~Thank you for your comments~

Sunny sekarang menjadi lebih periang.
Bukan hanya itu, dia juga sering melamun ketika sedang menjaga toko. Dia sering berharap-harap kalau anak perempuan yang ditunggunya datang, mengajaknya main.

Dan biasanya Sooyoung selalu datang sesuai harapannya.
Kalau Sooyoung tidak datang hari itu, moodnya menjadi jelek dan seharian dia terus cemberut.
Tidak peduli saat dia sedang menjaga toko, Sunny langsung nyelonong kabur karena ajakan Sooyoung.
Ketika Lee Soo Man menemukan Sunny hari ini tidak menjaga toko lagi untuk kesekian kalinya, dia menjadi kesal.
“Pasti anak itu lagi yang mengajak Sunny!”
“Ada apa?” tanya istrinya.
“Anak itu lagi, dia mengajak Sunny pergi tanpa ijinku.”
“Sudahlah, toh tidak ada salahnya, lagian dia anak perempuan juga kan. Kamu tidak lihat Sunny kelihatan lebih ceria akhir-akhir ini?”
“Iya sih, tapi aku khawatir kalau Sunny sering main bersama anak itu…”
Entah karena apa, mungkin Lee Soo Man sudah merasakan gelagat gak enak.
“Ah khawatir apanya. Baru-baru ini dia juga bantuin Sunny mengangkat barang belanjaan kan? nah, kurasa tidak ada ruginya membiarkan dia main bersama Sunny.”

…………………………………..

Meski Lee Soo Man kelihatannya tidak begitu menyetujui, persahabatan mereka terus berlanjut sampai kelas 6.
Sepulang sekolah.
Sooyoung menunggui Sunny yang sedang melaksanakan tugas piketnya.
Seharusnya ada beberapa anak lainnya, tapi mereka semua membolos, hanya Sunny yang rajin.
Diam-diam Sooyoung mengagumi sifat Sunny yang seperti ini.
Karena itu walau bukan gilirannya, dia menawarkan diri untuk membantu.
Tapi karena dia adalah Choi Sooyoung, baru menyapu lima menit saja dia sudah berhenti. Digeletakkannya sapunya sembarangan lalu dia duduk dan memakan coklat.
Sunny geleng-geleng, tapi meski begitu dia diam-diam merasa senang.
Sooyoung sudah menemaninya, baginya itu saja sudah cukup.
“Eh Sunny, hari ini pergi main ke taman lagi yuk?” tanya Sooyoung dengan mulut masih mengunyah coklat.
“Tidak bisa, Appa marah karena akhir-akhir ini aku sering melalaikan tugasku.”
“Tugas? Menjaga toko?”
“Ne, aku hanya bisa pergi kalau hari minggu.”
“Oke, ya sudah hari minggu saja.”
Sunny mengambil sapu yang digeletakkan Sooyoung sembarangan dan meletakkan sapunya kembali ke tempatnya.
“Sudah selesai?”
“Ne, gomawo sudah nemenin.”
“Gwenchana, lagian aku gak ada kerjaan juga, ayo kita pulang.”
Sebenarnya separuh alasan lainnya adalah biar dia bisa berada dekat dengan Sunny.
Sunny mengambil tasnya. Lalu mereka sama-sama berjalan pulang.
“Sunny, mau coklat?”
“Eh? Gak usah, makasih…”
“Gak apa-apa, nih, lagian kalau makan kebanyakan aku bisa sakit gigi,” Sooyoung memotong sebagian coklatnya dan memberikannya ke Sunny.
Walau itu hanya coklat murahan tapi Sunny merasa senang.
Sooyoung memakan coklat itu dengan nikmat. Setelah habis dijilatinya sisa-sisa coklat di tangannya lalu setelah itu dia usapkan sembarangan ke roknya.
“Kotor tuh,” Sunny tersenyum dan mengeluarkan tisu dari sakunya. “Nih, dilap dengan ini.”
“Gomawo, ngomong-ngomong hari ini boleh aku main ke tokomu?”
“Eh? Tapi aku gak bisa main…”
“Duduk saja juga gak apa-apa kok, aku gak bakal ganggu.”
Anak aneh, pikir Sunny.

……………………………………

Sore itu Sooyoung menepati kata-katanya. Dia benar-benar datang ke tokonya.
Sunny sangat gembira, tapi dia tidak mau terlalu menunjukkannya. Nanti dikira dia memang mengharapkannya kan?
Sunny mempersilakan Sooyoung masuk, lalu mereka sama-sama duduk dan mengobrol.
Saat ada pelanggan, Sunny langsung menarik diri dari percakapan dan melayaninya dengan sigap.
Sunny tidak sadar tatapan memuja Sooyoung yang ditujukan padanya dari belakang.
Sooyoung berpikir alangkah betapa hebatnya Sunny yang sudah membantu orang tuanya padahal usia mereka sebaya.
Saat itu Lee Soo Man datang untuk mengecek.
Dia melihat anak perempuan bernama Choi Sooyoung itu lagi bersama Sunny.
“Anak itu lagi… dia datang bukan buat beli tapi cuma buat gangguin Sunny kerja,” gumam Lee Soo Man.
Setelah Sunny selesai melayani pembeli dia kembali ke sisi Sooyoung lagi dan melanjutkan obrolan mereka.
“Sunny, kalau kamu ada waktu luang, daripada buat ngobrol mending kamu kerjakan PRmu,” kata Lee Soo Man.
“Iya Appa,” jawab Sunny patuh.
“Mianhae, tunggu sebentar ya,” Sunny berkata pada Sooyoung lalu dia masuk ke dalam.
Sambil menunggu Sooyoung melihat-lihat kondisi di dalam ruangan.
Penuh dengan barang-barang elektronik. Kalau saja dia tahu nama-namanya, pasti dari tadi dia sudah menawarkan diri untuk membantu Sunny.
Tidak lama kemudian Sunny kembali membawa buku dan alat tulis di tangan kirinya dan segelas air di tangan kanannya.
“Silakan diminum.”
“Ah, gak usah repot-repot Sunny, aku kan gak minta.”
“Ya, tapi kamu tetap tamu kami.”
“Tapi aku kan sudah bilang gak mau mengganggu…”
“Kamu gak mengganggu, minum saja, aku sudah mengambilnya nih.”
Akhirnya Sooyoung mengalah dan menerima segelas air dari Sunny dan meminumnya pelan-pelan.
“Mianhae, aku mau ngerjain PR,” kata Sunny sambil membuka kotak pensilnya.
Suasana menjadi sunyi. Beberapa menit telah berlalu.
Sooyoung pura-pura minum sambil diam-diam menikmati pemandangan Sunny yang sedang fokus pada pekerjaan rumahnya. Sunny yang sedang berpikir dengan serius terlihat begitu memesona.
Tak sadar, pipinya jadi terasa panas dengan pikiran itu.
Uh, kenapa sih denganku, batin Sooyoung.
Tiga puluh menit kemudian.
Meski selama itu mereka tidak saling berbicara, tapi Sooyoung merasa nyaman.
“Oh ya Sooyoungie?” kata Sunny tiba-tiba berkata setelah hening panjang. Dia menutup PRnya, sepertinya sudah selesai.
“Ne?”
“Kamu sudah ngerjain PR?”
“Be-belum.”
“Aish, tapi kamu malah datang kesini.”
“Ah…” mendadak Sooyoung merasa tidak enak. Diluar juga sudah gelap. Apalagi dia tidak sepintar Sunny, kalau dia yang mengerjakan mungkin akan butuh waktu berjam-jam.
Kalau dia tidak mengerjakan dia pasti akan dihukum besok. Tidak ada yang lebih mengerikan dari dihukum Guru matematika mereka.
“Sunny, apa aku boleh pinjam PRmu?” kata Sooyoung dengan suara kecil. Dilihat dari sifat Sunny, dia sudah yakin 99% akan ditolak. Dia pasti akan bilang ‘kerjakan sendiri’.
“Boleh.”
Hah?
Sooyoung sempat tidak percaya dengan pendengarannya.
Serius nih boleh?
Apa ini termasuk salah satu dari 1% yang langka itu?
“Karena hari ini kamu sudah menemaniku,” Sunny memberikan PRnya.
Alasan Sunny, sebenarnya kalau Sooyoung yang minta, pasti akan dipinjamkan.
Sooyoung menerima PRnya, masih kehilangan kata-kata.
“Sudah hampir jam 8, apa kamu tidak mau pulang?”
“Ah…”
Perutnya terasa kosong. Mendadak dia ingat kalau dia belum makan, Sunny juga dari tadi belum. Dia juga sama sekali tidak membantu Sunny di toko. Sooyoung merasa kehadirannya semakin mengganggu.
“Ne, aku mau pulang.”
“Oke, kalau begitu sampai besok.”
Sooyoung sudah berjalan beberapa meter ke depan lalu dia berbalik.
“Ada apa? Ada yang ketinggalan?”
“Sunny… apa aku mengganggumu?”
“Eh?”
“Sepertinya kehadiranku disini hanya mengganggu kamu… kalau memang benar begitu, katakan saja terus terang Sunny… supaya aku tidak mengganggu kamu lagi…”
Melihat wajah Sooyoung yang menyalahkan dirinya, Sunny menggigit bibir, dia tidak bisa membiarkannya, dia tidak mau Sooyoung sampai salah paham.
“Sooyoung!”
Sunny berlari dan sekarang berdiri tepat di depannya.
“Sunny?”
Setelah berdiri di depannya, dia malah jadi tidak berani menatap wajah Sooyoung.
Sunny memberanikan diri meraih sebelah tangan Sooyoung yang tidak memegang buku.
“Aku justru senang… karena ada kamu… aku…”
Sunny tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Mukanya merah padam. Parameter dalam dirinya sudah melebihi batas maksimal.
“Terima kasih untuk hari ini!”
Cepat-cepat dia melepaskan tangan Sooyoung, kemudian berbalik dan berlari masuk ke dalam.
Sooyoung tidak mengerti kenapa Sunny seperti tersipu-sipu begitu. Tapi sekarang dia yakin kalau kehadirannya tidak mengganggu Sunny.

Keesokan paginya.
“Hai pendek,” sapa Sooyoung sambil tersenyum.
“Hai tiang.”
“Terima kasih ya PRnya kemarin, aku terselamatkan,” Sooyoung mengembalikan buku Sunny.
“Sama-sama.”
“Hari ini aku boleh datang lagi?”
“Terserah kamu.”
Lalu saat mereka sudah tidak saling bertatapan lagi, mereka senyum-senyum sendiri.
______________________________________________________________________________________________________________

Hari minggu.
Sooyoung memanjat pohon mangga dengan lincah. Sunny yang melihat di bawah hanya bisa bengong melihat Sooyoung yang memanjat seperti seekor monyet.
“Oi Sunny! Ayo kamu juga manjat dong!”
“Eh? Aku gak ah…”
“Kenapa? Gak bisa manjat Sun Kyu? Ah dasar manja.”
Sunny anak yang mandiri, dari kecil dia sudah bisa menjaga dirinya. Karena itu mendengar dirinya dikatai manja, dada Sunny menjadi panas. Dia paling tidak suka dikatai begitu, apalagi sama Choi Sooyoung.
“Kata siapa aku gak bisa!”
Dia langsung ikut memanjat berusaha mengejar Sooyoung.
“Kekeke, kamu gak akan bisa membalapku Sunny,” Sooyoung dengan mudahnya naik ke batang yang lebih tinggi lagi.
Sunny gemetaran, sekarang dia sudah berada tiga meter di atas tanah.
Dia tidak berani melihat ke bawah tapi dia mau turun. Dengan tangan dan kaki gemetar Sunny berusaha menurunkan kakinya ke batang yang lebih rendah.
Dari atas Sooyoung melihat Sunny gemetaran, ketika dia bermaksud turun ke dekat Sunny.
Sunny salah berpijak dan-
Jantung Sooyoung hampir copot melihat Sunny jatuh.
“Sunny!”
Sooyoung segera turun dan berlutut di sebelah Sunny yang terbaring di tanah.
“Sunny! Sunny!”
“Uh….” Sunny memegangi lengan kirinya.
Sooyoung melihat mata Sunny berair lalu dia mulai menangis keras.
“Huwaaaaaa!!”
“Aigoo…” Sooyoung kebingungan. Mendadak dia merasa bersalah.
Pokoknya aku harus bawa dia pulang dulu, batin Sooyoung.
“Naik ke punggungku, Sunny.”
Sambil masih menangis kesakitan Sunny naik ke punggung Sooyoung.
“Waaaaaaaa!!”
“Jangan cengeng ah! Masa jatuh gitu aja nangis!”
Sebenarnya Sooyoung tidak bermaksud membentaknya, dia cuma cemas terjadi sesuatu yang serius pada Sunny.
Sooyoung segera berlari pulang sambil membawa Sunny di gendongannya.
Setelah dibawa pulang Lee Soo Man segera membawa Sunny ke rumah sakit, Sooyoung juga ikut karena khawatir.
Disana dia digips karena lengan kirinya patah.
“Maafkan aku…” kata Sooyoung dengan wajah tertunduk. Dia tidak keberatan kalau seandainya dia dipukul sekalipun.
Lee Soo Man merasa muak melihat Sooyoung masih berada disana. Urat-uratnya terlihat menegang. Dia mengepalkan tinjunya berusaha meredam kemarahan.
“Appa, jangan marahi Sooyoung… aku jatuh karena kecerobohanku sendiri…”
Melihat ketegangan yang terjadi di antara mereka, istri Lee Soo Man segera menengahi mereka.
“Sudahlah, mereka kan hanya anak-anak, mereka hanya kurang hati-hati,” hiburnya.
Rasanya Lee Soo Man jadi makin tidak suka dengan Sooyoung.
“…………..pulang sana… dan kalau bisa aku minta kamu jangan dekati putriku lagi…”
Sunny menatap Appanya tidak percaya. Sampai segitunya dia menyalahkan Sooyoung?
“………………..”
Sooyoung membungkukkan tubuhnya rendah-rendah, ”Maafkan aku…”
Lalu setelah itu dia pergi dari sana dengan perasaan bersalah.
“Appa…”
“Sudahlah, ayo kita pulang.”
“……………….”

Keesokan harinya.
“Sunny,” Sooyoung langsung menghampirinya segera setelah dia melihat Sunny masuk kelas.
“Patah tulangnya… gak parah kan?”
“Gak apa-apa, kata dokter patah tulang pada anak-anak akan cepat sembuh. Dan malah setelah sembuh akan jadi lebih kuat.”
“Syukurlah…”
Dalam hati justru Sunny yang merasa paling lega. Sikap Sooyoung padanya tidak berubah. Karena dia takut sekali waktu Pamannya berkata pada Sooyoung agar jangan mendekatinya lagi.
______________________________________________________________________________________________________________

Tiga bulan kemudian patah tulang Sunny sudah sembuh total.
Sebenarnya Sunny sendiri merasa kewalahan, karena selama itu Sooyoung jadi sangat overprotektif padanya, seperti melarangnya melakukan ini itu, bahkan sampai membawakan tasnya, dan sebagainya.
Tapi dia juga sangat menikmati perhatian yang Sooyoung berikan padanya.

Siangnya saat jam istirahat Sooyoung mengajak Sunny ke kantin karena mereka tidak membawa bekal.
Bagi Sooyoung kantin terasa seperti surga. Dia sudah tidak sabar untuk mengisi perutnya yang kosong. Tanpa malu-malu Sooyoung langsung memesan seenak perutnya.
Mata Sunny membulat melihat jumlah makanan di atas meja. Ada semangkuk ramen, doenjang chigae, dan sepiring hamburger.
“Gila! Banyak sekali! Kamu benar anak SD?!”
“Hah?? Segini dibilang banyak? dalam sehari aku malah bisa makan lebih dari lima kali.”
Lebih dari lima kali? Omo… masih SD saja dia sudah makan sebanyak ini, apalagi kalau dewasa nanti.
“Shik Shin,” kata-kata itu meluncur keluar begitu saja dari bibir Sunny.
“Yea memang banyak yang bilang aku begitu hahaha!” Sooyoung malah sama sekali tidak kelihatan terganggu dengan julukan itu. Padahal dia seorang yeoja tapi tidak takut dianggap rakus.
Sooyoung menyantap doenjang chigae dan ramennya dengan nikmat. Diperhatikannya Sunny yang sedari tadi hanya duduk dengan manis.
“Heh? Kamu nggak makan Sunny?”
Melihat kamu makan saja sudah bikin kenyang, batin Sunny.
“Nggak boleh begitu, nanti kamu kena maag, ya sudah hamburgernya buat kamu nih,” Sooyoung menggeser piring hamburgernya ke depan Sunny.
“Ah nggak u-!”
“Nggak usah sungkan,” potong Sooyoung. “Katamu makanku kebanyakan.”
“Kalau begitu biar kubayar.”
“Ah, harga sepotong hamburger tak seberapa.”
“Ya tapi…”
“Anggap saja sebagai balasan karena kamu pernah menolongku dari ahjussi itu dan karena telah meminjamkan PRmu waktu itu. Lagipula kamu suka hamburger kan?”
“Ah…”
Sooyoung nyengir, “Lho benar ya? Padahal aku cuma menebak hehehe”
Sooyoung melanjutkan menghabiskan makannya.
“…………….”
“Kenapa lagi? ayo dimakan”
“Aku jadi nggak enak… kamu pasti juga ingin makan hamburger ini makanya kamu pesan kan…”
Mendengar itu Sooyoung berdiri dari kursinya dan berjalan menuju stan makanan. Lalu dia kembali duduk di tempat.
Sunny bertanya-tanya apa yang baru saja dilakukannya.
Tiga menit kemudian pesanannya datang.
Sunny membelalak tidak percaya ketika melihat seorang pelayan meletakkan sepiring hamburger di meja.
“E-eehhhhhh??!! Kamu pesan lagi???!!!”
Sooyoung cengengesan melihat reaksi gadis di depannya.
“Nah sekarang aku juga sudah pesan buat aku sendiri, jadi ayo dimakan hamburgernya.”
Sooyoung yang sudah menghabiskan ramennya kemudian beralih ke hamburgernya.
“Selamat makan!”
Sunny masih bengong tidak percaya. Sekarang dia tidak punya alasan untuk menolaknya lagi. Dia berpikir yeoja di depannya ini sungguh aneh. Tapi entah kenapa di saat bersamaan dia juga sangat menarik. Belum pernah dia menemui anak seusianya yang demikian menarik hatinya.
Akhirnya Sunny menerima tawaran Sooyoung dan mulai memakan hamburger itu.
Sesekali tatapannya terbentur dengan tatapan Sooyoung.
Sooyoung tersenyum padanya.
Ah…
Sunny kembali menundukkan kepalanya. Entah kenapa jantungnya berdebar ketika melihat senyum itu.
Apa yang salah dengan dirinya?
Tapi kalau melihat senyum itu dia jadi merasa yang lain tak ada artinya.
Sebagai minumannya Sooyoung membeli susu kotak.
“Mau?”
“Aniyo, aku nggak suka susu.”
Begitu tahu kalau Sunny tidak suka susu, ide iseng terlintas di pikiran Sooyoung. Keesokan harinya Sunny sangat kaget ketika menemukan puluhan kotak susu di atas mejanya.
“A…apa-apaan ini.”
Sooyoung mulai menyanyikan lagu aneh.
“Sunny Sunny~ ayo diminum susunya biar nggak pendek~”
Lantas seluruh kelas menertawakannya.
Paras Sunny merah padam. Kala itu kalau murid-murid disuruh berbaris Sunny memang selalu menempati barisan terdepan. Sebaliknya Sooyoung selalu berada di barisan paling belakang.
“Siapa yang menaruh ini disini…”
“Sunny ahhh~ kamu nggak boleh benci susu, nanti kamu nggak tinggi tinggi lho~ mumpung masih dalam masa pertumbuhan~” seru Sooyoung yang menyulut tawa teman-teman sekelasnya.
“Sooyoung, jadi kamu?! Kamu yang menaruh susu-susu kotak ini disini?!”
“Ow ya, memang aku,” Sooyoung tersenyum tanpa dosa.
“Buat apa?!” kata Sunny setengah membentak.
“Karena kamu pendek Sunny, aku cuma mau membantu pertumbuhanmu.”
Teman-temannya masih tertawa, beberapa malah perutnya mulai sakit karena tertawa berlebihan.
“Soal badanku pendek atau tidak itu bukan urusanmu! Cepat singkirkan susu-susu kotak ini dari mejaku!”
Tiba-tiba teman sekelasnya menyela.
“Eh, kalau nggak mau buat aku saja ya?”
“Ah, aku juga mau!”
“Ya, silakan, aku nggak mungkin bisa menghabiskan semuanya, ahaha,” kata Sooyoung.
“Horeeeee~”
Beberapa anak lelaki mulai berebutan susu kotak itu.
“Kenapa kamu segitu nggak sukanya?” Sooyoung mengambil salah satu kotak dan menusukkan sedotan lalu meminumnya seteguk.
Sekarang meja Sunny berantakan dengan tumpahan susu, sedotan bekas, dan kotak-kotak yang sudah kosong. Sunny yang melihat keadaan mejanya menjadi sangat marah.
“Rasanya enak, manis lagi.”
Sooyoung memberikan susu kotak yang dipegangnya ke Sunny. Sunny yang sudah kalap langsung menepisnya dengan kasar.
“Nggak suka ya nggak suka!”
Susu itu tumpah ke seragam yang dikenakan Sooyoung lalu jatuh ke lantai.
“Akh!” Sooyoung melihat ke noda coklat di bajunya. Wajahnya tertekuk. “Yah! Nanti aku dimarahi Umma!”
Dia juga kecewa karena telah menghabiskan uang sakunya demi membeli semua susu itu, tapi Sunny malah berbuat seperti itu.
Mungkin memang terdengar mengejek, tapi sebenarnya Sooyoung benar-benar tulus mencemaskan pertumbuhannya.
Sooyoung menoleh ke Sunny.
“Dasar pendek,” cibirnya.
“Tiang!”
Sejak saat itu Sunny dan Sooyoung tidak pernah saling menyapa lagi. Sooyoung tidak mau meminta maaf pada Sunny, dia maunya Sunny yang duluan meminta maaf begitu juga sebaliknya.
Tapi meski begitu diam-diam Sooyoung sering mencuri-curi pandang ke arah Sunny. Menguping percakapan Sunny dengan teman-temannya, sehingga dia selalu tahu semua tentang Sunny.
Sunny sendiri juga sering diam-diam mencuri pandang. Dan Sunny bukannya tidak sadar kalau dirinya sering ditatap Sooyoung. Karena itu dia semakin gengsi untuk meminta maaf duluan.
“Orang dianya yang salah! Kenapa aku yang harus minta maaf duluan?!”
Begitu kata Sunny pada teman-temannya.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "We Were Meant to Be Together (Chapter 2)" (62)

  1. Miss New New said:

    hihihihiihi
    Lucu lucu

    Jangan2 ini kenangan author waktu masih kecil ya?

    • haha kalau soal wktu main ke TK, ngeliat kelinci, main perosotan, ayunan, sm ngambil jambu itu memang pernah kualami XD

  2. Haha. Ada anak kecil berantem. Unyu sekali.

    Soo salah cara nih, jadi marahan kan. Sica dimana? chapter berapa munculnya?

  3. Thor cpet amat .
    Baru jga kmaren. .

    Ok ku tunggu kryamu slnjtnya. 😀

  4. taengppany said:

    perang dingin di mulai nih
    sooyoung mentang mentang badan setinggi tiang jadi ngasih susu buat pertumbuhan sunny, bener bener masalah tinggi badan itu sensitif aku juga sering ejek ejekan sama temen yang badannya lebih kecil dari aku

    lanjut thor ^^

    • sebenarnya dulu aku jg sering ngeledek tmn masa kecil yg lbh pendek dr aku (pdhal pendeknya paling hanya lima-enam cm dr aku wkwkwk)
      pdhal aku yeoja jg (jd kayak Sooyoung dong 😛 )

  5. MeLLocksmitH said:

    Tumben nih cpet,, huuaa soosun lg marahan,, buruan baikan donk.. Kata mama(?) musuhan ama tmen itu gk baik tw..

    Met hri raya idul fitri eon, mohon maaf lahir & bathin ☺
    D tnggu lnjutan’a..
    Caaww 😉

  6. Kwon Eya said:

    Waaaah, psangan Soosun emg jang. Lucu banget. Noumu joahæ!
    Lnjut thor!

  7. WAHAHAHA SD BANGET TUH, GAK MAU MINTA MAAP DULUAN, GENGSI XD DITERUSIN YA, DITUNGGU NEXT CHAPTER 😀 (SENGAJA PAKE CAPS LOCK, BIAR KELIATAN EXCITED XD)

  8. wah berantem deh jadinya soosun… younggie maksudnya baek, tapi caranya salah, dasar dodol. maklum anak sd. wkwkwkwk…

    oke thor, aku tunggu next chapternya. Semangat….!!!!

  9. waduh berantem deh jadinya
    soosun… younggie maksudnya
    baek, tapi caranya salah,
    dasar dodol. maklum anak sd.
    wkwkwkwk…
    oke thor, aku tunggu next
    chapternya. Semangat….!!!!

  10. yah…soosun marahan 😦
    mereka kpn gedenya nih thor?? trus sica kpn munculnya?
    penasaran nih ama soosic hehe

  11. eaaa dah mulai fase berantemnya soosun, hahaha luculucu..
    lanjut thor!

  12. phe pie said:

    Ada-ada aja nih Soo. Sunny nyapu dia kagum, Sunny jaga toko n nglayanin pembeli dia kagum, trus Sunny ngrjain PR dia kagum juga. Mang ya klo sudah suka smuanya jadi trlihat indah. ^^
    Wih LSM sram nih klo marah. Oh pantas aja LSM gak suka ama Soo, rupanya gara2 Soo dianggap suka gangguin Sunny, eh ditambah ama kjadian Sunny jatuh dari pohon lagi. Atau lbih dari smua itu sbnarnya LSM takut klo hubungan SooSun bakal makin serius padahal mrka sama2 yeoja ya? Ah apa pun pnybabnya, pran antagonisnya ttap LSM (mang iklan SOsro?) XD
    Yah baru bli puluhan kotak susu aja masa duit-nya Soo sudah habis? Kan aslinya Soo (n Sunny) itu kaya bangt. OK ditunggu kmunculan Sica-nya. Mudah-mudahan Sunny cemburu n jadi mnyadari prasaannya ama Soo nantinya. ^^

  13. navy99blue said:

    Hwew.. Sptna masi akan panjang ya?
    Pnasran knp sunnyna masuk RS yg di awal chap.
    LSM itu sbnerna pamanna sunny ato appana sunny? Ato paman dianggap appa? Hehe
    Soalna di chap1 dbilangna paman. Dsini appa trus jd paman..
    Ditunggu.. 😀

    • paman yg sdh dianggap appa, jd Sunny manggilnya appa
      ya, aku rasa msh panjang (blm bisa memperkirakan panjang chapternya)
      thanks 😀

  14. sica jung said:

    Pnasran knp sunnyna masuk RS yg di awal chap?
    lanjut thor

  15. Kimtaeyeoung said:

    Iiih soosun masa2 indah waktu kecil meski soo hrus di marahin ma sooman..soo selalu semangat ok..

  16. ahahaha
    lucu ni lucu..
    banget dah!
    awalnya datar.. tapi menghibur banget un!
    kerennn
    fighitng!

  17. nuriiiin said:

    Hahahaha ~ kocak bgt yg susu itu.. Anak sd aja tingkahnya uda begini apalagi gedenya coba

  18. asleyar said:

    wahahaha!!!!!! kalo urusannya sama soosun pasti ga jauh2 dari berantem… paling entar baikan lagi………….
    author daebaaakkkk!!!!!!!

  19. hahaha…
    keliatan banget karakter anak kecilnya ! lucu… tapi ke pengen langsung gede aja.

    • nanti semakin dewasa konflik mereka semakin rumit
      hmm, aku sih gak mau terburu-buru menggambarkannya
      jd nanti ada saat2 mereka SMP dan SMA jg 😀

  20. New Fans Of SNSD said:

    update please…i’am so addicted…..!!!!

  21. wah.. Hubungan Soosun merenggang nih.. Tp jd berasa manis.. Soo yaampun manis banget si..>,<

  22. gorjesshinta said:

    di chap ini msih belum terungkap ya knpa sunny masuk rumah sakit ??
    Jessica muncul di chap berapa thor ?

  23. kesian sooman ahjussi, selalu dapet peran antagonis 😛

    baca ini jadi nginget2 kenangan masa kecil. ya mirip gitu thor. gegara masalah sepele berantem. terus diem2an gak mau nyapa duluan. ampe orang tua yg turun tangan buat ngedamein 😀

  24. keren dhe thor , jd ke inget pas TK . kekekek , over all aku rasa dapat feel polosnya , persahabatannya . kekekek , aku ga sabar nunggu pas SMP ada ice princess jejes xD

  25. Lucuu nih couple Soosun,,,hhii
    Emng cocok bnget karakternya,,,,,,
    Soo Shikshin tu juga,,hadeeuuh tpi bgus,,bnyak mkan tpi gk gndut”,,,,
    Beda ma aku,,#LohCurcol ._.

    Next

  26. Soo,harusnya kamu gak kayak gitu!! Sunny malah jadi marah deh~

  27. lee deyeon said:

    Emang ya pairing SooSun itu pling unik & koplak, hahaha..
    Itu Sooman ngapa lah, gnggu aja, ga tau apa cinta monyet tu gmna, hihi..
    Sunny dksih susu aja marah, uuuu pntes lu pndek, hahaha..

  28. Soosun…ga baik berantem lama” hihihi
    kerennnn…lanjut!!!!

  29. Lucu,lucu,lucu cerita nya soo,soo jangan suka ngeledekin sunny karna pendek dunk kan kasian sunny nya jadi bahan tertawa’an anak2 sekelas nya tuh kan kasian biarpun niat nya baik tp jangan gitu sunny jadi marah kan sama sooyoung..:p

  30. hennyhilda said:

    Aishhh imut sx c xan hehehehe n sooyoung bnr2 konyol bgt 😀
    semangat author
    ganbatte

  31. Sooyoung kecil perhatian ya #sosweet greget kalau mereka udah marahan, deg2an bacanya takut ke depannya bnyk konflik sama mrka huhu

  32. Oh, baiklah. Dua anak polos berantam 😀
    Aku pun nggak tau siapa yang salah siapa yang benar 😀 Yang aku tahu aku sayang dua-duanya XD *plak
    Ahhh, arraseo, yang salah di sini tidak lain tidak bukan adalah…. jeng jeng jeng…… Maifate unnie XD

    Aku kesindir waktu Sunny unnie bilang tiang.. -_- Dasar kak author DANSHINNNN #lah *plak XD

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: