~Thank you for your comments~

Near or Far (Chapter 3)

Flash back

Saat itu aku sedang berada di tengah keramaian kota Tokyo, Jepang.
“Dasar…”
Pada hari libur, aku bersama dengan ketiga temanku memutuskan untuk berlibur ke Jepang selama sepuluh hari. Sekarang adalah hari ketiga.
“Mereka seenaknya saja pergi blind date dan pergi meninggalkanku, huh. Padahal katanya teman!?”
Karena aku tidak tertarik makanya mereka meninggalkanku di hotel. Tapi aku tidak mau berdiam diri saja. Masa sudah keluar uang dan tenaga untuk ke Jepang malah berdiam diri di hotel?
“Ada apa nona? Teman-temanmu pergi meninggalkanmu?”
Ketika aku berbalik aku melihat tiga orang namja mendekatiku.
Salah satu dari mereka bersiul dan berkata. “Wuah orang asing, bodynya mantap juga!”
“Bagaimana kalau ikut sama kami saja? Kami yang traktir.”
Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan karena mereka berbicara dengan bahasa Jepang. Tapi dalam bahasa universal aku tahu mereka bermaksud mengajakku pergi.
“A-aa…” Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk menolak ajakan mereka.
Di antara teman-temanku yang pergi bersamaku, hanya aku yang tidak bisa berbahasa Jepang. Dan ketika sedang terdesak begini, aku baru menyadari betapa mengerikannya sendirian sebagai orang asing.
“Tidak bisa berbahasa jepang ya? Tidak usah malu-malu.”
“Benar, akan kami ajarkan.”
“Sedikit demi sedikit.”
Mereka bertiga tetap tersenyum. Aku bisa merasakan mata ketiga namja itu seolah menelanjangiku, mereka memperhatikan seluruh tubuhku dari atas sampai bawah.
“!”
Salah satu namja memegang tanganku bermaksud menyeretku pergi. Rasa takut menggedor dadaku. Aku berusaha mempertahankan tubuhku di tempat.
Seseorang tolong aku!
Kenapa? Padahal ada begitu banyak orang yang lewat kenapa mereka memilih pura-pura tidak melihat?
Ti-tidak! Bisa-bisa aku akan di-! Tidak! Aku tidak mau! Aku masih suci!
Siapa saja tolong aku!
Aku sudah mau menangis ketika tiba-tiba seorang yeoja jangkung menengahi kami.
“Dia sudah jelas tidak mau pergi dengan kalian, jadi lepaskan dia.”
“Hahh? Ikut campur saja!”
Yeoja itu seolah tidak mempedulikan tatapan marah mereka dan meraih tanganku setelah melepaskan tangan namja itu padaku.
“Maaf, dia akan pergi bersamaku.”
Ketika dia hendak membawaku pergi.
“Hei! Tunggu kamu!”
“Ada masalah? Kalau kalian terus memaksa akan kupanggilkan polisi. Dan aku juga tidak akan segan-segan berteriak,” katanya tanpa keraguan sedikit pun di matanya sambil memegang ponsel di dekat telinganya.
Setelah dia berkata begitu ketiga namja itu tidak berkutik dan mereka membiarkan kami pergi dengan tenang.
Kesan pertamaku. Dia cantik, tinggi, dan pemberani.
“A-arigato…” ucapku pelan. Aku hanya mengerti bahasa Jepang yang sederhana dan mudah.
Lalu dia baru melepaskan tanganku.
“Kamu berani juga ya. Di tempat seramai ini memakai bahasa asing, berambut pirang, dan memakai baju yang terbuka.”
“Eh?”
Dia berbicara dengan bahasa Korea.
“Kenapa? Kamu terkejut? Aku besar di Korea, jadi aku bisa berbahasa Korea. Dan tadi kebetulan aku mendengar kamu berbicara sendiri seperti orang gila. Tentu saja kamu jadi didekati namja seperti itu.”
“La-lalu apa maksudmu dengan terbuka?”
Dia memandangku dengan sebelah mata lalu menunjuk ke arah dadaku.
“Itu apa namanya kalau bukan terbuka?”
Aku cepat-cepat menutupi belahan dadaku yang terbuka dengan tangan.
“Ini sudah style-ku!”
Dia menghela nafas. Lalu melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahuku.
“Nih, aku gentle kan?” dia tersenyum sombong.
“Aku nggak butuh jaketmu!”
“Kalau kamu bicara begitu, kamu akan menyesal. Kamu tentunya nggak mau para namja seperti mereka mendekatimu lagi kan?”
“Ukh…”
Dia benar. Tentu aku tidak mau mendapat masalah seperti tadi lagi.
“Jadi dengarkan nasehat orang yang lebih tua darimu, pakai jaket itu dan pulanglah.”
“Lebih tua? Memangnya kamu umur berapa?”
“Sebentar lagi aku berumur 23 tahun.”
“Hah! Berarti kamu lebih muda karena aku sudah 24 tahun!”
“Heee? Masa sih? Dengan tubuh sependek ini 24 tahun? Bukannya masih SMP?” kata dia dengan tatapan pura-pura seperti sedang menyelidiki, tapi dia memasang senyum jahil.
“Grrrrrrr! Jangan mengejek tinggi badanku, tiang!”
Aku bermaksud memukulnya tapi dia mundur selangkah.
“Woah! Nyaris! Iya deh maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu. Kalau gitu sudah ya, aku mesti pergi.” Dia berjalan beberapa langkah, tak berapa lama dia berhenti dan berpaling padaku lagi. “Jangan mampir-mampir sendirian, pulang ya! Bahaya lho.”
“Memangnya kamu siapa? Pakai ngatur-ngatur seolah kamu Ummaku.”
“Aku kan cuma khawatir.”
Mendengar dia mengkhawatirkanku, jantungku langsung berdegup kencang. Ada perasaan senang di hatiku meski aku tidak mengenalnya. Pada akhirnya aku tidak sempat menanyakan namanya. Kemudian kami masing-masing berjalan ke tujuan kami masing-masing.
“Tunggu!”
Dari kerumunan orang, dengan ajaibnya aku bisa mendengar suaranya menyapa telingaku. Aku merasa dia setengah berlari mendekatiku dari belakang. Aku tidak sempat berbalik, jaraknya sudah begitu dekat denganku. Jarak punggungku dengan dadanya begitu rapat hingga seolah dia setengah memelukku dari belakang.
“Hati-hati pulangnya…” bisiknya lembut di telingaku. Aku merasa seolah sedang terbuai jadi aku tidak begitu sadar saat dia menyusupkan sesuatu di jaket yang dipinjamkannya padaku. Tanpa sadar aku juga menahan nafas.
Kemudian dia pergi lagi.
Di detik itu kalimatnya terus terngiang di dalam diriku bahkan ketika aku sudah sampai di hotel. Juga nafasnya yang lembut membelai telingaku. Pipiku terasa panas sekarang.
Saat aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaket, aku baru sadar kalau tadi dia memang memasukkan sesuatu ke dalamnya.
Sebuah lipatan kertas. Aku membukanya dengan jantung berdebar-debar.
Kalau mau mengembalikan jaketnya, hubungi nomor ini.
Di kertas itu tertera sebuah nomor ponsel beserta namanya.
Choi Sooyoung. Jadi ini nama yeoja itu.
Haruskah aku menelponnya?
Tapi kalau tidak bagaimana aku bisa mengembalikan jaketnya. Aku juga berutang padanya karena dia sudah menolongku dari para namja itu.
Aku mengeluarkan ponselku, tanpa melepas jaket pemberiannya. Mulai mengetik nomor ponselnya. Di detik aku menghubunginya, masa depanku pun ikut berubah.
Pada dering ketiga, aku sudah mendapat jawaban.
“Halo.”
Suaranya… ternyata benar Sooyoung.
“Halo.”
“Ah, kamu gadis pendek yang tadi.”
“Aku matikan nih.”
“Iya iya, maaf deh! Jadi, apa kamu sudah sampai di rumah?”
“Sudah, dan aku menginap di hotel bukan di rumah.”
“Begitu ya, aku sudah tahu. Aku cuma mau mengatakannya sebagai ‘rumah’ saja.”
“Terima kasih, Sooyoung…”
“Jadi kamu sudah tahu namaku. Tapi aku belum tahu namamu.”
“Sunny. Namaku Lee Sunny.” Lagi-lagi aku seperti lupa caranya bernafas. Tiba-tiba jantungku juga berdebar kencang.
“Jadi kapan kamu akan mengembalikan jaketku, Sunny?”
Sesuatu dalam diriku berdesir ketika menyadari penyebab debaran jantungku adalah berbicara dengan Sooyoung.
“Eh, uh… besok mau ketemuan?”
“Aku sih selalu ada waktu. Tapi bagaimana dengan kamu. Bukannya kamu mau pergi sama teman-temanmu?”
“Aku bisa mengatakannya pada mereka kalau aku mau mengembalikan jaketmu. Mereka akan mengerti.”
“Hmm, begitu ya. Jadi mau ketemuan dimana?”

Kemudian keesokan harinya aku bertemu dengan Sooyoung.
Sekali lagi aku dibuatnya berdebar dengan sosoknya yang menawan.
“Ternyata kamu tepat waktu.” Dia menyunggingkan seulas senyum ketika melihatku.
“Jangan bilang kamu sudah menunggu dari tadi.”
“Baru 12 menit yang lalu lebih 24 detik,” katanya sambil memperhatikan jam di tangannya.
“Aish! Detail sekali!” Aku menyerahkan sekantung tas belanja. “Ini, jaketmu. Maaf aku tidak sempat mencucinya.”
“Tidak usah juga tidak apa-apa.”
DEG
Jantungku kembali berdebar saat tangannya tidak sengaja menyentuh tanganku ketika mengambil kantung belanja itu dari tanganku.
Setelah itu seharusnya tidak ada lagi keperluanku dengan Sooyoung. Dan aku tidak perlu lagi berhubungan dengannya. Tapi saat itu, aku tidak mau beranjak dari situ. Apalagi memalingkan wajahku darinya.
Saat itu seolah Sooyoung mampu membaca pikiranku, dia menawarkan.
“Mau jalan-jalan bersamaku? Aku lagi bosan nih.”
Wajahku langsung menjadi sumringah. ”Kebetulan aku juga.”
Padahal bukan kebetulan. Aku memang sangat ingin pergi dengannya.
“Kamu bisa kan kalau jalan-jalan sampai malam?”
“Ne.”

Hari itu seharian kami menghabiskan waktu berduaan. Walaupun aku baru mengenalnya tapi aku merasa sangat bahagia hari itu.
Seolah tak cukup puas, hari-hari berikutnya pun aku terus pergi jalan-jalan sama Sooyoung.
Tentunya aku mendapat beberapa protes dari teman-teman seperjalananku.
“Sudah 3 hari ini kamu pergi sendirian terus!”
“Kamu kemana saja sih?”
“Hehe, begitulah.”
“Jangan-jangan, sama pacar ya?”
“Eh?! Jadi Sunny dapat pacar disini?!”
Aku hanya senyum-senyum.
“Ah! Ketahuan! Benaran tuh!”
“Siapa?!” Hyomin mengguncang-guncang tubuhku dengan tidak sabaran.
“Aduh aduh, tenang Hyomin.”
Setelah itu mereka bertiga berusaha menyelidiki siapa ‘pacar’ku itu. Aku hanya menceritakan sedikit atau memberi petunjuk saja. Tapi aku tidak pernah benar-benar menceritakan bahwa dia adalah seorang yeoja.
Pacar ya? Padahal hubungan kami tidak sampai situ.
Kami tidak berpacaran. Tapi hatiku tidak bisa berbohong kalau aku ingin Sooyoung menjadi kekasihku.
Tapi itu kan tidak mungkin. Lagipula aku tidak yakin Sooyoung memiliki keinginan yang sama.
Setelah itu kami masih terus bertemu sampai batas akhir liburanku. Syukurlah Hyomin dan kawan-kawan tidak pernah berusaha untuk membuntutiku. Setidaknya untuk sekarang aku masih belum siap menceritakan tentang Sooyoung pada mereka.

“Kenapa kamu seharian ini lebih banyak diam, Sunny? Apakah jalan-jalan hari ini tidak menyenangkan bagimu?”
“Sooyoung… besok aku akan pulang.”
Setelah aku berkata seperti itu, aku bisa merasakan suasana di meja makan kami menjadi kelam.
“Jadi mungkin kita tidak akan bertemu lagi…” kataku dengan nafas tercekat.
“………………” Sooyoung terdiam.
Hatiku sakit sekali. Rasanya seperti teriris-iris… membayangkan kalau malam ini akan segera berakhir dan aku akan segera berpisah dengan Sooyoung. Aku tidak akan bisa mengobrol dengannya seperti ini lagi. Air mataku mulai menggenang, membasahi bulu-bulu mataku. Aku mengerjap-kerjapkan mataku agar airnya tidak sampai mengalir.
“A-ah… kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, sudah malam.”
“Tunggu Sunny!”
Aku kaget dia tiba-tiba berteriak seperti itu. Sepertinya dia juga baru sadar kalau suaranya terlalu keras. Dia pun melunakkan nada suaranya.
“Jangan pulang… jangan pulang dulu…”
Aku tidak jadi beranjak dari tempat dudukku. Tangannya yang berada di atas meja berpindah ke atas tanganku. Jantungku berdebar-debar ketika merasakan ibu jarinya mengusap-usap punggung tanganku. Aku tidak menarik tanganku. Aku ingin terus merasakan kehangatan tangannya.
“Andaikan… kalau sekarang aku menyatakan cintaku ke kamu. Apa kamu akan merasa aneh?”
“Eh?”
Aku mengangkat wajahku untuk menatap langsung ke matanya. Mempelajari kesungguhan dalam ucapannya. Aku tidak menemukan tanda-tanda kebohongan di wajahnya. Kenapa sekarang wajahnya justru malah kelihatan seperti terluka?
“Atau kamu akan merasa jijik?”
“Ti-tidak…”
“Begitu ya.”
Sooyoung menghembuskan nafas seolah dari tadi terus menahannya selama menunggu reaksiku. Lalu dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Kalau gitu aku mau berkata jujur. Sunny, sebenarnya aku mencintaimu.”
Aku membeku seolah tidak percaya dengan ucapannya.
“Aku tidak sedang bercanda sekarang.”
“……………….”
“……………….”
“A-aku juga… mencintaimu Sooyoung…”
“Benarkah?”
“Ne… karena itu aku sangat gugup sekarang. Ka-kamu bisa merasakannya kan?” kataku terbata-bata. Tanganku pun berkeringat dingin.
“Sunny…”
“Sooyoung…”
Kami terus berpandangan dengan penuh kasih sampai seorang waiter datang ke antara kami. Membuat kami sedikit panik. Aku segera menarik tanganku.
“Maaf, sebentar lagi kami akan segera tutup,” kata waiter itu sambil tersenyum memohon pengertian.
“Kami sebentar lagi selesai, tolong bill-nya,” balas Sooyoung sambil tersenyum.
Setelah waiter itu pergi. Sooyoung kembali berpaling padaku dan menggenggam tanganku.
“Malam ini mau nginap di rumahku?”
Sorotan matanya ketika menatapku saat itu sangat lembut. Aku pun mengiyakannya.

Sampai di apartemennya, ternyata tidak ada siapa-siapa disana.
“Aku tinggal sendiri.”
Ucapannya membuat jantungku semakin berdebar-debar.
Lalu aku pun diajak masuk ke kamarnya.
Aroma Sooyoung. Benda-benda milik Sooyoung. Tempat tidurnya…
Seluruh ruangan ini memancarkan keberadaan Sooyoung.
Bahkan sekarang aku juga sudah memakai piyama yang dipinjamkannya. Piyama yang biasa dipakai oleh Sooyoung…
Jari-jarinya yang panjang membelai pipiku. Kupejamkan mataku saat dia mendekat untuk mencium bibirku. Dia hanya menekankan bibirnya di bibirku. Benar-benar ciuman yang polos. Tapi aku menyukainya.
“Ayo kita tidur, Sunny.”
Sooyoung meredupkan lampunya hingga suasana kamar sekarang remang-remang.
Aku membiarkan Sooyoung menggandengku ke tempat tidurnya.
Aku tahu apa yang biasanya didambakan oleh sepasang kekasih pada saat seperti ini.
Ketika kami sudah naik ke tempat tidur, aku memberanikan diriku berkata.
“Lakukanlah, Sooyoungie…”
Sejenak dia menatapku dengan salah tingkah. Tangannya yang memegang tanganku terlepas.
“A-apa maksud kamu Sunny?”
“Kamu ingin kita melakukannya kan? Makanya kamu mengajakku menginap di rumahmu.”
Benar. Kita kan sudah dewasa, tentu saja aku mengerti apa yang kamu inginkan. Dan aku juga sudah siap.
Perlahan aku mulai membuka kancing piyamaku.
Mata Sooyoung membelalak melihatku melepaskan piyamaku.
Wajahku pasti merah padam sekarang. Tapi aku tetap berani meneruskan melepas bawahanku. Dalam pikiranku karena ini adalah malam terakhir aku bisa bersamanya, aku tidak mau menyia-nyiakannya.
“Waaaaaa! Sunnyyyyy! Aku benar-benar tidak menginginkan yang macam-macam kok! Aku cuma ingin tidur bersamamu saja!”
“Eh?”
Sekarang kami jadi berada dalam situasi awkward.
“Benar-benar cuma itu?”
“I-iya, jadi kamu tidak perlu sampai melepas bajumu…”
Kali ini wajahku terasa seperti terbakar. Aku malu setengah mati sampai rasanya ingin bersembunyi di balik bantal.
Sebelum suasana makin canggung, Sooyoung memeluk tubuhku dan membaringkan tubuhku di atas kasur.
“Sudahlah, kita tidur saja, jangan pikirkan apa-apa.”
Sooyoung membelai-belai rambutku dan berbisik lembut. “Biarkan aku memelukmu sambil tertidur…”
Dadaku menghangat ketika merasakan jantungnya berdebar-debar saat aku menyandarkan wajahku di dadanya. Ini pertama kalinya kami berjarak sedekat ini. Rasanya sangat intim.
“Sooyoungie, jantungmu sekarang berdebar-debar karena aku?”
“Siapa lagi kalau bukan karena kamu.” Sooyoung mengecup rambutku. Nafasnya yang hangat menerpa dahiku. Dalam dekapan lengannya, aku merasa sangat nyaman. Kupejamkan mataku dan melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Hmm, Sunny… kamu manis sekali. Rasanya aku ingin memilikimu selamanya.”
“Kamu boleh memilikiku selamanya, Sooyoungie…”

Keesokan harinya.
“Biarkan aku mengantarmu ke bandara.”
“Tidak usah.”
Nanti aku akan semakin sedih.
“Selamat tinggal.”
Jangan tatap wajahnya Sunny, nanti kamu jadi semakin sulit berpisah.
Lalu aku pun pergi dari rumahnya untuk menemui teman-temanku di hotel. Kupikir itu terakhir kalinya aku melihat Sooyoung.
Di saat aku sudah putus asa, ternyata aku melihat sosoknya sedang menungguku di bandara. Dia langsung menghampiri dan menggenggam tanganku.
“Jadilah kekasihku, Sunny! Pacaran jarak jauh pun aku tidak keberatan!”
Aku terus menengadah tanpa melepaskan pandangan mataku. Wajahnya tampak penuh permohonan. Matanya juga kulihat mulai berair.
“Kamu kan bilang aku boleh memilikimu selamanya!”
Sampai kurasa tidak mustahil kalau Sooyoung akan berlutut disini sekarang juga. Mengemis jawaban ‘ya’ dariku. Tidak ada alasan untuk menolak karena aku juga sangat mencintainya.
“Ne, aku mau menjadi kekasihmu.”
Aku sangat terharu sampai rasanya mau menangis juga.
“Sungguhkah? Jadi kita resmi jadian sekarang?”
“Ne.”
Dia memberiku sebuah pelukan ‘selamat jalan’. Saat berada dalam pelukannya untuk terakhir kalinya, aku merasa dia seolah tidak mau melepaskanku. Aku menepuk punggungnya beberapa kali agar dia mau melepaskanku karena jam keberangkatan pesawat sudah dekat.
Kemudian dia melepas kepergianku dengan wajah seperti mau menangis. Dibalik sosoknya yang tampak kuat, ternyata dia orangnya sensitif juga.
Aku memaksakan sebuah senyum dan melambai ke arahnya.
Dia membuat gesture dengan jempol dan jari kelingkingnya di dekat wajahnya, seolah mau mengatakan bahwa kita harus saling berkomunikasi dengan telepon nantinya.
Aku tersenyum dan mengangguk padanya.
Kemudian aku bersama beberapa temanku meninggalkannya dan berjalan masuk ke pesawat.
“Siapa barusan Sunny?” tanya Hyomin setelah kami sudah duduk di pesawat dan mengencangkan seat belt.
“Pacarku.”
“Eh?”
“Dia pacarku,” ulangku sambil tersenyum tanpa malu-malu mengakuinya.

End of flash back

Akhirnya Tuhan mempertemukan kami kembali sesuai harapanku. Tapi akhirnya malah jadi begini.
Semua rencana yang sudah kususun dengan baik untuk menghabiskan waktu bersama dengan Sooyoung seharian ini hancur sudah.
Kalau gitu buat apa kamu datang? Padahal kamu juga nggak akan lama di Korea kan? Hari ini sudah terbuang sia-sia deh.
Aku merasakan mataku kembali berair. Kali ini menetes turun ke pipiku. Aku menyekanya dengan punggung tangan.
Kenapa hanya kamu yang bisa begitu menyakiti hatiku?
“Ada apa nona?”
Ketika namja itu mengajakku berbicara, aku baru sadar kalau aku sudah melamun terlalu lama. Ternyata sekarang hari sudah sore.
“Ada seseorang yang membuatmu patah hati?”
Dia melihatku menangis. Aku merasa sedikit malu.
“Bagaimana kalau minum sedikit untuk melupakan rasa sakit hatimu?”
Barangkali itu bukan tawaran yang buruk. Kerongkonganku juga kering karena dari tadi belum minum.
Namja itu mengajakku ke bar di tepi pantai. Saat aku sedang bingung memilih mau minum apa, dia sudah memesankanku minum. Tentu saja aku harus awas terhadap segala bentuk minuman yang dia pesankan.
“Long Island Ice Tea. Ini bisa diminum siapa saja,” kata namja itu sambil tersenyum ramah padaku.
Dia juga tampaknya tidak berbuat macam-macam terhadap minuman itu. Hmm, kalau teh kurasa tidak apa-apa. Karena orang nggak bakal sampai mabuk gara-gara teh kan?
Ketika jarak sedotan itu tinggal seinchi dengan bibirku. Tiba-tiba seseorang berdiri tegak di samping meja kami.
Sooyoung?
“Kajja.”
Dia menarik lenganku, memaksaku berdiri.
Terdengar suara kursi berderit, namja itu ternyata ikut berdiri.
“Hei, sebentar, apa-apaan ini.”
Sooyoung menegakkan tubuhnya dan menatap geram namja yang lebih pendek darinya itu. “Dia ini kekasihku, ada masalah?”
Namja itu tampaknya terintimidasi oleh sorot mata dan tinggi badan Sooyoung. Lalu dia tidak berani menyela lagi.

Third Person POV

Sooyoung menarik Sunny keluar dari bar itu.
“Apo! Lepaskan Sooyoungie!” pekik Sunny karena cengkeraman tangan Sooyoung di lengannya terlalu kencang.
“Babo! Babo! BABO!”
“Apa sih, teriak keras-keras seperti itu?”
“Jangan pernah mau ditawari namja minum minuman itu! Meskipun namanya mengandung unsur teh, tapi sebenarnya itu mengandung kadar alkohol tinggi bahkan lebih dari kebanyakan whisky lain!”
“Eh?”
“Aku nggak bercanda tahu!”
“A-aku kan tidak tahu. Nggak usah marah-marah begitu dong.”
“Hufff, untung saja aku ingat ponselku masih di tanganmu, jadi aku bisa mencarinya dengan GPS. Untung aku tepat waktu.”
Sooyoung merogoh sesuatu dari saku celananya dan menyematkannya di jari manis kiri Sunny. Benda yang melingkari jarinya itu adalah cincin. Sunny terpana melihatnya.
“Ini, hadiah untukmu yang sebenarnya. Maaf, kalau tadi siang bercandaku keterlaluan. Padahal aku cuma mau memberimu kejutan.”
“…kejutan macam inikah yang kamu sembunyikan?” Mata Sunny kembali berair. “Kamu tahu… gara-gara bercandamu tadi siang aku sampai sempat meragukan perasaanmu…”
“Kenapa kamu meragukanku? Aku sendiri yang duluan memintamu jadi pacarku kan? Justru aku yang selalu khawatir tahu!” kata Sooyoung sambil meraih Sunny ke dalam pelukannya.
“Aku selalu takut kalau Sunny sudah menemukan orang yang lebih baik dariku. Takut kalau Sunny sudah tidak cinta aku lagi karena kita tidak bisa bertemu berbulan-bulan. Karena itu aku tidak mau menunggu lama untuk pergi ke Korea.”
Sooyoung menarik nafas sejenak dan memutuskan untuk meluapkan semua yang dipendamnya selama ini.
“Jujur, sebenarnya aku selalu merasa kesepian tiap kali kita berbicara di telepon. Kupikir kalau aku bercanda, kamu akan menyukainya karena biasanya kamu selalu tertawa mendengar candaanku. Mungkin aku memang tidak peka sama perasaanmu, maafkan aku.”
Saat itu sinar mentari senja membagikan cahayanya yang indah pada kedua insan yang sedang merajut kembali benang cinta mereka.
“Kalau begitu selagi kita masih membicarakan ini, boleh aku juga mengatakan apa yang kuinginkan…?”
“Tentu saja, katakan apapun itu.”
Sooyoung menatap wajah Sunny yang kini berwarna kemerahan. Entah dia sedang tersipu atau ini akibat dari efek mentari senja, dia tidak tahu, tapi yang jelas Sunny tampak sangat manis ketika mengutarakan keinginannya.
“Sooyoungie, aku ingin kita selca bersama.”
“Ayo, aku juga mau kita selca bersama.”
Sunny mengeluarkan ponsel Sooyoung yang dibawanya dan mengaturnya ke self portrait lalu mengangkatnya ke depan. Mereka berdiri merapat. Lalu Sooyoung juga ikut memegang ponselnya di sisi yang berlawanan.
“Kita pegang bersama, jadi dengan begini akan kelihatan kalau kita mengambil selfie ini bersama.”
Ucapannya membuat Sunny sangat bahagia. Sooyoung mendekatkan wajahnya, menempelkan pipinya di kepala kekasihnya. Kemudian mereka tersenyum manis ke arah kamera.
Jepret.
“Selca pertama kita.”
“Iya.”
Sunny tersenyum puas karena hal yang dia idamkan akhirnya terkabul juga, lalu dia mengirimkannya ke ponselnya sendiri. Ponsel di sakunya berbunyi, tanda fotonya sudah diterima.
“Jadi kita mesti merayakannya.”
“Apa? Dengan makan-makan?”
“Ani.”
Senyum bermain di bibir Sunny. Kemudian dia melompat ke punggung Sooyoung dan mengalungkan lengannya ke leher Sooyoung.
“Hup! Gendong aku!”
“Yah! Jangan tiba-tiba melompat ke punggungku seperti itu!”
“Hehe, boleh kan? Kita kan pacaran.”
“Hahaha, oke deh, karena kita pacaran.” Sooyoung memegang kedua pahanya dan melepas high heels yang dipakainya. Membiarkan kakinya berkontak langsung dengan pasir di bawahnya supaya pijakannya lebih stabil. Kemudian Sooyoung mulai berjalan-jalan sambil menggendong Sunny di punggungnya. “Kapan pun kamu minta digendong seperti ini, aku siap melakukannya, Sunny ah, hehe.”
“Aww, Sooyoungie, kamu so sweet~!” desah Sunny manja.
“Pegang erat-erat ya!”
Sooyoung memutar tubuhnya sambil bercanda ria dengan kekasihnya. Keduanya tertawa dengan bebas menikmati moment yang sangat indah itu. Saat itu rasanya seolah dunia hanya milik berdua.
Sunny mengeratkan pelukannya di bahu Sooyoung. “Sooyoungie, ke depannya kita juga harus selca lebih banyak.”
“Tentu saja.”

A/N : Entah mau to be continued atau the end 😛 habis rencananya memang nggak panjang, lalu belum ada ide dan waktu

Advertisements

Comments on: "Near or Far (Chapter 3)" (59)

  1. Kok gak tulis Near or Far (Chapter 3-End) aja?
    MAsih bingung mau lanjut atau gak yah?
    Authornya lagi galau. 😀

  2. Desi si locksmith said:

    Waksssss..
    (/\) malu aq mah klo jd sunny..
    Wahahahahah
    udh ngarep aja tu NC-an ama soo
    fufufu..
    Untng ny soo polos walaupun tkang bercnda dan ga bisa romantis..tp gentle ih nyelamatin sunny dr namja2 jahat..
    Trserah un aja mau end atau TBC to di chapter 3 ini bagian akhirnya udh dapat..
    Taengkyu dah update

  3. hahaha soo makany jangan kebanyakan bercanda, terserah author mau di lanjut apa kagak.

  4. dian yoonsic said:

    lnjt aj thour
    d tggu ff yoonsic twins ny hehehe

  5. wow sooyoung cewek benar2 manis dan pemberani (?).
    untunglah sooyoung gak byun dg para kakaknya terkenal byun (?).
    tergantung tuhan mau end ato terus. *tuhan = author hehehe…
    sy akan tunggu keputusanmu mengenai ff ini.

  6. hana mutia said:

    yahhhh
    lanjut dong thor, itu mah gntung klo mw d jdiin ending.
    romantisnya kurang ahahahaha
    lnjut thor 🙂

  7. sunny udh siap lahir dan bathin nih bkal di apa2in sma sooyoung…

  8. noeryanzien said:

    ooooooh sooosweeet. ahahahahay

    nah gini dong thor kan jadi menaikan mood ahaha
    gomawo thor.

  9. Soo gentle banget dsini , nyelamatin sunny 2x .
    Padahal udah mau nc , gagal gara2 soo nolak , huft …
    Lanjut !! Apapun kalo soosun lanjut !! #soosunatic akut

  10. wahhh… dsni Sooyoung lebih jujur sma ap yg d inginknnya… Manis dehh…. euumm… lucu pas sunny salah sangka d apartemen Sooyoung, jd canggung dehh…

    ini klo udah end jg gk mslh coz critany gk gntung… tpi tntu aj gue brhrapny ini msih lanjut. ktanya monic pen buat S*x phone, kykny d FF ini bisa dehh.. #plakk #byuntae

    thanks udah update mon ^_^

  11. taenygee said:

    lanjut lanjut lanjut #demo wks~
    untung soo ga byun..tapi kalo byun kya taeng, lucu juga kali yah :p

  12. ane kasih usul thor klo di lanjutin kasih orang ketiga aja klo mau di end ya terserah author aja

  13. errr… moment soosunnya emang bikin diabetes yak.. so sweet…
    beuh, sunny baru jadian pikirannya udah mau yadong mulu, untung soo nggak kepikiran ampe situ. hahaha
    lanjut ato ga, terserah author. kalo menurutuku sih lanjut aja. wkwkw
    nice!

  14. lanjut gk thor nih..
    hehe..
    galau mulu..

  15. Soo bener-bener gentle yach nyelamatin sunny nyampe 2x

  16. Soo bener-bener gentle yach nyelamatin sunny nyampe 2x sweet
    Banget momentnya terserah author mu dilanjut atau gak

  17. Miss New New said:

    Ayayaya Sunny.. baru kenal beberapa hari loh ituuu

    aku syukur aja mereka gak jadi yadongan wkwk klo iya, malah jadi kayak cerita stensilan 😛
    gak mirip orang timur*plakk
    walaupun tergantung kepribadian masing2 yaa dilarang prejudice hoho

    ih komen ngalor ngidul wkwk

    lanjut apa tidak? kalo the end kyaknya terlalu singkat
    kalo lanjut kayaknya mesti tambah konflik baru

    smoga author bisa mutusin yg paling pas deh yaaak ^^

    • Wkwkwk iya, tp kalau di novel sebenarnya orng timur skrng ini jg udh ngikut2 gaya orng barat, malah berani mengangkat hal yg msh tabu, habis bkn dlm bentuk visual sih
      Aaa my SooSunholic #mendadak gaje

  18. beninsooyoungsters said:

    Aaaaaa!! Ayo lanjutin aja thoooor, masa nanti ceritanya ngegantung -___- hwaiting authooor! 😉

  19. Lee Eun Soo said:

    Wakakakak.. Si Sunny malu bgt itu.. Soo cuma mau bobo bareng.. Bener2 cuma bobo bareng gak pake NC-an.. XD
    scene akhirnya sweet bgt.. >,<

  20. dirgaYul said:

    Akhiry kliatn romantisy SooSun.. So sweet… I like it..

  21. ngakak ..sunny yadong nya kumat >.< happy ending ya thor *pelukauthor

  22. aku pikir sih lebih baik jangan pendek, krna ni cerita kan intinya LDR trus gmana mereka pacaran pada saat LDR, tpi boleh jga sih ending skarang….
    dan kuharap tdi ad yadong, gak taunya gak ada…
    tapi gak apa apa lah….

  23. TaengSicababy said:

    Hehehe ending nya so sweet.. Soo slalu jd super hero nya sunny..
    😀
    jd pngen punya pacar :p

  24. agustina_huang said:

    Soosun akhrnya kmbali bersama…snangnya…
    Klu bs sih dilnjut thor, soalny emg jarang ad nih ff soosun… Tp klu gk jg gpp,soalny ckup puas krn mreka bersama lg 🙂

  25. aduh mau banget jadi sunny,, ,,
    Sooyoung bner2 gentle, suka,, sempet bikin berkaca2 #lebay
    thank ya thor, semangat

  26. cincin kaaan, udh kuduga 😛

  27. Gagal NC, Sunny malu dan readers kecewa… ahaha apa cuma aku aja ya yg kecewa… 😀
    SooSun manis bgt sih disini… huaaaa T.T aku malah terharu…

  28. Febylia Lie said:

    to be continued min xD gak ikhlas kalo adegan so switnya cuma segini wkwkwkw

  29. snsd lover said:

    SooSun couple mmg sweet <3..mntk pw yg di protect please..#mohon sgt2..
    email:yayahany17@gmail.com

  30. lanjut aja author cerita mereka pas seminggu waktu sooyoung di korea kan sayang jarang2 sooyoung pulang ke sunny sekaligus biar moment sweetnya nambah banyak hehe #moduss semangat lanjutin ff2nya ya…

  31. Tbc.. Tbc.. Tbc..
    Nggak peduli harus nunggu berapa lama. Tbc ajalah kak Mifate…
    Ceritanya gantung nih :p
    Hehehe 😀
    Ayolah kak…
    Walaupun impossible karna udah berlalu 2 tahun, lanjut aja kak. Ceritanya TOP kali nih. Setelah sekian dekade mutar” di perpustakaan ‘Maifate’, baru kali ini dapat cerita dengan pairing lain yang ceritanya nggak kalah so sweet dari “Locksmith” nya TaeNy unnie 😀
    Jadi, tolonglah kak. Kakakkan shippernya SooSun couple, lanjutin dong kak 😀 Jeballllll…… 😀
    Biar imbang loh kak sama “Locksmith” nya TaeNy unnie XD
    Hidup buat SooSun unnie beserta shipper”nya, hidup 😀 Hidup kak Maifate 😀
    Hahhh, menggombal ditengah malam begini rasanya ‘uhh’ 😀
    Kak, lanjutttt !!!!!
    Kali ini aku benar-benar lupa diri XD

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: