~Thank you for your comments~

Eien no Kizuna (Chapter 10)

Kalau tidak salah ingat, Tiffany juga pernah memanggil Taeyeon dengan sebutan ‘Taetae’ saat operasi.
Jessica melipat tangannya di dada.
“Begitu ya. Berarti kamu sama denganku,” katanya dingin.
Maksudnya sama dalam artian mencintai Taeyeon dan sama-sama dicintai Taeyeon.
“Tapi ini tidak berarti aku akan menyerahkan Taeyeon padamu. Akan kutunjukkan kalau akulah yang lebih pantas bersama dengannya daripada orang yang pergi meninggalkannya,” kata Jessica penuh sinis.
Tiffany tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya terpuruk dengan pemikirannya sendiri.

**

Flash Back

@Rumah Taeyeon
Keluarga Taeyeon sudah pada terlelap. Sementara Taeyeon dan Tiffany sedang belajar bersama untuk ujian. Keduanya sama-sama duduk di lantai beralas karpet dan belajar di sebuah meja yang cukup lebar.
Tiffany mulai tidak bisa konsentrasi karena perutnya minta diisi. Tiffany menjauhkan wajahnya dari buku. Meletakkan buku yang sejak tadi dipegangnya di atas meja dengan suara keras, sengaja untuk menarik perhatian Taeyeon.
“Taetaeeee~ aku lapar nih~”
Taeyeon hanya meliriknya sekilas, kemudian membalik halaman berikutnya. “Bukannya tadi kamu sudah makan?”
“Iya, tapi gara-gara belajar terus, aku jadi lapar sekarang.”
“Kalau begitu delivery saja sana,” jawab Taeyeon sambil terus menulis point-point yang penting dengan pensilnya.
“Taetae gimana sih, ini kan sudah jam sebelas! Memangnya masih ada restoran yang buka?!”
“Kan ada yang buka 24 jam.”
“Pizza? Aku nggak mau!”
“Lalu maunya apa?”
“Apa saja selain pizza.”
“Baiklah, kalau kubuatkan pasta kamu mau?”
“Mau!”
“Tapi sebenarnya kamu bisa pesan sih, mereka kan tidak hanya membuat pizza.”
“Gak mau, aku maunya buatan kamu!”
Taeyeon menegakkan punggungnya dan melihat ke arah Tiffany yang sedang merajuk seperti anak kecil.
“Baiklah, tunggu sekitar 30 menit.”
“Oke!”
“Tapi selama aku masak kamu tetap belajar.”
“Neee~”
Taeyeon pergi ke dapur. Mengumpulkan alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan lalu mulai memasak pasta. Selama memasak dia melakukannya dengan hati riang. Bagaikan sedang memasak untuk kekasih sendiri. Tidak hanya memasak, Taeyeon memang selalu senang kalau bisa melakukan sesuatu untuk Tiffany.
“Semoga Tiffany semakin menyukaiku.”
Sebenarnya terkadang tanpa disadarinya, Taeyeon memperlakukan Tiffany seperti kekasihnya sendiri. Taeyeon menjaga Tiffany. Membayarinya. Matanya selalu mengikuti sosoknya untuk memastikan keadaannya. Dan mencurahkan perhatian sepenuhnya padanya.
30 menit kemudian.
Tiffany langsung menghentikan belajarnya begitu melihat Taeyeon masuk kamar membawa dua piring pasta.
“Jang!”
“Waaaaa~!” Tiffany bertepuk tangan girang. “Baunya enak!”
“Ini kreasiku sendiri, kuberi nama Taengolae pasta.”
“Nama yang lucu^^”
“Nah, ayo kita makan.”
“Hehe, mari makan^^” Tiffany menyuapkan gulungan pasta dengan garpu ke dalam mulutnya. “Hmm!” lalu menjadi hyper dalam posisi duduknya.
“Bagaimana?”
“Taetae kamu memang jjang! Kamu pasti bisa jadi istri yang hebat!”
Taeyeon tersenyum bangga. Tidak sia-sia dia telah berlatih memasak sejak menginjak remaja.
“Kalau itu bisa menyenangkanmu…” bisik Taeyeon dengan suara kecil.
“Eh? Barusan kamu bilang apa?”
“Ani…”
“Pasti menyenangkan kalau punya pacar yang bisa masak untukmu^^”
Taeyeon berhenti mengangkat garpunya. Sejenak memandangi ekspresi wajah Tiffany yang melahap pasta di piringnya dengan nikmat. Dalam hatinya, Taeyeon sangat ingin menjadi kekasih Tiffany. Kemudian Taeyeon menusuk-nusukkan garpunya ke pasta dengan acuh tak acuh.
“Kalau begitu, karena aku bisa masak, kenapa kamu nggak jadikan aku pacarmu saja?”
“Heehhh??^^”
Taeyeon balas tersenyum. Dari luar dia tampak tenang, tapi sebenarnya jantungnya berdebar kencang. Untuk menutupi perasaannya, Taeyeon memilih lebih memperhatikan tekstur dan warna pasta bikinannya sambil melanjutkan kalimatnya dengan nada rendah. Karena dia takut Tiffany dapat membaca perasaannya lewat sorotan mata dan suaranya.
“Kalau aku jadi pacarmu kan aku bisa masak makanan yang enak buat kamu. Dan kalau kita menikah, kamu malah bisa makan tiap hari kapan pun kamu mau.”
“Hmm.” Tiffany tampak sedang menimbang sejenak lalu melempar eye smile pada Taeyeon. “Boleh juga^^”
Taeyeon tertawa. Tidak disangka Tiffany ikut menanggapinya. Dia tahu Tiffany hanya bercanda, tapi segitu saja hatinya sudah melambung bahagia.
“Kalau gitu kita menikah.”
Meski hanya sebagai candaan, tapi dibutuhkan keberanian ketika Taeyeon mengucapkan kata ‘menikah’.
“Kalau begitu mulai sekarang tolong jaga aku^^”
“Ya istriku.”
Tiffany tertawa dan mendorong pelan pundaknya.
Hati Taeyeon berharap seandainya mereka bukan sedang bercanda. Bila ini sungguhan dia pasti akan sangat bahagia sampai tidak bisa tidur malamnya.
“Hehehe, berada bersamamu sangat menyenangkan Taetae, aku harap aku bisa selamanya bersamamu^^”
“Tentu saja kan, kita kan sudah janji akan selamanya bersama.”
“Hehe, jangan lupakan janjimu^^”
“Nggak akan, apa perlu janji jari kelingking?” kata Taeyeon sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Tiffany hanya tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada Taeyeon.
“Janji.”
Dalam hati keduanya mereka sangat senang. Rasanya mereka baru saja seperti membuat ikatan abadi. Ikatan yang begitu kuat. Ikatan yang selamanya tidak akan pernah hancur. Ikatan yang tak lekang oleh waktu.
“Aku harap kita nggak terlalu cheesy sekarang^^”
“Memang sudah cheesy, maksudku pastanya.”
Memang tadi Taeyeon menambahkan keju ke dalam pasta.
Lalu mereka sama-sama tertawa dan melanjutkan memakan pasta.
“Selama kita berada di topik pacar, Taetae, seperti apa tipe idealmu?”
“Kenapa kamu mau tahu?” jawab Taeyeon setelah menelan.
“Aku kan penasaran seperti apa tipe idealmu, habis kamu bilang kamu belum pernah jatuh cinta. Setidaknya kamu pasti punya tipe ideal kan?”
“Hmm…” Taeyeon memandang wajah Tiffany.
Orang yang cantik dan baik hatinya seperti rupanya. Memiliki kepribadian menarik. Suaranya indah dan setara dengan jelly kesukaanku, hmm.
“??”
Taeyeon masih mempelajari Tiffany.
Hah? Tunggu, kenapa aku malah jadi menyebutkan karakteristiknya! Kalau kubilang begitu nanti dia sadar.
Taeyeon tidak bisa mengatakan kalau Tiffany adalah tipe idealnya, jadi dia menjawab yang mendekati saja.
“Aku rasa… orang yang bisa berkomunikasi dengan baik denganku.”
“Heee, kupikir bakal lebih spesifik lagi. Berarti seperti sahabat ya?”
Mendengar itu, jantung Taeyeon berdebar semakin kencang.
“Ne.”
“Tapi itu bagus, berarti kamu tidak hanya sekedar memandang fisiknya saja. Memang banyak cinta yang berawal dari persahabatan.”
Taeyeon takut menanyakan ini tapi dia tetap harus bertanya.
“Kalau kamu Tiffany? Siapa tipe idealmu?”
“Siapa ya? Mungkin Dennis Oh.”
Taeyeon membasahi bibirnya untuk meredam rasa cemburunya.
“Apa menariknya dia?”
Tiffany merasakan sedikit nada-nada sinis dalam pertanyaan Taeyeon, tapi dia membiarkannya.
“Wajahnya tampan dan badannya tinggi. Aku benar-benar sangat menyukainya.”
“Cih, tipikal yeoja… selalu memuji-muji idola namja. Padahal kau kan nggak tahu sifat aslinya. Hanya melihat sifat dan fisik yang tampak dari luarnya,” kata Taeyeon dengan nada ketus.
“Ah Taetae kamu sih tidak mengerti, kamu kan tidak mengidolakan siapa-siapa. Meski nggak kenal dekat, tapi karena wajahnya tampan sudah tentu karena sifat dalamnya juga baik.”
Taeyeon mendengus. “Oh ya?”
“Ih Taetae, kenapa sih ketus banget?”
“Aku cuma nggak mau kamu jatuh ke perangkap namja. Sekarang banyak namja yang suka jual tampang padahal sebenarnya playboy.”
“Taetae, jadi kamu memikirkanku? Aww so sweet^^”
Taeyeon berusaha agar tidak tersipu oleh perkataan Tiffany. Tapi tentu saja gagal, dia cengar-cengir seperti orang bodoh sekarang.
“Ah, tapi selain aku suka pacar yang bisa masak, aku juga suka kalau dia bisa nyanyi. Lalu nilai plus kalau dia bisa memainkan alat musik juga.”
“Alat musik… seperti?”
“Aku sih bisa main seruling.” Tiffany menunjukkan gerakan jemari seperti sedang memainkan seruling. “Tapi kalau dia bisa main gitar atau piano sih juga bagus.”
“Kamu suka kalau pacarmu bisa main?”
“Sebenarnya sih nggak harus, cuma bukannya bakal terasa lebih romantis? Seperti di drama-drama, aku ingin merasakan mengalaminya.”
Dalam diri Taeyeon saat itu, muncul semangat tinggi untuk belajar memainkan alat musik. Karena keluarganya tidak punya piano, Taeyeon berpikir akan mengambil gitar kakaknya. Pokoknya dia sudah bertekad akan belajar memetik gitar sampai cukup mahir setelah itu menunjukkannya pada Tiffany.
Keduanya sudah selesai memakan Taengolae pasta dan menghabiskan segelas air putih.
“Ahh enak sekali. Lain kali bikinkan lagi ya, Taetae^^”
“Iya Mi Young.”
“Ah, lagi-lagi kamu bilang Mi Young. Ya sudah, kali ini aku nggak marah karena sudah diberi makan enak.”
Taeyeon menyingkirkan kedua piring dari atas meja. “Ayo kita lanjut belajar, semangat!”
“Hwaiting!”
Tiffany kembali membuka buku teks tebal miliknya.
“Taetae, kamu sudah kepikiran lulus nanti kamu mau SMA dimana?”
“Hmm, mau dimana saja aku tidak masalah yang penting bisa satu SMA sama kamu.”
Wajah Tiffany bersemu cerah.
“Hehe jinjja? Kalau begitu aku tidak usah khawatir akan terpisah sama kamu^^”

End of flash back

**

Taeyeon sedang memikirkan plot cerita novelnya. Dia bergumam sendiri.
“Hmm, bagaimana kalau kubuat karakternya sangat mencintai habis-habisan sampai hampir nekat bunuh diri? Ya, mungkin begitu lebih bagus.”
Tapi ketika diingatkan kembali oleh rasa sakit di kepalanya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Penglihatan dan pendengarannya juga menurun. Lalu semua obat-obatan yang diminumnya juga.
Kemudian dia menarik kesimpulan sendiri setelah meraba-raba kepalanya yang rasanya sedikit membengkak.

**

Ketika Tiffany kembali datang berkunjung, Taeyeon langsung menanyakannya.
“Tiffany, apa aku punya penyakit yang lain?”
Datang-datang dia sudah mendapat serangan jantung. “Ke-kenapa kamu berpikir begitu?”
“Habis aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Lusa aku tiba-tiba pingsan setelah sakit kepala. Tadi malam juga aku sempat terbangun karena kepalaku terasa sangat menyakitkan. Aku jadi berpikir mungkin aku sakit. Seperti kanker otak misalnya…”
DEG
“Seandainya benar dan kamu tahu. Aku ingin kamu jujur. Meski itu berat, aku akan menerimanya.”
“Ka-kamu sakit…”
Mendengar suara Tiffany yang lirih, Taeyeon berkata.
“Tapi maaf, bisakah kamu mengatakannya lebih keras? Pendengaranku kurang jelas.”
Akhirnya Tiffany mengatakan yang sebenarnya. Taeyeon sempat kaget, tapi diluar dugaan Taeyeon kelihatan lebih tenang dari yang diperkirakan.
“Gimana ini…”
“Taetae…”
“Sica pasti syok kalau mendengar penyakitku…”
Sekarang Tiffany malah kaget mendengarnya.
Ke-kenapa lagi-lagi di saat seperti ini pun dia malah memikirkan orang lain lebih dulu?!
“Tiffany, apa Sica sudah tahu soal ini?”
Tiffany mengangguk.
“Aduh… aku harap dia baik-baik saja. Dia selalu sangat mencemaskanku…”
“Ke-kenapa kamu bisa sekuat itu?”
“Kuat?” tanya Taeyeon bingung.
“Memangnya kamu tidak sedih? Tapi bukannya diri kamu sendiri, kamu malah memikirkan kekasihmu lebih dulu!”
Tiffany mungkin berkata seperti itu semata-mata karena cemburu. Namun dia tidak sadar.
“Tentu saja aku sedih, tapi meratap juga tidak akan menyembuhkanku. Lagipula wajar saja kan aku memikirkan kekasihku. Secara jiwa, dia lebih labil dariku.”
“Aku! Taetae, mungkin di matamu aku tidak terlihat seperti itu tapi tahukah kamu aku juga sangat-!” suara Tiffany melengking, tapi sejurus kemudian suaranya melunak. “Aku juga jauh lebih labil daripada yang kamu bayangkan…”
Taeyeon tertegun oleh pengakuan Tiffany. Jadi Taeyeon memang tidak salah mendengar waktu Tiffany berkata mencintainya saat ingatannya baru pulih.
“Tiffany, kamu…”
Tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya, mendadak kepalanya kembali sangat sakit.
“Uh!”
“Taetae?!”
Rasa panik mulai menyergapnya ketika melihat Taeyeon memegangi kepalanya dengan paras berkerut menahan sakit.
Taeyeon menarik nafas dalam. “Gwenchana…”
Tiffany memegangi bahunya. “Jangan berkata kamu baik-baik saja! Di mataku kamu hanya ‘berusaha’ terlihat baik-baik saja!”
Ketika rasa sakitnya mencapai titik yang tak tertahankan lagi, Taeyeon tidak bisa berpura-pura lagi.
“Awwww!!”
“!”
Tepat saat itu Jessica masuk ke dalam.
“Taeyeon?!” Jessica segera berlari ke sampingnya, setengah menyingkirkan Tiffany yang menghalanginya. Dan langsung memeluknya.
“Sica… Fany… sakit sekali…” Taeyeon meremas seragam perawat Jessica. Sosoknya yang bergantung pada Jessica terlihat seperti anak kecil yang bergelayut pada kasih sayang Ibunya.
“Tenang Taeyeon.” Jessica melepaskan pegangan tangan Taeyeon dan membantunya berbaring. “Disuntik dulu ya, tahan sedikit.”
“Ne…”
Bisikan lembut Jessica membuat Taeyeon kembali tenang. Kemudian dia mempersiapkan obat dan jarum suntik yang memang sudah dibawanya.
Tiffany hanya berdiri disana menonton seperti orang ketiga ketika Jessica menyuntikkan pereda sakit ke lengan Taeyeon. Hatinya sungguh sakit karena tak dapat berbuat apa-apa.
Saat mencabut jarum suntik, Jessica menekannya dengan kapas beralkohol. Kemudian memandang wajah Taeyeon lalu mendekat untuk mengecup keningnya.
“Rasa sakit pergilah~”
Tatapan Taeyeon sepenuhnya hanya tertuju pada tatapan lembut Jessica.
“Sudah lebih enakan kan?”
Taeyeon tersenyum sebelum memejamkan mata dan kembali ke alam mimpi.

**

Tiffany jadi putus asa karena progres pengobatan Taeyeon tidak juga membaik.
“Bagaimana ini… kelihatannya sakit Taetae bertambah parah. Bagaimana… kalau tidak bisa diselamatkan…”
“! Fany ah!”
PLAK!
“Aku nggak mau dengar kamu berkata seperti itu! Apa kamu lupa dengan kata-katamu sendiri?! Kamu bilang kita harus sama-sama berjuang melawan penyakitnya! Apa jadinya kalau kamu yang seorang dokter menyerah!? Tidak, meski kamu bukan dokter pun kamu seharusnya tidak boleh berkata seperti itu! Rasa pesimismu hanya akan memperburuk keadaannya!”
“………………”
Tiffany terdiam, Jessica berpikir mungkin dia sedang merenungkan kata-katanya. Jessica sedang berusaha menahan amarah dan kesedihannya. Tanpa disadari Jessica, Tiffany justru mulai kehilangan kewarasannya.
“Aku… aku harus mati.”

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Eien no Kizuna (Chapter 10)" (40)

  1. Gila..ayoloh persaingan di mulai..yap bikin taeng trus kaya gini..adil tanpa memihak..trus biarin dia tetap sadar ama posisi sica sebagai kekasihnya..pany km agresif di kit napa si say u,u

  2. OMONA!!!!
    Knp jd gni cba??
    TaeTae kyk udh gk cnta lg ma ppany..
    N ppany kok kyk gk bsa ap2 sbg dokter..
    Panikkan bgt dehh..

    Next chap ppali palli

  3. We gk bisa ngomong” apa apa thor, yg di otak we cuma rasa kagum,

  4. owh,,,,,
    sbnrnya c pany sm sica gak bersaing
    palagi kl taetae dh kambuh penyakitnya ?
    dua2nya bersatu padu,,,
    heheh

  5. Suka banget Thor ma karekter a tae tae
    moga tae cepet sembuh ya
    sica harus terus berjuang a faiting
    next chap a jangan lama2 ya Thor i love snsd forever

  6. annyeong….

    “Aku…aku harus mati.”MWOOO!!!
    ppany ah come on!!!jangan seperti ini,masa mau nyerah gitu ajj….
    Dan lagi” situasi jungkir balik kembali,dmana ppany cuma bisa jadi penonton setia taengsic.lagi..hiks hiks…

  7. Huh.. Jadi makin giman gitu dah bingung juga ma perasaan sendiri buat nih chap.!
    Isssh Fany kenapa sich sedikt aja ngelakuin apa yang selalu kamu lakuin dulu ke Tae. Agar yah Tae bisa lah lihat kamu lagi :/
    Oh ya, jadi sekarang cuman Sicca yang dilihat Tae atau gimana? Jadi kasihan ma Fany nya thor :/
    Persaingan dimulai. Tapi sebagai dokter koq cepet paniknya. Tapi, ngerti juga sich hehe~ apalagi kan yang dirawat orang yang dicintainya.^^
    Next chap semoga dikit cepet. 🙂

  8. Hahaha bagian flashback itu jdi ikut ngbayangin kalo taeng ngmng beneran ke fany “ya istriku” gimana yah..?? Wkwkwk

    sica jadi sinis gtu sm fany..hmm..
    Akhrnya taeng sm siapa..? Masi ngambang..kkk
    ditunggu lanjutannya..! XD

  9. mungkin aku bacanya kecepetan kali ya…
    kok aku ngerasa ceritanya agak pendekkan. 😛
    tapi overall bagus. ceritanya ngalir begitu aja.
    dipertahanin aja gaya nulis yang sederhana tapi dalem. hehehe
    jempol 9 deh buat unnie…

  10. blackpearljess^^ said:

    Ini yang jd Dokter fany ªƿª sica sih???
    Knpe slalu sica yang lebih cepat ambil tindakan?
    N tanpa instruksi dri fany sbg dokterny,,
    *knpe jd bahas profesi ny* hehheeee,,

    Taetae cepeeett sembuh dooonkkk,, ga tega liat tae skit2an,, 😦
    D tunggu part slnjutny yaa thor mksih^^

  11. jessi… suka bgd nampar fanny… *plakkk……
    gomawo thor dah update…

  12. akhirnya update juga,., yeeyeyeyyy
    pasti endingnya ga enak,., tapi gpp lah terobati dengan flashback karena moment taenynya sweet banget,., heheh

  13. aduh jadi main tampar-tamparan U.u
    Tae bertahanlah buat JeTi jangan sampe yg sakit satu orang matinya rame-rame T.T
    thor lanjut terus y ffnya keren
    Semangat

  14. pany taeng sica author fighting,,,,

  15. sica please deh jgn tampar2 my ppany w nie dah kbrpa kali coba???
    bingung mw koment ap pnyakit taeng kok makin parah??susah smbh dund klo gtu
    moga ad keajaiban bwt taeng amin

  16. taengfany said:

    Nih cerita makin sedih aja
    D’tunggu lanjutan’a

  17. Nah lho ini knapa lagi Fany mau bunuh diri? Knapa jadi gila? Jangan2 Fany juga punya ‘pnyakit’ tuh di otak-nya? Pnyakit ‘gak bisa brhnti mikirin Tae-Tae’ XD
    Sprti biasa banyak fakta2 yang trslip ya, mulai dari taengelopazta, sampai tipe ideal-nya Taeng.
    Ih Taeng ‘nglamar’ Ppany, tapi sayangnya gak ditanggapi serius ama Ppany. >.< Miris pas adegan Sica ngdorong Fany menjauh dari Tae-Tae n Fany cuma bisa mlihat dari jauh layaknya orang ktiga. Ehh itu Sica main tampar Fany aja gara2 Fany mikir yang gak2 tntang keadaan Taeng. Gak kbayang gimana klo dokter-nya bukan Fany tapi mikir poesimis juga. Bakalan ditampar ama Sica juga gak ya? XD Itu namparnya jangan2 trslip prasaan cemburu gitu. -_-
    Masih menunggu flashback yang "dia telah… Dia telah" XD

    • wkwkwk XD
      ya begitulah, aku jg mau pastanya u.u
      maybe Sica memang nampar Fany karena cemburu
      hohoho kayaknya kepikiran terus ah dikau XD

      • Wah parah Sica nampar Fany karna cemburu tuh sbnarnya. Kok jadi kayak plot ‘istri muda menyiksa istri tua’? XD Abis di chaptr ini ksannya Fay teraniaya banget. XD
        Iya nih, gara2 Fany otakku juga jadi kurang beres, bukan gara2 pnyakit lho ya (amit-amit bangt), tapi gara2 satu kalimat pendek yang menyimpan banyak interpretasi. XD
        Dia telah… dia telah… membuatku kepikiran. XD

      • Wkwkwk sinetron tuh XD

  18. mrz_love_taeny said:

    ehhh ppany mau ngapain itu kok ngomong kyk gitu….? ! o.O

    ppany jgn pesimis kamu hrs optimis sama kyk sica wlpn dia jg tersiksa batin karena kondisi tae dia tetep brusaha buat nyelamatin tae dr sakitnya
    ehmmm tp gk tau nih pst bakal sad ending si tae nya udh bikin novel pst buat kenang2an terakhir buat jeti u.u
    semoga authornya berbaik hati k tae biar dia bs sembuh dr sakitnya
    amiiiinnn
    kesehatan tae ada d tangan author soalnya :p

    makin penasaran knp taeny dulu pisah ._.?

  19. Love Trooper said:

    Annyeong,, aku reader baru di ff ni.. karyanya keren-keren…
    Salam kenal buat authornya..

    Love like this..

    Daebak author

  20. Ulfaa said:

    Fany-aaah!
    Kamu…kamu ngomong apa?
    Kok..kok jadi pengen bunuh diri sih?

  21. lee deyeon said:

    Aiiiih ntah mau komen apa dah bingung, sangking keren nya nih tulisan, lanjut baca lga ah, hehe..
    Eeeh itu Sica nampar Ppany ya?
    Hihi sama aja itu blas dendam ma Ppany yg prnah nmpar Sica..

  22. hennyhilda said:

    Maaf g bz komen pa2
    Next chapt cuzzz
    semangat author
    ganbatte

  23. Dia telah?
    Aish mti pnsran dah,loncat lgi ke chap 11 yar gak tmbh pnsran

  24. Ya ampun makin terkesan aza sama ni ff makin kesini ^^. Aahh jess sosweet wkwkwk kasian juga sihh jd fanny tp gpp ahh yg penting taengsic sister^^hehe
    Oke next read

  25. novilrs said:

    sica nya keren, tetep berjuang bikin tae syg sama dia. tae nya gentle bgt ke fany, syg fany nya gk peka mulu

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: