~Thank you for your comments~

A/N : Lagu yang cocok untuk chapter ini, First Love yang dinyanyiin Sunny, sudah diselipin di sela-sela cerita
enjoy^^

Sunny berada di atas Sooyoung. Wajah Sunny berjarak sangat dekat dengannya. Tatapan Sunny yang sangat lembut membuat Sooyoung menelan ludah dengan gugup.
Dia menurunkan pandangannya, tapi matanya malah tertuju pada dada Sunny. Melihat dada yang berisi itu, pipinya jadi merona. Cepat-cepat dia menaikkan pandangannya kembali ke wajah Sunny.
“Sooyoungie…” Sunny mendekatkan wajahnya. Sekarang Sooyoung dapat merasakan hembusan napas Sunny di lehernya. Jantung Sooyoung berdebar semakin cepat. Dia masih tidak percaya Sunny berada sedekat ini dengannya.
“Saranghae…” Sooyoung mendengar bisikan pelan di telinganya.
Tangan Sooyoung bergerak merangkul pinggang gadis di atasnya dan membiarkan dirinya menahan berat badannya.
Sooyoung ingin mencium Sunny. Dia ingin melakukan lebih lagi, tapi sebelum itu dia sudah terlanjur terbangun dari tidurnya.
Ternyata yang sedang dipeluknya hanyalah guling. Bukan Sunny.
Sooyoung menatap kosong ke langit-langit kamarnya.
“Huh… cuma mimpi…”
Sooyoung membalikkan badannya dengan guling masih berada dalam dekapannya. Mengimajinasikan kalau dia sedang memeluk Sunny. Tangannya membelai guling itu seolah sedang membelai kepala Sunny.
Tapi itu saja tidak cukup untuk meredam rasa rindunya pada gadis itu.
Terbawa oleh emosi, matanya jadi berair lagi.
“Uh… pabo…”
Sooyoung membenamkan wajahnya di guling. Dia teringat kembali saat dirinya ditolak di hadapan paman Sunny. Saat itu dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mematung di tempat. Begitu syoknya melihat sikap Sunny.
Sooyoung berusaha untuk tidak menyalahkan Sunny. Berkali-kali dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia hanya terlalu terburu-buru ingin menikahi Sunny. Bahwa Sunny juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja belum ingin menikah.
“Pabo…”
Kemarin dia sudah mencoba menghubungi Sunny, tapi percuma karena nomornya tidak aktif lagi. Karena Sunny memang sudah berganti dengan nomor luar negeri.

**

Sementara itu di saat yang bersamaan Sunny juga sedang kangen Sooyoung. Sunny kangen ingin mendengar suara Sooyoung. Suaranya yang cempreng, tapi dapat selalu menghibur hatinya.
Tapi dia tidak bisa menghubungi Sooyoung lagi.
Karena ponselnya rusak. Semua memori dalam ponselnya hilang.
Bodohnya, dia sama sekali tidak menghapal nomor Sooyoung.

Kalau sudah terpisah jauh begini tanpa bisa berhubungan sudah tidak ada harapan lagi.
Lebih baik aku lupakan saja semua kisah cinta kami.
Bye bye Sooyoung…
Terima kasih karena telah mengenalkanku pada indahnya cinta…

Sejak saat itu Sunny bertekad untuk menemukan kepingan hatinya yang baru.

**

Jessica pergi ke rumah Sooyoung untuk mengajaknya pergi ke kampus. Karena mereka satu kampus.
“Oh syukurlah temannya Sooyoung, tolong bujuk anak itu supaya mau pergi,” kata Ummanya.
Setelah orang tua Sooyoung mempersilakan, Jessica beranjak ke kamarnya. Jessica mengetuk dan membuka pintu kamar pelan-pelan.
“Sooyoung.”
“……………….”
Jessica melihat yeoja itu sedang berbaring tengkurap di tempat tidur. Dia sama sekali tidak menengok untuk menatapnya.
“Ayo kita pergi kuliah.”
“Pergi saja sendiri,” jawabnya acuh tak acuh. “Memangnya aku nggak bisa berangkat sendiri?”
“Tapi kalau aku nggak datang kesini, kamu pasti nggak mau pergi hari ini.”
“……………….”
“Kamu sudah hampir satu minggu nggak masuk kuliah. Padahal ini masih awal ajaran baru.”
“……………….”
“Ayolah Sooyoung, aku khawatir kalau kamu terus seperti ini.”
“Cerewet, kamu mana ngerti perasaanku…”
Mendadak Jessica merasa kesal.
“Yah! Aku memang nggak ngerti! Lagipula Sooyoung yang kukenal tidak seperti kamu!”
“Yeah, aku memang bukan Sooyoung yang dulu lagi. Aku sudah berubah.”
“Kamu pikir Sunny mau kamu jadi seperti ini?!”
Sooyoung jadi sebal.
“Nggak usah bawa-bawa nama Sunny! Keluar sana! Tinggalkan aku sendiri!”
“Baiklah kali ini aku akan pergi, tapi untuk seterusnya aku akan terus datang sampai kamu mau ke kampus lagi!”
Jessica melengos keluar meninggalkan Sooyoung yang masih didera oleh kegalauan akibat ditolak dan ditinggalkan Sunny.
_______________________________________________________________________________________________________________________

“Darah pada pisau ini memang darah manusia. Dan cocok dengan sampel darah korban.”
“Jadi pisau ini senjata pembunuhnya?”
“Belum tentu. Tidak terlepas kemungkinan si pembunuh hanya mencelupkan pisau ini pada genangan darah korban.”
“Tapi menurut pengakuan Lee Sunny, besar kemungkinan pisau inilah yang dilihatnya sesaat sebelum hilang kesadaran. Pisau ini pula yang selalu menghantuinya dalam mimpi-mimpinya. Ini pisau yang diduga dipakainya untuk mengupas apel sebelum peristiwa itu terjadi?”
“Bagaimana amnesianya?”
“Ingatannya sedikit demi sedikit mulai pulih. Dia mulai bisa mengingat beberapa peristiwa dari masa lalunya. Tapi mengenai pembunuhan itu dia tetap tidak ingat apa-apa.”
“Mungkin dia terlalu ngeri untuk mengingatnya kembali. Karena itu secara tak sengaja ditenggelamkannya terus di alam tak sadarnya.”
“Kami sudah mencoba memanipulasinya dengan cara hipnotis. Tetapi hasilnya tidak memuaskan. Psikiaternya mengatakan mekanisme pertahanan korban sangat kuat. Dia berusaha menyingkirkan peristiwa yang membekaskan trauma psikis yang amat hebat itu. Atau mungkin pula, dia memang tidak tahu apa-apa. Pengetahuannya tentang peristiwa pembunuhan itu memang hanya sekian.”
“Terdapat banyak sidik jari di gagang pisau ini. Mungkin hal ini dapat menyingkapkan identitas si pembunuh.”
“Petugas Lab kriminal sedang memeriksa sidik jari siapa yang sesuai.”
“Sebagai saksi penting jika ingatannya pulih nanti, apakah korban tidak memerlukan perlindungan khusus? Tidak mungkinkah calon pembunuhnya berniat untuk menyingkirkannya lagi?”
“Sudah kupikirkan. Dan aku percaya orangtuanya akan melindunginya juga. Untuk sementara, korban memang belum dapat pergi kemana-mana seorang diri.”

_______________________________________________________________________________________________________________________

Berkat usaha Jessica yang tak kenal menyerah, akhirnya Sooyoung mau berangkat kuliah lagi. Tapi Jessica tahu, itu tidak berarti Sooyoung sudah sembuh dari luka yang tertoreh di hatinya.
Sering dia memergoki Sooyoung sedang melamun memikirkan seseorang di dalam kelas. Bahkan nafsu makannya sempat turun sampai Sooyoung jatuh sakit.
Jessica menemani Sooyoung yang sedang beristirahat di kamarnya.
“Sica, kamu nggak pergi kuliah? Siang ini ada kelas kan?”
“Aku nggak bisa meninggalkanmu karena orang tuamu lagi pergi keluar kota,” kata Jessica sambil melepas plester khusus untuk demam dan menempelkannya di dahi Sooyoung.
“Nah, lebih enak kan sekarang?”
“Ne, gomawo. Sica, kamu pergi kuliah saja, aku tidur sebentar juga nanti sembuh.”
“Lalu siapa nanti yang akan menyiapkan kamu makan? Lalu kalau kamu butuh sesuatu juga.”
“Aku bisa sendiri.”
“Tapi kamu pasti terlalu lemas untuk melakukannya sendirian.”
“Aku nggak mau merepotkanmu…”
“Ah repot apanya, kita kan teman, harus saling membantu di saat susah. Yahh, kamarmu juga berantakan begini,” tutur Jessica setelah melihat beberapa pakaian berserakan di lantai.
“Ehehe, kayak kamarmu sendiri nggak berantakan.”
“Ahh~ orang sakit nggak usah banyak komentar deh,” kata Jessica sambil memutar bola matanya.
Sooyoung senyum-senyum sendiri. Itu memang kata-kata khas Jessica. Semakin hari dia semakin mengenal Jessica. Bila dibanding dulu, dia merasa sekarang ini dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.
Sooyoung memperhatikan Jessica yang sedang membereskan pakaiannya yang tergeletak di lantai. Selama ini Jessica selalu berada di sisinya di saat dia merasa kehilangan Sunny. Perhatiannya begitu besar sampai terkadang Sooyoung merasa bersalah karena tidak mampu membalasnya.
Dia sadar betul dengan perasaan Jessica padanya. Dia jadi heran kenapa perhatian Jessica masih tidak juga cukup untuk menggerakkan hatinya mencintai gadis itu.
Jessica sudah selesai mengumpulkan dan melipat pakaiannya.
“Nah, setidaknya sudah tidak ada pakaian yang berserakan di lantai lagi. Sekarang aku buatkan makanan ya?”
“Tapi kamu kan nggak bisa masak.”
“Enak saja, kalau yang simple aku juga bisa tahu!”
“Simple seperti apa? Memanaskan air? Kekeke.”
“Bubur! Aku akan masak bubur!”

**

Satu jam kemudian, di depan Sooyoung sudah tersaji semangkuk bubur hangat.
“Hehe maaf lama, gimana? Kelihatannya enak kan?”
Sooyoung mengaduk sedikit buburnya.
“Keenceran, berapa banyak sih air yang kamu masukkan? Kamu memang nggak bisa masak.”
“Yah! Setidaknya kamu harus bersyukur karena sudah dibuatkan! Bikin bubur lama tahu!”
“Ahahahaha.”
“Yah! Malah ketawa, memang apanya yang lucu?” Jessica memasang tampang cemberut.
“Tampang kamu kalau lagi ngambek lucu, hahaha.”
Kemudian Sooyoung menghentikan tawanya.
“Gomawo Sica,” ujar Sooyoung sambil mengulas senyum.
Pipi Jessica sedikit merona.
“Y-ya sudah, sana dimakan.”
“Suapin.”
“Aish, manja sekali.”
“Boleh dong, aku kan pasien disini,” Sooyoung nyengir.
Jantung Jessica berdegup kencang saat meniup sesendok bubur dan menyuapi Sooyoung.
Sunny, maafkan aku…
Padahal aku sudah berjanji, tapi aku masih tetap tidak dapat menghilangkan perasaanku pada Sooyoung.
_______________________________________________________________________________________________________________________

Dua tahun kemudian.
Sunny sudah bertemu dan jalan dengan beberapa namja. Walau beberapa di antaranya ada yang kurang cocok, tapi untuk sesaat Sunny bisa melupakan Sooyoung.
Kini Sunny berada di apartemen Kim Heechul.
Heechul mendekap tubuhnya. Sunny merasakan sedikit debaran di hatinya. Sunny memejamkan matanya dan membuat dirinya nyaman dalam pelukan namja itu.
Mencintai namja. Memang seharusnya begini kan…
Tapi entah kenapa dadanya terasa sedikit sakit.
Heechul menggendong Sunny dan membawanya ke dalam kamar. Sunny tahu ini akan mengarah kemana.
Heechul membaringkan Sunny di kasur dan mencium bibirnya. Sunny melingkarkan lengannya ke leher namja itu.
Ketika tangan Heechul hampir mengangkat baju Sunny. Refleks Sunny langsung melepaskan dan mendorong pelan namja itu.
“Hari ini juga nggak bisa ya…” bisik namja itu sedih. Lagi-lagi dia ditolak.
“……………….”
Setiap kali Heechul mengajaknya berhubungan, Sunny selalu menolaknya di tengah-tengah.
Padahal dia sendiri juga menginginkannya. Tapi setiap kali hendak berhubungan, Sunny selalu ingat Sooyoung. Dan nalurinya langsung menolak berhubungan dengan namja itu.
Mendadak dia jadi merasa bersalah, seolah dia akan mengkhianati Sooyoung kalau dia sampai menyerahkan tubuhnya ke namja itu.
Sunny mulai terkena tekanan batin.
Apa aku masih mencintainya?
Tapi… tapi…
Padahal sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi…
Dan sudah berlalu dua tahun sejak saat itu…
Sunny teringat kembali waktu Sooyoung yang datang dengan beraninya ke hadapan Pamannya untuk mengajaknya kawin lari. Tapi Sunny menolaknya.
Ah…
Air matanya mulai keluar.
Heechul jadi kewalahan, dikiranya dia yang membuat Sunny menangis.
“Aduh mianhae Sunny! Aku tidak bermaksud memaksa. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Aniyo oppa bukan itu.”
“Lalu kenapa?”
Sunny tidak mengatakannya dan terus menangis. Jadi Heechul akhirnya tidak bisa menemukan alasan lain selain dirinyalah penyebab Sunny menangis. Padahal tadinya Heechul pikir Sunny juga mencintainya dan siap dimiliki olehnya. Lagi-lagi dia ditolak oleh seorang yeoja. Mungkin dia harus belajar untuk tidak banyak berharap lagi.

**

Karena putri mereka sering bersama. Kedua orangtua Sooyoung dan Jessica malah jadi akrab. Mereka sering berbincang-bincang bersama. Dan obrolan mereka nyambung.
Baik orangtua Sooyoung maupun Jessica sudah sangat mengenal Sooyoung dan Jessica kalau mereka lagi main ke rumah satu sama lain.
Karena itu malam ini Jessica dititipkan di rumah Sooyoung, karena kedua orangtuanya akan pergi keluar kota.
Orangtua Sooyoung sekarang sangat menyukai Jessica, karena itu Jessica disambut dengan hangat. Bahkan Umma Sooyoung memasakkan makanan yang enak-enak untuk menyambut Jessica.
Dan malamnya Sooyoung dan Jessica tidur satu ranjang.
Jessica tidak tahu berapa lama dia sudah terlelap sampai dia terbangun oleh suara isakan dari gadis di sebelahnya. Jessica membalikkan badan menghadap Sooyoung.
“Kenapa kamu menangis Sooyoung?”
“Uh Sica… mendadak aku jadi kangen Sunny. Lagi apa dia sekarang? Apa kami akan bisa bertemu lagi?”
“Pasti, pasti bisa. Jangan patah semangat dulu.”
“Tapi ini sudah 2 tahun lebih. Mungkin Sunny malah sudah punya kekasih baru disana dan melupakanku. Apalagi disana pergaulannya lebih bebas…”
Mendengar itu Jessica jadi terdiam.
Sooyoung selalu khawatir Sunny akan menyerahkan tubuhnya pada namja. Hatinya sakit kalau memikirkan kemungkinan itu.
“Gwenchana, semua akan baik-baik saja,” hibur Jessica sambil memeluk Sooyoung. Dia tidak bisa menemukan kata-kata lain selain itu.
“………………..”
Sooyoung terdiam, tapi isakan tangisnya masih terdengar. Jadi Jessica mengecup lembut keningnya. Jantungnya berdebar kencang merasakan sensasi baru memenuhi dadanya. Dia telah melakukan hal yang berani. Tapi dia terus membiarkannya cukup lama, setelah itu baru melepasnya. Sekarang tangis Sooyoung sudah berhenti. Setelah tenang dia jadi mengantuk.
“Sekarang tidurlah… besok kita ada kuliah pagi kan?”
“………………..”
Jessica menarik selimut sampai cukup menutupi tubuh mereka. Setelah membuat posisinya nyaman, mereka kembali melanjutkan tidur.

**

Sunny sedang bersama dengan Sungmin di dalam mobil yang dikemudikannya.
Sunny memang sudah bilang tidak mau menikah dulu. Tapi Pamannya menyuruh mereka setidaknya untuk kenalan dulu. Sunny terkadang kesal, tapi dia juga tidak bisa menentangnya.
“Kita punya marga yang sama, ini pasti takdir.”
Senyum namja itu sangat lembut.
“Kamu tidak keberatan? Dijodohkan seperti ini sama Appamu?”
“Setelah melihat kamu, kupikir kamu manis juga jadi tidak apa-apa.”
“………………”
Sunny menghela nafas dalam batin, dia sangat tidak menginginkan ini.
Namja ini memang kelihatannya baik, wajahnya juga manis, tapi tetap saja di dalam hatinya cuma ada seseorang. Seseorang yang tidak bisa dilupakannya walau sudah berlalu beberapa tahun. Cinta pertamanya sejak SD.
“Sebenarnya aku juga tidak menginginkan perjodohan ini.”
Sunny terkejut dengan pengakuan tiba-tiba dari namja itu. Sekarang dia berpaling dan menyelidiki keseriusan pada diri namja itu. Raut wajah namja itu tetap setenang tadi.
“Kamu mencintai seseorang?” tanya Sunny.
“Ya.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak mengenalkannya ke Appamu?”
Lama namja itu terdiam sebelum mendesah halus, “Aku tidak bisa mengenalkannya ke Appa…”
“Kenapa tidak? Siapa tahu Appamu setuju dengan hubungan kalian dan tidak jadi menjodohkan kita.”
“Karena dia… seorang namja…”
Sunny menjadi kaget, tapi lalu ia mengerti.
“Aku tidak mungkin mengatakannya kan? Appa bisa syok kalau tahu putranya ternyata seorang gay. Jadi akhirnya aku hanya bisa melakukan ini agar tidak mengecewakan Appa…”
Saat mengatakannya, tatapan namja itu terlihat sendu.
Sunny mengerti sekali, sangat mengerti.
Mendadak sekarang dia bersimpati pada namja itu. Dia bisa merasakan apa yang dideritanya. Mendadak Sunny merasa bisa menceritakannya.
“Aku juga, sebenarnya… aku juga mencintai seseorang… dia juga seorang yeoja…”
“Oh?” Sungmin berpaling sebentar seolah tertarik mendengarnya. Lalu fokusnya kembali ke jalanan di depannya.
“Biar kutebak, dia teman sekolahmu saat kamu masih di Korea?”
“Ne…” Sunny mengangguk. “Appa sudah menentang hubungan kami sejak kami masih duduk di bangku SD.”
“Wah sejak SD… hubungan kalian sudah selama itu?”
Sungmin sempat melihat sekilas saat Sunny mengangguk sekali lagi.
“Kalau boleh tahu siapa namanya?”
“Sooyoung… namanya Choi Sooyoung.”
“Kamu pasti sangat mencintai Sooyoung ini karena sampai sekarang kamu masih belum bisa melupakannya…”
“Kamu benar… meski aku sudah mencoba untuk move on… jalan bersama dengan orang lain, bayangan akan dirinya selalu kembali menghantuiku, sampai terkadang kupikir mungkin aku dikutuk…”
“Tapi dikutukkah namanya mencintai seseorang dengan tulus?”
“……………….”
“Tidak ada yang salah dengan cinta. Sebab menurutku mencintai seseorang adalah sebuah anugerah.”
Anugerah… benarkah itu?
Karena sejak mencintai Choi Sooyoung, grafik hidupnya jadi tidak seimbang. Seolah dia telah dilempar keluar dari jalur yang semestinya.
Tapi meski begitu dia tidak bisa menyangkal kalau dia pernah merasa bahagia mencintai Sooyoung. Merasa hidupnya jadi lebih indah.
Jadi mungkin kata-kata Sungmin memang benar.
Tapi kenapa Appanya memandang cintanya sebagai sesuatu yang salah?
Kenapa dia tidak boleh mencintainya hanya karena mereka sesama yeoja?
Sooyoung… Sooyoung… Sooyoung…
Kira-kira apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apa dia sudah melupakan dirinya dan move on?
Bisa saja, siapa yang mau menunggu gadis yang tak diketahui dengan jelas kapan pulangnya. Itu sama saja menunggu dengan sia-sia harapan yang tidak akan terkabul.
Bisa saja sekarang dia sudah berada di pelukan namja atau yeoja lain.
Ya, mungkin lebih baik begitu… setidaknya hatinya akan terobati.
Dia tidak mau lagi melihat Sooyoung berwajah seperti terakhir kali mereka berpisah.
Tapi… hatinya terasa sakit memikirkan kalau Sooyoung mungkin sudah mencintai orang lain.
“Oppa…”
“Hmm?”
“Aku ingin ketemu Sooyoung…”
“Sunny…”
“Aku kangen… sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya…”
“Aku kangen suaranya, senyumnya… kalau dia ada disini sekarang juga rasanya aku ingin memeluk dia…”
“Tapi… tapi…” suara Sunny mulai tersendat-sendat karena tangisnya makin hebat. “Aku malah meninggalkannya, aku sudah menyakiti hatinya… sangat… sangat menyakitinya, dia pasti membenciku sekarang…”
Di depan Sungmin, Sunny melampiaskan semua yang telah dia pendam selama beberapa tahun ini.
Tangisnya makin deras, apalagi karena lagu First Love kebetulan berputar di dalam mobil Sungmin. Lagu yang pernah dia nyanyikan untuk Sooyoung di telepon.
Sungmin hanya bisa diam. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran dan menggunakan sebelah tangannya untuk mengusap-usap kepala Sunny.
Sunny membiarkan kepalanya dibelai. Saat ini dia sedang sangat membutuhkannya.
Melihat Sunny yang menangis, Sungmin juga jadi teringat pada namja yang dicintainya. Dia ikut berempati.
Sepuluh menit kemudian.
“Sudah tenang sekarang?”
“Ya… mianhae oppa, kau malah jadi mendengarkan curhatanku…”
“Gimana kalau sekarang kita makan saja? Sudah jam makan malam. Lagipula kita berhenti tepat di depan restoran.”
“Ne.”
“Nah sekarang keringkan air matamu dulu, lalu kita masuk.”

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "We Were Meant to Be Together (Chapter 10)" (40)

  1. Takuma's Taku n Kuma said:

    hohoho udah di post ya XD
    sptx jalan cinta soosun couple masih panjang.apakah ntr sunny akn bersama sungmin dan soo bersama sica walau sesaat ?
    Ch 10 ceritanya pd galau,apa authornya juga ikut galau ?
    Hehehe di tunggu kelanjutannya,un XD.

    # salam reader aneh si lumba-lumba

  2. Wah Soo saking rindunya ama Sunny sampai kbawa mimpi ‘kayak gitu’ Jangan2 itu ekspresi dari perasaan Soo slama ini ke Sunny. Jadi sbnarnya Soo mau mlakukan hal yang dia mimpikan itu di dunia yata ama Sunny, cuma gak ksampaian, hingga plampiasannya hanya bisa lwat mimpi, itu pun kburu bangun sblum lbih jauh lagi.^^
    Sica mulai memanfaatkan ksmpatan walau gak disngaja sih. Awalnya niat tulus mau hibur Soo, tapi apa daya klo prasaan lamanya tumbuh kmbali. -_-
    Sdangkan Sunny ‘lbih mudah menyerah atas prasaannnya’ Masa cuma gara2 lupa nomor Soo trus gak nyari altrnatif lain buat hubungin Soo? Walau SooSun (trutama Sunny) sama2 mncari plarian k orang lain ttap saja gak bisa menipu prasaannya sndiri yang sbnarnya.
    Kasihan si HeeChul, tapi ttap saja aku bersyukur karna Sunny masih ‘mempertahankan tubuhnya’ demi Soo.^^
    Wah trnyata SungMin juga ……….. Jangan sampai tar mrka brdua brasa senasib trus jadi dkat n jadian. Biasanya kan ada aja yang kayak gitu.
    Klo buat korban pmbunuhan di crita ini jangan2 SungMin lagi. Atau malah Sica?
    Trus part ini gak ada LSM sam-skali ya. BTW itu pmbunuhannya di Korea kan? Bukan di luar negeri situ. Brarti pas Sunny sudah balik ke Korea dong ya?

    • haha dgn kata lain Soo ingin beryadong dgn Sunny XD wkwkwkwkwkwkwkwkwk
      memang, Sunny mudah pasrah nuh, tp LSMnya aja gitu
      yg jelas korbannya bkn Sica
      iy kejadiannya di Korea, makanya SooSun sdh bertemu lg

  3. pupupuputtt said:

    Waahh…
    akhirnya update lagi cerita soosun *menangisbahagia*

    makasih thor, ceritanya di chap ini panjang :->

    hubungan sica dgn soo semakin intim ya.
    sica udah berani cium kening soo.
    awas kamu sica, aku bilangin ke sunny lho..
    muahaha

    tapi plis thor.. perjodohan sunny dgn sungmin jangan dikabulin ya. ga rela aku.. #eh

    semoga soo cepat bertemu dgn sunny :))
    amin aamiin ..

    terus, klo sungmin gay, siapa orang yang dicintainya, thor?

    ditunggu chap berikutnya yg lebih mendebarkan.
    semangat thor ^o^//

    • sama2 ^^
      mengenai namja yg dicintai Sungmin kuserahkan pd imajinasi pembaca aja 😀 mau Kyuhyun ya jg boleh wkwkwk
      thanks 🙂

  4. yah nggak ada momen soosun deh .-.

    malah adanya momen soosic

    semoga soosun lekas bertemu dan bersatu kembali

    ditunggu next chapternya thor ^^ semangat!

  5. Annyeong,,,,,,,,,
    – – – –
    Wahh ,tuh kan Ini ksempatan buat sica,,apalgi kdua orang tua sdah slng mngenal,,,,,
    Naah ,Sunny sma HeeChul lalu skrang sma Sungmin,,,,,,
    Wadooh,iya kyknya perjlan msih pnjang……,,,,,,

    – – –
    _ tunggu Next Chapter nyaaa,,,,
    SEMANGAAAAT

  6. DeeScorpio said:

    akhir’a update thor…kngen sma crita soosun u,u
    kasian soosun,terpisah+msih sling mencintai…smoga soosun cepat bertemu+kembali bersatu u.u
    sica km jgn sma soo,mnding sma ak aja*plak#abaikan
    Crita’a keren thor,dtunggu next chap…semangat 😉

  7. chocofloat29 said:

    wah crta nya mkin mnrik,aica kasian bgt sich 😦 bakal di datengin yuri g ni ??? g tega liat dy brtpuk sblh tgan.
    author jjang !! lnjut

  8. Soosun the galau couple haha thor buat sooyoung sama sica kasian dia bertepuk sebelah tangan mulu :p
    Aduh sungmin juga mencintai namja siapa?kyuhyun?hehe kyumin kyumin ini pasti temen aku jerit jerit bahagia

  9. hweeeeee.. chapter galau chapter galauuu >.<

    setdah sungmin juga senasib ama sunny? sapa namjanya? kyuhyun ya?

    lanjutkan thor, hwaitaeng d^^b

  10. njir pertama di krain ada NC #reader yadong , ternyata soo cuma mimpi . kasian y sica hrs mendem perasaannya ke soo , pdhl dia udh suka soo dr SMP . thor masukin yoong dong , buat jd pasangan sica XD #berpaling dr yulsic . sungmin jg suka sesama . wah wah , rumit ni ff . di tgg deh next chapnya .

  11. Miss New New said:

    awal ceritanya bikin malu sendiri hihiiyy

    Eh ternyata mimpi, tambah malu wkwkkwkw

    Selanjutnya sedih perih lemes resah pilu ngededeul jadi satu
    Author paling pinter deh bikin aku sedih xD

    Aku bayangin ekspresi Sica ngomong “bubur! Aku akan masak bubur!” hehehehhe kocaak

  12. wkwkwkw aku binggung, aku ketuker ingatan ku pikir ini yang cinta segi sembilan, yang mimpi” itu wkwkw pantes rada gak nyambun, pas aku liat judulnya ternyata ini yang soosun hahaha
    btw aiiiih.. Ngena banget ost nya wkwkw

  13. First Love emng Susah tuk dilupakan… T.T

    SooSun….
    Author ap mksud SooSun Day diatas????

  14. wah sukur deh ternyata sungmin yang dijodohin ama sunny itu suka sesama jenis juga 🙂
    kaget pas baca kalo sunny udah punya pacar & pacarnya heechul 😀
    sica deket lagi ama soo, mungkin gak kalo nanti mereka malah jadian??

  15. ooow~ telat berkunjung saya kekeke~
    Sunny udh berani move on meski tetep gagal *pukpuk*
    dan gara2 sunny syoo pensiun sebagai shikshin?? o_O
    free pukpuk deh buat SooSunSic di chapter ini.

  16. jiahhh soosun masih bergalau ria..
    Jessica masih curi2 kesempatan.. apa mau dikata dia ttep belum bisa ngilangin perasaannya buat soo..
    Kok aku malah byangin klo pembunuh itu sicca ya?? oh no.. pdhal yg lebih cocok jd penjahat itu LSM.. gkgkgkgk

  17. tinsunshipper said:

    ahirnya update juga…

    Langsung ke chaptr slanjut’a aaaah..
    mian gk komen bnyk..

  18. aah..udah ada ternyataa,wkwk baru baca nih
    adduhh, kayaknya chapter ini nge galauin bngt ya,ehehe lagu first love lagi
    nyempil dikit nih Sunsun couple nya ?wkwk tapi andwae! ini ff SooSun
    semangat mimin~perjuangan cinta soosun masih panjang!aku setia menanti hehe

  19. ninggalin jejak aja dulu ya thor. udh lama bgt gak mampir kesini

  20. penasarannnn…nextnextnext
    daebak thor

  21. hennyhilda said:

    Haduhhh jd speechless
    maaf y lg2 g bz bkomentar pa2
    semangat authot
    ganbatte

  22. jd penasan sama pembunuhan apa sbnarnya, memang baru part ini aja ngeh dan kepikiran tentang bunuh2an itu soalnya part sebelum2nya fokus bacanya ke soosun hehe
    tetep berdoa semoga happy end…

  23. Sungmin oppa gayyy ?!!!!
    Kyuhyun oppa kah ???
    Untung Sunny unnie belum menyerahkannya sama Heechul oppa…
    Yakk Sunny unnie, milikmu itu hanya boleh dimiliki oleh Sooyoung unnie. Bukan orang lain. Jangan sampai kebablasan. Di sana kan pergaulannya bebas. Jaga dirimu baik-baik unnie *sok akrab sok nasehati XD
    Soo unnie, kau juga dilarang mencintai orang lain. Mebgerti ?! XD
    Hahahahahaha XD
    Dan satu lagi, yakkk ndo, Maifate unnie, persatukan mereka. Awas saja *death glare Maifate unnie
    Byuuuurrrrrr ( disiram kuah sayur sama author) XD
    Kabooorrrr ke chapter depan yang yadong XD Buahahahahaha XD

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: