~Thank you for your comments~

A/N : Lagu yang cocok untuk menemani ff ini adalah Happy Me yang dinyanyiin SooSun^^ boleh didengar sambil baca chapter ini untuk lebih menghayati. Enjoy

“Kanker… otak?”
“Benar, bisa dioperasi tapi kemungkinan keberhasilan operasinya sangat kecil,” jelas dokter itu sambil menunjukkan sedikit sorot mata simpatik.
“Kalau gagal berarti…”
“Ya, berarti kematian.”
Sooyoung mengepalkan tangannya di atas kedua pahanya. Tapi gadis yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak gentar walau mendengar kata maut mengintai dibalik operasinya.

“Dokter, aku ingin mencobanya,” ucap gadis itu.
“!”
“Ada kemungkinan untuk sembuh walaupun kecil, bukannya lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali?”
“Sunny…”
“Baiklah, kalau begitu akan saya persiapkan segala prosedur operasinya.”
“Kapan hari operasinya?”
“Satu minggu lagi.”

Kemudian tinggalah Sunny dan Sooyoung berdua. Mereka saling bergenggaman tangan.
“Sepeninggalku, hiduplah dengan sekuat tenaga Sooyoung…”
“Tidak! Jangan bilang seolah kau akan mati Sunny! Kalau kau meninggalkanku siapa lagi yang kumiliki di dunia ini?!”
“Berlebihan ah,” Sunny tersenyum tapi tersentuh oleh perkataan Sooyoung. “Kamu kan masih punya sahabat seperti Taeyeon dan Tiffany, walau kalian belum lama berteman tapi aku yakin kalian akan segera menjadi akrab seperti sebuah keluarga. Lalu juga masih ada Yoonwo…”
“Aku tidak mencintai Yoonwo. Yang kucintai cuma kamu seorang Sunny, percayalah…” Sooyoung mengangkat tangan Sunny dan mengecupnya lama dan dalam.
“Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.”
“Tapi bukan berarti operasinya akan gagal!”
“………………..”
“Jadi ini maksudmu waktu itu…?”
“Apa?”
“Setahun yang lalu kamu kan pernah bilang begini ‘jangan sia-siakan waktumu bersama denganku, Sooyoung. Karena… yang namanya momen itu tiada yang abadi’ ” Sooyoung tersenyum melankolis. “Sekarang aku baru mengerti arti kata-katamu waktu itu.“
“Begitu ya? Aku pernah bilang seperti itu?”
“Ya, kamu lupa?”
“Oh berarti mungkin karena penyakitku ini.”
“Aku tak akan pernah bisa lupa. Waktu itu di taman hiburan kamu bilang begitu di atas bianglala karena aku kelihatannya sedang bad mood. Setelah aku mulai mencintaimu aku berjanji dalam batin bahwa tidak akan pernah kusia-siakan waktuku bersamamu lagi.”
“Mianhae Sooyoung, aku banyak melupakan kenangan kita bersama…”
“Tak apa-apa, yang penting kamu selalu berada di sisiku. Jangan menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu.”
“Bisa kamu ceritakan lagi apa yang sudah kita pernah lalui bersama? Aku ingin mengingatnya kembali.”
“Tapi apakah nanti tidak terlalu berat untuk otakmu?”
“Tidak apa-apa, setelah kamu cerita aku akan tidur yang lama, hehe^^”
“Kalau begitu mau kuceritakan darimana?”
“Apa yang terjadi saat kita naik bianglala itu?” tanya Sunny sambil tersenyum.
“Dari membaca ekspresimu, sepertinya kamu tidak lupa. Masih kamu tanyakan lagi.”
“Hehe iya, memang aku tidak lupa^^ waktu itu pertama kalinya kita berciuman.”
“Ya, dan french kiss pula…”
“Hmm, sampai sekarang aku masih ingat rasa saliva Sooyoung waktu itu.” Sunny tersenyum menggoda sambil mencuri pandang ke arah wajah Sooyoung yang memerah.
“Ceritakan lagi Sooyoung, misalnya apa yang kita lakukan waktu kecil.”
“Waktu kecil kita pernah main dokter-dokteran, rumah-rumahan, bayi-bayian.”
“Hmm.”
“Kita juga tidak sengaja menonton VCD dewasa milik Pamanmu…”
“Ahaha, yang itu ya? Aku ingat^^ dan setelah itu kita mencobanya kan?”
Wajah Sooyoung memerah. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke lantai. “Sudahlah, jangan dikatakan lagi, aku jadi malu…”
“Ahaha, kenapa jadi kamu? Mestinya kan aku yang malu. Ah, jadi nostalgia… waktu itu kita berdua masih sangat polos ya^^”
“E-ehem. Kita juga selalu berangkat ke sekolah dan pulang bersama, kalau yang ini sih kurasa kamu pasti ingat. Lalu kita juga pernah pergi membeli pakaian dalam bersama. Kamu memilih bra half piece. Tapi waktu di fitting room kamu malah menggodaku.”
“Ah aku ingat yang di fitting room itu. Habis kamu pakai malu-malu segala sih^^ kita kan sesama yeoja juga.”
“Lalu.” Sooyoung membalikkan tangan Sunny dan mengelus permukaan tangan bagian bawahnya. “Kalau ini pasti kamu tidak akan lupa…”
“Ne, ini namamu yang kuukir sendiri…”
Di tangan Sunny samar-samar terlihat hangul nama Sooyoung yang agak pudar tapi kalau diperhatikan dari jarak dekat masih kelihatan.
“Gara-gara kamu cemburu buta…”
“Ahaha, sekarang sih aku sendiri tidak percaya. Padahal belum ada setahun, waktu itu aku benar-benar melakukan hal yang ekstrim ya.”
“Ya… bahkan sebelumnya kamu sampai nekat membunuh dirimu sendiri dengan menggores pergelangan tanganmu…”
“Kemudian saat kubawa kamu ke psikiater, kamu malah akhirnya membiusku dan membawaku ke love hotel dan…”
Sooyoung berkedip.

Lho? Lho? Apa yang kukatakan ini?
Bukannya semua itu terasa familiar?
Tapi bagaimana bisa? Bukannya itu semua hanya cerita yang kutulis sendiri di Loveless?

“Haha ya, aku ingat. Dan sekarang aku terkena kanker, mungkin aku benar-benar mendapat karma ya. Aku benar-benar sangat egois dan menyebalkan waktu itu…”
“Benar, dalam batin aku sampai memberimu julukan Suyebal (Sunny menyebalkan), Sugoda (Sunny penggoda), Sumaksa (Sunny pemaksa), Sugila (Sunny gila), Sudevil (Sunny devil), Sudong (Sunny yadong), Surkosa (Sunny pemerkosa).”
“Kyaahh! Mau sampai berapa banyak, huh?” Sunny memukul lengan Sooyoung dengan gemas dengan tangannya yang satunya.
“Ahaha.”
Sooyoung mengecup bekas luka di tangan Sunny.
“Tapi sekarang aku mencintai dirimu yang seperti itu. Semua yang ada pada diri Sunny aku suka…”
“Sooyoung…”
Sunny merangkul Sooyoung erat-erat dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Aku punya satu permintaan. Teruslah temani aku selama aku bangun sampai hari operasi…”
“Ya,” jawab Sooyoung sambil balas memeluk Sunny.

Setelah mendengarkan cerita Sooyoung, akhirnya Sunny tertidur lelap.
Sooyoung tersenyum lembut menatap pujaan hatinya yang sedang tertidur.
“Malaikatku… tahukah kamu? Eye smilemu sangat manis, tak kalah dengan Tiffany. Aku masih berharap sampai seterusnya akan bisa melihat eye smilemu.”
Sooyoung membelai rambut Sunny yang masih belum dipotong habis.
“Kamu harus sembuh Sunny. Dan setelah kamu sembuh, aku ingin melihat sosokmu yang cantik dalam rambut panjang… Kemudian kita akan pergi kencan kemanapun kamu mau. Ke taman hiburan, ke mall, dan lain-lainnya.”

………………………………
……………………..

“Genie, kumohon pada Engkau… aku tidak meminta Engkau untuk menyembuhkan kanker otaknya, tapi kumohon buat agar operasi Sunny besok berhasil.”
“Anakku yang beriman kuat, untuk bisa mengabulkan permintaanmu, harus ada bayaran yang setimpal. Sedangkan kamu saat ini yang sama sekali tidak melakukan operasi tidak mungkin akan bisa membayarnya bukan?”
“Ukh…!” Sooyoung meremas ujung roknya. Lalu kemudian dia bersujud dan menempelkan kepalanya di lantai altar suci yang beralaskan batu.
“Kumohon! Aku akan membayarnya dengan apapun itu! Mau Engkau ambil segala yang kumiliki juga aku tidak keberatan, tapi tolonglah!”
“Anakku, kamu benar-benar sangat mencintai gadis bernama Sunny ya?”
“Iya, Genie… makanya kumohon…”
“Baiklah.”
“!”
“Tapi sebagai gantinya, aku akan mengambil sesuatu yang paling berharga bagimu. Hal yang kamu anggap paling berharga saat ini adalah rasa cinta gadis itu untukmu dan seluruh kenangan yang kamu miliki bersamanya. Aku akan mengambilnya sebagai ganti keberhasilan operasinya.”
“Begitu pun juga tidak apa-apa…”
“Kamu yakin? Jika perasaannya diambil kemungkinan dia akan berubah menjadi membencimu. Perasaannya padamu tidak akan pernah sama lagi. Dan kamu juga akan melupakan seluruh kenanganmu bersamanya. Termasuk kenangan dirimu yang sekarang ini memohon padaku untuk keberhasilan operasinya.”
“Kalau terjadi aku masih bisa membuat kenangan bersama dengannya dari nol lagi…”
“Baiklah, ini pilihan hidupmu sendiri. Keinginanmu terkabul, operasinya akan sukses dan Sunny akan sembuh.”
“Terima kasih Genie…”

Dan setelah keluar dari altar suci itu ingatan Sooyoung menjadi berkabut. Seluruh kenangan yang berhubungan dengan Sunny dalam diri Sooyoung seakan telah di-reset ulang.
“??? Apa yang baru saja kulakukan? Barusan aku habis dari altar suci Genie kan? Kenapa aku pergi kesana?”
Sooyoung menghentikan langkahnya untuk berpikir sejenak.
“Eh? Lalu apa yang akan kulakukan setelah ini?? Errr…”

Seharusnya saat itu Sooyoung kembali ke rumah sakit untuk berada di sisi Sunny, tapi Sooyoung malah pulang ke rumahnya. Tapi sekarang Sunny juga tidak akan merindukannya. Tidak akan menantikan kehadirannya saat dia sudah membuka matanya lagi. Karena rasa cintanya sudah dihapus.
Begitu sampai di rumahnya, Sooyoung merasa seperti ada sesuatu yang kosong dalam dirinya. Tapi padahal secara fisik dia tidak kekurangan apa-apa. Orang tuanya meninggalkan warisan besar yang bisa untuk tujuh keturunan. Dia tidak cacat fisik atau mental. Selain dirinya yang tinggal sendirian, dia sama sekali tidak kekurangan secara materi.
Tapi anehnya lubang di hatinya sama sekali tidak terisi. Dan akhirnya Sooyoung tidak ambil pusing lagi.

Tapi Sooyoung masih mencintai Sunny. Karena itu walau seluruh kenangannya sudah dihapus, keesokan harinya entah bagaimana dia melangkah menuju ke rumah sakit. Hanya mengikuti dorongan hatinya.
Dan sekarang dia berada di kamar rawat Sunny satu jam sebelum operasi.
Aneh, kenapa ya aku pergi kesini?
Ketika menatap Sunny, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa mencintai Sunny meski tidak punya kenangan apa-apa bersamanya.
Barangkali cinta pada pandangan pertama? Batin Sooyoung.

Sementara Sunny hanya menatapnya tanpa perasaan apa-apa. Dan malah berpikir ‘Buat apa Sooyoung datang?’

Akhirnya Sooyoung pun terus menunggunya dengan setia selama Sunny menjalani operasi. Dan operasinya berhasil dengan sukses. Dan proses pemulihan Sunny berlangsung dengan cepat.

____________________________________________________________________________

Sooyoung terbangun setelah 2 hari tidak sadarkan diri.
“Huuu… huuu……..” dia menangis pilu.
Dalam jangka waktu selama 2 hari itu dia memimpikan semua masa lalunya yang berhubungan dengan Sunny. Entah keajaiban dari mana seluruh ingatannya kembali, barangkali karena kematian sempat datang menyapanya hingga terjadi keajaiban pada tubuhnya sendiri.
Sekarang dia ingat benar penyebab semuanya.
“Karena aku memohon sama Genie…? Makanya aku lupa…? Jadi semua yang kutulis dalam Loveless itu berdasarkan kejadian nyata?! BUKAN FANTASIKU BELAKA?!” teriak Sooyoung frustasi. “Jadi kami pernah mengalami semua itu!!!”
BUK!
BUK!
Sooyoung memukul kasurnya dengan frustasi. Pipi dan bantalnya bersimbah air mata.
“Huwaaaaaaaa!!! Jadi itu sebabnya kenapa di fiksi Loveless…!!”
BUK!
BUK!
Sooyoung masih terus merutuki sendiri.
“Aku pernah merasakan hal yang kurasakan seperti di Loveless sampai akhirnya aku mencintai dirinya!!”
Sooyoung baru berhenti memukul ketika perutnya terasa sakit.
“Sunny…! Aku harus bertemu dengannya.”
Sooyoung mencabut jarum infus dan bangun perlahan-lahan.
“Aduduh… sakit…” Sooyoung menoleh melihat kalender dalam ruangannya. “Tapi aku tidak bisa menunggu lagi, ulang tahun Sunny yang ke-22 tinggal besok.”

**

Di rumah Sunny.
“Haaahhh… haahhhh… sakit…”
Setiap tarikan nafas terasa sangat sesak dan melelahkan. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Dia bahkan tidak bisa tidur sejak 2 hari yang lalu, walau sudah terus berbaring seperti ini. Bahkan untuk berdiri saja rasanya dia sudah tidak sanggup. Pipinya menjadi tirus, sejak 2 hari yang lalu dia belum makan apa-apa, hanya minum air. Itu saja dia sudah mau muntah.
“Sama sekali tak kusangka kalau ternyata permohonanku waktu itu akan berujung seperti ini… Genie berkata namja itu yang menyantetku.”
Sunny mengangkat tangannya ke hadapan wajahnya dan melihat bekas luka hangul nama Sooyoung yang samar di tangannya. Melihat bekas luka itu yang membuatnya teringat akan cintanya yang besar pada Sooyoung dulu.
“Aku… dulu aku begitu mencintainya, Sooyoungieeee…” ratap Sunny lirih sambil berlinang air mata.
“Kenapa aku melakukan hal sejahat itu…?”
Tangan Sunny gemetar. Dia masih ingat bagaimana tangan dan tubuhnya bersimbah darah Sooyoung. Dan walau sudah mandi berkali-kali rasanya darah itu tidak mau bersih dalam ingatannya. Justru bukan santetnya, tapi perbuatannya 2 hari yang lalu adalah penyebab utama yang membuat nafsu makannya turun drastis.
“Aku… dengan tanganku sendiri menusuk perutnya dengan pisau…!”
“ANDWAEEEEEEE!!!”
“Huuuu….. huuuu….. huuuuuuuuuu……”
“Aku ingin bertemu… kalau keadaanku masih seperti ini artinya kamu masih hidup kan…?”

**

Sooyoung berjalan pelan-pelan menuju rumah Sunny. Dalam hatinya, tidak ada nama lain selain satu nama itu.
“Sunny… Sunny…”

**

“Sooyoung… mianhae… mianhae…” ucap Sunny berkali-kali dengan suara lirih.
Cklek.
Tiba-tiba pintu rumahnya yang tidak terkunci terdengar terbuka dari dalam kamar Sunny.
“Siapa…? Perampok…? Tapi mau dirampok juga tidak ada bedanya karena tidak lama lagi aku akan mati…”
Tidak lama kemudian Sunny melihat seorang yeoja tegak di ambang pintu.
“!!”
“Sunny… aku datang.”
“A-ahhh…” bibir Sunny bergetar tidak percaya.
Sooyoung berjalan mendekat dengan langkah limbung. “Sekarang aku sudah ingat semuanya. Dan aku punya sesuatu yang harus kukatakan padamu.”
“Sooyoungie… mianhae… aku sudah sangat jahat terhadapmu.”
“Aku mencintaimu Lee Sunny. Tidak peduli apapun yang pernah kamu lakukan padaku, perasaanku tidak akan berubah.”
Tapi Sunny malah menangis mendengarnya.
“Tapi perasaanmu berubah. Dan itu semua gara-gara aku… Kamu yang mencintaiku semuanya karena keegoisanku belaka… seharusnya kamu tidak mencintaiku…”
“Tapi kenyataan sekarang aku sudah terlanjur mencintaimu. Sudah tidak dapat diubah lagi.”
“Bukan begitu… kalau kukatakan yang sebenarnya kamu pasti tidak akan memaafkanku…”

____________________________________________________________________________

Pada masa lalu (kejadian setelah Sunny mengambil kesucian Sooyoung dan sebelum Sooyoung mulai mencintai Sunny)

“Genie… aku punya permohonan.”
“Katakanlah, anakku.”
“Selama ini aku sudah berusaha keras, tapi tetap saja Sooyoung masih tidak mencintaiku. Tidak peduli apapun yang kulakukan… aku tak pernah bisa mendapatkan hatinya. Karena itu Genie, aku ingin Sooyoung mencintaiku. Bisakah Engkau mengabulkannya?”
“Karena kamu ingin dicintai, maka bayaran yang setimpal atas permohonanmu adalah orang yang mencintaimu saat ini akan berubah menjadi membencimu. Bagaimana?”
Sunny berpikir dia juga sudah tidak punya keluarga lagi, paling-paling hanya seorang namja yang pernah menyatakan cinta jadi tidak apa-apa. Kalau hanya segitu saja baginya bukan masalah demi mendapatkan cinta Sooyoung. Lagipula dia tidak mencintai namja itu.
“Tidak apa-apa.”
“Baiklah, keinginanmu terkabul.”
Sunny senang mendengarnya.
“Terima kasih, Genie!”

Tanpa Sunny sepengetahui, namja itulah yang nantinya akan menyantet dirinya supaya dia mati di ulang tahunnya yang ke 22.

____________________________________________________________________________

Kali ini Sooyoung menatapnya dengan tatapan syok.
“Kamu memohon pada Genie… supaya aku jatuh cinta padamu…?”
Sunny mengangguk mengiyakan, air matanya mengalir semakin deras.
Tidak bisa dipercaya. Hatinya menolak untuk percaya. Tapi kalau melihat dari sifat Sunny yang menghalalkan berbagai cara selama ini, justru memohon seperti itu pada Genie sangat masuk akal.
Semua ini terlalu membuatnya syok.
Jadi rasa cintanya yang habis-habisan ini ternyata semuanya berawal dari Genie mengabulkan permohonan Sunny? Pantas saja waktu itu dia bisa tiba-tiba jatuh cinta sama Sunny padahal Sunny sudah melakukan hal yang jahat padanya.
Mendadak Sooyoung menjadi mual.

“Sekarang kamu membenciku kan…? Aku benar-benar gadis paling parah yang pernah kamu kenal…”
Nafas Sooyoung tertahan. Dadanya terasa sesak dipenuhi oleh berbagai macam perasaan.
“Tidak ada yang bisa kubanggakan pada diriku yang seperti ini… yang kupunya hanyalah sebentuk perasaan cinta yang tulus terhadapmu… tapi pada akhirnya perasaan cintaku yang tulus pun berubah menjadi cinta yang menyimpang karena kalah oleh keinginan untuk memiliki dirimu seutuhnya…”
Mata Sooyoung terasa perih. Air mata yang menggenangi matanya membuat pandangannya menjadi kabur.
“Karena aku sadar perasaanku berubah, lalu aku pun meminta pada Genie. Dan dia memberitahukan aku semua yang telah kamu lakukan untukku. Kamu memohon demi keberhasilan operasi kanker otakku. Karena itu kamu kehilangan ingatanmu dan perasaanku padamu jadi berubah. Lalu sekarang aku jadi mengerti bahwa ternyata…”
Sunny menatap Sooyoung dengan tatapan paling menyakitkan yang pernah dilihatnya.
“Aku memang tidak pantas mendapatkan cintamu…”
Jantung Sooyoung berdebar menyakitkan.
“Ka… kata siapa kamu tidak pantas?! Sekarang aku mencintaimu! Siapa peduli dengan apa yang sudah berlalu!?”
“…tapi itu tidak mengubah fakta bahwa Genie yang membuatmu menjadi mencintaiku….. sekarang aku baru mengerti kenapa waktu itu kamu berkata kalau aku ‘sakit’ ternyata aku memang nggak normal…“
“Sunny…!” Sooyoung meremas tangan Sunny. Hatinya rasanya ingin berteriak sekuat tenaga.
“Mianhae Sooyoung, pasti selama ini aku sudah membuatmu menderita…”
Teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng
Jam kuno milik Lee Soo Man di rumah Sunny berdentang terdengar sampai ke dalam kamar, pertanda sudah jam 11 malam.
“Tapi kamu bisa tenang karena setelah jam 12 malam aku akan mati… artinya kamu tidak akan perlu bertemu lagi dengan gadis sesat macam aku…”
Sooyoung menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu dia menarik Sunny bangun. Dan langsung menyambut bibirnya dengan sebuah ciuman.
“!”
Wajahnya berada dalam jarak yang sangat dekat. Dan bibirnya terkunci dengan bibir Sooyoung. Nafas Sooyoung membelai pipinya. Sunny selalu memimpikan ingin dicium Sooyoung seperti ini. Dan untuk pertama kalinya dia mendapatkannya murni dari Sooyoung sendiri tanpa paksaan. Sunny menitikkan air mata bahagia pertama kalinya dalam hidupnya.
“Aku tidak peduli meski perasaan ini terbentuk karena Genie mengabulkan permohonanmu. Yang jelas bagiku perasaan ini nyata,” ucap Sooyoung tulus sambil menyeka air mata Sunny dengan jarinya. “Bunuhlah aku Sunny, supaya kamu bisa terbebas dari penderitaanmu.”
Sunny menggeleng dan berkata dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak mau… aku tidak akan bisa bahagia dengan kematianmu… aku bahkan menyesali apa yang telah kuperbuat padamu.”
Sunny meremas lengan baju rumah sakit Sooyoung.
“Aku… lebih baik mati saja…”
“Kalau begitu kemanapun kamu pergi aku akan mengikutimu.”
“Sooyoung…”
“Hanya ada satu yang harus kita lakukan.” Sooyoung membalikkan badan dan menawarkan punggungnya.
“Naiklah ke punggungku.”
“Kita mau apa?”
“Kita akan pergi menemui Genie dan meminta dikabulkan permohonan terakhir.”
Sunny naik ke punggung Sooyoung. Tubuhnya gemetar ketika berjalan sambil menopang berat badan Sunny.
“Sooyoung, gwenchana?”
“Ya… pegang yang erat.”

Karena sudah malam, mereka tidak berpapasan dengan siapa-siapa di jalan. Sooyoung menyeret langkahnya yang berat melewati aspal. Dalam kesunyian yang pekat hanya terdengar suara gesekan sepatu Sooyoung yang setengah diseret. Bahkan malam itu tidak terdengar suara binatang sama sekali. Sunny merasakan angin dingin meniup sebagian kulitnya yang tak tertutupi.
Sunny dapat mendengar nafas tidak beraturan yang dikeluarkan oleh Sooyoung selama perjalanan. Ketika pandangan matanya turun ke bawah, Sunny kaget melihat genangan darah di sekitar perut Sooyoung.
“Sooyoung, kamu berdarah!”
“Gwenchana… karena semua ini akan segera berakhir,” kata Sooyoung di helaan nafasnya yang terasa berat. “Baik penderitaanku, juga penderitaanmu.” Sooyoung menarik nafas dalam untuk mengumpulkan tenaga dalam dirinya. “Sebentar lagi kita akan bisa te-nang…”
“………………..”
Sunny mengeratkan pelukannya di leher Sooyoung dan memejamkan matanya dengan pasrah. Dia tahu Sooyoung saat ini mengerahkan tenaga terakhirnya demi dirinya. Dan diam-diam dia menangisinya.
Seandainya aku tidak pernah memohon pada Genie, mungkin kamu tidak akan perlu menderita seperti ini. Air matanya berkata seperti itu.

Sooyoung terus menggendong Sunny tanpa istirahat sampai ke altar suci Genie. Semakin mendekati tujuan, noda darah di perut Sooyoung semakin membengkak. Berat yang ditanggungnya memberi tekanan yang besar pada perutnya yang belum sepenuhnya pulih. Sooyoung sendiri tidak percaya dengan batas kemampuan dirinya. Seharusnya dia sudah pingsan dari tadi tapi dia terus melangkah maju. Mereka sampai 30 menit kemudian.

“Genie, kami punya permohonan terakhir.”
“Katakanlah.”
Sooyoung mengatur nafasnya sejenak. “Setelah kami meninggal, buatlah kami bersatu dan bahagia di alam sana.”
Sesaat Genie hanya terdiam menatap sepasang kekasih itu. Dia sudah mengetahui seluruh sejarah kisah cinta mereka. Dan tragedi yang telah mereka lalui.
“Soal bayaran yang setimpal, ambillah apa saja yang kami miliki. Asal kumohon jangan pernah pisahkan kami, Genie.”
“…kalian tidak ingin hidup bahagia bersama?”
“Hidup atau mati tidak ada bedanya asalkan kami bisa terus bersama. Bila meminta hidup bersama harga yang harus dibayar terlalu berat, maka aku lebih memilih bisa memeluk Sunny sampai nafas meninggalkan paru-paru kita.”
“Genie… aku juga merasakan hal yang sama seperti Sooyoung…”
“………………..”
“Genie…”
“Baiklah, sesuai permintaan kalian. Sebagai gantinya bayaran yang setimpal atas permintaan kalian adalah bahwa setelah kalian meninggal nanti maka keberadaan kalian akan sepenuhnya dihapus dari dunia ini. Tidak akan ada seorang pun yang mengingat tentang kalian, seolah kalian tidak pernah eksis.”
Seharusnya bayarannya adalah hal lain, yaitu menderita dan tak bisa bersatu sampai akhir hayat. Tapi Genie kasihan pada mereka, karena mereka sudah cukup menderita, karena itu mereka diberi keringanan.
“………………..” Sooyoung mengangguk. Lalu diikuti oleh Sunny.
“Permintaan kalian terkabul. Setelah berganti hari, kalian akan segera tenang.”

Kemudian tinggallah Sunny dan Sooyoung sekarang hanya berdua saja berbaring sambil berpelukan di lantai altar suci itu. Genie telah meninggalkan mereka.
“Sebentar lagi jam 12 ya…”
“Hmm… Kamu menyesal telah mengenalku, Sooyoung? Kalau kamu bersama Yoonwo, takdirmu pasti akan berbeda sekarang ini…”
“Semua sudah berlalu, tidak ada yang perlu disesali. Lagipula selama bersamamu aku bukannya tidak pernah merasa bahagia. Bahkan saat ini aku merasa sangat bahagia. Seolah semua beban pada diriku telah diangkat. Aku merasa terbebas.”
“Kalau begitu aku lega mendengarnya.”
“Kamu mau menyanyi lagu Happy Me?”
Sunny tersenyum lemah. “Di saat seperti ini kamu masih ingin menyanyi?”
“Kenapa tidak? Bukannya saat bahagia kita akan menyanyi?”
Keduanya saling menyanyi bergantian.

Menikmati menyanyikan setiap lirik sampai lagunya selesai.
“Sooyoungie, ada sesuatu yang belum pernah kukatakan padamu.”
“Apa itu?”
“Aku sangat menyukai fiksi berjudul Loveless yang kamu tulis.”
Sooyoung tersenyum mendengarnya. “Karena itu fiksi berdasarkan pengalaman nyata kita berdua.”
“Kalau seandainya kamu selesaikan, apakah endingnya akan bahagia?”
“Tentu saja, karena pasti akan kutulis endingnya kita bahagia bersama selamanya.”
“Indah sekali… bahagia bersama… selamanya…”

Tidak lama kemudian, nafas meninggalkan paru-paru mereka berdua. Sesuai janji, Genie menyatukan keduanya, meski dengan bayaran tidak ada seorang pun yang mengenang kepergian mereka. Termasuk Taeyeon, Tiffany, Yoonwo, dan namja yang membenci Sunny. Dan sekarang mereka berbahagia bersama di surga sana untuk selama-lamanya.

*~The End~*

A/N : Rasanya genrenya jadi agak ke fantasi an, haha

Advertisements

Comments on: "Loveless [SooSun Version] (Chapter 7 – End)" (62)

  1. jeti dumdum said:

    uda end ternyata..
    makasi author
    semangaat

  2. permintaan yg aneh o,O

  3. ooohh jd novel ny soo itu based on true story nya.. walopun mati tapi heppi ending juga..
    thor hebat lu buat crta ga trtebak dr awal smpe akhrnya

  4. Jadi aslinya mang Sun cinta ama Soo.
    Tapi karna Soo masih gak trus suka ama Sun jadi minta k Genie buat jadiin Soo suka ama Sun.
    Abis itu Sun sakit kanker otak n Soo minta Genie nyembuhin dngan ingatannya hilang n cinta Sun k Soo juga hilang. Jadi tinggal Soo yang mncintai Sun spihak.
    Trus Soo bikin buku fiksi Loveless brdasarkan ingtannya yang masih trbayang2.
    Trus karna Sun sudah biasa aja ama Soo, lalu baca buku Loveless Soo, malah jadi bnci jadinya trus biar nyawanya slamat dari santet, jadi mncoba bunuh Soo.
    Soo yang masih slamat dari ambang kmatian ingatannya scara ajaib kmbali n mncintai Sun kmbali juga. Sun juga jadi ingat cintanya ama Soo stlah mlihat ukiran nama Soo di tangannya.
    Bgitu kan ringkasannya?

  5. bru kali ini aku baca FF soosun yg biasanya berkarakter kocak dgn sad ending mcm ini. -_-
    udh mati gak ada yg mengenang pula.

    buat apa?
    hhh tpi setidaknya mrk berdua mati dalam kondisi bersama dan saling mencintai.
    tak ada lagi yg merasa terpaksa.
    dan tdk ada lagi yg berposisi memaksa.

    FF berikutnya????
    YOONHYUUUUUUNNNN!!!!!!
    #MAKSADANSANGATMEMAKSA
    *capslockjebol
    wkwkwkwk

    kutunggu karyamu berikutnya.
    dan……
    hwaiting!! (9 ^o^)9

  6. T.T perasaan aku seperti diaduk-aduk.. bentar seneng, sedih, terharu, kaget campur2 lah.. walaupun tragis tp mereka ttep bersatu dan itu bagus.. 🙂
    Justru krn genrenya jd fantasi ff ini jd unik hohoho 😀
    Author Jjang!! SooSun Jjang!!
    Mau lagi dong ff yg kaya gini.. =D

  7. timeline ceritanya kayak ini kan….
    sunny bawa sooyoung ke love hotel kan….
    terus sunny memohon ke genie biar soyoung jatug cinta sama dia….
    sunny kena kanker otan dan sooyoung memohon biar operasi suny sembuh, dengan imbalan ingatan dan perasaan sunny…
    sooyoung bikin buku loveless, yang adalah ingatan dia yang dilupakan….
    sunny menusuk sooyoung dan baru masuk pas ending ni cerita kan….
    aku bingung dengan ff ni

  8. ff mu selalu gk ketebak thor…
    ternyata crita yg d tulis sooyoung itu cerita soosun sndri…
    y walaupn soosun mati yg penting soosun bersama…

  9. beninsooyoungsters said:

    Sumpah ini ff daebak, kukira akhirnya bakal happy ending taunya…ah sudahlah haha
    Awalnya aku agak bingung sih, tapi lama lama ngerti juga hehe
    Btw, CSS gimana nih author?
    Keep writing author! Fightiiiing!

  10. hana mutia said:

    critanya susah d tebak deh ini, rada shock endingnya *lebay dkit 😀

  11. Miss New New said:

    monmonnn

    ending kayak gini nih yg bikin serbasalah
    soosun nya sih bahagia, tapi akunya yg ngrasa sedih hehe

    bagus kok endingnya, lebih berkesan #sadis

    gue kesel nih sma karakter Genie
    gara2 dia tuh jadi kaco smua
    kenapa sih permintaan harus ada ‘bayaran’nya?! #protesberat

    Genie : ……….
    *langsung ngirimin bisul stadium lanjut ke reader tukang protes

  12. semua nya gara2 genie

  13. Ohhh daebak @,@
    no coment deh thor -_-

  14. Cerita nya emg bener2 gak bisa ketebak nih ,
    semuanya gara2 genie ,
    jadi kek berasa dpermainin takdir ,

  15. aigooo…. julukan2 itu dimasukin ke sini. skrng sy gak dpt menemukan julukan mereka di sini.. hmmmm.. mau gimana wkwkwkwk….. soosunadi (soosun abadi). soosunati (soosun sejati)…..
    mwo ternyata loveless itu diangkat dr ingatan samar2 sooyoung.
    sini rumit banget. terutama bayaran genie hihihihi…
    sampai jumpa di ff terbaru mu krn siapa tau sy kasi julukan lain hehehe…

  16. Tarnyata sad eding di dunia nyatanya , tragiss bener kisah cintanya .

  17. Agak bingung d awal chap.. tpi akhirny ngti jg…

    Knp SooSun sllu brakhir bgni??? wktu d Sunny bunny jg… T=T.. But its ok, yg pnting soosun brsma.. #halah..apadehgue..

    Thanks for update #guetlatbca

  18. chap ini awalnya bikin bingung sumpah thor muter muter gitu… tapi setelah soo sadar dari pingsanya itu aku mulai paham…

    dan akirnya happy ending walaupun soosun meninggal tapi mereka tetep bersama selamanya…

  19. Agustina_huang said:

    Akhrnya mreka bersatu dlm ketenangan abadi… Nice end

  20. Kak, bisa minta link video nya?

  21. claireen_liem said:

    Anyeong eoni, mian baru bisa comment sekarang
    .
    hehehe, aku baca berkali-kali pun, knp aku masih belum mudeng ya.? hehehe, mungkin butuh sesorang yang ingin menjelaskan secara sederhanya, heheh
    .
    huuffttt
    Akhirnya selesai juga Loveless,
    dari Chapt.1-5 semua terasa mengalir gitu aja.
    dan monic eoni juga sukses mengubah image sunny yang cheerfull menjadi sosok yang byun seperti Mi-Pecel-lele
    .
    tapi setelah masuk ke chap.6, baru mulai terkuak apa sebenarnya yang terjadi di FF ini
    .
    Berawal dari sebuah buku loveless- Genie- dan berakhir dengan kematian yang indah
    Huuffttt
    Di Loveless ini aku kasian ama Genie,, mungkin dia berpikir kalo anak muda jaman sekarang banyak maux, hihiihihi
    .
    trus juga sekedar saran dari aku
    mungkin ada baiknya ada perbendaan warna dalam penulisan antara kejadian di “Buku” dan “real”, cz buat reader yg lemot seperti aku agak susah memahaminya, hihiih
    .
    yaahhh,
    terlepas dari apapun juga, FF ini keren, gabungan fantasi-yadong-romance
    btw aku baca loveless ini, mengingatkanku baca novel “Ghosebump”, hehehe
    .
    ayo monic eoni bikin FF selanjutnya yg gk kalah keren dari loveless
    .
    .
    Claireen_Liem_Cute
    (~^_^v~)
    .
    saranghae monic eoni
    yeongwonhi saranghae

    • ya, diterima sarannya buat lain kali

      Sunny kan memang byun tapi 😛

      Bener tuh, banyak maunya ke Genie XD

      di novel itu gak ada adegan yadongnya coy 😛

      makasih dah komentar 😀

  22. claireen tjan liem said:

    lho komentarQ kok ilang

  23. Febylia Lie said:

    sedikit gak nyambung aku thor muehehehe.. but apa daya kata.. walau aku bacanya gak mudeng” tapi author tetep sukses bikin aku nangis.. ini bisa dibilang ‘happy ending’ kan ya? tapi kok bikin readersnya nangis sih thor? :p hehehe

  24. noeryanzien said:

    ahirnya seleaai juga lovelessnya, gak nyangka ceritanya bakal serumit ini hahaa

    daebak thor…

    keep fighting

  25. aah keren bgt loveless nya gak ketebak … 2 Jempol deh buat authornya 🙂

  26. Hmm…keren banget ff nya!
    Aku langsung ngiler waktu baca ff nya 😀
    Ending-nya seru Authorr^3^)~
    Mood-ku langsung balik deh haha 😀 #Numpang_Curhat

  27. ternyata novel itu dr pengalamannya soo sendiri, udh happy happy karena ngira tu cerita cuma novel doang, taunya -_-

    sukses bangetlah author ini bikin reader syok

  28. Lee Eun Soo said:

    Kisah cinta yg lbh tragis dr romeo dan juliet.. 😐

  29. Jujur, rada bingung gue bedain ni kisah awalnya…
    Nyata tapi fiksi…
    SooSun yang biasanya diwarnai dengan cerita kocak sekarang dengan sed ending…

  30. gokil… nice story bgttt

  31. nah kann.. sbnarnya ragu2 baca fanfic yg ini karena aku ga suka sad ending dan dari judulnya aja udah hopeless tp berasa penasaran bgt dan akhirnya nyiapin hati untuk menanggung beban sesak ini, life is never flat ya author memang #iklansdkt mudah2an fanfic happyend nya tambah bnyk jika bisa fanfic sadend yg udah ada diubah aja jd happyend hehehe semngat terus author, mian ya karna hanya komen di part akhirnya aja…. you’r thebest…

  32. Kim/Choi said:

    Hmmmm, bagus ceritanya. Walaupun harus mati, setidaknya mereka berdua bahagia di Surga. Itu lebih dari apapun di dunia ini. SooSun SooSun, sweet ceritanya.
    Author, bikin lagi yang kayak beginian yah 😀 Keyen soalnya

    Soal ejekan Sooyoung unnie buat Sunny unnie, benar” lawak 😀 kwkwkwkwkwkwkw XD
    “Suyebal (Sunny menyebalkan), Sugoda (Sunny penggoda), Sumaksa (Sunny pemaksa), Sugila (Sunny gila), Sudevil (Sunny devil), Sudong (Sunny yadong), Surkosa (Sunny pemerkosa).”
    kwkwkwkwkwkwkw XD
    Dapat darimana ejekan ini semua kak ? XD

    • Haha dikira bakal kaget 😛
      Karena komentar di chapter sblumnya km bilang itu semua karangan Sooyoung
      Kenyataannya sudah terkuak di chapter ini
      Sbnarnya semua yg mereka lalui nyata, tp Soo cuma kehilangan ingatan dan menganggapnya cuma cerita dan menulisnya

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: