~Thank you for your comments~

Kilatan pisau itu lewat sekilas di depan matanya, lalu darah mewarnai dunianya.
Sunny memekik sekuat-kuatnya.
“!”
Dia terbangun dengan peluh membasahi wajahnya. Dia melihat langit-langit putih di atas sana. Sunny mengedipkan matanya dengan resah. Mencoba mengusir jauh-jauh mimpi buruk yang membayanginya.
Dia berusaha memikirkan hal lain untuk menenangkan dirinya.
Dia harus…
Dan tak sengaja dia malah memikirkan kembali ciumannya dengan Sooyoung kemarin.
Wajahnya yang berada sangat dekat dengannya…
Nafasnya yang membelai pipinya…
Juga bibirnya yang lembut…
Sunny mengelus bibirnya. Dia masih bisa merasakannya seperti baru saja terjadi. Walau tidak menunjukkannya kemarin, tapi sebenarnya jantungnya berdebar dengan irama yang aneh. Namun Sunny sama sekali tidak merasa terganggu dengan itu, justru dia merasa nyaman.
Siapa yeoja itu? Apakah kita memang sepasang kekasih?
Dia jadi bertanya-tanya, apakah Sooyoung akan datang lagi hari ini?
Jantungnya sudah mulai berpacu saat pintu kamarnya terbuka.
Tapi yang masuk adalah seorang namja tak dikenal. Sunny merasa sedikit kecewa.
Apa? Kenapa harus kecewa? Apa karena sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya dia mengharapkan Sooyoung yang datang?
“Akhirnya bisa juga mendapat ijin dari dokter untuk menanyaimu.”
Namja itu berpakaian rapi. Sorot matanya tajam. Imejnya memberi kesan dia seseorang yang cerdas.
Namja itu duduk di kursi sebelah ranjang. Lalu menunjukkan identitasnya. Begitu membacanya, alis Sunny langsung terangkat.
Apa? Kenapa seorang polisi detektif mencarinya? Memangnya apa yang telah dilakukannya?
“Kudengar kamu kehilangan ingatan.”
Dia melipat tangannya dan memandang ke wajah Sunny.
“Langsung saja, kamu mungkin akan syok mendengar ini tapi,” dia berhenti sebentar. “Seorang namja telah ditemukan tewas di dalam rumah yang kamu tempati.”
“!”
“Tidak hanya itu, kamu juga ditemukan tak sadarkan diri di samping mayatnya.”
Mendadak Sunny teringat kembali mimpi penuh noda merah yang kerap kali menghantuinya. Jantungnya mulai berdebar keras.
Melihat wajah ngeri Sunny, dia menambahkan, “Bukannya menuduhmu atau apa, aku hanya ingin mendapatkan keterangan darimu.”
“Bagaimana? Setelah mendengar ini apa ada sesuatu yang melintas di otakmu?”
Sunny mencoba berpikir sejenak, otaknya terasa semakin kacau.
“Aniyo…” Sunny menggeleng lemah. “Aku sama sekali tidak ingat apa-apa.”
Namja itu membetulkan posisi duduknya. Sikapnya masih tetap seprofesional tadi.
“Begitu ya, barangkali kalau melihat langsung tempat kejadiannya ingatanmu akan kembali.”
Tapi benarkah ini ide yang bagus?
Sunny jadi takut membayangkan seperti apa kondisi tempat kejadian yang akan dilihatnya nanti.
Tapi bila itu bisa membuat ingatannya pulih kembali, Sunny merasa dia tidak bisa lari.
Dia juga penasaran, dan dia harus tahu itu.
________________________________________________________________

Pagi itu, kebetulan Sunny bangun lebih awal dari biasanya. Jadi dia sampai di sekolah saat kelas masih sepi. Tapi ternyata dia tidak seorang diri. Di dalam kelas sudah ada seseorang, dia adalah Sooyoung.
Tak sadar, Sunny meremas tali tas selempangnya. Lalu dia memberanikan diri berjalan menuju mejanya. Dia berusaha untuk tidak bertatap muka dengan Sooyoung.
Yang tak disangka ternyata Sooyoung mulai menyapa lebih dulu.
“Hai pendek.”
Langkahnya terhenti. Entah sudah berapa lama dia tidak mendengar sapaan seperti itu. Sooyoung masih memandangnya, menunggu suara keluar dari mulut Sunny.
Sunny meletakkan tasnya di kursi.
“……….Hai tiang,” jawab Sunny dengan segenap perasaannya. Dia merasa mau menangis, sudah dua tahun lebih mereka tidak pernah saling mengobrol. Selama ini dia hanya bisa mendengar suaranya saat Sooyoung sedang bicara sama Jessica atau sama orang lain, dikiranya selamanya dia tidak akan pernah bisa bicara sama Sooyoung lagi.
Sooyoung bangun dari tempatnya duduk lalu menghampiri Sunny yang sedang menunduk di tempat duduknya.
Saat menghampirinya dan melihat wajah gadis itu mendadak dia jadi merasa bodoh.
Apa yang sudah dia lakukan selama ini… kenapa tidak dari dulu mereka berbaikan?
Dengan begitu dia tidak perlu menghabiskan waktu selama dua tahun saling tersiksa seperti ini…
“Sudah lama ya… sejak kita terakhir ngobrol,” Sooyoung duduk di sebelahnya.
“Ya…”
Jujur, sudah lama sekali juga Sunny ingin sekali membenahi hubungan mereka kembali, hanya saja dia tidak punya keberanian untuk itu.
“……………….”
“……………….”
Suasana masih terasa sedikit canggung di antara mereka.
“Siapa namja itu?”
“Namja yang mana?”
“Namja yang ngobrol dengan akrab sama kamu waktu pelajaran sejarah itu.”
“Bukan siapa-siapa aku, cuma teman sekelas.”
“Ohh…”
“Kamu sendiri sekarang dekat-dekat sama Jessica.”
“Kami cuma kebetulan dekat karena dia ingin berterima kasih waktu aku membelanya.”
“Lalu kenapa kamu malah sok akrab sama Jessica. Nanti dia salah paham lho!”
Sooyoung nyengir, “Cemburu ya?”
“Siapa bilang!”
“Ah sudahlah, ngaku saja.”
“Aku gak!”
“Lalu kenapa nadamu terdengar gak suka begitu?”
“Nadaku biasa-biasa saja tuh,” kali ini Sunny sengaja menurunkan suaranya, jadinya jelas sekali terdengar dipaksakan.
Sooyoung tertawa dalam hati.
Sunny memang lucu, batinnya.
“Sunny, sebenarnya sudah lama aku ingin bisa ngobrol lagi sama kamu.”
“Aku juga…”
Mendengar jawaban Sunny, Sooyoung merasa bersyukur sudah bicara jujur.
Tapi dia jadi kebingungan memilih kata-kata setelah itu, akhirnya dia hanya mengungkapkan apa yang ada di hatinya saja.
“Mianhae kalau aku sudah menyakitimu dulu… aku… aku sudah keterlaluan… memaksa kamu meminum sesuatu yang gak kamu sukai…”
Barangkali karena Sooyoung sudah menyesal, atau karena dia sudah sedikit lebih dewasa, dia bisa menelan rasa gengsinya dan meminta maaf duluan.
“Sudahlah, aku tidak ingin mengungkit-ungkit masa lalu lagi.”
Sooyoung merasa lega, itu berarti Sunny sudah tidak marah lagi kan?
“Benar juga, yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kita baikan ya, Sunny?”
“Hmm.”
“Kalau begitu,” Sooyoung bangun lalu berjalan mengambil tasnya.
“Aku boleh duduk di sebelah kamu ya?”
“Terserah kamu,” sahut Sunny berusaha cuek agar tidak terlihat terlalu senang.
Sooyoung menganggap jawabannya sebagai ‘ya’ dan meletakkan tasnya di tempat duduk sebelah Sunny.
“Hehe,” Sooyoung sama sekali tidak menyembunyikan rasa senangnya.
Pipi Sunny jadi panas melihat senyum Sooyoung.

Ketika Jessica berjalan masuk ke kelasnya dia kaget melihat Sooyoung yang biasanya duduk di sebelahnya kini duduk sebangku dengan Sunny.
Jadi begitu, mereka sudah baikan ya?
Jessica tetap duduk di kursi yang biasanya, meski mulai sekarang sepertinya dia akan duduk sendirian. Dia memang tidak akrab dengan teman-teman sekelas yang lain selain Sooyoung dan Sunny.
Jessica memperhatikan keakraban mereka berdua.
Seharusnya keinginannya untuk mendekatkan mereka sudah terkabul.
Tapi kenapa…
Melihat mereka berdua yang tertawa dengan bahagia mendadak hatinya terasa sakit.
Dia juga tidak sengaja menangkap suara Sooyoung, “Sunny, pulang sekolah nanti kamu pulang sendiri atau dijemput?”
“Pulang sendiri.”
“Boleh aku antar kamu pulang?”
“Kalau kamu gak merasa repot.”
“Sama sekali gak repot kok!”
Padahal belum pernah sekalipun Sooyoung mengantar Jessica pulang, bertanya pun tidak. Karena itu hatinya semakin terluka mendengarnya.

**

Kalau dalam keadaan biasa, Sooyoung pasti sudah berjalan lebih cepat. Sebab kakinya lebih panjang. Tapi kali ini Sooyoung sengaja menyamakan langkahnya dengan Sunny.
Sunny menyadari kalau Sooyoung sedari tadi berusaha berjalan di sampingnya, hal itu membuat hatinya melambung bahagia.
Saking bahagianya dia sampai tidak memperhatikan lampu lalu lintas.
Untung Sooyoung cepat menarik tangannya, “Awas, jangan nyebrang dulu! Lampunya belum hijau tuh!” (lampu untuk pejalan kaki)
“Ah, mianhae.”
Sooyoung mempererat genggaman tangannya pada Sunny.
“Jangan jauh-jauh dariku, Sunny…” kata Sooyoung dengan suara selembut tatapannya.
“Ne…” balas Sunny sama lembutnya.
Setelah itu mereka tidak saling melepaskan lagi sampai Sunny tiba di rumahnya.
“Sampai sini saja.”
“Eh? Memangnya rumahmu disini?”
Sunny menggeleng, “Aniyo, masih jalan sampai kesana,” tunjuknya.
“Lalu kenapa berhenti disini?”
“Bisa repot kalau Appa melihat kita.”
“Oohh…”
Sunny tersenyum, “Gomawo Sooyoungie, sampai besok.”
“Ya…”
“Dahh~” tapi rupanya Sunny hanya bisa berjalan selangkah. Dia berbalik dan melihat tangan Sooyoung masih…
Dia mencoba menariknya, tapi sia-sia saja. Sooyoung seperti sengaja melakukannya.
“Eng Sooyoung? Kapan kamu akan melepas tanganku?”
“Sunny…”
“A-ada apa?” Sunny menjadi gugup ditatap seperti itu.
“Boleh aku cium kamu?”
“Eh?!”
Sooyoung memegang pundaknya dan mendekatkan wajahnya.
Dia serius?!
“Tunggu Sooyoung! Nanti ada yang melihat!”
Tapi Sooyoung sudah tidak bisa dihentikan lagi. Sunny menjadi panik dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Di detik berikutnya dia merasakan kecupan lembut di poninya.
“Hehe, Sunny pendek sih, jadi aku bisa mencium keningmu dengan mudah.”
Sooyoung pikir Sunny akan langsung balas mengejeknya, tapi ternyata Sunny malah jadi malu-malu. Pipinya juga memerah.
Tangannya terasa gatal untuk tidak mencubit kedua pipi Sunny.
“Awww!”
“Hehe ternyata pipimu tembem juga ya Sunny.”
“Kamu sendiri juga harus ngaca sana!” Sunny melepaskan tangan Sooyoung dan mengusap-usap pipinya.
“Ya ya, aku tahu pipiku memang tembem, oke sampai besok ya Sunny Bunny~” Sooyoung mengerling lalu berbalik dan berjalan pergi. Selama itu Sunny terus mengawasinya. Saat Sooyoung sudah tidak kelihatan lagi, Sunny menyentuh keningnya.
Dasar, dia selalu saja iseng padaku…
______________________________________________________________________________________________________________

Malamnya, Sooyoung merasa kesepian. Makan pun tidak bisa menghilangkan rasa sepinya.
Mendadak di kepalanya terlintas sebuah ide. Dia akan meminta dibelikan handphone sama Appanya.
Tapi ketika dia memintanya.
Tunggu tahun depan, begitu kata Appanya.
Pelit, padahal apa sih bedanya sekarang sama tahun depan? Cuma beda tiga ratus hari lebih saja…
Padahal hampir semua teman seumurannya sudah mulai punya.
Terpaksa dia meraih gagang telepon rumahnya.
Memang di sekolah mereka sudah mengobrol, tapi baginya terasa kurang, apalagi mereka baru saja berbaikan.
Kalau rumahnya tidak jauh dari rumah Sunny, dia pasti tidak perlu repot-repot menelpon dan memilih pergi ke rumahnya langsung saja.
Terdengar empat kali nada panggil sebelum suara yang dia tunggu menjawab.
“Yeoboseyo?”
“Yeoboseyo Sunny.”
“Ada apa Sooyoung?”
“Ah gak, cuma pingin dengar suara jelekmu saja,” bohong Sooyoung. Sebenarnya baginya suara Sunny sangat indah, malah bisa jadi penyanyi.
“Iiihh!”
“Ahaha!”
Bahkan suara Sunny yang sedang jengkel pun tetap enak didengar.
“Kalau katamu suaraku jelek, ngapain juga nelpon aku?”
“Haha, kan lumayan buat ngusir para fans.”
“Fans? Memangnya kamu punya fans?”
“Iya, para fans penghisap darah yang berterbangan di sekelilingku. Aku anggap mereka fans soalnya dari tadi mereka maunya deketin aku terus.”
“Nyamuk maksud kamu?”
“Iyaaaa~ Sun Kyu pintar deh.”
“Memangnya bisa?”
“Bisa tuh, buktinya sekarang nyamuknya jadi menjauh berkat suara Sun Kyu.”
Sunny mengeluarkan aegyo pertanda dia sedang jengkel di ujung sana, tapi Sooyoung tahu dari nadanya, Sunny tidak benar-benar merasa kesal padanya.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah, kamu sendiri? Ah pabo, ngapain juga aku nanya itu sama shik shin.”
“Kekeke, kamu tahu sendiri. Nggak sekalian nanya sudah minum juga nih?”
“Hahaha, apa-apaan itu, konyol.”
“Tapi memang benar kan? Orang sering nanya sudah makan atau belum tapi mereka lupa tanya sudah minum atau belum, kan aneh, hahaha.”
“Hahaha.”
Setelah tertawa lepas, sekarang mereka merasa lebih rileks.
“Cerita lebih banyak tentang kamu dong Sunny, aku ingin tahu.”
“Hmm, apa yang mau diceritakan?”
“Ada kejadian yang menarik?”
“Gak ada.”
“Apa saja kek, hobi kamu atau apalah.”
“Kalau hobi selain main game, akhir-akhir ini aku lagi suka menyanyi dan menari.”
“Menari? Gak kebayang!”
“Meledek ya?”
“Hehe, gak kok, terus apa lagi?”
“Ngg, apa ya…?”
“Hari ulang tahun? Makanan favorit kamu? Makanan yang dibenci? Warna favorit kamu?”
“Eng, hari ultahku tanggal 15 Mei, makanan yang kusukai hamburger dan ramen, makanan yang dibenci selai kacang merah dan susu, warna favorit- Eh tunggu! Bukannya kamu sudah tahu semua ini!?”
“Kekeke”
“Yah sekarang gantian kamu, masa aku terus.”
“Kamu kan juga sudah tahu, Sunny ah~”
Tak terasa waktu sudah berlalu 3 jam sejak mereka ngobrol, sampai Appa Sunny merasa kesal.
“Sunny, tidur sana!”
“Ah, mianhae Sooyoung, aku tutup ya? Appa marah,” bisik Sunny sekecil mungkin. Karena Lee Soo Man sepertinya masih tidak tahu siapa yang sedang menelponnya.
“Gak mau, aku masih mau ngobrol sama kamu.”
“Aish, kita sudah 3 jam teleponan, sudah cukup kan?”
“Gak, masih kurang! Sampai pagi juga aku gak apa-apa!”
“Memangnya kamu gak perlu tidur?”
“Oke deh, aku tidur, asal kamu nyanyiin lagu dulu buat aku.”
Anak ini…
Sunny melihat ke belakang, Lee Soo Man sudah tidak ada disana lagi.
“Oke, tapi sedikit saja ya?”
“Yes!”
“………………”
“Kok diam sih? Mana?”
“Sebentar, aku lagi mengingat liriknya.”
“Oke oke”
Sunny menarik nafas dan mulai menyanyi dengan suara kecil.
“Saigono kissu wa
Tabako no flavor gashita
Nigakute setsunai kaori

Ashita no imagoro ni wa
Anata wa doko ni irun darou’
Dare wo omotte ‘run darou’ “
“………………..”
“………………..”
“Nah, sampai sini saja”
“Yaaaahhhhhhh…..”
“Sudah, jangan kayak anak kecil, tidur sana.”
“Ngomong-ngomong, kok bahasa Jepang sih?”
“Kamu gak tahu? Ini lagunya Utada Hikaru.”
“Kayaknya bagus, apa judulnya?”
“First love.”
“Ohh… jadi aku first lovenya kamu ya Sunny? hehehe”
“Su-sudah ya, nanti Appa marah lagi.”
“Kata-kataku dicuekin ya? Ya sudah deh, gomawo Sunny, selamat tidur, mimpi indah,” kata Sooyoung mesra.
“Ya ya.”
Sunny menutup teleponnya, dan ternyata Lee Soo Man berdiri tidak jauh darinya.
“Siapa barusan?”
“Teman.”
“Namja?”
“Bukan, dia yeoja kok.”
Sunny berusaha bersikap sewajar mungkin untuk menghindari kecurigaan Lee Soo Man. Untung kata-katanya tidak terbata-bata.
Sunny berjalan masuk kamar, mengunci pintu dan berbaring di kasur. Kemudian barulah dia tidak menyembunyikan hatinya yang berbunga-bunga.
“Hehe, kamu memang first loveku kok Sooyoungie.”
Sunny memeluk bantal berwarna pinknya dan tersenyum.
“Selamat tidur…”
Hari ini adalah hari terindah dalam hidupnya. Rasanya dia tidak sabar menunggu hari esok.

Sementara itu Sooyoung dimarahi karena terlalu lama menelepon. Tapi dia tidak peduli, dia sudah terlalu senang untuk menanggapi amarah Ummanya. Semua kata-kata yang masuk ke telinga kiri keluar lewat telinga kanannya.
Dia juga tidak kapok untuk lain kali mengulanginya lagi.
______________________________________________________________________________________________________________

Keesokan harinya.
Sunny dan Sooyoung kelihatan lebih mesra dari hari kemarin.
Jessica menjadi sedih, dia seperti tidak bisa masuk di antara mereka berdua. Mendadak dia yang merasa menjadi orang ketiga sekarang. Padahal bukannya mereka bersahabat?
Padahal tadinya aku yang selalu berada di sisi Sooyoung, batin Jessica.

Ketika sedang membahas soal pelajaran, Sunny melihat sebuah foto yang terselip di buku teks Sooyoung. Dia mengambilnya dan ternyata itu foto Jessica yang waktu itu.
“Kenapa kamu masih menyimpan foto Jessica?”
“Habis gak tega buangnya, kamu saja deh yang buang,” Sooyoung seenaknya memberikan fotonya ke tangan Sunny. Sunny tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan foto itu. Mau diletakkan begitu saja atau dibuang? Akhirnya dia memilih pilihan yang pertama. Dia meletakkannya di laci meja orang lain.
“Sebagai gantinya, aku minta foto kamu dong.”
“Eh? Aku?”
“Iya kamu.”
“…………….”

**

Saat jam istirahat, Jessica tak sengaja menemukan foto dirinya. Dia memungutnya.
Ini kan… foto yang Sooyoung minta waktu itu?
Fotonya sudah kotor, ada jejak sepatunya, tanda kalau sudah terinjak-injak.
“……………….”
Begitu ya… jadi Sooyoung membuang fotoku…
Jessica teringat kembali kata-kata Sooyoung dan pujiannya waktu itu.
Bahkan setelah dia berkata begitu…
Jessica menyeka air mata yang sudah hampir terbentuk di sudut matanya.
______________________________________________________________________________________________________________

Karena takut dicurigai Appanya, Sunny sampai diam-diam pergi ke tukang foto sepulang sekolah.
Saking gugupnya, dia tidak sempat beraegyo sewaktu difoto. Akhirnya hasilnya malah seperti untuk pas foto.

Esok harinya, kebetulan dia berangkat lebih pagi. Kelas masih kosong, belum ada yang datang selain Sooyoung. Sudah beberapa kali memang Sunny selalu menemukan Sooyoung yang pertama kali sampai di kelas.
Aneh juga, sejak kapan dia jadi serajin ini? Padahal waktu SD saja tidak, pikir Sunny.
Tapi bukan soal itu yang akan dia bahas sekarang.
Dengan sikap sewajar mungkin Sunny berjalan ke mejanya.
“Pagi,” senyum Sooyoung.
“Nih fotonya,” kata Sunny tanpa basa-basi sambil menyerahkan fotonya.

“Eh? Yang benar? Buat aku?” tanya Sooyoung senang, seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah.
“Kan kamu sendiri yang minta waktu itu,” kata Sunny berusaha menyembunyikan kegirangan dalam nadanya.
Sooyoung menggenggam tangan Sunny, maksudnya untuk berterima kasih.
Mereka berpandang-pandangan dalam sepuluh detik yang membahagiakan sampai wali kelas mereka kebetulan menyaksikan adegan mesra itu.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "We Were Meant to Be Together (Chapter 5)" (62)

  1. sooyoungnya gokil thor
    hehe
    ah jadi makin penasaran sunny kenapa

  2. sooyoung bela-belain d’mrhin ma ummany gra2 nlpon 3 jam ma sunny! ckck…
    sica, kykny kecewa yach?
    lnjutkan! d’tnggu..

  3. sooyoung bela-belain d’mrhin ma ummany gra2 nlpon 3 jam ma sunny! ckck…
    sica, kykny kecewa yach?

  4. new fan of snsd said:

    wah…jadi kasihan ama Jessica yg ditelantarkan ama Sooyoung setelah baikan ama Sunny….

  5. paragraf depannnya keknya seru tuh.. jadi penasaran.

    emang ya, kalo orang lagi in love bawaannya pengen mesra mulu, tapi mesranya soosun dimana-mana mah gokil banget.
    tapi kasian juga tuh jessica. hiks.
    lanjutkan author!!!

  6. penasaran sama paragraf atas, thor..

    eeehh teruss terus itu wali kelasnya yang tau adegan mesra itu teruss mau ngapain? apa dicuekin, thor?

  7. taengppany said:

    3 jam dong nelepon kuping ga bengkak itu?hehe
    Sooyoung konyol banget segala di tanya berasa mau interview kerja aja

  8. Busyet d, tega amat Soo, buang aja katanya. Benar2 jahat ama Sica. Pantas aja kena karma dia. Dibalikin baik2 aja knapa? kayak habis manis sepah dibuang aja. Tapi untunglah akhirnya SooSun baikan juga.
    Sunny serius amat ampe bikin foto baru sgala, hayuluh jadinya gak imut gara2 gak aegyo lagi d. ^^
    Ttap ya LSM itu jadi pengganggu hubungan SooSun.^^
    Jangan2 itu yang mati di rumahnya Sunny yang bunuh si LSM lagi. Jadi pnasaran bangt ama apa yang tlah trjadi ama Sunny sampai amnesia gitu. Pasti hal yang sanhat bikin shock d. Aku tbak ngawur aja ah. Sunny lihat muka LSM (yang memang sudah mengerikan) yang sangat mengerikan (terciprat darah dngan ditrangi cahaya lampu remang2 atau kilatan petir) kali ya. Wih, aku bayanginnya aja seram bangt itu thor. ^^

    • Apa boleh buat, kalau gak gitu nanti Sunny cemboker lg 😛
      wkwkwk kebanyakan nonton film tuh, sampai ada kilatan petirnya XD

  9. ya ampun syoo, tega bener. disimpan aja napa buat kenang2an
    poor sica 😦

    akhirnya mereka baikan lagi 🙂
    kukira foto yg mana taunya foto sunny yg itu, wkakaka 😛

  10. kaget waktu liat liriknya Saigo no kissu, aku kira bakalan lagu SNSD, Wkekek…

    aku jd bingung nih thor, sunny jd pembunuh ya?

  11. sica jung said:

    sica kasihan bget
    di cuekin ma soosun
    lanjut thor

  12. aigoo….soo tega amat ama sicababy T_T
    masa abis baekan ama sunny trus sica langsung dicuekin mana fotonya dibuang lg *mendingan kasih ke aku aja hehe :P*

    penasaran ama yg diawal siapa sih namja yg tewas itu & siapa yg bunuh dia???

  13. Wah… Sica kasian bgt!
    Tapi seneg jga liat soosun baikan, hahahaha….

  14. Miss New New said:

    Nah nah naah~

    Aku dah selesai baca^^

    Curi2 waktu dari pagi sampai malam ini wkwk
    *kebiasaan deh ni orang,, curcol mlulu

    Aku suka ‘suasana’ baru di setiap ff yg kau kerjakan Thor n_=

    Keep fighting yaak

  15. navy99blue said:

    wew.. Sapa namja yg tewas?? *penasaran
    Sunny masi amnesia ya.. Kasian soo..
    denger ada kata tewas brasa suspense deh..hehe
    Ditunggu kelanjutannya.. 😀

  16. Wew, telpon 3 jam?? Apa g panas tuh kuping??
    Sica, malangnya dirimu dicuekin sica#peluk sica

  17. wkwkwkwkwk BAGUSSSSS~ ayuuu lanjutannya mbak author 😀 segera yaaaaaaaaaaa~

  18. Kimtaeyeoung said:

    Soosun baikan,sica kasian..waaah bener2 sweet deh soosun..gemes juga laghe..

  19. Youngiiie ~ kau jahat, sica dbuang bgitu saja 😦

    dan telpon2an 3 jam?? Gw bakal abis diamuk bokap klo ngelakuin hal kyk gt hahaha

    kmarin teka teki, skrg ada polisi detektif…ckck lanjut thor

  20. Sooyoung ama sunny udah baikan,tapi sica malah di buang begitu aja sama kayak potonya ! kasian.tapi di awal cerita itu ada tentang pembunuhan ? siapa yang di bunuh ?

  21. wah..aku telat mampir>,< parah aku kasian banget ama sica..apa dia tetep jd orang ke3 sampai dewasa..jangan buat dia jd jahat yah..pasangan sica taeng aja yah..u,u

  22. Mwo tega sekali sooyoung pada sica beby, smpe fto ny kbuang mendi buat gw aja.. Hehe

    thor dsini soosun sma atau smp ?

  23. thor buruan di lanjutin yg chap 6
    penasaraaaaaaan

  24. nie_taeny said:

    SooSun konyoll bngtt 😀

    OMO,,mreka k’pergokk ma guru. D’hukum gk yaa???

  25. Author,boleh minta pw nya gaak?penasaran banget sama ceritanya thoor 😀

  26. new fan of snsd said:

    kok belum di update thor? masih sibuk ya?

  27. Ahhhaaahaa,Soo bnran lucu bnget,,karakternya bneran pas ma Soo,sunny juga,,,,kreen thor..
    Tpi apa yng trjdi ma sunny ,kejadian apa yng buat sunny hlang ingatan,,?penasraann author,,
    Lanjuttt ya d tungguu,,,,

    FIGHTAENG^^

  28. Sekarang sica yg tersakiti~

  29. lee deyeon said:

    Eaaaaa akhir nya SooSun baekan, hihihi..
    Tu Syoo sompak amat pas dtelpon mas nnya dah mnum pa blum, hihi..

  30. Next next next
    seruuuu
    daebak *smg bukan soosun pelakunya

  31. hennyhilda said:

    Waduhhh parah bgt km sooyoung suruh org lain bwt buang fotonya sica ckckckck
    jd mqn tmbh pnsrn
    semangat author
    ganbatte

  32. akhirnyaa uri soosun yg manis sudah kembali 😀 tp ga tega sama sica.. 😦 please cariin someone special jg buat sica dong thor :’3 biar sica jg bahagia..

  33. Aissshhh, Sooyoung unnie, jahatnya dirimu 😡
    Jessica unnie udah baik juga kemaren ngasih foto itu sama unnie, tapi tega”nya unnie buang -_- sampek dipijak” lagi -_- Aku marah nih (nggak ada yang peduli)
    Kasihan banget ngebayangin gimana sedihnya wajah Sica unnie waktu tau fotonya udah dibuang sama Soo unnie
    Sica unnie… Sica unnie…. sini sama aku. Aku pinjamin pundak nih^^
    Cup.. cup.. cup^^

    “apa sih bedanya sekarang sama tahun depan? Cuma beda tiga ratus hari lebih saja…”
    Sumpah yah un, waktu baca ini tiba” *plak XD
    Ohhh Soo unnie 365 hari itu sungguh berbedaaaa XD
    Sumpah yah, Soo unnie di sini selain nakal, konyol, aneh, dan masih banyak lagilah. Bikin gemessss

    Penasaran sebenarnya apa yang terjadi..
    Next… next… next 😀

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: