~Thank you for your comments~

A/N : Karena chapter sebelumnya danshin, jadi chapter kali ini jangshin 😀

“Lagi?” (Hyoyeon)
“Apa maksudnya unnie?”
“…………….”
“Jessica, ini hanya tebakanku saja sih, tapi nonary game pernah diadakan sebelumnya bukan? Dan dari kata-katamu barusan, kau pernah ikut berpartisipasi dalam nonary game.” (Taeyeon)
“…………….”
“Ceritakanlah unnie, unnie tidak perlu takut, kami bukan Zero, ya kan Hyoyeon unnie, Taeyeon unnie?”
“Ne.” (Taeyeon)
“Benar.” (Hyoyeon)
Lama Jessica terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Baiklah… aku percaya sama kalian… aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
Jessica menarik nafas. Ingatannya kembali pada sembilan tahun yang lalu.
“Kamu benar. Sembilan tahun yang lalu nonary game pernah diadakan.”
Hyoyeon tertegun, “Aku jadi ingat, sembilan tahun yang lalu bukannya terjadi kasus hilangnya anak-anak secara misterius?”
“Ah, iya, aku juga baca berita itu. 16 anak menghilang.” (Yoona)
“Ne, mereka diculik untuk mengikuti nonary game. Dan aku adalah salah satu korbannya… bersama dengan adikku, Krystal,” Jessica memberi jeda sesaat untuk menarik nafas.
“Aku bagian dari grup tes Nevada. Dan Krystal tidak ada disini. Jadi aku tidak mengenali wajah-wajah orang di atas kapal ini.”
“Tunggu, tunggu Jessica,” Taeyeon mengangkat tangannya menyuruhnya berhenti.
“Jelaskan dari awal. Seperti misalnya… apa yang terjadi di kapal ini sembilan tahun yang lalu?”
“Baiklah,” Jessica menatap wajah mereka satu persatu lalu melanjutkan. “Kamu tahu morphogenetic field?” kata Jessica dengan aksen inggris.
“Morpho apa?” (Taeyeon)
Hyoyeon dan Yoona juga terlihat bingung.
“Bagaimana kalau yang ini, kalian tahu teori mekanisme telepati?”
“Telepati ya…” (Taeyeon)
“Bukan benar-benar itu, tapi serupa dengan telepati.”
“Jadi mereka mengetes telepati di kapal ini?” (Hyoyeon)
“Sepertinya.”
“Apa yang mereka sebenarnya lakukan?” (Taeyeon)
“Hal yang sama dengan yang kita lakukan sekarang.”
“Apa?” (Taeyeon)
“Nonary game. 9 orang ditempatkan di kapal ini, dan 9 orang yang lain berada di bangunan di Nevada, dan game dimulai.”
“Aku gak ngerti.” (Hyoyeon)
“Unnie, apa hubungannya nonary game dengan eksperimen telepati?”
Jessica menggigit bibir. Dia kelihatan seperti berjuang menahan tangis. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Kemampuan mengakses morphogenetic field dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, epiphany dan yang kedua adalah bahaya.”
“Apa itu epiphany?” (Taeyeon)
“Kamu tahu kan, ketika kamu dihadapkan dalam masalah sulit terkadang jawabannya tiba-tiba muncul di kepalamu. Itulah epiphany.”
“Jadi seperti tiba-tiba kamu mengerti sesuatu yang tidak kamu ketahui sebelumnya?” (Yoona)
Jessica mengangguk.
“Dan apa yang kamu pelajari dari epiphany bisa disalurkan dengan telepati. Dengan ditambah bahaya, akan lebih mudah menyalurkan informasi melalui telepati.”
“Jadi kamu bilang nonary game dimaksudkan untuk memperkenalkan elemen bahaya?” (Hyoyeon)
“Ne, tapi… bukan hanya sekedar bahaya biasa. Harus menyangkut soal hidup dan mati dan… dan… seseorang memang benar-benar meninggal… seorang gadis…”
Taeyeon merasa hatinya seperti sedang diremas-remas. Tidak tahu kenapa, mungkin hanya firasat.
“Dia berada di atas kapal, dengan Krystal. Aku ditempatkan di Nevada jadi aku tidak pernah bertemu dengannya.”
“……………..”
“Kenapa kamu tidak mengatakannya pada kita soal ini sebelumnya?” (Hyoyeon)
“Maafkan aku… Zero menyuruhku agar jangan mengatakannya pada siapapun soal kejadian yang terjadi 9 tahun yang lalu…”
“Kapan?” (Hyoyeon)
“Dia tidak mengatakannya secara langsung, tapi lewat kertas yang berisi peraturan nonary game. Aku tidak punya pilihan lain… kalau aku mengatakannya, dia akan meledakkanku… karena itu aku berpura-pura tidak mengetahui apa-apa…”
“Yah… tapi tampaknya kau masih baik-baik saja sekarang berarti ancaman itu cuma gertakan.” (Hyoyeon)
“…………….”
“…………….”
“…………….”
“Sudahlah, kita bahas ini nanti lagi, yang penting kita semua sekarang fokus untuk keluar dari sini, oke”
“Yoona benar,” kata Hyoyeon, lalu dia berjalan ke sebuah pintu. Di tengah pintu terdapat sebuah control panel dengan beberapa tombol angka, seperti yang ada pada lemari baja.
“Jadi ini pintu keluarnya ya? tidak perlu dicoba pasti terkunci.”
Untuk membuktikannya Hyoyeon tetap mencobanya.
“Nah sudah kuduga. Sepertinya perlu kode passwordnya.”
“Aku rasa bukan hanya sekedar kode password, unnie.”
“Hah?”
“Lihat ini, ada lubang di sebelah tombol-tombolnya kan? aku rasa kita perlu menggunakan semacam kunci juga.”
“Berarti kita harus menemukan kode password sekaligus kuncinya?”
“Ne,” Yoona mengangguk.
“Aigoo, makin rumit saja.”

………………………..

Mereka melanjutkan pencarian.
Taeyeon memeriksa isi-isi lemari meja. Ada satu yang paling besar yang gak bisa dibuka. Yang lain isinya-
“Hanya ada tinta hitam dan kertas kosong.”
Tiba-tiba terdengar alunan-
“Musik?”
Taeyeon berpaling dan menemukan Jessica sedang memutar-mutar pedal kotak musik, suaranya berasal dari situ.
“Jessica, kotak musik itu?”
“Hmm? Aku menemukannya di atas meja, kenapa?”
“Pinjam sebentar”
Jessica memberikannya ke Taeyeon, Taeyeon mengamat-amatinya sebentar.
“?? Kenapa Taeyeon? ada yang aneh dengan kotak musik itu?”
“Ini… kalau dilihat-lihat… tonjolan besi pada kotak musik ini… seperti garis dan titik kalau dilihat secara 2 dimensi.”
“! Taeyeon!” seru Hyoyeon yang langsung menangkap maksudnya.
“Ya, mungkin”
“Apa? Apa??” tanya Jessica mulai sebal karena tidak diberitahu.
“Taeyeon unnie, aku menemukan obeng nih! Biar kubuka, serahkan padaku unnie.”
“Oke, tolong ya Yoona.”
“Beres”
Yoona berhasil melepaskan silinder kotak musik itu dengan menggunakan obeng.
“Ini, unnie”
“Nah kalau kita lumuri dengan tinta ini…”
“Taeyeon kamu ngapain?” tanya Jessica masih bingung.
Taeyeon melumuri silinder bergerigi itu dengan tinta lalu menggulungnya di kertas kosong yang ditemukannya.

“Ah!” dia baru mengerti. “Taeyeon, kamu hebat!”
“Heh,” Taeyeon tidak bisa menutupi rasa bangganya.
Sekarang diatas kertas terdapat lima baris pola garis dan titik. Kode morse.
“Mungkin kalau kita masukkan dengan benar, akan terjadi sesuatu.” (Hyoyeon)
“Taeyeon unnie, aku mau coba!”
“Oke, kamu mengerti kode morse kan?”
“Ne, aku rasa”
“Tekan sebentar untuk titik, tekan yang agak lama untuk garis.”
Yoona melakukannya sesuai dengan yang tertulis di kertas.
Klek
“Yes! Berhasil unnie!”
“Asal suaranya dari sini,” Taeyeon mencoba membuka lemari di bawah mesin itu, lemari meja yang tadinya terkunci.
Di dalamnya terdapat sebuah kunci dan kartu kunci.
Melihat kartu kunci itu Taeyeon jadi teringat pada simbol kartu Saturnus dan Merkurius.
Di kartu kunci ini bergambar titik di tengah simbol pria.
“Ini simbol Uranus.” (Hyoyeon)
Sebagai tambahakn simbolnya, di bagian bawah kartu kunci terukir 3 kata.
“Bottom deck library,” ucap Jessica dengan aksen inggris.
“Apa di deck bawah ada perpustakaan?” (Taeyeon)
“Mungkin…”
Apapun itu sepertinya masih harus menunggu. Taeyeon memasukkannya ke dalam saku.

Mereka berjalan menuju pintu yang terkunci. Taeyeon memasukkan kuncinya.
Klik
Di layar muncul tanda minus sebanyak 8.
“Apa ini maksudnya kita harus memasukkan password sebanyak 8 digit?” (Taeyeon)
“Omo… banyak sekali, apa kita bisa…?” (Yoona)
“Ngomong-ngomong, tadi aku menemukan ini.” (Hyoyeon)

“Apa mungkin bisa berguna untuk password?” (Hyoyeon)
“Hmm…”
Mata Taeyeon tertuju pada kata z e r o yang tertulis dengan sangat jelas di empat layar monitor.
“Mungkin itu passwordnya”
Taeyeon menghitung singkat lalu mencoba menekan.
3, 5, 1, 4, 2, 7, 2, 4
Lalu tekan tombol E.

LOCK – OPEN

“Yes! Benar!”
“Kenapa bisa begitu?” (Hyoyeon)
“Aku pikir passwordnya adalah zero. z = 35, e = 14, r = 27, sedang o = 24”
“Wow” (Yoona)
“Kamu hebat Taeyeon, kalau aku sih pasti pusing kalau tidak kutulis di kertas dulu.” (Hyoyeon)
“Ne” (Jessica)
“Aku memang ingin jadi guru matematika.”
“Baiklah, ayo unnie”

Mereka melangkah keluar dari ruangan kapten dan sampai di sebuah lorong lain. Lorong itu terbentang lurus kemudian berbelok , seperti membentuk huruf L. Mereka setengah berlari melewati lorong itu.
Taeyeon melihat sebuah kertas di tengah lantai.
Dia bertanya-tanya kenapa bisa ada kertas di tengah lorong. Taeyeon berhenti sebentar dan memeriksa kertas itu lebih dekat. Ternyata itu adalah peta. Peta interior deck A.
“Apa? Kamu menemukan apa Taeyeon?” tanya Jessica dengan nafas sedikit memburu.
Tanpa berkata apa-apa Taeyeon menunjukkan peta itu pada mereka berdua.
“Ah peta” (Jessica)
“Hmm, begitu ya, aku mengerti.” (Hyoyeon)
Taeyeon melipat peta tersebut dan memasukkannya ke dalam saku. Dia bermaksud kembali berjalan tapi sesuatu menghentikannya.
“Hei… dimana Yoona?”
“Eh?”
Taeyeon berbalik. Yoona tidak ada dalam pandangan.
“Kemana dia?!” (Taeyeon)
“Setelah keluar dari pintu itu aku tidak melihatnya lagi.” (Hyoyeon)
“Mungkin Yoona masih disana.” (Jessica)
Taeyeon mendengus lalu dia kembali ke arah yang dia lewati baru saja. Saat dia berbelok di sudut, dia melihatnya. Yoona berdiri di depan pintu ruangan kapten, tangannya masih memegang kenop pintu.
Taeyeon terus mengawasinya saat dia menutup pintu itu dengan pelan.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Gak ada apa-apa.”
“Apa maksudmu ‘gak ada apa-apa’ ?”
“Aku hanya melakukan cek ulang untuk memastikan tidak ada yang kita lewatkan.”
“Ohh…”
“Yah! Taeyeon! Yoona! ngapain kalian?! Ayo cepatlah!” terdengar suara panggilan Hyoyeon.
Yoona mengangkat bahu.
“Ayo, unnie!”
Dia berbelok di sudut, dan menghilang. Kemudian Taeyeon berlari mengejar Yoona.

…………………………

Taeyeon sampai di ujung lorong. Yoona mendorong pintu di depannya dan sekarang mereka berada di ruangan besar dengan sepasang tangga.
Tepat seperti yang ada di peta.
Ruangan ini… tempat mereka bersembilan pertama kali bertemu.
Taeyeon melihat-lihat sekeliling, Jessica dan Hyoyeon tidak ada dimana-mana. Dia mendengar beberapa suara yang berasal dari bawah. Dia memegang pegangan tangga dan melihat ke bawah.
Ternyata mereka berada di bawah. Dan tidak hanya mereka bertiga saja… Sunny, Tiffany, Yuri, dan Sooyoung juga bersama mereka.
“Ah Taeyeon!” Sunny melambai padanya.
Taeyeon dan Yoona berpandangan lalu mengangguk, setelah itu mereka segera turun.
Taeyeon langsung mendekati Tiffany paling dulu untuk mengetahui keadaannya.
“Pany!”
“Taetae!”
Dengan hanya melihat wajahnya saja Taeyeon merasa sudah dapat menarik nafas lega. Kecemasan yang menumpuk di dadanya langsung hilang.
“Taeyeon, tadi Tiffany sempat ambruk karena demam tinggi,” jelas Sooyoung.
“Apa?! Pany, kamu gak apa-apa?”
“Ne, sekarang sudah gak apa-apa.”
Tidak tahu apa yang mendorongnya, tapi Taeyeon menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Tiffany.
“Pany…” Taeyeon menatapnya dengan tatapan lembut namun terkesan sendu.
Tiffany tersenyum, merasakan kehangatan telapak tangan Taeyeon di pipinya. Dia memang senang kalau diperhatikan sama teman-temannya yang lain, tapi dia merasa paling bahagia kalau Taeyeon yang perhatian padanya.
“Tidak usah cemas Taetae…”
Tiffany memejamkan matanya dan menggenggam tangan Taeyeon di pipinya.
“Karena kamu adalah obatku Taetae, aku merasa lebih enakan kalau kamu berada di sisiku…”
“Ah…” Taeyeon merasa sedikit malu, apalagi karena enam pasang mata menyaksikannya, tapi dia tidak ingin melepaskan momen yang membuat dadanya terasa hangat ini.
Sooyoung sedari tadi terus cengar-cengir seperti sedang menahan diri untuk tidak mengganggu.
Hyoyeon melirik ke Sooyoung dan sekarang ikut senyum-senyum karena merasa lucu.
Yoona menggigit bibir sambil memaksakan senyum. Agaknya dia sedikit iri dengan mereka.
Yuri tidak sedang melihat ke arah mereka, wajahnya terlihat bosan, mungkin menganggap mereka bukan tontonan yang menarik.
Sunny sekarang lebih asyik memandang lantai. Mungkin sibuk menghitung butiran pasir di lantai.
Jessica memasang tampang cemberut sambil menyilangkan tangannya di dada, jarinya asyik memainkan rambutnya.
“Pany, mulai dari sekarang aku akan selalu berada di sisimu.”
Kalau tidak ada mereka disana barangkali Taeyeon sudah meraih tangan Tiffany dan mencium punggung tangannya.
“Ehem! Maaf mengganggu kemesraan kalian, tapi ada hal mendesak yang harus kita bicarakan.” (Sooyoung)
“Ah benar! Taetae! Kita akhirnya menemukannya!” wajah Tiffany berubah jadi lebih bersemangat.
“Menemukan apa?”
“Kita menemukannya!” ulang Tiffany tidak langsung to the point.
“Apa yang kalian temukan?!” tanya Taeyeon hampir tidak sabar.
“Pintu terakhir! Kita menemukan pintu nomor 9!”
“A-apa?!”
“Ayo ikut kita! Kita akan jelaskan sambil jalan.” (Sooyoung)
“O-oke!”
Sooyoung berbalik dan turun tangga, yang lain mengikuti.
“Kita akhirnya sampai…” (Sunny)
“Ne.” (Hyoyeon)
Rasa lega dapat dirasakan dari suara mereka.
Taeyeon masih belum benar-benar percaya mereka akhirnya sudah sampai disini. Dia memang belum melihatnya secara langsung, tapi mereka berkata begitu jadi pasti benar…
Jantungnya mulai berdegup kencang.
Rasa takut dan harapan mulai bercampur aduk dalam hatinya. Dia berusaha mempertahankan dirinya untuk berpikir positif. Tapi dia tidak bisa menyangkal kemungkinan buruk yang mulai menghantuinya.
Pintu bernomor hanya bisa dimasuki tiga sampai lima orang. Mereka ada berdelapan, itu berarti dalam kasus terbaik pun tiga orang tetap harus ditinggal.
Dia tidak punya solusi yang lebih baik, tapi dia sangat mengharapkan solusi lain yang lebih baik muncul.
Taeyeon melihat ke arah jam. Jarum jamnya menunjukkan bahwa sekarang pukul 4:30. Mereka hanya punya waktu sembilan puluh menit lagi.
Mereka turun ke deck C, lalu bergegas menuju lift.
Mereka menaiki lift dalam satu grup. Rasanya mereka sudah tidak sabar lagi. Lift turun ke deck E.
Pemandangan di depannya sudah tidak asing lagi. Ada pagar besi yang membatasi kedua lift.
Sooyoung memegang pagar besi itu.
“Memang tadi aku bilang akan kujelaskan, tapi jujur, tidak ada banyak yang bisa dijelaskan.”
“Kenapa begitu?” (Taeyeon)
“Setelah kita berpisah dari kalian, kita naik lift ke deck E lalu kita melewati pintu bernomor. Setelah itu seperti biasa kami dihadapi sama pintu-pintu yang terkunci.”
“Lalu pintu yang kami lewati selanjutnya menghubungkan kami kesini,” Sunny mengakhiri penjelasannya.
“Dengan kata lain, kalian hanya mengitari area ini ya? kamu datang dari sebelah sana ke sebelah sini.” (Taeyeon)
“Ne.”
“Jadi, dimana pintu nomor 9?” (Hyoyeon)
“Disana,” Sooyoung berlari lebih dulu. Mereka berlari mengikuti Sooyoung.
Sooyoung berhenti di depan sebuah pintu.
“Jadi disini?” (Yoona)
“Ne”
“Apa tidak ada jalan lain yang bisa kita lewati?” (Hyoyeon)
“Tidak ada, lihat saja sekeliling.” (Sooyoung)
Di kiri dan kanan lorong semuanya jendela yang tersegel rapat. Kelihatannya Sooyoung benar hanya ini satu-satunya jalan.
“Ayo, teman-teman,” Sooyoung mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Taeyeon menarik nafas dalam dan mengikuti.
Kelihatannya mereka tidak berbohong.
Hal pertama yang Taeyeon lihat ketika dia masuk ke dalam ruangan adalah nomor.
9
Seperti pintu bernomor yang lain. Angkanya ditulis dengan cat merah.
Pintu itu terletak di belakang ruangan yang berbentuk segi empat.
Yoona berlari ke arah sana.
Pintu nomor 9 itu berupa pintu ganda yang kelihatan megah.
Yoona memegang handle pintu dan mengguncangnya. Tidak bergerak seperti yang sudah dia duga.
Taeyeon melihat RED yang terpasang di sebelah pintu. Tertulis ‘VACANT’.
Akhirnya, mereka tiba. Banjir emosi mulai mengalir dalam dirinya.
Taeyeon merasa sedikit sesak.
“Taeyeon, lihat di belakangmu…” (Sooyoung)
Taeyeon berbalik dan dia hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
Sebuah pintu… dan angka 9.
Pintu yang lain.
“He-hei… apa ini… apa yang terjadi disini…?” otak Taeyeon berusaha mencerna apa yang dia lihat.
Mulut Yoona dan Hyoyeon terbuka, mereka juga baru melihatnya dan sama tidak percayanya.
Dengan kaki sedikit gemetar, Taeyeon berjalan mendekat ke pintu nomor 9 yang kedua.
Tidak seperti yang satunya, pintu ini lebih kecil dan terletak di sudut ruangan yang lain.
9
Tidak salah lagi, angka itu yang tertulis di pintu itu. Dan seolah perlu bukti lebih, di tembok sebelahnya terpasang sebuah RED.
Taeyeon memegang pegangan pintu dan mengguncangnya, bukan karena dia berharap agar pintu itu terbuka, tapi karena dia harus memastikan bahwa pintunya sungguhan.
“Kenapa…”
“Ada 2 pintu?” kalimatnya diselesaikan oleh Hyoyeon.
Sunny yang bicara lebih dulu.
“Kamu pikir mungkin salah satu pintunya benar dan satunya salah?”
“Aku rasa tidak begitu, unnie” kata Yoona mencoba berpikir logis.
“Apa yang membuat kamu berkata begitu?” (Sunny)
“Pikirkan saja semua ruangan yang kita lalui sejauh ini. Mereka penuh dengan puzzle, tapi selalu ada petunjuk untuk memecahkannya. Unnie pikir di akhir game, Zero akan membuat kita menebak berdasarkan keberuntungan?”
“Kalau begitu kamu bilang ada petunjuk di ruangan ini?” (Hyoyeon)
“Aku sudah mencarinya ke setiap sudut saat kita berada di ruangan ini sebelumnya, tapi tidak menemukan petunjuk atau apapun, ya kan Yul?” (Sooyoung)
“Ne.” (Yuri)
“Kalau begitu artinya…” (Hyoyeon)
“Ne, kedua pintu ini benar. Maksudku, kalau dipikir-pikir… Zero gak pernah benar-benar bilang hanya ada satu pintu bernomor 9.” (Yuri)
Taeyeon mengingat kembali kata-kata Zero yang tertulis di kertas.
Memang tersembunyi tapi pintu keluar dapat ditemukan. Carilah jalan keluar. Cari pintu bernomor 9.
“Jadi kalau ada 2 pintu nomor 9…” (Taeyeon)
“Berarti sekarang kita bisa bagi jadi 2 grup!” (Sooyoung)
Taeyeon merasa lega, dia menggenggam tangan Tiffany, “Pany… kita bareng ya?”
“Ne^^”
“Aku juga mau bareng Taeyeon,” Sunny memeluk sebelah tangan Taeyeon yang kosong.
“Aku juga…” (Jessica)
“E-eh?” (Taeyeon)
“Gak boleh?” (Sunny)
“Bukan begitu…” Taeyeon tidak bisa berkata tidak.
Tanpa sadar Tiffany jadi sedikit meremas tangan Taeyeon.
“Aish,” Sooyoung geleng-geleng. “Kalian ini gak tahu malu ya… lagipula akar digital kalian berempat itu gak pas tahu.”
“Gak masalah, Yoonah!” panggil Jessica.
“Ya, unnie?”
“Kamu juga ikut kita ya?” Jessica menunjukkan aegyonya.
“Ehhh?? Tapi aku mau bareng…” Yoona melirik ke Yuri.
“Yoonah, kamu tidak mau mendengarkan kata-kata Ummamu ya?” kata Jessica dengan icy glarenya.
“E-eh?”
“Sejak kapan Yoona jadi anaknya?” (Hyoyeon)
“Entahlah, tapi lucu juga, kekeke.” Sooyoung nyengir.
Hyoyeon dan Sooyoung saling berpandangan.
“Sepertinya kita bareng lagi, Hyoyeon. Ayo kita saling membantu ya.”
“Ya,” Hyoyeon tersenyum.
Mereka saling berjabat tangan.
“Ngomong-ngomong Hyoyeon, aku kagum, kamu gak pernah protes soal pembagian pintunya ya.”
“Ya karena aku gak mau memperpanjang perdebatan ataupun memaksakan kehendak.”
“Kamu kelihatan dewasa sekali, aku suka sifatmu.”
“Oh ya? tapi bukannya kamu juga sama?”
“Ahaha jinja?”
“Ne, aku tidak melihat kamu pernah protes juga.”
“Ahaha, iya juga ya!”

……………………………

“Baiklah, jadi pembagiannya begini. Aku, Tiffany, Sunny, Jessica, dan Yoona akan masuk ke pintu ganda ini, lalu Hyoyeon bersama Yuri dan Sooyoung akan masuk ke pintu nomor 9 yang disana.”
Hyoyeon dan Sooyoung mengangguk.
“Kalau begitu ayo.”
Saat mereka sudah hampir terbagi ke grup masing-masing.
“Tunggu.”
Sekarang mereka semua melihat ke Yuri.
“Aku belum bilang apa-apa.”
Taeyeon baru sadar kalau sedari tadi selama berdiskusi, Yuri sama sekali belum membuka mulut.
“Apa?”
“Aku keberatan dengan pembagiannya.”
Taeyeon sudah mau membuka mulut ketika Sunny berkata lebih cepat.
“Yah! Jangan egois! Kita semua disini sudah setuju dengan pembagiannya!”
Taeyeon melihat kilatan di mata Yuri. Tatapannya terlihat dingin. Taeyeon merasa bulu kuduknya merinding.
“Dalam 3 detik kalian semua akan mematuhi perintahku. Karena kalian tidak akan punya pilihan lain. 3…”
Taeyeon merasa kalimat Yuri penuh dengan ancaman, tapi dia tidak yakin apa yang akan dilakukan oleh Yuri karena itu ia tidak bisa bertindak.
“Mwo?! Jangan seenaknya memerintah kami!” (Sunny)
“2…”
“Kamu pikir kita akan mendengarkan kamu?!”
“Sunny…”
“Unnie.”
Sooyoung dan Yoona bermaksud maju untuk menengahi mereka.
“1…”
Ketika Yuri bergerak, Taeyeon hampir seolah sedang melihat sebuah tarian. Kaki Yuri bergerak dengan cepat, lalu dia berputar dan-
“Kyaaa!”
Taeyeon membeku di tempat, mendadak rasanya jadi sulit bernafas.
Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih seolah mau meledak.
Pistol di tangan kanan Yuri. Saat ini Yuri sedang memegang Tiffany dari belakang, mulut pistolnya ditodongkan ke kepala Tiffany.
“!”

*~To Be Continued~*

A/N : Please comment~

Advertisements

Comments on: "Soshi Bond ~The Nonary Game~ (Chapter 12)" (34)

  1. Wah..Ada apa dengan yuri.. Kenapa dia menyandra fany..>,,,,<..cie taeng punya tiga istri..wkwk.. Yoong kenapa tuh kaya'a ada yg aneh sama dia..Taeny sweet bangat^-^.. Ini berapa part lg thor..?! Thor nama twittermu apa yah boleh tau engga..?!

  2. Kimtaeyeoung said:

    Waaaah taeny ketemu,cie cie cie sica ngaku umma’y yoong kekekeke tapi yoongnya mw apa yul hayo hayo hyao..
    Wah pany dalam bahaya,otte otte otte??
    Disini momentnya taeny,yulti,yg q tangkep..
    Jangan2 zero itu yul laghe..wah lanjut ke selanjutnya..

  3. taengppany said:

    yah yuri apa apaan itu?kenapa ga setuju aja biar aman aih -_-
    aiih taeyeon di rebutin tiga cewe cantik kkk jadi iri
    lanjut ke part selanjutnya deh penasaran banget

  4. phe pie said:

    Sunny sekarang lebih asyik memandang lantai. Mungkin sibuk menghitung butiran pasir di lantai —> Lucu bacanya thor, ksannya Sunny sudah hopeless bangt lihat TaeNy moment. ^^
    Wah slain TaeNy juga ada ToonYul n HyoSoo (the violent couple). Hmm, itu Yoong kok agak aneh ya?
    Ah, paling2 itu pistol Yuri dia ktmuin pas nyusun2 puzzle yang ada di chaptr brapa lupa, yang pas dia ngasih kode ke klompoknya trus pada gak bisa pcahin, n akhirnya dia yang pcahin, yang angka 5 di tngah itu lho. Kan waktu itu dibilang klo dia mnmukan sesuatu. Itu pasti jbakan zero tuh buat adu domba mrka n ngetes psikologi mrka di saat darurat. Gak mungkin Zero itu Yuri n terang2an gini tindakannya. Gak cocok ama image-nya slama ini yang slalu brsmbunyi di nalik game n puzzle. ^^
    Asyik, thx akhirnya author update juga nih. ^^

  5. puas thor ma chapter ini, panjang ceritanya heehee tapi makin tambah penasaran…

    sebenarnya ada apa ma yoona n yuri, apa mreka zero? sengaja memisahkan diri di dua kelompok supaya mudah ngawasin setiap kelompok?

    segera ke next chapter aja dah…

  6. Taeng d rebutin 3 cwe euy.. ^.^
    waah.. Lngsung updte 2 ya eon,, kalo gtu aq mw mninggalkan jejak dulu d sni,, aq mw ke atas dulu yw.. 😉

  7. YoonSicTaeNy said:

    ada apa dgn yuri????

    yuri … diam diam tpi menghanyutkan …

    jangan jangan yuri yng zero???

    aish

  8. aigo2, yoona mencurigakan. itu s yuri sejak kapan punya pistol 😀
    seru bgt thor 😀

  9. yulilovesnsd said:

    Ya ampuuuun si eta si Yuri gelooooo…..
    Ngapain bawa pistol segala ya?? Nodong fany umma lgi

    Apa jgn2 dia ya ZERO ny.
    Ahhhhh…pdhlkan bentar lgi tu waktunya .

    Lanjut Thor….
    SemangkOok
    Tks

  10. Miss New New said:

    Thor-ssi
    Akhirnya bisa nyangsang lagi di blog-mu

    Beugh kasihan Sunny, udaah kamu sama Sooyoung aja sanaa
    *kok gue yg ribet

  11. mrz_love_taeny said:

    Kyaaaa akhirnya taeny ketemu wkt moment mreka sweet bgt lg xD
    jiahaha madu tiga deh smua pingin ngikut tae
    kekeke
    andwae yuriiii apa yg kamu lakuin k umma ku taengpa slametin ppany umma
    huhuhu

  12. yuri kok jahat bgt?? jgn2 dia itu zero..
    kasian taeny baru aja ketemu malah harus pisah lg 😦
    semoga fany & hyo gak diapa-apain ama yuri..

  13. Yuri kenapa dia si zero kah ???

  14. taengsic , yoonsic ><
    suka suka suka *ala upin ipin
    awal yg penjelasan nonary game part sica bingung thor , kea ke banyakan pengertian dr nonary game pdhl bsa aja di persingkat dgn pengertian pertama biar g bingung , hhe ..
    ok dhe aku bc next chap y ^.~

  15. RoFL's Imagination said:

    errrrrrrrrrrrrrrr
    etdah bacanya deg deg an sumpah-_-

  16. Dtunggu slnjtnya thor.
    😀

  17. duh kan aku ketinggalan…

    wahh kenapa yuri ?? hmm.. yuri pasti melakukan itu dgn alasan…

  18. Taeny sewwt
    yuri npa tuh.. Hadeh

  19. taenyshidae said:

    Wahh.. Ada apa ini?? Ada apa??
    Gue lama2 dibikin penasaran nih.. Aigoo..

  20. hennyhilda said:

    Waduhhh da pa ni???
    Knp yuri jd gt???
    Maaf thor aq lgsg next

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: