~Thank you for your comments~

Gidarida (Part 1)

Genre : Melodrama, Romance
Pairing utama : TaeNy & TaengSic
enjoy~

Suatu hari aku menemukan kupu-kupu cantik yang kehilangan sebelah sayapnya.
Karena tak tega, aku membuatkan tempat perlindungan untuknya.

Prologue

Seorang yeoja menapakkan kakinya di Korea. Dengan hanya berbekal satu koper dan tas kecil yang dipikulnya. Ini pertama kalinya dia datang ke negeri ini, dia berasal dari tanah asing nun jauh disana.
“Korea… akhirnya aku benar-benar sampai kemari.”
Gadis itu celingukan memandang sekitarnya. Kelihatan sekali kalau dia adalah orang asing, karena dia tidak mengenal seluk beluk tempat ini. Dia tidak sadar kalau ada seseorang yang sedari tadi sedang mematainya.
“Eng, dimana alamat ini…”
Kemudian dia menegur salah seorang pejalan kaki.
“Maaf, aku mau tanya”
Gadis itu kesulitan bertanya, lidahnya seperti mendadak kelu. Kalimatnya terbata-bata karena bahasa koreanya tidak lancar. Akhirnya pejalan kaki itu malah meninggalkannya.
“Ah!”
“Aku harus bagaimana…”
“Kalau aku tanya dalam bahasa inggris belum tentu mereka mengerti…”
“……………..”
“No… I know you can do it Tiffany”
Tiba-tiba seseorang menabraknya dengan kasar sampai dia terjatuh.
“Ah!”
Tas kecilnya diambil.
“Eh?!”
“To-tolong! Jambret!!”
Tapi penjambret itu sudah keburu berbaur dengan kerumunan. Dan tidak ada seorang pun yang bereaksi terhadap teriakannya.
Wajahnya memucat.
Bagaimana ini
Tenang… di dalamnya gak ada barang berharga, pasporku juga masih ada, jadi tenanglah.
Mungkin ini hukuman karena aku tidak mendengarkan kata Dad dan malah nekat kemari…
Dad…
“Nona”
Gadis itu mengangkat wajahnya dan matanya bertemu dengan tatapan yang bening menyejukkan. Entah mengapa dengan hanya melihat wajah gadis di depannya hatinya menjadi sedikit lebih tenang. Dia tidak jadi menangis.
“Kamu tidak apa-apa?” dia mengulurkan tangannya pada Tiffany.
Tiffany menerima uluran tangannya dan gadis itu membantunya berdiri.
“Tidak… apa-apa.”
Gadis itu tersenyum lembut seakan lega mendengarnya.
Tiffany terlihat bingung. Tidak tahu harus mengucapkan apa. Memang bahasanya yang masih belum lancar membuatnya susah berkomunikasi. Tapi gadis itu tersenyum seolah mengerti keadaannya.
“Bagaimana kalau kamu ikut ke rumahku?”
“Baiklah…”
Tiffany sendiri heran, dia seharusnya menolak tawaran dari orang yang baru saja ditemuinya. Tapi dia mendapat firasat kalau dia pasti akan baik-baik saja.
“Yuk”
Apalagi saat gadis itu memegang tangannya. Tiffany merasa hangat, dia merasa terlindungi. Dan walau hanya sesaat… dia merasakan debaran aneh di dadanya.

15 Juni 2004
K.T

K.T ??
Inisial apa itu?
“Hyoyeon!”
Panggil seseorang dari luar jendela. Aku memandang keluar jendela dan melihat seorang gadis berambut coklat panjang.
“Ah Jessica”
“Kamu sudah siap belum? kita kan mau menjenguk Taeng”
“Y-ya sebentar!”
Kututup buku yang sedang kubaca lalu menyambar jaket di atas tempat tidur dan bergegas keluar kamar sambil memakainya.
“Oh iya, tasnya lupa kubawa”
Lalu aku kembali masuk ke dalam untuk mengambil tas, setelah itu baru menemui Jessica diluar.
“Kamu sedang apa di dalam?”
“Ah, nggak ngapa-ngapain, yuk”
Kami berdua naik bis pergi ke rumah sakit umum Seoul. Aku tidak dapat menemukan topik yang tepat untuk bahan obrolan, dan dia juga tidak terlihat berminat mengobrol. Jadi akhirnya sepanjang perjalanan kami berdua tidak saling berbicara satu sama lain. Jessica tetap diam dengan ekspresi di wajahnya seperti biasa. Tidak dapat ditebak.
Begitu sampai kami berdua langsung melangkah menuju kamar 303. Kamar tempat Taeyeon, kakakku dirawat.
“Taeng…”
Jessica menyentuh tangan Taeyeon. Wajahnya terlihat sendu. Tatapan yang hanya dia tunjukkan saat sedang memandang Taeyeon yang terbaring di rumah sakit.
Sudah bertahun-tahun sejak kakakku, Taeyeon mengalami kecelakaan. Dan sudah sejak saat itu pula dia mengalami koma.
Aku masih ingat hari itu…
Saat itu aku benar-benar putus asa…
“Aku harus gimana… sekarang Appa sudah tiada… dan aku tidak punya cukup uang untuk membayar biaya perawatan Taeyeon…”
Aku benar-benar bingung.
“Tenang Hyoyeon, biarkan aku yang membayar seluruh biaya perawatannya.”
“Jessica…”
Waktu itu aku merasa sangat bersyukur sampai-sampai langsung memeluknya dan menangis di bahunya.
Aku tahu Jessica punya perasaan terhadap Taeyeon, itu sebabnya dia terus mempertahankan agar Taeyeon tetap dirawat. Padahal aku tahu biaya untuk itu tidaklah murah…
Jujur, aku sudah pasrah…
Bagaimana tidak? Sudah tujuh tahun dia terus terbaring seperti ini tanpa pernah sekalipun membuka matanya.
Aku sudah merelakan kepergiannya.
Tapi Jessica… aku tahu sampai kapan pun dia tidak akan pernah merelakannya.
Aku tahu seberapa besar cintanya pada Taeyeon, sampai dia rela mengkhianati mantannya, Yuri. Meski tampaknya Taeyeon tidak pernah berniat membalas perasaannya.
“………………”
“………………”
Aku mengecek jam tanganku. Tiga puluh menit lagi kelas dimulai.
“Mianhae Jessie, sudah waktunya aku ke kampus.”
Dia mengangguk tanpa melihat ke arahku. Lalu aku berjalan menuju pintu, sebelum keluar aku sempat melihatnya sekali lagi. Dia tetap berdiri disana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Akhirnya aku keluar dan menutup pintu.
Begitu melangkah keluar dari rumah sakit, di luar langit yang pada awal pagi terlihat biru cerah kini dipayungi deretan awan berwarna kelabu.
Oh aku harap tidak turun hujan sebelum aku sampai di kampus.
Aku mempercepat langkahku menuju pemberhentian bus.
Untung bisnya tidak lama datang. Aku segera naik dan duduk di salah satu bangku yang kosong.
Selama perjalanan pikiranku kembali pada sebuah buku yang kutemukan di dalam lemari pakaian Taeyeon saat sedang membereskan pakaian-pakaiannya.
Buku apa itu?
Ada tanggal tertulis di bawah halaman yang terakhir kubaca.
Apa mungkin diary?
Tapi daripada sebuah diari… rasanya lebih seperti sebuah cerita.
Ah, aku kan bisa membaca kelanjutannya nanti.

Begitu sampai di kampus Hyoyeon kaget melihat Sooyoung, teman sekampusnya menangis.
“Lho ada apa Sooyoung? Kok nangis?”
Sooyoung mengangkat wajahnya. Hyoyeon melihat pipinya sudah basah dengan air mata.
“Woori Sunny…”
“Sunny? Ada apa dengan Sunny?!” Hyoyeon hampir panik mendengarnya.
“Woori Sunny… diambil namja TT “
“Eh??”
Hyoyeon memasang wajah seolah berkata ‘Ternyata cuma itu, kukira terjadi apa-apa sama Sunny’
“Aku nggak rela! Aku nggak mau Sunny pacaran sama Sungmin oppa! Sunny itu milik kita!!!” kata Sooyoung separo berteriak.
“Sudah sudah… ada saatnya kita semua juga ingin pacaran kan?” Hyoyeon mengelus-elus bahu Sooyoung.
“Kenapa Sunny… nggak pacaran sama kita saja…” katanya sesenggukan.
Mwo??
“Yah kamu ini ada-ada saja”
“Tapi kalau dia sampai pacaran sama namja berarti dia nggak puas hanya dengan hang out sama kita saja!!”
Terus terang Hyoyeon gak begitu peduli Sunny pacaran atau tidak. Yang dia inginkan sekarang adalah membaca lanjutannya lebih dari apapun.
Tapi dia heran, tidak biasanya dia melihat Sooyoung nangis seperti ini.
Masa sih…
“Sooyoung, kamu… suka sama Sungmin oppa ya?” tanya Hyoyeon sendiri tidak yakin.
“Gak!! Aku benci sama dia!!”
Eh??
“Benar-benar… benci?” selidiknya.
“Tentu saja! Dalam triliun tahun pun aku gak mungkin akan jatuh cinta sama namja seperti dia!! Dia sudah mengambil Sunnyku!!”
Tri-triliun ya…
Lho??
Mendadak Hyoyeon merasa ada yang janggal pada kata-kata Sooyoung barusan.
Masa sih…
“Sooyoung, kalau begitu kamu… suka Sunny?” tanya Hyoyeon hati-hati.
Dia tidak bisa membohongi matanya, sesaat Hyoyeon melihat perubahan pada air mukanya.
“……aku cuma sedih memikirkan Sunny nggak akan hang out bareng kita lagi…”
“Tenang, Sunny bukan tipe yeoja yang akan melupakan sahabatnya setelah punya pacar.”
“Uh… huu…”
Hyoyeon memegang pundaknya.
“Aku punya usul, gimana kalau minggu ini kamu ajak dia jalan-jalan saja? Tapi maaf aku gak bisa ikut.”
“Hyoyeon, kenapa kamu gak ikut?”
“Ah, aku ada urusan,” Hyoyeon tersenyum.
Sebenarnya aku cuma gak mau mengganggu kamu, batinnya.
“Benar juga ya, baiklah aku akan ajak Sunny jalan-jalan.”
_________________________________________________________________________________________

Di kampus.
Aku melihat Yuri, mantan kekasih Jessica sedang bersama dengan seorang yeoja yang perawakannya hampir mirip dengannya. Mereka sedang bercanda ria dengan akrabnya.
Kalau gak salah, gadis itu kan Seohyun.
Aku bisa mendengar perbincangan mereka.
“Hyunnie pacarku~^^” katanya dengan nada manja.
“Unnie ah~ bercanda terus”
“Aku gak bercanda, hehe XD ”
“Tuh kan! bercanda terus!”
“Gak kok XD ”
“Unnieeeee~!” Seohyun merajuk. Pipinya sudah semerah tomat sekarang.
“Kyaaaa Hyunnie kau imut sekali!” Yuri mencubit kedua pipi Seohyun.
“Sakiiittt… hentikan unnieeee~”
“……………..”
Ah, karena Yuri diputusin Jessica.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Jessica kalau dia sampai melihat ini.
Urusan mereka bukan urusanku. Dan aku tidak berhak ikut campur atas hubungan mereka, begitu pikirku sambil berlalu meninggalkan mereka.
_________________________________________________________________________________________

Minggu pagi yang cerah.
Seharusnya ini adalah suasana yang cocok untuk main keluar tapi aku memilih berada di dalam rumah.
Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk beres-beres rumah karena akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan berbagai urusan. Kuliah, pergi ke rumah sakit, mengerjakan tugas kuliah. Begitu terus berputar-putar.
Ngomong-ngomong hari ini aku tidak pergi ke rumah sakit. Tapi aku yakin Jessica pasti menyempatkan diri pergi kesana. Seperti biasa menemani Taeyeon dengan setia.
Aku menghela nafas.
Kalau saja aku yang mendapatkan perhatian seperti itu dari seseorang pasti aku sudah jatuh cinta padanya.
Dari apa yang aku lihat selama ini Jessica adalah gadis yang baik. Siapapun pasti akan jatuh cinta pada sikap dan perhatiannya.
Kuambil salah satu piring yang kotor, lalu mengambil spons dan menuangkan sabun pencuci. Aku mulai mencuci piring-piring dan gelas satu persatu. Hal yang seharusnya menjadi rutinitas favoritku. Tapi entah kenapa kalau memikirkan Jessica aku jadi tidak bersemangat.
Aku kasihan sama Jessica. Entah sejak kapan tatapan Jessica berubah jadi begitu melankolis…
Aku ingin Jessica mendapat balasan yang setimpal atas perhatian yang dia curahkan selama ini untuk Taeyeon.
Tapi keadaan Taeyeon tidak memungkinkannya untuk membalas cintanya dan apa itu berarti Jessica akan terus begitu?
Ah Taeyeon Taeyeon…
Apa kau tahu betapa perhatiannya Jessica padamu?
Aku saja sempat merasa iri… ada seseorang yang begitu mencintaimu… yang lebih perhatian padamu melebihi dirinya sendiri…
_________________________________________________________________________________________

Saat hari sudah malam akhirnya semua pekerjaan selesai.
Cuci baju. Menjemur pakaian. Menyapu. Mengepel. Menghitung pengeluaran minggu ini. Tugas kuliah.
Aku duduk di pinggir ranjang. Sebuah buku berada di tangan kananku. Di sampulnya tertulis Gidarida yang ditulis tangan. Kemungkinan besar itu judul buku ini.
Ini buku yang kutemukan dari lemari pakaian Taeyeon. Aku penasaran. Aku ingin membaca kelanjutannya. Jantungku sedikit berdebar saat membuka halaman buku itu.

Saat itu aku yakin kalau dia adalah belahan jiwaku

Bab 1
A Girl With Eye Smile

Aku membawa gadis itu pulang ke rumahku lalu mempersilakannya duduk di sofa.
“Mau minum apa?”
“Ah, apa saja boleh”
Aku berjalan ke dapur dan membuatkan teh. Kemudian kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh.
“Silakan”
Lalu aku duduk di seberangnya.
“Kamsahamnida”
“Haha tidak usah seformal itu, anggap saja rumah sendiri”
“Maaf jadi merepotkan…”
Gadis itu menundukkan kepala.
“Tidak usah sungkan”
Aku mengambil salah satu cangkir dan menyisipnya pelan. Gadis itu juga melakukan hal yang sama. Setelah menikmatinya sebentar aku kembali meletakkan cangkir itu dan memperhatikan gadis yang duduk di hadapanku.
Rambut lurus berwarna coklat yang tergerai panjang. Meski dia dalam balutan pakaian yang sederhana gadis itu terlihat cantik.
Itulah kesan pertama yang kudapat.
Pandangan gadis itu beralih dari cangkir tehnya ke mataku.
“Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu. Namaku Kim Taeyeon.”
“Kim Taeyeon? Arti namamu bagus^^ pantas kau sangat cantik,” gadis itu tersenyum. Saat tersenyum matanya membentuk seperti bulan sabit, sangat manis.
“A-ah terima kasih,” jawabku tersipu-sipu.
“Stephanie Hwang, panggil saja Tiffany.”
“Tiffany Hwang? Artinya daun bunga yang cantik.”
“Ah, kalau dibilang begitu aku jadi malu, hehe^^”
“Benar-benar… nama yang indah.”
“Ah Taeyeon, kau terlalu memuji^^”
“Jadi Tiffany, darimana asalmu?”
“San Fransisco”
“Jadi memang kamu orang asing, pantas saja!” celetukku.
“Ah… maaf kalau bahasa koreaku buruk.”
Aku menggeleng, “Bisa dimaklumi”
“Tiffany, apa kamu datang sendirian?”
“Ya”
Aku mengerutkan wajah. Memperhatikan gadis di depanku yang sedang meminum teh yang kubuat.
“Eng, kenapa kamu datang ke Korea sendirian?”
“……………..” gadis itu kembali membisu.
“Ah, kalau tidak mau cerita aku tidak akan memaksamu…”
“Bukan begitu,” gadis itu cepat-cepat mengoreksi. “Aku cuma malu untuk menceritakannya.”
“Kenapa harus malu?”
“Karena mungkin ini terdengar bodoh, kamu akan menertawakanku…”
“Aku tidak akan tertawa, jadi apa alasanmu?”
“Em… karena aku mencari seseorang disini.”
“Seseorang?” aku menaikkan sebelah alis. “Keluarga?”
Gadis itu menggeleng.
“Jadi… namja?”
Parasnya berubah kemerah-merahan.
“Siapa namja itu? Barangkali aku kenal?”
“Namanya Dennis Oh, kudengar dia datang ke Korea makanya aku…”
“Kamu nekat mengejarnya,” aku menambahkan.
Tiffany mengangguk.
“Padahal aku sama sekali belum memesan tiket pesawat pulang atau hotel. Aku hanya bawa barang, uang, dan paspor, terus langsung lari ke bandara mengikuti dorongan hatiku…”
“…………….”
“Ternyata aku bisa juga ya, ahaha.” Tiffany tertawa hambar. “Tapi meski tahu ini tindakan nekat, aku…”
Dia berhenti sebentar seolah mengumpulkan kembali kebulatan tekadnya.
“Aku harus mengatakannya pada Dennis Oh”
“Aku harus menemukannya.”
Aku tergugah mendengar ceritanya.
Gadis ini datang jauh-jauh sendirian dari San Fransisco demi mengejar cintanya. Padahal aku yakin usia kami sebaya. Sama-sama lima belas tahun.
“Ah!” Gadis itu tiba-tiba berdiri, “Aku harus mencarinya sekarang!”
“Aku akan membantumu mencarinya.”
“Ah, tidak usah repot-repot!”
“Aku sama sekali tidak direpotkan, lagipula aku juga sedang liburan, tidak ada kerjaan.”
“Sung…guh?”
Sesaat aku melihat matanya berbinar. Mungkin sebenarnya dia juga mengharapkan bantuanku.
“Tentu, kamu kan masih asing disini, mana mungkin kubiarkan kamu sendirian.”
“Kamsa- eh gomawo Taeyeon!” dia tersenyum. Baru kali ini aku melihat wajah yang begitu manis saat tersenyum. Dan eye smile itu…
Aku balas tersenyum, “Jadi, tunggu apa lagi?”

**

Aku bersama Tiffany menuju alamat rumah Dennis Oh. Tapi sia-sia, karena begitu sampai disana ternyata dia sudah pindah rumah. Kami menanyai tetangga-tetangga sebelahnya, tapi mereka pun tidak tahu. Lalu akhirnya kami berputar-putar dalam kota, berharap bisa menemukannya secara kebetulan.
Setelah berkeliling seharian akhirnya kami berdua duduk di bangku taman. Matahari sudah hampir terbenam. Kerongkonganku terasa kering. Aku butuh sesuatu untuk melepas dahaga.
“Sebentar, kubelikan minum.”
Dia mengangguk. Aku berjalan menuju vending machine terdekat dan membeli dua kaleng jus, lalu kembali padanya.
“Nih”
“Gomawo…”
Aku duduk di sebelahnya, membuka kaleng itu dan meneguk hampir seluruh isinya. Sungguh terasa sangat menyegarkan.
Setelah meminum beberapa teguk dia berkata.
“Benar juga ya, aku sudah menduga kalau gak akan semudah itu…”
“Tenang, kamu kan masih bisa mencarinya besok,” jawabku santai.
“Mungkin aku harus menyerah…”
“……………..”
“……………..”
Kami terdiam selama beberapa saat lalu aku memutuskan untuk bertanya.
“Namja ini, Dennis Oh… dia pacarmu?”
“Bukan…”
“Lalu?”
“Aku suka dengannya tapi aku malah pacaran sama orang lain, karena itu aku kesini memutuskan untuk jujur sama perasaanku sendiri…”
“Kalau kamu menyukainya lalu kenapa kamu malah pacaran sama orang lain?”
“Karena aku memikirkan kebaikannya makanya aku…”
“Maksudnya?”
“Saat aku bersamanya aku jadi sadar kalau aku tak lebih jadi penghalang baginya makanya aku…”
“Kamu benar-benar… mencintainya?” saat menanyainya entah kenapa aku mempererat genggaman tanganku pada kaleng jus yang kupegang.
“Ya…”
“Dengan tulus?”
Tiffany menunduk. Kedua tangannya memegang kaleng jus lemon tersebut.
“…………..entahlah Taeyeon, setelah kamu bertanya begitu mendadak aku jadi bimbang. Memang aku datang sampai ke sini demi mengejarnya tapi… mungkin saja ini cuma obsesiku…”
“……………..”
“……………..”
“Yahhh… tidak usah dipikirkan. Yang lebih penting.”
Aku berpaling untuk menatapnya.
“??”
“Jadi sekarang gimana? Hari sudah malam. Apa kamu sudah tahu kamu akan tinggal dimana?”
“Ah!”
Gadis itu berseru, serperti baru teringat.
Aku tersenyum melihat reaksinya.
“Bagaimana kalau kau tinggal di tempatku untuk sementara waktu?”
“Benarkah Taeyeon? Aku benar-benar boleh menginap? Apa nanti tidak merepotkan?”
“Aku senang kalau ada teman,” jawabku sambil tersenyum.
“Gomawo Taeyeon!^^”
Tiba-tiba gadis itu memelukku.
“Syukurlah! Syukurlah aku ketemu kamu Taeyeon, kalau tidak aku tidak tahu harus bagaimana!”
Aku tidak menyangka dia akan sehyper ini.
“Ya ya,” aku menepuk punggungnya.
“Jadi pulang sekarang yuk? Kita makan.”
“Ne^^”
Kemudian aku membawa gadis itu pulang, lalu memperkenalkannya pada Umma.
Malam itu untuk pertama kalinya aku membawa teman makan bersama keluargaku. Kelihatannya Umma menyukai Tiffany. Dan dia mengijinkan Tiffany untuk tinggal disini sementara waktu. Tiffany sampai tidak henti-hentinya berterima kasih.
Setelah makan kami berdua masuk ke kamarku.
“Wuahh… jadi ini kamarmu Taeyeon?”
“Ne, maaf kalau agak berantakan”
“Tidak sama sekali”
“Jadi, gimana makan malam pertamamu di Korea?”
“Sangat berkesan^^ masakannya enak-enak. Umma Taeyeon sangat pandai memasak!”
“Haha syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir lidahmu tidak bisa menerima masakan Korea.”
“Hehe kalau begitu aku beruntung karena masakan Korea pertama yang kucicipi adalah masakan Umma Taeyeon,” Tiffany bertepuk tangan kecil. Wajahnya terlihat girang seperti anak kecil.
“Gomawo”
“Ngomong-ngomong Taeyeon, kau hanya tinggal berdua sama Ummamu?”
“Ne”
“Dimana Appamu?”
Mendengar Appa disebut aku kembali teringat.
“……………..”
“Ah, apa aku tidak seharusnya menanyakan ini? Mianhae…”
“Gwenchana, Appa minggat ke China membawa adikku.”
“Adik? Taeyeon punya adik?”
“Ne, namanya Kim Hyoyeon.”
“Wah, aku mau lihat^^”
“Sebentar”
Aku membuka lemariku, mengeluarkan sebuah album foto lama. Setelah yakin aku mengeluarkan album yang benar aku duduk di atas ranjang. Tiffany duduk di sebelahku.
Aku membuka lembaran pertama. Ada foto-foto masa kecilku dengan Hyoyeon. Sampai kami berusia delapan tahun.
Aku tersenyum melihat fotoku yang sedang bergandengan tangan dengan Hyoyeon. Walau sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu tapi rasanya seperti baru terjadi kemarin.
“Wahhhh….. Taeyeon kau lucu!^^”
“Ah lucu apanya,” mendadak aku merasa malu.
“Iya, jadi pingin cubit^^”
“Jangan cubit anak kecil kalau kamu gak mau kewalahan menanganinya menangis.”
“Habis kadang aku gak tahan pingin nyubit.”
“Tiffany, kamu suka anak kecil ya?”
“Sangat! Terutama bayi!”
Wajah Tiffany melembut, “Kalau bisa punya anak dari orang yang disukai rasanya senang sekali ya…?”
Matanya masih memandang foto-foto albumku tapi aku tahu pikirannya sedang mengembara kembali pada orang yang disukainya.
Aku tidak tahu kenapa tapi setelah Tiffany berkata begitu mendadak jadi terbesit sesuatu dalam pikiranku.
Aku ingin punya anak bersama Tiffany…
Tiffany yang cantik…
Gadis dengan eye smile terindah…
Kalau bisa punya anak darinya aku akan sangat senang sekali…
Kenapa aku bisa punya pikiran seperti ini? Padahal aku baru bertemu dengannya.
Tapi debaran yang kurasakan saat aku memegang tangannya…
Dan saat lengan kita bersinggungan seperti ini…
Membuat logikaku tidak bisa berjalan semestinya.
“Hmm jadi ini adikmu Taeyeon?”
Pertanyaannya menyentakkanku kembali dari lamunanku.
“N-ne”
“Kalian tidak terlalu mirip”
“Haha, banyak yang bilang begitu. Soalnya sebenarnya kami berlainan ayah.”
“Eh? Jadi?”
“Ya, dia ayah tiriku”
“Oh…”
“Ngomong-ngomong, tidur yuk? Sudah hampir jam sebelas”
“Ne”
“Tidur sekasur denganku gak apa-apa kan Tiffany?”
“Asal gak di lantai,” candanya.
“Ahaha”
Lalu kemudian dia naik ke kasurku dan berbaring di sebelahku.
“Maaf jadi sempit…”
“Justru sudah lama aku tidak tidur sempit-sempitan begini”
“Hehe aku juga, menyenangkan ya tidur sempit-sempitan^^”
“Ne”
“Selamat tidur”
“Selamat tidur^^”
_________________________________________________________________________________________

Aku tertegun ketika selesai membaca bab satu dari cerita ini.
Taeyeon?
Kenapa namanya ada dalam cerita?
Dan buku ini kutemukan dari lemari pakaiannya.
Jangan-jangan…
Mendadak aku teringat inisial K.T
Kim Taeyeon
Pas dengan inisialnya!
Jadi Taeyeon yang menulis cerita ini?
Ada namaku juga, jangan-jangan… cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata?
Aku membaca ulang kalimat yang menarik perhatianku.
Appa minggat ke China membawa adikku.
Sampai kami berusia delapan tahun.
Semua ini benar, memang aku terpisah dengan Taeyeon saat berusia delapan tahun karena dibawa Appa ke China.
“……………..”
Jadi memang benar?
Dan tanggalan dalam cerita ini.
Aku membuka ulang bagian prolog. Di bagian akhirnya tertulis.
15 Juni 2004
Berarti delapan tahun yang lalu?
Jantungku berdebar-debar.
Sesuatu…
Aku yakin dalam buku ini tersimpan sesuatu yang selama ini tidak kuketahui.
Tentang kehidupan Taeyeon.
Dan tunggu dulu
Tiffany?
Kenapa rasanya aku seperti pernah mendengar nama itu?
Pikir-pikir…
Coba dipikir, dimana aku pernah mendengar nama itu? Nama Tiffany bukan nama yang pasaran di Korea, jadi harusnya aku pasti langsung tahu.
Tapi walau dipikir berapa lamapun aku tetap tidak ingat.
Cuma satu hal yang pasti aku memang pernah mendengarnya di suatu tempat.
Saat hendak melanjutkan membaca, mataku terasa sedikit berat.
Aku melihat ke arah jam dinding. Sembilan menit lagi tepat jam satu.
Wah sudah selarut ini?!
Aku harus segera tidur, besok aku kan ada kuliah pagi!
Lalu aku menutup bukuku. Mematikan lampu kamar dan berbaring di kasur.
Kalau benar buku itu menceritakan apa yang dialami Taeyeon sebelum aku bertemu kembali dengannya…
“……………..”
Ah sudahlah, aku tidak usah banyak berpikir lagi, aku harus segera tidur.
Aku yakin jawaban atas pertanyaanku semua akan terjawab nantinya.
_________________________________________________________________________________________

Hari berikutnya aku berangkat kuliah seperti biasa.
Dan aku menemui pemandangan yang sama persis seperti kemarin.
“Lho Sooyoung? Kenapa nangis lagi?”
“Uh…. Sunny…. TT ”
Sunny lagi?
“Memangnya ada apa di antara kamu dan Sunny?”
“…………uh… kemarin aku ajak Sunny jalan seperti usulmu tapi…”
-Flashback-
Sooyoung menemui Sunny di persimpangan jalan.
“Sunnyyy~ lama nunggu?” katanya dengan nada yang kelewat ceria. Dia setengah berlari mendekati Sunny.
“Mwo?!” mata Sunny terbelalak melihat yeoja di depannya bertambah tinggi.
“Hmm, wae? Apa kamu terpesona sama kecantikanku? hehe”
“Sooyoung kamu pakai high heels!”
“Ah, ne^^ memang kenapa?”
“Aish! Kamu itu sadar gak sih?! Kamu sudah tinggi! Gak perlu pakai high heels segala tahu!”
“Apa salahnya? Aku ini juga seorang yeoja. Lagipula high heels yang kupakai gak tinggi-tinggi amat kok, hanya delapan senti.”
“ ‘Hanya’ katamu? Kalau begini aku jadi terlihat tambah pendek tahu!”
“Ah…” Sooyoung garuk-garuk pipi, tidak tahu harus berbuat apa.
Tidak jauh dari mereka ada dua yeoja yang sedang bergosip.
“Hei lihat kedua yeoja itu. Yang satu tinggi kurus kayak tiang, sedang yang satunya lagi pendek.”
“Lucu ya!”
“Ne!”
“Kyahahaha!”
Suara mereka terlalu keras. Sunny dan Sooyoung bisa mendengar semua kata-kata mereka.
“……………”
“…………..lihat kita jadi bahan tertawaan,” keluh Sunny sambil menghela nafas.
“Hari ini aku gak pakai high heels, jadi lebih baik kita batalkan saja…”
Sooyoung membeku di tempat.
“Ba-batalkan?” bibirnya terasa kaku saat mengucapkannya.
“Ne, aku pulang,” Sunny membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan kesal.

-End of flashback-

“Lalu dia marah dan langsung ninggalin aku begitu saja TT ”
“Ah, salahmu sendiri. Kau kan tahu kalau Sunny itu sensitif soal tinggi badannya -.- “
“Waktu itu aku senang sekali… berpikir kalau aku akan jalan bareng Sunny aku sampai gak sadar, huweeeeee TT “
“Sabar, sabar…” aku mengelus-elus punggungnya walau sebenarnya dalam hati aku merasa konyol juga.
Sepertinya kamu masih harus berjuang untuk bisa mendapatkan Sunny, Sooyoung.
_________________________________________________________________________________________

Sepulang dari kampus, aku langsung berangkat kerja part time. Dan baru pulang pada malam harinya.
Aku menghela nafas saat menghitung penghasilanku. Hari ini juga aku tidak sempat menjenguk Taeyeon. Tapi memang aku tidak punya waktu.
Dan walau aku datang sekalipun kondisinya akan tetap sama seperti kemarin-kemarin. Seperti tahun-tahun yang lalu. Aku heran Jessica tidak pernah mengeluh. Mungkin seperti itulah yang namanya cinta.
Aku mengecek jadwal kuliahku untuk besok, lalu mengeset alarm di ponselku supaya aku tidak ketiduran.
Kemudian aku mengambil buku Gidarida di mejaku dan melanjutkan membaca.

Semakin aku mengenalnya, semakin aku mencintainya.
Walau kini… cintanya telah diberikan pada orang lain…

Bab 2
With Tiffany

Pagi yang cerah. Aku tidak langsung bangun dari tempat tidurku, melainkan memandangi yeoja yang tertidur di sampingku.
Wajahnya yang sedang tidur amat enak dipandang. Aku tidak tahu berapa menit aku habiskan hanya untuk hal sepele seperti itu.
Aku tidak berani bergerak karena takut membangunkannya.
Tiffany Tiffany… cantiknya…
Ah dia membuka matanya.
“Selamat pagi,” sapaku lembut.
Tiffany bangun dan meregangkan tubuhnya.
“Taeyeon, kau sudah bangun dari tadi?”
“Ne”
“Ngg…” Tiffany menggosok-gosok matanya.
“Masih ngantuk?”
“Sedikit”
“Kalau begitu tidur lagi saja”
“Kalau aku tidur, kau akan memandangi wajahku yang sedang tidur lagi kan Taeyeon?”
“Ah”
Ternyata dia sadar.
Aku bertumpu pada sikuku dan berkata.
“Kenapa tidak? Wajah tidurmu manis”
“Taeyeon ah, jangan memandangi wajah orang yang lagi tidur!” dia memukulku dengan bantal. Pipinya sedikit kemerah-merahan.
“Apa salahnya? Kan gak perlu bayar, apa mesti minta ijin dulu? hehe”
Aku mengangkat tangan untuk melindungi mukaku dari pukulan bantalnya.
Dia lucu kalau lagi ngambek, hehe.
Kami tertawa lepas dan malah bermain perang bantal sampai peluh mulai membasahi baju kami.
“Oke, oke cukup, sekarang Tiffany mandilah”
“Kamu gak mau duluan?”
“Nanti, setelah kamu”
Aku menuju ke lemari pakaian dan mengambil handuk dan pakaian bersih untuknya.
“Nih, ganti bajumu dengan ini”
Tiffany masih berdiri di tempat dengan pakaian yang baru saja kuberikan.
“…………….”
“Kenapa? Kamu mau kuintip?” godaku.
Parasnya memerah.
“Byuntaeng!”
Lalu dia ngeloyor masuk ke kamar mandi.
Klek
Tendengar suara pintu dikunci.
Aku tertawa geli sambil memegangi perutku.
Byuntaeng katanya, ahaha
Baru kali ini ada yang menjulukiku seperti itu.
Gadis ini benar-benar menarik, aku jadi semakin menyukainya.
Lima belas menit kemudian Tiffany keluar dengan baju pemberianku dan rambut yang masih setengah basah.
“Cocok sekali”
Warna pink memang membuatnya tampak manis.
“Taeyeon”
“Apa?”
“Ah nggak”
“Kalau begitu sekarang gantian aku”
Selesai mandi aku melihat wajahnya masih juga seperti itu. Seperti ingin berkata sesuatu.
“Dengar Tiffany, kamu gak perlu sungkan. Kalau kamu butuh sesuatu katakan saja”
“Em… boleh aku pinjam telpon?”
“Tentu saja”

………………………………………

“Ya maaf Dad”
“Iya, iya. Tidak apa-apa, sekarang aku sedang menginap di rumah teman.”
“Aku masih belum tahu kapan aku akan pulang. Secepatnya kalau bisa.”
“Ya, nanti aku kabari lagi, bye”
Tiffany menghela nafas sambil menutup saluran telepon.
“Kemarin aku begitu sibuk sampai-sampai lupa memberi kabar sama Appa.”
“Tapi setidaknya hari ini kamu sudah memberi kabar pada Appamu”
“Ya…”
“Ayo kita cari lagi”
“Maaf ya Taeyeon…”
“Maaf kenapa?”
“Sudah menghabiskan waktu liburanmu untuk membantuku mencarinya.”
“Fany ah~ daripada meminta maaf bukannya seharusnya kamu bilang terima kasih sama aku?”
“Ah, iya benar juga ya. Gomawo”
“Huh, itu yang mau kudengar, bukan permintaan maafmu,” aku pura-pura merajuk.
“Hehe iya^^”
“Oke, jadi hari ini kita mau kemana?”
“Hmm… Taeyeon menurutmu?”
“Bagaimana kalau ke pusat kota?” usulku.
Tiffany mengangguk.
Lalu kami sama-sama naik bis menuju pusat kota.
Dalam perjalanan.
“Oh ya, Tiffany, aku belum tahu seperti apa wajah Dennis Oh ini”
“Oh, aku belum memperlihatkannya ya?”
Tiffany mengeluarkan ponselnya. Yang untungnya tidak ikut tercuri.
Tiffany menekan beberapa tombol sebelum memperlihatkannya padaku.
“Seperti ini wajahnya.”
Dia memberikan ponselnya padaku.
“Hmm”
Aku memandang foto namja bernama Dennis Oh ini.
Tampan.
Pantas Tiffany menyukai namja ini…
“Jadi malu, aku mengambil fotonya diam-diam”
Mendadak hatiku terasa sakit.
“…………….”
“Taeyeon?”
“Ah tidak, dia ganteng,” kataku mengembalikan ponselnya pada Tiffany sambil memalingkan wajah, takut dia dapat membaca ekspresi kesakitan di wajahku.
“Taeyeon, jangan bilang kalau kamu jadi suka juga sama Dennis Oh?”
“Ngg….”
“Jangan! Jangan! Kalau Taeyeon juga suka… aku gak bakal bisa menang bersaing sama Taeyeon!”
Semua penumpang yang berada di dalam bis memandang ke arah kami sekarang.
“Ti-Tiffany, kecilkan suaramu”
Kemudian dia baru menyadari apa yang terjadi. Dia menunduk malu.
“Ups, mianhae…”
“……………..”
“Tenang Tiffany,” aku menepuk pundaknya. “Aku gak bakal mengambil dia dari kamu, soalnya aku… sudah punya orang yang kusukai…”
“Benarkah Taeyeon?”
“Ne”
“Ah, aku jadi lega”
“……………..”
“Jadi, siapa orang yang disukai Taeyeon?”
DEG
Mendadak aku jadi sulit bernafas.
“I-itu…”
“??”
“Ah! Kita sudah sampai! Ayo turun!”
Kami berkeliling kota mencarinya, terutama ke tempat-tempat yang ramai. Tapi hasilnya tetap sama seperti kemarin.
“Hari ini tidak ketemu juga ya…”
“Jangan khawatir, hari masih panjang,” kataku untuk menyemangatinya.
Tapi gadis itu tetap tak bergeming.
“Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku tahu restoran yang enak. Kamu mau makan di restoran apa? Amerika?”
Tiffany menggembungkan pipinya.
“Sudah jauh-jauh datang ke Korea, aku ingin mencoba masakan Korea”
“Oke, yuk”
Aku menggandeng tangannya dan membawanya ke restoran Korea yang kadang kukunjungi bersama Ummaku.

Setelah sampai kami berdua duduk berhadapan dan mulai memesan makanan. Aku merekomendasikan beberapa makanan yang menurutku enak padanya.
Dia sudah kembali tersenyum. Matanya melihat sekeliling dengan penuh ketertarikan. Ada beberapa meja yang di atasnya memiliki alat pemanggang.
“Heee~ jadi seperti ini ya restoran Korea”
Syukurlah, setidaknya ini bisa membantu memperbaiki moodnya.

Selesai makan.
“Tiffany, Tiffany! pesan es krim yuk?”
“Masih belum kenyang?”
“Selalu ada tempat buat yang manis-manis!”
“Ahaha, benar juga ya”
Kami memanggil pelayan sekali lagi dan memesan es krim.
Tiffany memesan es krim strawberry.
Beberapa menit kemudian pelayan itu datang membawa pesanan kami.
Aku tersenyum.
“Tiffany, kau benar-benar suka pink ya?”
“Eh? Kok tahu?”
“Baju yang kau pakai berwarna pink, sepatumu pink, gelangmu, dan sekarang kau pesan es krim strawberry.”
“Hehe, semua benda warna pink di dunia adalah milikku!”
“Haha, ada-ada saja,” aku tertawa mendengar pernyataannya.
“Taeyeon, apa yang kamu pesan?”
“Rum raisin, mau coba?”
“Ada kadar alkoholnya kan?”
“Ya, tapi hanya sedikit”
Aku menyodorkan sesendok es krim ke depan mulutnya.
Tiffany memajukan badannya dan memakan es krim di sendokku.
“Enak?”
“Hmm, enak. Manis”
“Semanis dirimu”
“Kau sedang menggodaku?”
“Menggoda? Tadi itu kejujuran. Kamu sadar tidak kalau kamu manis Tiffany?”
Aku tersenyum, mengulurkan tangan dan menepuk punggung tangannya.
Tiffany tersipu. Aku suka melihat wajahnya yang penuh ekspresi. Sebentar-sebentar berubah.

**

Aku bersama Tiffany duduk di ayunan taman. Aku bergoyang pelan di atas ayunanku. Angin sore memberikan suasana yang lengang. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di taman.
Aku memperhatikan Tiffany yang duduk di ayunan sebelah. Wajahnya tertunduk, memperhatikan butiran pasir di bawah sepatunya.
“Tiffany”
“……………”
“Apa yang kamu pikirkan? Ceritalah, aku selalu siap mendengarkan.”
“………….aku sedang memikirkan apa yang mau kukatakan kalau aku sudah bertemu dengannya… tadinya aku begitu menggebu-gebu… tapi sekarang semua kalimat yang sudah kusiapkan dalam otakku hilang begitu saja seperti menguap.”
“Kamu terlalu banyak berpikir Tiffany.”
“Mungkin… aku memang berpikir berlebihan… aku takut ditolak, Taeyeon…”
Aku menarik nafas.
“Semua orang juga takut.”
“Kamu pernah merasa seperti ini…?”
“…………..ne…”
“……………”
“Tenang, kamu tidak akan ditolak Tiffany…”
“Kenapa? Apa yang membuatmu seyakin itu?” kali ini ia memandang ke arahku, seperti tertarik mendengar jawabanku.
“Karena…”
Aku memandang sendu deretan bunga merah yang terangguk-angguk dibelai angin.
Betapa beruntungnya siapapun yang mendapatkan cintanya, batinku.
“Kalau aku namja aku pasti akan tergila-gila sama kamu Tiffany…”
Sekarang saja aku sudah…
“Taeyeon ah, kupikir kamu bakal berkata sesuatu yang lebih bagus dari itu.”
“Ahaha, tapi standarku tinggi lho Fany ah.”
“uuuu~” Tiffany memajukan bibirnya.
Aku berdiri dari ayunanku.
“Yah, sudah hampir gelap, pulang yuk?”
“Ya”
_________________________________________________________________________________________

Aku dibangunkan oleh suara ringtone yang sudah sangat familier di telingaku.
Ternyata sudah keesokan harinya, aku ketiduran selagi membaca Gidarida.
Aku masih merasa mengantuk. Mungkin karena aku bergadang semalam. Dengan mata setengah terpejam aku mematikan alarm ponselku dan kembali ke alam mimpi.
Rasanya aku baru tidur beberapa saat ketika ponselku kembali berbunyi.
Apaan sih? Perasaan aku tidak menekan tombol snooze deh.
Aku meraih ponselku dan melihat nama Jessica berkedip-kedip di layar HP.
Ada apa dia memanggilku?
Pikiranku masih berkabut, aku tidak sempat berpikir saat menekan tombol answer.
“Ya, hallo?” kataku
“Hyoyeon, sudah kupanggil-panggil tapi kau tidak menyahut juga”
“Ada apa Jess?”
“Kok tanya ada apa? Mau ikut menjenguk Taeng gak?”
Ah, benar juga. Dia memang selalu mengajakku kalau aku sedang senggang, apalagi karena searah dengan rumah sakit
“Ya, tunggu sebentar ya”
Aku memutuskan teleponnya.
Tumben suaranya tidak tinggi, padahal kupikir dia bakal marah.
Segera aku bangun dan mencuci muka, lalu berganti baju. Kemudian menemui Jessica diluar.
Kami berdua naik angkutan umum menuju rumah sakit.
Aku melirik sekilas Jessica yang duduk di sebelahku. Matanya terpejam. Mungkin dia tidur.
Tidak lama kami sampai.
Terus terang aku tidak menyukai suasana rumah sakit. Deretan kamar tertutup di sepanjang lorong rumah sakit. Para perawat yang berlalu lalang. Hanya karena ada Taeyeon maka aku mau datang kesini.
Kami menuju kamar Taeyeon seperti biasa. Keadaan yang masih tetap sama. Pemandangan yang sama.
Dulu aku masih belum bisa menerimanya, tapi sekarang aku sudah terbiasa.
“……………..”
“……………..”
Suasana hening menembus ruang perawatan tempat dimana kami berada.
Di dalam ruangan yang sepi ini aku seperti membisu, tidak tahu harus mengucapkan apa.
_________________________________________________________________________________________

Aku memandang keluar jendela. Diluar matahari sudah tinggi. Perutku terasa keroncongan. Kemudian aku sadar aku memang belum makan apa-apa sejak pagi.
“Jessica… pulang yuk? Aku mau makan”
Dia mengangguk tanpa protes. Kami berjalan keluar rumah sakit. Tapi tiba-tiba dia limbung.
“Awas!”
Aku menangkap tubuhnya, dan aku benar-benar terkejut ketika merasakan panas tubuhnya di bawah telapak tanganku.
“Jessica, kamu sakit!”
“Iya… tapi gak apa-apa, suhu badanku cuma sedikit tinggi dari pagi.”
Dari pagi?
“Apanya yang gak apa-apa?! Bukannya istirahat kamu malah pergi menengok Taeyeon!”
Jadi selama perjalanan… dan sampai sekarang dia terus menahannya dan berpura-pura baik-baik saja?
“Ayo kita pulang, kuantar”
Aku memegang pundaknya, agar dia bisa sedikit bertopang pada tubuhku.
“Mianhae…” nadanya terdengar lemah.
“Lain kali jangan begini lagi, kau harus memperhatikan kondisi tubuhmu juga,” aku menasehatinya.
Jessica hanya mengangguk.
Kuantar dia pulang ke rumahnya.
Aku membaringkan tubuhnya di kasur. Lalu menyelimutinya. Mengompres keningnya dengan handuk.
Aku berkeliling mencari-cari obat penurun panas dan termometer di dalam rumahnya. Aku baru sadar kalau ini pertama kalinya aku masuk ke dalam rumahnya, jadi aku tidak mengenali seluk-beluk rumahnya. Ketika aku kembali ke kamarnya.
“………..te…”
“??”
Tampaknya dia mengingau.
“…………taeng……”
Setelah mendengar itu mendadak kesadaran itu menyentakkanku.
Mungkin Jessica mencintai Taeyeon lebih dalam dari yang aku kira.
“Jessica…”
Aku menghapus tiga tetes air mata yang meluncur turun di pipinya.
Dia terbangun.
“Ah, kau sudah bangun, minum obatnya.”
Aku membantu Jessica duduk dan minum obat. Kemudian dia kembali tertidur.
Selanjutnya aku membuatkan bubur untuk jatahnya dan jatahku sendiri.
Selesai makan aku membawakan nampan berisi sepiring bubur ke kamarnya.
“Jessica…”
“……………”
Mungkin kubiarkan dia tidur saja dulu kali ya.
Ketika aku meletakkan piring bubur itu di atas meja sebelah tempat tidurnya, sesuatu menarik perhatianku.
Foto Taeyeon.
Taeyeon terlihat lebih muda disini. Pasti foto yang diambil sebelum dia mengalami kecelakaan.
Kuperhatikan foto ini sudah kumal, pasti Jessica sering memegang dan memandanginya…
Kuletakkan kembali foto itu di atas meja. Kuperhatikan wajah orang yang hampir saja menjadi cintaku sewaktu waktu dulu.
Ya.
Sebenarnya dulu aku hampir saja mencintai Jessica, tapi aku sudah keburu menyerah begitu sadar kalau Jessica menyukai Taeyeon. Kukira mereka akan bahagia bersama makanya aku tidak mau jadi halangan, tapi tak pernah kusangka mereka berdua akan menjadi seperti ini…
Mereka berdua orang yang kusayangi…
Aku hanya ingin mereka bahagia, itu saja sudah lebih dari cukup…
Apa harapan yang tak muluk pun kadang tak bisa diraih?
Seharusnya… aku saja yang kecelakaan… bukannya Taeyeon…
Air mataku jatuh tak dapat ditahan lagi.
“……Hyoyeon?”
“Ah”
Buru-buru aku mengusut air mataku.
“…..kau menangis…?” tanyanya dengan nada lirih.
“Ah, mataku cuma kemasukan debu kok”
“……………”
Dia pasti tidak percaya jadi aku berusaha tersenyum sebaik mungkin.
“Makan ya? Kamu lapar kan?”
“……………”
Jessica tidak menjawab dia cuma mengangguk.
Hari itu aku bolos kuliah dan menginap di rumahnya untuk merawatnya seharian.

**

Keesokan paginya aku terbangun menemukan diriku berada dalam pelukannya.
Jessica masih tertidur nyenyak.
Aku meraba keningnya, syukurlah panasnya sudah turun.
“………….Taeng……”
Sedikit menyakitkan hatiku ketika mendengar namanya disebut.
Maaf ya aku bukan Taeyeon…
Aku bergeser dengan hati-hati agar tidak membangunkan gadis yang tertidur di sebelahku ini.
Aku pergi ke dapur dan memasak bubur untuk sarapan pagi. Aku membuatkan juga sepiring untuk Jessica. Setelah meletakkannya di meja sebelah tempat tidurnya dan meninggalkan sebuah catatan untuknya aku pulang ke rumah.
Hari ini di kampus, aku melihat Yuri bersama dengan seorang gadis yang berbeda dengan kemarin. Mereka tampak mesra.
Itu kan Yoona dari kelasku. Tapi bukannya kemarin dia berkata.
“Hyunnie pacarku~”
Apa Yuri menduakan mereka?
Bukannya bermaksud menguping, tapi aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
“Yuri unnie, bukankah Yuri unnie dulu pacaran sama Jessica unnie?”
“Ya, tapi sudah putus”
“Wae?”
“Dia itu perempuan murahan! Bayangkan, tiap hari dia pergi ke klub malam. Entah apa yang dilakukannya, pasti dia sudah tidak suci lagi!”
Ku-kurang ajar!
Memang mulutnya jadi kasar sejak dia diputusin Jessica tapi bagaimanapun ini sudah keterlaluan.
PLAK!!
Tanpa sadar aku sudah tegak di depannya, memberikan tamparan ke pipinya.
Yuri mengerang sambil memegangi pipinya.
“Apaan sih?! Tiba-tiba nampar orang?!”
“Asal tahu saja Yuri! Jessica bukan perempuan murahan seperti yang kamu bayangkan!”
“Karena dia! dia…”
Jessica hanya menyanyi di klub malam, tidak lebih. Gara-gara itu dia jadi mendapat image buruk di mata orang. Padahal semua uangnya bukan untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk orang yang dicintainya, Taeyeon.
Karena kesetiaannya pada seseorang…
Aku…
Padahal aku adiknya tapi aku malah tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tidak dapat menahan air mataku yang jatuh.
“Yah! Kenapa kamu malah nangis?! Aku yang ditampar seharusnya aku yang nangis tahu!”
Apa aku pantas disebut sebagai adiknya…
“Cepat minta maaf!”
Aku hampir tidak berbuat apa-apa demi Taeyeon…
“Yahh!! Kau dengar gak sih?!!” dia mencengkram kerah bajuku. Sorot matanya penuh dengan kemarahan.
“Sudah sudah Yuri unnie…” Yoona berusaha menenangkannya.
PLAK!!
Aku jatuh tersungkur menerima tamparannya.
“Yuri unnie!” Yoona menyeret Yuri menjauh supaya dia tidak berbuat lebih jauh lagi.
“Lepaskan, Yoona! dia harus minta maaf dulu!”
“Yuri unnie, sudahlah!”
Aku memegangi pipiku yang sakit.
Ya, aku memang pantas ditampar
Karena aku bukan adik yang baik…

**

Aku berjalan sambil mengusap pipiku yang masih terasa sakit. Aku melihat Sooyoung.
Ketika melihat keadaannya aku sampai melupakan kesedihanku sendiri.
“Sooyoung?! Kenapa kamu nangis lagi?”
“………..uh…”
Begitu melihatku, Sooyoung langsung menghambur ke arahku dan memelukku erat-erat. “Huweeeeeee!!!”
“Tenang, tenangkan dirimu dulu”
“Huuu….”

Lima menit kemudian.
“Nah sekarang, coba ceritakan”
“Aku… aku ditampar Sunny…”
“Mwo?! Kenapa bisa?!”
“Hari itu aku jalan-jalan sama Sunny. Kami berdua makan di restoran mahal. Lalu aku pesan banyak sekali makanan. Aku tak khawatir karena kukira aku bawa kartu kreditku tapi ternyata-“
“Kamu lupa, begitu kan?”
“Ne,” Sooyoung menunduk lesu. “Akhirnya Sunny yang harus bayar semua makanan yang kupesan. Setelah itu ia ngomel-ngomel membanding-bandingkan aku dengan Sungmin oppa. Katanya dia itu gentle, gak rakus kayak aku…”
Oh Sooyoung Sooyoung, malang benar nasibmu.
“Sudahlah, dia marah karena dia perhatian sama kamu”
“Benarkah? Tapi sepertinya bukan begitu…” Sooyoung menghela nafas.
“Terus kenapa kamu ditampar?”
“Karena kesal, aku kelepasan menjelek-jelekkan Sungmin oppa di depannya, lalu dia menamparku…”
“Ah pantas, mana ada orang yang mau mendengar orang yang dicintainya dijelek-jelekkan. Apalagi kamu sudah membuatnya kesal sebelumnya.”
“huuuu….”
“Sudahlah, biar jadi pelajaran buat kamu, lain kali jangan sampai begitu.”
“Tapi nilaiku sudah terlanjur jatuh di mata Sunny!! Huweeeeeee!!!! TT “
“Cup cup cup, sudah, sudah…” Hyoyeon membelai-belai punggungnya.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya saja kalau-“
“Apa? Kalau aku suka Sunny? Mana mungkin! Dia sudah punya Sungmin oppa, aku pasti akan ditolak mentah-mentah olehnya. Apalagi aku sudah membuatnya marah… TT ”
“Benar juga…”
“…….uh………”
Sooyoung kembali menangis terisak-isak.
Kasihan Sooyoung.
“Sooyoung, kamu mau aku bicara sama Sunny untukmu?”
Sooyoung menggeleng.
“Oke kalau begitu…”
Aku ingin membantunya tapi juga sebenarnya takut keceplosan dan malah memperburuk keadaan. Aku hanya bisa meminjamkan pundakku dan mendengarkan curhatnya.
Meski masih menangis aku melihatnya tersenyum padaku.
Dia bersandar di pundakku.
“Kamu baik sekali Hyoyeon… kamu selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk menghiburku…”
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Seharusnya aku jatuh cinta sama kamu saja ya…”
“U-uh…”
Mendadak aku merasa situasi ini agak canggung. Sooyoung tidak kedengaran seperti sedang bercanda.
Chuu~
Yang membuatku lebih kaget lagi Sooyoung mencium pipiku.
“!”
Tapi Sooyoung hanya senyum-senyum tanpa tahu perasaanku. Ketika aku hampir bereaksi, aku melihat Sunny berdiri beberapa meter dari kami. Matanya melihat ke arah kami berdua, dia terlihat syok. Di detik berikutnya Sunny sudah berbalik dan mengambil langkah seribu.
“Sunny!”
Kemudian aku berpaling pada Sooyoung.
“Sooyoung, kejar dia.”
Tapi Sooyoung malah berkata, “Kenapa aku harus mengejarnya, Sunny kan benci sama aku…”
“Aish”
Akhirnya aku sendiri yang mengejarnya.
“Sunnyyy!!” panggilku lagi.
Seperti adegan dalam drama, semua mahasiswa menoleh ke arah kami yang berlarian. Kami sangat mencolok, tapi aku tidak peduli.
Karena larinya tidak terlalu cepat, aku bisa dengan cepat mengejarnya.
Aku berhasil menangkap tangannya.
“Tunggu!”
Akhirnya Sunny menghentikan larinya.
“Kenapa kamu lari?” tanyaku sambil mengatur nafasku.
“…………….”
“Sunny?”
“Aku tidak tahu… kalau ternyata kamu dan Sooyoung”
“Yah tunggu tunggu!” aku langsung memotong kalimatnya. “Aku dan Sooyoung tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Tapi kalian terlihat mesra…”
“…Sunny, kamu cemburu?”
“A-aku nggak”
“Bukannya kamu sudah punya Sungmin oppa? Lalu kenapa kamu marah melihatku sama Sooyoung…” aku berhenti sebentar, kata-kata itu sedikit susah diucapkan, “ciuman.”
“………..aku tidak tahu… padahal aku suka Sungmin oppa, tapi entah kenapa melihat Sooyoung dengan kamu barusan aku jadi kesal.”
“Benarkah apa yang kamu katakan Sunny?”
“Soo-Sooyoung?!”
Aku kaget tiba-tiba Sooyoung sudah berada di belakang kami.
Matanya menatap Sunny lekat-lekat. Sooyoung maju mendekati Sunny. Melihat dirinya didekati Sunny mundur beberapa langkah.
Aish, anak ini memang perlu diberi sedikit dorongan.
Aku mendorong Sunny.
“E-eh?!”
Sooyoung menangkap tubuh Sunny yang hampir terjatuh.
Nah, sekarang saatnya menyingkir.
“Hyoyeon kau ini!” teriak Sunny.
Ups, kabur~ kekeke XD
“Sunny,” Sooyoung merapatkan pelukannya pada Sunny dan Sunny tidak berontak lagi.
Dari jauh aku melihat keduanya sedang berpelukan.
Syukurlah, mereka sudah baikan. Peranku sampai disini, selanjutnya kuserahkan pada mereka.

**

Tidak sengaja aku berpapasan dengan Yuri lagi. Dia langsung membuang muka.
Aku mulai muak dengan sikapnya.
“Sedangkal itukah cintamu Kwon Yuri?!”
“!”
“Kukira kamu benar-benar tulus mencintainya! Bahwa kamu percaya padanya! Tapi kamu malah mengatai-ngatainya di belakangnya!”
“Berisik! Diam! Aku sudah gak ada urusan apa-apa lagi sama yang namanya Jessica!”
Aku sampai mengurut dada mendengarnya.
______________________________________________________________________Hari ini di kampus, aku melihat Yuri bersama dengan seorang gadis yang berbeda dengan kemarin. Mereka tampak mesra.
Itu kan Yoona dari kelasku. Tapi bukannya kemarin dia berkata.
“Hyunnie pacarku~”
Apa Yuri menduakan mereka?
Bukannya bermaksud menguping, tapi aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
“Yuri unnie, bukankah Yuri unnie dulu pacaran sama Jessica unnie?”
“Ya, tapi sudah putus”
“Wae?”
“Dia itu perempuan murahan! Bayangkan, tiap hari dia pergi ke klub malam. Entah apa yang dilakukannya, pasti dia sudah tidak suci lagi!”
Ku-kurang ajar!
Memang mulutnya jadi kasar sejak dia diputusin Jessica tapi bagaimanapun ini sudah keterlaluan.
PLAK!!
Tanpa sadar aku sudah tegak di depannya, memberikan tamparan ke pipinya.
Yuri mengerang sambil memegangi pipinya.
“Apaan sih?! Tiba-tiba nampar orang?!”
“Asal tahu saja Yuri! Jessica bukan perempuan murahan seperti yang kamu bayangkan!”
“Karena dia! dia…”
Jessica hanya menyanyi di klub malam, tidak lebih. Gara-gara itu dia jadi mendapat image buruk di mata orang. Padahal semua uangnya bukan untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk orang yang dicintainya, Taeyeon.
Karena kesetiaannya pada seseorang…
Aku…
Padahal aku adiknya tapi aku malah tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tidak dapat menahan air mataku yang jatuh.
“Yah! Kenapa kamu malah nangis?! Aku yang ditampar seharusnya aku yang nangis tahu!”
Apa aku pantas disebut sebagai adiknya…
“Cepat minta maaf!”
Aku hampir tidak berbuat apa-apa demi Taeyeon…
“Yahh!! Kau dengar gak sih?!!” dia mencengkram kerah bajuku. Sorot matanya penuh dengan kemarahan.
“Sudah sudah Yuri unnie…” Yoona berusaha menenangkannya.
PLAK!!
Aku jatuh tersungkur menerima tamparannya.
“Yuri unnie!” Yoona menyeret Yuri menjauh supaya dia tidak berbuat lebih jauh lagi.
“Lepaskan, Yoona! dia harus minta maaf dulu!”
“Yuri unnie, sudahlah!”
Aku memegangi pipiku yang sakit.
Ya, aku memang pantas ditampar
Karena aku bukan adik yang baik…

**

Aku berjalan sambil mengusap pipiku yang masih terasa sakit. Aku melihat Sooyoung.
Ketika melihat keadaannya aku sampai melupakan kesedihanku sendiri.
“Sooyoung?! Kenapa kamu nangis lagi?”
“………..uh…”
Begitu melihatku, Sooyoung langsung menghambur ke arahku dan memelukku erat-erat. “Huweeeeeee!!!”
“Tenang, tenangkan dirimu dulu”
“Huuu….”

Lima menit kemudian.
“Nah sekarang, coba ceritakan”
“Aku… aku ditampar Sunny…”
“Mwo?! Kenapa bisa?!”
“Hari itu aku jalan-jalan sama Sunny. Kami berdua makan di restoran mahal. Lalu aku pesan banyak sekali makanan. Aku tak khawatir karena kukira aku bawa kartu kreditku tapi ternyata-“
“Kamu lupa, begitu kan?”
“Ne,” Sooyoung menunduk lesu. “Akhirnya Sunny yang harus bayar semua makanan yang kupesan. Setelah itu ia ngomel-ngomel membanding-bandingkan aku dengan Sungmin oppa. Katanya dia itu gentle, gak rakus kayak aku…”
Oh Sooyoung Sooyoung, malang benar nasibmu.
“Sudahlah, dia marah karena dia perhatian sama kamu”
“Benarkah? Tapi sepertinya bukan begitu…” Sooyoung menghela nafas.
“Terus kenapa kamu ditampar?”
“Karena kesal, aku kelepasan menjelek-jelekkan Sungmin oppa di depannya, lalu dia menamparku…”
“Ah pantas, mana ada orang yang mau mendengar orang yang dicintainya dijelek-jelekkan. Apalagi kamu sudah membuatnya kesal sebelumnya.”
“huuuu….”
“Sudahlah, biar jadi pelajaran buat kamu, lain kali jangan sampai begitu.”
“Tapi nilaiku sudah terlanjur jatuh di mata Sunny!! Huweeeeeee!!!! TT “
“Cup cup cup, sudah, sudah…” Hyoyeon membelai-belai punggungnya.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya saja kalau-“
“Apa? Kalau aku suka Sunny? Mana mungkin! Dia sudah punya Sungmin oppa, aku pasti akan ditolak mentah-mentah olehnya. Apalagi aku sudah membuatnya marah… TT ”
“Benar juga…”
“…….uh………”
Sooyoung kembali menangis terisak-isak.
Kasihan Sooyoung.
“Sooyoung, kamu mau aku bicara sama Sunny untukmu?”
Sooyoung menggeleng.
“Oke kalau begitu…”
Aku ingin membantunya tapi juga sebenarnya takut keceplosan dan malah memperburuk keadaan. Aku hanya bisa meminjamkan pundakku dan mendengarkan curhatnya.
Meski masih menangis aku melihatnya tersenyum padaku.
Dia bersandar di pundakku.
“Kamu baik sekali Hyoyeon… kamu selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk menghiburku…”
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Seharusnya aku jatuh cinta sama kamu saja ya…”
“U-uh…”
Mendadak aku merasa situasi ini agak canggung. Sooyoung tidak kedengaran seperti sedang bercanda.
Chuu~
Yang membuatku lebih kaget lagi Sooyoung mencium pipiku.
“!”
Tapi Sooyoung hanya senyum-senyum tanpa tahu perasaanku. Ketika aku hampir bereaksi, aku melihat Sunny berdiri beberapa meter dari kami. Matanya melihat ke arah kami berdua, dia terlihat syok. Di detik berikutnya Sunny sudah berbalik dan mengambil langkah seribu.
“Sunny!”
Kemudian aku berpaling pada Sooyoung.
“Sooyoung, kejar dia.”
Tapi Sooyoung malah berkata, “Kenapa aku harus mengejarnya, Sunny kan benci sama aku…”
“Aish”
Akhirnya aku sendiri yang mengejarnya.
“Sunnyyy!!” panggilku lagi.
Seperti adegan dalam drama, semua mahasiswa menoleh ke arah kami yang berlarian. Kami sangat mencolok, tapi aku tidak peduli.
Karena larinya tidak terlalu cepat, aku bisa dengan cepat mengejarnya.
Aku berhasil menangkap tangannya.
“Tunggu!”
Akhirnya Sunny menghentikan larinya.
“Kenapa kamu lari?” tanyaku sambil mengatur nafasku.
“…………….”
“Sunny?”
“Aku tidak tahu… kalau ternyata kamu dan Sooyoung”
“Yah tunggu tunggu!” aku langsung memotong kalimatnya. “Aku dan Sooyoung tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Tapi kalian terlihat mesra…”
“…Sunny, kamu cemburu?”
“A-aku nggak”
“Bukannya kamu sudah punya Sungmin oppa? Lalu kenapa kamu marah melihatku sama Sooyoung…” aku berhenti sebentar, kata-kata itu sedikit susah diucapkan, “ciuman.”
“………..aku tidak tahu… padahal aku suka Sungmin oppa, tapi entah kenapa melihat Sooyoung dengan kamu barusan aku jadi kesal.”
“Benarkah apa yang kamu katakan Sunny?”
“Soo-Sooyoung?!”
Aku kaget tiba-tiba Sooyoung sudah berada di belakang kami.
Matanya menatap Sunny lekat-lekat. Sooyoung maju mendekati Sunny. Melihat dirinya didekati Sunny mundur beberapa langkah.
Aish, anak ini memang perlu diberi sedikit dorongan.
Aku mendorong Sunny.
“E-eh?!”
Sooyoung menangkap tubuh Sunny yang hampir terjatuh.
Nah, sekarang saatnya menyingkir.
“Hyoyeon kau ini!” teriak Sunny.
Ups, kabur~ kekeke XD
“Sunny,” Sooyoung merapatkan pelukannya pada Sunny dan Sunny tidak berontak lagi.
Dari jauh aku melihat keduanya sedang berpelukan.
Syukurlah, mereka sudah baikan. Peranku sampai disini, selanjutnya kuserahkan pada mereka.

**

Tidak sengaja aku berpapasan dengan Yuri lagi. Dia langsung membuang muka.
Aku mulai muak dengan sikapnya.
“Sedangkal itukah cintamu Kwon Yuri?!”
“!”
“Kukira kamu benar-benar tulus mencintainya! Bahwa kamu percaya padanya! Tapi kamu malah mengatai-ngatainya di belakangnya!”
“Berisik! Diam! Aku sudah gak ada urusan apa-apa lagi sama yang namanya Jessica!”
Aku sampai mengurut dada mendengarnya.
_________________________________________________________________________________________

Malam itu aku datang ke klub malam untuk memperhatikan Jessica. Begitu masuk aku langsung disambut oleh alunan instrumental yang merdu. Aku duduk di salah satu meja dan memesan minuman.
Ketika tiba gilirannya Jessica. Mataku langsung tertuju ke panggung. Dia tampil dalam balutan gaun keperakan dan high heels sehingga terlihat berbeda dari biasanya. Sangat cantik seperti seorang dewi.
Di bawah sorotan cahaya panggung berwarna pink, tatapannya terlihat sendu.
DEG
Aku sempat dibuatnya berdebar.
Dia melangkah dengan anggun menuju piano di tengah panggung lalu duduk di depannya. Dia meletakkan sebuah benda berbentuk persegi di atasnya, kemudian jari-jarinya berada di atas tuts piano.
Suasana menjadi hening sesaat. Semua mata tertuju padanya, tidak ada yang berkedip sedikit pun.
Aku saja sempat menahan nafasku.
Dentingan pianonya bergema di seluruh ruangan. Permainan pianonya ditemani background musik dari alat-alat instrumen lainnya.
Ini…
Aku kenal intro lagu ini…
Desire and Hope
Dia menyanyikannya dengan penuh perasaan.
Saat mendengarkannya pikiranku kembali ke masa lalu.

“Hyoyeon, lihat, ada kontes nyanyi berhadiah,” kata Taeyeon sambil menunjukkan sebuah selebaran.
“Wae? Memangnya kamu mau ikutan?”
“Tentu, kalau menang hadiahnya lumayan. Aku bisa pergi ke San Fransisco dengan uang segitu. Hyoyeon ikutan ya?”
Aku menggeleng, “Aku gak begitu mahir nyanyi, kamu ajak Jessica saja.”
“Hmm, Jessica ya,” Taeyeon berpikir sejenak. “Benar juga, waktu karaoke saat itu vokal Jessica bagus, aku ajak deh”
Lalu Taeyeon mengetik pesan singkat untuk Jessica. Tak lama kemudian Jessica datang ke rumah kami.
“Aku senang kamu mengajakku, Taeng.”
“Hyoyeon, kenapa kamu gak ikut?”
“Kalau nyanyi aku-”
“Hyoyeon lebih mahir dance daripada nyanyi,” jelas Taeyeon pada Jessica.
“Benarkah?”
“Ne”
“Sayang sekali, kalau begitu kalau lain kali ada lomba dance kamu harus ikutan, Hyoyeon,” kata Jessica.
“Tidak usah kamu bilang Hyoyeon juga selalu ikut lomba dance, banyak sekali pialanya di lemari sampai hampir tidak muat lagi.”
“Ahaha”
“Jadi mau nyanyi lagu apa?”
“Nih, aku sudah mengumpulkan semua lagu yang menurutku menarik,” Taeyeon menunjukkan lembar-lembar kertas berisi lirik.
“Hmm, lagu yang cocok untuk duet,” Jessica ikut memilih.
Aku hanya duduk sambil memandangi mereka berdua. Meski aku tidak ikut ambil bagian, tapi hanya melihat mereka berdua kompak seperti ini saja aku sudah senang.
Pada hari kontes aku datang untuk menyemangati mereka.
Mereka berdua yang menyanyi di atas panggung… terlihat sangat berkilauan.
Aku sangat terharu sewaktu mereka dinobatkan sebagai juara satu. Taeyeon dan Jessica langsung saling berpelukan.
Bagiku… itu adalah momen yang sangat berharga…
Puncak kebahagiaanku…
Tidak akan pernah kulupakan… wajah bahagia mereka saat itu.

Sekarang Jessica yang ada di atas panggung, menyanyikan lagu yang sama dengan yang dinyanyikan mereka saat itu. Dia menyanyi solo.
Hari yang membahagiakan itu terasa jauh… bagai mimpi…
Dalam hatiku aku masih bisa melihat dengan jelas Taeyeon yang menyanyi di sisi Jessica.
Andai hari itu dapat terulang…
Aku ingin melihat mereka berduet bersama lagi.
Mungkin semua hanya tinggal kenangan.
Padahal lagu itu lebih cocok dinyanyikan bersama daripada solo…
Aku mengusut setetes air mata yang meleleh di pipiku.
Di antara semua pendengar disini hanya aku satu-satunya yang tahu apa yang dialaminya. Karena itu aku dapat merasakan emosi yang terkandung di dalamnya.
Pianonya seolah adalah anggota tubuhnya. Jessica memainkannya dengan sangat indah. Suaranya melebur dengan sempurna dalam permainan pianonya.
_________________________________________________________________________________________

Aku menunggui Jessica di depan pintu night club. Sambil bersandar dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku. Tidak lama kemudian aku melihatnya berjalan keluar.
“Hyoyeon”
“Hai…”
Dia menghampiriku.
“Kamu datang untuk mendengarkan?”
“Ne”
“Ohh…”
Hanya itu jawabannya. Dia tidak bertanya bagaimana pendapatmu atau bagus tidak.
“Kamu sudah baikan?”
“Ne, gomawo sudah merawatku kemarin”
“Gwenchana, mau pulang bareng?”
Jessica mengangguk.
“Tapi sebelum itu… bisa kita mampir ke rumah sakit sebentar…?”
“Tentu, tapi apa kamu yakin? Ini sudah larut.”
“Ne, ada yang mau kuperdengarkan pada Taeng…”
“??”
Kami berdua menuju ke rumah sakit. Masuk ke dalam kamar Taeyeon dengan hati-hati.
Kami langsung mendekati ranjang Taeyeon.
“Taeng, kami datang…”
Jessica mengeluarkan ponselnya. Setelah menekan-nekan beberapa tombol, dia membawanya ke telinga Taeyeon. Sebuah lagu mengalun keluar.
“!”
Ini lagu Desire and Hope yang Jessica nyanyikan barusan!
Tadi aku memang melihat dia meletakkan sesuatu di atas meja pianonya. Apa mungkin itu ponselnya?
“Taeng… kamu dengar? Ini lagu yang dulu kita nyanyikan bersama.”
Jessica menggenggam tangannya.
“Aku percaya kamu bisa mendengarnya. Karena itu cepatlah sadar Taeng…”
Aku harus buru-buru memalingkan wajahku ketika Jessica mendekatkan wajahnya dan mencium Taeyeon.
“Aku akan selalu menunggumu…” bisiknya. “Kalau sudah bangun nanti kita duet bersama lagi ya… janji…”
Jessica mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Taeyeon. Matanya memandang penuh cinta.
Jantungku terhenti sesaat.
Lagu ini… mungkin memendam perasaan Jessica pada Taeyeon.
“……………..”
“……………..”
“……..baiklah… Hyoyeon, kita pulang?”
Aku mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "Gidarida (Part 1)" (36)

  1. phe pie said:

    Dipublish lagi akhirnya. ^^ Knapa dibagi jadi 2 chapter, bukan 5 chapter kayak dulu aja thor?

  2. Wah ketemu lagi ama “Gidarida”^0^..bukan’a kalo mau baca ulang tinggal nyari yah..kamu sampai repot repot rombak ulang..salut..parah entah ini udah ke berapakali gue baca ulang..Rasa nyebelin’a masi ada ajah..>,<..Sadis..

  3. Miss New New said:

    memangnya kenapa dulu di hapus Thor?

  4. ye akhrx di update ulang 😀
    ditggu cinta segi 9 nya thor *^_^*

  5. sica jung said:

    yess
    bisa baca lagi

  6. kirain FF baru.. ternyata bukan yah…..

    selalu terlambat….

    aq cma bsa seminggu sekali baca FF… hiks…

    mian yah author…. aq usahain tiap minggu mampir…

    • haha gak perlu terlalu sering (author kan gak mgkin jg update tiap hari wkwkwk)
      ini ff yg di repost ulang 🙂
      sebaiknya menyediakan tissue pas baca ini di dekat ending

  7. seru thor ceritanya. mungkinkah taeyeon kecelakaan karena tiffany?

  8. Keren banget nih ff,kak!! T.T penasaran sama kelanjutan cerita taeny,sama penyebab taeng koma.

  9. feelnya itu dapet banget jadi bisa dibayangkan
    bagus banget
    hwaitong thor 🙂

  10. anyyeong… new reader 😀

    Kerenn… Sukka ama sikap.nya Jessie yg sabarr banget nungguin Taeng sadar… Penasaran juga dengan TaeNy Story…

  11. huehehe T.T kasihan sica. bisa yaa sica cinta banget sama taeng. author emang hebat. ceritanya bagus bangeett.

  12. Huaaa…..keren :’)
    ceritanya menyentuh bangettt 😥
    Moga aja ini happy ending u_u

  13. senpai maifate, beneran deh ini cerita bikin hati gue dugdegdugdeg sirrr looh, gak pernah baca cerita panjang yang kompleks gini, senang a hatiku liat sica, tae, ppany, yuri n all member soshi yang belon disebut dibuat gidarida ama senpai maifate, eheheheh padahl gue kan belum baca chp satu n dua nih, gomen senpai gue buru buru oleh hemat nih

  14. astaga sedih bngt nih cerita…… hiks hiks…

  15. Woah! *prokprokprok*
    Author hebat! Aku salut :’)

    Sica… Begitu besarkah cintamu pd Taeyeon sehingga melupakanku? *eh #plak *dijambak Gorjes Spazzers*

    Ceritanya bagus! Aku terharu sm alur ceritanya :’)
    Ceritanya jg ringan-ringan berat(?) Jadi enak ngebacanya~ *ngilang*

  16. perasaan udh pernh bca nii ff..??tp gpp lah crita seru ma nyentuh bget..

  17. Baiklah ninggalin jejak duluu. Penasaran sama endingnya.kasihan Hyoyeon harus cinta sepihak sama sica (╥﹏╥)

  18. uwah mengharukan abiessss nich FF……TT

  19. hennyhilda said:

    Blm pa2 aq udh sedih duluan 😦
    Aq sk m suaranya jessica 😦
    Semangat author
    ganbatte

  20. Kak Maifate, seingat aku waktu baca komen” sahabat reader yang lain kemaren” katanya ini udah dihapus. Aku sempat kecewa. Soalnya banyak yang komen dan menyayangkan ff ini kakak hapus. Aku penasaran berat. Senang sekali kakak buat ulang lagi 😀 Haus ku karna penasaran jadinya terobati deh 😀

    Katanya ini kakak rombak ulang yah ? Dari 5/ lebih chapter jadi cuman 2 chapter ? Pantas aja kak, ff nya panjang. Aku sampek bingung sendiri, kenapa tumben panjang binggo kayak gini. Ternyata karna kakak post ulang. Dan juga supaya nggak ribet.

    Ceritanya keren kak, lembut, bahasanya halus, kek ada manis-manisnya gitulah kak 😀 Dan, baru kali ini semenjak baca ff kakak, unnie Hyoyeon banyak berperan 😀 Makasih kak……… soalnya Hyoyeon unnie ini bias pertama aku

    Oh iya kak, Desire and Hope itu lagunya siapa ? Aku penasaran 😀

    Semangat terus kak Maifateeeeeeee 🙂 *hug XD

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: