~Thank you for your comments~

Repeat (Chapter 2)

@kantin

“Taeyeon, kamu bersama Sunny ya?”
Taeyeon dan Sunny langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Dilihatnya Jessica sedang duduk seorang diri.
“Kupikir kamu menghilang karena kamu tidak juga kembali ke kamar.”
“Ah mianhae Sica.”
“Mianhae juga karena tidak memberitahumu, Jessica,” kata Sunny.
“Gwenchana, makan yuk?” ajak Jessica.
“Kebetulan kami juga mau makan.”
Sunny dan Taeyeon mengambil tempat duduk di sisi Jessica.
“Taeyeon, mau makan apa?” tanya Jessica.
“Hmm, apa saja deh?”
“Jangan begitu, segera putuskan. Nih menunya.” Jessica memberikan buku daftar menu.
“Kalau begitu aku pesan yang sama dengan kamu,” jawab Taeyeon tanpa melihat daftar menu.
“Ikut-ikutan.”
“Haha.”
Bersama-sama begini menyenangkan juga, batin Taeyeon.
Sementara itu Sunny hanya duduk di tengah sambil berpangku tangan melihat kedua sahabatnya berbincang-bincang.
Walau kau tutup-tutupi sekalipun perasaanmu tetap obvious sekali. Kira-kira sudah berapa lama kau menyukai Jessica?
“Sunny, kau mau pesan apa?”
“Heh?” Sunny mengangkat kepalanya.
“Dari tadi kamu belum pesan makanan.”
“Hmm, aku sama dengan kalian juga deh.”
“Ikut-ikutan,” kata Taeyeon dan Jessica berbarengan.
“Hahaha, kalian kompak.”
Sekarang Taeyeon hanya cengar-cengir.
Ya, begini lebih baik. Kamu kelihatan lebih bahagia di sisi Jessica. Perasaan ini biar kupendam saja, batin Sunny.

**

Malamnya di kamar Taeyeon dan Jessica.
“Taeyeon, aku bosan.”
“Ya.”
Tapi setelah berkata begitu Taeyeon tetap diam saja, jadi Jessica merajuk lagi.
“Taeyeon! Aku bilang bosan.”
Taeyeon menatap Jessica dengan heran.
“Lalu?”
“Kenapa kamu malah cuek? Biasanya kan orang bertanya.”
“Baiklah, maaf deh, jadi baiknya ngapain biar nggak bosan?”
“Ayo kita jalan-jalan keluar.”
“Eh? Tapi kan sudah jam 10 lebih, sudah kemalaman untuk jalan-jalan.”
“Ahhhhhh bosan ya bosan~” rengek Jessica lalu melanjutkan dengan mengguncang-guncang tubuh Taeyeon.
“Aish,” Taeyeon memegang tangannya untuk menghentikan guncangan di tubuhnya. “Kalau begitu mau jalan-jalan di taman sebentar?”
“Neee~”

**

Sampai di taman, Jessica mengangkat kedua tangannya dan meregangkan tubuhnya.
“Ternyata malam hari suasananya menyenangkan juga.”
Taeyeon hanya terdiam, dalam hatinya ikut merasa senang dan damai.
“Lihat Taeyeon, malam ini bulan purnama,” Jessica menunjuk ke langit.
Taeyeon menengadah ke atas dan matanya langsung diterpa oleh cahaya kuning bulan purnama.
“Indah sekali ya… padahal bulan selalu ada tapi karena sibuk kita jarang memperhatikan bulan, padahal kalau dilihat baik-baik bulan adalah pemandangan alam yang indah..”
“Kamu benar,” Taeyeon tersenyum lembut.
“Walau seganas apapun perang, sampai menghancurkan daratan-daratan dan kota-kota tapi lihat, bulan sama sekali tidak hancur.”
“……………..”
“Aku harap mereka cepat sadar bahwa pertempuran ini sia-sia dan mengadakan gencatan senjata…”
“Ne, tenang, semua pasti akan kembali damai.”
“Aku harap lebih cepat…”
Dibanding bulan, Taeyeon lebih terkesima memandang wajah Jessica dari samping. Sungguh perasaan yang terlarang, tapi Taeyeon tak dapat menghentikannya. Matanya mempelajari setiap lekuk wajahnya.
Menyadari intensitas tatapan yang diberikan oleh Taeyeon, Jessica berpaling ke arahnya, Taeyeon pura-pura tidak sedang melihat.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“……………..”
“Di-dingin,” Taeyeon menggosok kedua lengannya. “Sudahan yuk, kita kembali ke kamar,” kata Taeyeon takut Jessica dapat membaca perasaannya.
“Oke.”
___________________________________________________________________________

Keesokan harinya.
Taeyeon sedang berlatih sihir sendirian di ruang latihan.
“Blue Thunder!”
BLAARRRR!
“Baiklah, sekarang latihan sasaran. Aku juga harus menghemat tenaga andaikan dihadapkan dengan musuh dalam jumlah banyak.” Taeyeon menarik nafas dalam. Sorot matanya tajam, membidik sasaran paling kecil yang paling jauh. “Konsentrasi, lebih kecil… lebih tajam.”
“Blue Shot Gun!”
Sasaran yang terbuat dari kayu itu hancur.
“Fiuh…” Taeyeon menghembuskan nafas dan menyeka keringat yang mengalir di pipinya.
Prok prok prok
“Luar biasa, Taeyeon,” kata Sunny sambil bertepuk tangan.
“Sunny?”
“Kamu benar-benar rajin ya berlatih sendiri seperti ini, padahal sudah malam,” Sunny memberi Taeyeon sebuah botol air minum.
“Oh gomawo,” Taeyeon membuka tutup botol dan meminum setengah isi botol.
“Taeyeon, kalau kamu masih belum capek, mau bertanding melawanku?”
“Heh, ide yang bagus, Sunny.”

Sementara di saat yang bersamaan.
“Terus Sunny bilang begini-” Jessica dengan bersemangat menceritakan tentang sahabat-sahabatnya sementara Daniel hanya terdiam.
“Sunny sekarang benar-benar terlihat seperti pemimpin yang berwibawa ya, padahal masih muda, dia benar-benar hebat.”
“……………”
“Lalu Taeyeon juga hebat, kemampuan sihirnya berkembang dengan cepat. Para juniorku saja tidak ada yang menunjukkan perkembangan sehebat Taeyeon dan Sunny dulu.”
“……………”
“Oppa?”
Daniel seperti tersadar dari lamunannya. “A-apa Jessica?”
“Oppa gimana sih? Dari tadi aku cerita tapi oppa malah terlihat seperti tidak memberi perhatian sama sekali. Apa ceritaku tidak menarik?”
“Ani, bukan begitu, hanya saja…” suara Daniel berubah lirih. Kemudian dia menghela nafas. Helaan nafasnya itu menerbitkan sejuta tanda tanya di benak Jessica.
“Wae?”
“Jessica..”
“Sebenarnya ada apa oppa?” Jessica mulai khawatir karena melihat raut wajah Daniel sekarang ini memberinya firasat buruk.
“Aku akan pergi meliput berita tentang perang sebagai seorang wartawan di SM besok.”
“A…pa?” Jessica menatap Daniel tidak percaya.
Daniel mengalihkan perhatiannya dari Jessica, tidak berani menatap matanya.
“Tapi kenapa? Mendadak juga…”
“Karena aku benar-benar menginginkannya… sejak setahun yang lalu aku ingin sekali pergi meliput berita tentang perang. Sudah cita-citaku menjadi seorang wartawan.”
“Gila! Pergi ke medan perang itu kan berbahaya sekali oppa! Kota SM sedang ditengah perang! Apalagi oppa bukan penyihir yang terlatih! Banyak orang yang justru ingin menghindari peperangan, tapi oppa malah mau pergi kesana. Oppa pergi kesana sama saja dengan cari mati!”
“Maafkan aku Jessica, akhirnya sekarang kesempatan itu ada depan mata, aku tidak ingin melewatkannya…”
“Daniel oppa!” pekik Jessica lebih keras.
“Tenang saja Jessica, aku tidak sendirian, ada penyihir kuat yang khusus dipilih untuk mengawal para wartawan perang selama perang berlangsung, jadi aku akan baik-baik saja.”
“Tapi tetap saja…!” mata Jessica mulai berair.
“Aku benar-benar bersemangat ketika mendengarnya sehingga tanpa pikir panjang aku langsung mengajukan diri untuk menjadi relawan,” Daniel mengepalkan tinjunya, menunjukkan kemantapan hatinya.
“……………..”
“Jessica mengertilah, ini adalah impianku,” Daniel memegang pundak Jessica.
“Ne, aku tahu… kapan oppa akan pulang?”
“Satu bulan lagi. Kalau begitu pembicaraan kita sampai disini ya Jessica, aku mau bersiap-siap untuk besok,” Daniel bermaksud pergi tapi Jessica menarik lengan bajunya.
“Janji ya! Kalau oppa akan pulang dalam keadaan selamat dan tepat waktu.”
“Aku janji,” Daniel tersenyum.
“Dan juga…”
“?”
“Karena telepati tidak bisa, sebagai gantinya kirimi aku surat ya?” (disini khusus para penyihir ranking S ke atas bisa melakukan telepati)
“Pasti.”

**

Keesokan harinya Jessica pergi mengantar kepergian Daniel sampai ke depan gerbang markas. Air mata Jessica tumpah saat melepas kepergian Daniel, seolah-olah akan berpisah dengan kekasihnya walau mereka bukan sepasang kekasih secara resmi. Mereka saling berpelukan, melambai dan terlihat sangat mesra sementara Taeyeon lagi-lagi jadi orang ketiga dengan mengamati mereka dari jauh.
Taeyeon meremas ujung bajunya sendiri.
“Taeyeon…”
“Apa Sunny?” Taeyeon bertanya tanpa menoleh ke samping.
“Hari ini kita latihan juga ya?”
Taeyeon berpikir mungkin Sunny sengaja mengajaknya untuk mengalihkan pikirannya. Dan dia merasa bersyukur punya teman yang perhatian seperti dirinya.
“Baiklah.”

**

Taeyeon POV

Entah kenapa hari aku merasa lebih bertenaga dari kemarin sehingga energi sihir yang kukeluarkan lebih besar. Sunny sampai takjub.
“Wow Taeyeon! Sepertinya hari ini kamu lebih bersemangat dari kemarin ya?”
“Hahh hahh hahh…!”
Darahku seperti mendidih, aku berusaha menenangkan diriku meskipun susah.
Sebal… sebal!
Di kepalaku kembali terlintas adegan Daniel dan Jessica yang kulihat tadi pagi
Kulancarkan seranganku sekuat tenaga.
“Taeyeon!”
Sunny tidak mampu menahan seranganku, sihir cahayaku yang berwarna biru menembus barriernya, Sunny menghindar, tapi sebagian sihirku masih mengenai tubuhnya. Sunny terjatuh lemas dan aku baru sadar akan apa yang kulakukan.
“Aigo, apa yang kulakukan?! Sunny!” aku cepat-cepat menghampirinya.
“Sunny kamu tidak apa-apa?” tanyaku panik.
“Tenang Taeyeon, aku tidak apa-apa… kamu jadi semakin kuat.”
“Maafkan aku…” kukatupkan rahangku, merutuki diri sendiri yang begitu mudahnya membiarkan emosi menguasaiku.
“Bukan salahmu Taeyeon, aku saja yang terlalu lemah untuk jadi lawan tandingmu, haha.”
Padahal kenyataan yang sebenarnya Sunny adalah penyihir paling kuat di biro ini. Rangkingnya di atasku, yaitu S+. Itulah alasan kenapa dia diangkat jadi pemimpin. Sunny mencoba untuk berdiri tapi tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri dengan stabil, sehingga dia hampir terjatuh. Aku segera menangkapnya.
“Jangan memaksakan dirimu.”
Mungkin dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja agar aku tidak merasa bersalah.
Aku menyesal telah melampiaskan kemarahanku pada Sunny, jadi kugendong dia di punggungku.
“E-eh, Taeyeon?!”
“Maaf ya… aku akan segera membawamu ke rumah perawatan.”
“Ti-tidak usah, aku baik-baik saja, benar,” tapi segera kusela sebelum protesnya berlanjut.
“Kamu sendiri yang bilang kalau luka sekecil apapun tetap harus diobati kan?” aku tersenyum pada Sunny.
Wajah Sunny sedikit memerah, setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi selama aku membawanya ke infirmary.

Sunny POV

Sejak kapan Taeyeon jadi sekuat ini? Aku benar-benar kagum dengan kemampuannya yang berkembang dengan pesat.
Tiba-tiba Taeyeon menggendongku dan berkata lembut padaku.
Kenapa kamu malah sebaik ini?
Sekarang aku berada di punggungnya. Dan berada sedekat ini, hatiku jadi galau. Sehingga tanpa sadar aku sedikit meremas pundaknya.
Gawat, air mataku rasanya mau tumpah…
Jangan buat aku jadi semakin menyukaimu Taeyeon…

**

Third Person POV

Langit berwarna biru gelap ketika Taeyeon berjalan sendirian di taman. Lalu dia duduk di sebuah kursi taman. Matanya menatap kosong bintang-bintang berserakan tak beraturan di atas kepalanya. Lalu dia memikirkan kejadian tadi siang.

Flash Back
Jessica berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Raut wajahnya jelas mengatakan kalau hatinya sedang galau.
“Aku benar-benar khawatir…”
Hanya kalimat itu yang tak henti-hentinya dia katakan.
“Tenanglah Jessica, Daniel oppa pasti baik-baik saja, sekarang makanlah, dari tadi siang kamu belum makan, kamu juga kelihatan lesu..”
“Taeyeon, aku nggak bisa! Aku terus khawatir kalau oppa sampai kenapa kenapa!”
“Jangan berpikir negatif terus, aku tahu perasaanmu…” Taeyeon memeluk Jessica. “Sekarang kamu makanlah, kalau tidak nanti kamu sakit…”
Jessica akhirnya mengiyakan.

End of flashback

Akhir-akhir ini Taeyeon jadi semakin bingung terhadap perasaannya sendiri.
Dia bertanya-tanya apakah dirinya mencintai Jessica? Ataukah dia cuma menganggap Jessica sebagai sahabat?
Tapi kalau dia hanya menganggap Jessica sebagai sahabat dia tidak bisa menjelaskan kenapa dadanya selalu berdenyut menyakitkan ketika melihat Jessica bersama dengan Daniel. Apalagi kalau namja itu membuat Jessica tertawa. Pada awal-awal melihat, sakitnya tak tertahankan sampai air matanya selalu ingin melesak keluar.
Sekarang hanya mengingatnya saja sudah cukup menyakitkan hatinya.
Setelah merenung sesaat Taeyeon memutuskan untuk kembali ke kamar untuk tidur. Ketika masuk ke kamar, dia menemukan Jessica sudah terlelap di kasurnya. Taeyeon menghampirinya dan dia melihat air mata keluar di sudut matanya.
“Daniel oppa…” ngingau Jessica.
Bahkan dalam mimpimu kamu masih menyebut namanya, kamu betul-betul menyukainya ya…?
Taeyeon menyelimuti Jessica dengan selimut.
Taeyeon mengelap air mata Jessica yang meluncur turun dari matanya. Lalu berbisik padanya. “Sica ya, apa tidak ada yang bisa kulakukan untukmu? Karena aku akan melakukan apapun demi kamu. Aku tidak ingin melihatmu menangis, kalau bisa… aku ingin kamu selalu tersenyum… karena kalau kamu seperti ini… aku juga jadi ingin menangis..”
Taeyeon mengelap air mata berikutnya yang meluncur turun.
“Tenang saja Jessica, aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, jadi semua pasti akan baik-baik saja…”
“Aku bahkan akan memberikan kebahagiaanku untukmu jika saja bisa kebahagiaan bisa dibagi…”
Taeyeon menyentuhkan bibirnya dengan lembut di kening Jessica. Setengah ketakutan, setengah lagi berdebar-debar.
Dan setelah melakukan hal itu Taeyeon jadi yakin sekarang kalau dia memang menyukai Jessica secara romantis, tapi Taeyeon sama sekali tidak menentang perasaannya yang menyukai Jessica.
“Selamat tidur Jessica…” Taeyeon menyelinap masuk di balik selimut dan ikut tertidur.
___________________________________________________________________________

Third Person POV

Sebulan berlalu tapi Daniel tidak kunjung pulang. Kecemasan Jessica sudah memuncak.
Daniel oppa, jangan-jangan terjadi sesuatu…? Surat-suratnya juga terhenti dari 2 minggu yang lalu..
Bagaimana ini… aku harus menyusulnya tapi…! Aku takut pergi sendiri!
Akhirnya Jessica memutuskan untuk menemui Taeyeon.
“Taeyeon, aku mau bicara serius denganmu.”
Mendengar nada suara Jessica yang serius Taeyeon pun menjadi ikut serius “Bicara apa?”
“Sebenarnya aku mau minta tolong sama kamu…”
“Minta tolong apa?”
“Aku mau kamu…”
Taeyeon berusaha untuk tetap memfokuskan pikirannya. Dia tidak mau terlena oleh ucapan Jessica. Dia tahu kalau Jessica belum selesai berbicara. Walau dia juga berandai, andaikan apa yang dikatakannya cukup seperti itu, tidak ditambah kalimat-kalimat lain.
Jessica memejamkan matanya dengan erat, mengumpulkan seluruh keberaniannya. “Aku mau kamu menemani aku pergi ke SM.”
Taeyeon terbelalak. “Jessica! Masa kamu serius?!”
Jessica mengangguk. “Aku serius, Taeyeon.”
Taeyeon menggigit bibir sebelum berkata. “Mau menemui Daniel oppa?”
Tidak, sebenarnya dia tidak perlu menanyakannya lagi. Karena dia sudah tahu jawabannya, Taeyeon hanya mau memastikan.
Jessica mengangguk sekali lagi.
“Jessica yang benar saja! Masa hanya karena itu kamu sampai mau pergi ke SM?! Tempat itu jauh dari sini selain itu kota SM ditengah perang!”
“Aku tahu!”
“Lantas kenapa?!” Taeyeon ikut meninggikan suaranya.
“Aku khawatir! Kamu seharusnya tahu bagaimana perasaanku!”
“!”
Ya, Taeyeon tahu benar. Karena kau tidak akan memanggil nama seseorang yang tidak penting ketika kamu mengingau.
Jessica sadar dan mengubah intonasinya.
“Maaf Taeyeon… tapi aku benar-benar ingin bisa bertemu dengan Daniel oppa… aku khawatir terjadi sesuatu pada Daniel oppa, dia bukanlah seorang penyihir…”
Taeyeon memejamkan matanya. “Tidak bisa…”
“Taeyeon…”
“Tidak, kamu mohon berapa kali pun aku tidak akan menemanimu, tidak akan. Perjalanan ini terlalu berbahaya. Aku menolak begini itu demi kepentingan kamu juga.”
“Taeyeon, aku mohon…”
“Tidak ya tidak,” jawab Taeyeon dengan tegas.
Jessica terdiam. Taeyeon membelakanginya tanda tidak setuju.
“Taeyeon, aku sudah tahu kamu pasti akan melarangku seperti ini, karena kamu memang perhatian padaku…”
“Ka-kalau tahu begitu kenapa masih tetap memohon padaku? Seharusnya kamu mengajak Sooyoung atau yang lainnya saja,” suara Taeyeon tercekat. Dia menjadi sensitif kalau sudah topik yang mengarah ke perasaannya yang sebenarnya.
“Karena mereka sudah pasti akan mencegahku, dan juga…”
“?”
Taeyeon dapat melihat sesuatu pada ekspresi Jessica. Sesuatu yang dia tidak yakin apa itu. Tapi itu jelas bukan ekspresi seorang sahabat yang tengah menatap sahabatnya. Mendadak Taeyeon jadi takut perkataan apa yang akan keluar dari mulut Jessica selanjutnya.
“Taeyeon… kamu mencintaiku kan?”
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu jantung Taeyeon langsung berdebar-debar.
“Ta-tahu dari mana?! Ups..!” Taeyeon keceplosan dan segera dia menutupi mulutnya.
“Ternyata memang benar ya… kalau kamu menyukaiku lebih dari sekedar teman…” ekspresi Jessica menjadi lembut sekaligus sedih.
Taeyeon merasa sudah tidak bisa mengelak lagi.
“Aku tidak selambat itu sampai-sampai tidak menyadari perasaanmu. Karena kamu selalu perhatian padaku, menghiburku disaat aku sedih…” Jessica memejamkan matanya sambil menebah dadanya. “Dan juga perkataanmu tadi malam telah membuang semua keraguanku kalau kamu memang menyukaiku.”
“!”
Taeyeon terkejut karena Jessica mendengar semua apa yang dikatakannya.
“……………..”
“Sebab aku tahu perasaanmu…”
“Me-meskipun begitu, itu tidak berarti aku akan mau menemanimu.”
“Taeyeon kalau kamu mau mengabulkan permohonanku sekali ini saja maka aku…” Jessica berhenti sebentar seolah hendak memilih-milih kata yang akan diucapkannya. “Aku akan menikah denganmu…”
Mata Taeyeon membelalak lebar.
Apa?!
Taeyeon segera menghadap kembali pada Jessica, memandangnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kamu mencintaiku kan? Kamu menginginkanku bukan?” Jessica menatap Taeyeon dengan wajah memohon.
“I-itu…” Taeyeon tidak sanggup menatap langsung ke mata Jessica, wajahnya memerah. Perkataan Jessica tepat mengenai dirinya sampai dia merasa malu karena isi hatinya ketahuan.
“Taeyeon, kalau kamu menginginkan tubuhku juga akan kuberikan…”
Nafas Taeyeon tertahan. Percakapan ini benar-benar mengarah ke arah yang tak akan pernah diduganya dalam ribuan bahkan jutaan tahun.
Mendengar itu Taeyeon segera menarik Jessica dan mendorongnya ke tempat tidur. Lalu tanpa memberi kesempatan untuknya bangun, Taeyeon menindihnya.
“Jangan bercanda…” suara Taeyeon rendah tapi sarat dengan nada misterius.
“Kamu sadar sama apa yang kamu katakan barusan kan, kamu serius?” Taeyeon menatap Jessica dengan dingin. Belum pernah Taeyeon memandangnya sedingin itu. Jessica mengalihkan matanya dari sorot mata Taeyeon yang begitu tajam seolah mau menghujam matanya. Taeyeon memegang dada Jessica yang membuat Jessica tersentak kaget.
“Hanya untuk bertemu dengannya kamu rela menyerahkan tubuhmu?! Apa harga dirimu sudah jadi serendah itu?!” bentak Taeyeon, tangannya tetap masih memegang dada Jessica.
Jessica mengumpulkan segenap keberaniannya. “Iya…” meskipun berkata begitu tapi sorot matanya memancarkan sedikit ketakutan saat membalas tatapan Taeyeon.
“Kalau kamu menginginkan tubuhku sekarang juga maka aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya…”
Jessica mulai melepaskan kancing baju yang dikenakannya. Tangannya gemetar sewaktu dia melakukan itu, karena Jessica sempat membayangkan Taeyeon akan memperkosanya dengan kasar.
Dia sendiri juga tidak pernah berpikiran akan berada dalam situasi seperti bersama dengan sahabatnya yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.
Nafas Taeyeon tercekik melihat satu persatu kancing bajunya dilepaskan dalam gerakan lambat. Melihat itu hatinya menjadi miris sendiri, kemudian dia menyingkir dari Jessica.
“Taeyeon…?”
“Haha… kamu benar-benar bodoh…” Taeyeon terlihat seperti menyesal dan terkalahkan.
Ternyata memang yang ada dalam hatimu itu hanya ada dia ya… bahkan sampai nekad seperti ini. Aku… bahkan sedikitpun tidak ada dalam hatimu ya…
Sudah kuduga kalau sama namja itu, aku tidak akan bisa menang…
Lagipula memang tidak mungkin…
Taeyeon membelakangi Jessica dan menutupi wajahnya. Air matanya mengalir.
“Haha, kurasa aku bisa mengerti sekarang kenapa kamu hanya meminta tolong padaku.”
Baik tawa maupun suara Taeyeon terdengar memilukan.
“Maafkan aku Taeyeon, kalau kesannya aku seperti memanfaatkan perasaanmu… tapi karena aku tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa kumintain tolong… aku tahu kalau di saat seperti apa pun Taeyeon pasti akan membantuku…”
“……………..” Taeyeon merasakan asinnya air mata yang diteteskannya. Kemudian dia mengelap air matanya diam-diam.
Tidak ada orang lain selain aku ya…?
“Aku tahu kalau aku telah sangat menyakiti hatimu Taeyeon… tapi aku yakin kalau kamu tidak akan membiarkanku sendirian…”
“Haha dasar… aku kalah…”
“Eh?”
“Baiklah, aku akan menemanimu.”
“Kamu… sungguh-sungguh?”
“Ya, tapi aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku, aku bukan orang sejahat itu… aku tidak ingin memaksa orang yang kucintai untuk menikah denganku, jadi kamu tidak usah khawatir karena kamu akan bisa memilih dengan siapa kamu akan menikah…”
Taeyeon tersenyum pedih dan mengatai dirinya sendiri bodoh dalam hati karena telah membuang satu-satunya kesempatan untuk menikahi Jessica, tapi dia tidak akan menarik kata-katanya.
Karena baginya percuma saja kalau bisa memiliki Jessica di sisinya, tapi Jessica sama sekali tidak terlihat bahagia.
Dia sudah memutuskan ingin melihat Jessica bahagia, tidak peduli nantinya Jessica akan jadi milik siapa. Untuk itu dia harus berkali-kali menelan air matanya.
“Taeyeon, gomawo, mianhae…”
Taeyeon meremas dadanya sendiri.
Kacau… dadaku terasa sakit sekali…
“Karena sudah malam kita berangkat besok saja, saat subuh supaya tidak ada yang tahu, karena kalau tahu mereka pasti akan mencegah kita.”
“Iya..”
‘Tapi kalau untuk Jessica apapun kulakukan…
Sebab tidak ada yang lebih berharga selain berjuang demi senyumnya.
Dan saat itu juga Taeyeon berpikir kalau dia tidak akan menaruh harapan lagi sedikitpun pada Jessica dan benar-benar sudah menyerah akan perasaannya, tapi benarkah itu akan terus bertahan?

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Repeat (Chapter 2)" (46)

  1. annyeong…

    aaaaaaaah ternyata TaengSic ga NC an 😦 taeng masih kuat iman (?) yah klo ma Jessica (cobaklomappany,habisdah)

    pasti deh disaat Taeng mulai menyerah akan cintanya ke Jessica,justru jessica nantinya yg akan menyadari kalo sebenarnya dia juga mencintai taeng #mungkin

  2. Wink(s) said:

    Nyerah deh taeyeon u,u tapi, entar sica yang nyesel lho o_o
    Ini, masih panjang? Masih penasaran akan jadi taengsic atau taesun?O.o

  3. Taenytebs said:

    Tumben gw ksel sma sica,nyeblin sh…tae nyerah? Tpi ttp berharap taengsic bersatu

  4. Kwon Eya said:

    Wah, taeng cinta buta neh. Rela nglakuin apapun dmi sica. Sica tga bgt, manfaatin przaanya taeng.

  5. Huaa sedihh bgt sumpah …
    Taeng bner2 kerend dah …
    Q bner2 sebel ma sica npa mpe sgtu ea demi si daniel …
    Mpe nangis bca perckapn sica N taeng d kamr …
    Taeng dah km sma sunny aja …
    Lanjut

  6. defy86 said:

    Helloo..
    Taeyeon nahan nafsu krn taeyeon terkenal byun hehhee…
    Jessica km jahat dan manfaatkan demi daniel oppa.
    Taeyeon merelakan.
    Ku tunggu laanjutan dan hwaiting

  7. aihhh sica jahat banget…
    sebyun2nya taeng masa iya dia mikir taeng bakal mau ‘menodai’ sica sebagai imbalan sih.
    jahatnya.
    mmgnya di mata sica taeng itu mesum bgt ya? -_-

    jgn2 itu ntar daniel oppa menghilang trs dikabarkan mati.
    giliran sica udh mulai nerima taeng trs daniel nya balik.
    aihhhh masak gtu sih.
    #reader sotoy

    sunny juga kasihan.
    kayaknya dia beneran suka sama taeng deh.
    iiihhh cinta segi banyak mmg menggemaskan.

    hah drpd nebak2, udah nunggu updatenya aja deh.

    buruan update chingu.
    hwangtaeng!!
    (9 ^o^)9

  8. tae gk akn perkodok sica org dia selera ny ama fany….

    tae nyerah sma perasaan ny….
    ntar klau tae udh gk perhatian lg nyesel loh sica…

  9. hiks… taengsic ku…. 😦
    segitu cintanya ya sica ama si oppa itu.. kesian taeng.. kesian sunny..
    kesian juga saya yang baca dan pagi-pagi bikin pengen mewek.

    chapter 2 ini lebih menguras emosi… kalo chapter 3 ntar menguras apa ya..
    wkwkw..
    lanjut unnie!

  10. taeng pahlawannya sica 😀

  11. cutiemeenie(dini) said:

    apppaa bgt siiih jessieee
    u’re so meanieeee TT.TT
    taeng oppa ma aq z sinii puk puk peluk2
    kkke
    keep update, hiatus’a bentar ajaa trus bsok apdet lagiih yaaa cintaaa
    love love

  12. gila Thor…. ff nya keren bngt!!!!! Uah.. keren.. sedih juga sih… lanjutin trs yah thor!!! fighting!!!!

  13. jarg2 ff taesun.hmm g ad yulsic y thor

    next chap yg cpt y hehe

  14. ahhhhhh tae dewasa bgtttt
    DAEBAK!

  15. 'rusa' said:

    weh jessica bener2 gila karna si daniel

  16. step lin said:

    Kesian bget taeng.hnya jdi pencinta tpi tak d cinta.
    sica loe bahkan rela ngorbanin tubuh loe,hnya untuk ktmu dgn oppamu itu,taeng nape ngax di santap aja sih,tumben loh kuat,haha…abis sica tega amat…kalau gue mah udah ngak mikir lgi(?)…hantam…(eh)

  17. yaa amplop tae baik banget, sabar yaa tae nanti pasti sica bakalan suka sama kamu 😀 asalkan sabar oke 😉 kalo kamu nyerah nanti kamu ga bakalan dapetin sica, kalo move on susah loh tae *apaaini?*
    tapi tumben yaa biasanya sica yg ngejar2 tae, tapi disini tae yg ngejar2 sica. yaa itung2 bisa melihat sica bahagia lah *plaakk.
    bagguuusss ceritanya, unnie.

  18. S1 Queen's said:

    Ckckck…sica smpe gtu ya demi tu namja.. Taeng aku padamu deh mmmuachhh.
    Suny….
    Lanjut ah…

  19. agustina_huang said:

    Iya nih…kasian taeng.. Kasian jg sunny…
    Pngennya biar taeng ama sunny az, ntr bru dah sica nyadar sbaek ap taeng,rela ngelakuin apapun.. Hiks*…
    Go…go..hwaitaeng thor ^^
    Author emg daebak,bs bkin crita yg mnguras emosi reader..
    Hehehe..

  20. sica gitu banget,, kasian kan taeng.. uch~

  21. Yahhhh sica nya kok gak nerima perasaan tae sih pdhal kasian taengnya uda tulus banget
    Anw daebak thorrr ditunggu lanjutannya ya 😀

  22. Miss New New said:

    SHIKA-YAAH~
    taeng emang overload byun tapi masaaaa kamu nganggep dia tega begono-in kamu???

    ihhh bete

    tapi si daniel emang okeh sihh xD

  23. Shin Young said:

    Uahh nyesek#meweksambilpeluktaeng XD

  24. Kim/Choi said:

    Kasihannya Taeyeon unnie

    Nice fantasy story! Lanjutkan!

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: