~Thank you for your comments~

Two Hearts (Chapter 3)

“Akkhhh!” Jessica jatuh tersungkur. Pipinya terasa menyengat. Bibirnya sedikit berdarah karena terbentur gigi akibat tamparan mereka.
Jam istirahat. Rupanya mereka tidak punya cukup kegiatan sampai-sampai menindas orang menjadi pilihan yang menyenangkan.
Beberapa yeoja yang mengerumuninya tersenyum puas. Mereka telah menampar Jessica dan terlihat sangat menikmati penindasan ini.
“Bagaimana kalau kita potong saja rambutnya?”

“Ide yang bagus.”
“Ada yang bawa gunting atau silet?”
“Aku bawa gunting nih.”
“!”
Jessica menahan nafas. Mereka benar-benar serius melakukannya. Salah seorang yeoja sudah memegang rambutnya, bersiap-siap untuk memotongnya ketika tiba-tiba aktivitasnya terhenti.
“Ya! Aku menemukan dia sedang berkeliaran di dekat sini!”
Salah seorang yeoja mendorong Seohyun ke tengah kerumunan.
“Sepertinya dia sudah mematai kita sejak tadi.”
“Mau melapor ya, huh?”
“Sebaiknya kita apakan dia supaya tutup mulut?”
Seohyun memang tadi sudah mau menerjang begitu mereka hendak memotong rambut Jessica. Tapi keburu kepergok.
“Hei tunggu, itu kan yeoja dalam foto itu! Yang dicium oleh Jessica!” seru salah seorang yeoja.
“Iya benar!”
“Oh ya? Kalau begitu mainan yang menarik ini.”
Yeoja itu menjambak rambut Jessica dengan kasar.
“Akhh!” Jessica mengerang kesakitan.
Lalu yeoja itu berkata pada Seohyun. “Ya, katakan kalau kamu membencinya. Katakan kalau kamu jijik padanya. Jijik pada dia yang sudah mencuri bibirmu. Dan kamu ingin sekali menampar wajahnya. Kalau kamu katakan itu akan kuberikan kamu kesempatan untuk menampar wajahnya.”

Ketika mereka kebetulan saling berkontak mata, mata Jessica seolah berkata. Jangan khawatir, semuanya akan berlalu. Kau tidak usah menuruti perkataan mereka, sekarang mumpung ada celah, cepat lari.

Hati Seohyun teriris-iris melihat pipi Jessica yang merah dan bibirnya yang berdarah.
Tidak! Tapi saya tidak ingin melihat Sica unnie menderita seorang diri lagi!

“Sica unnie! Maafkan saya! Saya juga mencintaimu!”
Jawabannya sangat tidak disangka-sangka oleh para yeoja penindas itu terutama Jessica.
“Saya juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya! Karena itu unniedeul tidak seharusnya hanya menindas Jessica unnie saja!”
Jessica ingin sekali mengatakan ‘pabo’ walau matanya terasa panas dan air matanya hampir membanjir keluar.
“Mwo? Jadi gadis ini juga lesbian?”
“Menggelikan!”
Yeoja itu menyepak tubuh Seohyun. Kemudian menjambak rambut dan menginjak tangan Seohyun.
“Aaaaaaahhhh!”
“Hyunnieeee!”
Seohyun meringis kesakitan tapi yeoja itu malah semakin menekankan kakinya. Tangannya semakin terjepit di antara tanah berbatu dan kakinya.
“Hentikan!” teriak Jessica sambil menerjang yeoja itu.
“Ya! Cepat tahan dia!”
Akhirnya Jessica dan Seohyun sama-sama ditindas sampai memar-memar.

“Sica unnie… maafkan saya…” kata Seohyun setelah semua yeoja itu telah pergi.
Mereka berdua masih terbaring lemah di tanah. Baju mereka kotor-kotor akibat bekas sepatu para yeoja itu dan tanah.
“Pabo Hyunnie… kan sudah kubilang jangan dekati aku kan… kalau kamu melakukan ini, ke depannya mereka juga akan menindasmu!”
“Tapi saya sudah terlanjur mencintai Sica unnie, karena itu saya tidak akan mundur lagi.”
“Kamu akan menderita Hyunnie!”
“Begitu pun tidak apa-apa. Karena seperti yang unnie katakan. Sekarang saya yakin cinta ini tidak salah.”
“Hyunnie…” Jessica mengangkat tangannya dan membelai pipi Seohyun.
Seohyun meremas lembut tangan Jessica di pipinya. Mereka tidak saling berbicara. Hanya sorotan mata mereka yang mengatakan segalanya.

**

Keesokan harinya, mereka datang ke sekolah bersama-sama. Belum-belum mereka sudah mendapatkan banyak tatapan tidak enak. Rumor bahwa Seohyun juga sama seperti Jessica sudah menyebar hanya dalam sehari. Sebagian ada yang memandangnya dengan tatapan jijik, terutama dari para penindas.
“Kita akan melewatinya bersama.” Jessica meraih tangan Seohyun dan meremasnya.
“Ne, unnie.”
PAK
Sebuah majalah baru saja melayang dan menampar wajah Seohyun.
“Auhh…” refleks Seohyun memegangi mukanya.
“Hyunnie!”
Jessica memasang tampang geram. Tapi dia tidak tahu siapa yang melakukannya. Semua mata yang ditemuinya seperti seolah memandangnya dengan tatapan mengejek. Ada sebagian yang malah tertawa melihat Seohyun kesakitan.
“A-aku tidak apa-apa kok unnie, hanya sebuah majalah,” kata Seohyun mulai cemas Jessica akan mencari masalah dengan mereka.
PAK
Kali ini sebuah majalah mengenai punggung Jessica.
“Unnie, sudahlah biarkan saja. Cuekin mereka. Itu yang unnie sendiri bilang kemarin kan?”
Jessica mengatupkan rahangnya menahan amarah. Apalagi ketika melihat Jiyeon dan Hyomin di antara kerumunan murid. Dan walau Jessica tidak melabraknya, sebenarnya dalam hatinya dia sudah mempunyai firasat bahwa Jiyeon dan Hyomin adalah pelaku yang menyebarkan foto ciuman mereka di perpustakaan.
Tapi memang benar. Kalau diladeni maka tidak akan ada habis-habisnya. Justru para penindas itu akan semakin gencar mengerjai mereka untuk melihat reaksi mereka.
“Kamu benar Hyunnie. Anggap saja mereka hanya anjing menggonggong. Lebih baik kita segera ke kelas saja.”
“Ne, unnie.”

Sewaktu mereka melewati lorong-lorong kelas.
“Wiiiii~ ada pasangan ‘yuri’ lewat,” Goda seorang namja.
“Suittt~! Suiiittt~!!”
“Awas, nanti tertular lho!” kata seorang yeoja.
Mereka juga menyingkir seolah-olah Jessica dan Seohyun membawa bibit penyakit di tubuhnya.
Jessica dan Seohyun berjalan dengan wajah menunduk. Keduanya merasa lebih baik tidak melihat wajah orang-orang yang bermaksud menindas mereka. Hanya tangan mereka yang terhubung saling meremas lebih erat.
“Yaaa! Jangan cuekin kita, pasangan ‘yuri’!”
Seorang yeoja melempar sapu tepat di depan mereka sehingga langkah mereka sempat berhenti.
“AHAHAHAHA! Kaget ya?!”
Baik Jessica maupun Seohyun sampai ingin mengurut dadanya melihat ulah mereka yang keterlaluan. Tapi mereka masih mencoba untuk bertahan.
“Daripada memikirkan mereka. Kita harus fokus pada ujian yang hanya tinggal 2 minggu lagi.”
“Ne, kamu benar, Hyunnie.”
“Mau belajar bersama, unnie? Saya bisa mengajari pelajaran yang tidak unnie mengerti, seperti matematika contohnya.”
“Apa tidak merepotkanmu nantinya Hyunnie?”
“Tidak sama sekali. Dengan mengajari unnie saya juga jadi sekalian belajar, sehingga tidak lupa caranya nanti.”
“Kalau begitu aku mau, Hyunnie, ajari aku,” kata Jessica manja. Mendadak dia jadi melupakan segala kekesalannya.
“Kalau begitu nanti siang kita mulai saja di perpustakaan, saat jam istirahat.”

Siang itu juga, saat jam istirahat keduanya pergi ke perpustakaan. Tentu saja setelah mengalami ejekan dan gangguan di sepanjang melewati kelas-kelas.
“Mau duduk dimana? Saya terserah Sica unnie saja.”
“Kalau begitu aku mau disini,” kata Jessica sambil berjalan ke tempat dia mengalami ciuman pertamanya. “Tempat kenangan…”
Memang saat itu pada awalnya semuanya terlihat baik-baik saja. Meskipun setelah itu gara-gara kejadian ciuman itu, Jessica dan Seohyun jadi mendapat penindasan. Tapi sisi baiknya, beasiswa Seohyun tidak dicabut karena hal ini.
“Kalau kamu tidak keberatan.”
Seohyun mengingat kembali kejadian saat Jessica pertama kali menciumnya. Dan apa yang terjadi keesokan harinya. Tapi dia tersenyum tipis.
“Saya tidak keberatan.”

Selama berhari-hari, mereka tidak pernah bolos belajar di perpustakaan. Kalau sudah pulang sekolah pun Jessica mengundang Seohyun ke rumahnya untuk melanjutkan belajar bersamanya di rumah.
Bukan hanya mobil mewah yang mengantarnya ke rumah Jessica. Seohyun sempat tercengang ketika pertama kalinya melihat rumah Jessica. Rumah Jessica sangat besar. Persis seperti gambaran-gambaran tuan putri dalam drama-drama. Rumahnya bertingkat. Jarak dari gerbang ke pintu rumah agak jauh. Ada bodyguard juga.
Sikap serba salah Seohyun kembali.
“Kenapa? Ayo cepat masuk,” kata Jessica sudah berada di dalam.
“Pe-permisi.” Seohyun melepas sepatunya dan melangkah dengan hati-hati. Seolah takut mengotori lantainya.
“Orang tua unnie dimana?”
“Pergi kerja semua. Kalau jam-jam segini, di rumah hanya ada aku saja,” jelas Jessica datar. “Ayo kita ke kamarku.”
Seohyun mengikuti Jessica berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua sambil memperhatikan sekelilingnya dengan kagum. Perabot-perabot yang menghiasi sekelilingnya terasa sangat mahal di mata Seohyun yang biasa hanya hidup berkecukupan.
Bahkan saat sudah masuk kamar pun, Seohyun juga mendesah kagum. Kamarnya terasa luas sekali hanya untuk satu orang yang tinggal di dalamnya.
“Ayo kita mulai belajar.”
Jessica langsung duduk di depan meja belajarnya dan mengeluarkan setumpuk buku. Bahkan ukuran meja belajar itu bisa untuk dipakai dua orang.
“Hyunnie, pelajaran apa yang tidak kamu bisa yang nanti bakal diujikan?”
“Kurasa saya menguasai semuanya unnie.”
“Kamu memang jjang.”
“Tapi kalau diluar yang diujikan, saya kurang begitu mahir kalau pelajaran olahraga.”
“Apalagi aku, lari saja aku tidak bisa cepat.”
Setelah belajar empat puluh menit kemudian. Jessica menghabiskan setengah dari waktunya untuk mengagumi Seohyun. Wajahnya yang serius ketika sedang belajar membuat Jessica semakin jatuh hati.
“Hyunnie, kapan-kapan aku ingin main ya ke rumahmu…”
“Eh? Tapi rumahku sempit. Nanti unnie malah tidak betah.”
“Tapi aku masih tetap ingin main ke rumahmu.”
“Juga kalau kamar saya tidak semewah kamar unnie?”
“Aku ingin lihat tempat tinggalmu. Malahan kalau diperbolehkan aku juga ingin coba menginap. Gimana Hyunnie? Kau menginaplah di rumahku, sebagai gantinya, kau perbolehkan aku untuk menginap di rumahmu.”
“Ah, tapi saya tidak tahu. Belum tentu orang tua saya akan mengijinkan.”
“Wae? Orang tuamu sudah dengar tentang gosip kita dari sekolah?”
“Tidak, untungnya sekolah masih tutup mulut soal ini.”
“Mianhae…”
“Gwenchana Sica unnie. Saya akan bicarakan pada orang tua saya. Kalau unnie mau saling menginap mungkin kita bisa melakukannya setelah ujian selesai.”
“Hehe, janji ya.”
“Ne.”
“Ngomong-ngomong Sica unnie, fo-foto yang waktu itu sudah kamu hapus?”
DEG
“Eh? Foto apa?” Jessica masih pura-pura tidak tahu.
“Itu lho… foto yang unnie ambil bersama dengan unniedeul… saat aku…” Wajah Seohyun berubah merah padam. Dia tidak sanggup mengatakannya dengan detail.
“O-ohh itu? Tenang saja, sudah kuhapus kok, ehehe.”
Jessica berbohong. Sebenarnya gambar itu masih duduk dengan manis di dalam satu folder galeri ponselnya. Jessica akan menjadikannya sebagai kenang-kenangan. Dan biarlah rahasia kecilnya menjadi rahasia miliknya seorang.

**

Setelah itu setiap harinya mereka masih sering mengalami penindasan. Tapi mereka masih tetap bisa fokus pada ujian yang sudah dekat.
Kian lama hati keduanya semakin akrab. Meskipun mereka berdua tidak pernah mengatakan dari mulut mereka sendiri bahwa mereka telah sepakat jadian. Tapi kedekatan mereka telah mengatakan segalanya. Terkadang cinta memang tidak perlu saling diungkapkan. Cukup dirasakan.
Pernah juga Jessica membawa bekal buatan sendiri saat mereka sedang belajar di perpustakaan.
“Ini sungguhan aku yang buat lho~ sama sekali bukan kokiku. Mereka bahkan tidak memberi arahan sama sekali buatku. Dan bahkan saat mereka berkeras pun tetap kutolak,” kata Jessica dengan bangga.
“Be-begitu ya.” kata Seohyun sambil tersenyum tipis. Dia tidak pernah mengimajinasikan Jessica sebagai orang yang pandai memasak. Apalagi kalau tidak diberi arahan sama sekali oleh orang yang sudah ahli. Dia mulai sedikit khawatir dengan rasa masakan itu.
“Ayo makan dulu, sudah itu baru lanjut belajar lagi. Silakan Hyunnie.”
Seohyun tidak bisa menolak kebaikannya. Apalagi kalau Jessica sudah menatapnya dengan wajah penuh harap seperti itu. Matanya juga berbinar seperti mata anak kucing yang memelas. Jadi akhirnya dia mencobanya dengan setengah terpaksa.
“Masakan Sica unnie sangat-” Seohyun sampai kebingungan memilih kata-kata yang tepat. Di satu sisi tidak ingin menyakiti hati Jessica. “Uh… berbumbu?”
“Berbumbu itu seperti apa?”
“Enak, mungkin…”
“Aish, yang benar dong. Kok ada kata mungkin sih?”
“Sica unnie sudah mencoba masakan unnie sendiri?”
“Kalau aku terus mencoba semua masakan yang kubuat bisa-bisa aku gendut!”
Mata Seohyun berkedip tidak percaya. “Memangnya ini masakan yang ke berapa kali?”
“Aku sudah mencoba memasak berbagai macam makanan beberapa kali. Entahlah, aku tidak menghitungnya. Cuma ini yang jadinya paling bagus. Lihat, setidaknya terlihat bisa dimakan kan?”
Seohyun tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya hanya sedikit terbuka mendengar cerita Jessica.
Meski akhirnya dia terpaksa memakan makanan tidak enak itu, tapi dia tetap menikmatinya. Karena itu adalah buatan tangan Jessica. Untung saja makanannya memang masih bisa ditoleran perutnya.
“Kamu mesti bersyukur, Hyunnie. Karena ini pertama kalinya aku memasak sendiri untuk seseorang.”
Sikap angkuh Jessica kembali keluar. Tapi Seohyun sudah terbiasa. Sudah maklum. Dia sudah tidak terusik lagi. Kalau melihat latar belakangnya, wajar saja Jessica berkelakuan seperti itu. Dia memang biasa disegani.
“Tapi lain kali biarkan saya saja yang memasak untuk Sica unnie.”
“Kalau begitu berikutnya aku akan bisa merasakan masakan Hyunnie?” tanya Jessica senang.
“Ne.”
“Hehe, aku nggak sabar.”

**

Akhirnya tibalah hari ujian. Keduanya sudah berdiri di depan gerbang pagi-pagi sekali.
Jessica menguap kecil. Matanya sedikit berair. “Aku masih sedikit mengantuk.”
“Jangan sampai ketiduran unnie.”
“Ne, aku tahu.”
“Unnie pasti bisa, hwaiting!”
“Entahlah Hyunnie, mendadak aku jadi khawatir…”
“Sica unnie kan sudah berusaha keras. Jadi saya percaya Sica unnie pasti bisa.”
“Hyunnie, kalau begitu aku ingin membisikkan sesuatu, bisakah kamu memberikan telingamu?”
“?” Seohyun memberikan telinganya tanpa tahu apa yang direncanakan oleh Jessica.
“Kalau ujian sudah selesai…”
“Apa unnie?”
“Aku boleh menginap di rumahmu ya?”
Saat itu Jessica mengambil kesempatan untuk mengecup pipinya.
Seohyun segera menarik tubuhnya mundur. Tangan kanannya memegang pipi kanannya yang dicium barusan.
“Unnie ah, ini kan di tempat umum!”
“Hehe, sedikit tidak apa-apa kan? Lagipula lebih terlihat aku seperti sedang membisikkan sesuatu. Supaya sukses saat mengerjakan ujian nanti. Walau seharusnya terbalik sih.”
“Sica unnie.”
Seohyun memberikan Jessica sebuah pelukan hangat.
“Saya tidak bisa memberikan banyak karena saya malu dilihat orang. Tapi apakah segini cukup?”
“Hehe, gomawo Hyunnie, kamu baik deh. Rasanya semangatku kembali.”
Jessica memejamkan matanya. Menikmati hangat dan wangi tubuh Seohyun. Juga jantung Seohyun yang berdebar lembut di dadanya.
“Hmm… bisakah memelukku sedikit lebih lama? Rasanya nyaman dipeluk olehmu seperti ini Hyunnie…”
“Ne. Mengenai soal menginap itu. Saya sudah membicarakannya dengan Umma dan Appa. Katanya boleh membawa teman untuk menginap.”
“Asyik! Berarti jadi! Aku akan menantikannya, Hyunnie! Jangan ingkar ya!” Jessica mempererat pelukannya.
“Iya, tapi ngomong-ngomong, sesak nih unnie.”
“Oh mianhae.” Jessica melepaskan pelukannya. “Kalau begitu kita berdua berusaha sebisa mungkin dalam ujian ini setelah itu kita bersenang-senang.”
“Ne, unnie.”

**

Kertas sudah dibagikan di atas masing-masing meja. Saat itu entah ada telepati, keduanya saling menoleh di saat bersamaan dari jarak berseberangan. Mata keduanya seperti saling menyemangati satu sama lain.
Kemudian ujian dimulai.
………………………………..
Ujian sudah berlangsung selama setengah jam ketika seseorang yang duduk di belakang Seohyun melakukan suatu perbuatan yang keji. Dia menjatuhkan sebuah kertas panjang yang telah dilipat sedemikian rupa menjadi pendek ke lantai. Kertas itu berisi contekan. Kemudian menggeser dan menendangnya hingga sampai ke dekat sepatunya Seohyun. Seohyun yang sedang mengerjakan dengan cermat sama sekali tidak menyadarinya.
Lima belas menit kemudian, Songsaengnim berjalan melewati barisannya. Kemudian menemukan kertas itu di bawah dekat kursi Seohyun. Songsaengnim memungut dan membuka lipatannya.
Seohyun baru sadar kalau songsaengnim melakukan sesuatu di dekatnya. Dia melihat tatapan tajam menilai songsaengnim itu padanya.
“Ada apa?”
Kemudian tanpa berkata apa-apa dia mengambil kertas ujian Seohyun. Dan membacanya bersama dengan kertas itu seolah sedang mencocokkannya.
Kejadian itu menimbulkan sebagian mata melihat ke arah Seohyun daripada mengerjakan soal ujian. Termasuk Jessica.
“Apa ini?”
“Maksud songsaengnim?”
“Kamu membuat contekan saat ujian!”
“Eh?”
“Lihat ini!” Songsaengnim menunjukkan kertas yang dipegangnya. “Aku menemukannya di bawah kursi dekat sepatumu!”
Seohyun terbelalak kaget. Otaknya mengakses situasi dengan cepat lalu menjawab songsaengnim dengan cepat pula.
“Tapi saya tidak tahu kenapa contekan itu bisa ada disana!”
“Lalu ini apa?! Bukankah ini tulisanmu sendiri?!”
Seohyun mengalihkan pandangannya ke kertas yang dilempar ke atas meja itu. Seohyun menyipitkan matanya dan membacanya. Benar, tulisan ini tidak asing. Tapi padahal Seohyun tidak pernah membuat contekan dalam bentuk apa pun itu. Namun tulisan itu memang tak salah lagi bentuk tulisannya sendiri.
Alarm tanda bahaya berdering mengirimkan sinyalnya ke seluruh tubuh Seohyun. Keringat dingin mulai membasahi tangannya begitu menyadari sesuatu.
“Mustahil!”
“Masih mau menyangkal!?”
“Tapi saya benar-benar tidak!”
“Murid teladan yang loncat kelas rupanya nyontek ya,” sindir murid yang duduk di belakangnya sambil menyeringai.
“Itu memang tulisan saya! Tapi saya sama sekali tidak pernah menjadikannya sebagai contekan!” bela Seohyun.
“Halah! Cari alasan!” protes murid lainnya.
Jessica sedikit lambat mencerna situasi, tapi akhirnya dia sadar saat ini Seohyun sedang dalam situasi terancam.
“Sebagai hukuman karena telah membuat contekan. Kamu tidak boleh ikut ujian ini!”
Seohyun merasa dunianya terhenti saat kertas ujiannya benar-benar diambil dari mejanya. Dia masih tertegun tidak percaya menatap punggung songsaengnimnya yang menjauh membawa kertas ujiannya. Kata-kata songsaengnim bagai vonis mematikan di telinganya. Ini seperti mimpi. Mimpi yang tidak akan pernah dipercayainya dalam ribuan tahun. Bahwa dia akan kedapatan menyontek padahal dia sama sekali tidak pernah punya niat buruk seperti itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
Setelah itu hampir semua murid memandangnya dengan tatapan merendahkan. Hanya Jessica yang tidak. Jessica sendiri juga tidak percaya begitu mendengar vonis songsaengnim pada Seohyun.

**

Akhirnya Seohyun dipanggil menghadap kepala sekolah.
“Seohyun, jujur saya sangat kecewa sekali terhadapmu. Setelah mendengar rumor bahwa ternyata kamu adalah lesbian. Bapak sangat kecewa. Tapi bapak diamkan saja karena bagi bapak kamu masih tetaplah murid yang menjadi panutan di sekolah ini. Lalu sekarang kamu kedapatan menyontek saat ujian berlangsung. Jadi selama ini prestasimu kamu raih dengan cara tidak terpuji semacam ini?”
“Sa-saya…”
“Bapak tidak mau dengar alasan.”
“Tapi saya benar-benar tidak menyontek… saya rasa saya dijebak…” kata Seohyun sambil menahan isak tangisnya.
Bapak kepala sekolah hanya menggeleng-geleng. Tangannya masih tetap terlipat di atas meja. “Sekarang pun kamu telah melakukan suatu perbuatan tidak terpuji lagi, yaitu mencari alasan untuk menutupi perbuatan tercelamu ini.”
“!”
Seohyun tidak percaya mendengarnya. Kali ini pun dia dituduh seperti itu. Memang dia tahu sekali bahwa jika kepercayaan telah runtuh sekali. Sangat susah untuk membangunnya kembali.
“Dengan sangat menyesal, beasiswa penuh untukmu akan dicabut.”
“!”
“Tapi kamu masih boleh bersekolah disini. Bapak tidak akan mengeluarkanmu.”
Seohyun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Karena dia tahu pembelaannya tidak akan mengubah keadaan, malah memperburuk.
Dia ingin sekali menangis rasanya.
Setelah berminggu-minggu tertindas di sekolah ini. Sekarang beasiswa yang sangat berharga baginya itu juga dicabut. Apa yang harus dikatakannya pada Umma dan Appanya?

**

Sepulang dari sekolah, Seohyun ikut ke rumah Jessica. Di dalam kamarnya, Seohyun menumpahkan seluruh tangisnya yang sudah sejak pagi dipendamnya.
Seohyun menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya sampai berguncang dengan hebat karena tangisnya yang deras.
“Hyunnie…” Jessica menyentuh pundaknya dengan hati-hati.
“Sica unnieeeeee… un-nnie hiks! Percaya kan… hiks! Kalau saya tidak menyontek?”
“Iya, aku percaya sama kamu kok, Hyunnie.” Jessica mengusap-usap bahunya dengan lembut seperti seorang kakak yang perhatian.
“Saya benar-benar tidak membuat contekan itu! Seingat saya, itu adalah tulisan rangkuman yang saya tulis dalam buku!”
Seohyun mengeluarkan buku dari tasnya. Lalu membuka halaman yang dia ingat persis. Jessica melihat pada halaman itu sebuah halaman kertas sobek. Meninggalkan bekasnya yang tidak wajar dan tidak begitu rapi.
“Lihat unnie! Seseorang merobeknya! Seseorang telah menjebak saya! Dengan memanfaatkan rangkuman yang telah saya tulis. Dan memfitnah saya!”
Lalu Jessica menyadari bahwa ini pasti perbuatan para penindas. Sampai memfitnah segala, mereka bahkan sudah berbuat sampai sejauh ini!
Tapi Jessica tidak bisa berbuat apa-apa kalau para penindas mereka berjumlah banyak. Hampir satu sekolah seolah sudah memusuhi mereka. Mungkin bagi mereka ini adalah kesempatan. Karena Jessica adalah ratu sekolah ini sedangkan Seohyun adalah murid paling teladan di sekolah ini. Terkadang orang jika dihadapkan dengan ketenaran atau nama baik orang lain, mereka yang tidak mampu suka begitu iri hingga rasanya ingin menjatuhkan.
“Sekarang bukan hanya semua orang menindas saya! Beasiswa penuh saya juga dicabut!”
Lama Jessica hanya terdiam. Ruangan dipenuhi isak tangis Seohyun.
“Unnie…”
“Ya Hyunnie?”
“Rasanya saya ingin mati saja.”
“…………….”
“Saya sudah tidak tahan dengan semua penyiksaan ini…”
“…….kalau begitu aku akan menemanimu Hyunnie…”
Pelan Seohyun mengangkat wajahnya. Melihat raut wajah Jessica. Sorot matanya juga menyiratkan rasa sakit hati yang sama dalamnya.
“Unnie… serius?”
“Ne, sebenarnya aku juga sudah tidak tahan dengan semua penyiksaan ini. Sudah beberapa kali aku berpikir ingin mati saja. Hanya saja aku takut kalau sendirian…”

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Two Hearts (Chapter 3)" (76)

  1. Andwe!!! Jgn bnuh dri dong aaahh.. Dosa atuh neng… Sdh, pndah k indonesia aja#mwy tuuuhh… Selalu qnanti ffy Thor… Majuuuu

  2. so sweet^^
    kapan yuri datang?? *yulsicshipperkumat*
    biarpun gk ama yuri, ksih peran dong.

  3. What… No! No! No!
    Jangan masa mau unuh diri ..
    Seosic jgan bunuh diri..

  4. jessie ini ingin mati takut kalau sendirian jadi cari temen hahahaha adaadasaja ini sica XD rada tragis sih kak ceritanya. pe segitunya bzzzz mereka agak tau kali ya cari beasiswa itu gak gampang? *sok serius* yuri? oo oou

    angkat 5 jempol buat kakak *jempol satunya pinjem tetanggnga* yg sering banget update. hahah suka suka sssssssssuuuuukkaaaa XD thank you 😛

  5. Bunuh diri ? Jangan sampe dch !
    Kan kata nya ada pairing lagi ya yg muncul ? Tp kok gak muncul2 yah ?

  6. annyeong…

    Nah loh? SeoSic mau bunuh diri? jangan dong~ kasian ntar rumah JessJung ga ada yg nempatin 😦 #maap salah topik sayah /.\

    Beasiswa Hyunnie juga di cabut? Lengkap sudah penderitaan nya 😦

  7. ehhh… apa mreka balalan bunuh diri??? sad ending??? kyk TaeNy waktu itu (lupa juful FFny)?????
    andwaeeee!!!!!

  8. Yulsicbaby said:

    Yah jangan bunuh diri dong ._.
    Ampe segitunya yah seosic di bully, kejem banget se sekolah tuh ._.
    Guru nya juga ga mau denger dulu penjelasan seo, duhh greget :3

  9. begrippen_yoong said:

    aigo kalau Seosic mati maka kemenangan berada di pihak penindas, tp gpp. klo bisa hantui saja mereka semua sampai gila, hahahhahahahhahha…..

  10. kejaammmm. gilak ga ada kerjaan lain apa selain nyiksa orang lain?!
    jahat banget, rasanya pengen nangis juga. cinta kan dateng ga pilah pilih orang u,u
    siapapun tolong mereka!!! *teriakdariataspohon*
    taeyeon, sunny, tiffany, hyoyeon, sooyoung, yoona, sunny, yuri, lee soo man, manager oppa, krystal, amber, luna, sulli, victoria #gubbraakk

  11. hahaha mw mati nyari teman. Dasar seosic. Tp gw rada kasian ama mreka brdua. Aduh masa jesjung yg memiliki segalanya gk bsa membalik keadaan lg. Kasian tuh hyunnie jd korban.

  12. Ya elah sica mau bunuh diri takut sendiri …
    ujung”nya ngajak hyunie bunuh diri haha .

  13. Desi si locksmith said:

    Nyesek bnget un chapter ini..
    Huaa…huaaa… T T
    zaharaaaa bnget para penindas itu..
    Kapan seosica bhagia…
    Cinta sejati kok bnyak bnget sih cobaan nya…
    Andwae……jangan mati donkk,ntar member snsd berkurang 2 lagi…
    Bgus jiyeon ama hyomin aja yg mati..
    #plok
    DAE..hikss,..hiksss BAK…hikss,..hikss
    #ceritanya nangis smbil muji

  14. What o_O bunuh diri? boleh kok, nanti mayatnya aku curi hbs itu di awetin *pikiran jahat* hehe *smirkWhat o_O bunuh diri? boleh kok, nanti mayatnya aku curi hbs itu di awetin *pikiran jahat* hehe *smirkWhat o_O bunuh diri? boleh kok, nanti mayatnya aku curi hbs itu di awetin *pikiran jahat* hehe *smirkWhat o_O bunuh diri? boleh kok, nanti mayatnya aku curi hbs itu di awetin *pikiran jahat* hehe *smirk*

  15. Kata2 menegangkan sica koq jdi lucu ea di akhir klimat gra2 ‘hanya saja aku takut kalau sendirian ‘ ..
    Ngakak sumpahh ..
    Xeexeexee ..
    Seosic seriuss nie …

  16. boleh gw peluk sica sm seohyun? #salah
    wah wah, cepet bner ngmg mati 😦

    *melirik komen di atas, abis ini ngensi? -.-“

  17. nooooo waayyy. jgn bunuh diri. sayang nyawa kalian… kami selalu mendukung kalian dan biarin para penindas masuk ke neraka

  18. hahaha bener juga tuh, yg td nya gw udah ng’rasa horror mrk ngomongin soal mati, b’ubah jadi pengen ngakak gara2 baca kalimat t’ahir nya Jessica. . .haha
    hareuuuuh~ mba’ Jess. .mba’Jess aya-aya wae, mati pengen da temennya sgala. .

    next thor. . ^_^

  19. agustina_huang said:

    Tuh pengganggu 1 skolahan kjem bnr smuanya… Kasian kan seo,udh blajar mati2an malah dituduh nyontek..izz ksel dah…
    Nah loh..koq jd kpikiran mati bareng nih..huaaa 😦 jgn mati donk seosic…

  20. kasian bangjet ngeliat hyunie ku di tindas (apa hyunie mu teriak jessica.sambil memasang death glare)
    mianhe sicca nuna peace deh
    thor tolong munculin siapa kek buat nolongin mereka

  21. TaengSicababy said:

    Ahhh seosic so sweet.. Sehidup semati.. Hehe :*
    knapa sica gk ngadu ajah ke bapak nya.. :3
    dtunggu lnjutan nya ya author..

  22. waaa jangan bunuh diri. mesra mesraan dulu,

  23. Yoonyul_coy said:

    Apes bner si hyunie,.. 😦
    konfliknya bner2 cethor coy… sipdeh semakin seru critanya… 😀
    ya ampun ya ampun msak hyunie mau bnuh diri … 😦
    ayolah hyunie semangat dunk , 🙂
    kalau kmu mati ntar keroro tmennya cp eh hahahaha 😀
    sip coy mkn pnsran gue ma kelanjutannya!

  24. Andeweh jangan sampe ya bunuh diri ga baik onie tuhan ga suka hehe

  25. hana mutia said:

    heh! bunuh dri?
    end dong ya seosic nya ahahahaha
    tp kok rda ngakak pas sica blg ” Hanya saja aku takut kalau
    sendirian…” ahahahahaha
    mw mati ngajak2 org. dsar sica 😀

  26. jangaaaaaaaaaaaaaaan
    pasti akan ada penyelesaian. semua akan indah pada waktunya. tpi gak yakin juga, scr authornya rada evil juga -_-

  27. couple yg masih ‘ketinggalan’ siapa sih?

    bunuh diri?
    masa iya?
    klo aku sih drpd bunuh diri mending ngadu ke ortu deh.
    biar yg ngebully pada di drop out smua.
    lgpla knp cona sica g mau ngaduin ulah teman sekolahnya pd ortunya yg merupakan donatur?
    takut hub nya dgn hyunnie ketauan?
    udah kepalang basah kesebar seantero sekolahan juga.
    jd ortunya tau tinggal mslh waktu.
    mndng bilang duluan deh ke ortunya soal hub nya dgn hyunnie.
    yg ptg menyingkirkan dulu para pembully, baru mikirin masalah yg lain.
    -_-

    drpd bunuh diri.
    konyol.

  28. kwon jess said:

    mo bunuh diri bareng toh?? tp kyk nya sica nunggu tmn buat mati bareng

  29. sesica bikin galau nih,,,,
    masa mau bunuh diri sgala, jngn dong,,,,,
    hadeeehhh….

  30. bunuh diri kok ngajak2…
    tpi walaupn bunuh diri ny ngajak2 ttp gk blh bunuh diri seosic…

  31. Kim eveel said:

    Akhhhh ak bsa gilaaaa
    bener” ga bsa liat seosic trtindasss huhuhu…smoga mreka baik” aja

  32. Ahh gak mau .. Apa apaan tuh masa mau bunuh diri berdua si…
    Kesian juga si emang kalo ditinas kadang kadang kita juga pasti sempet mikir buat mati.. *curhat

  33. Aduh sica ma seo jangan bunuh diri donk gak kan menyelesaikan masalah

  34. Cius thor aku sebel -_-
    Ekhhh! Itu parah bgt..
    Sica pake kewenanganmu dong! Suruh appa mu beli itu sekolah atau apalah -_-”

    Hyunnie.. Dont cry 😦

  35. yoonadicttttt said:

    YAAA… jgan bunh diri

  36. jgn!!!
    Oh no……..
    My seosic.. T.T

  37. setres.. ih jangan atuh >,<

  38. gilakkkk gua ampe nangis, padahal nyolong – nyolong bacanya di kantor 😦
    andweee, aku tidak rela

  39. shosiiinewreader said:

    uwahhhh,seosic jangan mati dulu!!nanti epepnya berakhir di kuburan?-salah ya?-
    maksudnya berakhir di sini!
    gak terima deh kalau matinya cepet2,kan nc-an nya belum,trus misterius couplenya juga belum nongol -ngeliat dari balik tirai-
    pokoknya hwaiting thor

  40. lanjut terus thor..

  41. kek udah mau end..
    tapi ga mungkin kan.. pasti ada kejutan di chap selanjutnya.
    lanjuttt..
    #itu pikiranku pas waktu pertama kali baca chap ini. hehehe
    lanjut ke chap 5!

  42. Shin Young said:

    Aigooo andweee….

    Seosic gx boleh bunuh diri,itu artinya mengaku kalah sama semua penindas br*ngsek itu!

  43. aigooo….ini mau bunuh diri ko ngajak2
    parah banget tuh satu sekolah nindas ya kebangetan sampe fitnah

  44. yah kasian sekali hyunie difitnah… eh Sica Lola bgt tau informasinya..
    author daebak
    itu nomer aq,,klo ga kbrtan ksih tau aq klo dh update ff bru
    gomawo ^_^

  45. bee my gg said:

    Eh, eh, eh, jgn pd mau bnuh diri dong..
    Ntar author nya bingung yg gntiin klian d ff sapa cb?.. Ms pairing kalian? (yoona sm yuri?) yg ad mreka bkn nya d tindas- mlh bls nindas, hahaha..
    Ksian jg nnti author nyetting ulang alur critanya, hehe..
    Piss thor!

  46. bunuh diri? gak mungkin kan thor? kalo iya, ceritanya gk lanjut dah.. tapi lama2 gue juga gk tahan merrka dtindas gitu.. gue juga akhirin idup ahh. bye thor! #bercanda

  47. Yoloh…..
    Mati kok ngajak….

    Kan serem

    Sabar eonnideul , semua akan indah pda saatnya *sok bijak

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: