~Thank you for your comments~

Eien no Kizuna (Chapter 7)

Taeyeon bersama Tiffany duduk di bawah pohon besar berdaun rimbun. Di langit, Tuhan mempersembahkan matahari jingga yang bangga memamerkan keelokannya. Semburat senja yang menerobos dedaunan jatuh ke wajah mereka berdua, membuat segalanya jadi tampak lebih dramatis.
Tiffany menarik nafas, dia sudah lebih tenang sekarang. Air matanya sudah tidak mengalir lagi.
“Gomawo Taetae…”
“Buat?”
“Kamu ingin menghiburku yang habis bertengkar sama Appa, makanya kamu mengajakku kesini kan?”
Jemari Taeyeon bergerak mencabut rumput di dekat sepatunya, memperhatikan bentuk dan warna hijau rumput itu dalam genggamannya. “Nggak tuh, aku cuma lagi punya waktu luang.”
“Bohong.”
“Nggak.”
“Taetae.”
“Nggak, nggak.”
Tiffany tersenyum melihat Taeyeon yang terus menyangkalnya. “Serius deh Taetae, kenapa sih kamu malah iseng disaat aku mau berterima kasih sama kamu? Kamu jadi terdengar keras kepala.”
“Soalnya aku nggak merasa melakukan hal besar sampai perlu diberi ucapan terima kasih segala. Aku cuma melakukan apa yang kumau,” kata Taeyeon sambil membiarkan rumput itu jatuh dari tangannya. Kemudian dia hendak mencabut rumput lain di bawahnya.
Tiffany meletakkan tangannya di atas tangan Taeyeon, membuat jarinya berhenti mencabuti rumput dengan iseng.
“Kamu benar-benar baik…”
Sekarang Taeyeon menatap wajah Tiffany, menunggunya meneruskan kata-katanya. Tatapan Tiffany melembut.
“Aku bersyukur punya sahabat seperti kamu.”
Saat ini pikiran Taeyeon sedang dipenuhi ‘Gadis ini benar-benar nggak malu ya mengutarakan kalimat seperti itu terang-terangan, tapi sifat itulah yang kusukai darinya.’
Dan berlama-lama menatap wajah Taeyeon yang manis, seperti ada magnet yang menariknya, wajah Tiffany mendekat dan semakin mendekat… hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir Taeyeon.
Hanya kecupan singkat, tapi sudah mampu membuat Taeyeon berdebar. Matanya mengerjap. Mulutnya sedikit membuka. Dia tampak begitu kaget sampai rasanya dia lupa menarik nafas.
Reaksi Taeyeon membuat Tiffany didera rasa malu.
“Ah ha ha, kenapa kita malah jadi ciuman?”
Tiffany menunduk sambil mesem-mesem. Wajahnya sedikit bersemu. Menyadari bahwa saat ini dia tidak sedang berada di tanah airnya.
“Jangan dipikir berlebihan ya, Taetae. Anggap saja yang tadi itu cuma best friend kiss, ne?^^”
Tiffany tersenyum manis, lengkap dengan eye smilenya. Pada waktu itu hati Taeyeon sudah tertangkap oleh charmnya.
Taeyeon mendengus dan berlagak maklum. “Dasar cewek Amerika.”
“Ya! Apa maksud perkataanmu itu?! Memang salah kalau aku dari Amerika?!”
Taeyeon sedang membatin kalau suara Tiffany keras sekali sampai rasanya mau memecahkan gendang telinganya.
“Ani, apa kamu sering melakukan ini sama orang lain juga?”
“Tentu saja nggak! Kamu anggap aku yeoja macam apa?”
“Ahaha begitu ya, tapi sama aku bukan yang pertama bagi kamu kan?”
“I-iya.”
“Nah.”
“Ta-tapi waktu itu aku ciuman juga bukan karena keinginanku!”
“Lalu karena apa?”
“Waktu itu aku bersama teman-temanku lagi main game truth or dare. Aku cuma terbawa sama arus permainan lalu-“
“Kamu takut jujur makanya kamu milih dare lalu akhirnya kehilangan ciuman pertamamu dalam game itu.”
“N-ne.”
“Huff dasar… padahal ini ciuman pertamaku. Nggak adil.”
“Ehh?! Taetae, kamu nggak pernah ciuman sebelumnya?!”
“Pacar saja belum punya!”
Tiffany tampak tercengang.
“Waeeeee?? Nggak percaya sama omonganku?”
“Bukan begitu, kamu cantik Taetae… pasti banyak orang yang menginginkan jadi pacarmu. Makanya aku nggak percaya.”
“Aku cuma belum pernah jatuh cinta.”
“Pacaran kan nggak mesti diawali dengan cinta. Pacaran bukan pernikahan. Yang penting sama-sama enjoy untuk terbuka dan saling mengenal. Kalau nggak cocok ya putus saja, cari yang baru. Terus saja begitu sampai menemukan yang cocok. Yang penting jangan begitu kalau sudah menikah.”
“Itu kan pendapatmu, aku sih mana mau kalau aku juga nggak mencintainya.”
“Kamu cuma nggak mau mencoba untuk mengenalnya!”
“Memang! Karena terlalu merepotkan! Pacaran tanpa dilandasi rasa cinta sedikit pun hanya akan bikin capek!”
“Nggak ada ruginya membuka diri sama seseorang kan? Kalau kamu begitu terus nanti orang-orang menjauh lho.”
“Tapi aku merasa rugi! Coba kalau jadinya pacaran lalu putus, pacaran lalu putus, gimana? Pacaran itu harusnya membahagiakan, bukan malah bikin makan ati!”
“Kamu bahkan belum mencobanya sudah bilang begitu!”
“Belajar dari pengalaman orang. Sudah banyak contohnya di sekelilingku!”
Setelah tenggorokan mereka mulai terasa kering akibat berteriak, mereka mulai menyadari perbuatan mereka.
“Kenapa kita malah jadi ributin soal ini.”
“Iya.”
Mereka saling memandang, lalu menyeringai dan detik berikutnya tawa mereka pecah.
“Ahaha! Barusan wajahmu yang lagi bicara serius lucu, Taetae!”
“Kamu sendiri juga, mendadak jadi emosional begitu.”
“Ya sudah anggap saja ciuman kita ini nggak dihitung.”
“Seenaknya mengubah topik. Mana bisa.”
“Lalu kamu mau aku gimana sekarang?”
“Minta maaf dulu.”
“Ah jeongmal mianhae Taetae…!” rengek Tiffany dengan nada manja yang disengaja dilebihkan.
Taeyeon sebenarnya ingin tertawa melihat wajah Tiffany, tapi dia menahannya.
“Sudahlah, nggak penting juga,” kata Taeyeon berlagak kuat padahal tentu saja dia akan kepikiran dengan siapa pertama kali dia berciuman.
“Sungguh kamu nggak marah?”
“Sungguh.”
“Kok aku seperti mendengar ketidakrelaan dalam nada suaramu.”
“Ahaha.”
Taeyeon tersenyum lembut menatap Tiffany. Dia sudah menganggap Tiffany seperti saudaranya sendiri. Baginya berada disisi Tiffany sudah cukup. Tapi Taeyeon sama sekali tak menyadari bahwa rasa sayang yang tumbuh di hatinya tak lama lagi akan berubah jadi cinta. Dan kemudian membelai rambutnya, menggenggam tangannya, bersandar di pundaknya, melindungi Tiffany seperti layaknya kakak menjaga adiknya tidak akan cukup lagi. Sebab ke depannya hatinya mulai akan berharap lebih.

**

Taeyeon POV

Aku terbangun dengan sebagian ingatan akan mimpiku barusan. Kalau ditafsir mungkin hanya sekitar sepuluh persen yang kuingat. Aku berganti ke posisi duduk. Kugosok mataku yang masih mengantuk.
“Ngghh… barusan aku mimpi dokter Tiffany ya?”
Tapi dalam mimpiku barusan dia terlihat berbeda. Rambutnya pendek dan manis. Secara fisik, dia lebih muda.
“Kenapa dalam mimpi kami mengobrol-ngobrol dengan akrab? Padahal aku dan dokter Tiffany tidak seakrab itu…”
Aku meraba keningku yang sedikit hangat.
“Apa yang kami bicarakan? Dia berterima kasih padaku, lalu soal pacaran…”
Aku tidak mengerti, apa aku berciuman dengannya? Aku tidak ingat banyak.
“Appo…”
Lagi-lagi kepalaku terasa sakit. Apakah ini pertanda ingatanku masih kacau?
Mungkin benar kata Sica, sebaiknya aku tidak memaksakan diri mengingat.
Lagian, aku tidak boleh membuatnya khawatir.
Kembali aku merebahkan diriku. Menatap pola langit-langit kamar yang sudah kuhapal benar.
Yahh… setidaknya aku masih belum melupakan kejadian kemarin.
Senyum kembali membingkai wajahku.
Kemarin aku benar-benar senang diajak mereka naik ke atas panggung. Kalau perasaan ini diibaratkan dengan kata-kata rasanya seperti kamu diajak naik ke atas panggung oleh dua artis favoritmu dan menjadi sorotan penonton.
“Hehehe.”
Kemudian setelah itu aku teringat kembali dengan wajahnya yang sedih.
Ah iya, kemarin aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah itu.
Bagaimana kabarnya sekarang?
Tak lama kemudian terdengar pintu kamarku terbuka.
“Ah, Si-“
Aku tidak jadi mengucapkan namanya. Karena ternyata aku salah. Dia tidak memakai seragam perawat, topi perawat juga tidak bertengger di kepalanya. Sebagai gantinya, ada stetoskop menggantung di lehernya.
“Dokter Tiffany…”
Aku kembali ke posisi duduk sekarang.
Dia menutup pintu di belakangnya dengan pelan.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Baik.”
“Gejala alerginya sudah tidak muncul lagi kan?”
“Ya.”
“Baguslah, kamu juga kelihatan baik-baik saja. Kalau begitu, segitu saja, permisi.”
Tampaknya dia akan langsung mengakhiri pertemuan yang singkat ini.
“Ah, tunggu!”
Tangannya yang hampir membuka pintu menggantung di udara.
“Aku mau tahu, kenapa kemarin kamu menangis?”
Aku kaget sendiri menyadari bahwa aku memanggilnya tanpa hormat.
“Aa mianhae! Maksudku… karena memanggilmu tanpa hormat. Ah lalu! Juga kalau aku dianggap mencampuri urusan pribadimu…”
“…………….”
Tiba-tiba dia membalikkan badannya, sekarang menatapku.
“Kalau aku bercerita padamu, maukah kamu mendengarkannya?”
Aku terkejut, tidak menyangka situasinya mendadak jadi serius. Tatapan matanya seperti memendam sejuta perasaan yang tak kumengerti.
Aku mengangguk.
Dokter Tiffany berjalan ke sisiku kemudian duduk di kursi sebelah ranjang. Tempat spesial karena Sica selalu duduk disana ketika mengunjungiku.
Dokter Tiffany membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang terucap. Kemudian dia menutupnya kembali, bibirnya gemetar.
“Wae? Apa dokter Tiffany tidak nyaman menceritakannya padaku?”
“……………..”
“Apa karena aku pasienmu?”
Dia menggeleng. Dia tetap duduk disana dengan kepala tertunduk.
“Mianhae…”
Dia terlihat kaget dan cepat-cepat mengangkat wajahnya, tentu saja aku bisa mengerti.
“Aku pasti telah melakukan sesuatu yang menyakiti perasaan dokter Tiffany, makanya dokter terlihat sedih. Tapi dokter tidak bisa mengatakannya padaku karena tidak mau menyakitiku atau takut akan memperparah kondisiku.”
“…………….”
“Tapi aku baik-baik saja. Kalau ada sesuatu yang kulakukan yang menyakiti hati dokter, katakan saja terus terang padaku, aku tidak apa-apa. Malah aku berharap dokter jujur padaku.”
Kedua tangannya meremas jas yang menutupi pahanya.
“Tidak… bukan begitu…”
Aku jadi semakin tidak mengerti.
“Ceritakanlah. Aku tak keberatan mendengar.”
“Ada seseorang dulu… seorang sahabat yang sangat kusayangi… melebihi hidupku sendiri… Lagu yang kunyanyikan kemarin itu adalah lagu untuknya…”
Mulutku membentuk huruf O. Lagu itu ternyata memang ditujukan untuk seseorang. Pantas saja aku bisa merasakan perasaan yang sangat kuat dibalik lagu yang dinyanyikannya kemarin.
“Tapi karena terbawa perasaan… aku meninggalkannya… Kemudian aku menyesalinya… tak terasa tahun-tahun berlalu begitu saja.”
“Aku tidak mengerti. Kalau dokter Tiffany sangat mencintainya, kenapa pada tahun-tahun itu tidak menemuinya saja?”
“Benar… itulah kebodohanku. Mungkin karena harga diriku yang kelewat tinggi…”
“……………..”
“Orang bilang, punya harga diri itu wajib dan jual mahal adalah pilihan yang tepat. Tapi kadang aku meragukannya.”
“Aku mengerti. Aku juga pernah bertanya-tanya pertanyaan seperti. Ah mengapa manusia punya hati? Mengapa manusia bisa rindu? Mengapa manusia memiliki harga diri?”
Dia tersenyum pahit dan meneruskan ceritanya.
“Hebatnya, takdir mempertemukan kita kembali. Tapi dia mengalami kecelakaan parah sehingga ingatannya hilang. Dia tidak mengingatku lagi meski aku sudah berada di depannya…”
“Wahh…”
Aku hanya bisa tertegun. Semua cerita itu persis seperti cerita dalam drama.
“Kemudian ternyata dia sudah mempunyai kekasih. Apalagi kekasihnya adalah sahabatku sendiri… Kelihatannya hidupnya tampak bahagia tanpa ada aku disisinya… Aku merasa kehadiranku yang sekarang hanya akan merusak kebahagiaannya. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain mundur…”
Dia kelihatan seperti berjuang menahan tangis. Mendengar ceritanya saja sudah terasa melukaiku seperti sabetan sebilah pisau.
“Aku tahu sudah ada orang lain menempati hatinya. Aku tahu aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk berada di hatinya, tapi…! Di suatu tempat di hatiku… aku masih berharap dia dapat mengingatku.”
Air mata sudah mulai mengalir membajiri pipinya. Air matanya itu telah berbicara betapa perih sakit yang dirasakannya. Hatiku luruh melihatnya.
“……………..”
“Mungkin aku memang berharap terlalu tinggi…”
“Jangan khawatir.”
“Eh?”
“Mungkin apa yang kukatakan ini cuma terdengar seperti menghibur tapi menurutku.” Aku menatap matanya lekat-lekat. “Kalau ikatan yang terjalin di antara kalian itu benar nyata. Meski otaknya tidak bisa mengingat dokter Tiffany lagi, tapi.”
“Disini.” Aku menunjuk dadaku sendiri. “Hatinya pasti masih mengingat dokter Tiffany.”
Tangisnya berhenti. Dia menatapku dengan bola matanya yang indah itu.
“Selama perasaan dokter Tiffany masih tulus, aku yakin pada akhirnya dia akan menjawabnya.”
Akhirnya dia tersenyum dan mengusut air matanya. Sungguh, bila aku punya saputangan sekarang aku pasti sudah memberikannya.
“Kamsahamnida, aku sedikit lega mendengar itu darimu.”
“Sama-sama. Senang kalau bisa membantu.” Aku membalas senyumnya.
“Kalau begitu, aku permisi. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mendengar curahan hatiku.”
Dokter Tiffany beranjak dari kursinya dan sebelum keluar dia sempat berkata dengan suara kecil.
“Kamu benar-benar tidak berubah…”
Kemudian pintu tertutup.
Kata-katanya tadi mengganjal pikiranku.
“Jadi… orang yang dicintainya itu kecelakaan dan lupa ingatan juga. Mirip seperti aku ya.”
“…………….”
“Mengenai temannya yang kecelakaan itu… cuma kebetulan kan?”

Jessica POV

Saat aku hendak masuk ke kamarnya, tanganku tertahan. Tidak seperti biasanya aku langsung masuk, kali ini aku mengintip dulu. Dan ternyata di dalam ada Tiffany.
Dia sedang duduk di samping Taeyeon, tampaknya sedang menceritakan sesuatu. Tiffany menangis? Apa yang dia lakukan sama Taeyeon? Apa dia menceritakan masalah privatnya padanya?
Mendadak aku merasa kesal. Atau mungkin cemburu.
Aish, Tiffany itu! Ampun deh! Kalau tidak punya siapa-siapa untuk mengadu tapi tidak seharusnya dia menjadikan pasiennya sebagai tempat curhatnya! Dia hanya akan mengganggu pasien beristirahat!
Aku akan masuk dan menegurnya. Terkadang Tiffany memang suka lupa diri.
Tanganku sudah memegang handle pintu bersiap untuk membukanya, tapi aku kembali merenung.
“……………..”
Ya sudahlah kali ini kubiarkan. Ada kalanya tiap orang mengalami hari seperti ini.
Tapi kalau lain kali melihatnya begini lagi, aku tidak akan membiarkannya. Pasien bisa terganggu.
Seharusnya dia cerita padaku saja. Padahal kupikir kita sudah mulai berteman…

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Eien no Kizuna (Chapter 7)" (44)

  1. annyeong….

    aaaaa full taeny moment,,,,
    kisseun taeny canggung amat ya hahaha…
    eh tp kek nya d next chap ssica unnie kudu siap” dech ng gantiin posisi ppany,,maksud na ssica bkl jd tukang intip taeny moment #bner ga unnie?

  2. Ngerasa pendek atau akunya yang serius baca yah thor?? Hehh~ 😀
    Itu mimpinya Tae yah thor? Okeh ingatannya sedikit demi sedikit udah mulai muncul. Walau Tae masih ngerasa bingung yah?
    Kalau Ppany ngomongin secara langsung kalau dia adalah masa lalunya pasti buat Tae sakit yah? Jadi, harus perlahan. Jadi greget tapinya. 🙂
    Sicca cemburu nih. Keke~. 🙂
    Jadi makin penasaran tentang Fany koq bisa ninggalin Tae? Masalah harga diri itu yah? 😀
    Oke.. Ditunggu yah thor next chapnya^^ 😀

  3. Gila..demi apa gue masih ga tega ama jeti..gila loh taeng ga ngeh banget kan km habis mimpin pany trus denger ceritanya peka dong :@ sica dia terlalu baik buat tersakiti, tp aku taeny ah gue LS tapi jadi galau juga liat situasi yg kaya gini :-S

  4. Parah…. Sakit bgt bacanya, satu sisi aku suka taengsic, tapi aku juga pegen taeny balikan, huaaaaa kenapa aku jadi ikutan galau gini,

  5. ampun dah jeti d ff ini jadi tukang ngintip,,,haha tpi lucu,,,msh pensran bgt bgt bgt knp fany ninggalin tae,,,fighting thor

  6. Wah, situasi berbalik. Yang brcerita jadi Fany n stalker-nya jadi Sica. XD
    Walaupun otak Taeng lupa akan Fany, tapi hatinya ttat mengingat Fany.^^
    Aduh, gemes deh. Taeng lemot banget. Masa sudah jlas banget bgitu, plus clue trakhir “kamu sama-sekali tidak brubah”, yang artinya Fany sudah prnah mngnal Taeng, tapi ttap aja Taeng gak nyadar. >.<
    Flashback TaeNy akhirnya sdikit demi ssdikit mulai dibeberkan.^^
    Di sini pun Taeng teteap gentle, pakai mau ngasih sapu tangan lagi.^^
    Taeng melihat tangan Fany yang memegang jas yang menutupi pahanya? Yang dilkuti ama matanya Taeng itu tangannya Fany atau …….. XD

  7. Aduh kepala Tae perlu digetok tuh. Pake palu. -_-

  8. haduh….. taetae kpn pulih yh ingetannya ?
    jdnya gemes sendiri…
    kasian fani T_T

  9. Tae akhirnya chapnya full taeny
    whahahaha greget aku bacanya kalo ku disana pingin ku ketok pala taeyeon.
    suapaya dia inget lagi sama fany.
    Next chap di tunggu thor Semangat!

  10. Finally ada taeny moment juga, setelah sekian lama taengsic moment terus. trus, kenapa tae ngga peka banget sih, yg diceritain kan dia u,u
    tadinya sempet mikir, jangan2 pas nanti fany cerita sama tae si jessie ngintipin juga. Hehe ternyata bener. Tapi kalo jessica lebih tepatnya ngga sengaja juga sih 😀
    oh iya satu lagi unnie, kenapa pas tae nginget kenangannya sama fany langsung inget yaa, walaupun lewat mimpi. tapi pas sama jessica kok susah banget ngingetnya?

    • Fany jg sebenarnya gak sengaja ngintip tp udh dpt cap stalker WKWKWK
      hmm Taetae, jelaskan skrng 😛 *lho kok bkn authornya?

  11. navy99blue said:

    Monic.. Aku lgsg komen dsini yaaa.. Hehe
    Baca bruntun 3 chapter..
    Gemes ama hubungan taenysic..
    Taeng ga inget2 soalna..
    Tp klo dia inget ntar jadina kayak apa ya?
    Bs gegalauan dianya..
    Kasian jg ama jetinya..hehe
    Dtunggu klanjutannya 😀

  12. mrz_love_taeny said:

    ehhh ppany apa2an main kissue2 tae aja
    kau telah merebut first kiss nya appa ku kamu harus tanggung jawab xD
    kekeke
    diiihhh ppany AGRESIFany nya kumat

    ehm skarang kebalik tuh yg jd stalker si tante jenong
    kekeke
    awwww makin demen ma tae gentle bgt dia :*
    dan aku tau kok ikatan kamu ma ppany kuat bgt bntr lg pst inget ppany lg buktinya skarang aja udh ngimpiin ppany :p

  13. TaengSicababy said:

    Mnding Taengsic atau taeny yah..
    –”
    ikutan galau gw nya..
    Huaaaaaa.. Taeng..
    Jangan skitin sicaa..

  14. blackpearljess^^ said:

    Tae maksud fany orng na tuh kmuuuu,,,, #eh?? Terbawa suasana#

    Mdh2an part slnjtny tae dah inget fany,,
    Sica na with my kwon aja,, heheee… #modus# 😀

  15. hai gan… sory bru aktif lgi nih… tpi sya tunggu chapter slanjut’y ya gan?

  16. Kwon Eya said:

    Kacian fany. Mpe nangiz gt critanya. Pzt nyzek deh, nyeritain orang langsung ke orangnya tp orangnya ga nydar. *plak! Ribeut bgt bhzanya. Haish, pkoknya gt deh. Fany pzt sdih bgt. Taeng sdarlah!!
    Ntar sica l0w tau xmuanya gmna yah? Lnjt th0r!

  17. apa sica akan bersikap seperti itu juga bila fanny mengajak berbicara pasien laen,., emm sepertinya tidak,., hehe
    kenapa juga taeyeon tidak menceritakan mimpinya kepada tiffany..

  18. TaeNy4Ever said:

    akhir’a ada jga TaeNy moment’a,,tpi pndek bnget thor…>Tae lma bnget loading’a..msa’ Fany udah nyeritain sgitu detail’a nggak inget sdikitpun..

    Cinta Segi 9’a kpan thorr???

  19. TaeNy.. TaeNy… TaeNy…
    Yeay perlahan memori Tae kembali..
    Agak nyesek pas ppany cerita ma Tae..
    Tae cpt inget ppany yah…
    Sica hobby bgt deh negur ppany…

  20. taeny moment dah q tggu dri kmrin
    uhhgh…
    jessica cemburu..mkin seru ja nh

  21. taengfany said:

    Aduh…
    Kok jadi taeyeon yg lemot sih??? -_____-”
    Bener2 hilang ingatan nih orng
    Astaga!!!
    Stres nih baca’a
    D’tunggu lanjutan’a thor

  22. Taeng-ah pabo apa ngga sensitif aduh padahal kamu cewe kan, itu udah jelas banget yah fany nyeritain soal dia dengan jelas sekali
    Sip ah taeng mulai inget inget sama fany semoga taeny cepat cepat kembali lagi

  23. kayaknya, taeng mulai ngerasa ada kesamaan dengan apa yang dialamin ama yang diceritain fany deh.
    aku setuju banget kata-katanya taeng, walopun amnesia, itu kan cuma dipikirannya, tapi nggak di hatinya. hehhe

    godd job unnie!

  24. Tuuh kaann..udah diceritain juga taeyeonnya blm sadarr2 juga (iyalah nmnya jg amnesia wkwkwkwk)
    ayoolahh taee peka dikiitt..jgn smpe tiffany mundur..gawatt ntr.. XDD
    Rumitt gini jadinya..sama2 cinta dua2nya sm taeyeon..beruntung bgt km tae yg suka sm km cewe2 cakep..wkwkwk
    lanjooot ahh..!!

  25. sebenarnya bingung mau milih TaeNy atau TaengSic.. Haha
    full taeny..
    Semangat unnie buat chapt dpan . 😀

  26. lee deyeon said:

    Eeeey dikira itu masa lalu nya Taeny tau2 nya cuma mimpi..
    Moment Taeny so sweet bnget, tpi sayang sweet nya pas Taeng lg amnesia..
    Sica panas tu liat Taeny, hihihi..

  27. TaeNySic Jjang said:

    Makin penasaran sama alasan tiffany ninggalin taeng

    Jadi galau karna aku suka taeny tapi gak mau taengsic pisah.

  28. hennyhilda said:

    Untung jessica g dgr pa yg dcritain tiffany k taeyeon
    semangat author
    ganbatte

  29. Hahaha dsini kebalik yaa.. Biasax sica yg cerita dan fany yg ngintip eh skrang ganti fany yg cerita sica yg ngintip… Fany ngomongin harga diri?? Memangx apa yg trjdi dsni dgn harga diri??

  30. novilrs said:

    fany nakal main nyosor ke tae wkakwka ending nya asik thor, ditutup sama icesica

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: