lanjut chap 4 :v

  17. Alya Rohali said:

    Full SooSun walaupun nyelipin (?) Real nc Soo :-/
    Makin seruu thor 😀 saya nunggu moment YulSeo thor #GakAdaYgTanya
    Buat next part-nya fighting ne thor^^

  18. ini soosunnya kenapa nggak se sweet taeny? ah lanjut thor^^

  19. dirgaYul said:

    Weeww..Soo tryta lbih pnakut dr Sunny.. Hyoo.. biar aq ajaa yg peluk*plakk.
    Cinta terpendam dn tk trbalas. Sungguh menyakitkan..haahhh*buangnafas,bukan buang duit wehh ahahahaa.. bagus thor.. suka dehh

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: