~Thank you for your comments~

A/N : Sesuai janji, chapter ini nggak lama 🙂
pada mimpi Yuri, sudut pandangnya banyakan bercampur antara aku dan orang ketiga.
seperti chapter sebelumnya, kalau baca sambil dengar lagu bakal lebih berasa. Tapi author nggak kepikiran lagu SNSD yang cocok, jadi ya kalian dengar lagu sendiri saja yang cocok (yang lembut tapi bernuansa sad) kalau bisa 🙂
Enjoy and don’t forget to leave comment~

Yuri

Pada jaman dahulu kala, hiduplah dua orang pelayan di rumah seorang Ahjumma, bernama Kwon Yuri dan Jessica Jung.
Srak srak
“Fiuh…” Yuri menyeka peluh yang mengucur di pipinya dengan lengan bajunya. Hari ini pun juga Yuri bersemangat menjalankan kesehariannya, yaitu menyapu dedaunan kering di halaman.
“Yul! Mau minum teh nggak?”
Yuri tersenyum dan menghentikan pekerjaan menyapunya sejenak untuk menikmati teh buatan Jessica. Mereka sama-sama duduk di kursi halaman yang rindang. Saling berhadapan.
“Kamu nggak usah repot-repot, biar aku saja.”
“Aku tidak merasa direpotkan kok, lagipula kamu juga sudah bekerja keras, jadi aku ingin membantu meringankan bebanmu.”
Jessica menyeduh teh yang dibawanya dan menuangkannya ke dalam sebuah cangkir lalu menyuguhkannya pada Yuri. Teh hijau.
“Silakan.”
“Gomawo.”
Yuri membaui aromanya yang harum sebelum menyeruput teh itu perlahan sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang meniup rambutnya. Yuri melihat Jessica sedang tersenyum manis padanya.
“Gimana? Enak?”
“Ne, teh buatan Sica selalu enak.”
“Ah, bisa saja.”
Waktu yang hanya untuk berdua saja. Ah… ini pasti yang namanya bahagia, pikir Yuri merasa damai.
Meskipun hanya hidup sederhana dan bekerja sebagai seorang pelayan bersama Jessica, namun bisa berada di sisinya saja Yuri sudah sangat bahagia.
“Daripada sepi begini, mau dengar aku nyanyi Yul?”
“Hmm,” jawab Yuri sambil meminum seteguk.
“I’m a lazy girl, yeah yeah~ I’m a lazy girl~”
Yuri hampir menyemburkan minumannya, tapi buru-buru ditelannya. Kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja.
“Huahaha! Konyol! Tapi entah kenapa cocok sama kamu Sica!”
“Hehehe.”
“Hahahahahahahahahahaha… HUAHAHAHAHAHA!!”
Jessica menggembungkan pipinya merasa tawa Yuri berlebihan.
“Yah, kamu sengaja ya? Mau ketawa sampai kapan? Yuri sendiri juga lazy.”
“Haha aku nggak lazy, buktinya sampai tadi aku masih menyapu halaman, haha.”
“Huh, aku nggak selalu lazy kok. Buktinya aku sudah bikinin kamu teh. Aku rajn kalau aku mau.”
“Oh ya?”
“I’m a lazy girl~”
“Nah, tuh ngaku lagi.”
“Aku cuma nyanyi.”
Jessica memang terkadang suka membuat candaan yang random.
“Ngomong-ngomong,” Yuri mengubah topik. “Rasanya ada yang kurang. Hari ini nggak ada snack untuk menemani minum teh?”
“Sudah habis, Yul.”
“Ohh, kalau begitu biar aku pergi beli saja. Sekalian belanja untuk bahan makan malam.” Yuri meletakkan kembali cangkir itu di atas piring dan bangkit dari kursinya. “Kalau begitu sekarang aku pergi dulu ya Sica, titip cuciin cangkirnya ya?”
“Ne, serahkan saja padaku.”
Setelah membawa cukup uang dan tas belanja Yuri berangkat. Dia melangkah dengan ringan sambil bersenandung.
Hari ini juga suasana kota damai, sedamai hatinya saat ini.
Tiba-tiba Yuri teringat.
Ah gawat tadi aku lupa mengunci pintu
Tapi biarlah, toh kota ini damai pasti aman-aman saja.
Tapi Yuri sama sekali tidak menyangka kalau kecerobohannya akan membawa suatu tragedi.
Yuri benar-benar meluangkan waktunya untuk menyelami seluruh daftar belanjaannya. Agaknya dia jadi lupa waktu. Saat Yuri sedang membayar belanjaannya, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh. Yuri menengadah ke atas, awan-awan kelabu mulai menutupi seluruh langit. Membuat suasana kota jadi sedikit lebih gelap, lebih suram, seperti sudah lebih beberapa jam dari waktu yang seharusnya.
Saat itu, entah kenapa Yuri merasakan firasat buruk.
Lebih baik aku pulang sekarang.
Hujan mulai turun gerimis di tengah perjalanan pulang. Tapi untungnya Yuri sudah sampai di rumah sebelum hujan turun lebih deras.
“Aku pulang!” serunya.
Tapi entah mengapa saat itu Yuri merasa suasana rumah terasa berbeda dibanding biasanya.
“Sicaaaa?”
Yuri tidak mendengar jawabannya. Biasanya dia akan selalu menyahut, bahkan menyambutnya di depan pintu.
“Sicaaaa?” panggilnya sekali lagi, tapi masih tidak ada jawaban.
Apa dia tidak mendengar? Atau sedang di toilet?
Perasaan tidak enak itu kembali menyergapnya.
“Sicaaaa? Kamu di manaaaa? Kalau ada, nyahut dong!”
Yuri berkeliling di dalam rumah mencarinya. Dapur. Ruang tamu. Di kamarnya. Di toilet. Tapi Yuri tetap tidak menemukannya.
Sekarang sedang hujan deras nggak mungkin kan dia di halaman?
Pilihan terakhir, Yuri pergi ke kamar majikan yang berada di lantai dua. Letaknya tidak jauh dari tangga. Pintu kamarnya terbuka.
“Si…” Yuri melangkah masuk dan langsung tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya.
“!”
Majikannya sedang terbaring di tengah ruangan yang penuh dengan genangan darah. Sementara Jessica sedang berdiri kaku tidak jauh dari pintu dengan wajah pucat pasi.
“Aa…” Yuri tidak bisa menahan rasa syoknya.
“Sica… apa yang… kau lakukan…?” suaranya gemetar sewaktu mengatakannya.
“Aku… aku tidak tahu, Yul! Saat sedang mencuci cangkir tadi aku mendengar jeritan nyonya… tapi tak kusangka! Begitu aku datang, nyonya sudah begini…”
Jessica menggeleng, tubuhnya gemetar dengan hebat.
“Bukan aku… bukan aku yang melakukannya, Yul! Percayalah padaku! Aku tidak melakukan apa-apa! Aku tidak tahu apa-apa! Sungguh!”
Yuri mendekap tubuhnya erat-erat dan tangis Jessica langsung pecah di bahunya.
“Sudah cukup Sica, aku tahu kamu tidak mungkin melakukannya, aku percaya padamu…” bisik Yuri dengan lembut di telinganya untuk menenangkan gadis yang terguncang itu.
Kemudian Yuri menatap mayat majikannya yang sedari tadi tidak bergerak.
Ahjumma dibunuh?
Tidak, aku tidak percaya ini!
Siapa yang melakukannya? Kenapa ini bisa terjadi?
Jessica masih terus menangis di bahunya. Dia benar-benar terlihat tidak berdaya.
“……………..”
Oh tidak… ini pasti salahku… karena tadi aku pergi tanpa mengunci pintu. Mengira semua akan baik-baik saja…
Aku percaya bukan Jessica yang melakukannya tapi sekarang apa yang harus kami lakukan?
Kami pasti akan dicurigai sebagai pelakunya. Melarikan diri?
Ah tidak, kalau seperti itu justru kami akan semakin dicurigai. Dan kami akan terus dikejar-kejar…
Selama masih hidup, kami akan selalu dihantui ketakutan… tidak akan pernah bisa tenang…
Yuri menggigit bibirnya.
Tidak ada pilihan lain. Seseorang harus tetap berada disini dan menjelaskan semuanya.
Tapi… tidak ada tanda-tanda yang bisa membuktikan kalau kami bukan pelakunya. Kami juga tidak memiliki alibi yang jelas. Tidak ada saksi. Kemungkinan terburuk akan…
Yuri melepaskan pelukannya, tangannya masih memegang kedua bahunya. Matanya menatap dalam-dalam ke mata Jessica.
“Sica, dengarkan aku. Larilah dari sini,” ucapnya tegas.
“!”
“Ini salahku. Karena tadi aku lupa mengunci pintu. Seandainya aku tidak lupa mungkin petaka ini tidak akan terjadi,” wajah Yuri menunjukkan penyesalan.
Jessica menggeleng, “Apa yang kamu katakan, Yul…?”
“Pergilah, biar aku yang akan menjelaskannya pada mereka.”
“Tapi…”
Yuri meremas pundaknya, “Ini masalah serius Sica, dengarkan kata-kataku, menyamarlah dan sembunyikan identitasmu.”
Akhirnya dengan enggan Jessica mengangguk. Yuri menitipkan sedikit uang padanya. Dan memakaikan mantel coklat yang menutupi kepalanya.
“Ingat, jangan pernah kembali kesini lagi, mengerti?”
“Tapi Yul… bagaimana dengan kamu?”
“Tenang saja, nanti aku akan menemuimu setelah menjelaskan semuanya, jadi kau tidak usah khawatir…” kata Yuri walau dia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.
“………………..”
“Sica?”
“Aku takut, Yul…”
Jessica meremas uang titipan Yuri di dadanya. Kepalanya tertunduk.
“Rasanya kau seperti akan menghilang selamanya dan aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi…” desah Jessica dengan tatapan sendu. “Aku takut ini akan jadi pertemuan terakhir kita…”
“Sica ah…” Yuri membelai pipinya dan memandangnya dengan lembut. “Ini bukanlah pertemuan terakhir kita. Kita akan bertemu lagi, aku janji…” Yuri mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Jessica.
Jessica masih menatapnya dengan tatapan seperti enggan meninggalkannya pergi.
“Yul… jangan lupakan janjimu…”
“Aku tidak akan lupa.”
Setelah itu Yuri memberi punggungnya sedikit dorongan.
Jessica tidak mempercepat langkahnya walau berada di tengah hujan deras. Kakinya seperti sulit digerakkan.
Melalui ambang pintu, Yuri menatap punggungnya yang semakin menjauh. Di setiap langkahnya, Yuri berharap agar Jessica tidak kembali kesini.
Benar seperti itu… jangan menoleh ke belakang…
Walaupun harus terjadi apa-apa denganku, asalkan Jessica selamat…
Yuri tidak rela berpisah dengan Jessica, tapi dia harus mengikhlaskannya. Karena itulah wujud cinta terbesar yang mampu Yuri berikan untuk Jessica. Dia akan melindunginya meski harus mengobankan dirinya.
Setelah Yuri melepasnya, dia kembali ke tempat kejadian perkara untuk memeriksanya.
Sial! Si pelaku sangat cerdik! Dia menggunakan pisau dapur rumah ini!
Setelah itu juga tidak ada tanda-tanda perampokan. Jendela terkunci, tidak ada jejak sepatu, yang ada hanyalah bekas-bekas kami, maka sudah pasti orang rumah ini yang akan dicurigai!
Pertama aku harus menghapus semua barang bukti yang mengarah pada Sica.
Yuri menimbun semua barang-barang milik Jessica. Dia menggali lubang besar di halaman dengan cangkul.
“Hahh… hahh…”
Walau hujan deras tengah mengguyur tubuhnya, dia tidak akan menyerah.
Akan kubuat seolah Sica tidak pernah tinggal di rumah ini.
Tentu saja Yuri tidak berniat mengaku sebagai pelakunya, dia hanya ingin menghilangkan segala kemungkinan terburuk yang mengarah pada Jessica.

**

Namun pada akhirnya Yuri dituduh melakukan perbuatan yang bahkan tidak dilakukannya. Tuduhan itu membawanya ke panggung eksekusi.
Berada di tengah lapangan, disaksikan oleh seluruh massa. Seorang petugas mendorongnya dengan kasar. Dia disuruh menaiki tangga itu sendiri. Di ujung tangga itu adalah tempat yang akan menghantarnya menuju kematian.
Seutas tali tergantung di depannya. Tali yang cukup untuk melingkari kepalanya… seperti menatapnya dalam bisu…
Rasanya waktu berjalan begitu lambat saat Yuri meniti anak tangga itu satu persatu.
Kenapa aku harus mengalami hal ini…
Semua orang mencibirku oleh kejahatan yang tidak kulakukan.
Meski diriku innosen, aku tidak bisa membuktikannya. Karena kalau aku membela diri, semua tuduhan akan mengarah pada orang yang kusayangi, aku tidak mau itu…
Sica… mudah-mudahan dia selamat sekarang…
Hmm?
Tak sengaja Yuri menangkap sosoknya di tengah kerumunan. Bagaikan terhipnotis, Yuri tidak bisa menatap hal lain selain gadis itu.
Penampilannya sedikit berubah, rupanya dia melakukannya sesuai kata-katanya. Tapi meski begitu Yuri tetap bisa mengenalinya.
Meski jauh Yuri juga bisa melihat butiran-butiran air mata terus mengalir di wajahnya. Tatapannya berbaur antara penyesalan dan kesedihan.
Rasa sakit perlahan mulai merambat di hati Yuri.
Ah… padahal tadinya kupikir aku tidak akan bisa melihatnya lagi…
Kenapa kau malah ada disini… bodoh… padahal aku tidak mau kau melihatku dalam kondisi seperti ini…
Sica… walau apapun yang kulakukan untuk menolongmu… sepertinya aku tak dapat menghentikan air matamu ya…
Yuri memejamkan matanya.
Kalau ini adalah mimpi, bangunkanlah aku dari mimpi buruk ini.
Yuri mengalungkan tali itu ke leher jenjangnya, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Menikmati betapa hangatnya udara terakhirnya.
Waktu yang sudah berlalu tidak akan bisa kembali lagi. Tapi apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu Sica…
Dan setelah mengucapkan doa, Yuri menyerahkan diri sepenuhnya pada Yang Diatas.
Yuri memekik tertahan merasakan seluruh berat tubuhnya mencekik lehernya. Dia tidak tahu berapa lama dirinya berayun di tali yang menjerat lehernya. Semuanya terasa sangat sesak dan menyakitkan. Pandangannya buyar. Dia tidak bisa berpikir lagi…

**

Jessica hampir memekik ketika melihat Yuri mengalungkan tali itu ke lehernya sendiri.
“Aniyo, Yul…!”
Karena tidak tahan, Jessica memalingkan wajahnya. Tapi meski tanpa melihat pun ia dapat membayangkan dengan sangat jelas apa yang terjadi selanjutnya.
Air matanya mengucur deras.
Ini salahku! Ini salahku! Tidak seharusnya aku meninggalkan Yuri! Tidak seharusnya dia menanggung semuanya sendirian! pekiknya dalam hati.
Setengah jam pun berlalu. Dan selama itu pula Jessica terus tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Tubuhnya diturunkan dari tali gantung.
Yuri dapat merasakan Jessica berteriak-teriak memanggil namanya.
Kalau saja bisa pasti Yuri sudah menghambur dan memeluk Jessica. Tapi dia tidak bisa bergerak saat tubuhnya dimasukkan dalam peti dan dibawa pergi dengan niat mau diberikan pada pihak universitas sebagai bahan kuliah anatomi.
Air matanya merebak keluar ketika perlahan-lahan dia merasa semakin jauh dari gadis yang dicintainya.

**

Yuri terbangun. Air matanya lagi tengah mengalir. Dia sempat mengira dirinya akan mati.
Aku…masih hidup?
“……………..”
Benar juga… ini hanya mimpi…
Aku tidak akan mati…
Lagipula masih banyak yang ingin kusampaikan pada Sica…
_________________________________________________________________________________________

Sooyoung

Pada pagi hari yang cerah.
SNSD bersama dengan para manajer dan staff pergi berpiknik ke gunung. Melupakan jadwal mereka yang padat selama beberapa saat. Hanya untuk hari ini saja SNSD akan bermain-main.
Sampailah mereka di depan sebuah pondok kayu.
“Nah, kita sampai,” kata manajer oppa kemudian membukakan pintu.
“Ukh, kotor.” (Tiffany)
Jessica mengusap meja dengan jarinya, “Banyak debu juga.”
“Mungkin sudah lama tidak ditempati.” (Yuri)
“Maaf ya, sebentar, biar kami bersihkan dulu,” kata manajer oppa sambil meletakkan tasnya.
Taeyeon yang merasa nggak enak menyerahkan semuanya langsung menyela.
“Gak apa-apa oppa, biar kami saja, ya kan semuanya?”
“Ne, kan kami yang pergi bersenang-senang. Kami nggak mau merepotkan.” (Tiffany)
“Bagaimana kalau kita langsung mulai saja?” (Taeyeon)
“Tunggu, masa datang-datang langsung bersih-bersih?“ (Hyoyeon)
“Huuuuuuuuuu!! Aku mau makan dulu!” (Sooyoung)
“Setuju unnie!” (Yoona)
“Tadi baru saja kita makan sebelum pergi.” (Jessica)
“Itu kan makan pagi. Perutku sudah nagih minta diisi lagi.” (Sooyoung)
“Dasar shik shin.” (Sunny)
“Bagaimana kalau kita bagi-bagi tugas? Ada yang masak, ada yang bersih-bersih. Sama ada yang main,” Hyoyeon nyengir pada kalimat terakhir.
“Seperti waktu kita di rumah Sooyoung?” (Sunny)
“Ya, seperti waktu itu.” (Hyoyeon)
“Yang main 2 orang saja,” atur Taeyeon sambil menulis di kertas dengan bolpoint.
“Yahhh, jadikan 3 dong. Biar kemungkinan kenanya lebih banyak, hehe,” tawar Hyoyeon sambil cengengesan.
“Aniyo, kalau yang bagian bersih-bersih lebih banyak akan lebih cepat selesai. Lalu yang masak 3 orang,” kata Taeyeon sambil melanjutkan menulis.
“Kali ini gak ada direktor yang mengarahkan semuanya ya?” (Yoona)
“Apa?” tanya Sooyoung menyadari pandangan mereka semua mengarah padanya.
“Gak ada.” (Taeyeon)
“Semoga aku dapat yang main, ayolah dewi pemilih,” kata Sunny sambil membalik tangannya yang sudah terlipat.
“Lagi-lagi kamu panggil dewi pemilih ya. Memangnya manjur? Buktinya waktu itu saja kamu dapat bagian bersih-bersih.” (Sooyoung)
“Biarin, suka-suka dong.” (Sunny)
Setelah semua kertas ditulis. Kemudian kertas dilipat dan diacak. Masing-masing mengambilnya satu.
“Ah, aku mau yang itu saja!” Yoona mengganti kertas yang sudah diambilnya.
“Tunggu, ini sudah kuambil!” protes Jessica.

Taeyeon, Tiffany, dan Seohyun mendapat bagian memasak.
Jessica, Hyoyeon, Yuri, dan Yoona, mendapat bagian bersih-bersih.
Sunny dan Sooyoung mendapat bagian main.
“Yeeeeeeeeeeee!!”
“Berlebihan sekali,” komentar Sooyoung melihat Sunny yang kegirangan seperti anak-anak.
“Beruntung sekali.” (Tiffany)
“Yahhhh, lagi-lagi bersih-bersih… dari semua tugas, ini yang paling gak kusuka.” (Yoona)
“Sama, Yoona.” (Yuri)
“Yoona! Kamu tadi mengambil kertasku, padahal isinya juga akhirnya sama!” (Jessica)
“Hehehe,” Yoona nyengir tanpa dosa.
“Ahhh, aku mau dapat main kayak waktu itu. Mungkin lebih baik dapat masak saja.” (Jessica)
“Kalau dapat main pasti kamu hanya tidur. Lagian kamu kan nggak bisa masak.” (Hyoyeon)
“Enak saja, kata siapa aku nggak bisa? Setidaknya aku masih bisa bikin sandwich.” (Jessica)
“Ne, dan aku bisa bikin kimbab, hehe.” (Yoona)
“Kimbab super asin kali maksudmu,” cibir Sooyoung.
“Hehe, ampun unnie, aku gak bakal melakukannya lagi,” kata Yoona sudah kapok sejak mendapat karmanya.
“Nah, semuanya, langsung kita mulai saja.” (Taeyeon)
“Disini nggak bakal ada pup anjing kan? kekeke.” (Yoona)
“Ngaco, memangnya ada anjing?” (Hyoyeon)

Semua mulai berpencar mengikuti grup masing-masing. Meninggalkan Sunny dan Sooyoung saja.
“Semua member lagi pada sibuk, biar nggak ganggu kita jalan-jalan keluar saja yuk?”
“Oke.”

Di luar pondok Sunny meregangkan tubuhnya.
“Ngghh… rasanya sejuk ya kalau di sekeliling kita dipenuhi warna hijau.”
“Ne, tapi aku lebih suka melihat lautan warna pink sih.”
“Ahaha, sama. Aku harap sone akan terus mendukung kita tanpa lelah. Tapi kalau ada lautan pink sungguhan gimana ya?”
“Entah, aku belum pernah lihat sih.”
“Mungkin saja ada. Kalau ada Sooyoungie mau berenang disana?”
“Hmm, kamu sendiri?”
“Nggak tahu kalau belum melihatnya sendiri, hehe.”
Sunny berjalan mendahuluinya. Melompati sungai kecil di depannya.
“Ayo Sooyoung! Jalanmu lambat sekali.”
“Sunny ah, jangan terlalu bersemangat, nanti jatuh lho.”
“Gwenchana yo, kyaa!” Sunny terpeleset di tanah yang licin.
“Dasar, baru saja dibilangin kan?” Sooyoung mendekati Sunny dan membantunya berdiri.
“Hehe, habis aku senang sih.”
“Kadang kamu kayak anak kecil. Yahh wajar saja sih dengan tinggi badanmu yang segitu-segitu saja.”
“……………..” Sunny mendadak terdiam, tapi dia tidak kelihatan sedang marah.
“Kenapa?”
“Sooyoungie, tanganmu hangat…” Sunny meremasnya untuk mendapat kehangatan lebih.
Mendadak Sooyoung merasa tersipu. Dia langsung berdalih untuk menyembunyikannya.
“Tanganmu saja kali yang terlalu dingin.”
Saat Sooyoung hendak meneruskan jalannya, tiba-tiba tangannya ditarik.
“Tunggu, gimana kalau kita lewat jalan lain?”
“Jalan lain? Memangnya ada?” Sooyoung tidak melihat adanya jalan lain selain jalan yang ditapakinya.
“Itu,” Sunny menunjuk samping mereka. Disana ada sebuah pembukaan yang tidak tertutupi semak-semak.
Kening Sooyoung berkerut. Dia tidak melihat adanya jalan setapak disana.
“Yah, gimana kalau kita tersesat nanti?”
“Tenang, gunung ini kan gak seluas itu. Selain itu… darah mudaku bergejolak kalau sudah berada di tengah alam seperti ini. Jadi seperti berpetualang kan?” kata Sunny bersemangat.
Sooyoung menghela nafas. Sepertinya beginilah gadis yang sudah kelamaan ikut acara Invincible Youth.
“Oke, tapi aku nggak mau tanggung jawab kalau kita sampai nyasar ya?”
“Tenang, nggak usah khawatir berlebihan,” kata Sunny sambil berjalan melewati semak-semak.
Sooyoung terpaksa mengikutinya.

Sepuluh menit kemudian
“Yah Sunny, udahan yuk, kita balik saja.”
“Sebentar lagi.”
“Tapi bentar lagi itu kapan? Lima menit yang lalu kamu juga bilang begitu.”
Sooyoung memegangi perutnya yang terasa kosong.
“Uh, lapar… TTS sudah selesai masak belum ya? hah?”
Terdengar suara gemerisik tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia mulai merasa ngeri. Kemudian Sooyoung berjalan mengendap-endap ke dekat Sunny. Sooyoung menyentuh bahunya dan berkata dengan suara gemetar.
“Su-Sunny, kayaknya aku dengar sesuatu…”
“Paling juga binatang. Itu biasa kalau di gunung. Tampaknya bukan binatang besar, jadi nggak usah takut.”
“Mana mungkin aku nggak takut! Kamu yang kelewat berani Sunny! Ahhhh, tahu begini seharusnya aku nggak ikut kamu lewat jalan ini!”
“Berisik tahu, sudah nggak usah banyak ngomel. Sudah terlanjur juga.”
“Pokoknya aku nggak mau tahu, sekarang kita cepat kembali,“ Sooyoung membalik paksa badan Sunny ke arah mereka datang tadi.
Tiba-tiba makhluk itu menampakkan sosoknya dari balik semak-semak. Jantung Sooyoung seperti merosot ke perutnya.
“U-ular! Ular!” teriak Sooyoung panik.
“Tenang Sooyoung,” kata Sunny pada yeoja di belakangnya. “Kamu tetap disini saja.”
Sunny menarik nafas, “Baiklah.”
Dia mengambil langkah inisiatif. Berjalan mendekat ke ular itu.
“Su-Sunny?! Kamu mau apa?!”
“Aku akan menjinakkannya.”
“Apa?!” Sooyoung tersentak kaget. “Jangan!”
“Tidak usah khawatir, aku bisa menangani ular. Kamu tahu sendiri kan aku pernah memegang ular.”
“Ya, tapi… warna ular itu mencolok, mungkin dia beracun!”
“Tidak apa-apa.”
“Sunny! Sunny! Pabo!”
Sunny tidak mengindahkan peringatan gadis jangkung itu.
Sooyoung hanya bisa menggigit jari dengan khawatir saat jarak Sunny semakin dekat dengan ular itu.
“Tenang, anak baik… aku tidak akan menyakitimu…”
“Su-Sunny!” rasanya Sooyoung hampir tidak berani melihatnya. Jantungnya seperti mau copot.
Sunny memegang ekor ular itu. Kepala ular itu terangkat sedikit dari tanah.
“Nah, tenang ya.”
Ketakutannya menjadi kenyataan. Ular itu tiba-tiba bergerak gesit ke kaki Sunny dengan mulutnya yang terbuka.
“Ahhh!” refleks Sunny menarik kakinya yang dipatuk. Tangannya melepas ekor ular itu.
Sooyoung cepat-cepat mengambil sebuah batu besar di sampingnya dan membantingnya ke arah ular itu.
“Hyahh!!”
Brak!
Kepala ular itu tertindih. Beruntung sepertinya ular itu tidak cukup kuat untuk meloloskan diri. Ekornya bergoyang-goyang sebagai usaha terakhirnya.
Nafasnya masih memburu, tapi tidak ada waktu untuk menarik nafas.
“Sunny!” Sooyoung cepat-cepat mendekati Sunny yang sedang memegangi kakinya. “Kamu digigit ya?!”
“Ne…”
Dari balik tangan Sunny, Sooyoung melihat ada dua lubang kecil bekas gigitan ular. Jantung Sooyoung seperti diremas melihatnya. Instingnya mengatakan dia harus berbuat sesuatu untuk menolong Sunny. Dia tidak boleh diam saja dan menonton!
“Sunny! Kesinikan kakimu!”
“Eh? kamu mau a-”
Sooyoung segera berlutut dan menempelkan mulutnya ke luka bekas gigitan ular di kaki Sunny. Menghisap racunnya.
“Sooyoung?!” Sunny kaget melihat tindakan Sooyoung.
Sooyoung menjauhkan tubuhnya dan melepeh ke samping. Kemudian dia melakukannya lagi.
“Pueh!”
“Hentikan, kamu bisa-“
“Sedikit racun tidak akan membunuhku!” teriak Sooyoung yang seketika langsung mendiamkan Sunny.
Akhirnya Sunny hanya bisa menonton saat Sooyoung berusaha mengisap racun ular itu keluar dari tubuhnya.
Terakhir Sooyoung melepeh berkali-kali untuk menghilangkan racun serta rasa darah yang tersisa di rongga mulutnya. Lalu menggosok mulutnya dan berkata.
“Aku sudah mengeluarkan bisanya sebisaku, sekarang kita harus cepat-”
Kata-katanya terhenti ketika melihat daerah di sekitar bekas gigitannya membiru. Sooyoung mengerenyit.
“Sunny, apa tidak lebih baik mengikat kakimu saja?”
“Tidak, menurut buku yang kubaca, lebih baik dibiarkan begini, karena kalau diikat dan dibiarkan terlalu lama, kakiku bisa membusuk. Dan kalau itu terjadi bisa-bisa aku malah kehilangan kakiku.”
“Sekarang Sooyoung, kamu pergilah dan cari bantuan secepat mungkin.”
“Lalu kamu?”
“Dengan kaki seperti ini, aku tidak akan sanggup berjalan jauh. Selain itu kalau aku bergerak, racun dalam tubuhku akan lebih cepat menyebar,” Sunny mengatakannya dengan tenang.
Sooyoung termangu selama beberapa detik. Mulutnya menganga. Rasa takut dalam dirinya semakin menggempurnya habis-habisan.
“Aku tidak apa-apa, aku akan menunggu disini,” Sunny berusaha tersenyum agar Sooyoung tidak khawatir. Melihat Sooyoung mengkhawatirkannya saja sudah cukup baginya.
“Pabo! Mana bisa aku meninggalkanmu! Ayo sini!”
Sooyoung berjongkok sambil membelakangi Sunny, menawarkan punggungnya.
Sunny terlihat sedikit ragu.
“Kenapa lagi? Cepat!”
Akhirnya dia naik ke punggung Sooyoung.
Sooyoung berdiri dan memantapkan hati. Dia menarik nafas dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar di atas kecepatan rata-rata.
“Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu selama aku pergi, aku pasti akan menyesal seumur hidup!”
“Sooyoung…”
“Nah sekarang tahanlah, kamu pasti akan baik-baik saja Sunny, karena aku akan melindungimu, takkan kubiarkan kamu mati, ada aku disini jadi kamu tidak sendirian, peganglah aku erat-erat dan memohon, supaya kekuatanku tersalur padamu, biarkan aku ikut menanggung rasa sakitmu.”
Belum pernah Sooyoung mengucapkan kata-kata sepanjang itu hampir tanpa jeda dengan susunan yang berantakan. Tapi itu menunjukkan betapa terguncangnya Sooyoung saat ini.
Dalam petaka Sooyoung justru baru bisa menyadari betapa berharganya Sunny baginya. Dan segenap rasa cintanya pada Sunny mulai menyeruak kembali ke permukaan. Dia merasa bodoh karena telah melupakannya.
Sunny merasa sangat tersentuh. Biarpun kalimatnya berantakan, tapi terdengar sangat indah. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Sooyoung.
“Gomawo…” bisiknya dengan penuh haru.

Lima menit kemudian.
Sooyoung masih berjalan tanpa tahu arah.
Sementara Sunny yang berada dalam gendongannya merasa tubuhnya makin lama makin terasa sakit. Sepertinya racunnya bereaksi. Dia berusaha menahannya sebisa mungkin, tapi lama-lama rasa sakit itu semakin melampaui batas yang bisa ditahannya.
Sooyoung merasakan tetesan air di bahunya yang terbuka.
“Eh?”
Dia hampir menyangka itu air hujan sampai dia mendengar rintihan Sunny di dekat telinganya.
“Uh sakit… sakit, Sooyoung…”
“Sunny?!”
Air mata Sunny mengalir, dia menangis.
“Sunny! Bertahanlah!”
“Uhh….” Sunny meremas bahunya.
Celaka… Sunny benar-benar kesakitan!
Sooyoung tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Dia merasa terdesak. Dia tidak mau kehilangan Sunny. Dia harus cepat menolongnya, memberikannya obat penawar racun sebelum terlambat, tapi yang ada di depannya sekarang hanyalah hutan tanpa arah. Dia tidak melihat arah darimana mereka datang.
Bagaimana ini? Bagaimana ini?!
Sooyoung tidak mau percaya ini kenyataan.
Air matanya ikut mengalir sekarang. Tapi dia sadar. Dia tidak boleh putus asa. Ini bukan waktu yang tepat untuk menangis. Kakinya tidak boleh berhenti berjalan.
Dalam hati dia berdoa keras demi keselamatan gadis dalam gendongannya.
Tiba-tiba Sunny berkata.
“Sooyoungie… saranghae…”
“!”
“Maaf kalau… selama ini aku tidak bisa menjadi unnie yang baik… juga kalau aku menyakitimu tanpa kusengaja…”
Rahang Sooyoung mengeras. Dia tidak ingin mendengar hal seperti ini. Kata-kata Sunny… seperti kata-kata terakhirnya saja.
“Aku bersyukur bisa bertemu denganmu… dan semuanya…”
“Jangan katakan lagi…”
“Maukah kamu memanggilku unnie sekali lagi? Aku ingin mendengarnya untuk yang terakhir kalinya…”
“Aniyo! Aniyo! NGGAK AKAN! Kalau kamu mintanya seperti ini, aku nggak akan panggil kamu unnie!”
“……………..” Sunny tidak bisa berdebat, tubuhnya sudah terlalu lemah untuk itu.
“Jebal… tolong berhenti berkata seperti itu Sunny…”
Sooyoung menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Tolong bertahanlah… lakukan demi aku… dan kita semua…”
“……………..”
“……………..”
“Sunny, kamu masih hidup kan?”
“……………..”
“Yah Sunny, hentikan candaanmu… di saat seperti ini… nggak lucu tahu…” suara Sooyoung gemetar.
“……………..”
“Sunny ah, sebenarnya yang menjatuhkan Nitendo DSmu seminggu yang lalu itu aku. Sampai layar atasnya jadi muncul garis-garis begitu.”
Sooyoung tidak tahu harus berkata apa, jadi dia berkata asal saja.
“Nah sekarang cepat balas aku, marahi aku, suruh aku ganti dengan layar LCD yang baru. Atau sekalian saja ganti Nitendo DSmu dengan yang baru. Kamu mau yang warna apa? Warna pink lagi? Atau kamu mau kubelikan yang apa itu namanya… Nitendo 3DS? Kamu boleh minta apa saja, akan kubelikan.”
“……………..”
Tapi tetap tidak ada jawaban maupun respon, jadi dia seperti sedang berbicara sendiri. Tangan Sunny juga sudah semenjak tadi terkulai lemas di pundaknya.
Sooyoung menangis tersedu-sedu. Rasanya seolah ada batu yang menyumbat saluran pernafasannya.
“Sunny, jebal… jangan pergi… aku nggak mau ending seperti ini…”
Tepat saat itu kakinya menginjak tanah yang familier. Di balkon pondok kayu ada Tiffany dan Taeyeon yang sedang menikmati pemandangan berdua.
“Lho Sooyoung? Kenapa kok nangis?” mata Tiffany terbelalak ketika melihat Sunny di punggungnya. “Apa yang terjadi sama Sunny?!”
Semua member langsung keluar mendengar suara Tiffany yang keras.
“Sunny digigit ular beracun…”
“Apa?! Cepat minta obat penawar sama manajer oppa!”
“Ya!” Hyoyeon berlari tergesa-gesa masuk ke dalam.

**

Sunny sudah siuman berkat obat penawar racun yang dibawa manajer oppa untuk jaga-jaga. Semua member diusir keluar dari kamar oleh Taeyeon agar Sunny bisa beristirahat.
Tapi Sunny memegang tangan Sooyoung.
“Taeyeon, biarkan aku bicara sebentar sama Sooyoungie…” mohon Sunny.
“Oke, tapi setelah itu kamu harus istirahat. Tubuhmu masih lemah.”
“Ya.”
Taeyeon berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan.
“Sooyoungie…”
“Sunny…”
“Kamu juga sudah minum obat penawar racun?”
Sooyoung sedikit kaget karena hal pertama yang keluar dari mulut Sunny setelah mereka hanya berdua adalah itu.
“Ya, sudah kok…” Sooyoung balas menggenggam tangan Sunny.
“Kalau begitu aku bisa tenang…” Sunny memejamkan matanya.
Pabo! Harusnya kamu khawatirkan dirimu sendiri!
Tapi Sooyoung hanya menyimpannya dalam hati karena dia tidak mau berteriak-teriak di depan Sunny yang masih lemah.
Sunny kembali membuka matanya.
“Sooyoungie hebat tadi…”
“Apanya yang hebat, justru kamu yang hebat karena sama sekali tak gentar di depan ular itu…”
“Aniyo, kamulah yang lebih hebat. Aku melihat saat kamu menghisap racun ular itu di tubuhku, lalu setelah itu kamu menggendongku… aku bisa merasakan… keinginanmu yang benar-benar kuat untuk menolongku…”
Sooyoung merasa matanya jadi perih.
“Ah… ahaha…” Sooyoung menyeka setetes air mata yang mulai terbentuk di sudut matanya.
“Saat itu kukira aku sudah terlambat… saat kamu tidak meresponku lagi, kukira aku tidak akan pernah bisa mendengar suaramu lagi untuk selamanya… aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau sampai kehilanganmu dalam hidupku… membayangkannya saja aku tidak mau…”
Air mata terus menggelincir turun di pipinya.
“Jangan nangis lagi…” Sunny menyeka tetesan air mata Sooyoung yang tidak mau berhenti. “Sekarang aku baik-baik saja kan.”
“Ahaha, aku cengeng ya…”
Sunny tersenyum lembut dan mendekatkan kepalanya, kemudian mengecup pipi Sooyoung. Kecupan lembut itu sangat ringan, tapi menggedor jantungnya dengan keras.
“Eh?”
“Aku suka Sooyoung yang berhati hangat seperti ini.”
“A-ah… aku juga… aku juga menyukaimu Sunny…”
Sooyoung ingin berkata lebih, tapi dia sudah terbawa kembali ke alam nyata dengan aliran sungai kecil di kedua pipinya.

*~To Be Continued~*

A/N : Chapter berikutnya adalah duo maknae^^
tapi sabar ya karena bakal lama, idenya masih dikumpulkan 😀
yang punya Twitter, follow ya^^ @MinakoMonica (kalau belum ganti nama)

Advertisements

Comments on: "Cinta Segisembilan (Chapter 13)" (77)

  1. bnr2 salut bwt kwon yuri yg begitu melindungi sica dri tuduhan pmbnhn…hiks
    Ya wlpn di mimpi sih,,,hehe
    Wah kirain bnrn sunny bisa jinakin ulr gak twnya di patok jga kan????
    Soo hbt sekali brsha nylmtin sunny,,,
    Soosun sweet deh…ahh aku padamu.

  2. Yul brkorban nywa dmi Sica… ㅠ.ㅠ
    Kwon Seobang… Hiks..

    SooSun Sweet… Sooyoung ❤ Sunny

    Kern thor…

  3. taengppany said:

    Wah cerita yulsic sama soosun keren lah penuh pengorbanan banget apalagi yuri sampai fela mari, tapi itu yang bunuh majikannya siapa?
    Kalau cerita soosun ada bodornya itu sunny so soan jinakin ular malahan di gigit buset itu anak kelewat berani -__-

  4. taengppany said:

    Oh ia itu twitternya ga ada thor tadi udh mau di follow

  5. Aaah,yulsic s0osun c0 cweet. Yul n y0ungie emg her0 poreper. Dmn2 slalu ajah jd pnyelamatnya sica n sunny. Lanjut th0r! N0umu jooahe!

  6. Ah Yul,,, rela brkorban demi Sica nih! Hiks,,hiks 😥
    Wow, kirain Sunny gak akan selamat. Tapi, ternyata…. WOW!!
    Next chap masih dalem mimpi yach? Dah penasaran buat dunia nyatanya u,u
    Ditunggu next chap thor^^ moga gak lama yaw?! 😀

  7. MeLLocksmitH said:

    Fiuh.. Yg soosun bner” sweet dah,, prjuangan’a soo demi sunny berbuah manis.. 🙂
    tapii… Knapa yulsic malah tragis bnget yak T…T
    See u next chap..
    Caaww..

  8. pupupuputtt said:

    kekeke~
    Sooyoung buat pengakuan dosa saat Sunny lagi sekarat. lucu xD

    Teruskan kag Mon hHa 😀

  9. prilly-chan said:

    sekarang bagian kwon yuri and choi sooyoung ya, salut untuk kwon yuri yg rela berkorban untuk jessica, dan lagi keren aksinya sooyoungie yg menyelamatkan sunny dari racun ular walau terlambat kayaknya , gomawo thor udah update 🙂

  10. YulSic: Tragis bangt critanya. Sica jugatrlalu ‘penurut’ ama Yuri. Masa pas Yuri digantung aja, Sica gak berbuat apa2 gitu. Klo di crita2 romance lain kan kbanyakan Sica bakalan mengacaukan acara penggantungan itu n menanggung ‘hukuman’ brsama Yul. Yuri juga sudah mati digantung karna ksalahan yang tak prnah dilakukannya, eh jasadnya masih dipakai buat pnlitian lagi. >..< Soo bnar2 jadi hero disini. Makanya Sunny lain kali jangan bandel dong klo dipringatin ama Soo. Disuruh jangan ke gunung n jangan dkat2 ama ularnya, eh 2-2-nya gak digubris ama Sunny. Untung yang muncul 'cuma' ular, klo beruang? XD
    Pokoknya buat 2 chapter ini feel-nya bnar2 dapat (karna pairingnya YulSic n SooSun mungkin).^^ Khususnya buat chapter SooSun itu 'SooSun bangt'. Walau critanya ada sedihnya, tapi ttap campur2 konyol gitu. Hmm, chapter slanjutnya Yoong muncul dua kali brturut2 dong, YoonYul & YoonHyun (dasar player Yoong). Aku akan menunggu dengan setia update-an chapter brikutnya thor.^^

    Comment gak penting:
    1. Yoong sudah tukar undian ama Sica hasilnya tetap sama aja, mang sudah nasibnya bersiih2 ama YulSicHyo. XD
    2. Itu TaeNy mesra2an sudah slsai masak blum tuh? Jangan2 blum slsai trus main tinggal Hyunnie sndirian yang masak. XD
    3. Oppa manager hebat ya penuh prsiapan, sampai penawar racun ular aja dibawa kemana-mana. Tapi syukur sih, berkat itu SooSun happy ending.XD

    • Oh iya thor, agak kurang setuju ama kalimat Soo yang ini: “Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau sampai kehilanganmu dalam grup kita…” Knapa dalam grup? Apa Sunny hanya dipandang sejauh itu aja ama Soo?^^ Harusnya kan “dalam hidupku.”XD
      Trus klo buat twitter aku punya account-nya, tapi cuma pernah pakai sekali aja n gak prnah lagi sampai skarang, coz aku gak trlalu suka social media buat skarang2 ini, jadi maaf ya klo aku gak follow nih thor.^^

      • haha begitu ya, mgkin benar jg XD
        makasih buat sarannya, nanti kuubah deh 😉

        soalnya wktu mikir kalimat itu, aku lg mikir yg realis, lupa kalau Soo mgkin saja ngomong begitu ke Sunny (mengingat lirik lagu ultah yg Soo tulis buat Sunny^^)
        ok, gak apa2, kadang aku jg makai twitter cuma buat pelampiasan wkwkwk XD

    • mgkin saja Sica berbuat begitu, tp aku pikir ini mimpi Yuri sih, Yuri mana mau Sica ikut dihukum 🙂
      haha kalau beruang, gak bakal ada scene heroik Sooyoung menghisap racun keluar dari kaki Sunny XD
      baguslah kalau merasa sesuai dgn karakternya 😀

      aku jg kepikiran begitu, tp semua member memang punya jatah muncul 2 kali, hanya saja Yoong bakal spesial karena muncul 2 kali dlm 1 chapter XD
      WKWKWK ngakak baca commentmu XD
      1. konyol
      2. TaeNy udh selesai masak kok (karena ini mimpi Soo, di matanya TaeNy sgt dekat makanya begini, wkwkwk Locksmith presidentnya muncul lg deh XD )
      3. bisa saja, namanya saja ke gunung, pasti bawa P3K 🙂

    • Satu lagi yang mengganjal thor buat chapter ini, ada yang ‘kurang masuk logikanya’ klo mnurut aku (banyak protes ah skali-skali). XD
      Klo mnurut aku sih malah alibi-nya Yuri itu sangat kuat skali, scara dia prgi blanja lama n sampai menyelami daftar belanjaannya, brarti dia hampir beli semua belanjaannya dong, brarti dia lama di luar dong, brarti dia banyak ketemu orang dong. Bayangin aja, aku kluar bli nasi goreng depan rumah aja minimal sudah ktmua sama 5 orang, ini Yuri minimal harusnya ktmu 100 orang, trlpas mrka knal gak ama Yuri, tapi paling gak pedagangnya kenal lah, atau dari 100 orang pasti ada lah 1 orang yang ingatannya cukup baik klo Yuri pas saat kjadian brada di tempat lain. Pasti ada dong yang bisa bersaksi buat Yuri.^^
      Yah, tapi klo itu trjadi pasti posisi Sica sih yang jadi sulit.
      Oh iya, pembunuhnya LSM kali tuh. XD (Blum rela gak ada LSM di chaptr ini).XD

      • haha kasihan Sooman dong XD sepertinya bisa jd pemeran antagonis sejati wkwkwk 😛
        hmm ya, itu kalau mereka pd kenal dan ingat Yuri, kalau gak kan kadang ada jg orng lain yg mirip Yuri.
        Yuri jg sengaja menutup-nutupi sesuatu sih (Sica) jdnya makin dicurigai
        apalagi penyelidikan jaman dulu gak secanggih skrng

      • Nah, itu dia, makin ditutup-tutupin harusnya polisi/detektif/penyelidik/whateverlah makin bersemangat untuk mengorek2 ktrangan dari Yuri, bukannya langsung dibunuh. Hmm, justru klo mnurut aku itu pnlitian kasus brdasarkan saksi mata gak canggih kok, malah dasar n konvensional bangt yang harus dilakukan oleh seorang penyelidik. Buktinya aku mikir gini gara2 kbanyakan baca novel A***** C******* trlalu banyak (yang notabene novel2 tahun 1900-an awal).
        Maaf ya thor, skali2 mau jadi reader reseh.XD
        Oh iya, aku recommended banget loh buku2 AC-nya. Banyak ending-nya yang sama-sekali tak terduga. Malah karna trlaulu banyak baca novel-nya si AC tuh, aku suka jadi parno sndiri, kayak pas Yuri nglihat Sica di tempat eksekusi aja aku mikir, “Wah ini Sica gak nolong, malah tiba2 muncul, jangan2 dia memang plakunya nih.” XD

      • wkwkwk tp km memang ada benernya jg XD
        gak gitu demen sih baca novel kasus (pdhal kadang main game kasus, aneh)
        ya sdh, anggap saja mimpi, jdnya aneh *author pemaksa, plak

      • HaHA reader-nya reseh, author-nya pemaksa. XD
        Iya sih, namanya juga mimpi, knapa ditanggapin serius pula ya? Maklum chapter ini feel-nya dapat banget n menggugah keinginan untuk comment-nya sih. Lagian ada yang mengganjal juga, jadi gak enak klo gak ditanyain. Apalagi aku masih gak rela ama nasib Yul yang tragis bangt. >.< Yasudahlah, prdbatan gak pnting ini kita akhiri saja.^^
        Ini sebagai bentuk permintaan maaf dari saya: http://files.indowebster.com/download/files/gg_g_p
        Seperti biasa, kadang suka muncul 404 Not Found karna baru aja diupload file-nya, klo sudah bgitu direload aja, nanti juga bisa kok di-download.^^

      • bkn hanya Yuri yg tragis
        wah lg gak bisa download (sekalipun indowebster)
        internetnya lemot bgt
        emang itu tentang apa?

      • Itu album full kedua Jepang mrka Girls & Peace. Sbnarnya sih official release-nya baru besok, tapi biasalah sudah brtbaran aja pas H-1 kayak gini. XD
        Bit rate-nya 320 kbps (suaranya jernih banget, kayaknya sih nge-rip dari CD aslinya). 83 MB aja.
        Yah mang bukan cuma Yuri aja yang nasibnya tragis, tapi kayaknya yang paling tragis sejauh ini ya dia klo mnurut aku. Yang lain at least tidak mati karena menanggung dosa orang lain kan. Hyo n Sica di mimpi Sica juga tragis sih, menanggung kesalahan yang tak mereka lakukan n disiksa juga, but setidaknya mereka belum end, masih ada harapan-nya lah. Berdoa semoga nasib duo maknae tidak setragis para unnie-nya.^^

      • ow gitu, makasih buat download linknya, nanti kalau udh gak lemot ku download 🙂
        itu Soo jg mati di mimpi Hyo lho, tp mgkin benar jg katamu
        menurutku masing2 punya moment dramatisnya tersendiri^^

      • Oh iya juga, tapi kan Soo matinya sekejap, gak tersiksa tercekik gitu. Mayatnya juga gak ‘dimanfaatkan’ kayak Yul, n yang trpnting matinya bukan karna naggung dosa orang lain. Pokoknya Yul yang paling tragic deh (reader terbawa suasana). lagian di chapter HyoSoo itu kan tidak ditulis klo Soo sudah mati, siapa aja dia terbawa arus, trus ditolong ama orang baik hati, kayak di crita2 petualangan klise gitu (makin ngeyel, skalian aja abis ditolong trus sadar, tahunya hilang ingatan).XD

      • Tp Soo jg sempet dipanah
        ya sudahlah, yg penting terbawa suasana saja sdh bagus
        wkwkwk benar2 dah kayak petualangan klasik itu XD

      • Lebih klasik lagi, abis Soo hilang ingatan, dia brusaha mencari jati dirinya, ditmani ama orang yang nolongin dia (yangtrnyata suka ama dia). Trus pas ingatan Soo balik, dia tinggalin orang itu buat nyari Hyo, n orang itu jadi sakit hati n pengen bunuh Hyo, dst dst dst (klo ditrusin bisa semakin gak karuan comment saya). Klasik abis ya.XD

      • wkwkwk tp kadang yg klasik bagus jg XD

  11. Annyeong,,,,,,,,,
    Hhuu,smua mimpi bner” mngerikan ,belum tau duo maknae,,’.’

    Tpi,hnya mimpi Yuri yng berbeda,,d mimpinya mlah dia sendiri yng berkorban,,,hhee jdi bner” ksian,akhirnya d eksekusi lagi,,,,><

    Hhaaa penasran sma mimpi duo maknae,,bgimna,,,
    D tnggu NEXT Chapnya,,,,,
    SEMANGAAAAT

  12. wiiihhh so sweettttt… apalagi yang soosun.
    kali ini feelnya kerasa banget unnn….!!!! 😀
    ditunggu kelanjutannya!

  13. aku paling suka soosonnya thor. dapet bgt feelnya soalnya 😀

    gak sabar nunggu partnya maknaes ^^

    btw thor entar jangan lupa follback ya thor 😀 . gomawo

  14. Bingung mau komen apa. Soosun kalian yg biasa’a bertengkar, tapi dchap ini kalian akur. Soo kau seperti pahlawan 😀
    Lanjut thor

  15. Kimtaeyeoung said:

    Mimpi2 yul ma soo galau ya..sedih abiis tapi keren pengorbanan merekanya..

  16. Itu semua mimpi yang luar biasa, yul cinta parah ya ke sica. Wkwkw
    soosun romantis banget..!!!

  17. Miss New New said:

    Bagian mimpi Yuri: sempat terpikir, gila ya, gimana pikiran terakhir orang yg akan di gantung?

    Bagian soosun:
    aaaah soosun!
    *joget2 dulu sebelum baca, pemanasan gitu biar gak kram
    **ngawur aja deh
    rasanya dah lamaaaaaa banget gak baca soosun di wp ini *mengalau
    Kangeeeeen
    Biarpun ceritanya sedih, ini kan cuma mimpi hehe sunny selamat karena soo yg perkasa
    Cheers!

    • haha gak gitu tahu aku
      wkwkwk memangnya mau olahraga 😀
      jgn lupakan ff we were meant to be together, itu kan SooSun 😛 (walau dah lama gak update)
      sebetulnya Sunny yg lbh perkasa karena gak takut ular wkwkwk, Soo cuma terdesak dan ngikutin insting 🙂

      • Miss New New said:

        uehehehhe (n_n)>
        Iya ya ada ff yg entu
        Kok bisa lupa xP
        *hayoo salah siapa?
        Author : ngajak ribut (-_-)

        Untunglah setidaknya kaki Soo yg jenjang gak letoy gendong sunny ke sana ke mari
        *dismack down soo young

      • kalau dlm mimpi sih gendong orang pasti berasanya ringan bgt *pengalaman pribadi 😛
        haha main smack down sm Sooyoung ya XD

  18. Yey! Bonus update cepat karena kemarin updatenya lama yaa unnie *hehe
    ini yg aku tunggu2 yulsic. Yey!
    uuuu T.T aku kira sica bakalan lari terus gantiin yuri, eh tapi yuri yg berkorban demi sica.
    Bagus banget unnie author!! Fighting^^

  19. wah keren rela berkorban dan berjuang demi yang dicintaa…
    enelan deh keyen banget.. 🙂

  20. Yeoun12_jean said:

    wahhh… part yulsic bener2 nyentuhh… suka banget dehh, apalagi pairingnya yulsic..
    sweet.. sweet..
    soosun juga bagus banget… benar2 feelnya dapet..
    paling keren pas moment sooyoung keluarin bisa dari kakinya sunny..
    awww…
    chap kali ni bagus banget, ceritanya ringan, feelnya lebih dapet,,
    apalagi bcanya smbil dengar lagu.. hmnnn sarannya author memang jitu..

    ok author fighting.. ditunggu yahh chap selanjutnya 🙂

  21. buset dah…YulSic dibikin jd pembantu *dikasi yg kerenan dikit napa thor :P*
    akhirnya yul bakalan balik cinta sama sica lg 🙂

    itu si sunkyu sok berani amat sih jadi kegigit tuh T_T
    tp untung yg partnya SooSun gak ada yg mati walaupun tetep aja sedih pas soo ngegendong sunny kirain sunny gak bakalan selamat…

    ditunggu yg duo maknae-nya hehe

  22. blackpearljess^^ said:

    Yulsic forever^^

  23. Ya Tuhan itu yg soosun!! Gue udh takut aja sunny gak berhasil diselamatkan T.T ampe berkaca2 nih mata baca yg bagian soosun. Tegang gue sumpah, dapet banget feel-nya!! Pokoknya keren banget deh, thor!! Semangat, ya~ mudah2an bisa cepet2 update biar gak penasaran, abisnya, seru banget sih~ hehehe 😀

  24. curaaaang kok cuma sooyoung yg happy end?? yul kasiaaaaaaan huaaa #nangiskejer #plak iya iya tau cuma mimpi, tapi kalo mimpi kayak yul itu rasanya…

    oh? akhirnya punya twitter? yippppiie 😀

    • semua harus bervariasi mimpinya, lagian kalau gak gini, kalimat Soo pasti jd beda 😀
      ya, kalau mimpi kayak Yuri pasti rasanya sgt menyakitkan…

  25. di antara 7 cerita personal yg paling nyentuh kyknya cuma 2 ini . wkwkwk , aku kan yulsic shipp jd maklum . wkwkwk , di tgg nex chap ^^

  26. tinsunshipper said:

    yulsic kren..
    yul rela nglindungin sica smpe mati.. co cwiiiit..

    soosun.. prjuangan soo kren bgt daaah.. wlopun gi keadaan gnting..ttp ja da konyol’a..soo smpt2’a mlakukan pngakuan dosa yg aneh.. n sunny..kya’a ni bocah paling pmbrani dah di soshi..

  27. wah thor,aku terharu ma soosun moment nih…
    bener2 bikin deg2an bacanya tadi…
    hehehe… nice chapter thor, asap yah. hehehe Ganbatte…!!!!!!!

  28. Miss New New said:

    thor…thor
    *tarik2 ujung rok author

    Kapaaaaaan?
    Kapaaaaaaaan?
    Katanya mau ada sesuatu..?
    ]:->

  29. KyuNa Yoonhyun TaeNy Lope Lope said:

    Nyesek !__! Jleb… Menyakitkan itu pas bagian mimpix Yuri dy terpisah dr jessica karena hrs melindungi jessica 😦
    Ah si sunny sok berani bgt mw nangani ular akhirx y dipatok jg :p
    Sweet soosun 🙂

  30. Takuma's Taku n Kuma said:

    yaahhh. . .kog yul unni mati di gantung,ditembakkan lebih keren XD (reader ababil)

    wuiih soosunnya keren banget.
    Susahsweet susahsweet deh buat S2 couple XD

    # salam reader aneh si lumba-lumba

  31. Eh, nama kakak Minako Monika ? Nama asli nggak tuh kak ? :p penasaran 😀
    Buat chapter yang ini nggak kalah keren sama yang kemaren. Daebak! Nggak sabar baca chap selanjutnya, soalnya ada unnie 2 maknae 😀
    Aku datangggggg !!! 😀

    Oh iya, suka banget sama SooSun moment disini :* so sweet 😀

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: