~Thank you for your comments~

Repeat (Chapter 4)

Jessica POV

Ketika mataku terbuka, aku berada di tempat yang sama sekali tidak kukenal. Yang jelas ini bukan di surga.
Aku selamat?
“Taeyeon?”
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Taeyeon tidak ada dimana-mana. Ada banyak tumpukan barang-barang di pojok dan ada beberapa obat disebelahku. Aku pikir sepertinya aku berada di dalam tenda.
Aku melihat kakiku terbalut perban dengan rapi. Aku bisa tahu seseorang telah memberikan perawatan yang benar untukku. Kucoba menggerakkan kakiku dan untunglah kakiku masih dapat digerakkan walaupun samar-samar aku masih merasa sakit.
Kemudian karena penasaran aku mengintip keluar tenda. Kulihat banyak orang yang sepertinya penyihir berlalu lalang.
Ini bukan kota.. ini tempat perkemahan para pasukan penyihir?
Kemudian setelah memakai sepatu aku keluar untuk mencari Taeyeon yang kupikir pasti tidak jauh dari sini. Ketika aku berjalan di luar orang-orang melihat ke arahku, tapi aku berusaha tidak memedulikannya.
Mungkinkah karena mereka mengetahui aku terluka?
Aku berjalan dengan sedikit pincang.
Tapi tiba-tiba… aku melihat orang yang sangat kunantikan.
Daniel oppa.
Daniel oppa sedang mengobrol-ngobrol dengan seorang penyihir. Aku terus memandangnya seakan tidak percaya, bahkan sampai mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan bahwa aku tidak salah melihat. Kemudian Daniel oppa sepertinya sudah selesai mengobrol dan berpisah dari penyihir itu dan ketika dia mau pergi dia melihatku.
Aku hanya tetap diam berdiri, aku tidak tahu kenapa padahal aku sendiri yang duluan ingin bertemu dengannya. Daniel juga terlihat sangat kaget melihatku.
Kami berdua berdiri terdiam sambil memandang dari jarak jauh.

Third Person POV

Taeyeon yang sedang berjalan-jalan di sekitar sana, sedang membawa sebotol air dan kantong plastik berisi makanan. Melihat Jessica dengan Daniel yang hanya berpandang-pandangan saja.
Taeyeon menarik nafas untuk meredam rasa sakitnya, kemudian dia meletakkan kedua tangannya di depan mulut untuk membentuk corong dan berseru lantang. “Sica yaaaaaa!! Apa yang kamu lakukaaannnn?!”
“!” Jessica kaget dan menoleh ke arahnya.
“Kenapa kamu hanya diam saja?! Bukankah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padanya?!”
Beberapa orang mulai melihat ke arah mereka.
“Kamu sudah bersusah payah untuk bisa sampai kesini demi bertemu dengannya!” Taeyeon menarik nafas dan melanjutkan. “Kamu bahkan sampai harus mengalami pelecehan, demam, melewati perjalanan yang tidak nyaman, kepergok pasukan musuh, dan digigit ular! Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini!”
“Taeyeon…”
Daniel berjalan mendekat pada Jessica.
“Jessica, benarkah apa yang dikatakannya?” tanyanya dengan nada khawatir.
Mata Jessica mulai berair.
“Ne oppa, aku ingin sekali bertemu denganmu, aku benar-benar kangen…” Jessica tak kuasa untuk menahan tangis.
“Jessica…”
“Padahal kamu sudah janji akan pulang setelah satu bulan, tapi kenapa kamu ingkar janji… kamu bahkan berhenti mengirimi aku surat…” Jessica memukuli pundaknya berkali-kali.
“Maaf Jessica, situasinya tidak memungkinkan.” Daniel mendekap tubuhnya.
Orang-orang di sekitar bertepuk tangan untuk kedua pasangan itu. Sementara hati Taeyeon terasa pedih.
Jessica melihat sekilas ke arah Taeyeon. Jessica tersenyum dan berterima kasih padanya dalam hati.

**

Malam harinya, saat bulan dengan malu-malu bersembunyi di balik awan. Kedua insan yang saling mencintai sedang menikmati momen mereka berdua.
“Jessica, bagaimana keadaan kakimu?” tanya Daniel.
“Sudah tidak apa-apa,” Jessica tersenyum tanpa dibuat-buat.
Daniel merasa tidak enak.
“Jessica, mianhae…”
“Gwenchana, kan sudah kubilang tidak apa-apa, karena ada Taeyeon yang menolongku. Daniel oppa jangan minta maaf terus, nanti aku marah nih,” Jessica mencibir dengan manis.
“Haha baik, baik.”
Jessica dan Daniel terdiam sejenak.
“Oppa.”
“Ya?”
“Kenapa kamu belum pulang?”
“Oh itu maaf, karena ternyata jadwalnya tidak sesuai yang kuperkirakan, karena tadinya sempat terjebak dalam perang juga.”
Jessica langsung menjadi khawatir. “Oppa tidak terluka kan?”
“Haha, sama sekali tidak kok, tenang saja.”
“Syukurlah…”
“…maaf ya, aku berhenti membalas suratmu…”
Jessica menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting oppa selamat. Itu sudah kabar terbaik bagiku. Kalau begitu kapan oppa pulang?”
“Besok, jadi kita sekalian bareng saja ya?”
“Hmm,” Jessica mengangguk senang.

Taeyeon POV

Aku sedang berada dalam tenda, tidak jauh dari tempat mereka berdua mengobrol. Aku berusaha untuk tidur, meskipun aku sudah menutup mataku tapi mataku sama sekali tetap tidak mengantuk, padahal aku kurang tidur. Dan telingaku sama sekali tidak bisa berhenti menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya walau tidak ingin tapi aku merasa ingin mengintip mereka padahal aku tahu itu hanya akan menyakitkan, tapi aku tidak bisa mengalahkan rasa ingin tahu ini. Maka aku pun membuka sedikit untuk mengintip mereka.
Aku melihat mereka berdua sedang duduk membelakangiku beberapa meter tepat di depan pintu tenda.
“Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan datang sampai kesini Jessica, kamu gadis yang kuat.”
Jessica dan Daniel saling berpandangan dengan lembut.
Ya ya mereka terlihat seperti pasangan yang manis dan romantis, Taeyeon membatin sambil setengah menyindir. Lalu membuat wajah seakan mual.
“Jessica ini mungkin tiba-tiba tapi.”
“?”
“Maukah kamu menikah denganku?” Daniel memasang wajah serius.
DEG
“Eh?!” Jessica sangat kaget termasuk aku.
“A-aku tahu sekarang terlalu cepat tapi aku… sebenarnya aku dari dulu sangat menyukaimu. Dan aku rasa usia kita juga sudah pantas, jadi… maukah kamu bertunangan denganku dulu?” wajah Daniel memerah.
Wajah Jessica juga memerah. Tanpa sadar tanganku meremas kain tenda. Sakitnya bukan main.
“Setelah perang selesai kita akan menikah, bersediakah Jessica?” tanya Daniel agak takut ditolak.
“Iya oppa aku bersedia.”
Wajah Jessica terlihat amat bahagia di mataku.
Aku merasa dunia seakan runtuh padaku. Lalu aku kembali teringat, jika saja aku tidak menolaknya waktu itu maka aku bisa saja menjadikan Jessica sebagai istriku dengan paksa. Tanganku meremas kain tenda sampai buku-buku jariku memutih. Tapi sungguh aku tidak tega memaksa Jessica. Aku tidak mau menjadi alasan dibalik air matanya. Karena aku ingin wajah itu terus tersenyum.
“Haha…”
Syukurlah Jessica, kamu akan bahagia dengan cintamu…
Entah kenapa aku malah tersenyum, tapi senyuman ini beda… seolah kamu tersenyum jika merasa kalah atau pasrah pada sesuatu.
Kemudian Daniel membelai lembut pipi Jessica dan mereka berciuman. Lama dan dalam.
Ini pasti hal paling menyakitkan yang pernah kulihat dan kudengar dalam hidupku. Mataku kembali tergenang air. Aku begitu terguncang sampai rasanya kesulitan bernafas. Aku harus menarik nafas dalam beberapa kali.
Aku merasa sedikit menyesal sudah mengintip mereka. Aku meremas lukaku sendiri hingga lukanya terbuka lagi dan mengeluarkan darah. Aku melakukan itu sebagai pengalihan. Untuk melupakan sesaat rasa sakit di hatiku.
Tidak bisa. Rasa sakit ini tidak bisa kulupakan.
“Ukh!”
Tanganku meremas lukaku lebih kuat lagi hingga darah semakin banyak membasahi perban yang membalut lukaku.
Meski sudah mati-matian untuk melindunginya, pada akhirnya dia tetap memilih namja itu. Memang menyebalkan tapi aku harus menerima kekalahan.
Tiba-tiba saja aku menjadi pusing, barangkali aku anemia karena membiarkan sejumlah darah keluar dari lukaku.
Lalu mendadak aku merasa sangat lelah dengan semua ini.
Memang seharunya aku sudah menyerah dari dulu…
Baik mata maupun tubuhku tidak bisa diajak kompromi padahal beberapa menit yang lalu aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Kujatuhkan diriku ke atas kasur. Tidak ingin memedulikan apa-apa lagi. Beberapa detik setelah kepalaku menyentuh bantal aku sudah terbawa ke alam mimpi.

…………………………………………
………………………………..

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur tapi-
“Taeyeon!”
Suara berisiknya membangunkanku dari tidurku.
“Apa sih…” kataku dengan nada jengkel karena terganggu.
“Kenapa lenganmu berdarah lagi?!”
Tapi aku tidak memedulikannya dan tetap tidur.
Jessica mengambil kotak P3K dan duduk di sampingku. Dia membuka kotaknya kemudian mengambil perban dan meraih lenganku yang berdarah.
Aku melepaskan lenganku dari genggaman tangannya.
“Tidak perlu, urusi saja tunanganmu…”
Aku tidak peduli aku berkata seketus itu, meski itu menandakan kalau aku telah mengupingnya.
“…………………”
Aku sedikit heran karena Jessica tidak berkata apa-apa setelah aku berkata seperti itu, dia tidak menyerah dan kembali memegang lenganku. Kali ini aku tidak melawan. Aku tetap diam saja selama dia merawat lukaku.
“Maafkan aku Taeyeon…”
Lagi-lagi kata ‘maaf’ maut itu.
Kumohon jangan menambah lukaku lagi. Aku sudah capek dengan semua ini sampai rasanya mau mati…
Buruknya, luka di lenganku ini dan sisa racun yang kudapat dari menghisap kaki Jessica tidak cukup untuk membunuhku. Oh, seharusnya aku saja yang dipatuk ular itu, kemudian kalau kubiarkan saja, pasti sekarang aku sudah di alam sana. Tidak perlu merasakan sakit hati seperti ini. Kenapa mencintai seseorang saja harus begini menyakitkan?
“Tidak perlu minta maaf, karena aku sudah menyerah soal kamu…” kataku dengan acuh sambil tetap menutup mata, tidak mau melihat Jessica.
Karena kalau sekarang menatap matanya, aku pasti akan goyah. Saat ini aku belum bisa menatap langsung ke arah matanya dan berkata kalau aku akan baik-baik saja dan move on. Mungkin suatu hari akan tiba saatnya…

___________________________________________________________________________

Perjalanan terasa panjang tapi juga singkat. Selama perjalanan di dalam van aku harus terus memandang Jessica yang duduk di depanku, dengan namja itu duduk di sebelahnya. Daniel tidak pernah sedetik pun melepaskan genggaman tangannya pada Jessica, sementara Jessica tidak bisa menolaknya.
Sungguh, ini masih terasa menyakitkan buatku. Tapi sialnya mataku tidak bisa lepas dari kedua tangan yang saling terhubung itu. Ingin rasanya kucungkil kedua mataku supaya aku tidak perlu melihat kemesraan mereka dalam jarak kurang dari dua meter.
Aku sempat tergoda ingin meremas luka di lenganku lagi. Tapi aku berpikir aku harus benar-benar membuang jauh-jauh pikiran seperti itu. Tidak baik menyakiti diri sendiri apa pun alasannya. Dan walaupun aku menyakiti diriku sendiri separah apa pun, tetap saja tidak akan mengubah kenyataan yang ada. Lagipula lama-lama aku bisa mengidap penyakit mental, aku tidak mau sampai begitu.

Akhirnya kami pun sampai di markas. Kedatangan kami tentu saja menarik perhatian dan keributan karena kami telah menghilang selama beberapa hari.
“Taeyeon! Jessica!” Sunny berseru sambil menghampiri kami berdua. Sunny langsung memeluk Jessica erat-erat.
“Mianhae Sunny ah, karena kalau bilang kamu pasti akan berusaha menghentikan kami.”
“Tentu saja! Kamu tidak tahu seberapa besar aku khawatir pada kalian, apalagi saat mendengar berita bahwa kamu digigit ular, kamu juga Taeyeon!” Sunny meninggikan suaranya.
Aku hanya bisa menunduk. “Maaf…”
“Sudahlah, karena kalian terluka jadi segera periksakan lukanya pada Seohyun di infirmary.”
“Ne.”

**

Third Person POV

Malam harinya.
Sunny menyambungkan lewat telepati.
Taeyeon ada yang ingin kukatakan, bisakah kamu datang ke kamarku?
Iya.

Permintaan Sunny lebih terdengar sebagai perintah, jadi Taeyeon mau tidak mau menyanggupinya.

Di kamar Sunny
“Apa yang mau dibicarakan Sunny?” tanya Taeyeon sambil membelakangi Sunny. Sebenarnya Taeyeon hanya takut Sunny akan menghukumnya. Karena sebagai seorang penyihir rangking S tapi malah membiarkan dirinya terbawa perasaan dan meninggalkan tugasnya. Membuat semua orang khawatir.
Tapi tiba-tiba Sunny memeluknya dari belakang.
“Waa?! Sunny?!”
“Taeyeon, aku khawatir sekali padamu…” bisik Sunny sambil membenamkan wajahnya di pundak Taeyeon.
“…aku tahu…” bisik Taeyeon lirih.
Taeyeon merasa tubuh gadis di belakangnya gemetar.
“Sunny?”
“Taeyeon, sebenarnya aku sudah memutuskan akan terus memendamnya. Tapi hari ini setelah melihatmu kembali, aku merasa harus berkata terus terang sama kamu.”
“Ya?” Taeyeon menelan ludah tanpa sadar.
“Sebenarnya… aku menyukaimu…”
“Ehh…?”
“Aku sungguh-sungguh…”
“……………….”
“Kamu menyukai Jessica kan?”
Jantung Taeyeon berdebar dengan cepat.
“Sunny, aku…”
“Taeyeon, kamu tidak perlu menjawab.”
“Eh?”
Sunny memaksakan diri untuk tersenyum.
“Aku tahu sampai sekarang kamu masih menyukai Jessica, Taeyeon. Tapi kamu tahu kan kalau Jessica dengan Daniel oppa…”
“Ya aku tahu, tapi aku tetap tidak bisa melupakan Jessica semudah itu, bagaimanapun juga Jessica adalah satu-satunya orang yang pernah kucintai…”
“Taeyeon…”
“Bodohnya aku masih tidak bisa berhenti mencintainya… padahal sia-sia dan hanya akan menyakitkan pada akhirnya…”
Sunny membalik tubuh Taeyeon dan membelai pipinya dengan penuh kasih sayang.
“Tidak apa-apa Taeyeon, semua akan baik-baik saja. Yang namanya manusia selalu memang tidak bisa berhenti berharap dan… kalau kamu dengan Jessica masih tidak bisa juga, kamu boleh datang padaku kapan saja, aku akan selalu menunggumu…”
Taeyeon memegang tangannya yang membelai pipinya. Dalam hati dia merasa sakit karena telah melukai hati Sunny.
Andaikan orang yang kusukai adalah Sunny, pasti aku dan juga Sunny tidak akan menderita, batin Taeyeon.
“Maafkan aku…”
“Tidak apa-apa aku mengerti perasaanmu.”
Taeyeon merasa senasib dengan Sunny. Senyum Sunny walaupun sedih tapi terlihat sangat cantik di matanya. Taeyeon tidak ingin melihatnya sedih.
“Sunny, kalau ada yang bisa kulakukan katakan saja, aku pasti akan membantumu,” Taeyeon memutuskan.
“Terima kasih.” Sunny kembali ceria seperti biasa. “Dan sejujurnya aku merasa kamu yang lebih pantas buat Jessica dibandingkan Daniel oppa.”
“Ah jinjja?” Taeyeon nyengir padahal mereka baru saja mengalami konflik batin.
“Benar, karena kalian terlihat sangat manis saat bersama dan kerja sama kalian benar-benar kompak bahkan lebih dari Daniel oppa.”
“Hahaha.” Taeyeon sebenarnya nggak ingin tertawa. Benar-benar aneh tapi kata-kata Sunny seperti mempunyai sihir magis yang dapat menghiburnya.

Taeyeon POV

Hari ini aku terbangun dengan perasaan was-was. Semua karena sebuah mimpi. Di medan perang, ketika kami semua sedang bertarung dengan segenap jiwa dan raga. Pada saat itu datang sebuah serangan entah dari arah mana aku tidak tahu dan serangan itu mengenai Sunny telak yang mengakibatkan dia terbaring di medan laga dengan berlumuran darah. Aku sangat syok. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya terdiam sambil memeluk tubuhnya yang tak bernyawa. Darahnya membasahi baju dan tanganku.
“Ani!”
Karena itu aku langsung menemui Sunny.
“Ada apa Taeyeon?”
“Sunny, sebaiknya kamu jangan ikut pertempuran kali ini,” kataku dengan tegas.
“Eh wae? Padahal waktu itu aku sudah tidak ikut.”
“Aku tidak bisa menjelaskannya, hanya saja perasaanku tidak enak,” aku menatap ke bola matanya sejenak kemudian memejamkan mataku dengan sedih seperti memohon padanya.
“Taeyeon, sebagai seorang pemimpin aku juga harus ikut.”
“Sunny, jebal!”
Sunny tidak berkata apa-apa, tapi tatapan matanya tegas. Dia seperti sudah memantapkan hatinya. Tidak bisa kubantah…

Sunny POV

Jantungku tidak bisa berhenti berdebar. Karena sebentar lagi kami akan berperang terutama Taeyeon. Aku benar-benar khawatir padanya, bahkan aku mempunyai firasat buruk yang tidak bisa kujelaskan, karena itu kuputuskan untuk ikut dalam pertarungan ini meskipun Taeyeon sendiri yang mencegahku. Ini bukan yang pertama kalinya Taeyeon berusaha mencegahku untuk ikut, tapi… intuisiku mengatakan aku harus ikut untuk melindungi Taeyeon. Lagipula aku merasa tidak enak hanya berdiam diri saja disaat semuanya sedang bertarung.
Aku adalah pemimpin, aku tidak mau berdiam diri saja di belakang. Aku harus maju dengan berani ke garis depan untuk meningkatkan moral pasukanku. Di medan perang ini semuanya pasti punya alasan untuk bertarung, begitu juga denganku.
……………………………..
Semua berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa aku sudah berada di medan perang.
Aku mengerahkan seluruh sihir terbaikku. Menumbangkan banyak pasukan musuh.
Dan entah kenapa aku ingin melihat Taeyeon meskipun seharusnya saat ini aku harus berkonsentrasi penuh.
Dimana dia?
Tiba-tiba aku mendengar suaranya lewat telepati.
Sunnyyy!!!
Kemudian aku melihat beberapa pasukan mengepungku, mereka semua melancarkan serangan gabungan padaku. Aku lengah dan tidak sempat membuat perisai, dan aku malah hanya memejamkan mataku dengan pasrah.
DUAAARRRR!!
Suara ledakan yang amat besar memekakkan telinga. Aku membuka mataku ketika merasakan sebuah tetesan-tetesan di bajuku. Taeyeon sedang memelukku.
“A…aahh…!”
Darahnya membasahi tubuhku.
Kemudian pelukannya melonggar dan sesaat sebelum dia terbawa oleh gravitasi bumi, aku cepat-cepat menangkapnya. Rasa syok masih menguasaiku saat aku merasakan tubuhnya yang banjir darah dalam dekapanku.
Musuh-musuh yang menyerangku tampak tidak puas karena gagal menjatuhkanku yang merupakan pemimpin pasukan dan kemudian bersiap-siap untuk menyerang lagi. Tiba-tiba dalam sekejap mata, dari arah samping datang sosok punggung Jessica yang langsung berdiri di depan kami. Wajahnya tertekuk dan dengan kemarahan yang amat besar dia melancarkan jurus khas miliknya, White Breaker, kepada mereka semua. Mereka langsung kalah telak.
Aku terbang membawa Taeyeon pulang kembali ke markas.
“Taeyeon! Taeyeon! Tolong jawab aku!”
Tidak ada jawaban. Kucoba kuguncangkan tubuhnya dalam pelukanku, tapi dia tidak bereaksi.
Kutempelkan telingaku di dadanya, aku masih merasakan detak jantungnya. Tapi itu tidak membuatku lega karena denyutnya terasa semakin lemah. Nyawanya berada di ujung tanduk.
Aku takut… aku takut kehilangan Taeyeon untuk selama-lamanya. Ini semua gara-gara aku lengah. Atau mungkin karena aku tidak mengindahkan peringatan Taeyeon yang sudah memintaku agar jangan ikut.

*~To Be Continued~*

A/N : Mengenai sihir penyembuhan hanya terbilang sedikit sekali penyihir yang bisa melakukannya.
Dan supaya tidak menambah berat beban penyihir penyembuh (yang sudah sibuk menyembuhkan para tentara penyihir yang terluka)
untuk luka biasa yang bukan dengan sihir, dilakukan pengobatan dengan cara yang biasa juga. Karena itu TaengSic diobati dengan cara biasa.
Sekian infonya.
Mianhae kalau ada yg aneh *bow

Advertisements

Comments on: "Repeat (Chapter 4)" (37)

  1. haduh.. udah sica jabngan sampai suka ama taeng.. kasian sunkyu .. mana taeng udah di tolak HARGA DIRI dong ‘0’ #plak

  2. ndak… ndak… ndak aneh kok unnie…
    eh cepet banget updatenya. ini ceritanya udah lama di tulis atau gimana? hahaha
    pertemuan daniel oppa ama sica bikin aku sedih nih, menguras emosi banget. kasian taeng.
    😦
    lanjutttt!!!!!

  3. annyeong…

    yaaaaaaaah ternyata Jessica milih tu oppa 😦 kasian taeng nya merana u,u
    tapi Sunny juga sama kasian karena secara ga sadar baru aja di tolak taeng 😥
    Taeng bakalan baik-baik aja kan?dia akan selamat kan?

  4. Taenytebs said:

    Aduuuh tae die aj deh kesian bgt sakit hati mulu g tega baca’y…

  5. step lin said:

    baru aja bahagia chpter 3 nya,eh disini benar2 mengoyak hati jiwa dan ragaku thoorrr.
    Sica apa2an loh,mesra2an,ngak liat loh nasip taenggoo yg memilukan(ceritanyaguelagiemosini)…100% galau.

  6. Huaa taeng gx END khan thor ..
    Bgian scen sica ma si oppa ea tu bner2 bkn taeng skit hati q jga jdi ikut sdih ..
    Ksian bgt taeng …
    Apakah akhirnya SunYeon ?
    Lanjut

  7. itu taeng ga knp2 kan thor
    ini bakal taengsic to sunyeon ya

  8. shosiiinewreader said:

    wah taeyeon unnie kshn bgt,udh berkorban demi sicca unnie mlah di tolak mentah2-gleng2 kpala-…lbh baik tae unnie sma sunny unnie aja ya,lpakan sicca unnie yg jd org gak berperasaan d ff ini..oke2?
    lanjut thor(oh iya,ff yg lain di lnjut jga dong…klo ada wktu aja ya..)

  9. pencinta novel dewasa said:

    cerita nya bagus tapi yng mengandung porno nya mana

  10. moga taeng gpp ya..

  11. nggereget banget ini. kenapa ga daniel aja yg terluka, terus biar mati deh. sebel banget deh. ayo semangka taeng 😀

  12. aihhh njiirrr ini mah sica udh kelewatan bgt.
    gila aja dari chptr kmrn juga.
    kelakuan dia bnr2 nappeun.
    udh di tolong taeng d chapter kmrn.
    dan d chapter ini dia malah milih daniel yg jelas2 tdk berbuat apapun buat dia.

    nyesek euy. =____=

    udah mending taeng sama bunny deh.
    -_-

    buruan update.
    hwangtaeng!!!! (9 ^o^)9

  13. taenggggggggg, jebal jangan ampe mati taengnya 😥
    penasaran tingkat dewa

  14. Wink(s) said:

    Hah.. Kenapa taeng luka?U,u parahkah? Semoga, bisa kembali kesedia kala *asyik*
    Wiih sunny sabar yo’ katak lain kan ditolak sama taeng. Tapi, semoga perasaan taeng ke sica ilangin ajah supaya ngebalas perasaan sunny -.-
    Ckck gak kebayang sama moment jadian nnya sica ma daniel ://

  15. 'rusa' said:

    dan tiba2 daniel kenapa2, lalu akhirnya sica suka tae, padahal tae udah suka sunny, dan akhirnya…… hahaha kok jadi bikin cerita sendiri XD

  16. hai! saya reader baru..

    Mudh2an taeyeon gpp

  17. hmm penasaran nh sm end y.mdh2n taesun y bkn taesica cz sica wad yuri hehd

  18. udh dah sica sma daniel aja…. biar tae sma sunny kasian sunny klau sica tba2 suka tae…

  19. wah2 keren abis dah… bener2 cepet2 update lagi yah Thor… pengen tau selanjut nya… hehe..

  20. Kwon Eya said:

    Ommo, taeng terluka parah. E0thokae? Jgn smpe sad ending yak?

  21. Mudh2an taeng gpp ya

  22. hyun bi said:

    monnnnnnnnn asli ak lagi suka taengsic buka wp mu ehh km apdet pairing taengsic kyaaaaaaa ak suka ak suka ama karyamu ini mon…mudah2an impianku utk taengsic bersatu terlaksana di wpmu ini wkwkwk *di gebugin Taeny Yulsic shipper
    lanjut yah mon, ak sll menunggumu hahayyy

  23. taeyeon terluka,, bener2 orang yang baek.. uch ~

  24. agustina_huang said:

    Hiks..taeng terluka… Arghh,pngennya jd crita utk sunyeon az… Kasian sunny jg kan,taeng terluka krn sunny,prasaan sunny ke taeng jd makin dalemm donk..

  25. Asli miris banget nasib taeng 😦 tetep berharap taengsic bisa bersatu kekekek
    Daebak dehhhh 😀

  26. Kim/Choi said:

    Lanjut baca. Berharap happy ending. Amin…

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: