~Thank you for your comments~

Sunny Bunny (Chapter 3)

A/N : Baru kali ini bikin ff SooSun yang mereka gak banyak berantem atau saling membully. Sunny gak galak juga 😛
Malah disini sangat damai dan sweet haha 😀 (boleh dong, kan di saat tertentu Sooyoung bisa juga gentle sama Sunny #malah curcol 😛 )
Apa boleh buat karena disini Sunny itu pet nya Sooyoung, makanya jinak sekali dan tidak menggigit^^ wkwkwk
enjoy~

“Sooyoungie, wortel! Wortel!” kata Sunny manja.
“Iya, aku tahu, tadi pagi kan aku sudah janji,” kata Sooyoung sambil menuju ke dapur.
“Yeeeeeee!”
“Hahaha, senang sekali dia.”

Menu makan siang mereka hanya nasi dengan sup wortel.
“Dan ini ekstra.”
Sooyoung memberikan segelas jus berwarna oranye ke hadapannya.
“Apa ini?”
“Jus wortel. Vitaminnya baik untuk kesehatan mata.”
Sunny mencoba meminumnya. “Enak! Seperti wortel versi cair!”
“Hahaha, lucu, pakai kata versi segala.”
“Gomawo Sooyoungie.” Sunny menunjukkan eye smilenya.
Sooyoung merasa betapa indahnya eye smilenya itu. Sunny meminum habis jus wortelnya. Sooyoung tersenyum kecil melihat bibir Sunny belepotan. Sooyoung tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeka bibir Sunny dengan ibu jarinya. Sunny hanya terus tersenyum sewaktu Sooyoung mengusap bibirnya. Dan malah Sooyoung yang jadi malu sendiri.
Sooyoung juga mengalah dan hampir tidak memakan wortel dalam sup itu supaya dapat terus melihat senyum di wajah Sunny.
Setelah makan Sooyoung mengambil alat pancing dari gudang. Sebelum membawanya, Sooyoung mengecek isinya dulu.
“Sip, tinggal umpan saja.”
“Sooyoungie, gudangnya hampir nggak ada isinya ya?”
“Ya, soalnya sebagian barang sudah di loak. Umma tidak mau ada barang menumpuk yang akhirnya hanya dibiarkan begitu saja. Jadi isinya sekarang hanya tinggal sedikit barang yang masih diperlukan saja.”
“Hmm…”
Lalu mereka berdua berjalan ke halaman rumah.
“Lalu bagaimana dengan umpannya?”
“Soal itu tidak masalah, karena itulah kita disini.”
“Disini?”
“Ya, disini.” Sooyoung mengambil sekop kecil dan mulai menggali.
“Ohh.” Sunny baru mengerti ketika dia melihat beberapa cacing tanah menggeliat-geliat di tanah.
“Karena tanah disini subur, jadi kamu hampir bisa menemukan cacing di berbagai tempat di desa ini. Jangan jijik ya,” kata Sooyoung sambil memasukkan cacing-cacing ke dalam kotak kecil yang bisa ditutup lalu memasukkannya ke dalam kotak pancing. Lalu mengambil ember.
Sooyoung juga tak lupa mengambil topi jerami miliknya. “Karena mungkin silau. Kajja.”

Kemudian mereka berdua pergi ke sungai. Setelah menemukan tempat yang bagus, Sooyoung membuka kotak pancingnya dan mengeluarkan dua tongkat pancing.
“Kamu punya dua?”
“Ya, soalnya kadang kalau ada waktu luang, aku diajak memancing sama Appa.”
Sunny merasakan sesuatu ditekan ke kepalanya.
“?”
Ternyata itu topi jerami Sooyoung.
“Untuk melindungi wajahmu dari sengatan matahari. Ternyata kamu terlihat manis memakai itu.”
Setelah dikatakan begitu, Sunny tersenyum dan tidak jadi melepas topinya.
Tongkat pancing yang ditekuk tinggal diperpanjang oleh Sooyoung, tidak perlu melakukan pengaturan lain karena benang dan kailnya sudah terpasang.
Sooyoung mengeluarkan kotak berisi umpannya.
“Nah, sekarang pasang umpannya. Kamu takut Sunny?”
“Kenapa harus takut sama cacing tanah? Bukannya makhluk itu jauh lebih kecil dari kita, lagian mereka tidak menggigit.” Sunny malah merasa sedikit heran.
“Yeah iya, tapi kebanyakan yeoja kan takut memegang cacing. Jijik kata mereka.”
“Begitu ya.”
“Aku juga awalnya jijik, tapi melihat Appa sering melakukannya dan tidak terlihat takut sama sekali akhirnya aku mencobanya dan lama-lama aku terbiasa.”
“Aku nggak takut tapi… aku agak kasihan sama mereka…” kata Sunny waktu melihat Sooyoung memasang cacing itu di kail.
“Ah bilang saja kamu takut,” ejek Sooyoung.
“Tidak! Aku benar-benar!”
Sooyoung pikir Sunny gadis yang berhati lembut sampai tidak bisa melukai hewan.
“Oh oke, kalau begitu sini kupasangkan untukmu.”
Akhirnya Sooyoung membantu memasangkan umpan di kailnya.
“Lalu lemparkan seperti ini.” Sooyoung memberi contoh.
Sunny ikut melemparkan dan kail berisi umpan itu tenggelam di dalam air.
“Lalu?”
“Tunggu sampai ada reaksi.”
“Kapan itu?”
“Tergantung, kalau ikannya lagi lapar pasti cepat dapat, hahaha!”
Mereka menunggu sambil duduk. Sudah lima belas menit berlalu, tapi masih belum dapat.
“Kapan nih kenanya?” Sunny mulai merengek tidak sabar.
“Mancing itu harus sabar,” kata Sooyoung tenang saja.
“Tapi mau sampai kapan?”
“Kadang juga sejam baru dapat.”
“Aww, aku bosan~”
“Kalau gitu sambil nunggu, nih.” Sooyoung memberikan sebuah permen.
“Apa ini?”
“Tidak tahu? Ini permen, rasanya manis, cobain deh.”
Sunny membuka bungkusan permen, memegangnya di telapak tangan, membawanya ke depan hidung dan mengendusnya sejenak.
Sooyoung tersenyum miring. “Kenapa dicium segala?”
Merasa baunya wangi, lalu Sunny baru memasukkannya ke dalam mulutnya dan merasakannya untuk yang pertama kalinya.
“Enak! Manis!”
“Ya kan?”
“Ada lagi?!”
“Ini masih banyak.” Sooyoung mengeluarkan segenggam penuh dari kantongnya. “Ada banyak rasa yang berbeda, strawberry, blueberry, cherry, lemon, cranberry.”
“Yeeeyyy!”
Keduanya menikmati pemandangan sambil memakan permen. Sooyoung merasa menghabiskan waktu bersama Sunny selalu sangat menyenangkan, karena dia selalu memandang semua hal sebagai hal baru, seperti anak kecil. Dan Sooyoung tidak mempermasalahkan darimana asal Sunny lagi. Dia malah berharap Sunny bisa tinggal lebih lama atau malah jadi bagian dari keluarganya.
Tiba-tiba ada reaksi dari tongkat pancing Sunny.
“Kena!” seru Sooyoung. “Jangan langsung ditarik!”
Sunny tidak begitu mengerti cara memancing, tapi dia berusaha sebisa mungkin. Tapi gagal. Begitu diangkat, tidak ada apa-apa disana, bahkan umpannya juga tidak tersisa.
“Ahhhh!”
“Apa boleh buat, kadang memancing tidak segampang itu. Ohh!” Tiba-tiba Sooyoung juga merasakan ada yang menarik benangnya.
“Ayo dapatkan Sooyoungie!”
“Yeah!”
Dengan pengalaman Sooyoung, dia berhasil mendapatkan ikan itu.
“Waaaa hebat!” Sunny bertepuk tangan. Tapi setelah melihat ikan itu menggelepar-gelepar di ujung kail, dia jadi kasihan pada ikan itu. Karena dia sendiri tadinya adalah hewan maka dia seolah bisa merasakan penderitaan itu.
Nantinya ikan ini akan dipotong dan dimakan… pikir Sunny.
Sooyoung lagi melepaskan kail di mulut ikan itu. Lalu melihat wajah Sunny sedih.
“Jangan jijik makan ikan yang memakan umpan cacing ya, kan nanti isi perutnya juga dibuang . Hmm? Kenapa Sunny? Tadi kamu terlihat senang lalu tiba-tiba jadi sedih.”
“Ikannya kasihan…”
Sooyoung melihat Sunny memeluk kedua lengannya sendiri dan matanya terlihat seperti mau menangis. Jadinya Sooyoung tergerak untuk melepaskan ikan itu. Mereka berdua melihat ikan itu berenang pergi.
“Sooyoungie? Kenapa dilepas?”
“Yahh… tiba-tiba aku jadi teringat pada bunnyku yang sudah mati. Lalu aku jadi kasihan. Ah bunny yang kumaksud itu kelinci yang dulu pernah kupelihara,” jelas Sooyoung.
Sunny merasa terharu.
Tapi bunny itu sekarang adalah aku, Sooyoung, walau aku tidak bisa mengatakannya padamu karena kamu akan merasa aneh dan mungkin malah takut padaku, pikir Sunny.
“Kita pulang saja yuk?”
Sooyoung membereskan peralatan mancingnya, melepas cacing-cacing tanahnya dan mereka pun pulang.

**

“Sudah sore, ayo kita mandi.”
“Mandi?”
“Ya, sejak kamu datang kesini kamu belum mandi kan?”
Sunny sedikit takut sama mandi. Karena itu artinya tubuhnya akan disiram banyak air. Tapi dia juga tidak bisa menolak, karena nanti Sooyoung jadi jijik padanya.
“Kamu mandi saja duluan. Aku mau meletakkan alat pancing ini di gudang.”
Tapi Sunny malah menarik lengan bajunya dan memohon. “Kita mandi sama-sama ya?”
“Hah?”
Sunny masih terus memandang Sooyoung dengan tatapan penuh harap.
“Serius nih?”
Sunny mengangguk.
Sooyoung merasakan pipinya menjadi panas. Melihat Sunny telanjang sudah pernah dan dia tidak masalah, tapi ini berarti dia akan harus memperlihatkan tubuh telanjangnya di depan Sunny juga.
“Baiklah.” Tapi mulutnya malah berkata begitu dengan sendirinya.

Sooyoung POV

Tidak usah malu, kita kan sesama yeoja, pikirku sambil memberanikan diri.
Akhirnya kami berdua benar-benar masuk ke kamar mandi dan telanjang bersama.
Si pendek ini, walau pendek tapi tubuhnya benar-benar berisi.
Padahal manis tapi juga seksi…
Kulihat dia melihat ke arahku. Mendadak aku jadi gugup, sedikit berdebar menunggu apa komentarnya terhadap tubuhku.
“A-apa?”
Tubuhku memang tidak seksi. Hanya menang tinggi saja dan kaki panjangku. Walau aku sudah berusaha makan banyak untuk menambah sedikit berat badan pun tubuhku tidak pernah gemuk, yang ada hanya pipiku yang tembem.
Mendadak aku merasa geli di sekitar area perutku. Mataku membulat ketika melihat ternyata tangannya sedang meraba perutku.
“Sooyoungie, absmu lumayan juga.”
Di-diusap?!
Tubuhku menjadi panas di area yang disentuhnya.
Aku merasa matanya sekarang juga melihat ke arah dadaku.
Sebelum dia berkata apa-apa aku segera membalikkan tubuh, kemudian mulai konsentrasi mandi. Air dingin yang menghajar tubuhku untungnya mampu mendinginkan otakku sebelum mulai berpikir macam-macam. Pipiku juga panas karena malu.
Tapi tentu saja aku masih harus membantu Sunny mandi. Aku memberi shampoo pada rambutnya dan menyuruhnya untuk menyabuni tubuhnya sendiri. Untungnya dia cepat belajar. Ketika aku mengguyur tubuhnya dengan air, dia tampak seperti kelinci yang meringkuk kedinginan.
Tak kusangka mandi bersama begini menyenangkan juga. Meski aku masih sedikit malu.

**

Third Person POV

Jam 7 malam, sehabis makan. Jam 7 di desa ini masih senja, jam 8 baru matahari tenggelam sepenuhnya.
Saat Sooyoung dan Sunny hanya berdua di dalam kamar.
Sunny menarik lengan baju Sooyoung.
“Kenapa?”
“Bisakah… malam ini aku tidur di kamar lain?”
“Eh?”
“Gudangmu saja, tadi kulihat disana kosong. Boleh ya?”
“Boleh saja sih, tapi kenapa tiba-tiba?”
“Eh… emm… aku butuh sedikit privasi. Jebal…”
“Ya baiklah kalau kamu memaksa.”
Kemudian mereka berdua sama-sama kesana. Gudang itu letaknya tidak terhubung dengan rumah Sooyoung. Mereka harus melintasi halaman rumah untuk sampai kesana. Sampai disana mereka sedikit membersihkan tempat itu.
“Tapi disini tidak ada kasur.”
“Tidak apa-apa, lagipula sekarang sudah lebih bersih. Lagipula gudang ini juga ada lampunya.”
“Tapi-”
“Karena aku sudah mengantuk, aku mau tidur. Sampai besok.”
Sunny mendorong Sooyoung keluar seolah setengah mengusirnya dan cepat-cepat menutup pintunya.
Sooyoung tidak mengerti dengan tingkah Sunny.
“Ya… kalau dia memang menginginkan privasi sih.”
Akhirnya Sooyoung berjalan pergi.
Setelah memastikan Sooyoung tidak ada di depan, Sunny bersandar di depan pintu dan melihat keluar jendela.
“Hampir saja… beberapa menit lagi matahari akan terbenam…”
Sunny hanya bisa mempertahankan wujud manusianya berkat bantuan cahaya matahari. Kalau tidak tubuhnya akan kembali menjadi kelinci, kecuali kalau dia sedang birahi karena pada saat itu hormonnya meningkat.

Waktu malam hari menjelang subuh. Di atas tempat tidurnya, Sooyoung memandangi langit-langit kamarnya. Dia sudah tidur tapi bangun lagi. Bukan karena mengharapkan Sunny tidur di sebelahnya seperti kemarin. Dia hanya kepikiran Sunny yang tidur di gudang, tanpa ada kasur atau pun selimut.
Sooyoung benar-benar merasa tidak enak hati. Bagaimana kalau lantainya terlalu dingin untuk tidur? Bagaimana kalau saat ini Sunny sedang meringkuk kedinginan disana?
Sooyoung tidak bisa membuang pikiran itu.
Akhirnya dia bangun dan mengambil selimut serta bantal miliknya. Bermaksud menuju ke gudang.
Sementara Sunny di dalam sana, sudah tertidur dengan wujud kelinci. Telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat. Sepertinya menuju ke arah sini. Kemudian dia segera bersembunyi dengan cepat dibalik barang dalam ruangan itu.
Sooyoung mengetok pintunya sebelum membukanya. “Sunny? Maaf menganggu subuh-subuh, aku datang membawakan selimut dan bantal untukmu.” Sooyoung menyalakan lampunya.
Dalam sekejap sinar lampu menerangi seluruh ruangan itu.
DEG!
Jantung Sunny berdebar kencang.
Sooyoung. Orang yang dia tidak ingin mengetahui sosoknya. Untunglah dia tidak terlambat bersembunyi.
“Sunny?”
Sooyoung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tapi tidak melihat sosok Sunny.
“Dimana kamu?”
Sooyoung meninggalkan bantal dan selimut itu di gudang, lalu pergi. Mencari ke satu tempat lain yang mungkin dikunjungi Sunny. Sooyoung mendorong pintu kamar mandi, dia tidak melihat ada siapa-siapa di dalamnya.
“Sunny?”
Hatinya mulai cemas.
Dimana Sunny pada jam segini?!
Karena tidak mau membangunkan kedua orang tuanya yang lelah bekerja, Sooyoung mengecilkan suaranya dan mencari ke seluruh penjuru rumah.
“Sunny? Sunny?!”
Masa sih dia pergi? Tapi dia bahkan tidak pamitan. Atau dia hanya keluar rumah? Pikir Sooyoung.
Benaknya langsung dipenuhi dengan berbagai pikiran negatif tentang apa yang mungkin terjadi karena Sunny sendirian diluar sana. Sunny, gadis yang asing di desa ini.
Tanpa mengganti baju lagi atau menyambar jaket, Sooyoung langsung keluar rumah dan mencari-cari Sunny.
“Sunny?! SUNNY?!” Sooyoung terus memanggil-manggil namanya, tidak peduli berapa banyak dia membangunkan para tetangga.
Tentu saja pencarian Sooyoung tidak membuahkan hasil, karena sebenarnya Sunny masih ada dalam gudang sana. Tapi Sunny merasa tidak bisa menampakkan dirinya begitu saja karena masih dalam sosok kelinci.
“Sunny! Su…uhuk! Uhuk!” Sooyoung mulai kehabisan suara karena terlalu banyak berteriak. Nafasnya tersengal-sengal. Kulitnya menjadi dingin akibat kelamaan diterpa angin malam dengan hanya sehelai baju. Apalagi dengan tubuhnya yang kurus, dia tidak mampu menolak dingin yang terasa sudah merasuk sampai ke tulang.
Akhirnya cahaya matahari mulai muncul di ufuk timur.
“Sudah pagi…”
“Sunny… kemana kamu pergi… kenapa kamu tidak bilang-bilang padaku…”
Kemudian Sooyoung jatuh pingsan.

**

Paginya Sooyoung baru ditemukan oleh sejumlah orang kemudian dibawa pulang ke rumah Sooyoung.
Dengan dibantu orang tuanya, Sooyoung langsung dibaringkan ke tempat tidurnya. Tubuhnya panas karena demam.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu di luar subuh-subuh?” tegur Appanya.
Sooyoung membuka matanya dan melihat Sunny yang berdiri di belakang kedua orang tuanya. Mata mereka bertemu. Wajah Sunny terlihat seperti orang yang merasa bersalah.
“Mianhae… aku cuma jalan-jalan sebentar untuk cari angin lalu malah jadi kelamaan,” alasan Sooyoung karena dia tidak mau Sunny disalahkan.
“Lain kali jangan seperti ini lagi! Bikin orang tua khawatir! Bikin repot tetangga!”
“Iya, umma.”
“Ya sudah, sekarang biarkan dia beristirahat saja,” kata Appanya, lalu berpaling pada Sunny. “Tolong jagain Sooyoung ya.”
“Ne, ahjussi,” jawab Sunny sambil setengah membungkuk. Kemudian kedua orang tua Sooyoung keluar dari kamar dan menutup pintu.
Sunny berjalan ke samping Sooyoung dan duduk di sebelahnya.
“Sunny, semalam kamu kemana?”
“Mianhae…”
“Kamu tidak mau mengatakan kemana kamu pergi?”
“…………….”
“Tolong jangan membuatku cemas lagi.”
“Jeongmal mianhae…”
Pada akhirnya Sunny hanya bisa tutup mulut dan minta maaf demi menjaga rahasianya.
“Ah, sudahlah, kamu tidak perlu terus meminta maaf. Kurasa kamu memang punya privasi. Maaf kalau aku sudah mencampuri privasimu, aku hanya khawatir karena kamu menghilang tanpa pamitan.”
“Sooyoung…”
Sooyoung menghembuskan nafas lelah dan memejamkan matanya. Kemudian dia merasakan sebuah tangan menyentuh pipinya yang panas.
“Apakah sakit Sooyoung?”
“Eh?”
“Suhu tubuhmu lebih tinggi. Sekarang ini… apakah tubuhmu menderita?”
“Haha, dibilang menderita juga berlebihan. Ini hanya demam biasa. Penyakit yang umum. Semua orang juga pasti pernah mengalaminya.”
“Tapi nafasmu terdengar tidak normal.”
“Kalau minum obat dan istirahat nanti juga sembuh. Tapi ahh, padahal aku ingin melihat kunang-kunang.”
“Kunang-kunang?”
“Ne, pada saat musim-musim begini di tepi sungai pada malam hari banyak sekali kunang-kunang. Aku ingin mengajakmu kesana dan memperlihatkannya.”
DEG!
“Apa boleh buat, setelah aku sembuh ya. Aku janji pasti akan mengajakmu untuk melihatnya.”
“I-iya, aku akan menantikannya,” jawab Sunny sambil memaksakan senyum.

**

Hari itu tidak banyak yang bisa dilakukan. Karena Sooyoung harus istirahat, maka Sunny harus menghabiskan waktu seorang diri. Sunny sendirian di dalam gudang, membaca beberapa buku. Kemudian dia terpikirkan kembali ajakan Sooyoung. Dan menjadi galau.
“Malam hari… mampukah aku mempertahankan sosok manusiaku selama satu sampai dua jam…?”
Kalau dirinya sedang birahi mungkin dia bisa. Tapi Sunny tidak ingin begitu. Dia merasa jadi seperti menodai Sooyoung yang tulus mengajaknya.
“Tapi aku ingin pergi…”
Sunny sudah membayangkan akan melewatkan malam berdua yang romantis sambil melihat kunang-kunang.
Mata Sunny berkaca-kaca sekarang.
“Karena aku menyukai Sooyoung…”

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Sunny Bunny (Chapter 3)" (65)

  1. Iya jadi sedikit aneh si kalo gak ada berantem/membully kkkk

    • ah kata siapa SooSun selalu membully, mereka jg bisa romantis kok
      aku bahkan bisa menyebutkan moment2 mereka yg tanpa membully^^ hehe

  2. annyeong…

    ”Karena aku menyukai Sooyoung…”
    Maka aku akan berubah menjadi power ranger untuk menutupi wujud ku yg asli pppfffttt

    Aku lebih suka dengan SooSun yg seperti ini 😀 kesan nya mereka sweet-sweet gimana~ 😉

  3. Ska bnget sweet momennya soosun jarang bnget

  4. Huh… hmpir ktauan… Tpi Soo jd sakit.. Ehh, gmn cra sunny mmprthnkn wjud mnusiany unk liat kunang2? Apa dia akan…….?

  5. hana mutia said:

    yahhh ksian sunny jd galau gtu gegara mw liat kunang2 sm soo tp tkut brubh jd klinci. ywd, sunny d bkin birahi aj thor spya bda brthan jd manusia d mlam hari. sruh soo #eaaa mksa 😀

    kya~ sunny n soo udh mlai sma2 suka nih. cieeee
    tp konflik blm ad kyny, jgn dly deh.
    sweet2 moment dlu soosun nya 😀

  6. Gaega93 said:

    Aissh sweet nya , rasanya pengen klepek klepek(?) , ahaha aku suka sweet moment soosun yg begini , lanjutkan thor 😉

  7. Ah so sweet. . .ammm, tapi ap sunny bsa brtahan dngn wujud manusia. . .ahh, hx dngn cara birahi, apaan itu?apa mksudx harus ‘itu’?emmm kasian sunny. . ..ah, ,gk ad cara lainkah??hehehe. ..
    Lanjuuuuutt. . .

    Hehe, keep spirit. . .

  8. sunny nya galau. Gw harap sunny bsa liat kunang2.

  9. unnie, sunny bisa membaca kah? kan kelinci. hehe
    maksudnya sunny bisa bertahan tanpa jadi kelinci kalo sedang bergairah gitu? *smirk* 😀
    sweet banget nih cerita. bacanya ikut berbunga-bunga XD

    • Bisa dong, kan sdh jd manusia, ngomong aja bisa #alasan
      Ho oh 😀 #yadong mode
      Nanti chp dpn bakal lbh romantis 😉

  10. Mantan kelinci kecil milik soo yg sabar ya. .
    Pasti bs indah pd waktu.a -.-
    tak perlu galau2an lg

  11. sunny & soo ud saling suka ni

  12. Kyaaaaa soosun romantissss…jd pengeeeen #plaak
    ahh,,sunbun udd suka ama sooo..
    Ahh ipdatenya cpt,,suksukaaa…..
    Ffnya kereeeeennn

  13. Kwonyoonyul_Acoy said:

    Wah soosun semakin romantis aje asoyy dtunggu kelanjutannya!

  14. omo! keren lucu jadi satu… ditunggu kelanjutanya

  15. Miss New New said:

    aawww sebentar lagi malam pertama merekaa
    *siapkan teropong malam dan autan

  16. kcian bgt
    mdh2n jd manusia seutuhnya

  17. gara2 si kunang2. ..sunny akankah gitu2in sooyoung????
    pikiran kotor msuk tnpa ijin nih gra2 kta birahi… muehehehe

  18. shosiiinewreader said:

    omo 2 hari gak buka WP ternyata udah ada cerita baru…
    wah sunny unnie dilema ya..kasihan juga..soo unnie sayang banget sama bunny..eh..sunnynya sampai di cariin and pingsan..top deh..

  19. salut sama karakter syoo di ff ini
    asli baik banget sama sunny hehe
    ditunnggu lanjutannya ya author 😀

  20. agustina_huang said:

    So sweet… Sunny bnr2 sk sm soo…smntara soo jg care bgt sm sun…
    Ehmm…gmn cara nya tuh spy sun bs prgi dgn soo ya? Kan kasian klu batal prgi.. 😦

  21. annyeong reader baru imnida
    ane sangat gemes sama sunny yg bisa bikin si youngie salting kayak gitu hwaiting thor moga bisa buat ff yg lbh good lg

  22. wow. sy berharap yang atas mendengar harapan sunny utk mempertahankan wujud manusia sehingga sunny bs mengatakan aku menyukaimu.
    kalo gak terkabul, mendingan nyala api unggun gede ato birahi (?).

  23. hahaha iya nih, ff soosun yg satu ini manis, beda sama biasanya yg kayak tom & jerry 😛

  24. prillyties said:

    manis banget nih ff , wew kalau sunny lagi birahi dia bisa lama jadi manusiannya …. kekek udah sunny birahin aja (?)

  25. Wakh sunny lgi galu nie d ajak kencan ma soo tpi bingung ..
    Xeexeexee ..
    Lanjut ..

  26. nuriiiin said:

    aaah..unyu ah si sunny ini >.< hahaha

  27. sunny bunny cute banget…..kekeke….

  28. kwonbori said:

    setuju nih sama author, jarang2 di ff syoung ga membully sunny :p
    terus sunny nya polos banget lagi, tapi tetep galaunya ga ilang 😀

    *lanjut baca chapter selanjutnya*

  29. aahh tyt benar sunny jd bunny ketika malam hari..
    alamat mereka nc tipis dong?
    #plaaakk
    tpi kayaknya masih ada peluang kok.
    saat sunny sedang birahi..
    bnr kan thor~ 9(*-*) 9
    #bunny eyes
    *otak reader makin ngaco

    next chap~
    hwaiting 9(^o^) 9

  30. Lee Eun Soo said:

    Sweetness overload.. >,<

    jd Sunny udh mulai suka ama Syoo nih?

  31. ya amplop 😯

  32. soo syang bgt kayanya ma sunny, ampe rela sakit buat nyariin dia.. so sweet.
    Pas soosun liat kunang2,aku boleh ikut ga ya? 😀

  33. kwonratna said:

    si bunny udh mulai suka nih sm sooyoung:-):-):-):-)
    bunny mo di ajak kencan sm sooyoung cieeeee…..
    moga2 ntr gak jd klinci dlu ya

  34. Aku suka kok soosun yg sweet soo sampe segitu nya nyari-nyari sunny sampe jatuh sakit 😦

  35. sweetest ff ever! yg aku pernah baca, ff sweet itu pairingnya yulsic, yoonhyun, taeny. nah ini soosun, sensasinya jadi beda.. nemunya mereka biasa tengkar / saling bully

  36. the kid said:

    mulai sad ceritanya. feelnya bener” dapt. ^_^d

  37. hennyhilda said:

    Wewww birahi 😮
    frontal bgt kt2 sunny hehehe
    semangat author
    ganbatte

  38. Aduh ntar gmn sunny keluar nya
    Soo peka dong sunny menyukai mu
    Hoho

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: