~Thank you for your comments~

Repeat (Chapter 3)

Taeyeon POV

Kami berangkat saat pagi buta sekali. Tentu saja kami pergi dengan menyelinap. Dan aku juga tidak memberitahu soal ini pada Sunny. Dia pasti khawatir dan tidak akan mengijinkan walau kami berdua sembah sujud sekalipun.
Saat ini kami sedang terbang di angkasa menuju ke SM, karena jaraknya masih jauh jadi kami masih dapat terbang dengan bebas.
Kulirik sekilas Jessica karena dari tadi dia masih belum membuka mulut. Raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran dan aku langsung tahu siapa yang memenuhi hatinya sekarang.
Kemudian aku teringat kejadian kemarin, saat aku berbuat tidak senonoh dengan menyentuh dada Jessica. Aku menjadi malu, tapi kalau dipikir-pikir Jessica sama sekali tidak takut padaku setelah itu dan bertingkah seperti seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ah sudahlah jangan dipikirkan lagi.
Menjelang malam kami tiba di sebuah kota, tentu saja kota ini bukan kota SM. Kami berbaur dengan orang-orang di kota.
“Kita istirahat dulu.”
Jessica mengangguk.
Aku harap Jessica tidak kecapekan.
Kemudian kami menyewa penginapan yang murah.
“Jessica, aku mau beli makanan dulu, kamu tetap di sini saja.”
Jessica mengangguk lagi. Lalu aku berjalan keluar penginapan.
Aku membeli makanan seadanya karena kami harus menghemat anggaran.
Tapi mudah-mudahan sesuai dengan selera Jessica, pikirku.
Ketika aku bermaksud kembali ke penginapan tiba-tiba.
“Lepaskan!”
“Jangan begitu dong, temani kami sebentar saja hehe.”
Aku melihat Jessica dikelilingi 3 laki-laki asing.
“Aku tidak punya waktu untuk menemani kalian para bajingan!” bentak Jessica judes.
“Wuah, kata-katanya kasar sekali.”
“Yeoja ini harus diberi pelajaran.”
Dua orang namja memegangi tangan Jessica, kemudian yang satunya membuka paksa kancing baju Jessica. Jessica meronta-ronta dengan mata berair.
Melihat itu aku menjadi geram.
Kurang ajar!
Aku segera ke sana sambil menyalurkan kekuatan sihirku ke tinjuku. Dan tanpa basa-basi langsung mengarahkannya ke bagian perut mereka daripada ke wajah. Dengan masing-masing satu kali tinju, mereka semua roboh dalam sekejap. Tentu saja mereka bukan tandingan seorang penyihir sepertiku.
“Taeyeon…”
“Jessica, kamu tidak apa-apa?”
“Syukurlah… untung kamu datang Taeyeon, aku takut sekali…” Jessica mengancing bajunya kembali dengan tangan gemetaran.
“Dasar bodoh, kenapa kamu malah keluar padahal kan sudah kubilang tunggu di penginapan,” aku meninggikan suaraku.
“Maaf Taeyeon, tadinya aku hanya mau melihat-lihat sebentar…”
“Kenapa kamu tidak menggunakannya sewaktu kamu diserang?!”
“…aku tidak mau mereka terluka, mereka bukan penyihir, dan lagi kalau dilihat orang bagaimana…”
Ya, karena alasan itu juga aku menyamarkan sihir melalui tinju.
Sihir memang bukan sesuatu yang pantas diumbar. Apalagi negara berperang dengan menggunakan sihir, sudah bukan rahasia umum lagi kalau banyak orang yang menyalahkan dan membenci sihir.
Aku menghela nafas. “Ya sudah yang penting kamu selamat, ayo kita kembali ke penginapan,” kugandeng tangan Jessica.
“……………” Jessica menatapku.
“Kenapa?”
Lalu pandangan Jessica beralih ke tangannya yang kupegang.
Aku baru sadar akan apa yang kulakukan. “Ah maafkan aku,” aku segera melepas tangannya.
“Tidak apa-apa kok Taeyeon.”
“Tapi aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman…” kataku sambil meremas sebelah tanganku sendiri. Tangan ini barusan telah berani menyentuhnya, walau aku tidak bermaksud apa-apa.
Jessica menggeleng.
“Ani, justru aku merasa aman ketika bersamamu Taeyeon…” kali ini Jessica yang duluan menggandeng tanganku.
Jujur, aku merasa tersentuh. Syukurlah, Jessica masih merasa nyaman bersamaku.
Perjalanan kembali ke penginapan kami lalui dalam kediaman. Aku berjalan selangkah demi selangkah sambil mendengarkan suara langkah kaki Jessica yang mengikutiku. Kami masih tetap bergandengan tangan, kehangatan tangan Jessica dapat kurasakan.
Kami berjalan dalam kegelapan yang hanya disinari oleh cahaya bulan…
Sesaat aku merenung sedih.
Seandainya… aku bisa selamanya menggandeng tanganmu seperti ini pun aku tidak keberatan. Tapi kamu pasti berharap kalau Daniel lah yang menggandengmu seperti ini.
Tapi, apapun yang terjadi… aku pasti akan melindungimu.

**

Keesokan paginya
“Jessica ayo kita berangkat.”
“Iya,” Jessica terlihat lemas. Raut mukanya tidak secerah biasa.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja…” tapi tubuh Jessica langsung limbung ketika mencoba berdiri.
“Sica!”
Saat aku memegang tubuhnya. “Mwo?! Panas sekali!”
“Hahh…” Jessica menghembuskan nafas lelah.
“Jessica, kamu demam!”
Kami yang tadinya hendak pergi, terpaksa dibatalkan. Segera kubaringkan Jessica di tempat tidur. Kukompres keningnya dengan handuk basah.
“Aku akan pergi membeli obat!” setelah berkata itu aku keluar dari penginapan, membatalkan check out dan segera pergi untuk membeli obat.
Aku berlari dengan tergesa-gesa. Kakiku sempat tersandung oleh jalanan yang tidak rata. Aku tahu aku terlalu panik untuk seseorang yang hanya sakit demam. Tapi aku tidak mau membuat Jessica menunggu lebih lama dalam keadaan tersiksa.

**

Sunny yang merasa tidak melihat Taeyeon selama 2 hari ini mulai khawatir. Sunny bertanya-tanya pada orang-orang di markas, tapi tidak ada seorangpun yang tahu. Bahkan para junior mengatakan kalau tutor mereka tidak ada dimana-mana.
Taeyeon, sebenarnya kamu ada kemana? Jessica juga menghilang.
Kemudian Sunny mencoba telepati.
Taeyeon jawablah…
Tidak lama kemudian Sunny seperti mendengar suaranya dalam kepalanya.
Taeyeon, kamu ada dimana?! Jessica sedang bersamamu kan?!
Ne, mianhae Sunny, sekarang ini aku sedang sibuk.
Sibuk bagaimana?! Kamu dan Jessica kemana saja?!
Sekarang ini aku tidak bisa menceritakannya, aku harus membelikan obat untuk Jessica dulu, dia sedang sakit.
Mwo?!
Sudah ya, jangan khawatir, aku terus bersama dengan Jessica. Kami pasti akan berhati-hati dan pulang dengan selamat.
Eh tunggu! Katakan dimana kalian sekarang!

Tapi Taeyeon sudah memutus telepati mereka.

**

Taeyeon kembali setelah berlari cukup jauh dengan nafas tersengal-sengal.
“Jessica, ini obatnya.”
Taeyeon mengambilkan air dan membantunya minum.
“Maaf Taeyeon, aku merepotkan… padahal aku sendiri yang meminta kamu untuk menemaniku tapi aku malah memperlambat…”
“Jangan dipikirkan, istirahatlah sampai benar-benar sembuh,” Taeyeon tersenyum dengan lembut dan merapikan selimut Jessica.
Taeyeon, kamu baik sekali, batin Jessica.
“Aku benar-benar bersyukur ada kamu yang menemaniku Taeyeon. Kalau tidak ada kamu aku tidak tahu harus bagaimana…”
“Jessica…” sesaat Taeyeon tergoda ingin meraih tangan Jessica dan meremasnya, tapi dia tidak melakukannya karena sadar akan posisinya.

**

Third Person POV

Keesokan harinya
Taeyeon memegang kening Jessica untuk merasakan suhu tubuhnya. Dan sambil memegang keningnya sendiri untuk membandingkan.
“Ya, panasnya sudah turun.”
“Ayo kita berangkat Taeyeon.”
“Kamu yakin kamu tidak mau beristirahat lebih lama lagi?”
“Jangan khawatir, aku sudah sangat sehat.”
“Baiklah kalau begitu.”
Dan mereka mulai melanjutkan perjalanan lagi lewat angkasa. Selama dalam perjalanan Taeyeon terus memikirkan adegan romantis antara Jessica dan Daniel apabila mereka bertemu nantinya.
“Hmm.”
“Taeyeon?”
“Eh kenapa?”
“Kamu terlihat sedih, ada apa?”
“Ah tidak, tidak ada apa-apa.”
Tapi dari wajahnya terlihat jelas kalau dia kesulitan untuk berbohong.
“Apa kamu menyesal sudah menemani aku?”
“Ah bukan! Bukan itu…”
“Oh, syukurlah kalau begitu…”
“………………” Taeyeon menggigit bibirnya, ciri khasnya ketika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Taeyeon, kamu tahu… kalau seandainya kamu menyesal pun tidak apa-apa, aku tidak akan marah.”
“Jessica, aku tulus ingin membantumu, karena itu biarkan aku membantumu,” Taeyeon berkata dengan suara pelan.
Taeyeon tidak tahu apakah Jessica mendengar atau tidak karena mereka sedang terbang di angkasa.
Setelah sampai di kota berikutnya mereka melanjutkan perjalanan dengan memakai angkutan umum beroda empat karena sudah dekat dengan SM, terlalu berisiko kalau mereka terbang di udara, karena umumnya peperangan terjadi di udara. Selain itu mereka juga lelah kalau terus-terusan terbang. Perjalanan di dalam van terasa panjang. Ditambah lagi, jalanannya jelek, tidak rata karena bekas peperangan sehingga angkutan umumnya terus berguncang-guncang dan terasa sangat tidak nyaman karena harus bersempit-sempitan. Membuat Jessica menjadi mual.
“Kamu pucat, kamu tidak apa-apa?”
Sekarang Jessica benar-benar ingin muntah tapi dia menahannya sekuat tenaga.
“Uphh…!”
“Tahanlah, sebentar lagi kita sampai di SM, kamu ingin bertemu dengan Daniel oppa kan?”
Setelah mendengar nama itu disebut Jessica menjadi lebih tenang. Taeyeon mengelus-elus punggungya dengan ringan untuk meredakan rasa mualnya.
“Tidak apa-apa, ini akan segera berakhir,” bisik Taeyeon menenangkan. “Kamu akan segera bisa bertemu dengan cintamu.”
Cukup berat bagi Taeyeon untuk mengutarakan kalimat keduanya.
Dan akhirnya mereka pun sampai di kota SM. Kota kecil yang benar-benar Jessica nantikan.
Jessica yang sudah tidak sabar langsung jadi yang pertama meloncat turun dari kendaraan, dan berlari mencari-cari Daniel, Taeyeon tergopoh-gopoh mengejarnya. Seperti sedang mencari anak hilang, Jessica terlihat agak panik. Tapi setelah dicari-cari bahkan sampai berputar-putar mengelilingi kota, mereka tidak kunjung bertemu dengan Daniel dan akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya-tanya kepada tentara penyihir yang ternyata adalah wakil komandan mereka.
“Jadi kalian sedang mencari seorang wartawan perang bernama Daniel Henney?”
“Ne!” Jessica mengangguk semangat.
“Kalau kamu mencari wartawan perang, kemarin rombongan mereka baru saja pergi ke kota tetangga.”
“Ah begitu, baiklah terima kasih atas informasinya.”
“Sama-sama, kalian berhati-hatilah.”
“Ne.”

Matahari sudah mulai terbenam.
“Jessica… hari sudah gelap.”
Jessica memegang kedua lengan Taeyeon dan memelas. “Taeyeon, aku tahu ini sudah malam tapi aku mohon… aku ingin kita melanjutkan perjalanan sekarang juga.”
Taeyeon tahu betapa kecewanya Jessica ketika mendengar rombongan Daniel sudah pergi.
“Tidak bisakah menunggu sampai besok?”
Mata Jessica bersinar menatap Taeyeon dengan penuh harap, membuatnya tidak bisa menolak.
“Baiklah kalau begitu.”
Taeyeon memang tidak berdaya menolaknya, apalagi kalau sudah mendapat tatapan seperti itu. Dan Taeyeon sama sekali tidak menyadari bahaya yang sebentar lagi akan mengintai mereka.

Third Person POV

Taeyeon dan Jessica akhirnya keluar dari kota dan melanjutkan perjalanan mereka. Kini mereka harus melewati hutan.
Jessica terlihat takut. Hutan di depannya di matanya tampak seperti terowongan tak berujung. Dan kalau membayangkan mereka akan segera masuk kesana… Jessica langsung menggigil.
“Jessica, kamu tidak apa-apa?”
“Ti-tidak apa-apa.”
Taeyeon dapat menangkap suaranya yang terbata.
“Bagaimana kalau kita kembali ke kota saja? Kita nginap di penginapan dan tunggu sampai fajar,” usulnya.
Jessica menggelengkan kepala. “Tidak Taeyeon, kita sudah sampai disini… aku tidak mau kembali..”
Jessica berusaha menguatkan diri. Dia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan sampai menghitung satu sampai dengan sembilan dalam kepalanya.
“Ayo.”
Mereka mulai berjalan melewati jalan setapak.
“Ahhh ahhhhh!!” Jessica memekik kaget ketika ada sesuatu yang hinggap di rambutnya. “Taeyeon! Taeyeon! Tolong! Ada sesuatu menyentuh rambutku!”
Taeyeon melihat itu hanya seekor ngengat besar berwarna coklat. Tapi dalam keadaan Jessica yang paranoid sepertinya seekor serangga saja sudah membuatnya cukup ketakutan.
Taeyeon mengambil serangga itu dan melemparnya, ngengat itu terbang pergi.
“Jangan khawatir, sudah kubuang jauh-jauh serangga itu.”
“Uhhh…”
Taeyeon sempat ingin menggodanya dengan bertanya, ‘memangnya barusan kau pikir itu hantu?’
Tapi melihat Jessica sangat ketakutan sambil memeluk lengannya sendiri, dia mengurungkan niatnya.
Melihat itu Taeyeon jadi berharap seandainya dia bisa memeluk Jessica sekarang dan berbisik di telinganya bahwa dia akan melindunginya. Tapi Taeyeon merasa tidak bisa melakukannya. Karena selain Jessica tidak memiliki perasaan yang sama, dia seharusnya juga membuang jauh-jauh harapan dicintai Jessica.
Setelah cukup jauh memasuki hutan terdengar sesuatu.
“!”
“Ada apa Taeyeon?”
“Tiarap.”
Taeyeon segera menarik Jessica untuk tiarap di balik semak-semak.
Sekelompok penyihir melintas tak jauh dari mereka.
“Pe-penyihir? Kenapa mereka bisa ada disini?!” Jessica berbisik dengan suara kecil.
“Tidak tahu, tapi lebih baik jangan sampai ketahuan.”
Mereka berusaha tidak menimbulkan suara sebisa mungkin.
Tapi tiba-tiba Jessica melihat ada ular dalam jarak kurang dari satu meter di sampingnya. Kelihatannya dalam keadaan waspada.
“Kyaaaaaa ulaaarrrrr!!” jerit Jessica keras-keras. Jeritan Jessica membuat ular itu kaget dan pergi tapi-
“!”
“Siapa disana!”
Ketahuan!
“Bagaimana ini Taeyeon…”
Taeyeon mengatupkan rahangnya dan secepat mungkin mengakses situasi.
Kalau kita lawan akan sia-sia saja, jumlah mereka terlalu banyak, tapi kalau kita lari juga akan langsung ketahuan dan malah mereka akan mengejar kita sampai ke kota. Kalau itu terjadi banyak orang akan jadi korban.
“Tunjukkan dirimu! Percuma saja berpura-pura sebagai binatang!”
“Jessica, aku akan mengalihkan perhatian mereka sementara kamu pakai kesempatan itu untuk lari,” bisik Taeyeon.
“Eh?! Tapi bagaimana dengan kamu?!”
“Tidak apa-apa, segera lari, arraseo?”
Taeyeon sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi. Tapi pilihan ini dirasa jauh lebih baik apabila ingin melindungi Jessica.
Taeyeon tidak menunggu jawaban dari Jessica dan segera muncul memperlihatkan dirinya.
Taeyeon mengangkat kedua tangannya. “Hei tunggu, tunggu, jangan tembak, aku tidak bermaksud apa-apa, haha.”
Taeyeon!
“Hmm,” penyihir itu kelihatan ragu. “Apa kamu adalah seorang penyihir?” tanyanya dengan nada mengancam.
“Bu-bukan aku hanya orang biasa yang kebetulan lewat saja.”
“Benar-benar mencurigakan, pasti mata-mata musuh!”
Tentara itu menembak Taeyeon dengan sihirnya yang menyerupai tembakan senapan, Taeyeon tidak sempat membuat perisai, serangannya mengenai lengan kanannya.
“Akhh!” Taeyeon terjatuh ke balik semak-semak dan memegangi lengannya.
“!”
Jessica segera menghampiri Taeyeon dan menyangga tubuhnya.
Pasukan itu semakin mendekat.
Celaka!
Jessica memejamkan mata erat-erat merasa pasrah akan harus bertarung dalam jumlah tidak seimbang.
Tapi tiba-tiba
“Ada musuh!” salah seorang penyihir berteriak.
“Apa?!” kemudian seluruh pasukan dalam keadaan bersiap-siap.
“Disana!” seorang penyihir berteriak dan mereka langsung berbondong-bondong berlari ke sumber asal.
“Wakil komandan, lalu bagaimana dengan perempuan tadi?”
“Biarkan saja, hanya satu orang lagipula belum tentu dia adalah seorang penyihir, dan dia juga terluka. Sekarang kita fokus pada menyerang musuh yang ada di depan mata.”
“Yes, sir!” tentara itu memberi hormat.

“Taeyeon! Taeyeon! Kamu tidak apa-apa?!”
“Tidak apa-apa Jessica, cuma terserempet saja,” Taeyeon memberinya seulas senyum dan menggerak-gerakkan lengannya untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
“Taeyeon…” Jessica ingin menangis rasanya melihat Taeyeon terluka demi menutup-nutupi dirinya dari musuh.
“Tapi, apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kalian bukannya yang tadi sore?” Seorang namja berdiri di dekat mereka.
“Ah!”
“Wakil komandan!”
“Aku tidak menyangka kalian akan pergi malam-malam seperti ini, gegabah juga.”
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Taeyeon.
“Tidak tahu? Saat ini mereka sedang bertarung melawan pasukan kami. Aku sudah menduga kalau mereka akan menyerang tiba-tiba seperti ini dengan melintasi area hutan karena itu aku sudah membuat persiapan. Kalian juga kalau memang benar-benar mendesak untuk pergi berhati-hatilah kan sudah kukatakan tadi.”
“Terima kasih kami benar-benar tertolong oleh anda.”
“Jessica, ayo kita segera pergi.” Taeyeon menarik tangan Jessica.
“Eh? Tu-tunggu Taeyeon, lenganmu! Kita harus merawat lenganmu dulu!”
Tapi Taeyeon tidak mempedulikannya dan terus berjalan tanpa melepaskan tangan Jessica.
“Tunggu Taeyeon berhenti!”
“……………”
“Taeyeon!” Jessica menyentakkan tangannya dari Taeyeon.
“Kamu keras kepala sekali Taeyeon!” bentak Jessica marah.
“Habis mau bagaimana lagi?! Kita harus cepat lari dari sini karena sekarang mereka sedang berperang!” Taeyeon bersikeras.
“Tapi memangnya kamu tidak sakit?!”
Taeyeon menutupi lengan kanannya yang terluka dengan tangan kirinya.
“Sama sekali ti-”
Saat mereka sedang ternggelam dalam topik tentang luka di lengan Taeyeon, mereka sama sekali tidak menyadari sesuatu yang merayap di dekat kaki mereka. Sesuatu itu mematuk kaki Jessica dan Jessica langsung melonjak kaget.
“Kyaaaahhhhhh!!”
“Jessica?!”
Jessica jatuh terduduk. Kemudian mata Taeyeon sempat menangkap seekor ular yang merayap pergi.
“Sakit…! Ba-bagaimana ini Taeyeon? Ular itu… ular itu baru saja menggigit kakiku!” pekik Jessica mulai panik.
“!”
“A-pa ular itu beracun? Aku…! Aku harus bagaimana Taeyeon?!” Jessica mulai menangis deras.
“Jessica tenang…” Taeyeon menyuruhnya tenang walau jantungnya sendiri bergemuruh di dalam dadanya.
“Tidak…! Aku tidak mau mati Taeyeon! Aku masih belum bertemu dengan oppa! Aku juga masih mau bertemu kembali dengan keluargaku! Dengan teman-teman! Aku masih ingin hidup! Masih banyak yang ingin kulakukan!” Jessica terus meracau.
“Tenang! Kemarikan kakimu!” Taeyeon memegang kaki Jessica.
“Tunggu Taeyeon!”
“Apa?!”
“Kamu akan menghisapnya?!”
“Mana boleh dibiarkan!”
“Jangan!”
“Sudah tidak ada waktu lagi! Nanti racunnya keburu menyebar!”
“Tapi nanti kamu bisa mati Taeyeon!”
“Jangan khawatir, aku tidak akan mati hanya karena sedikit racun!” kata Taeyeon walau dia sendiri tidak tahu apa yang dia katakan.
Taeyeon berusaha menghisap racun tersebut sebisa mungkin dan membuangnya keluar, sementara Jessica hanya bisa pasrah menatap Taeyeon yang terus berusaha mengeluarkan racun ular itu dari tubuhnya.
Taeyeon…
Lalu pandangannya beralih ke luka di lengannya.
Lukanya… aku selalu saja menyusahkan Taeyeon. Kali ini pun dia terluka karena aku…
Setelah itu Taeyeon meludah beberapa kali untuk membersihkan mulutnya.
“Sudah kukeluarkan sebisaku.”
Kemudian Taeyeon berusaha merobek ujung baju lengan panjangnya sendiri yang tidak ternodai darah. Kemudian dengan satu tarikan lagi, lengan bajunya sudah terlepas. Lalu dia menggunakan itu untuk mengikat kaki Jessica.
“Kalau hanya sebentar, ini akan menolong.”
Air mata membasahi pipi Jessica.
“Taeyeon… kenapa jadi begini…”
“Hei, sudah ah…” Taeyeon mengelap air mata Jessica.
“Habisnya… hiks..”
“Aish, jinjja. Tenanglah, kita berdua akan melalui ini.”
“Uhh…” Air mata Jessica masih terus mengalir, tidak peduli berapa kali Taeyeon menyekanya dengan jarinya.
“Terima kasih untuk air matamu Jessica, kamu terlalu baik…”
“Tidak… kamu yang lebih baik Tae…”
Aku yang sangat buruk, aku telah memanfaatkan perasaanmu… tambah Jessica dalam hati.
“Aku tidak mau kamu sedih, ya?”
“……………..”
Taeyeon membalikkan badan dan menawarkan punggungnya. “Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu.”
Jessica mengangguk. Di saat seperti ini dia tidak punya pilihan lain.
“Hup!”
Taeyeon menarik nafas dalam untuk mengumpulkan seluruh tenaganya di punggungnya lalu berdiri dengan seimbang. Kemudian dia mulai berjalan.
Jessica mempererat pegangannya di pundak Taeyeon. Merasakan kekuatan melalui otot-otot di bahunya.
Jessica sedikit kagum bagaimana bisa tubuh yang lebih kecil dan ringan darinya itu sanggup menggendongnya?
Ini pertama kalinya Taeyeon pernah membuat jantungnya berdebar kencang.
Ah, apakah ini bukan karena pengaruh dari gigitan ular itu?
Tapi Taeyeon yang tadi menghisap racun dari kakinya dan juga merobek lengan bajunya sendiri untuk memberikan pertolongan pertama padanya. Rasanya sukar dipercaya. Apa ini benar-benar Taeyeon yang dikenalnya?
Jessica seperti melihat sisi lain dari Taeyeon yang belum pernah dilihat atau dibayangkannya. Dan Jessica merasa terpesona di tengah-tengah rasa sakit di kakinya.

Taeyeon POV

Suasana hening. Yang ada hanyalah suara serangga malam dan gemerisik daun dan ranting-ranting yang tertiup angin. Dengan diterangi oleh cahaya bulan aku berjalan sambil menggendong Jessica.
Jadi ingat, kalau nggak salah beberapa waktu yang lalu aku juga menggendong Sunny seperti ini. Sunny bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia sedang mencemaskan kami?
“……………..”
Maafkan aku Sunny, tapi demi Jessica aku…
Kemudian aku merasakan pegangan Jessica di pundakku jadi lebih erat.
“Kamu takut Jessica?”
“Ne, tapi aku lebih tenang karena ada Taeyeon yang menemaniku…”
“………………”
“Taeyeon, kamu capek?”
“Aniyo.”
Bohong, tentu saja aku capek.
Tapi kalau demi kamu entah kenapa aku sanggup mengeluarkan tenaga melampaui batasanku sendiri.
“Sihir penyembuh… andai saja aku bisa.”
“………………”
Suasana menjadi hening lagi.
“Hei Taeyeon..”
“Hmm?”
“Apa kita akan benar-benar bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup?”
“Pasti…”
“Kita akan sampai kan..?
“Ya…”
Lagi-lagi aku hanya memberi Jessica jawaban yang samar-samar. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama kita berada di dalam hutan ini. Padahal seharusnya aku hanya perlu melewati jalan setapak, tapi jalan itu kini tidak terlihat lagi, mungkin karena kami nyasar akibat konflik yang terjadi tadi.
“Taeyeon…” Jessica menyebut namaku dengan suara yang agak lemah dibanding sebelumnya, hatiku diremas oleh rasa khawatir.
“Ya?”
“Aku lapar…”
“Aku juga…”
“Ngantuk…”
“Tidurlah, begitu kamu bangun nanti kita sudah sampai,” kataku untuk menenangkannya.
“Tapi rasanya tidak adil jika aku tidur sendiri sementara Taeyeon terus berjuang sambil menggendongku…”
“Diadil-adilkan…”
Benar-benar jawaban yang konyol.
“Haha…”
“Tidak apa-apa, ini adil karena kamu sedang terluka.”
“Taeyeon juga terluka…”
Aku dapat merasakan rasa perih dari lengan kananku yang berdarah.
“Kamu lebih parah…”
“……………”
Kami sama-sama terdiam, mungkin karena perdebatan kita tidak akan selesai-selesai jika diteruskan.
“Sejujurnya lukanya masih terasa sakit Taeyeon…”
“Jessica…”
“Ah… apoooo…” Jessica merintih di dekat telingaku.
“Kamu tidak apa-apa?!”
“Aku tidak apa-apa karena… aku harus jadi wanita yang tangguh, apalagi ini masih dalam masa perang..”
“……………….”
“……………….”
“Jessica?”
“Zzzzz…”
Tidur?
“………………..”
Aku berusaha menguatkan diriku.
Kami pasti akan selamat.
Walau tubuhku harus hancur… walaupun dia tidak akan membalas perasaanku sekalipun, tidak akan kubiarkan Jessica mati.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Repeat (Chapter 3)" (32)

  1. seharusnya yulsic tapi ini kayanya bakalan jadi taesic:( tapi gwenchana asal jessica ga sama danielXD lanjutin thor

  2. shosiiinewreader said:

    wahwah,taeyeon heroid banget sih..sicca eonnie mulai ska ni ma tae eonnie..
    lanjut thor..

  3. defy86 said:

    Anyeong…
    Taeyeon mang baik dan perhatian banget sama jessica.
    Moga jessica membalas perasaan taeyeon dg tulus.
    Ditunggu lanjutan.

  4. TaengSicababy said:

    GentleTaeng :*
    thor pesen satu donk cwo yg kaya taeyeon..hehe
    taeng nya so sweet..
    Sica mndingan jg ma tae, ktimbang daniel.. -,-

  5. tae berkorban apapun asal buat sica….

    sperti ny tae suka jg lh sma sunny tpi dia gk ngerasainy… bukti ny aja dia slalu ingt sunny

  6. annyeong…

    Taeng udah berkorban banyak buat Jessica 😦
    Perasaan Taeng kayanya udah terbagi 2 yah ma Sunny,meskipun Taeng nya belum sadar 🙂
    Jessica mah ga asik ahh,baru juga ngomong ga adil kalo tidur tapi dia malah tidu dgn sendirinya,keenakan kali yah punggung Taeng nya 🙂

  7. Taenytebs said:

    Tae udah berkorban banyak buat sica…bru ja blg g adil udah mimpi ja tuh sica haha…

  8. 'rusa' said:

    taeyeon kenapa gigih sekali T_T

  9. Sica bner2 egois ea demi si daniel dya ngorbnin taeng dan manfaatin prsaan ea …
    Tega bner nie sica …
    Q jdi sebel ma sica …
    Taeng yg sbar ea ..
    Lanjut

  10. Wink(s) said:

    Terus bikin sica suka sama taetae. Supaya gak jadi sama daniel :pp

  11. ah g rela taesic mau’a taesun huhu
    lnjut thor

  12. taengsic momentnya bikin aku terbang melayang kemana-mana dan akhirnya kecantol di pohon cabe.
    so sweet… taeng emang gentle banget.
    jadi keinget taeny moment yang di konser itu pake baju item-item. waktu itu kan taeng nyariin tempat berdiri buat fany, dia sendiri malah berdiri paling ujung.
    keren keren…
    lanjuuttt unnie!

  13. taeng emang bener2 hero sejati, terharu bacanya 😥

  14. Jessica disini egois banget, kasian tae T.T

  15. Taesun Aja thor…..jgn taengsic

  16. gile teyon pengorbanan mu nak… ‘0’

  17. Duh danielnya mati aja plis, biar gak gangguin taengsic, kan kasian taeng nanti ‘-‘

  18. uah..taeyeon gentleman… waahh terpesona aku dgn taeyeon…

  19. step lin said:

    Taengsic moment sweet dech walau penuh rintangan…iiissshhhh
    ngak kebayang deh,betapa kerennya taeng dengan otot2 nya,haha….
    cinta taeng berat bget dh ma sica…salut gue ama loh thooorrrrr…moga berakhir dg taengsic…haha

  20. semangat Taeyeon!!

  21. Duhh taeng tulus banget sm sicaa..sebel sm sica yg gak nerima perasaaan taeng.
    >.< lanjuttttt thorrr daebak ini wkwkwk

  22. Shin Young said:

    Sica kamu benar” akan jadi orang yg merugi klau menyia-nyiakan prasaan taeyeon!

  23. Kim/Choi said:

    Gile benerr kisah cintanya.
    Taeyeon unnie, semangat….

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: