~Thank you for your comments~

Aku no Futago (Chapter 2)

A/N : Mianhae, karena updatenya sangat lama. Sekarang sudah lebih senggang.
Karena itu hari ini update setara dengan dua chapter sekaligus panjangnya.
Chapter depan perkiraan sudah berakhir ceritanya.
Sekali lagi diingatkan, pairing utamanya YoonYul, lalu ada YulTae, YoonFany, dan sedikit TaeNy disini.
Siapkan OST Tiffany By Myself
Enjoy~

Kamu adalah seorang Putri dan aku hanyalah seorang pelayan
Kami adalah sepasang kembar yang terpisahkan oleh takdir yang kejam

Yuri tengah meminum teh yang disajikan dengan cangkir yang bernilai tinggi. Matanya menatap kosong ke dalam isi cangkir tersebut.
Hari membosankan yang lain, pikirnya. Apa yang sebaiknya kulakukan hari ini untuk melewatkan waktu? Belajar seperti biasanya?
Lalu wajah seorang pelayan yang kebocahan terlintas dalam otaknya. Ketika Yuri memejamkan mata suaranya sayup-sayup terdengar seolah berada di sebelahnya.
Tuan putri

“Taeng…”
Yuri merindukan moment-momentnya bersama Taeyeon. Ketika Taeyeon mengajarinya memasak di dapur. Ketika Yuri mengacaukan dapur dan Taeyeon yang kerepotan membereskannya. Ketika mereka melewatkan waktu berbincang-bincang di halaman istana. Ketika Taeyeon bercanda dengan noraknya. Dan masih banyak lagi.
Tanpa sadar air mata nostalgia mengalir menuruni pipinya. Yuri menyekanya, kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.
“Masuklah,” kata Yuri singkat.
Pintu kamarnya yang besar itu terbuka, dan terlihat seorang yeojayang memakai baju seorang pelayan. Raut muka Yuri langsung berubah begitu melihat siapa yang datang.
“Eh…”
Langkah kakinya menimbulkan gema pelan pada lantai karpet yang diinjaknya. Sekarang dia berada tepat di hadapannya.
“Nama saya Im Yoona, tuan Putri. Oleh Raja, saya di tunjuk untuk menjadi pelayan pribadi tuan Putri. Mulai hari ini, seluruh pengabdian saya hanya untuk tuan Putri.”
Yoona berlutut di depan Yuri duduk. Diraihnya tangan kanan Yuri dan dikecupnya punggung tangannyadengan lembut.
“Yoo…na? Kaukah itu?” tanya Yuri tidak percaya.
Yoona hanya tersenyum lembut, sangat lembut. Seperti seorang adik yang sedang menatap kakak kesayangannya.
“Ne, ini aku. Ahaha, barusan terdengar formal sekali ya?”
Air mata mulai membanjir keluar dari bola mata coklat Yuri.
“Uhh… Yoona!”
Tanpa mempedulikan status atau apapun itu Yuri langsung memeluk Yoona erat-erat.
“Yoona! Yoona! Kukira kita tidak akan bisa bertemu lagi! Aku kangen sama kamu!”
“Aku kembali unnie.” Yoona membalas pelukan Yuri.
“Tiap malam aku selalu memikirkanmu, rasanya tidak percaya hari seperti ini akan benar-benar datang.”Suaranya gemetar menahan kerinduan.
Setelah saling melepas rindu dengan berpelukan, Yuri menangkup wajah Yoona dengan kedua tangan.
“Ohh Yoona, lama tak bertemu kamu jadi makin cantik saja.”
“Unnie juga.”
Yoona tersenyum, Senyum yang selalu Yuri kenang dalam hatinya.
“Senyummu juga tak berubah.”
Walau nama Yoona sekarang berubah dari Kwon Yoona menjadi Im Yoona tapi ekspresi lembut itu Yuri tidak akan lupa.
Yuri memeluk Yoona sekali lagi.
“Kemana saja kamu Yoona… kenapa kamu menghilang…?! Kenapa kamu baru muncul sekarang…?!”
“Mianhae unnie, karena aku tidak mau dijodohkan dengan Pangeran yang tak kukenal makanya aku lari dan menyembunyikan diri supaya mereka tidak pernah menemukanku. Lalu aku mengganti identitasku dan baru bisa menampakkan diri setelah keributan reda. Tahukah unnie? Appa saja tidak menyadari identitasku yang sebenarnya. Atau mungkin Appa sebenarnya sadar tapi dia tetap diam saja karena sudah tidak mengakuiku sebagai putrinya lagi, aku tidak tahu…”
“Ya sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah kembali. Selamat datang kembali Yoona.” sambut Yuri dengan senyum tulus tersungging di bibirnya.
“Aku pulang Yuri unnie, hehe. Ah, jadi begini ya rasanya pulang kembali ke rumah.” Mata Yoona mulai berair. “Hampir tiap hari aku selalu merindukan suasana seperti ini dan Yuri unnie.”
“Dasar, kalau gitu harusnya kamu pulang cepat.”
“Seandainya aku bisa unnie…”
“Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku sudah memutuskan akan menjadi pelayan Yuri unnie.”
“Ehhh?! Kenapa?! Kembalilah menjadi Kwon Yoona! Menjadi saudariku! Aku tidak mau kehilangan kamu lagi!”
“Aku tidak akan kemana-mana, Yuri unnie. Hanya saja aku akan berada di sisi Yuri unnie dengan identitas dan nama yang berbeda, selain itu aku janji tidak akan ada yang berubah di antara kita,” jawab Yoona meyakinkan sambil meremas tangan Yuri.
“Tapi kenapa harus mengubah identitas…? Tidakkah merepotkan bagimu kalau harus menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya?”
“Aku merasa nyaman dengan identitasku yang sekarang ini. Dan aku melakukan ini supaya tidak ada lagi seorang pun yang memisahkan kita.”
“…………..”
“Ya Yuri unnie?”
“Baiklah kalau itu memang keputusanmu Yoona. Aku tidak akan bicara apa-apa lagi soal masalah ini selama kamu tetap memegang janjimu.”
“Ne.”

Yoona POV

Begitulah.
Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki ke rumah asalku, namun posisiku kali ini sebagai seorang pelayan.
Sore ini kami sedang menghabiskan waktu bersama di halaman.
Lagu yang mengalun lembut dari harpa dan sinar mentari yang menyinari halaman.
Aku menuangkan secangkir teh yang baru saja kuseduh dan meletakkannya ke sebuah piring.
Yuri unnie mengambil cangkir teh dan menghirup aromanya sambil menikmati musik dengan tenang.
Dia memakai gaun berwarna putih. Kontras dengan kulitnya yang kecoklatan. Rambut hitamnya tergerai tertiup angin sepoi-sepoi.
Bahasa tubuh dan senyum yang merekah di sudut bibirnya.
Setelah lama tidak melihatnya, dia jadi terlihat sangat anggun dan dewasa. Melihat sosoknya membuatku sedikit berdebar.
Sangat kontras denganku, penampilanku tidak bisa dibilang feminin lagi. Rambutku juga diikat kuncir kuda.
“Apa yang unnie ingin makan untuk menemani minum teh sore ini?”
“Hmm, aku ingin makan macaroon.”
Seorang pelayan lain yang lewat tiba-tiba terhenti kemudian dia menatapku.
“Yoona.”
“Eh?”
Matanya menatapku dengan tajam seolah aku baru saja berbuat kesalahan. Setelah permisi pada Yuri unnie, kemudian aku dipanggilnya.
“Kamu sadar tidak? Barusan kamu memanggil tuan putri dengan tidak sopan.”
Apa?
“Kenapa kamu memanggilnya ‘unnie’? Tuan putri bukanlah seseorang yang bisa disamakan dengan kakakmu!”
Ohh… benar juga. Pelayan ini tidak tahu kalau sebenarnya kami bersaudara. Tapi memang, kalau orang lain yang melihat pasti akan mengira aku tidak sopan.
“Mohon maafkan saya, lain kali saya akan lebih berhati-hati.”
“Jangan lupa. Derajat tuan putri itu lebih tinggi daripada pelayan seperti kita ini.”
Tanpa kusadari, tanganku terkepal ketika mendengar ahjumma ini berbicara. Memang agak menyakitkan, tapi ini sudah risiko dari jalan yang kuambil.
Meskipun dia adalah kakakku sendiri. Tapi sekarang ada benang tak kasat mata di antara hubungan kami. Hubungan kami sekarang adalah pelayan dan tuan putri.

…………………………..
…………………………..
“Yoona?”
DEG
“Kamu barusan melamun?”
“Silakan tuan Putri.” Aku meletakkan cangkir berisi teh di dekat macaroon camilannya dengan hati-hati, hampir tak menimbulkan suara.
“Unnie.”
“Maaf?”
“Kenapa kamu jadi memanggilku begitu. Unnie, panggil aku dengan ‘unnie’ seperti biasa, Yoona.”
“Tapi saya tidak bisa… itu tidak sopan…”
“Yoona!”
“Sekarang saya adalah pelayan Yuri unnie.”
Yuri mengerutkan dahi.
“Terlepas dari status, kamu adalah dongsaengku Yoona! Dan hentikan formalitasmu itu! Kamu seperti para pelayan yang lain!”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian, ini adalah perintah dariku, saat kita sedang berdua saja kamu dilarang memakai bahasa formal padaku!”
Kemudian aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya.
Yuri unnie marah.
Marah karena aku memanggilnya tuan putri…
Tiba-tiba aku mendengar suaranya kali ini lebih pelan dan lebih lembut dibanding tadi.
“Kenapa kita jadi begini… kalau kamu juga memanggilku dengan ‘tuan putri’, aku merasa kamu seperti jauh dariku…”
Ketika aku mengangkat wajah, aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Kenapa…? Bukannya kita dulu sangat dekat? Apa kita tidak bisa kembali ke masa-masa waktu itu lagi? Tadinya aku pikir kamu juga menginginkan hubungan kita seperti dulu lagi…”
Kelihatannya air matanya sebentar lagi akan tumpah.
“Mianhae… mianhae… jangan menangis.”
Sejenak aku sempat ragu, tanganku terhenti di udara. Tapi aku memberanikan diri membelai pipinya.
“Panggil aku unnie lagi…”
“Yuri unnie.”
Yuri unnie balas menggenggam tanganku.
“Lagi.”
“Yuri unnie.”

Hari itu walau sempat ada guncangan, tapi aku merasa perlahan hubungan kami mulai pulih kembali seperti dulu.

__________________________________________________________________________

Hari ini aku pergi ke kota sebelah untuk berbelanja. Untuk membelikan buah dan snack bernama macaroon kesukaan Yuri unnie yang hanya dijual di kota ini. Aku meninggalkan area penduduk dan menuju ke pusat perbelanjaan.
“Hmm…”
Aku memperhatikan kertas berisi peta kecil yang kubawa sebagai penunjuk arah. Tampak beberapa pedagang sedang menjajakan berbagai macam barang. Tapi aku masih belum menemukan toko yang kucari.
“Bagaimana dengan apel ini? Mau beli?” tawar salah seorang ahjussi dengan senyum ramah.
“Ah, mungkin lain kali,” tolakku sehalus mungkin.
“Stock hari ini baru datang. Masih segar!”
“Noona, kamu mau beli sesuatu? Kami punya sayuran-sayuran yang masih segar.”
“Uh, aku hanya sedang melihat-lihat.”
Tapi akhirnya aku malah tergoda untuk membeli beberapa buah apel.
Memang aku punya peta, tapi untuk memastikan aku tidak tersesat, aku berusaha mengingat area di sekitarku dengan hati-hati dan melewati jalan besar, menghindari gang-gang yang sempit.
Bangunan disini tinggi-tinggi, karena itu kalau melihat ke atas kamu hanya bisa melihat sedikit langit karena sebagian telah tertutupi oleh bangunan.

Setelah berkeliling lebih lama, akhirnya aku menemukannya. Selesai belanja aku bermaksud langsung pulang kembali ke istana, tapi aku malah sampai ke jalan yang asing.
“Aneh, apa aku tersesat?”
Di sekitar sepi, tidak ada siapa-siapa, jadi mau bertanya arah pun tidak bisa.
Ketika aku memutuskan untuk kembali melewati jalan yang tadi kutempuh.
Aku melihat seorang gadis. Gadis itu menatap ke langit. Dia memakai terusan berwarna putih.
Satu kata yang terlintas dalam otakku ketika melihat sosoknya adalah…
Cantik sekali.

Apa dia sedang berlatih menyanyi?
Hembusan angin bertiup, menerbangkan rambutnya yang berwarna coklat.
Aku tidak pernah mendengar lagu ini, tapi aku tidak peduli. Aku terus mendengarkannya.
Kelihatannya dia masih belum menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa bergerak, baik maju maupun mundur. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain terpaku pada kecantikan dan kelembutan suaranya.
Suaranya terasa bergema di sudut hatiku. Saat aku sedang terlena, tak sengaja aku menjatuhkan keranjang belanjaanku.
“Ah!” aku langsung tersadar dan segera berjongkok untuk memungutnya.
Saat aku sedang sibuk memunguti barang-barang belanjaanku, gadis itu mendekat dan memungut apel yang menggelinding.
“Ini,” dia memberikannya padaku disertai dengan seulas senyum.
Suaranya benar-benar jernih.
dan eye smilenya sangat manis…
Rasanya aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
“Kamsahamnida,” jawabku kikuk.
“Sama-sama^^”
Aku terpana melihat wajahnya yang cantik dari dekat.
“Apa ada sesuatu menempel di wajahku?”
“A-aniyo, wajahmu sangat bersih dan cantik!”
Ah, apa yang kukatakan? Pasti aku dianggap aneh sekarang.
“Hehe, kamsahamnida^^”
Ah, dia tersenyum lagi.
Hanya bisa bicara dengannya seperti ini membuat jantungku berdebar senang.
“Habis belanja?”
“Iya.”
“Sendirian saja?”
“Ka-kamu sendiri juga sendiri saja.”
“Haha, kita sama berarti.”
“Kamu tadi nyanyi?”
“Ne.”
“Apa judul lagu yang baru saja kamu nyanyikan?”
“By Myself.”
Walau dia mengatakannya sambil tersenyum tapi saat menyebutkan judul lagu itu entah kenapa hatiku teriris seolah ada kesedihan mendalam yang dia sembunyikan dibalik topeng senyum yang dia kenakan. Aku tidak ingin mengganggu waktu pribadinya.
“Mianhae, aku sudah mengganggu.”
“Kamu sama sekali tidak mengganggu.”
“A-ah, aku harus segera pulang,” pamitku.
Entah kenapa aku merasa seperti remaja malu-malu yang sedang berhadapan dengan orang yang disukainya. Walau seharusnya ini pertemuan pertamaku dengannya.
Setelah aku berjalan beberapa langkah aku mendengarnya berkata.
“Terima kasih sudah mendengarkan laguku.”
Ketika aku menoleh, dia memberiku lambaian disertai eye smile.
DEG
Cantik sekali yeoja itu.
Kira-kira siapa namanya ya?

………………………………
………………………………
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur memikirkan sosoknya.
Senyuman itu terus membuatku berdebar-debar. Dan nyanyiannya tetap berputar dalam otakku.
Masa sih…
Aku jatuh cinta?
Pada yeoja yang baru saja aku temui?
Dan meski baru mengucapkan beberapa baris kalimat padanya?

Kalau aku pergi ke tempat yang sama dengan kemarin, apa aku bisa menemuinya?
Sambil membawa harapan itu, esok harinya di waktu yang sama aku berlari kembali ke tempat kami bertemu kemarin.
Aku melihat gadis itu sekali lagi sedang duduk di sebuah kursi. Begitu melihatku dia langsung mengenalku dan melambai padaku.
“He-hei, latihan nyanyi lagi?”
Tenang Yoona, jangan gugup.
“Tidak, kali ini aku sedang menunggu seseorang.”
“Siapa? Temanmu?” Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya dan merilekskan tubuh.
“Bukan, kamu.”
“Eh?”
“Bercanda, hehe^^”
Aku sempat berharap barusan. Tapi yah, harapan itu terlalu tinggi mengingat kemarin baru saja kami bertemu.
“Siapa namamu?”
Tak kusangka gadis itu yang duluan bertanya.
“Yoona.”
“Aku Tiffany^^”
“Nama yang cantik.”
“Terima kasih. Ngomong-ngomong Yoona, hari ini kamu kelihatan agak beda.”
“Ah, apanya yang berbeda?”
“Kamu kelihatan lebih ceria, hehe.”
“Benarkah? Aku merasa biasa-biasa saja.”
Atau mungkin ini karena tadi aku hendak menemuinya. Ternyata memang cinta dapat merubah suasana hati seseorang.
“Tentang lagu yang kemarin…”
“Kenapa? Kamu tertarik? Sebenarnya itu lagu yang kukarang sendiri, hehe hebat kan?”
“Wah hebat. Tapi kalau begitu lagu itu menggambarkan apa yang kamu rasakan?”
“…………..menurutmu bagaimana?”
DEG
Lagi-lagi…
Tatapan menyembunyikan kesedihannya itu.
Uhh… rasanya aku jadi ingin sekali memeluknya!
Memeluknya dan membisikkan kalau aku akan berada di sisinya sehingga dia tidak sendirian lagi.
Tapi mana mungkin aku bisa melakukannya sungguhan…
Aku memang payah…
“Sebenarnya yang tadi kubilang sedang menunggu kamu itu bukan bercanda.”
“Eh?”
“Aku sedang butuh teman mengobrol. Habis bosan sih.”
Walau dia tersenyum mengatakan itu tapi entah saat itu aku benar-benar mengartikannya sebagai ‘karena aku sangat kesepian sekarang, aku tidak ingin sendirian’
“Yoona, terima kasih sudah mengajakku mengobrol.”
Saat itu aku ingin berkata kalimat yang bisa menghiburnya. Tapi kalau kukatakan nanti malah jadi aneh. Karena tampaknya Tiffany berusaha menyembunyikannya. Dan aku tidak punya cukup keberanian…
“Aku ingin dengar sekali lagi…”
“Apa?”
“Nyanyianmu…”
“Boleh, tapi tidak gratis ya?^^”
“Eh?”
“Bercanda, kalau untuk Yoona, akan kuperdengarkan kapan pun^^”
Jangan berkata kalimat yang bisa bikin orang salah paham…
Kemudian dia menelan ludah, menarik nafas, dan mulai menyanyi dengan mata terpejam.
Sudah kuduga…
Aku merasakan kesedihan yang sama dengan yang kurasakan kemarin.
Dibalik setiap liriknya.
Jika ini benar lagu yang ditulisnya sendiri, maka ini bukan sekedar penghayatan.
Saat itu karena desakan dari dalam dadaku, aku menggenggam tangannya.
Dia kelihatan sedikit terkejut, tapi dengan cepat tubuhnya kembali rileks dan tetap melanjutkan menyanyi.
___________________________________________________________________________

Keesokan harinya. Perasaanku kembali mendorongku untuk menemuinya.
Namun kali ini di tempat yang sama… dia tidak sendirian.
Di sampingnya ada seorang yeoja yang lebih pendek darinya.
Tatapan yeoja di sampingnya sangat lembut, seperti sedang menatap kekasihnya.
Aku tidak cukup buta untuk tidak menyadari tatapan dan perlakuannya pada gadis itu.
Mereka seperti tengah berada di dunia mereka sendiri. Mengobrol dan tertawa bersama. Bahkan gadis yang lebih pendek itu menyandarkan kepalanya di bahunya. Aku tidak mau mengganggu mereka. Maka aku diam-diam pergi tanpa menyapa ataupun menampakkan wajahku.
Saat itu aku merasa patah hati.

___________________________________________________________________________

Demi kamu, aku akan menjadi jahat

Beberapa hari kemudian. Aku sudah mulai pulih dari patah hatiku.
Saat aku berkunjung ke kamar Yuri unnie, aku menemukan pemandangan yang tidak biasa.
Yuri unnie sedang menangis.
“Yuri unnie, kenapa engkau menangis?”
“Oh Yoona…”
Di tangannya aku melihat foto seorang yeoja. Samar-samar aku merasa pernah melihat yeoja dalam foto itu. Kemudian aku ingat.
Dia adalah yeoja yang kulihat sedang bersama dengan yeoja yang kucintai beberapa hari yang lalu…
“Yuri unnie, siapa yeoja itu?”
Matanya memandang dengan penuh kasih saat jari-jarinya menelusuri permukaan bingkai foto itu.
“Namanya Kim Taeyeon… setelah kita berdua terpisah, aku selalu merasa sangat kesepian. Hampir tiap hari aku selalu menangis di dalam kamar. Hingga suatu hari aku bertemu dengan dirinya yang sedang mengagumi bunga mawar di halaman belakang.”
Aku tertegun mendengar ceritanya.
“Dia selalu menemaniku di saat sedih maupun senang… menghiburku dengan tingkahnya yang norak. Mungkin karena usianya tidak beda jauh dariku makanya aku mulai membuka pintu hatiku padanya.”
“Aku sangat senang dengan kehadirannya, sehingga hanya dalam waktu singkat, dia sudah menjadi pelayan favoritku… kupikir dia akan menjadi pelayanku yang setia selamanya, tapi…”
Ketika Yuri unnie berkata ‘tapi’ aku menduga ini pasti akan berakhir sedih.
“Suatu hari dia meninggalkanku demi seorang gadis…”
Suaranya gemetar. Yuri unnie terlihat sangat terluka. Dari nadanya bisa kurasakan kalau Yuri unnie sangat mencintai gadis bernama Taeyeon itu.
“Siapa gadis itu?” aku memberanikan diri bertanya. Bukan karena aku ingin mengorek lukanya lebih dalam, tapi karena aku ingin tahu.
“Namanya Tiffany…”
Dia menunjukkan sebuah surat.
“Di dalam kamarnya aku menemukan selembar surat yang mengatakan kalau dia pamit untuk mengejar seorang gadis yang menarik hatinya… Tiffany.”
Mendadak wajahnya berubah penuh kebencian, sampai aku bisa melihat uratnya, “Aku benci… aku benci gadis bernama Tiffany itu… aku berharap gadis itu lenyap saja dari dunia ini!”
DEG
Yeoja ini tidak salah lagi memang yeoja yang kulihat bersama dengan Tiffany.
Dan ketika mengingat kedekatan mereka, aku langsung segera tahu kalau Tiffany adalah yeoja yang dimaksud.
“Yoona, bunuh…”
“Eh…?”
Sesaat jantungku sempat berhenti berdetak, kemudian kembali berdebar dengan sangat cepat.
DEG DEG DEG
“Kuperintahkan padamu, cari tahu dan bunuh gadis bernama Tiffany itu.”
Wajah Yuri unnie terlihat sangat dengki.
“Yu-yuri unnie seri-us?”
“Bunuh.”
Seolah dari bibirnya tidak ada kata lain yang bisa diucapkan. Dan dari sorotan matanya aku tahu Yuri unnie tidak akan menarik kata-katanya.
“……………baiklah…”

Aku mencintainya…
Namun jika Yuri unnie menginginkannya…
Aku akan menjawab keinginannya.

__________________________________________________________________________

Aku sendiri tidak mengerti. Kenapa aku bisa mengambil pisau dengan mudahnya. Dan berjalan ke tempat aku bertemu dengannya.
Mengingat kedekatannya dengan yeoja itu membuat hatiku terasa panas, sekaligus sakit hati.
Barangkali karena aku sakit hati padanya. Karena itu…

“Yoona^^”
Dia memanggil namaku dengan penuh kelembutan.
Membuat hatiku makin tak karuan rasanya.
Aku menunduk sedih.
Tidak tahukah dia apa yang sebentar lagi akan kulakukan padanya?
“Emm, bisakah ikut aku sebentar? Ada sesuatu yang penting,” kataku tanpa berani menatap matanya.
“Tentu^^”
Tiffany mengikutiku berjalan, aku terus berjalan sampai ke tempat yang sepi.
Pisau lipat masih tersimpan di dalam sakuku.
Aku berhenti berjalan di saat aku sudah tidak merasakan kehadiran siapa-siapa lagi selain kami berdua.
“Yoona saranghaeyo.”
“!”
“Aku… aku memang masih mencintai seseorang, tapi… akhir-akhir ini justru aku malah memikirkanmu…”
Kenapa justru disaat seperti ini dia malah mengatakannya…
Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku segera menjauhkan tanganku darinya.
“Yoona… kau tidak mencintaiku?”
“………………”
“Ohh… sepertinya aku memang salah paham. Karena kamu datang menemuiku lagi, kukira kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku…”
“………………”
Mendadak aku merasa muak dengan ucapannya.
Bicara apa kamu? Beraninya kamu berkata cinta padaku! Sementara jelas-jelas kamu mencintai yeoja bernama Taeyeon itu! Jangan mempermainkan perasaanku!
“Maaf kalau aku membuat situasi jadi tidak enak.”
“Aku akan membunuhmu.”
“Eh?”
Aku melihat ekspresi kagetnya.
Untuk membuktikan aku tidak main-main, aku mengeluarkan pisau lipatku. Pisaunya bersinar terkena kilatan cahaya matahari, memberinya kesan berbahaya.
“Aku serius.”
Aku sengaja berkata begitu supaya gadis itu lari. Supaya aku tidak punya kesempatan untuk membunuhnya. Tapi-
“…….baiklah kalau begitu. Bunuh saja aku.”
Seluruh tubuhku membeku, sama sekali tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu darinya.
Mulutku terbuka, sama sekali tidak ada kalimat yang terucap.
“Tapi sebelum itu, bisakah kamu memberiku sedikit waktu?”
“Aku ingin menulis surat… ada sesuatu yang harus kusampaikan pada kekasihku… lalu setelah itu kau bebas boleh membunuhku…”
“………………”
“Tolonglah… aku tidak ingin ada penyesalan…”
“….baiklah, akan kutunggu.”
“Kamsahamnida,” dia sedikit membungkukkan tubuhnya.

Aku mengawasinya saat dia mencurahkan segala perasaannya menulis surat itu.
Apa yang ditulisnya?
Sorot matanya sangat lembut…
Oh tidak, perasaanku jadi bimbang lagi.
Sampai kapan… aku harus mengalami konflik batin ini…
Yuri unnie…!

“Aku sudah selesai.”
“……………….”
“Tidak perlu khawatir Yoona, aku sama sekali tidak menulis namamu.”
Tidak, kumohon jangan tersenyum seperti itu lagi setelah tahu apa yang akan kulakukan padamu!
Harusnya kamu takut! Dan lari!
“Kau boleh melakukannya sekarang.”
Kenapa kamu malah tidak lari?!
Aku berjalan mendekat. Kini aku berada tepat di hadapannya, dengan pisau di samping tubuhku.
Ketika aku memandang ke dalam bola matanya, aku menemukan cinta yang tulus di dalamnya.
“Bisakah kamu melakukannya… sambil memelukku?”
Aku melakukan sesuai permintaannya. Ini pertama kalinya aku merasakan kehangatan tubuhnya tersalurkan ke tubuhku.
Darahku berdesir deras saat kutekankan belati itu ke perutnya.
“Ahh!” tangannya meremas punggung bajuku.
Tidak akan pernah kulupakan momen saat aku menusuk perutnya dengan pisau. Dan suara pekikan kecilnya di telingaku.
Tanganku yang memegang pisau gemetar sementara dia masih memelukku erat-erat.
Air mataku tidak mau berhenti mengalir saat aku mencabutnya dari tubuhnya.
Kemudian kurasakan kekuatannya semakin berkurang, sehingga aku harus berlutut sambil menopang tubuhnya sekarang.
“…..yoo….na… kenapa kamu menangis?”
“Aku sama sekali… tidak kebera…tan… dibunuh oleh- Uhuk! Uhuk!”
Dia batuk darah.
Aku hanya bisa melihat dengan pasrah saat hawa hidupnya semakin meninggalkan tubuhnya.
“Kamu tidak perlu menyesal… sebenarnya…umurku juga tidak lama lagi… karena itu aku senang… setidaknya… aku bisa mati dalam pelukanmu…”
“Uh……huuu………”
“Sekali saja… aku ingin mendengarmu… memanggil namaku…”
“……………….” dadaku serasa diremas-remas.
“Ah… kalau tidak mau…”
Tatapan matanya menghancurkan hatiku.
Bila ini yang bisa kulakukan untuk mengabulkan keinginan terakhirnya…
“Tiffany… unnie…”
“Kamsa…hamnida…” dia tersenyum untuk yang terakhir kalinya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Yeoja ini telah mati… oleh tanganku sendiri.
Sekarang tanganku bernoda darahnya…
Aku menggigit bibir, merasakan rasa sakit yang amat perih di dadaku.
Hujan gerimis turun.
Disana hanya tinggal aku sendiri.
Sekeliling terasa sunyi, yang terdengar hanya suara hujan rintik-rintik dan suara nafasku.
Selamat tinggal… cintaku…
Dengan membawa hati yang telah hancur berkeping-keping, aku kembali ke istana.

………………………………
………………………………
Hujan masih terus turun dengan gerimis. Membuat tubuh yang sudah terkapar kehilangan nyawanya itu semakin dingin.
“Fany, maaf aku lama-”
Bruk
Tas yang dipegangnya terjatuh. Taeyeon terkesiap melihat gadis itu sudah terkulai lemas tak bernyawa.
“Fa-Fany…?”
Jantungnya sempat berhenti ketika melihat darah mengalir di perutnya. Dari ujung bibirnya juga mengeluarkan darah.
Taeyeon tidak mau mempercayai penglihatannya sampai dia mendekati gadis itu.
“Wae…? Siapa yang melakukan ini sama kamu Fany…?”
“Hei…” Taeyeon mengguncang tubuh Tiffany dalam pelukannya.
“Fany, kumohon jawab aku…”
Rintik-rintik hujan membasahi wajahnya, tapi mata itu tidak akan terbuka lagi. Dan selamanya bibirnya akan terus membisu. Mata Taeyeon terasa perih.
Taeyeon melihat sebuah kertas di dalam pegangan tangan Tiffany yang melonggar. Taeyeon mengambil dan membukanya, lalu mulai membaca.

Untuk Taeyeon yang sangat kusayangi

Taetae… maafkan aku…
Padahal seharusnya masa depan kita sudah ditentukan
Seharusnya setelah ini kita akan hidup bahagia bersama
Menempuh hidup baru dimana hanya ada kau dan aku
Tapi maaf… sepertinya aku tidak bisa menerima lamaranmu
Sebenarnya… dokter mendiagnosis umurku tidak akan lama lagi
Bahkan dokter sendiri juga tidak tahu apa nama penyakitku ini
Jadi… dengan teknologi yang sekarang ini, tidak ada metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk menyembuhkanku
Tapi bukan itu yang paling menyakiti hatiku
Karena biarpun aku telah berjanji cintaku hanya akan selalu kuberikan padamu
Hatiku telah mengkhianatimu
Seseorang… mulai perlahan-lahan masuk ke dalam relung hatiku
Aku ingin sekali bisa membalas perasaanmu, namun aku tak kuasa untuk menyingkirkan sosoknya dari hatiku
Aku tidak bisa membawa diri untuk mengatakannya di depanmu, karena aku tidak mau melihat wajahmu terluka
Karena itu aku hanya bisa menyampaikannya melalui surat ini
Taetae…
Aku benar-benar merasa sangat bersyukur telah mengenalmu
Aku tidak akan pernah melupakan kehangatan tubuhmu saat kamu mendekapku
Aku juga tidak akan melupakan lagu cinta yang kamu senandungkan menemani tidurku
Walau hanya sebentar, tapi kau telah menuangkan kebahagiaan ke dalam hidupku yang kelam semenjak mengetahui penyakitku ini.
Sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini
Karena itu aku harap kamu mau memaafkan diriku yang telah melukaimu ini
Carilah gadis lain yang lebih baik dari aku…
Berbahagialah Taetae…
Aku akan selalu mendoakanmu dari atas sana.

Dari Tiffany.

Ujung jarinya menggenggam kertas itu kuat-kuat
Taeyeon menggeleng-geleng. Dia sangat terguncang.
Hatinya yang sudah terasa sakit seperti ditusuk berkali-kali lagi dengan rasa sakit yang lebih menyakitkan.
“A… apa yang kamu katakan Fany…”
“Aku hanya butuh kamu Fany… aku tak mungkin bisa mencari gadis lain selain dirimu, sekalipun gadis itu lebih baik darimu.”
Kertas yang dipegang Taeyeon sudah semakin basah meresap air hujan.
“Karena hanya kamu yang kuinginkan…”
Sesuatu yang hangat mulai mengalir di pipinya dan membentuk tetesan-tetesan, mulai melebur bersama dengan gerimis hujan.
“Jadi… inikah kenapa… terkadang aku melihat wajahmu yang lagi sedih?”
Taeyeon memeluk kembali tubuh gadis yang sangat dicintainya. Tubuh Tiffany terasa dingin. Tidak ada lagi kehangatan yang tersisa. Dingin oleh gerimis hujan.
“Kenapa kita harus berakhir seperti ini Fany…”
Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak terisak.
“Padahal demi kamu… aku rela kehilangan segala-galanya… sampai meninggalkan seorang Putri yang sudah bertahun-tahun kulayani…”
“Aku meninggalkan hidupku yang damai di istana semuanya karena aku mencintaimu…”
“Aku telah menyakitinya… demi meraih kebahagiaan bersamamu…”

Tuhan…
Kenapa Engkau memisahkan kita? Apa yang telah kami lakukan padaMu?
Apakah hidup jujur pada hatimu sendiri adalah dosa?

“Aku mencintaimu Fany… meski hatimu sudah bukan milikku seutuhnya lagi…”
Pelan-pelan didekatkannya wajahnya ke Tiffany. Taeyeon mencium bibirnyadengan lembut. Rasa darah.
“Meski kamu sudah tiada… selamanya aku akan tetap mencintaimu…”
Taeyeon menciumnya sekali lagi, kali ini lebih dalam. Rasa darah itu seakan memenuhi mulutnya, tapi Taeyeon tidak peduli.
Dia ingin mengukir kehangatan bibir Tiffany ke dalam sanubarinya untuk yang terakhir kalinya.

Kalau begitu kenapa Engkau menciptakan emosi seperti ini?
Engkau bisa menyebut perasaanku ini tabu sesukaMu.
Tapi aku tidak akan mematuhiMu, tidak akan kumaafkan.
Aku akan membalas dendam pada siapapun yang melakukan ini pada Tiffany.
Aku bersumpah!

Taeyeon melihat sebuah pisau tergeletak tidak jauh dari Tiffany
Terukir ‘SONE’
“Ini… simbol kerajaan…?”
Taeyeon mengatupkan rahangnya. Tangannya meremas kertas basah yang digenggamnya.
“Tidak akan kumaafkan… siapapun yang melakukan ini pada Tiffany harus mati!!”
Taeyeon marah sekali. Dia tidak peduli negara atau seluruh negara sekalipun, meskipun dirinya hanya seorang rakyat jelata, siapapun yang membunuh gadis yang dicintainya harus membayarnya dengan nyawanya!

___________________________________________________________________________

“Camilan sore hari ini takoyaki…”
“Wah, kesukaanku!” Yuri memakannya dengan nada riang. Bahkan sempat melupakan tata krama makan seorang putri kerajaan.“Kalau macaroon terus bosan kan.”
“Ne.”
“Dan takoyaki yang paling favorit di antara semuanya!”
“………………”
“Kenapa Yoona?”
“Yuri unnie… Tiffany… gadis itu… aku sudah menghabisinya.”
Ada jeda sejenak setelah aku berkata begitu.
“Begitu ya? Baguslah.”
DEG
Yuri unnie…
Dia tetap tersenyum bahagia seolah tanpa dosa.
Meski setelah mendengar berita tentang kematian gadis itu.

___________________________________________________________________________

Malam harinya.

Entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya, sangat sangat ingin…
Aku sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Ketika hendak mengetuk kamarnya, seorang pelayan yang lewat di dekatku berkata.
“Putri sudah beristirahat.”
Aku mau melihat senyumnya.
“Saya hanya akan melihat wajahnya.”
“Hentikan, kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya akan mengganggu istirahatnya. Pertimbangkan posisimu.”
“…………aku mengerti… selamat malam.”
Aku menyerah dan berjalan melewati koridor yang panjang menuju ruanganku. Aku berjalan sendirian.
Aku merasa karpet merah yang terbentang di bawahku ini seperti… aliran darah…
Warnanya merah tua… seperti warna yang tadi siang menodai tanganku…
Merah… warna yang ditemani dengan rasa sakit di dadaku…

Aku masuk ke kamar, bersandar di depan pintu.
“………………”
Berada sendirian di dalam kamar membuatku sesak. Wajahnya ketika menghadapi ajalnya terus terbayang-bayang dalam benakku. Akhirnya aku memutuskan pergi ke halaman untuk menghirup udara segar.

**

Yuri POV

Aku memandang dari balik jendela. Langit malam yang tenang. Bulan berwarna kekuningan menerangi halaman.
Aku mendekatkan wajahku ke jendela, sampai ujung hidungku menyentuh kaca.
Tuk
Terdengar suara benda kecil terbentur.
Kalung batu yang Yoona berikan padaku dulu. Kalung itu rasanya sudah tidak asing lagi di leherku sampai terkadang aku tidak sadar sedang mengenakannya.
Kalung batu itu menjadi lembab karena menyentuh kaca jendela yang dingin.
Jariku menghapus embunnya. Membentuk tetesan kecil air, dan jatuh ke lantai.
….ahh, seperti tangisan.
Kemudian aku melihat sosoknya diluar jendela, sedang memandang bulan.
Mungkinkah Yoona sedang menangis sekarang…?
Pemikiran itu menggerakkan kakiku.
Semuanya sudah tidur, dan aku bergegas menelusuri koridor yang sunyi dengan langkah cepat.

**

Yoona POV

Aku menengadah menatap bulan purnama dengan tatapan seperti sedang memohon. Seperti sedang berdoa.
Hampa.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang bersandar di punggungku.
“Sedang apa Yoona?”
Ini mimpi? Bukan ilusi yang kuciptakan sendiri kan?
Suara yang hangat…
Milik seseorang yang tadinya sangat ingin kutemui.
“………………”
Aku ingin segera berbalik dan memeluknya tapi.
“Pertimbangkan posisimu.”
Teringat dengan kata-kata itu membuatku jadi tidak bisa melakukannya.
“Kau kenapa sedih, Yoona?” nadanya terdengar cemas.
Aku menggeleng pelan, “Aku tidak sedih.”
Benar, semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya. Percuma menyesal, lebih baik kulupakan saja. Aku tidak boleh membuatnya khawatir.
“Bohong, Yoona, sini tatap mataku.”
Akhirnya aku membalik badanku. Melihat bola mata coklatnya yang menatapku dalam-dalam, aku tidak berani membalas tatapannya.
Ya, aku memang berbohong. Dan dia dapat melihatnya dengan sangat jelas.
“Yoona, kita berdansa yuk?”
“Eh? Tapi aku tidak bisa berdansa…”
“Kemarikan tanganmu.”
Yuri unnie memegang tanganku, dan sebelah tanganku diletakkan di pinggangnya.
Yuri unnie mulai memandu langkahku.
“Kanan, kanan, benar terus seperti itu.”
“………………”
Aku berusaha mengikuti gerakannya dengan kikuk. Sudah bertahun-tahun aku tidak latihan berdansa.
“Ah mianhae! Aku menginjak kakimu.”
“Tidak apa-apa.”
“Ah, tapi aku melakukannya lagi…”
“Tidak apa-apa, tidak sakit kok.”
“………………”
“Tidak usah pedulikan itu, lihat wajahku, Yoona.”
Aku mengangkat wajahku dan bertemu pandang dengannya.
Pelan-pelan, kami berdansa bersama, hanya kita berdua…
Sinar rembulan membelai wajah kita dengan sinar peraknya.
Yuri unnie membelai pipiku.
“…………….”
“Yuri unnie…”
Jarinya terangkat dan menyentuh helai rambutku.
“Rambutmu basah.”
“Barusan hujan gerimis lagi…”
Seperti tadi siang…
“Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam, kamu kedinginan kan Yoona?”
“Ya…”

Yuri POV

Tubuhnya terasa dingin saat aku menyentuhnya.
Aku tidak tahu kenapa, tapi dia seperti terguncang.
Aku mengantarnya sampai masuk ke kamarnya, aku tidak peduli meski nanti ada yang melihat kami.
Begitu sampai di kamar, kududukkan dia di atas kasur, lalu mengambil handuk.
Kututupi kepalanya dengan handuk lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan hati-hati.
“Yoona… kalau ada apa-apa ceritakanlah padaku.”
“……………..”
Wajahnya tersembunyi dibalik handuk, aku hanya bisa melihat bibirnya.
“Tapi kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Aku akan melindungimu,” kataku sambil terus mengeringkan rambutnya.
“………..Tiffany… aku tidak bisa melupakannya. Apa yang kulakukan… sosoknya terus menghantuiku…”
Suaranya terdengar serak saat dia mengatakan itu.
“………begitu…”
Ini salahku. Karena aku yang memerintahkannya. Namun penyesalan yang dirasakannya sama sekali tidak ikut kurasakan.
Ketika aku menyingkirkan handuk yang menutupi sebagian wajahnya, aku melihat air mata sudah membasahi kedua pipinya.
Kubelai pipinya dengan lembut, tapi itu malah membuat air matanya bertambah deras.
“Yuri unnie!” dia memeluk tubuhku erat-erat. Aku membalas pelukannya.
“Yuri unnie…! Yuri unnie…!” dia menangis terisak-isak.
“Ya… ya…” jawabku seolah meyakinkannya kalau aku tidak akan pergi kemana-mana.
Malam itu kami berdua tidur sambil berpelukan. Yoona terus menangis di dadaku sampai akhirnya ketiduran.

__________________________________________________________________________

Yoona POV

Hari setelah malam itu. Hari ini tidak biasanya cuaca terik, dan langit biru yang jernih menyilaukan mata. Seolah merupakan contoh gambaran cuaca yang cerah.
Angin sejuk bertiup masuk melalui jendela yang terbuka. Suhu yang kurasakan cukup membuatku lupa bahwa sebentar lagi akan musim panas.
Di balik tirai jendela, langit terbentang luas tak terbatas dan matahari menegaskan keberadaannya. Awan yang tertiup angin dan membentuk bayang-bayang di bawahnya.
Di bawah sana, jalan kota yang sama sekali tak berubah. Orang-orang berlalu lalang.
Aku menutup mataku. Kemudian aku merasa mendengar suara yang seharusnya tidak bisa didengar.
“Yoona”
Mianhae Tiffany…
Aku akan terus hidup. Tapi aku akan selalu mengenangmu…

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Aku no Futago (Chapter 2)" (35)

  1. Krystalized said:

    aaaaa ppany-nya kesian banget, pasrah banget gitu aaaa love you bebe miyoung

  2. ienyoonaddict89 said:

    annyeong..

    yoong jadi ngerasa beralah bgt sama fanny..
    fanny baik sekali..bahkan di bunuh pun dia mau..
    gk ada perlawanan lagi..

  3. yoong kenapa tega banget sich ngebunuh fany kan kasian dia gak salah apa-apa
    Taeng juga bakalan balas dendam nich ma kerajaan

  4. Kenapa fany harus berakhir seperti itu? Kasian taeng. Yul jahat bener ya..

  5. Bacanya nanti aja. Tinggalin jejak dulu. XD
    Itu gak ada angin, gak ada hujan, tiba2 Yoong pulang. :p
    Aku kira bakalan lama ktmunya.

    • Ahhh bodoh skali membunuh orang yang dicintai hanya gara2 titah dari orang yang disayang.
      Yang dibunuh juga pasrah aja lagi.
      Nah ini tar Taeng balas dendam ama siapa nih? Kan dia ptunjuknya cuma orang krajaan aja, tapi gak tahu siapa. Paling2 tar dia mau bunuh Yoong trus dilindungin ama Yul. Jadinya Taeng gak sngaja bunuh Yul n Taeng bakalan mnysal sudah mlakukan itu. Trus bunuh diri. Yoong yang sudah khilangan Fany, khilangan Yul yang disayangi pula. Pasti ikutan bunuh diri.
      Jadilah cinta segi empat yang brakhir tragis. Kan hobby kamu tuh bikin ending yang sedih2. Kurasa FF ini salah-satunya.
      Makanya judulnya ‘Twins Of Evil’. Tapi aneh juga. Klo mrka mang kembar dalam critanya, masa orang krajaan gak ada ayng sadar, scara mukanya kan sharusnya mirip.
      Satu lagi nih. Yang pas Taeng ngomong sndiri ama TUHAN, pas ngomong ‘Engkau’ sudah bnar. Tapi pas ngomong ‘mu’ nya gak pakai huruf bsar tuh. :p
      Skian dulu deh. Ditunggu FF yadongnya lagi. XD

      • yah hampir mirip kurang lebih
        memang bakal sad end
        YoonYul skrng sdh gak semirip dulu, yah spt kondisi di kenyataan lah
        ya soalnya Taeng marah sih, jd gak pakai huruf besar #plak

  6. prillyties said:

    wuah aku blm bca chap satu , ceritanya keren tapi kenapa yultae berpisah aku g setuju 😦

  7. hjohnbossanova said:

    hehe akhirnya update juga… yah porsinya yoonfany dikit ya T.T ..

    sukses deh buat authornya

  8. aduh fany kasian amat T.T yoonyul tega ngebunuh my fany hiks hiks.. kan kasian taetae~

  9. claireen liem said:

    eoni, aku belum baca
    .
    kalo misal kokoQ kembali k jkt, trus hp ini dibawa gmn.?

  10. Eh , Ppany nya masa mati T.T
    taeng mau bales dendam kesiapa tuh ,

  11. Kapten Kaoru said:

    huaaaa panjangnyaaaa~ tapi kasian ya tiffany, mati di tangan yoona. hem…. taeyeon apa kabar mau balas dendam kan dia? duh duh dua bakal nusuk siapa ni

  12. wow.. kerennn

    aku harap pairingnya YoonYul. hidup yoonyullll yoonyul jjang!!! #jiwa trooper kumat hehe

  13. Pas chapter 1, smpt binggung dimanany yg mirip dgn story of evil, tpi pas chapter 2, bru ad yg mirip, walau gak terlalu banyak…
    Dan pas adegan tiffany mati kurang sedih…
    Tpi storylineny, ttp kyak biasa walau lama hiatus

  14. Kenapa tiffany jd meninggal sih 😥 kan kasiha yoona sm taeng 😥

  15. Fany pasrah ajj di bunuh.. huhu hiks.. Hiks.. Yoong jg tega.

  16. aigo poor my ppany. sy akan selalu mengenang ppany ya…
    yurill (yul kill) jahaaaaaat dan gak mikirkan…
    yoong kenapa km nurutin perintah yurill.

  17. yaampuun yoong segitunya rela ngebunuh orang yang dia cintai demi kknya.
    hati nyess nyessan waktu tiffany pasrah gitu aja mau dibunuh sm yoong,
    orang yg justru dia cintai.
    hiks hiks… tragisnya.. TT_TT.
    kira-kira nanti yoontaeyul sama bercouple(?)nya sama siapa.

  18. Masih burem nih cerita’a,,,
    yul ntar cama siapa ya ?
    Yoong or Taeng or gk dua2’a -,-
    *hedehh

  19. Huaaa 😥
    Kenapa Yuri eonnie gitu jahat
    Tegaa 😦
    So sad ceritanya eonnie, sampai nangiss bacanyaa ..
    Ditunggu chapt selanjutnyaa iya eonnie (ง`▽´)ง

  20. Huaaa 😥
    Yuri eonnie jahatt 😦
    Yuri eonnie egoiss 😦
    So sad ceritanyaa
    Sampai nangis dehh baca nya
    Ditunggu chapt selanjutnya eonniee 😀

  21. Fanny 😥
    Sadd banget ini FF nya
    Ditunggu iya chapt selanjutnya 😀

  22. blue ocean said:

    author d sini bahasanya sastra sekali beda lhoo dgn karya laen.

  23. blue ocean said:

    author kangen banget lho sm adegan nc nya.. di sini tar ada nc nya ga thor?

  24. kasian fany, dibunuh sama cintanya sendiri
    yuri kenapa jadi kejam begitu ya, pa karna masa kecilnya yang pahit

  25. duh tulung kesian fanynya ih penasaran

  26. Yoongkumaseororo said:

    Eh? Fany baru nongol 1 chap udah mati (o_o;)..
    . Huwaaa… YoonFany… Pdhal lg suka2nya ma couple ini… Tu Yoong kyk dihipnotis deh mau aja disuruh bunuh org walaupun yg suruh kakaknya tp tetepnya membunuh berhubungan dgn nyawa org gak boleh smudah itu, Yul jg udah dibutakan oleh cinta shg tega kyk gitu ma Fany… Fany jg pasrah aja2 dibunuh -___-… Taeng jd nyeremin deh marah ama Tuhan pa lg jd pendendam gitu… Di awal2 enak bngt bacanya YoonYul udah ketemu trus pertemuan YoonFany yg sweet lalu tiba2 smua gubrak (?) waktu Yoong bunuh Fany… Tp suka sih ama critanya…

  27. maaf thor baru sempet baca, yoona teganya dirimu bunuh orang T.T

  28. Ternyata kak Maifate tega juga ngebunuh Tiffany unnie
    Huaaaaaaaa
    Taeyeon unnie marah besar tuh. Ho ho ho ho. Next chapter akhir. Go !

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: