~Thank you for your comments~

A/N : Terima kasih buat para reader yang sudah mau menunggu updatean ff ini dengan sabar^^ *merasa sedikit nggak enak karena sudah hampir sebulan sejak ff ini update (tapi chapter depan gak bakal selama ini kok =3 )
harus diakui selain sibuk dengan magang(berangkat siang pulang sudah malam, jadi menulis ff ini bisa sampai jam satu malam *curhat >_< ), terkadang author juga kekeringan ide
author harap saja semoga penantiannya tidak mengecewakan
enjoy~ 😀

Tiffany

Member SNSD pergi ke villa privat selama tiga hari untuk pengambilan gambar.
Walau ini adalah pekerjaan, tapi mereka merasa senang karena seperti sedang liburan keluarga.
Serasa seperti di surga. Suasananya sangat santai. Bahkan mereka memiliki waktu bebas yang banyak. Selain itu mereka juga bertemu dengan Kwon Boa disana.
Sore itu mereka bersenda gurau di tepi pantai. Menikmati suasana senja sambil berlari-larian di pasir putih. Membiarkan deburan ombak menyapu bulir-bulir pasir di bawah kaki mereka. Aroma asin laut tercium di udara bersama angin yang menerbangkan anak-anak rambut mereka.
Ekspresi-ekspresi senang alami mereka akan diabadikan dengan kamera oleh juru kamera.
Tapi Tiffany melihat Seohyun tidak terlalu aktif. Entah kenapa sudah dua hari ini dia begitu.
“Hyunnie, akhir-akhir ini wajahmu terlihat pucat. Kamu nggak apa-apa?” tanya Tiffany merasa sedikit cemas.
“Ne unnie, aku cuma kurang istirahat saja kok.”
“Sungguh?”
“Sungguh,” Seohyun tersenyum untuk menghilangkan kecemasan di hati Tiffany.
Dan ternyata bukan hanya Seohyun, Sunny yang merupakan pil energi dalam grup mereka terlihat tidak bersemangat sama sekali.
“Sunny ah, akhir-akhir ini kamu terlihat lesu. Ada apa?” (Jessica)
“Ya, rasanya aneh melihat Sunny begitu.” (Hyoyeon)
“………………..”
“Ceritalah, kalau ada apa-apa kamu selalu bisa cerita-cerita sama kami, kita kan teman.” (Tiffany)
Sunny menggeleng, “Bukannya aku nggak mau cerita, aku hanya ragu saja apakah yang kualami ini benar atau tidak.”
“Memang ada apa sih, unnie?” (Yoona)
“Kalian… percaya ada hantu nggak?”
“Hantu?” (Taeyeon)
“Yahh, selama ini kita sudah pernah melakukan acara variety show yang berhubungan dengan hantu sih… jadinya kita sih percaya saja.” (Yuri)
“Tapi apa hubungannya?” (Sooyoung)
“Entahlah… sudah dua hari ini aku merasa capek… sangat capek… dan pada malam hari, saat aku terbangun… mungkin aku berhalusinasi… tapi aku…”
“Tapi apa? Kamu melihat hantu?” (Sooyoung)
“Ssstt Sooyoung, jangan dipotong dulu. Lanjutkan Sunny.” (Hyoyeon)
“Aku… melihat ada roh di atas tubuhku.”
Mereka semua terkejut. Jessica dan Tiffany sudah ketakutan dari tadi.
“!”
“Roh itu bentuknya seperti seorang gadis berambut panjang, tubuhnya transparan. Aku… aku tidak bisa bergerak. Jadi aku bingung apakah itu mimpi atau kenyataan…”
“Hmm…” Taeyeon tampak seperti sedang berpikir. “Apa kamu melihat wajahnya?”
“Aniyo, sebagian wajahnya tertutup sama rambut.”
“Seberapa panjang rambutnya?”
“Ngg, seingatku kira-kira sebatas dada,” Sunny menunjukkan panjangnya dengan tangan di depan dadanya.
Kalau begitu sudah jelas bukan Taeyeon, karena baru-baru ini rambutnya dipotong sehingga tidak mencapai kriteria yang dikatakan Sunny.
“Bagaimana dengan warna rambutnya?” (Taeyeon)
“Aku tidak tahu, kan sudah kubilang tadi tubuhnya transparan, jadi aku tidak tahu warna rambutnya…” (Sunny)
“Hyoyeon chukae! Kalau Sunny bilang rambutnya berwarna pirang, sudah pasti kamu yang kena!” canda Sooyoung yang kemudian mendapat pukulan ringan di lengannya.
Taeyeon melihat mulai dari Jessica, Hyoyeon, Yuri, Sooyoung, dan Seohyun.
“Salah satu dari kalian tidak sedang mempermainkan Sunny kan?”
“Mwo? Taeng, kamu tidak menanyakan itu ke Tiffany juga?” tanya Jessica tidak terima.
“Yang paling mencurigakan itu justru dua makhluk ini,” kata Hyoyeon sambil melirik ke Yuri dan Sooyoung.
“Yah! Kenapa jadi kita?!” protes mereka berdua.
“Habis kalian suka banget usil.” (Hyoyeon)
“Mencari kambing putih saja!” (Sooyoung)
“Hitam kali maksudmu.” (Yuri)
“Iya, kekeke,” tawa Sooyoung.
“Mianhae teman-teman, mungkin aku memang hanya terlalu capek saja…” (Sunny)
“AH!” (Yoona)
“Apa sih Yoona, tiba-tiba kamu berteriak keras sekali.” (Yuri)
“Mengenai hantu yang dikatakan Sunny unnie, sebenarnya pada malam kedua aku juga melihatnya!”
“APA?!”
Mereka semua menjadi tertarik mendengar cerita Yoona.
“Pas tengah malam tiba-tiba aku terbangun. Lalu aku melihat sesuatu yang transparan seperti roh di atas tubuh Sunny unnie. Aku kaget dan menjerit keras-keras tapi tidak ada yang terbangun.”
“Apa?” (Yuri)
“Aku tidak percaya… masa tidak ada yang bangun sama sekali setelah mendengar suaramu?” (Hyoyeon)
“Kamu benar-benar teriak?” (Sooyoung)
“Ne! Aku nggak bohong unnie!”
“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” (Taeyeon)
“Setelah aku menjerit, rohnya menghilang dari atas tubuh Sunny unnie. Tapi kalian masih tetap tidak terbangun, jadi aku takut sekali.”
“Jangan-jangan benar hantu…” (Yuri)
Suasana menjadi hening. Mereka mulai dicekam rasa takut, lalu Taeyeon bertepuk tangan sekali.
“Oke! Aku punya ide bagus, semuanya dengarkan! Untuk jaga-jaga kalau rohnya muncul lagi, gimana kalau malam ini kita berjaga?”
Mata Tiffany melebar, “Kita mau menghadapi rohnya?!”
“Masalah tidak akan tuntas kalau tidak dibasmi sampai ke akar-akarnya. Kalau dibiarkan terus kasihan Sunny. Lagian kita punya jimat pedang ini, kita bisa membasmi rohnya dengan ini,” Taeyeon menunjukkan jimat pedang kayu milik villa ini.
“Bukannya itu cuma sebuah pedang?” (Hyoyeon)
“Katanya ini pedang yang sudah disucikan, jadi bisa buat mengusir roh.” (Taeyeon)
“Hiiiiii!! Tidak mau! Aku tidak mau! Lebih baik aku tidur di ruangan lain saja!” pekik Jessica ketakutan membayangkan akan bertemu hantu sungguhan.
“Jangan, lebih baik kita bersama-sama saja supaya aman.” (Yuri)
“Benar kata Yuri,” kata Tiffany walau sebenarnya dia takut juga. Tapi dia tidak bisa membiarkan salah satu membernya kesusahan seperti ini. Kalau ada salah satu member yang butuh bantuan, mereka semua akan bekerja sama untuk membantunya, itulah Soshi Bond.
“Nggak ah! Aku takut Fany ah! Kamu kan tahu aku paling tidak bisa menangani hal-hal mistik seperti ini.”
“Aku juga takut Sica, kalau gitu Sica tidur lebih cepat saja dan nggak usah ikut jaga.” (Tiffany)
“Oke, tapi kalian jangan pergi kemana-mana ya?” mohon Jessica.
“Iya unnie, kita semua ada disini kok.” (Seohyun)
“Aku mana sanggup bergadang.” (Hyoyeon)
“Aku juga.” (Sooyoung)
“Kita bisa bergantian berjaga.” (Taeyeon)

**

Tengah malam, saat jam menunjukkan pukul dua tepat, Sooyoung dan Yoona membangunkan Taeyeon dan Tiffany. Kali ini adalah gilirannya mereka berjaga. Tadi mereka sudah memutuskan, bahwa giliran jaga berikutnya setelah mereka adalah Hyoyeon dan Yuri.
Dengan terkantuk-kantuk mereka terbangun. Tiffany merasa heran, kenapa waktu rasanya berjalan begitu cepat?
Setelah itu Sooyoung dan Yoona langsung masuk ke balik selimutnya dan terlelap dalam beberapa menit.
Mata Tiffany dengan segera membiasakan diri dalam gelap. Ruangan tidak sepenuhnya gelap gulita, karena di luar sinar bulan menerangi jendela yang tertutup tirai berwarna kuning muda. Sebagian sinarnya menyelinap melalui pori-pori kain tirai, menyisakan cahaya remang-remang.
Taeyeon dan Tiffany berjaga dalam posisi duduk sambil bersandar di tembok. Mereka sama sekali tidak berbicara apa-apa, supaya tidak mengganggu yang lain.
…………………………………….
Setengah jam berlalu.
Tiffany merasa ngantuk. Kelopak matanya dari tadi ingin menutup. Tapi dia tidak boleh tidur. Tiffany menguatkan dirinya. Dia mencubit tangannya sendiri untuk mengusir rasa kantuknya.
Dilihatnya Taeyeon dari tadi tetap tak bergeming. Tapi matanya tetap terbuka. Ragu-ragu dia bertanya.
“Taeyeon?”
Tidak ada jawaban.
Tiffany mendekat ke tubuhnya. Dia dapat mendengar tarikan nafas Taeyeon lambat, seperti sedang tidur. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya untuk membuktikan kecurigaannya.
Dan Taeyeon tetap tidak merespon.
Astaga! Lagi-lagi Taeyeon tidur dengan mata terbuka?!
Tapi dia merasa tidak enak membangunkan Taeyeon.
Tiffany mendengar suara dari luar. Saat itu entah kenapa di kepalanya tidak terlintas rasa takut sedikit pun. Karena penasaran dia berjalan ke arah pintu, membuka, keluar, dan menutup pintunya dengan pelan. Lalu mulai menelusuri lorong. Di ujung lorong dia bertemu dengan Boa.
“Unnie belum tidur?” tanya Tiffany penasaran.
“Ne, aku merasakan ada sesuatu.”
“Sesuatu?”
Tanpa menjawab pertanyaan Tiffany, Boa berjalan pergi. Tiffany mengikutinya sampai berada di depan kamar mereka. Tadi Tiffany baru saja keluar dari sana dan dia tidak merasakan apa-apa, tapi sekarang dia merasakan udara di sekitarnya terasa berat. Dia merasakan suatu kehadiran di dalam ruangan ini. Jadi terasa lebih dingin. Tiffany tidak tahu apakah itu akibat dari suhu ruangan atau gejala alam, tapi rasa dingin itu cukup membuatnya merinding.
Rasa dingin itu lambat laun seperti merampas kehangatan dan energi yang ada di dalam tubuhnya.
Apakah ini penyebab Sunny dan Seohyun merasa lemas?
Tapi kalau begitu, kenapa tidak ada satu member pun yang bangun?
Boa memegang kenop pintu dan membukanya seolah-olah dia tidak merasakan apa-apa.
“Sekarang…” mata Boa menyipit tajam.
Walau sikap Boa terlihat seperti tidak ada apa-apa, tapi dari nada suaranya jelas-jelas dia menyadari ada sesuatu yang salah.
Berada di dalam ruangan, kekuatan itu jadi makin berasa. Pikiran Tiffany mendadak jadi kosong. Seolah kalau dia membiarkan dirinya tertelan kekuatan itu, dia akan tertidur nyenyak sampai fajar menyingsing.
“A-apa ini…!”
Di dalam ruangan, ada sesuatu yang berpendar dalam kegelapan berwarna transparan.
Mendadak Tiffany teringat.
“Hantu gadis berambut panjang,” ucapnya tidak percaya.
Sekarang keberadaannya telah terbuktikan, Tiffany menjadi takut. Jantungnya berdebar lebih cepat.
Dan lokasi hantu itu tepat berada di atas…
“!”
“Sunny!”
Tepat seperti yang dikatakan oleh Sunny dan Yoona. Hantu itu berpijar dalam kegelapan dan berwarna transparan. Juga rambut panjangnya menutupi wajahnya.
“Me-menjauh dari Sunny!” teriak Tiffany tanpa berani mendekati hantu itu.
“…………………” hantu itu tidak mempedulikannya.
“Hmm, begitu, jadi begitu ya… hantu itu menghisap energi dari gadis itu…” gumam Boa pada dirinya sendiri, tapi Tiffany mendengarnya.
“Tiffany, sayang sekali, tapi pelakunya ada di antara kalian.”
“Eh?”
“Mungkin dia melakukannya secara tidak sadar. Jika kubilang contohnya seperti tidur sambil berjalan yang dilakukan secara tidak sadar, kamu akan lebih mudah untuk mengerti kan?”
Boa menatap dengan dingin salah satu di antara member-member yang sedang tertidur. Tiffany mengikuti arah pandangnya dan tatapannya bertemu dengan…
“Mustahil!”
Matanya tertuju pada wajah pucat Seohyun.
Melihat ke Seohyun sekarang, dia hanya seperti raga yang kehilangan jiwanya.
Tiffany kembali berpaling ke hantu itu, “Benarkah itu kamu Hyunnie?!”
“………………..”
Hantu itu tidak menjawab.
Tiffany tidak punya teknik untuk mengetahui apakah itu benar Seohyun atau bukan. Tapi perasaannya mengatakan iya.
“Nah sekarang.”
Boa mempersiakan dirinya.
Sejak kapan di tangannya terdapat sebilah pedang? Ataukah aku yang tidak menyadarinya?
“Apa yang akan Boa unnie lakukan?!”
“Sudah jelas kan? Aku akan memusnahkan rohnya.”
“Apa?!”
“Aku spesialis dalam menangani roh. Untuk itulah aku datang kemari.”
“Tunggu! Setelah mengetahui kalau itu adalah Seohyun, apa unnie masih akan tetap memotongnya?!”
“Lalu apa kamu tidak mau melakukannya setelah tahu bahwa hantu itu adalah salah satu membermu?”
Boa balik bertanya padanya.
“Dia sudah menjadi hantu yang merugikan orang lain. Tenang, biar kuurus masalah ini, kamu diam saja dan lihat.”
Tapi kalau roh Hyunnie dipotong-
Tiffany tidak bisa membayangkannya. Tiffany tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Ah, nggak usah khawatir. Aku hanya akan memotong jiwanya. Aku tidak akan meninggalkan satu goresan sedikit pun pada raganya.”
Boa berkata dengan tenang, tapi Tiffany sama sekali tidak merasa tenang.
“Ah, mianhae, aku bohong. Kalau aku melukai jiwanya, raganya juga akan ikut terluka.”
“Begitulah, jadi kamu diam saja dan nonton disana. Tubuhnya akan hancur dan jatuh ke dalam koma untuk alasan yang tidak diketahui. Tapi manajermu mungkin akan sedikit kesusahan karena dia bertanggung jawab terhadap semua member. Tapi sudahlah, relakan saja, dia tidak akan sampai mati kok.”
Tiffany terkejut mendengar kata-katanya yang terdengar tidak berperasaan.
“Boa unnie!”
Jika roh Hyunnie akan dipotong, aku…
Boa memegang gagang pedang dan berjalan menuju roh Seohyun. Dia mengucapkan mantra yang tidak Tiffany mengerti.
Dia mengangkat pedangnya, “Berikan aku kekuatan untuk memusnahkan roh ini!”
“Boa unnieeeeeee!!!”
Tidak tahu mendapat keberanian darimana, dengan menggunakan jimat pedang sebagai perisai, Tiffany melompat ke depan Boa.
Trak!
Tiffany memekik kecil saat ujung besi dan ujung pedang kayu berbenturan.
Tepat sebelum pedang mereka saling menghantam, Tiffany melihat pedang yang digunakan Boa adalah pedang sungguhan. Tubuh Tiffany membeku, dia sempat mengira pedang kayunya akan terpotong dan mata pedangnya akan menebas kulitnya. Tapi untungnya, mata pedang itu hanya tertanam beberapa milimeter pada pedang kayu itu.
“Fuhh…” Boa menghembuskan nafas panjang dan menyarungkan kembali pedangnya. “Tiba-tiba melompat ke depan seperti itu! Bahaya tahu!”
“Tiba-tiba bermaksud memotong salah satu memberku, siapa yang berbahaya disini?!” balas Tiffany sama marahnya. Di depannya, Tiffany sama sekali tidak berniat menunjukkan kelemahannya.
Boa menghela nafas sekali lagi, “Jika kamu akan mengganggu, apa boleh buat,” matanya berubah setajam silet. “Aku akan membuatmu menyingkir meski harus menggunakan kekerasan.”
Tiffany menyadari keseriusan dalam nada suara Boa. Tiffany menggenggam erat-erat pedang kayunya. Tiffany tidak bermaksud menyingkir.
“Apa kamu serius?”
Tiffany mendengar ancaman dalam suaranya. Tiffany menelan ludah, tangannya yang memegang pedang kayu mulai berkeringat dingin.
Tiba-tiba tanpa peringatan Boa melucuti pedang kayu Tiffany. Pedang kayu itu terpental ke udara. Memantul di langit-langit dan menuju ke arah Sunny yang tertidur.
“Sunny!”
Tiffany cepat-cepat menangkap pedang kayu itu sebelum membentur kepala gadis yang sedang tertidur itu. Saat Tiffany sedang sibuk melindungi Sunny, Boa melewatinya.
Hunus. Tebas. Sarungkan kembali.
Tiffany hanya bisa melihat saat Boa melakukan tiga tindakan itu dalam sekejap mata.
“Aaaahhhhhhhhhhhhh!”
Roh itu berteriak kesakitan.
Mendadak Tiffany merasa bulu kuduknya berdiri.
Kemudian lolongan roh itu terdengar semakin kecil. Lalu tubuh Seohyun tersentak dalam tidurnya.
“Hyunnie…? Hyunnie?!”
Tepat setelah dia selesai, Boa tidak berkomentar apa-apa. Dia berjalan pergi, menepuk pundak Tiffany ketika berpapasan dengannya. Tubuh Tiffany terasa lemas, dia merosot ke lantai.
Kemudian dia menyeret dirinya ke dekat Seohyun. Tiffany memeluk tubuhnya. Tubuhnya terasa hangat dan lembut. Tapi itu tidak membuat hatinya tenang.
“Yah Hyunnie…”
Ketika Tiffany mengangkat bagian atas tubuhnya kepalanya terkulai lemas. Bibirnya menyentuh lehernya.
“Apa dia masih bernafas…?”
Tiffany dapat merasakan nafasnya di lehernya. Hembusannya pelan dan sangat tenang.
“Syukurlah… Hyunnie masih hidup…”
“Tapi dia tidak akan bangun untuk yang kedua kalinya.”
“Boa unnie… bohong kan…?”
“Anak itu nggak akan bangun. Sebab jiwanya yang telah meninggalkan tubuhnya terpotong, jadi tidak akan pernah bisa kembali lagi.”
“Hahh…!”
Tiffany mendadak merasa sukar bernafas. Dia bisa menarik nafas tapi tidak bisa menghembuskannya keluar. Dadanya seperti baru saja dipukul keras.
“Hahh…! Hahh…! Hahh…!”
Jari-jarinya mati rasa. Bibirnya gemetar. Tangannya yang memeluk tubuh Seohyun terasa lemas.
Walaupun tubuhnya sehangat ini… tapi Boa unnie bilang Hyunnie tidak berada disini lagi…
“!”
Tiffany ingin berteriak pada Boa. Tapi di saat seperti ini, dia tidak bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkannya.
Pipinya terasa kaku. Dia tidak bisa membuka mulutnya. Dunia yang terpantulkan di kedua matanya mendadak jadi kabur.
“Ini bukan keinginanku. Kamu bisa membenciku semaumu.”
Pintu bergeser terbuka, Boa keluar dari ruangan. Hawa dingin yang menidurkan semua member di dalam ruangan sudah musnah.
“Hyunnie… Hyunnie…”
Kekaburan pada matanya membentuk satu tetesan air. Menetes di tangannya.
“HYUNNIEEEEEEEEE!!!”
Yoona terbangun dan menguap.
“Fany unnie berisik sekali… ada apa dengan Hyunnie?” tanyanya sambil menggosok matanya.
Kemudian Tiffany baru sadar. Sejak kapan diluar sudah terang?
“Yah Hyunnie, sudah pagi…” panggilnya kepada gadis dalam pelukannya.
“Fany unnie?” Yoona tampak terheran-heran melihat Tiffany menangis sambil masih memeluk Seohyun.
“Hyunnie… kenapa hal semacam ini harus terjadi…” bisiknya dengan penuh kesedihan.
“Fany unnie, kenapa dengan Hyunnie?!”
Semua member mulai terbangun mendengar suara ribut-ribut.
“Ada apa sih? Pagi-pagi sudah berisik…” keluh Yuri.
“Nggh, Fany ah… aku masih mau tidur nih…” omel Jessica.
Semua member mengerang, menyuarakan ketidakpuasan mereka.
“Hahh…!”
Bahu Tiffany berguncang dengan sangat hebat, air matanya bertumpahan.
“Hyunnie… Hyunnie adalah hantunya… dan kemudian…”
Nafasnya tersendat-sendat akibat isak tangisnya.
“Boa unnie memotong roh Hyunnie…”

**

Dan kemudian pagi tiba.
Satu sisi langit berwarna putih dipenuhi awan. Langit biru meluas dan menarik tirai malam.
Tapi hanya karena pagi tiba, tidak berarti semua orang akan terbangun…
Hanya karena dunia diterangi oleh cahaya… tidak berarti hati semua orang akan menjadi terang…
Seohyun masih belum juga bangun, dan Tiffany merasa dirinya sedang berada dalam mimpi yang sangat buruk.
“Tidak ada luka luar. Nafas dan denyut nadinya stabil. Dia hanya terus tertidur,” kata dokter yang memeriksanya.
“Boa unnie… Boa unnie memotong jiwa Hyunnie…” Tiffany ingin berusaha mengatakannya dengan lebih tenang, tapi dia tidak bisa. “Kemudian tubuhnya tersentak dan… berakhirlah sudah…”
Air mata kembali menetes melalui pelupuk matanya. Semua member juga menangis tersedu-sedu.
“Jadi Seohyun adalah hantunya…” desah Hyoyeon pahit.
“Tidak bisa kupercaya… jika saja aku bisa memberikan Hyunnie energi…” kata Sunny di sela-sela tangisnya.
“Aku juga! Padahal aku punya begitu banyak energi tak terpakai! Jika saja Hyunnie mengambilnya dariku, aku tidak akan menyadarinya! Dan roh Hyunnie tidak akan perlu dipotong!” teriak Tiffany dengan suara yang terdengar amat hancur.
“Ini gara-gara aku… sejak awal aku yang terpikirkan ide untuk memusnahkan hantu itu…” sesal Taeyeon. “Sejak pertama kali aku bertemu dengan Seohyun… dia adalah maknae yang baik. Dia tetap sabar walau terkadang kita mencuekinnya…”
“Hyunnie adalah member kita yang tak tergantikan…” tambah Yuri.
“Hyunnie… sekarang aku nggak akan bisa melihatnya tersenyum lagi…! Uh… huu huu…” Yoona berlari ke pelukan Yuri dan menangis di pundaknya.
Tangis member yang lain semakin menjadi-jadi setelah mendengar kata-kata Yoona.
“Kita tidak punya pilihan lain. Kita akan memindahkan Seohyun ke rumah sakit,” kata manajer oppa berusaha menghibur mereka sambil menyentuh pundak mereka.
“Walaupun… wajah Hyunnie terlihat sangat cantik sekarang…” Tiffany membelai pipi Seohyun yang lembut. “Dia tidak akan pernah tersenyum lagi…”
Tiffany mendekatkan wajahnya ke Seohyun yang tertidur, menempelkan kepalanya di pelipisnya dan memejamkan matanya.
“Saranghae… saranghae…”

**

“Hyunnie…”
Tiffany terbangun dengan air mata sudah membasahi bantalnya. Mimpinya terasa menyakitkan seolah begitu nyata.
Tiffany menebah dadanya yang masih terasa sakit.
_________________________________________________________________________________________

Hyoyeon

Di sebuah desa, tinggallah seorang putri kepala desa bersama dengan pelayannya yang setia bernama Choi Sooyoung.
Di desa itu sedang terjadi krisis makanan. Panen tidak membuahkan hasil. Ternak juga tidak begitu menguntungkan.
Demi melindungi desa dari kekurangan pangan, putri akan dikorbankan pada dewa pangan. Walau tidak rela, tapi terpaksa kepala desa tetap harus mengambil keputusan ini demi melindungi seluruh warga desa.
Sejak mendengar berita bahwa dirinya akan dikorbankan pada dewa, putri jadi seperti kehilangan selera humornya.
Hari ini juga seperti biasa putri hanya bisa berdiam diri di kamar. Tanpa ada apapun yang bisa dilakukan. Putri hanya bisa menunggu, menunggu detik-detik menjelang ritual yang akan merenggut kehidupannya.
Hanbok yang dikenakannya berkibar saat dia berjalan menuju jendela.
Putri menatap keluar jendela. Pemandangan yang sama. Suasana hati yang sama. Juga suasana sunyi yang sudah tidak terasa asing.
Dia menarik nafas dalam.
“Pelayan! Yah! Pelayan!”
Sembilan detik kemudian terdengar suara yang balas menyapanya.
“Putri memanggil?”
“Panggil aku putri Hyoyeon.”
Meskipun Hyoyeon sendiri yang memanggil, tapi kelihatannya dia tidak mau menggubrisnya kalau Sooyoung tidak memanggilnya sesuai permintaannya, akhirnya Sooyoung berkata dengan patuh.
“Putri Hyoyeon.”
“Choi Sooyoung.”
Hyoyeon berpaling menatap Sooyoung yang sedang bersimpuh di lantai.
“Hari ini juga tolong buat lawakan yang lucu.”
“Baik.”
Sooyoung sudah mempersiapkan dari semalam untuk ini.
“Kali ini aku akan bercerita cerita yang sangat panjang. Jadi putri yang sabar ya.”
Sooyoung menarik nafas. Memastikan sekali lagi dalam otaknya kalimat yang sudah dirangkainya tidak ada yang salah.
“Pada jaman dahulu kala,” Sooyoung memberi intonasi seperti akan mendongeng cerita panjang. “Ada seekor putri yang sangat cantik seperti aku. Selesai. Tidak ada lagi yang bisa diceritakan. Titik. Gak ada koma atau pun bersambung.”
Setelah dipikir-pikir, mengganti kata seorang dengan seekor akan terdengar lebih lucu. Begitu pemikiran Sooyoung.
“………………..”
“………………..”
“Kamu pikir itu lucu?”
“Tidak ya?”
Mereka saling berpandangan. Seperti dalam kontes saling melotot. Sampai sorotan matanya perlahan melunak. Dan mereka sama-sama tertawa terbahak-bahak.
“Ada-ada saja kamu Sooyoung! Masa pakai kata seekor? Kamu harus masuk sekolah dasar lagi, hahaha!”
Lelucon Sooyoung terdengar garing dan sangat memaksa, tapi justru itu yang menurut Hyoyeon malah tambah lucu.
Sooyoung merasa lega karena akhirnya dapat membuat Hyoyeon tertawa lagi. Tidak seperti dulu, belakangan ini Hyoyeon hampir tidak pernah tertawa.
Hyoyeon tertawa geli sampai air mata keluar dari pelupuk matanya.
“Lagian apa-apaan itu? Masa baru mau cerita sudah langsung selesai? Gak ada sambungannya pula. Aku memang nggak salah orang meminta kamu yang jadi penghiburku!” katanya sambil menyeka air matanya.
“Ah, putri sendiri juga sangat lucu kok.”
Setelah tawa mereka mereda, Hyoyeon mengganti topik.
“Sudah seminggu ini jatah makan setiap orang dibatasi, pasti berat buat kamu ya Sooyoung?”
“Ne…”
“Kamu tidak terkena sakit maag kan?”
“Tidak, putri Hyoyeon.”
“Untunglah… tapi tenang saja, setelah aku dikorbankan, kau, Umma, Appa, dan seluruh penduduk desa akan bisa makan sepuasnya. Bersabar saja ya sampai saat itu tiba.”
“Tidak lama lagi…” Hyoyeon kembali menatap keluar jendela. Menatap beberapa penduduk desa yang berlalu lalang. Mereka semua tampak kurang makan. “Tidak lama lagi desa ini akan terselamatkan dari krisis pangan…”
Sooyoung menunduk sedih. Setelah krisis makanan ini berlalu, dia akan bisa makan sepuasnya, tapi dia sama sekali tidak merasa senang.
“Aku sebenarnya tidak setuju dengan ritual pengorbanan ini… kenapa harus putri Hyoyeon? Kenapa bukan aku saja atau orang lain?”
“Aku tidak ingin bertukar tempat dengan siapa pun.”
“…………………”
“Aku sama sekali tidak keberatan. Selama aku bisa menolong semuanya, aku rela memberikan nyawaku.”
Keheningan sempat merasuk di dalam ruangan tempat mereka berada.
“Tapi itu menyakitkan…”
“Aku tahu…”
“Itu menyedihkan…”
“Aku tahu…”
“Akan ada orang yang sedih karena kehilangan putri Hyoyeon…”
“Ya, mereka lebih menderita daripada aku…”
“………………..”
“Aku sedih, tapi aku juga bahagia… karena ada seseorang yang begitu menyayangiku…”
Sooyoung mengangkat wajahnya. Berusaha menyelidiki ekspresi wajah Hyoyeon.
“Hanya mengerti itu saja sudah cukup… aku bahagia…”
“Putri Hyoyeon, apa itu isi hatimu?”
“Ya.”
“…………….usotsuki…” (pembohong)
“Apa?” Hyoyeon berkedip mendengar kata-kata yang tak terduga keluar dari mulut Sooyoung.
“Aku tahu bukan itu isi hatimu yang sebenarnya. Kenapa kamu tidak bilang ‘Aku tidak mau dikorbankan!’ atau ‘Selamatkan aku! Tolong bawa aku lari!’ “
Hyoyeon menggigit bibir. Kata-kata Sooyoung tepat mengenai di hatinya. Dadanya seperti diremas-remas. Rasanya teramat sakit.
“Setidaknya kamu tidak perlu berpura-pura kuat di depanku! Melihat kamu yang seperti ini hanya menyakitkan hatiku tahu!” kata Sooyoung sudah tidak peduli bahwa dia tidak memanggil Hyoyeon dengan sebutan ‘putri’ lagi.
Hyoyeon tersenyum pahit, tangannya meremas hanboknya. Sorot matanya begitu redup.
“Tapi… walau aku berteriak seperti itu… tetap tidak ada yang bisa dilakukan kan…”
“Uh…”
Sooyoung ingin menangis, tapi ditahannya sekuat tenaga.
Ya, tidak ada yang bisa dilakukan… kita tidak bisa melawan takdir… batin Hyoyeon sedih.

**

Pada hari yang telah ditentukan. Pagi-pagi sekali Hyoyeon diantar oleh Appa dan Ummanya dan beberapa penduduk desa menuju tugu batu di atas gunung.
Tiba saatnya untuk berpisah.
“Umma, Appa, terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena telah melahirkanku ke dunia ini. Kalau bisa terlahir sekali lagi aku ingin menjadi anak Umma dan Appa…”
“Hyoyeon…”
Hyoyeon melihat-lihat ke antara orang-orang yang mengantarnya pergi. Tidak ada Sooyoung. Sejak berangkat dia sama sekali tidak melihat batang hidungnya.
“Kemana Sooyoung?”
“Entahlah, sejak subuh tadi dia sudah menghilang entah kemana. Dia tidak memberitahu siapa pun.”
Padahal ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya… batin Hyoyeon.
Mendadak dia merasa menyesal kenapa tidak mengutarakannya kemarin ketika mereka masih punya kesempatan untuk bertemu.
Hyoyeon membalikkan badannya. Matanya tertuju pada satu titik di depan tugu batu.
Sepertinya ini adalah selamat tinggal…
Dia merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan Sooyoung untuk yang terakhir kalinya. Tapi begini mungkin lebih baik. Karena kalau bertemu malah akan muncul perasaan tidak rela dalam hatinya. Jadi lebih baik tidak usah bertemu sekalian saja.
Hyoyeon sudah bertekad tidak akan menunjukkan air matanya lagi. Dia akan menjadi gadis tegar.
Ya, aku melakukan ini demi semua orang. Juga Umma, Appa, dan…
Hyoyeon memantapkan hati lalu maju selangkah demi selangkah menuju tugu batu di depannya.
Sooyoung…
Nggak mau ketemu… nggak mau ketemu…
Tapi aku rindu Sooyoung…
Hyoyeon mengambil sebilah pisau yang telah disiapkan. Dia harus menumpahkan seluruh darahnya di atas tugu batu itu.
Bibirnya bergerak pelan saat Hyoyeon membawa pisau itu menuju urat nadinya.
“Saranghae… Sooyoungie…” bisiknya lirih.
“Baka!” (bodoh)
Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya yang hampir mengiris pergelangan tangannya.
Hyoyeon mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan mata Sooyoung.
Pisau yang digenggamnya tergelincir dari tangannya dan membentur tanah di bawahnya.
Hyoyeon tidak percaya melihat yeoja itu sekarang berdiri di sampingnya. Dengan tangan masih memegang tangannya.
Hyoyeon menjadi bertanya-tanya dalam batin. Apakah dia memang salah mengartikan atau apa, tapi kenapa tatapan mata Sooyoung seperti memancarkan kemarahan terpendam, dan juga… tekad yang membaja?
“Kata-kata seperti itu seharusnya kau katakan langsung di depan orangnya tahu!”
“Mau apa kamu?!” teriak salah seorang penduduk desa gusar.
“Gomen ne minna-san(maaf semuanya), aku bawa lari putri Hyoyeon.”
Sebelum para penduduk desa sempat bereaksi terhadap kata-katanya, Sooyoung sudah menarik tangan Hyoyeon dan mengambil langkah seribu. Para penduduk desa menjadi kalap.
“Dia lari membawa putri!”
“Kyaaaa ritualnya dirusak, dewa bisa murka pada kita!”
“Desa kita bisa musnah ditelan badai!”
“Kejar! Bawa kembali putri!”

**

Sooyoung berlari-lari tanpa melepaskan tangannya pada Hyoyeon.
“Kenapa kamu-“
“Aku memang bodoh, kalau mau menculikmu seharusnya aku melakukannya dari kemarin-kemarin!” Sooyoung mengutuki dirinya sendiri dalam batin. Kenapa dia begitu bodoh?
“Tadinya aku kabur karena tidak ingin melihat kamu dikorbankan. Lalu di tengah jalan aku baru sadar. Mengikuti hati nuraniku, cepat-cepat aku kembali mengejar kalian. Untunglah masih sempat!”
Dari belakang mereka terdengar teriakan kemarahan warga.
Hyoyeon tersandung batu, tangan mereka terlepas dan Hyoyeon terjatuh.
“Awww…”
“Hyoyeon!” Sooyoung berhenti berlari dan menghampirinya.
“Kamu tinggalkan saja aku Sooyoung…! Kalau sampai tertangkap…!” teriak Hyoyeon dengan nafas terengah. “Kamu tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padamu! Mereka sudah gila kalau menyangkut soal ritual!”
“Kalau begitu tidak ada artinya hal yang kulakukan sekarang! Aku sudah sampai sejauh ini demi kamu! Jangan kira aku akan berhenti di tengah jalan! Ayo!” Sooyoung menarik Hyoyeon berdiri.
Hyoyeon tidak lagi mempedulikan rasa sakit di lututnya. Mereka terus berlari, menembus semak-semak dan pepohonan. Mereka tidak memedulikan tubuh mereka yang lecet terkena ranting semak-semak. Pokoknya mereka terus berlari dan berlari hingga Sooyoung menyadari sesuatu di depan mereka.
“Berhenti Hyoyeon!”
Mereka mengerem tepat pada waktunya. Hampir saja mereka terjatuh. Di depan mereka adalah tebing. Mereka melihat ke bawah. Bagian dasar tebing itu gelap. Hampir seolah tak berujung. Kalau jatuh kesana pasti mati.
Dan mereka sudah tidak bisa memutar jalan, karena di belakang mereka terdapat warga yang sudah mengamuk. Tidak ada jalan lain.
“Kalian sudah terkepung.”
“Menyerahlah.”
“Jangan tambah membuat repot kami.”
“Kamu sudah merusak jalannya ritual. Segera hentikan usaha sia-siamu dan serahkan putri.”
Sooyoung menyembunyikan Hyoyeon di balik badannya yang tinggi. Melihat Sooyoung masih bersikeras, Umma Hyoyeon melangkah maju ke depan.
“Sudahlah Sooyoung, aku mengerti perasaanmu, tapi lebih baik hentikan ini demi kebaikanmu sendiri…” katanya penuh khawatir. Dia memang sudah tahu Sooyoung orangnya nekad, tapi tidak menduga bakal sampai senekad ini.
Sooyoung menggigit bibir. Dia sepenuhnya sadar bahwa dia sudah tidak bisa mundur lagi. Yang hanya bisa dia lakukan adalah tetap berdiri tegak. Dengan kepala terangkat dan menunjukkan ketetapan hatinya.
“Tidak mau, selama aku masih hidup tidak akan kubiarkan kalian mengorbankan Hyoyeon!”
Hyoyeon merasa sangat tersentuh. Kata-kata paling menyentuh yang pernah didengarnya.
Salah seorang namja menghela nafas. “Kamu tidak memberikan pilihan lain. Baiklah kalau itu maumu…” Dia mengangkat busurnya. Matanya bersorot tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsanya. “Biar kukabulkan padamu ketenangan abadi yang hanya bisa ditemukan dalam dekapan kematian.”
Melihat mereka sedang dibidik dengan anak panah, Sooyoung langsung mendorong ke samping Hyoyeon yang berdiri di belakangnya.
“Awas!”
Namja itu melepaskan tali busurnya. Anak panah itu meluncur dengan kecepatan tinggi dan-
JLEB!
dalam sedetik langsung menembus bahu kiri Sooyoung.
“!”
“Aaaaaaakkkkhhhhhh!”
“Cih! Meleset ya,” cetus namja itu. Sebenarnya tadi dia membidik jantungnya.
Sooyoung terhuyung-huyung ke belakang. Kakinya menginjak tepi tebing. Dan batu itu tidak kuat menopang berat tubuhnya sehingga-
KRAK!
“!”
Hyoyeon mengulurkan tangannya tapi terlambat, hanya menyentuh ujung jari Sooyoung saja. Sooyoung jatuh terbawa gaya gravitasi.
“SOOYOOOUUUUUNG!!” jerit Hyoyeon histeris.
Melihat tubuh Sooyoung sudah lenyap ditelan kedalaman tebing, lututnya gemetar. Dia jatuh berlutut. Rasa sakit di lututnya saat lukanya membentur batu sudah tidak dirasakannya lagi. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Hatinya sakit sekali. Dia menangis untuk keadaan yang tidak dapat diaturnya. Menangis karena ketidakmampuan dirinya mengubah takdir. Padahal Sooyoung sudah memberanikan diri berusaha untuk mengubah takdir mereka. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain dilindungi Sooyoung.
Namja itu mendekat dan menyentuh bahu Hyoyeon.
“Nah, pengganggu sudah lenyap, sekarang ikutlah kami dengan tenang.”
Plak!
Hyoyeon menyingkirkan tangannya dengan kasar. Dan menatap namja itu dengan sengit.
“Tak usah ya, daripada ikut bersama kalian, lebih baik aku mati bersama Sooyoung.”
Namja itu tertegun saat Hyoyeon memutuskan untuk melompat dari sana.
“Yah!” teriakannya sudah tidak digubris lagi. Hyoyeon sudah keburu melompat.
Aku akan menyusulmu…
Gaya gravitasi menyeretnya ke dalam jurang tak berujung. Hyoyeon berada di tengah kegelapan sampai sebuah cahaya putih menyilaukan pandangannya.

**

Mata Hyoyeon terbuka dan dia dikembalikan pada alam nyata. Dia tidak sadar kalau dia sudah menangis dalam tidurnya.

*~To Be Continued~*

A/N : Bagaimana readers? mudah-mudahan feelnya dapet^^

Advertisements

Comments on: "Cinta Segisembilan (Chapter 12)" (67)

  1. Annyeong thor!^^
    Wah, ngakak abis tuh d awl ‘mencari kambing putih’ hahahah 😀
    Feel ny dpet koq thor! Mlhn ksntuh nih. Pas HyoYeon ntuh. Ckck 😥
    Trus, next chap gmna nih? Kmbli ke cnta prtmany gtu?
    Moga, da TaeNy moment dah thor. Heheh
    Ditunggu bnget lnjutanny thor? Moga gk lma. 😀

    • pdhal yg kambing putih cuma iseng aja wkwkwk XD
      chapter dpn blm ada TaeNy, ya kau tahu sendirilah karena ini urut lahir 😛
      ya begitulah

  2. wah akhrx update jg, stlah sekian lama menunggu 😉
    aq merinding pas mimpix fany eonni :-D,,
    kren unnie ceritax,, lanjutkan!! fighting unni !! 😉

  3. taengppany said:

    Masih di alam mimpi juga thor?ayo cepat kembali ke dunia nyata pengen tau bakalan gimana pengaruh mimpi mereka ke orang yang di tuju
    Ini pola cintanya bakal muter balik lagi nampaknya hhmmm
    Lucu banget bayangin boa jadi pembasmi hantu ㅋㅋㅋㅋ

  4. Hmmm, prtama bacanya feeel-nya kayak baca yang chaptr sblumnya. Kok jadi brasa aneh ya?^^ Tapi stlah diikuti trus sampai lasai, jadi sdih. Ahh, knapa Hyunnie ‘ditebas’ ama BoA coba? Yah, gak apa2 d, kan cuma mimpi aja. Tapi gak kbayang BoA kmana2 bawa pedang sungguhan buat basmi setan. XD Jadi ingat film2 silat n vampir China gitu.
    Klo buat HyoSoo, critanya juga mnydihkan, tapi lawakannya Soo sama sekali gak lucu thor, aku aja mikir, “mang ini lucu? (sweatdrop).
    Overall, feelnya agak kurang dapat, mungkin karna keduanya pairing yang ‘tidak biasa’, jadi agak susah dapat feelnya gitu. Tapi author rajin skali ya chaptr ini panjang bangt. Sampai2 yulSic-nya gak nongol.
    nb: Cieee yang gravatar-nya TaengSic, mulai pindah hati nih. XD

    • BTW, jadi kpikiran, klo Seo yang ngisap energi Sunny, kok Seo juga ikutan lmas kayak Sunny?^^

    • haha mimpi memang biasa aneh
      terkadang aku terinspirasi sm film jg sih 😛
      ya lawakan Soo gak gitu lucu, malah aneh bgt dan garing, apa boleh buat habis Soo maksa buat lawakan sih wkwkwk XD
      kalau bkn pairing favorit memang kadang berasa feelnya kurang dpt

      karena sdh panjang ini
      haha aku memang suka TaeNy dan TaengSic kok 😛
      aku jg bkn sone yg berisik kalau soshi tuker pairing gitu

      • Yah, mungkin mang karna gak biasa juga kali ya. Maklum, aku sudah trlalu condong ke formasi pairing Royal Family sih.^^ jadi brasa agak aneh aja ama pairing2 lainnya, bukan benci lho ya.^^ Peace.
        BTW kok smuanya mimpi sedih smua ya? Klo biar mrka sadar akan cinta sblumnya, kan tidak slamanya harus sedih thor, bisa juga dicritain awal crita mrka pas jatuh hati ama orang yang disukainya, atau moment2 kbrsamaan mrka yang sweet. Kan itu juga bisa membangkitkan kmbali ingatan akan prasaan sblumnya. Yah, walau mungkin efeknya gak akan sekuat sampai klo mimpinya sedih sih.
        Tapi trkadang yang namanya knangan2 juga bisa menggugah ingatan sesorang untuk kmbali, trutama klo itu ingatan2nya yang brharga brsama orang yang brharga juga. IMO lho.^^
        kan kasihan lihat mrka trus2an bangun sambil nangis. Masa sudah di dunia nyatanya sedih, di sunia mimpinya harus lebih sedih lagi.^^ HaHA tapi yah skali lagi itu cuma pndapat dari seorang reader yang hanya bisa baca n comment seenak jidatnya aja. *bow*

      • haha author jg penggemar hal2 yg dramatis sih, makanya sad gini XD
        kalau sedih efeknya memang bakal lbh berasa
        lagipula kalau salah satu member nangis aku inginnya mereka semua berbagi sedih yg sama

      • Ohhh, I see. Tapi ini sih bukan cuma dramatic, tapi juga ada elemen tragic-nya.XD
        Bisa kutebak nih, tar di mimpi Soo jangan2 ada LSM ya?^^

      • haha gak ada kok XD

  5. mmmmh,,msh blm ada nh taeny moment’y,,,semangat thor

  6. pupupuputtt said:

    Pagi! ^^

    kenalin thor, aq puput 🙂
    aq readers baru nih..
    sebenerNy sih udh dari lama aq baca” ff diblog ini, udh smw cerita ff aq baca, cuma baru ini aja berani komen xP
    *ga enak klo jd penyimak terus* hHe~

    ceritaNy makin bikin penasaran akhirNy gimana tp keren :3
    saking penasaranNy, tiap hari, jam, menit aq liat blog ini *berharap ada update ff terbaru*, tp authorNy lg sibuk ya. jd ga boleh berharap banyak” . heu~

    lanjutan Cinta segi9Ny masih panjang ga thor?
    segera dilanjutin ya thor ^^,
    eh, ini ga maksa, cuma bagian dari mengharap xD

    Daebak Thor! \:D/

    • pagi puput 😀
      ok, syukurlah sdh mau comment^^
      ff ini msh sgt panjang kok, habis melibatkan banyak pairing, gak bisa diakhiri dgn cepat
      makasih 😀

  7. OMO…
    Msih mmpi trnyta.. Hufttttt…

  8. pas baca pertama kukira tu beneran, pas udh dipertengahan aku udah ngira ini pasti mimpi s fanny. eh ternyata bener. yg part mimpi s fanny paling mantep thor 😀

  9. Kimtaeyeoung said:

    Huft bener2 tegang..ternyata pany unnie mimpi’y aneh..ngeri juga klo ampe seo g bangun laghe..aduh dapet banget2 feels’y..
    Wah itu laghe hyo un mimpinya bener2 deh,,

  10. mmm… bagus un! idenya keren.. 😀
    coba bahasanya lebih didramatisin lagi, mungkin feelnya lebih dapet. hehe
    oiya, yang hyoyeon ama soo itu mereka di mana ya? di jepang kah? ngomongnya pake bahasa jepang tapi kok pake hanbok…

    lanjutttt un!!!!
    fighting!

    • gak terlalu bisa bahasa dramatis, tp rasanya udh lumayan dramatis sih^^
      di korea sih, cuma Hyoyeon ingin dengar Soo bicara bahasa jepang, biar berasa lbh keren jg, makanya dlm mimpinya jd begitu 😀

  11. YoonSicTaeNy said:

    apa sekarng semua balik seperti semuula lagii???? fany kembali mencintai hyunni??dan hyo juga kembli mencintai soo??

    awal2 ceritnya bener2 menegangkan ..keerreeennn .. daebakk (y) .

    ditunggu kelanjutannya eonn .. fighting!!

  12. Annyeong,,,

    Tae Eooni jjang,tidur smbil mata terbuka,,hhaa bisakah?
    Lelucon Soo Bner” bkin ngkak,,
    Dapeet Dah Thor Feelnya,,daebak dahh,,,,,
    Msih blom bisa d tebak aja,bgimna Perasaan mreka,pada akhirnya,,,

    D tunggu Next nyaaa,,,,,
    SEMANGAAAT

  13. wah .. seohyun bkin merinding euy ..
    dongen sooyoung mantap kali, wakakakak
    satu detik langsung the end wkwk
    lanjut thor ^^

  14. Miss New New said:

    aahh
    BoA jadi pembasmi roh? *membayangkan inuyasha dengan wajah BoA

    Kenapa anak2 soshi gak kepikiran buat keroyokan celupin BoA ke laut kek siapa tau Seohyun bisa sadar??

    Bagian HyoSoo, aku pikir Soo yg jadi putrinya wkwkwk
    Kan Hyo itu lebih jantan daripada Soo
    *reader kebanyakan ngawur

  15. lah tyt smua msh mimpi???
    aigooo…

    sbnrnya alangkah lebih mudah jika mereka pas nyanyi genie mengucapkan permohonan smoga cintaku tdk bertepuk sebelah tangan. jika di kabulkan kelar perkara deh.
    gak rumit spt skrg.
    giliran udh balik mencintai eeh malah tetep bertepuk sblh tgn.

    hmmm buruan update.
    hwaiting.

  16. chocofloat29 said:

    yaaahhhh 😦
    tbc lg ………
    author bkin pnsrn aj ni.
    dtgg next chapter nya y….
    author jjang !!! author hwaitting !!!

  17. pupupuputtt said:

    emm, thor ..
    (nama author siapa ya o.O??)

    boleh minta pwNy ga?
    aq mau baca cerita locksmith yang dikunci itu.

    boleh ya ^^,
    pwNy dikirim ke email fb aq aja.
    author punya fb kan.
    plis ya :))

  18. Finally, lu update nih ff, kak!! Seneng banget~ 😀 dan ternyata ini masih mimpi, pemirsah~ ayo ke dunia nyata dong, kak!! Pengen liat reaksi mereka~ oia, terus ada taeny moment dong hehe 😀 semangat kaka!!

  19. Omo… Gw lupa ini masih ttg mimpi2 gitu ya.. Yg tiffany itu bner2 deh, stress bacanya

    dan soo keren bgt di mimpi hyo..

    Aih, bgitu mereka semua ketemu di dunia nyata bakal nangis2an kali ya

  20. Mimpinya ppany bener2 nahan napas deh bacanya, kasian maknae 😦

  21. alhamdulillah akhirnya unnie update juga #sujudsyukur
    yaa amplop unnie, aku kira hyunnie beneran arwahnya keluar keluar gitu kaya hantu. jadi kaya dementor yaa unn^^

  22. Akhirnya update juga.
    Kirain tiffany itu beneran, trnyata cuma mimpi. Sempet lupa kalo chapter sebelumnya adalah mimpi 😀
    Ini masih panjang?? Wew
    Lanjut thor.

  23. bah,,ternyata Tiff n Hyo cuma mimpi. ckckck… seru thor,aku penasaran sama mimpi member yg lainnya…
    kalo bisa asap ya thor… Ganbatte…!!!

  24. mrz_love_taeny said:

    Woooaaaa boa jd ahli pengusir setan
    kekeke
    astaga tetep alurnya blm bs d tebak
    kekeke
    cepet2 bikin mreka balik k pasangan masing2 ya thor u.u

  25. taenyshidae said:

    oalah mimpi toh
    brrti masih pnjgn bgt dong ceritanya *inget snsd 9 member* 😮
    thor cepet2 di satuin dah sama pairing aslinya -______-

  26. DeeScorpio said:

    pertama’a ngga ngeh,ko jadi gini crita’a…eh stlah inget chap sblm’a trnyata msh dlm mimpi wkkkk 😀
    aduh lucu juga ngebayangin BoA jadi pembasmi hantu hahaha…pas mimpi hyo aduh sedih bgt 😦
    Keren crita’a thor…dtunggu chapter slanjut’a 😉

  27. Wah, ne knpa xmuanya pda mimpi wangsit gt yak? Apakah xmua bkal kmbali kcnta prtamanya?

  28. Yeoun12_jean said:

    Annyeong….
    agak aneh bacanya, kok perasaan mereka berubah ubah terus yaa…
    jadi bingung juga,
    wahh author ceritanya makin rumit yahh…
    di part ini kebanyakan mimpinya yahhh, sedih2 pula…
    dramatis, aku jadi sulit pahami ceritanya,
    tapi feelnya tetap dapat kok..

    ok author fighting !!!

  29. gak tau kalo udah update lg ampe ketinggalan 2 chap…

    gara2 di chap sebelumnya mereka pada mimpi jd pas baca yg ini langsung inget ini pasti mimpi lg hehe
    agak susah dapetin feelnya pas baca yg HyoSoo soalnya couple ini kan kalo nongol di ff sering banget jd prankster tp disini malah saling jatuh cinta hehe…

    • haha memang mereka pranskter, makanya ada lawakannya dikit
      tp kalau udh menyangkut soal cinta kan jg bisa jd lembut kayak SooSun 🙂

  30. baca dari chapter 1 ampe yg ini,, bagus sih tapi kok muter muter sih critanya?

  31. KyuNa Yoonhyun TaeNy Lope Lope said:

    Uhhhhh mimpix menyedihkan thor T_T
    #nyesek

  32. Takuma's Taku n Kuma said:

    aku turut berduka cita untukmu seo unni, moga arwahmu di terima disisinya XD
    #seo: aku belum mati baka ! (bawa katana & menyeringai evil).
    kuma:eh ! belum ya (menatap horor pd katana).

    tragis sekali ceritamu soohyo unni,mirip sekali dg yoonyul couple.niat mau nyelamatin eh. .malah mati berdua T.T

    # salam reader aneh si lumba-lumba

  33. lee deyeon said:

    Waaaah thor keren sumpah crita nya, kya nya smua genre cerita nya ada ya..
    Pas mmpi nya Ppany horor gila..
    Eh pas mimpi Hyo serasa nntn drama prjuangan..

  34. Seriously ?

    Ini jln cerita makin ga karuan aja ..
    Makin ga jels ,
    Kalo lagi mampet ide , ga ush d tulis cuman gara2 mau cepat update ..
    Haha peace ,

    Yoona di bkin banyak dong ..

  35. hennyhilda said:

    Author berhasil bqn saya pusing tujuh keliling hhhhh

  36. Jiahhhhhh, cuman bisa ber-oh ria aja bacanya kak Maifate. Rasanya kayak nggak berhak komen. Ff nya kereeennnnnnnnnnn. Dapat ilmu darimana sih kak. Kakak benar-benar daebak!
    Oh yah kak, waktu bagian Seohyun unnie jadi hantu. Aku merinding cincai bacanya. Soalnya lagi sendirian dikamar, brrrrr. Kayaknya kakak nih buat cerita genre apapun bagus (y) Nggak salah kakak masuk daftar author favoritku 😀 Tetap berkarya kak Maifate 🙂
    Oh iya, satu lagi. Suka banget sama SeoFany moment nya. Di antara semua mimpi yang ada dichapter ini, SeoFany unnie lah yang paling nyata menurutku unnie. Benar-benar kebawak aku bacanya. Daebak euy!

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: