~Thank you for your comments~

Gidarida (Part 2 – End)

Karena Tiffany adalah gadis yang layak ditunggu…

Bab 3

“Hari ini kira-kira mau cari dimana”
“Aku ada ide, gimana kalau ke taman?”
Kemudian aku mengajaknya pergi ke tempat yang terpikirkan olehku. Dia tercengang begitu kami sampai di tempat, karena taman yang kumaksud bukan taman biasa.
“Taeyeon ah, kenapa kita malah ke taman hiburan?! Memangnya kita mau bersenang-senang?”
“Memang itu tujuanku, Fany ah”
Aku menggandeng tangannya.
“Sayang kan? Sudah jauh-jauh datang ke Korea tapi gak menikmatinya.”
Aku memandang wajahnya yang terlihat ragu.
“Ayolah, jangan berwajah kusut seperti itu. Dari yang kulihat akhir-akhir ini kamu terlalu banyak pikiran, sesekali kita perlu hiburan untuk refreshing. Setelah itu kita bisa mencarinya lagi, oke?”
“Hmm, baiklah”
“Siapa tahu kebetulan kita bisa menemukannya disini.”

Kami naik wahana yang berupa cangkir yang diputar-putar. Kulihat banyak pasangan yang naik ini.
Melihat roda kemudi di tengah-tengah cangkir aku jadi tidak tahan untuk tidak memutarnya.
“Ahahahaha!” aku memutarnya dengan bersemangat.
“Aish Taeyeon, jangan diputar terlalu kencang, nanti aku bisa pusing!”
“Gak apa-apa! Kalau mau muntah nanti tinggal muntah saja!” sahutku seenaknya.
“Aish, kau ini ada-ada saja! Kalau aku muntah nanti malah merepotkan petugas bersih-bersihnya.”
Padahal tadinya Tiffany terlihat enggan. Tapi setelah naik beberapa wahana dia terlihat senang seperti anak kecil. Dia menunjukkan eye smilenya yang sangat kusukai itu.

“Tiffany, mau naik roller coaster?”
“Yuk^^”
Kami berkeliling mencobai berbagai wahana yang ada.
Aku sangat senang. Karena itu aku berpikir untuk mengabadikan momen ini. Kukeluarkan ponselku dan kuarahkan pada Tiffany.
“Tiffany, lihat sini”
Begitu melihat apa yang mau kulakukan, dia langsung tersenyum.
Klik
Aku berhasil mendapatkan fotonya yang sedang tersenyum manis.
“Taeyeon, ayo kita foto bareng^^” kata Tiffany sambil mengeluarkan ponselnya.
Aku berdiri di sebelahnya dan kami berfoto bersama.
Tiffany terlihat senang dengan hasil fotonya.
“Kujadikan wallpaper ah^^”
Aku merasa sedikit malu. Itu artinya dia akan melihat wajahku tiap kali dia membuka HPnya dong.

**

“Tiffany, Tiffany, naik itu yuk?” kataku girang.
“Merry go round? Itu kan buat anak-anak Taeyeon”
“Ah kata siapa, orang dewasa juga terkadang naik untuk mengenang masa lalu. Ayo-“ aku menarik tangannya. Mendadak aku jadi seperti anak kecil yang tidak sabaran. Tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
“A-a Tiffany! Gak jadi! Kita kesana saja! Naik yang itu yuk!”
Aku berbalik dan mendorong punggungnya agar dia cepat-cepat berjalan pergi.
Tiffany benar-benar tidak boleh melihat ini!
“He? Kamu aneh Taeyeon, tadi kamu begitu ingin terus kenapa sekarang-”
“Mendadak aku berubah pikiran!”
“Padahal aku jadi tertarik.”
Tiffany menoleh dan akhirnya melihat pemandangan yang berusaha kututupi ini. Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya.
Yang kulihat adalah seorang namja yang tidak lain adalah Dennis Oh, namja yang dicari-cari Tiffany. Tapi kabar buruknya dia sedang merangkul mesra seorang yeoja. Mungkin itu kekasihnya.
“Tiffany…”
Tiffany terdiam kaku di tempat.
Dan seperti ingin membuat perasaannya semakin kacau, Dennis Oh mencium gadis itu tepat di bibirnya.
Tiffany langsung membuang muka dan lari.
“Tiffany!”
Aku berlari mengejarnya.

“Tiffany! Tunggu!”
Aku mempercepat langkahku dan akhirnya berhasil mengejar dan menangkap tangannya.
Saat dia menoleh padaku, aku melihat sesuatu yang berkilauan mengalir dari di pipinya.
Air mata.
Hatiku terasa sakit melihat air matanya.
“Begitu… ternyata dia sudah punya kekasih… kalau aku bilang padanya sekarang aku hanya akan jadi pengganggu ya…”
“Tiffany…”
“Ternyata benar aku memang seharusnya menyerah dari awal saja…”
Bahunya berguncang karena tangis. Aku memeluk Tiffany.
“Sudah, jangan katakan apa-apa lagi…”
“Uhh…” Tiffany menangis di bahuku. Tangannya meremas bajuku dengan erat.
Kubiarkan dia tetap seperti itu. Aku berharap dengan memeluknya seperti ini dapat meringankan rasa sakit hatinya walau hanya sedikit.
______________________________________________________________________________________

Ferris Wheel yang kami naiki semakin lama semakin tinggi.
Aku melihat pemandangan keluar. Seluruh area taman hiburan dapat terlihat seluruhnya dari ketinggian segini. Semua terlihat berwarna keoranyean karena sinar mentari yang hampir terbenam di arah barat. Indah sekali.
“Tiffany lihat, sebentar lagi sampai di puncak,” aku berkata pada Tiffany yang duduk di depanku, berharap agar dia membuka mulutnya.
“……………..”
“……………..”
Tidak ada reaksi. Dia hanya duduk tenang dengan kedua tangannya berada di atas pahanya.
Aku bingung, di saat seperti ini aku harus melakukan apa.
Tapi…
Wajah Tiffany yang sedang bersedih.
Terlihat cantik sekali…
Aku berdiri dari tempat dudukku dan mendekatinya. Tiffany mengangkat wajahnya saat aku berdiri di depannya.
Aku hampir tidak tahu apa yang kulakukan.
Pikiranku saat itu kosong. Aku hanya terdorong oleh perasaan.
Aku merendahkan tubuhku untuk mengecup bibirnya.
Wajahnya terlihat syok setelah aku melakukan itu.
“Tiffany, saranghae…”
Ah, akhirnya aku mengatakannya.
Mungkin waktunya tidak tepat. Tapi aku selalu membayangkan berada dalam situasi romantis seperti ini bersama orang yang kusukai.
“Tiffany…”
“…………”
Tidak ada jawaban.
Lututku terasa lemas, dadaku seperti ditusuk-tusuk. Akhirnya aku hanya bisa kembali duduk.
Hatiku terasa kacau, sehingga aku harus mengepalkan tanganku. Berusaha agar tetap kuat.
Feris Wheel berhenti.
Mengakhiri kesesakan dalam ruangan kecil yang serasa hampir seabad ini.
Begitu pintu dibuka, Tiffany yang lebih dulu keluar. Kemudian aku menyusulnya.
“Pulang yuk?”
Tiffany mengangguk. Dia masih diam seribu bahasa. Dia tidak berjalan di sebelahku tapi di belakangku. Mungkin takut bertemu mata denganku.
Mungkin aku memang sudah menyusahkannya dengan perasaanku, tapi aku tidak akan minta maaf. Kenapa aku harus minta maaf? aku benar-benar mencintainya…

Malam itu adalah malam terpanjang yang paling pernah kurasakan selama lima belas tahun dalam hidupku.
Aku hampir tak bisa tidur, tapi aku terus berpura-pura tidur.
Aku bisa merasakan Tiffany juga sama.
Kami berdua hampir tidak bisa mengusir kepengapan yang tiap detik kian menyesakkan.
Padahal jarak di antara kami tidak lebih dari satu meter.
Ingin rasanya aku menangis, tapi kutahan-tahan.
Aku tidak boleh lemah…

Menjelang subuh baru aku bisa tertidur.
Ketika aku terbangun aku tidak menemukan Tiffany lagi.
Yang ada hanya pakaian yang kupinjamkan padanya terlipat rapi di tempat tidur dan sebuah kertas.

Maaf Taeyeon, aku pergi tanpa pamit sama kamu.
Setelah kamu menyatakan perasaanmu, aku bingung harus menjawab apa.
Aku juga tidak tahu harus bersikap seperti apa di depanmu.
Semua begitu membingungkan…
Aku sudah pulang kembali ke San Fransisco.
Mungkin kita gak akan bertemu lagi.
Terima kasih untuk semuanya
Maafkan aku
Lupakan saja aku…

Aku merasa hancur. Tanganku yang sedang memegang kertas gemetar. Rasanya air mataku mau runtuh tak dapat ditahan lagi.
Tiffany sudah pulang! Ke San Fransisco! Ke tempat yang mungkin tidak akan bisa kujangkau!
Padahal aku baru sebentar bersamanya…

**

Pada akhirnya…
Tiffany pulang kembali ke San Fransisco
Walau keinginannya untuk bertemu dengan namja itu tercapai
Dia tidak berhasil menyatakan perasaannya.
Pada surat yang ditinggalkannya…
Ada sederet kata maaf…
Aku ditolak…
Setelah itu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku bahkan tidak tahu nomor ponselnya.
Aku tidak tahu dimana ia tinggal, satu-satunya petunjuk hanya dia tinggal di San Fransisco.
Dia benar-benar telah menghilang dari hidupku
Saat dia sudah pergi, aku merasa sebagian dalam diriku juga ikut menghilang.
Terasa hampa…
Apapun yang kulakukan, sesibuk apapun, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya…
Tiffany hampir selalu hadir dalam setiap mimpiku
Tiffany Tiffany…
Walau sekarang kita jauh
Tapi aku percaya
Kita pasti akan dipertemukan kembali
Karena dia adalah belahan jiwaku.
Suatu saat aku akan ke San Fransisco untuk menemuinya.
Berapa tahun pun akan terus kutunggu
Hatiku tidak akan berubah
Aku akan selalu menunggu… Tiffany
______________________________________________________________________________________

Hyoyeon’s POV

Saat aku membalik halaman aku menemukan selembar foto seorang gadis.
Sekilas melihatnya saja aku sudah merasa senyumnya amat menarik.
Di belakangnya aku menemukan tulisan yang ditulis dengan pensil.
Tiffany
Jadi gadis ini yang namanya Tiffany?
Yang diceritakan dalam cerita ini…
Aku tidak kenal gadis bernama Tiffany. Sampai berumur 15 tahun aku hidup terpisah dengan Taeyeon. Karena aku ikut Appa tinggal di China. Dan aku baru bertemu dengannya ketika Appa pulang kembali Korea dan kami sekeluarga bersatu kembali.
Tapi aku sedih karena alasan kepulangan Appa adalah… Umma meninggal…
Agar Taeyeon tidak hanya seorang diri di Korea, Appa memutuskan untuk pulang.
Meski begitu aku sangat senang. Karena aku bisa berjumpa dengan Taeyeon kembali.
Tapi tidak lama setelah itu Appa pergi seolah menyusul kepergian Umma. Sehingga tinggallah aku dan Taeyeon berdua.
Beberapa bulan setelah itu, Jessica hadir dalam kehidupan kita.
Jessica sering sekali mampir ke rumah kami.
Untuk menemui Taeyeon tentunya.

Aku membaca kelanjutannya.

Pertemuannya membuatku terkenang kembali…

Bab 4
How I Met Her

“Kemana sih Yuri? Kenapa dia belum datang juga?”
Gadis itu melihat jam di ponselnya untuk yang kesekian kalinya.
“Sudah setengah jam lebih nih!”
Dia mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai dengan tidak sabaran. Tangannya disilang di depan dadanya.
“Dasar… padahal sudah dua tahun. Apa dia gak ingin segera ketemu aku?” gerutunya pada dirinya sendiri.
Saat itu dia tidak sadar kalau sebenarnya dia sedang menjadi sasaran empuk seseorang. Tidak lama seseorang itu menjambret tasnya.
“Ah!”
Refleks gadis itu hampir mengejarnya tapi kakinya salah menapak dan dia terjatuh.
“Penjambret sialan! Awas! Kudoakan kamu tertangkap!”
Selagi dia mengomel-ngomel di lantai, kudekati dia.
“Nona, kamu tidak apa-apa?”
Aku mengulurkan tangannya, bermaksud membantunya berdiri.
“Huh, gak apa-apa”
Dia tidak menerima uluran tanganku dan berdiri sendiri. Kemudian membersihkan debu di rok dan bajunya.
Gadis berambut pirang di depanku ini memiliki tatapan yang agak agak judes. Tapi kalau dilihat-lihat dia cantik juga.
“Oh, lututmu berdarah”
“Hmm,” gadis itu memandang ke bawah kakinya untuk melihat apa yang kumaksud.
Aku mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya padanya.
“Silakan pakai”
Gadis itu menatapku, aku lalu menambahkan.
“Tenang saja, belum kupakai kok”
“Gomawo”
Dia menerima sapu tanganku. Lalu merendahkan tubuhnya untuk mengelap darahnya.
Aku senyum-senyum memandang gadis cantik di depanku ini.
“Apa? Kenapa memandangku seperti itu?”
“Ah tidak, soalnya kejadian yang kamu alami hampir mirip sama kejadian seseorang yang kukenal.”
Aku terkenang kembali kejadian setengah tahun yang lalu…
Saat aku bertemu dirinya…
“Jadi kamu senang melihat ada orang dijambret di depan matamu?” tanyanya dengan nada yang tidak terlalu lembut.
“Ah maaf, bukan begitu maksud-”
Tapi kalimatku terpotong ketika ponsel milik gadis itu berbunyi. Dia mengeluarkan Hpnya dari sakunya. Dan ketika melihat nama yang berkedip-kedip di layarnya, amarahnya langsung kembali. Dari raut mukanya dia kelihatan seperti mau menyemprot si penelepon.
Dia menekan tombol answer dan benar dugaanku.
“Yah Yuri!! Kenapa lama sekali?!”
Sepertinya si penelepon bernama Yuri.
Teriakannya sempat menarik perhatian beberapa pejalan kaki yang lewat. Tapi dia seperti tidak peduli akan beberapa pasang mata yang melihat.
“Aduh maaf sekali Jessica! Tadinya aku mau pergi tapi mendadak Yoona…”
Sesaat aku melihat mata gadis ini menyala.
“Yoona Yoona, sudah dua tahun pun kamu masih saja dekat sama dia ya. Apa jangan-jangan selama aku di San Fransisco kamu juga malah pacaran sama dia,” sindirnya.
“Jangan salah paham Jessica, tadi Yoona kecelakaan mendadak, jadi aku-”
“Sudah! Kamu gak usah jemput aku lagi! Aku diantar teman, kamu urus saja Yoonamu.”
Gadis bernama Jessica itu langsung menutupnya tanpa menunggu jawaban Yuri.
Sedikit banyak aku bisa menangkap apa yang terjadi melalui percakapan mereka barusan.
“Jadi, yang kamu maksud dengan teman itu. Apa dia sebentar lagi akan datang menjemputmu?”
“You”
“Eh??”
“You . will . escort . me,” katanya seperti ingin menekankan katanya.
Tiba-tiba dia berbicara dalam bahasa inggris, memang tadi aku sempat mendengar dia baru pulang dari San Fransisco.
“Pardon?”
Secara otomatis lidahku bergerak menyesuaikan bahasanya.
“Padahal kamu melihat aku dijambret. Kamu salah karena kamu tidak berbuat apa-apa untuk menolongku, karena itu sebagai gantinya kamu harus mengantarku pulang!”
“Eh… apa yang bisa kuperbuat… aku gak mungkin bisa mengejarnya, lariku tidak cepat. Dan aku tidak membawa ponselku.”
“Karena itu kamu harus tanggung jawab dengan mengantarku pulang, sekarang juga,” katanya dengan nada tidak bisa dibantah.
Gadis ini… imejnya seperti seorang sersan. Begitulah kesan yang kudapat. Aku merasa tidak bisa melawan kata-katanya.

Jadi begitulah, akhirnya aku harus mengantar gadis ini pulang.
Tiba-tiba saja aku dilibatkan hanya karena kebetulan menyaksikannya dijambret…
Kami berdua naik taksi menuju apartemennya. Aku bersama dengan gadis ini duduk di bangku belakang.
Selama dua tiga menit perjalanan kami terus terdiam sampai tiba-tiba dia berkata.
“Aku Jessica Jung, siapa namamu?”
“Ah, aku Kim Taeyeon”
“Maaf”
Tiba-tiba dari mulutnya meluncur kata-kata yang tak terduga.
“Eh?”
“Aku memaksamu. Karena aku tidak mau berbohong,” dia berkata tanpa menoleh ke arahku. Air mukanya tetap datar.
Ah
Aku mengerti.
Jadi maksudnya ‘aku’ adalah teman yang dia maksud akan datang menjemputnya.
Walau saat ditelepon dia mengatakan itu hanya karena kemarahan sesaat saja.
“Hmm,” aku tersenyum.
“Wae?” dia memandang ke arahku sekarang.
“Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, aku merasa di kehidupan sebelumnya kita adalah teman.”
“A… kamu bicara apa”
“Buktinya sekarang kita bisa mengobrol seperti ini, pasti di kehidupan sebelumnya kita dekat.”
“Aku gak percaya hal seperti itu.”
Walau dia berkata seperti itu, aku melihat senyum kecil bermain di bibirnya. Mungkin aku sudah berhasil mengambil hatinya, dia tidak terlihat judes lagi.

**

Begitu sampai di apartemennya aku melihat seorang gadis sedang berjongkok sambil bersandar di dinding dekat pintu.
“Ah Jessica!”
Tapi Jessica tidak mengacuhkannya saat membuka pintu apartemennya.
“Taeyeon, masuklah,” Jessica menarik tanganku masuk.
“Jessica!”
Jessica menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.
Mungkin gadis itu si penelepon tadi?
“Apa tidak apa-apa kamu membiarkan pacarmu seperti itu?”
“Biar saja, dia juga sering membuatku kesal. Padahal sudah punya aku tapi dia masih saja dekat dengan gadis lain.”
“Ah, kau cemburu”
“…………..yang lebih penting, Taeyeon kamu mau minum apa?”
“Apa saja boleh”

Aku duduk di ruang tamu, Jessica menyuguhiku secangkir teh.
“Orangtuamu tidak ada di rumah?”
“Mereka berdua kerja, makanya tidak bisa menjemputku.”
“Jadi kamu baru pulang dari luar negeri?”
“Ne, selama dua tahun aku tinggal sama kerabatku di San Fransisco, sekolah disana. Aku pulang ke Korea karena sudah kangen sama Korea.”
“Jadi kamu sebelumnya tinggal di Korea?”
“Ne, aku lahir di San Fransisco, tapi sejak umur belasan aku mulai tinggal di Korea.”

Mengobrol bersama gadis ini sangat menyenangkan, sehingga waktu berlalu begitu saja tanpa kusadari. Begitu aku melihat jam, ternyata hari sudah petang.
“Kalau begitu aku permisi dulu”
“Ah tunggu!”
“??”
“Eng itu… Taeyeon, kalau boleh tahu, dimana alamat rumahmu? Biar aku bisa mengembalikan sapu tanganmu.”
“Gak usah repot-repot, sapu tangan itu buat kamu, aku tak keberatan.”
“…………”
“Jessica?”
“A-aku juga sebenarnya ingin main ke rumahmu… Taeyeon.”
Aku tersenyum dan memberitahukan alamat rumahku.
_________________________________________________________________________________________

Bab 5
Jessica Jung

Keesokan harinya, awal tahun ajaran baru, aku sangat kaget ketika melihat Jessica masuk ke kelasku.
“Ah!”
Kulihat dia juga memiliki ekspresi yang sama di wajahnya.
“Taeyeon?!”
“Jessica! Jadi kamu sekolah disini?!”
“Ne, mulai hari ini aku sekolah disini. Wah, gak nyangka bisa ada kebetulan seperti ini.”
“Ya”
“Boleh aku duduk di sebelahmu?”
“Silakan”
Jessica meletakan tasnya di atas meja dan duduk di kursi sebelahku.
“Oh ya, sebelum lupa”
Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Taeyeon, ini sapu tanganmu. Aku sudah mencucinya. Gomawo.”
“Chun Maneyo”
Aku tidak menduga kalau akan bertemu dengannya secepat ini.

Jam pelajaran.
Karena pelajarannya tidak terlalu menarik aku malah melatih kemampuan memutar pulpenku.
Yes! Sudah makin lancar.
Aku jadi bersemangat sendiri.
Saat aku melihat ke arah Jessica, dia sedang tertidur dengan nyamannya.
Di hari pertama tahun ajaran baru pun dia sudah tertidur di kelas, gimana dengan seterusnya?

**

“Hahh… akhirnya pulang juga. Hari pertama yang membosankan.”
“Membosankan gimana, kamu kan tidur terus di kelas tadi, Jessica.”
“Aku memang sedikit ngantuk, ahaha”
Sedikit apanya, kamu tidur terlalu lama untuk bisa dibilang sedikit.
“Sepertinya sudah saatnya pulang ya?”
Apa katanya? apa dia masih ngelindur sampai-sampai gak sadar?
“Gak, belum, ini masih istirahat.”
“Heh, nice try, tapi aku gak akan ketipu, Taeyeon.”
“Ahaha, cuma bercanda kok, Jessica. Kalau begitu aku pulang ya, sampai besok”
“Taeng, tung-”
“Oh ya, kamu mau mampir ke rumahku?”
“Eh? Boleh?”
“Bukannya kamu sendiri waktu itu bilang ingin main ke rumahku, hehe”
Jessica mengangguk malu-malu.
“Tapi kita tunggu seseorang dulu”
“Siapa?”
“Taeyeon,” seseorang memanggilku.
“Hyoyeon”
“Ayo kita pulang.”
Dia berhenti ketika melihat siapa yang berdiri di sebelahku.
“Siapa dia Taeyeon? Temanmu?”
“Ya, namanya Jessica Jung”
“Annyeong haseyo,” Jessica melontarkan senyumnya.
“Jessica, ini adikku, Hyoyeon”
“Annyeong haseyo,” Hyoyeon tersenyum ramah pada Jessica.
“Jessica mau main ke rumah”
“Wah, baru kali ini Taeyeon membawa seorang teman datang main ke rumah.”
“Hyoyeon ah, kata-katamu itu seolah aku tidak pernah punya teman.”
“Mian Taeyeon, habis selama ini aku belum pernah melihatmu membawa teman ke rumah.”
Bukannya tidak pernah.
Benar juga, Hyoyeon kan gak tahu.
Tiffany…
Gimana kabar dia sekarang…
Apa dia bahagia disana…
“Taeyeon, kamu kenapa?”
“Ah, aniyo, yuk kita ke rumahku.”
Jessica sadar ya barusan kalau melamun ya?
Hufft, aku harus lebih hati-hati, aku tidak mau mereka tahu. Setidaknya tidak untuk sekarang ini.

**

Kupersilakan dia masuk ke kamarku.
“Permisi”
Jadi ingat.
Setengah tahun yang lalu aku juga mengajak Tiffany masuk ke kamarku seperti ini.
Rindunya…
Andai aku punya mesin waktu, aku ingin mengulang kembali kejadian saat itu.
“Silakan duduk dimana saja”
Jessica langsung duduk di atas kasurku. Tubuhnya sedikit memantul di atas ranjangku yang empuk.
“Hehe, kasurmu nyaman sekali Taeyeon. Eh, boleh kupanggil kamu Taeng saja?”
“Silakan”
“Taeyeon, ini aku bawakan makanan dan minuman.”
Hyoyeon masuk dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat sepiring cookie dan dua gelas minuman. Kemudian dia mempersilakan Jessica dengan sopan, “Silakan, tidak usah sungkan”
“Gomawo”
Setelah Hyoyeon keluar dari kamar.
“Adikmu Hyoyeon kelihatan dewasa, Taeng”
“Oh ya? Kamu bakal kaget begitu tahu kalau sebenarnya sifatnya agak kekanakan. Aku memberinya julukan Kim Choding.”
“Kim Choding? Ahaha, rasanya gak kebayang.”
“Karena kamu belum mengenalnya, kalau sudah mengenalnya kesanmu tentang dia pasti akan berbeda.”
“Oh gitu?”
“Hem,” aku mengangguk.
“Tapi Taeng, Kim Choding bisa berarti kamu sendiri”
“Yeah begitulah, makanya aku tidak bisa leluasa memanggilnya seperti itu.”
Jessica tertawa renyah mendengar perkataanku. Lalu dia melihat-lihat ke sekeliling ruanganku seperti tertarik.
“Kalau dirumah seperti ini biasanya apa yang kamu lakukan Taeng?”
“Hmm, paling aku hanya mengerjakan tugas atau bantu-bantu Hyoyeon beres-beres rumah dan kerja part time.”
“Kamu kerja part time?”
“Ne, karena orang tua kami sudah tiada.”
“Oh, mianhae…”
“Gwenchana, lagian kami masih punya warisan dari mereka, jadi tidak perlu khawatir.”
“Kerja part time sebagai apa?”
“Di cafe, hanya membantu mencatatkan pesanan atau membawakan makanan pesanan dan bantu-bantu di dapur.”
“Kalau begitu kapan-kapan aku mau mampir ah, beritahu alamatnya, aku mau lihat kamu bekerja.”
Aku menyebutkan alamatnya dan meliriknya penuh arti.
“Pasti kamu berharap ditraktir kan ya?”
“Hehe, boleh?”
“Segelas cappucino saja, hehe”
“Ok, lalu apa hobi kamu, Taeng?”
“Aku suka menyanyi.”
“Berarti kita sama, kalau begitu lain kali kita pergi karaoke bertiga yuk? aku, kamu, sama Hyoyeon.”
Aku tersenyum, “Ayo, sudah lama aku tidak menyanyi.”

Malam itu
Untuk pertama kalinya aku makan bertiga bersama dengan Hyoyeon dan Jessica.
Aku merasa sangat bahagia.
Walau Jessica tidak berhubungan darah dengan kami, tapi aku merasa kami seperti satu keluarga yang hangat.
_______________________________________________________________________________________

Hari ini seperti kemarin-kemarin. Sudah dua minggu lebih Jessica datang main ke rumah. Dia sedang duduk di kasurku sambil memain-mainkan boneka Hello Kittyku. Sedangkan aku duduk di kursi sambil melihat tingkahnya yang menggemaskan.
Bukannya aku tidak senang. Justru aku sangat senang karena ada teman yang setiap hari main ke rumah, karena Hyoyeon lebih sering sibuk dengan pekerjaan rumah.
Dan setelah lebih mengenalnya lebih lama, ternyata Jessica orang yang lebih menyenangkan dari yang aku kira.
Aku tersenyum sendiri ketika mengingat kesan pertamaku tentang dirinya.
Tampaknya Jessica menyadari aku tersenyum.
“Kenapa Taeng?” dia berbicara dengan suara yang diubah-ubah menjadi imut sambil memamerkan boneka Hello Kittyku, seolah boneka itu yang sedang berbicara mewakilinya.
“Ah aniyo, keingat hal yang lucu saja.”
“Hal yang lucu itu apa?” dia masih melanjutkan suara imutnya sambil menggerak-gerakkan boneka itu.
“Rahasia.”
“Taeng peLIT!”
Pada kata terakhir dia meninggikan suaranya, masih dengan suara boneka Hello Kittyku(?)
Aku tertawa. Lalu dia juga ikut tertawa.
“Jessica, kamu setiap hari datang kesini.”
“Memang gak boleh, Taeng? Kalau menganggu, aku…”
“Aish, bukan begitu. Maksudku kamu gak ke tempat pacarmu?”
“Aku masih kesal sama dia”
“Wae? Apa gara-gara dia mengantar yeoja lain waktu itu?”
“Yeah…” wajah cantik itu kembali cemberut.
“Apa boleh buat kan? Katanya dia kecelakaan, tidak bisakah kamu memakluminya?”
“Aku masih cemburu Taeng, pacarku Yuri sejak dua tahun yang lalu sebelum aku berangkat ke San Fransisco sudah sering membuatku panas dengan dekat-dekat sama gadis itu, Yoona. Karena itu aku sengaja menghindarinya.”
“Hmm”
“……………..”
“……………..”
Dia memeluk boneka Hello Kittyku.
“Taeng, aku kangen sama Yuri…”
“Kalau begitu kenapa tidak menemuinya sekarang?”
“Tidak, aku sudah memutuskan tidak akan menemuinya sementara ini. Supaya dia jera dan gak akan dekat-dekat sama gadis lain!”
Gadis ini gengsian juga, pikirku.
“Kau mengerti kan Taeng? Aku melakukan ini supaya dia lebih menghargai perasaanku.”
“Ya ya”
Bukannya sikap yang seperti ini justru malah membikin hubungan tambah kacau ya?
“Karena itu kamu mau ya temani aku, Taeng?”
“Temani?”
“Jalan-jalan keliling kota, sudah lama aku gak jalan-jalan di Korea.”

**

Di taman.
“Dasar Yuri, dia merusak moodku saja…”
Bahkan setelah kita sampai disini pun dia masih menggerutu.
Hmm, aku punya ide.
“Jessica, apa warna kesukaanmu?”
“Pink, kenapa?”
Saat mendengar warna kesukaannya aku jadi teringat akan seorang gadis. Ada perasaan perih di hatiku tiap kali teringat sama Tiffany.
“Tunggu disini sebentar”
“Mau kemana?”
“Mau kesana sebentar”
“Jangan lama-lama ya”
“Iya”

Kira-kira dua menit kemudian aku kembali membawa dua buah cup es krim.
“Jreng, aku beliin kamu es krim nih”
“Oh Taeng, kamu benar-benar pengertian”
Kuberikan es krim rasa strawberry untuknya.
“Hehe, jadi begitu? Pantas kau tanya apa warna kesukaanku, Taeng kau benar-benar so sweet!”
“Huh, coba kalau Yuri juga seperti kamu, Taeng”
“A-ahaha, sudahlah makan saja, lupakan hal-hal yang tidak menyenangkan.”
“Kau benar, terima kasih buat es krimnya, Taeng.”
Dia memakannya dengan senang.
Saat melihat Jessica menikmati es krim yang kubeli.
Aku kembali teringat.
Bayangan akan kenangan hari itu kembali terlintas di otakku.
Membuat dadaku kian terasa perih.
Kenapa semua hal selalu mengingatkanku padanya?
Memang aku tidak mencoba untuk melupakannya tapi…
Bahkan saat Jessica berada di sampingku seperti ini aku masih saja…
“Taeng, kamu beli es krim rasa apa?”
Suaranya menyentakkanku kembali dari lamunanku.
“Rum… raisin…” bicaraku lambat-lamat seakan kesulitan berkata.
Tak sadar aku membeli es krim yang sama dengan yang hari itu…
“Boleh aku minta?”
Sebelum mengiyakan, Jessica sudah lebih dulu mencomot es krim dari sendok plastik yang kupegang.
“Hmm, enak, manis”
DEG
Tiffany!
Aku tidak dapat bersikap wajar lagi… ataupun menyembunyikan perasaanku…
Tak sadar aku terus memandangi gadis di sebelahku ini dengan mata penuh kerinduan.
“Tae-Taeng, mwo? kenapa kamu memandangku seperti itu?” Jessica memalingkan wajahnya, parasnya merona.
“…………….”
“Aku cuma teringat… seseorang yang dulu kucintai.”
“Aku tidak tahu… apa aku akan bisa bertemu dengannya lagi…”
Sampai sekarang aku tidak bisa berhenti memikirkan dirinya…
“…………….”
Tiba-tiba dia memegang tanganku.
“Ada aku”
“Jes…sica?”
“Kamu tidak sendirian…”
Jeda selama beberapa detik.
“Taeng…”
Ketika mataku bertemu dengan matanya. Hatiku terasa resah. Rasanya aku jadi susah bernafas.
Tatapan mata itu penuh dengan cinta… sampai aku jadi takut…
Cepat-cepat aku berdiri dari tempat dudukku.
“Pu-pulang yuk Jes! Sudah sore nih!”
Jadi akhirnya kami berdua pulang. Kuantar dia sampai ke rumah karena kebetulan searah, lalu baru pulang ke rumahku.
Saat itu aku merasa perlu melakukan itu untuk menghilangkan kecanggungan yang kurasakan.
Begitu sampai di rumah aku merasa bodoh.
Apa yang kamu pikirkan Taeyeon, Jessica kan sudah punya Yuri.
Jadi mana mungkin kan.
Ya, Jessica pasti hanya ingin menghiburku saja.
Pasti begitu.
Aish, sepertinya aku terlalu banyak berimajinasi.

_________________________________________________________________________________________

Aku melihat seseorang yang sangat familier duduk di salah satu meja. Sikapnya sangat anggun dan enak dilihat. Membuat semua mata tertuju padanya.
Aku tersenyum.
Tenyata dia benar datang.
Aku mengambilkan secangkir cappucino dan berjalan mendekat.
“Silakan, untuk tuan putri,” aku tersenyum nakal sambil meletakkan cappucino itu di atas mejanya.
“Ah Taeng, kamu bisa saja.”
“Aku tidak bohong, dari jauh kamu tampak seperti seorang putri. Taruhan pasti banyak namja yang mengejar-ngejar kamu,” ucapku tulus.
“Memang, tapi belum ada satupun dari mereka yang menarik hatiku,” Jessica meminum cappucinonya dengan perlahan.
“Ya aku tahu, soalnya hanya ada seseorang di hatimu,” aku tersenyum polos. “Oh ya, bagaimana hubunganmu dengannya? Kalian masih pacaran kan?”
Jessica meletakkan kembali cangkirnya di atas piring tatakan.
“……………kadang cinta bisa begitu rumit, Taeng…”
Aku mendengar sesuatu dalam suaranya, sesuatu yang tak kupahami.
“Kenapa? Kamu ada masalah sama pacarmu?”
“……………”
Ketika Jessica hampir membuka mulutnya, seorang pelanggan yang duduk tidak jauh dari tempatku berdiri memanggil.
“Mianhae Jessica, kalau mau cerita lain kali saja ya, aku harus kembali kerja.”
Aku meninggalkannya tanpa sempat berbicara panjang lebar lagi.

Saat sedang mencatat pesanan atau mengantarkan makanan, aku beberapa kali memergokinya sedang melihat ke arahku.
A-ahaha, dia memang bilang mau melihatku bekerja sih. Tapi aku tetap saja merasa dia terlalu banyak memandang ke arahku.
Kuharap bukan aku yang terlalu ge-er.
_________________________________________________________________________________________

Sore harinya kami pergi karaoke bertiga.
“Mau berapa jam nih?” tanya Hyoyeon.
“Dua jam saja, kalau kurang nanti tinggal tambah jamnya, ya kan Taeng?”
“Eh? Ne”
“Yuk Taeng, aku sudah gak sabar,” dia mendorongku dari belakang.

**

“Jessica, sekarang giliranmu”
“Ya”
Jessica meletakkan buku daftar lagu. Kemudian dia menjernihkan tenggorokannya. Hyoyeon menatapnya dengan antusias, seperti tidak sabar ingin segera mendengarnya.
Jessica bilang kalau dia suka menyanyi, jadi aku menduga suaranya pasti bagus.
Lalu dia mulai menyanyi.
Judulnya Almost.
Lirik lagunya bahasa inggris, sangat cocok untuknya yang lahir di Amerika.
“Jessica! Kamu memang cocok nyanyi inggris!” Hyoyeon bersorak.
Jessica tersenyum atas pujian Hyoyeon.
“Eh, ah…”
Mendadak aku jadi kikuk.
Kenapa…
Saat dia menyanyi…
Aku merasa Jessica seperti tengah menatapku…
Bola matanya yang coklat seolah mampu mengintai ke lekuk hatiku yang paling dalam.
Aku menunduk untuk menghindari tatapannya.
Mungkin itu hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan.
Tunggu, ini bukan pertama kalinya aku merasa dipandangi seperti ini kan?
“……………..”
Masa sih…
“Taeyeon, kamu mau nyanyi lagu apa?”
“A-a…”
Baru kusadari kalau ternyata aku sama sekali belum memilih lagu. Semua karena aku terlalu gugup.
“Dari tadi kamu belum nyanyi lho.”
“A-ahaha iya nih, aku bingung mau nyanyi lagu apa,” kataku sambil berpura-pura membolak-balik halaman buku daftar lagu. Padahal aku sama sekali tidak membaca judul-judul yang tertulis di setiap halamannya.
Akhirnya aku hanya mendengarnya sampai selesai bernyanyi.
Hmm, suaranya benar-benar indah…

“Ehehe, gimana suaraku Taeng?”
“Hmm… bagus”
“Bagus? Hanya itu saja?”
“Memang kamu berharap apa lagi? sudah dipuji juga.”
“Aish Taeng, setidaknya puji yang lebih tulus dong,” Jessica pura-pura merajuk.
“Sudah tulus kok”
“Taeyeon, sudah memutuskan mau nyanyi lagu apa?”
“Belum,” aku menggeleng.
“Kalau begitu Taeng, ayo kita duet bersama.”
“Du…” kata-kataku terputus.
Jessica memilih sebuah lagu lalu berdiri dan menarikku agar ikut berdiri.
Dia mengedipkan sebelah mata padaku. Tangannya yang menggenggam tanganku masih belum dilepasnya. Tidak, dia kelihatannya sama sekali tidak berniat melepaskannya.
Aku membaca judul lagunya.
Counting Kiss With You

Jessica menyanyikan bagian awal lagunya.
“Taeng, giliranmu”
Aku mendekatkan microphone ke mulutku dan mulai menyanyi.
Setelah beberapa detik menyanyi aku mulai terbawa.
Aku merasa sangat menikmatinya, sampai-sampai aku tidak merasa risih lagi. Dan aku bisa menatap Jessica kembali. Jessica tersenyum dengan amat manis.
“Hebat Taeyeon, Jessica, kalian sangat cocok berduet!”
“Gomawo,” kataku dan Jessica serempak sambil menundukkan kepala seperti sedang berhadapan dengan para penggemar.
Hyoyeon memainkan alat musik gemerincing yang berisik dan heboh sendiri. Kulihat Jessica mengerenyit mendengar suaranya yang memekakkan telinga.
Aku memberinya tatapan seperti mau berkata ‘apa kubilang’
Aku…
Hanya ada sebuah lagu yang ingin kunyanyikan…

_________________________________________________________________________________________

“Taeyeon, kamu sungguh-sungguh mau ke San Fransisco?”
“Ya, untuk itulah aku mengumpulkan uang selama ini.”
“Mau apa kamu tiba-tiba ke San Fransisco?”
Mendadak tangannya berhenti mengepak barangnya.
“Tiffany…” suaranya terdengar seperti gumaman.
“Eh?”
“Aniyo, setelah pulang nanti aku cerita deh,” dia melanjutkan memasukkan bajunya yang sudah dilipat ke dalam tas.
“Oh, oke, kamu sudah pamit ke Jessica?”
“Wae?”
“Jessica sering main kesini, nanti dia nyariin kamu.”
“Ahaha lebih baik jangan, kalau kubilang mau ke San Fransisco nanti dia malah mau ikut.”
“Aku juga sebenarnya mau ikut kalau ada uang. Padahal kalau kamu bilang, Jessica pasti akan dengan senang hati ikut denganmu. Bukannya lebih baik pergi berdua daripada sendirian?”
“Justru itulah, aku tidak mau merepotkannya. Kalau membawanya ikut bersamaku dia hanya akan terluka, kalau terjadi apa-apa dengannya, aku akan sedih…”
“??”
“Kali ini aku mau pergi sendirian.”
Taeyeon berpaling padaku. Semua barang-barang yang diperlukan sudah dikemasnya.
“Lain kali baru kita pergi sama-sama, Hyoyeon, kita bertiga hehe”
Saat itu Taeyeon tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Walau dalam hati sebenarnya aku merasakan keresahan yang tak dapat kujelaskan ketika melihatnya akan pergi hari itu. Tapi aku tak mau mencegahnya.
“Baiklah, hati-hati ya Taeyeon”
“Ya, Hyoyeon”
Kami berpelukan sesaat.
Tapi impian pergi sama-sama itu tidak akan pernah terwujud karena dalam perjalanan menuju bandara Taeyeon mengalami kecelakaan.
Begitu mendengar berita kecelakaan Taeyeon, aku dan Jessica saat itu juga langsung menuju ke rumah sakit tempat dia dirawat.
Bohong, aku tidak mau percaya ini!
Itu kalimat pertama yang terlintas di otakku ketika melihat dia koma di ruang rawat.
“Taeng… kenapa… kamu jadi begini…?”
Jessica berbalik menatapku tajam.
“Hyoyeon! Kenapa Taeng bisa kecelakaan?!”
“Aa… sepertinya dia ditabrak bis saat perjalanan menuju bandara. Itu berita yang kudengar…”
“Apa? Ke bandara?”
“Taeyeon… bermaksud pergi ke San Fransisco…”
Tatapannya kembali tertuju pada Taeyeon. Matanya berkilat-kilat penuh amarah, tapi juga penuh dengan air mata yang ditahan-tahan.
“Kenapa kamu tidak mengajakku Taeng?!”
“Padahal kalau kamu mengajakku mungkin…!! Aku bisa melindungimu saat kecelakaan itu terjadi atau setidaknya kamu tidak perlu berbaring seperti ini sendirian!!”
“Jessica…”
Aku sedikit kaget dengan kata-katanya.
“Kenapa Taeng?! Jawab kenapa?! Jangan hanya tidur saja!!” Jessica berteriak-teriak histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Taeyeon. Belum pernah aku melihat dia emosional seperti ini.
“Jessica, sudah, hentikan!” aku memegangi pundaknya.
Jessica menghentikan usahanya yang sia-sia. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat.
Kemudian tangisnya meledak dan dia menangis tersedu-sedu di bahuku.

“Lain kali baru kita pergi sama-sama, Hyoyeon, kita bertiga hehe”
Kata-katanya saat itu menjadi kalimat terakhir yang sangat berkesan di otakku.
Aku tidak pernah bisa melupakannya. Kejadian saat itu sering terbawa mimpi sampai beberapa minggu kemudian.
Lalu aku memikirkan kata-kata Jessica.
Apakah kalau kami ikut malapetaka ini tidak akan terjadi?
Tidak, tidak ada gunanya aku memikirkan itu sekarang. Sebab semuanya sudah terlambat.

Saat ini aku berada di rumah sakit bersama Jessica. Melakukan kegiatan rutin kami, menjenguk Taeyeon.
Kali ini aku membawa buku harian Taeyeon, aku sengaja membawanya agar tidak bosan. Setidaknya aku punya sesuatu untuk dibaca.
Halaman terakhir yang kubaca berisi begini.

Akhirnya…
Sudah terkumpul cukup uang
Dengan begini aku bisa menyusulnya…
Aku harus berterima kasih sekali lagi sama Jessica, dia sudah membantuku memenangkan lomba nyanyi. Berkat dia aku bisa ke San Fransisco sekarang.
Aku harus ingat untuk membelikannya oleh-oleh sesampai disana.
…………………
Kenapa rasanya jadi sedih?
Aku gak tahu kenapa tapi kalau suatu saat aku harus pergi, aku harap mereka semua, Tiffany, Jessica dan Hyoyeon agar tetap bahagia…

Dan yang tertulis di bagian paling bawah halaman.

Tiffany…
Dimanapun kamu berada…
Aku mencintaimu…

8 Maret 2005
K.T

Halaman-halaman berikutnya hanya berupa lembaran-lembaran kosong.
Sepertinya ini yang terakhir ditulis Taeyeon sebelum kecelakaannya.
Dan aku agak curiga dengan kalimat yang ditulisnya.
Mataku mulai berkaca-kaca.
Mungkinkah Taeyeon sudah punya firasat… kalau dia akan kecelakaan?
Aku masih ingat sekali bagaimana kami merayakan ulang tahunnya tujuh tahun yang lalu. Pesta berlangsung dengan penuh air mata. Aku dan Jessica.
Dan sekarang sudah tanggal satu Mei, cepat sekali waktu berlalu…
Aku mengusap air mata yang hampir menetes keluar.
Kulihat Jessica masih duduk di samping Taeyeon. Dia tidak memperhatikanku, matanya senantiasa hanya tertuju pada seseorang.
Setia sekali…

Aku melihat Taeyeon sekali lagi.
Keadaannya sungguh memilukan.
Melihat selang bantu pernafasan di hidungnya. Kantong urine yang dihubungkan dengan kateter. Di sampingnya terdapat monitor yang menunjukkan tanda-tanda vital tubuhnya. Menimbulkan bunyi monoton yang menegangkan bagi orang awam yang melihatnya.
Tubuhnya juga tampak semakin kurus.
Diam-diam aku merasa miris.
Padahal dulu dia lebih tinggi dariku, tapi sekarang tampak jelas tinggi badanku sudah melebihinya…
Ini karena selama tujuh tahun ini dia terus berbaring di rumah sakit…
Aku mendekati Jessica.
“Jessica… bagaimana kalau sudah hentikan saja?”
“…!”
Ini pasti adalah kalimat yang paling ditakuti Jessica, tapi aku tetap harus mengatakannya.
“Taeyeon… sudah tujuh tahun… sudah tidak mungkin terselamatkan… mungkin sudah waktunya…”
“…………….” tangan Jessica meremas seprai dengan sangat erat sampai ujung jarinya memutih.
“…setelah orang tuamu tiada, kau memakai warisan dan tabunganmu serta uang dari hasil kerja kerasmu sendiri demi Taeyeon…” Kupeluk tubuhnya dari belakang. “Terima kasih… karena telah mencintai kakak selama ini…”
Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar dalam pelukanku.
“Biarkan dia beristirahat…”
“…tidak… aku tidak mau…”
“Jessica… kenyataan memang menyakitkan tapi kita harus menerimanya…”
Jessica melepaskan pelukanku dengan kasar. Dan ketika dia balas memandangku saat itu… itu adalah tatapan paling sedih yang tidak akan mungkin kulupakan seumur hidupku.
“Taeng…!! Taeng bilang padaku kalau dia belum mau mati!!”
“Jess…”
“Taeng datang dalam mimpiku!! Dia bilang dia sedang menunggu orang yang dicintainya, makanya dia belum mau mati!!”

“Taeng…?”
Taeyeon tersenyum lembut pada Jessica.
“Ya, ini aku.”
“A-ah…”
Air mata Jessica meleleh. Taeyeon memeluknya dan berbisik di telinganya.
“Maaf ya Jessica…”
“Aku tahu ini akan merepotkanmu, tapi maukah kau mengabulkan permintaan terakhirku?”
Jessica menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan.
“Permintaan terakhirku adalah… tolong biarkan aku tetap hidup.”
“…!!”
“Ada seseorang yang sangat kucintai… dan aku akan terus menunggunya walau bertahun-tahun lamanya…”
“Tapi… bagaimana kalau dia tidak datang…?”
“Aku percaya dia pasti akan datang… karena dia adalah belahan jiwaku…”
“Kenapa kamu seyakin itu…”
Jessica melepas pelukannya dan memandang ke dalam mata Taeyeon. Matanya berkaca-kaca.
“Kenapa bukan aku Taeng…?”
“Padahal bertahun-tahun lamanya aku selalu berada di sisimu… tidak pernah meninggalkanmu… tidak pernah melukaimu…”
“Aku bahkan merelakan segalanya demi kamu…”
“Kekasih yang begitu mencintaiku… juga kekayaanku…”
Taeyeon hanya tersenyum pedih melihat Jessica yang begitu mencintainya. Taeyeon tahu Jessica telah menghabiskan warisan orang tuanya demi membayar biaya perawatannya. Jessica bekerja keras tak kenal lelah demi membiayai biaya perawatannya yang mahal. Dia juga mendapat image buruk gara-gara pekerjaannya itu. Taeyeon juga tahu gadis itu kerap kali merasakan kesepian yang mendalam karenanya. Pengorbanan gadis itu nyata. Dia benar-benar mencintainya.
Dan hatinya terasa sangat sakit melihat pengorbanan gadis yang mencintainya.
“Andai… aku lebih dulu bertemu denganmu…”
“Jessica…”
“Kamu pasti akan jatuh cinta padaku… dan kamu tidak akan perlu semenderita ini karena dia meninggalkanmu…”
“Mianhae… walau aku bertemu denganmu lebih dulu pun aku pasti akan tetap jatuh cinta padanya…”
Taeyeon melihat Jessica terluka mendengar kata-katanya.
“Kenapa kamu bisa begitu yakin…”
“Kan sudah kubilang…”
Taeyeon menyentuh dadanya.
“Kalau dia adalah belahan jiwaku… aku sudah merasakannya semenjak aku menggenggam tangannya untuk yang pertama kalinya. Selamanya cintaku hanya untuknya seorang…”
“Jangan berkata begitu…”
Jessica meremas pundak Taeyeon. Kepalanya tertunduk dalam.
“Katakan saja kalau kamu bertemu denganku lebih dulu kau akan jatuh cinta padaku…”
“Jessica…”
“Kumohon Taeng…”
“Tapi aku tetap akan mencintainya…”
“Meski dia sudah melukaimu…?”
“Bukan salahnya kalau aku sampai terluka… dia tidak memaksaku untuk mencintainya…”
“Tapi aku tidak mau melihat kamu terluka karenanya!”
“Jessica…”
“Aku benci… dia yang sudah melukaimu…” katanya dengan suara gemetar menahan emosi. Air matanya masih membanjir keluar.
Taeyeon menyeka air mata Jessica. Taeyeon menyesal karena hanya dalam mimpinya dia dapat melakukan hal seperti ini. Dalam dunia nyata dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengawasi Jessica menangis karena dirinya.
“Mianhae… aku selalu membuatmu menangis…”
Jessica menggeleng.
“Bukan salahmu aku terluka… kamu tidak memaksaku untuk mencintaimu…”
“Aku tidak pantas untukmu… cintailah orang yang lebih baik dariku…”
Jessica menggeleng sekali lagi.
“Di dalam hatiku… hanya ada kamu Taeng… aku tidak tahu… mungkin aku tidak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi…”
“Kalau begitu maukah kau memaafkanku?”
“Aku selalu memaafkanmu Taeng… kapan pun… dimanapun…”
“Jessica…”
Taeyeon kembali memeluk Jessica.
“Selama 23 tahun dalam hidupku kamu adalah orang yang paling berharga kedua setelah dirinya…”
“Berkat kamu… sampai sekarang aku masih bisa hidup…”
“Terima kasih… karena telah hadir dalam hidupku…”
“Terima kasih… karena telah mencintaiku…”
“Saranghae Taeng… aku tidak akan pernah menyesal telah jatuh cinta padamu…”
“Ya…”
Perlahan-lahan tubuh Taeyeon lenyap di hadapannya.
“Taeng! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!”
“Jessica, kamu gak usah khawatir…”
“Karena dimanapun kamu berada aku akan selalu menjagamu dari atas sana…”
“Semoga kamu bahagia…”
Seteah itu Jessica terbangun dari mimpinya.

Air mata terus berjatuhan dari matanya yang sendu. Parasnya menyiratkan kesakitan yang amat sangat.
Jessica tidak mungkin berbohong.
Benarkah apa yang dikatakannya? Taeyeon menunggu orang yang dicintainya?
Tapi siapa orang yang dicintainya… kalau tahu aku kan bisa membawanya kemari…
Tunggu…
Mendadak aku teringat buku itu.
Buku yang saat ini berada di tanganku.
“Tiffany…”
Baru aku ingat…
Saat itu aku mendengar nama Tiffany dari Taeyeon.
Karena itu aku merasa seperti pernah mendengar namanya!
Aku lupa karena saat itu aku menganggapnya sambil lalu… merasa itu bukan hal yang penting. Apalagi setelah mendengar kecelakaan Taeyeon. Perhatianku tersita seluruhnya sampai aku melupakannya.
“Apa?”
“Orang yang dicintai Taeyeon. Namanya Tiffany.”
“Kenapa kamu bisa tahu? Taeyeon pernah cerita ke kamu?”
Aku menggeleng, “Aku menemukan buku ini di dalam lemari pakaiannya. Disana dia menulis tentang orang yang dicintainya… dan didalamnya ada ini.”
Aku menunjukkan foto yang sebelumnya terselip di salah satu halaman buku itu.
“!!” aku menangkap keterkejutan di matanya saat aku menunjukkan foto itu.
“Aku… kenal Tiffany…”
“Mwo?!”
“Dia adalah sahabatku di San Fransisco… dulu kami sering hang out bersama…”
Tidak bisa kupercaya. Apa dunia memang sesempit itu?
“Aku punya nomor Hpnya,” Jessica mengeluarkan ponselnya dari saku.
“!! Kalau begitu kita harus segera memanggilnya kemari!!”
Jessica mengangguk lalu menelepon nomor Tiffany.
Akhirnya…
Sekarang ini Jessica sedang menelpon orang yang dicintai Taeyeon…
Kumohon semoga dia belum mengganti nomornya, batinku.
Setelah empat kali panggilan terdengar jawaban. Selama itu tak sadar aku menahan nafasku. Jantungku berdebar keras.
“Ya halo?”
“Halo Tiffany? Ini aku Jessica”
“Jessica? Hmm……… Sica?! Ini benar kamu Sica?!”
“Ya”
“Wah sudah lama sekali ya! Gimana kabarmu?” Tiffany meninggikan suaranya, tampaknya dia merasa senang dengan kejutan yang tidak disangkanya.
“Baik”
“Kapan kamu kembali lagi ke San Fransisco? Aku sudah gak sabar untuk bertemu denganmu, kita bisa saling berbagi cerita.”
“Tiffany, sekarang… ada sesuatu yang penting yang harus kubicarakan denganmu.”
Jessica memberi jeda sesaat. Dan tampaknya Tiffany bisa merasakan suara Jessica sarat dengan nada serius.
“Tiffany, kamu masih ingat Taeyeon?”
DEG
“A…apa?”
Tak sadar Tiffany meremas dadanya.
Sebuah nama yang sudah bertahun-tahun tidak di dengarnya. Yang sampai sekarang masih selalu meninggalkan sebersit kerinduan yang mendalam di hatinya.
“Taeyeon… koma…”
“…eh?”
Tiffany tidak mempercayai pendengarannya. Jessica sendiri berusaha menahan diri agar tetap tenang. Bagaimanapun dia harus menyampaikannya pada Tiffany. Demi Taeyeon…
“7 tahun yang lalu… dia kecelakaan… saat dalam perjalanan ke bandara untuk menemuimu…” katanya lirih.
“Bo…hong…”
“Ini sungguh-sungguh.”
Walau dia tahu sebenarnya tidak perlu menjelaskan, karena Tiffany tidak menganggap dirinya sedang bercanda. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan, sama seperti dirinya tujuh tahun yang lalu.
“Jadi… Taeyeon kecelakaan… semua salahku?” dia terdengar sudah mau menangis di telepon.
“Ini bukan salah siapa-siapa.”
“Sampai sekarang…” Jessica berhenti sebentar untuk menahan tangis. Dadanya terasa sangat sesak. “Dia masih menunggumu…”
“Tidak mungkin…” potong Tiffany.
“Disini… di ruang perawatan…”
“a…aaa…” suaranya bergetar.
Jessica menarik nafas. Hidungnya tersumbat. Matanya merah.
“Kamu pernah cerita ke aku kan… kalau waktu kamu ke Korea ada seseorang yang menyatakan cinta padamu lalu kau tolak. Waktu itu kamu gak bilang siapa orangnya… aku kaget sekali waktu tahu bahwa orang yang kau tolak adalah Taeyeon…”
Saat melihat ekspresi Jessica, aku yakin sekali seandainya Tiffany ada disini sekarang, dia pasti akan menamparnya.
“Setelah mengetahui ini… apa kamu masih tetap tidak mau menemuinya?”
“A…aku akan terbang ke Korea sekarang juga!!” tukas Tiffany.
Lalu mereka sama-sama menutup ponselnya.
Jessica menyeka air matanya.
Aku tahu dia sedang patah hati.
Dan aku memujinya dalam hati, karena meskipun patah hati dia tetap mau melakukan ini demi Taeyeon.
Sekarang kita tinggal menunggu Tiffany…
Tapi entah kenapa aku mempunyai firasat buruk tentang ini.

_________________________________________________________________________________________

Dan ternyata benar firasatku. Siang itu saat kami sedang berjalan menuju kantin. Rumah sakit menjadi ribut dengan dibawanya seorang pasien UGD ke rumah sakit.
Dan orang yang dibawa kemari… adalah Tiffany.
Kami berdua sangat kaget ketika mendengar Tiffany mengalami kecelakaan tidak jauh dari rumah sakit ini. Dia dilarikan ke unit gawat darurat untuk perawatan intensif karena patah tulang dan cedera lainnya.
Kami tidak punya pilihan lain selain menunggunya.

Beberapa jam berlalu.
Karena cemas aku tidak bisa duduk dengan tenang.
Dari tadi aku terus berjalan mondar-mandir sambil menanti kalau kalau pintu dibuka.
“Ini salahku…” kata Jessica lirih.
“Apa?”
“Aku bermaksud mempertemukan mereka tapi malah jadi begini… aku jadi merasa bersalah sama Taeng…”
Aku menyentuh pundaknya.
“Bukan salahmu Jessica, kamu hanya memikirkan Taeyeon… kamu kan tidak tahu akan jadi begini…”
Jessica menepis tanganku dengan kasar sampai aku sendiri kaget.
“Jangan mencoba untuk menghiburku, kenyataan memang akunya yang salah,” dia menatapku dengan penuh kemarahan, tapi aku melihat keperihan yang terpancar di bola matanya.
Pada saat itu dokter keluar. Aku segera menghampirinya.
“Bagaimana keadaannya dok?”
Yang keluar dari mulutnya malah kata-kata yang tidak ingin kudengar.
“Kondisinya tidak juga membaik, tidak ada yang bisa dilakukan lagi…”
Saat mendengar itu, jantungku serasa mau berhenti.
Tidak… berarti Tiffany akan…
“Bolehkah… kami menjenguknya?”
“Silakan”
Kami berdua berjalan masuk ke dalam ruang perawatannya.
Jessica…
Wajahnya pucat. Rahangnya terkatup rapat. Matanya bersorot cemas. Seluruh kemarahannya sirna. Yang ada sekarang hanyalah simpati ketika melihat keadaan Tiffany.
Kami mendekatinya.
“Tiffany…” bisik Jessica getir.
Dia membuka matanya dan menatap kami dengan penuh iba.
“Jessica… jebal… tolong pertemukan aku dengan Taeyeon…”
“Mana mungkin! Kamu harus pulih dulu!”
“……aku tahu… aku gak akan bisa diselamatkan…”
“!!”
“Karena itu…….tolong… ini permintaan terakhirku…” katanya memelas.
“Jangan bicara seperti itu!!”
Tiffany mengerenyit kesakitan sambil meremas dadanya.
“….sakit…….”
“?!”
“Jessica…” pintanya sekali lagi.
Dia kelihatan sungguh kesakitan.
Jessica menggigit bibirnya, tangannya mengepal.
“Hyoyeon, kita minta Tiffany dipindah ke ruangan yang sama dengan Taeyeon.”
“Apa?”
“Memangnya dalam situasi seperti ini apalagi yang harus kita lakukan?!”
Aku tidak mampu menjawabnya, lalu aku melihat Tiffany sedang memandangku dengan tatapan yang membuat hatiku sakit.
“Kumohon… aku harus menemuinya… kalau tidak aku akan menyesal…”
Tiffany… gadis yang selama ini ditunggu Taeyeon.
Setelah semua ini terjadi, tidak ada gunanya menyesalinya.
Bagaimanapun mereka harus dipertemukan kembali.
“Baiklah”

**

Kemudian Tiffany dipindah ke ruangan yang sama dengan Taeyeon. Tempat tidur Tiffany di sebelah kiri Taeyeon.
Aku menyentuh punggung Jessica.
“Jessica… kita biarkan mereka berdua…”
“…………….”
Kami berjalan keluar untuk memberikan waktu untuk mereka berdua.

Third Person’s POV

Mata Tiffany berkaca-kaca melihat Taeyeon.
“Taeyeon… kau…”
“Tujuh tahun… tujuh tahun kau menungguku…”
Tiffany mengerahkan segenap tenaganya untuk meraih tangan Taeyeon. Ketika sudah berhasil menyentuhnya, Tiffany langsung meremas tangan Taeyeon. Walau genggamannya lemah.
“Mianhae waktu itu aku tidak membalas perasaanmu… aku cuma takut merusak dirimu…”
“Dan… aku malah dengan bodohnya menghilang dari hidupmu… padahal aku tidak pernah bisa berhenti memikirkanmu…”
“Apapun yang kulakukan setiap hari… sebanyak apapun jadwal yang kubuat… jadi sama sekali gak menyenangkan…”
“Pada akhirnya… aku malah menyakiti kita berdua…” setetes air mata mengalir dari mata Tiffany.
“Maafkan aku… kupikir kamu sekarang membenciku… karena itu aku tak pernah bisa mengumpulkan keberanian untuk kembali menemuimu…”
“Maafkan aku yang bodoh ini Taeyeon… mungkin semua sudah terlambat… tapi aku ingin memperbaiki semuanya…”
“Kamu masih mau menerimaku kan…? apakah perasaanmu masih tetap sama?”
Tiffany menggigit bibir dan menangis.
Betapapun dia menginginkan yeoja di sampingnya untuk menjawab, itu sudah tidak mungkin lagi. Yang ada hanya penyesalan yang merambat di hatinya.
“Andai hari itu aku tidak menolakmu…”
“……………..”
“Ini pasti hukuman… tapi kau tidak sepantasnya dihukum seperti ini… akulah yang lebih pantas dihukum…”
“Saranghae Taeyeon… mulai sekarang aku akan selalu berada di sisimu…”
Setelah mengatakan itu Tiffany merasa lebih damai.

**



Hyoyeon’s POV

Beberapa menit kemudian kami berdua masuk kembali ke dalam bersama seorang perawat dan dokter.
Saat itu perawat yang memeriksa mengatakan kalau Taeyeon sudah tidak bernafas lagi, Jessica langsung menangis tersedu-sedu dalam pelukanku.
“Taeyeon…”
Aku tidak bisa menangis, karena semua tangisku sudah ditumpahkan oleh Jessica.
Bahuku sudah basah oleh tangisnya, dan tangisnya masih terus berlanjut.
Tapi yang membuat kami semua terkejut beberapa detik berikutnya adalah… di layar monitor jantung… jantungnya masih terlihat berdetak…
“Kenapa bisa begini?”
Bahkan dokter pun tidak bisa memberi penjelasan tentang fenomena aneh ini.
“Mungkin Taeng… ‘mengambil’ detak jantung Tiffany… melalui tangan Tiffany yang digenggamnya…” kata Jessica di sela-sela tangisnya.
Aku terkejut mendengar Jessica berkata seperti itu, tapi mungkin dia benar karena satu jam kemudian Tiffany menyusul kepergian Taeyeon.
Taeyeon pernah bilang bahwa Tiffany adalah gadis yang layak ditunggu, dan menurutku Taeyeon menunggu satu jam untuk Tiffany, memegang pintu (surga) untuknya.
Wajah Tiffany terlihat bahagia pada saat-saat terakhirnya.

Tak sadar air mataku meleleh melihat keduanya.
Jadi begitu…
Kalau bukan karena gadis ini Taeyeon pasti sudah meninggalkan dunia sejak bertahun-tahun yang lalu.
Kesetiaannya menunggu gadis ini yang membuat dirinya terus bertahan…

Kini mereka berdua telah menutup mata.
Aku merasa lemas. Buku yang kupegang terselip jatuh dari tanganku. Buku itu kemudian menimbulkan bunyi saat bertubrukan dengan permukaan lantai, dan terbuka pada halaman terakhir.
Sebuah syair. Mataku membaca satu persatu kalimat itu. Mendadak aku jadi teringat akan lagu yang Taeyeon nyanyikan saat kami sedang karaoke bersama waktu itu.

Kenapa aku jatuh cinta padamu.
Bagaimana bisa rasanya sesakit ini
Belum pernah sebelumnya aku begitu menginginkan seseorang seperti ini
Jika kubilang aku kangen sama kamu ribuan kali, apakah perasaanku akan tersampaikan?
Jika aku mencoba untuk menangis dan menyibukkan diri, suatu hari akankah kamu sadar akan perasaanku?

Haruskah kucoba membenci namamu puluhan ribu kali
Haruskah aku hanya menghitung kebencian.
Meskipun cinta ini sudah terlanjur tumbuh
Karena kamu bukan aku, kamu mungkin tidak akan merasakan apa yang kurasakan
Ya, akulah yang menyukaimu melebihi kamu menyukaiku

Walaupun perasaanku terluka berkali-kali, aku lebih suka tersenyum meski hanya sekali.
Karena aku bahagia dengan hanya berada di sisimu.
Aku tidak pernah tidak suka walau sekalipun.
Seolah aku bisa melakukan apapun yang kamu minta

Walaupun harus menunggu ribuan tahun, aku masih ingin bertemu denganmu
Satu hari, satu bulan, terus berlalu
Walaupun tahu kamu tidak akan datang, aku tidak bisa melupakanmu
Terus menantimu… sampai aku ketiduran

Kapan aku akan bisa bertemu denganmu
Kapan aku akan bisa membuang semua keinginan ini
Karena aku ingin tahu semua hal tentangmu
Sejak kapan perasaan ini tinggal di dalamku
Perasaan ini… lama-lama menjadi duri yang tidak bisa kusingkirkan.

Aku hanya menyimpan perasaanku untukmu dan tidak akan kuberikan pada siapa-siapa.
Bagiku hanya ada kamu.
Aku akan terus menanti… dan menanti…

K.T

_________________________________________________________________________________________

Aku melihat ponsel milik Tiffany yang ditemukan tidak rusak. Di layar hpnya aku menemukan foto Tiffany dan Taeyeon sebagai wallpapernya. Disana keduanya terlihat sangat bahagia, dengan latar belakang taman hiburan.

Syukurlah Taeyeon… ternyata kamu memang tidak bertepuk sebelah tangan…

_________________________________________________________________________________________

Epilogue

Jessica memberikan surat berhenti kerja di klub malamnya.
“Kamu sungguh-sungguh akan berhenti?” tanya pemilik klub itu kecewa.
“Ya”
“Sayang… padahal kamu punya potensi menjadi ratu nyanyi di klub ini.”
“Terima kasih untuk selama ini… kalau diperbolehkan aku ingin menyanyi untuk yang terakhir kalinya?”
“Baiklah”

**

Kemudian di atas panggung Jessica menyatakan akan berhenti menyanyi dan lagu yang akan dia nyanyikan sekarang adalah lagu terakhirnya di klub malam ini.
Jessica menyanyi lagu Because Tears are Overflowing.

Saat menyanyi dengan segenap hatinya, dia tidak menyadari ada seseorang yang sedang menontonnya.
Dari mendengar suaranya dia bisa tahu Jessica sedang sangat terluka.
Selesai menyanyi Jessica membungkukkan badannya dan berjalan kembali ke belakang panggung untuk berganti baju dan menerima gajinya.

**

Jessica merasa kesal. Ketika keluar dari klub malam ada beberapa namja yang menganggunya.
“Nona, dengar-dengar malam ini kamu berhenti nyanyi di klub malam ini ya?”
“Wah, padahal alasan aku datang ke klub malam ini tiap malam hanya untuk mendengar suaramu lho”
“Sebagai perpisahan gimana kalau kita bersenang-senang sedikit saja.”
“Kau harus layani pelangganmu dengan baik, nona,” salah satu dari namja itu menarik tangan Jessica.
“Lepaskan!”
BUK
“Orang rendahan seperti kalian tidak pantas jadi pacarnya!”
“Yu…ri?” tanya Jessica tidak percaya.
“Jangan ikut campur, jelek!”
Namja itu memukul Yuri.
Yuri membentur tembok di sebelah.
“Akhh……..”
Ujung bibirnya berdarah terkena pukulan barusan. Punggungnya juga terasa sakit akibat benturan.
Jessica ketakutan melihat Yuri yang tidak berdaya.
“Nah, sekarang tidak ada penganggu lagi, ayo ikut kami dengan tenang.”
“Kalau tidak kami akan menggunakan kekerasan.”
“Tidak… tidak mau…”
“Jangan melawan”
“Kamu tidak mau kan bernasib seperti gadis barusan.”
“TAEEEENNNNGGGGGGGGGG!!!!!!!!!!!!!” jerit Jessica sekuat tenaga.
Mendadak mereka jadi membeku.
“Yah… entah kenapa perasaanku jadi gak enak.”
“Aku juga, jadi merinding…”
“Cabut saja yuk”
Jessica menarik nafas lega melihat ketiga namja itu pergi.
“………………”
“Taeng? Kamu menyelamatkanku?”
Benar juga…
Aku mengerti sekarang.
Walaupun aku bertepuk sebelah tangan, tapi aku memiliki hubungan yang tak akan tergantikan dengannya…

Jessica menghampiri Yuri.
“Heh… padahal aku bermaksud menolong tapi malah sama sekali gak menolong… benar-benar payah…” Yuri menegakkan tubuhnya. Punggung tangannya mengusap bibirnya yang berdarah.
“Kenapa kamu ada disini?”
Sesaat Yuri jadi terdiam. Dia mengepalkan tinjunya.
“Aku kesini… untuk menontonmu menyanyi…”
“Kamu… menontonku?” Jessica menaikkan sebelah alisnya. “Wae?”
“Aku ingin kita kembali… seperti dulu…”
Jessica tertegun mendengar jawaban Yuri.
“Aku sungguh-sungguh. Aku tahu aku memang sudah keterlaluan, tapi aku harap kamu mau memaafkanku dan menerimaku sekali lagi.”
Yuri membungkukkan badan.
“Aku janji aku tidak akan dekat-dekat gadis lain lagi…”
“………………”
“………………”
“Maaf Yuri, aku belum bisa melupakan Taeng…”
“Tidak apa-apa, akan terus kutunggu… sampai kamu bisa melupakannya.”
“Aku tidak tahu… apa aku akan bisa jatuh cinta lagi…”
“Tapi dulu kamu pernah mencintaiku, aku percaya masih ada harapan kamu akan kembali menyukaiku…”
“………….jika kamu tidak keberatan dengan itu…”
“Aku tidak keberatan, karena aku masih sayang sama kamu Sica…”
Yuri meraih Jessica ke dalam pelukannya.
“Kamu boleh menangis padaku. Kamu boleh bergantung padaku. Karena mulai dari sekarang sampai seterusnya aku akan selalu berada di sisimu… memberi sandaran untukmu di saat kamu memerlukannya…”
“Walau hatiku hanya untuk orang lain?”
“Ne… bila ini yang harus kutebus karena dulu pernah menyakitimu, maka aku tak keberatan dengan ini…”
Jessica membiarkan dirinya terhanyut dalam pelukan Yuri. Dia diam-diam menangis.

Begitu… jadi begitu…
Terima kasih Taeng, tapi aku baik-baik saja, kamu tidak usah mengkhawatirkanku lagi.
Karena mulai sekarang aku akan berjalan untuk meraih kebahagiaanku, aku tidak sendiri, ada Yuri di sampingku.
Karena itu kali ini aku merasa aku bisa mengucapkannya dengan tulus.
Semoga kamu berbahagia dengan Tiffany disana, Taeng.
Saat itu angin bertiup dan Jessica merasa bisa mendengar suara Taeyeon.
Ya, kamu juga harus bahagia Jessica…
______________________________________________________________________________________

Suatu hari di kampus.
“Yah Hyoyeon, kau harus dengar ini”
“Apa?”
“Gara-gara selama seminggu aku mengikuti cara makan Sooyoung, berat badanku jadi naik lima kilo!”
“Bagus kan? Kalian kelihatan akrab”
“Apanya yang bagus!”
“Sun Kyu, walau kamu gendut aku tetap suka kamu kok, tenang saja”
“Babo, aku gak mau jadi gendut!”
“Dan lagi Hyoyeon, kenapa dia bisa sekurus itu walau sudah makan sehari tujuh kali?! Kubilang tubuhnya pasti tidak normal!”
“Ahaha, tubuhku ini spesial, Sun Kyu, bilang saja kalau kamu sirik”
“Aku memang sirik! Dan jangan panggil aku dengan nama itu!”
“Aish, Sun Kyu galak, nanti cepat tua lho”
Pletak!
“Aduh Sunny, aku jadi amnesia nih gara-gara dipukul kamu, ottoke?!”
“Nah kamu masih menyebut namaku dengan benar berarti kamu baik-baik saja!”
“Uh Sunny, kamu galak amat… gak sayang sama pacarmu ini ya?”
“Siapa yang pacar, weekkkk”
“Aish, masih saja jual mahal, Hyoyeon aku harus gimana?”
“Tahu ah”
Aku merasa lega.
Sunny dan Sooyoung tampaknya sehat-sehat saja dan masih bertengkar seperti biasanya.
Sedangkan dua gadis yang dulu dekat sama Yuri, Yoona dan Seohyun, entah kenapa mereka berdua malah jadi dekat dan terlihat sering mengobrol bersama.
_______________________________________________________________________________________

Begitu terbangun aku langsung membuka jendela kamarku.
Pemandangan langit biru dan awan-awan putih langsung menyambutku.
Ah, benar-benar cuaca yang cerah.
“Selamat pagi dunia.”
Aku sudah memutuskan
Betapapun menyakitkannya, masa lalu adalah masa lalu.
Mulai sekarang aku akan menatap ke masa depan.
Kemudian aku melihat buku Gidarida milik Taeyeon tergeletak di atas mejaku.
Aku punya ide.
Aku menarik mundur kursi dan duduk. Aku mengambil pulpen dan membuka buku Gidarida Taeyeon, lalu mulai menulis di halaman kosong.

Kim Taeyeon, gadis yang bercita-cita ingin menjadi penyanyi… suatu hari dia dipertemukan dengan gadis bernama Tiffany Hwang. Mereka tidak saling mengenal, tapi mereka dengan cepat menjadi akrab. Mereka melalui hari-hari yang panjang dan keras sebagai trainee. Beberapa kali Taeyeon mencoba melarikan diri karena stres, tapi dia bisa melalui semuanya karena ada Tiffany yang tidak pernah meninggalkan sisinya. Bersama, mereka berjuang untuk meraih cita-cita mereka menjadi girlband top bersama ketujuh temannya.

Aku tersenyum dan membaca ulang plot ceritaku.
Ya, kurasa begini bagus.
Aku menulis kelanjutan kisah cinta mereka supaya mereka berdua bisa bahagia disana…

*~Fin~*

Advertisements

Comments on: "Gidarida (Part 2 – End)" (70)

  1. andro_sone said:

    Sumpah thor, keren banget… akhirnya, taeny b’satu walaupun harus menunggu selama b’tahun2…

  2. Tuhkan mewek lagi baca ulang di chapter akhir..>,<..

  3. Mnyentuh bnget lah! Pa lghee,, saat tiffany mnyusul taeng!
    Lnjutkan,,,

  4. Annyeong,,,,
    Aku coment nya d sni aj,,,
    Gidarida kereen,nyentuh bnget deh,,ahh bneran terharuuu,,
    Gak tau mau coment apa lgi,,,,,,,,
    Daebakk

  5. meneteskan air mata ni membacanya. kenapa bisa sesedih ini ceritanya???
    ahhh.. so sweet!!!!

  6. Tissueeeee…..

    Udah 3 FF di blog ini yg buat aku meneteskan air mata..
    1. Soshi Bond Seohyun n 8 angels
    2. If there is no tomorrow
    dan yg ketiga ini….

  7. viosone said:

    Makasih yaa thor uda mau dipublish lgi hehe^^
    Ceritanya keren thor,ngena banget.. :’) dibaca berkali-kali tetap aja bikin nangis ._.v

    Ohiya saya reader lama thor 😀 tpi bru mulai comment.. Mian krna selama ini menjadi silent reader >< wkwkwk

  8. kyutaesarang said:

    chingu sedih bgt..taeng setia bgt… 😦

  9. Huaaaaaa sedihhhh keren thor crtanya huaaaaaaaa T.T

  10. keren thor. udah berkaca2 mataku ini thor. klo aja aku lagi gak di kantor. pasti udh mewek aku thor. ternyata firasatku bener, kecelakaan taeyeon ada hubungannya ama tiffany. tapi gak nyangka klo ceritanya bakalan tragis begini

  11. FanyTastic said:

    di bikin film pasti keren bgt nih 😀
    terharu baca ceritanya..hiks
    makin cinta deh sama TaeNy :3

  12. FanyTastic said:

    iya cuma bisa membayangkan T_T
    kalo drama romance TaeNy kaya begini pasti bakal keren bgt X3

  13. FanyTastic said:

    baca ceritanya aja udah nangis apalagi kalo di bikin film udah pasti semua yg nonton bakal nangis ^^ haha

  14. Tahan tahan jangan nangis!! Ingat sekarang ada dimana?!*ngomong sendiri* thor,sedih banget astaga T.T taeny!! Huwaaaa keren daebak banget dah ff-nya author~ hwaiting,thor!!

  15. salut sama taeyeon koma selama 7 tahun hanya untuk nunggu tiffany
    soooooooooo sweetttttttttttttttttttttttttt

  16. ini baru kesetian cinta..
    semoga di kehidupan nyata ada yang setia kayak taenysic
    aku nangis asli tapi thor
    keren…
    hwaiting

  17. yoonhyun_kyuna said:

    Huaaaa thor terlalu menyakitkan membaca taeng sm pany meninggal T_T
    Keren buangettt thor ffx q tunggu ff yg lain y buat taeny lg dong thor / yoonhyun yg sad 😀 #gk maksa
    Btw thor, gidarida itu artix apa y ? #mian kepo

    • haha tergantung ide sih
      tp nanti banyak yg protes jg wkwkwk
      gidarida artinya waiting/menunggu, kan ada lagu judulnya itu yg dinyanyiin Taeyeon^^
      thanks^^

  18. ahhh… gilla… crita.nyaa nyesekk bangett… aku sukka sama sifat Taeng yg mau nunggu Ppany…

    ff.mu yg 1 ini bener2 kerenn… anee sukka bangettt…

  19. ga tau harus ngomong apalagi T.T yaa Tuhan, bagus banget. tisssuuuee.
    kalo aja dibuat film. pasti udah nomer 1 aku beli 😀

  20. Hiks..Hiks…Hiks…Aku mengira bakal Happy Ending *Eh? -_-
    Aku kasian ma Hyoyeon 😦
    Jadi dia sendiri dong? kan keluarganya udah pergi(?) semua T_T
    Sabar yah Eon T_T
    Ceritanya kerennn!!! Keren banget,
    Waktu aku membaca FF ini,aku berasa FF ini hidup….Daebakk!! Aku tunggu FF lainnya 🙂

  21. ramdianihusnul said:

    bingung komen apa..menyentuh bgt.. :’)

  22. uwaaahhhhh, gue nangis baca a, terus terang ini cerita a bagus n gak bikin susah memahami, sica moga akrab yah ama yuri, kalo gak akrab selingkuh aja *plakss, sori kidding! Senpai maifate sekali lagi dua jempol buatmu bd

  23. aish gila!! sedih bngt dah…. Tapi bagus sih…

  24. Daebak!
    Aku tidak tau mau ngomong apa!
    Semuanya udah di komentarin sm yang lainnya..
    Pokoknya keren thor! Salut sm authornya nih :’)
    Kereeenn!!

  25. yolanda said:

    keren banget sumpah

  26. keren cerita nya T.T
    dicerita ini taeny bersama stlah nunggu brtahun2
    tapi dicerita bareng anak2 snsd mereka bersama ga harus tggu brtahun2 jg kan thor :))

  27. Mr.Silent Reader said:

    Daebak Thor ^^….Sukses Buat Aku nangis T.T, Jadi Ke inget Sama Masa Lalu >,<

  28. RappHwang said:

    Nice story (y)
    Cant talk more just two thumbs up for you, author~

  29. Yah thorr endingnya taeny. Yulsic. Tapi kasian Hyoyeon sendirian.
    Overall aku suka ceritanya. Plotnya bagus.

  30. andai didunia nyata ada cinta kayak mereka ya pasti bahagia.. syg ny didunia nyata ini hanya kepalsuan. gw suka bgt cerita ny,meski pun sedih krna taeny meninggal. yulsic,soosun bersatu *poor hyo hehee

  31. fangtaeng said:

    jjang! thor, keren bgt alurnya T.T chaego dah!

  32. fangtaeng said:

    jjang!
    woah, author slalu bisa bikin alur yg keren (y)
    author chaego dah!

  33. TaeNySic Jjang said:

    Kyaaaa…..sedih banget….
    TaengSic setia banget nungguinnya, jadi terharu sama kisah cinta mereka

  34. hennyhilda said:

    Aishhhh nyedihin bgt ending ff nya huhuhuhu
    #srottttttt ngelap idung hikz 😦
    Jahat bgt km thor huwaaaa
    semangat author
    ganbatte

  35. Suka banget sama taeny nih, tapi kasian malah jadi kyk gtu akhirnya

  36. Hiks hiks, kak, kakak memang pantas dipuji. Ceritanya sedih nian 😦 Untung cuman cerita…..
    Aku suka binggo sama ff ini. Ahhhh, kenapa cerita kakak semuanya keren” ?

    Oh yah kak, Gidarida itu maksudnya apa ?
    Terus lagu yang mau dinyanyikan unnie Taeyeon buat Tiffany unnie itu apa kak ?
    Betul” ada nggak lagunya kak ?
    Ntah ntah itu cuman karangan kakak sendiri 😀

    Aku nggak tau mau bilang apa lagi. Cuman bisa tersenyum. Walaupun sedih, tapi end nya tetap manis 🙂 Tetaplah berkarya kak Maifate 🙂
    Gara” kakak aku jadi semakin mencintai SNSD, benar” bersyukur bisa jadi readers di WP kakak ini……..
    Hmmmmm 🙂

    • Gidarida artinya menunggu
      Itu lagunya dari yg pernah Taeyeon nyanyikan, judulnya Waiting for, dengerin aja, bagus kok 😉

      • Ahaha, iya, lagunya bagus kok kak 🙂
        Aku dah denger. Andai aja ff ini dijadiin drama, lagunya Taeng unnie yang Gidarida pasti pas sekali jadi OST-nya 😀
        Hahaha 😀 Daebak (y)

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: