~Thank you for your comments~

Third Person’s POV

“Wah jadi basah begini… harus ganti nih biar nggak masuk angin. Yuk cabut”
“……………”
“Kenapa?” Yuri berpaling untuk bertanya pada Jessica, karena gadis itu tidak juga bergerak dari tempatnya.
“…aku mau minum…” katanya dengan wajah tertunduk.
“Oh, kamu haus ya? mau minum apa?”
“…seperti biasa”
“Kalau begitu tunggu sebentar ya, aku beliin,” setelah berkata begitu Yuri mempercepat langkahnya.
Jessica terus menatap sosok Yuri yang menjauh. Matanya bersorot redup.
“…………….”
Di bawah langit ungu dengan semburat merah muda. Angin semilir membelai rambutnya yang panjang.
“Selamat tinggal Yuri…”
Saat itu tidak ada seorangpun yang mendengar kata-kata Jessica, tidak juga Yuri. Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Sinarnya hanya bisa menjadi saksi bisu yang mengantar langkah gadis itu. Seperti biasa matanya menerawang jauh. Seperti menanti sesuatu dibalik senja.

“Sica, maaf ya lama! nggak ada yang jual pocari sweat, air saja ya?” Yuri kembali sambil berteriak dari jauh.
“!!”
Botol air itu terselip dari tangan Yuri dan jatuh ke tanah berpasir. Dilihatnya Jessica sedang berjalan ke tengah laut. Lututnya sudah terbenam air. Sekelebat bayangan akan mimpi buruk itu terlintas dalam benaknya. Jantungnya berdegup kencang.
“Sicaaaa!!”
Yuri segera mengejarnya.
Dia menceburkan diri ke laut.
“Sicaaaa!! Yahhhh!!” sekali lagi ia memanggil nama gadis itu, tapi Jessica seolah tidak menghiraukannya.
Sekarang betisnya sudah separuh terbenam. Yuri berhasil mengejarnya dan menghardik tangannya dengan kasar.

Jessica’s POV

“Hahh…! Hahh…! Hahh…!”
“……………”
“Bukannya kamu bilang kamu mau ke taman bunga itu? masa kamu mau pergi sebelum kita sampai disana?” katanya setengah marah.
“Kenapa… kau menghentikanku? Padahal waktu itu kau tidak melakukannya…”
“Itu lain dengan yang sekarang. Perasaanku sudah berubah. Kalau sekarang kamu pergi aku akan sedih karena!” Yuri berhenti sesaat untuk menarik nafas. “Karena aku mencintaimu, Sica!”
Kini aku berpaling padanya. Yuri menatapku dengan nanar.
“Yu…ri…”
Cinta?
“Kalau nggak, aku nggak akan habis-habisan seperti ini sama kamu!”
Begitu ya… makanya selama ini ia melakukan semua itu.
Membawaku pergi, memperhatikanku, bahkan sampai mencuri dan terluka…
Semuanya demi aku seorang…
Yuri menarikku dengan paksa ke dalam pelukannya.
“Dengar! Aku nggak akan mengijinkanmu pergi seperti ini. Kalau kamu lakukan itu, aku nggak akan memaafkanmu! Kamu harus berada di sisiku lebih lama lagi, Sica!”
…benar-benar orang yang egois
Tapi kenapa aku merasa senang…?
Yuri terlihat seperti tokoh utama dalam komik dan novel yang kubaca.
Inikah yang selama ini kuinginkan?
Karena Yuri mencintaiku dengan segenap hati dan jiwanya, sampai ia rela berbuat apa saja demi aku.
Aku merasa dadaku sedikit perih.
Ah… dia gemetaran…
Kuulurkan tanganku untuk memeluk pinggangnya. Belum pernah aku merasakan kedekatan seperti ini dengan seseorang. Mungkin Yurilah satu-satunya.
Aku ingin bersama dengannya. Aku tidak akan bunuh diri lagi.
Yuri… jika kamu menginginkanku maka aku akan menemanimu sampai akhir hayatku…
______________________________________________________________________________________________________________________

Yuri’s POV

Ini pertama kalinya aku mendengarnya mengucapkan namaku.
Kupeluk dia lebih erat lagi. Membenamkan wajahku di rambutnya.
Merasa sedikit lega karena akhirnya aku berhasil menyatakan perasaanku padanya.
Jessica… pada akhirnya dia akan pergi lebih dulu dariku
Kepergiannya pasti akan menorehkan luka yang sangat dalam padaku.
Aku sadar hari-hariku bersama dengannya akan segera berakhir. Tapi tidak apa-apa, karena aku sudah memutuskan untuk menemaninya sampai akhir.
Aku akan mengingat setiap detik waktu kita bersama di dalam hatiku…
______________________________________________________________________________________________________________________

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami. Tapi hari sudah gelap. Area di sekitar kami sangat sepi. Kami beristirahat sambil menunggu fajar.
Kugunakan bajuku yang lama sebagai pengganti selimut. Entah mengapa malam ini terasa lebih dingin.
“Dingin?” tanyaku.
Jessica mengangguk.
“Kamu mau berbaring di pangkuanku? Mungkin bisa lebih hangat”
“……………”
“Nggak usah sungkan”
“Aku nggak apa-apa, begini saja”
Jessica sedikit menggigil. Sepertinya dia memaksakan diri.
“Atau jangan-jangan kamu yang kedinginan?” dia balas bertanya.
“Mm… iya nih…”
“….ya sudah”
Kemudian pelan-pelan Jessica datang padaku. Dia duduk menyamping di antara kedua pahaku. Dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kupeluk tubuhnya.
“Nah, hangat kan?”
“Hmm”
Ini pertama kalinya aku memeluknya. Perasaan lembut yang sudah lama tidak kurasakan. Rasanya nyaman.
Begitu banyak hal yang kupikirkan. Begitu banyak hal yang kucemaskan. Tapi di momen ini segalanya terlupakan. Saat itu aku hanya memikirkan gadis yang berada dalam pangkuanku. Dan berharap momen indah ini tidak pernah berakhir…
Kubelai rambutnya dengan pelan.
“…………….” Jessica memejamkan matanya.
Tidak lama lagi fajar akan menyingsing. Dan jika saat itu tiba, bunga-bunga itu akan terlihat.

Cahaya putih matahari menerangi langit berwarna keunguan. Seperti di dalam mimpi, hamparan bunga-bunga putih itu tersebar sejauh mata memandang. Kita berdua keluar dari mobil dan memandang hamparan bunga itu dengan penuh kagum.
“Cantik sekali”
“Hm,” Jessica mengangguk.
Bunga-bunga itu tampak seperti karpet putih yang terbentang luas.
Sejak hari kami menonton televisi di rumah sakit dengan bosan. Akhirnya kami berhasil sampai kesini.
“Bunga ini… sama dengan yang di rumah sakit?”
“Ya…”
Bunga Lily putih yang biasanya dipajang di jendela rumah sakit.
Seharian kami bermain di taman bunga lily itu.
______________________________________________________________________________________________________________________

Kegelapan mendera. Meski begitu kami masih berada di taman bunga tersebut.
Menghabiskan waktu menikmati pemandangan yang kami dapatkan dengan susah payah. Benar-benar sebuah perjuangan untuk bisa sampai kesini. Aku merasa semua perjuanganku tidak sia-sia.
Jessica kelihatannya sangat menyukainya, begitu juga denganku. Tempat ini sudah menjadi tempat favorit kami berdua.
“Yah, coba kalau filmnya masih ada”
Kami pasti bisa mengambil foto lagi. Tapi mungkin juga percuma karena tempat ini gelap.
Aku duduk sambil berhati-hati agar tidak terlalu merusak bunga-bunganya.
“Ups, maaf ya”
Jessica yang duduk di sampingku tiba-tiba membaringkan kepalanya di pangkuanku tanpa berkata apa-apa.
“Jessica?”
“………….” dia memejamkan matanya.
Apakah dia lelah?
Aku tersenyum lembut dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Tempat yang indah ya? jadi ingin selamanya disini…”
“………….”
“Untung kita datang kesini ya”
“………….”
“Kalau seperti ini kita jadi terlihat seperti sepasang kekasih ya? ahaha walau kita sesama yeoja.”
“………….”
“Sica…”
“…………..”
Sedari tadi dia tidak menjawab. Aku mulai pucat pasi. Aku takut kalau dia tidak akan membuka matanya lagi.
“Yah Sica! Sicaaaa!!!” panggilku lebih keras.
“…berisik… aku nggak bisa tidur kalau kamu teriak-teriak…” ujarnya dengan mata setengah terbuka.
Jantungku masih berdebar ketakutan.
Kehadirannya sangat rapuh. Seolah jika kamu memalingkan pandanganmu walau sekejap saja Jessica akan pergi.
Kemudian dia terbatuk-batuk.
“Kamu… jangan-jangan kondisimu memburuk lagi ya?”
“…dilihat juga tahu kan…”
“Obatnya habis?”
“Tadi yang terakhir, uhuk! uhuk!”
Obatnya habis jauh lebih cepat daripada perkiraanku. Mungkin sebaiknya kubawa dia pulang. Biar setidaknya dia bisa mendapat perawatan di rumah sakit.
“Kamu mau pulang?”
“…kamu sendiri?” dia balas bertanya.
“Mungkin sedikit…”
“Lantai 7…? Atau rumah…?”
“I-itu…”
Aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu hanyalah tidak lama lagi aku akan mengalami hal yang sama.
“Ka-kalau begitu, aku beli obatnya lagi saja ya?”
“…sudahlah…”
“Tapi kalau begini terus… kamu…”
“Obatnya sudah nggak mempan lagi… apalagi aku sempat gak minum waktu itu…”
“Mungkin benar, tapi…”
Tapi… rasanya menyakitkan karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya berada di sisinya saja. Mengawasi tubuhnya yang kian melemah.
“Kalau begitu mau pergi ke tempat lain?”
“Tempat lain?”
“Ya, tempat lain selain ini. Rasanya disini terlalu sepi. Oke, ayo putuskan mau kemana”
“…”
“Ayolah, kemana saja boleh. Kamu jadi navigatornya lagi”
Aku berusaha berbicara dengan nada ceria sampai kedengarannya dipaksakan. Walau aku tahu sia-sia saja.
“Ayolah, pasti ada tempat lain kan?”
“Nggak ada”
“…………..”
“Kalau begitu kamu mau beli baju baru lagi?
“…aniyo”
“Kamu…”
Kalau begini aku tidak akan bisa melihat wajahnya yang malu-malu lagi. Ataupun senyumnya…
Jessica’s POV
“Kenapa sikapmu selalu saja seperti itu? Selalu… selalu begitu”
“…………..”
“Apa salahnya kalau menatap ke masa depan?” Yuri meninggikan suaranya. Wajahnya nampak terluka.
Kemudian suasana kembali sunyi. Angin semilir bertiup, membuat bunga-bunga putih itu bergoyang.
Kupejamkan mataku.
Aku tidak mau punya keinginan. Kalau keinginanku terkabul itu bagus, tapi…
Kalau nanti tidak terkabul apa yang harus kulakukan?
Jika waktu itu tiba apa aku harus mengatakan kalau itu tidak mungkin dan tertawa, begitu?
Tidak, aku tidak sekuat itu…
Tapi… keinginan itu sudah terlanjur menguasaiku. Dan aku tak kuasa untuk menyingkirkan keinginan itu.
Aku ingin bersama dengannya. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya.
Tapi! Tapi!
Aku tidak akan bisa bersama dengan Yuri…
Aku menangis.

Yuri’s POV

Untuk pertama kalinya, aku melihat air matanya. Padahal dia hampir tidak pernah menunjukkan emosinya.
Aku menengadah memandang bulan di langit. Aku bisa mendengar isakan tangisnya dan juga bahunya yang berguncang di pangkuanku. Air mataku ikut meleleh perlahan.
______________________________________________________________________________________________________________________

Langit malam akhir Januari. Sudah beberapa hari sejak kami di taman bunga ini.
“Langitnya cantik ya?”
“Hmm”
Mungkin karena kontrak kami di dunia ini sebentar lagi berakhir. Indra perasa kami menjadi lebih peka. Aku lebih bisa merasakan daerah sekelilingku dibanding sebelum aku sakit. Dan aku pun jadi lebih bisa menghargainya.
“Uhuk! Uhuk!”
“Sica, kamu nggak apa-apa?”
“…………..”
Jessica tidak berkata apa-apa. Akhirnya ia kembali tenang. Suasana sunyi selama beberapa saat. Aku memandangi matanya yang terpejam.
Entah kenapa aku merasa Jessica tidak ingin pergi dari tempat ini. Rupanya dia lebih memilih tempat yang indah ini sebagai tempat akhir ia menutup mata.
“Padahal aku sudah berdoa di Gereja tapi Tuhan seperti tidak mendengar doaku…”
“…………..”
“Mungkin… karena Tuhan tinggal di atas sana?” Jessica menerawang ke langit.
“Disana…” Jessica menunjuk ke arah gunung. “Kalau aku berdoa di tempat yang sedikit lebih tinggi… mungkin akan didengar oleh-Nya kan? Karena kalau tidak dekat, doaku tidak akan didengar kan?”
“…………..”
Dia tidak bercanda. Entah darimana dia mendapat pengertian seperti itu. Jessica dengan kepolosan seorang anak kecil padahal usianya lebih tua dariku. Tapi saat mendengar itu entah kenapa air mata menggenangi mataku.
“Uh! Huu… huu…”
Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Tubuhku gemetar menahan tangis. Air mataku menetes ke pipi Jessica.
“Air mata…” Jessica mengangkat tangannya untuk menyeka air mata di pipiku. “Kenapa Yuri nangis?”
“Huuu… hiks…”
“ah…”
Kubiarkan air mataku terus mengalir sampai akhirnya aku tenang. Dan selama itu ia terus membelai pipiku.
“…………..”
“Yuri…”
Kugenggam tangannya.
“Hei, Sica… mau membuat kontrak denganku?”
“Kontrak?”
“Ya, darah adalah simbol perjanjian. Siapa tahu setelah meninggal nanti kita bisa bersama dan jika kita direinkarkasi mungkin kita akan bisa bertemu kembali”
Sambil berkata begitu aku membawa tangannya ke bibirku dan menggigit jarinya dengan keras.
“Ah-!” Jessica meringis.
Tes tes
“Bagaimana kalau itu tidak terjadi?”
“Meskipun begitu, aku tetap ingin membuat kontrak denganmu.”
Aku juga menggigit jariku hingga berdarah dan kutempelkan jariku yang berdarah ke jari Jessica yang juga mengeluarkan darah. Aku menekan lebih erat.
“Sebagai bukti kalau kita pernah bersama di dunia ini.”
Aku bisa merasakan darahku bercampur dengan darahnya dan mengalir masuk ke tubuhku. Mendadak aku merasa memiliki hubungan yang spesial dengan Jessica.
“Ah… rasanya kita seperti bersatu”
Kugigit bibirku, menahan rasa perih yang menusuk jariku.
“Kamu tahu Sica, untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur memiliki penyakit ini. Sebab kalau aku tidak memiliki penyakit ini aku tidak akan pernah bertemu denganmu.”
“Yuri… aku juga”

Jessica’s POV

Di bawah sinar rembulan yang cantik.
Tidur di pangkuan Yuri terasa sangat nyaman. Aku jadi mengantuk. Kupejamkan mataku. Biarpun aku sedang memejamkan mata aku bisa merasakan Yuri sedang menatapku. Aku mendengarnya sedang mendongeng.
“Pada jaman dahulu kala, ada sepasang kekasih yang banyak menghabiskan waktu bersama di tempat indah ini.”
Aku terus mendengar lanjutannya. Setiap kata yang keluar dari bibirnya sangat berharga bagiku. Aku tidak akan melewatkan satu pun kata-katanya.
“Setelah dipertemukan oleh takdir, banyak hal yang terjadi pada mereka. Baik susah maupun senang mereka lalui bersama. Hari-hari pun terus berlalu hingga perasaan mereka menjadi semakin kuat.”
Aku tersenyum mendengar suaranya yang lembut. Perlahan-lahan rasa kantuk mulai menguasaiku.
“Kemudian akhirnya mereka sadar kalau telah saling jatuh cinta.”
“Dan karena Tuhan tersentuh akan kisah cinta mereka yang indah, akhirnya mereka dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya dan menjalani kehidupan yang bahagia. The End.”
Aku tersenyum mendengar akhir kisahnya yang indah.

Yuri’s POV

“Yuri…”
Jessica melepaskan gelang berwarna putih di tangannya dan memberikannya padaku.
“Buat aku?”
“Hm,” Jessica mengiyakan. Tatapan matanya tidak sedingin dulu lagi. Matanya coklat hangat dan bersinar penuh kasih.
“Gomawo,” aku menerimanya, menatap benda itu dengan lembut dan menyimpannya ke dalam sakuku.
Mungkin baginya tidak ada benda lain yang bisa diberikan.
“Aku juga mau memberikan sesuatu padamu,” aku melepaskan kalung yang kupakai dan meletakkannya di genggaman Jessica.
“Sejak dulu aku selalu berangan-angan ingin memberikan kalung ini pada orang yang kucintai. Ini adalah kalung bunga tulip. Kamu tahu bahasa bunga ini?”
Dia menatapku, menunggu jawaban dariku.
“Artinya cinta sejati.”
Jessica tersenyum. Lalu dia berbisik kecil, “…bisa tolong pakaikan?”
“Yep,” kuambil kalung itu dari genggamannya dan memakaikannya di lehernya.
“Kelihatan cantik, Sica, sangat cocok untukmu”
Jessica tersenyum lemah, senyum yang tidak akan mungkin kulupakan seumur hidup. Lalu setelah itu ia tertidur.

Third Person’s POV

Mata Yuri berkaca-kaca. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jessica. Bibirnya menekan lebih kuat. Air mata mengalir tanpa suara dari kelopak matanya. Kemudian ia melepaskan ciumannya dan menempelkan wajahnya ke wajah Jessica lalu membisikkan.
“Selamat jalan Sica, saranghae…”
Wajah Jessica terlihat damai. Seolah tidak ada penyesalan lagi.
______________________________________________________________________________________________________________________

Yuri’s POV

Begitulah perjalanan kami berakhir.
Bagiku hanya akhir dari perjalanan selama lima belas hari. Sementara baginya adalah akhir dari perjalanannya selama dua puluh dua tahun. Bukan di lantai tujuh, bukan juga di rumah. Dia sendiri yang memilih tempat kematiannya.
Jessica Jung, golongan darah B, jenis kelamin perempuan, gelang putih. Dari luar hanya informasi ini saja yang diketahui orang lain. Tapi aku tahu sisi lain dirinya yang tidak diketahui orang lain.
Aku melihat fotonya yang sedang tersenyum di tepi pantai.
Dia tahu arah dan jalan dan bisa menjadi navigator yang baik. Dia juga ingin punya sim. Dia hampir tidak pernah menunjukkan ekspresinya. Dan kalau belum kenal dekat, dia jarang menatapmu. Tapi sesekali ia akan tersenyum dan menunjukkan wajahnya yang malu-malu.
Laut biru di belakang punggungnya, dia tersenyum bak model majalah. Melalui kamera langsung jadi. Hanya ada selembar fotonya yang sedang tersenyum. Dan satu lagi fotoku bersama Jessica yang malu-malu.
Tapi meskipun begitu… ini adalah bukti bahwa kami pernah menghabiskan waktu bersama.
______________________________________________________________________________________________________________________

Lantai pertama. Aku habis membeli es krim di kantin. Aku berjalan menuju lift dan menekan lantai menuju lantai paling atas.
Ting
Lantai tujuh. Beberapa perawat melihat ke arahku, tapi setelah mengenalku mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ruang tunggu. Tempat yang biasanya kusinggahi. Aku duduk di salah satu kursi, memakan es krim dan hanya menonton TV seperti biasa. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
Sejak hari itu sudah berlalu satu bulan. Tidak ada yang berubah selain kehadirannya.
Teman seperjalananku… orang yang kucintai sudah pergi ke dunia dimana dia menutup matanya untuk selamanya.
Kemudian seseorang memasuki ruang tunggu. Aku berpaling untuk menatapnya. Umma Jessica.
“Kamu Kwon Yuri?”
“Ah… iya,” aku sudah tahu maksud kedatangannya dan aku sudah siap mendengarnya. Dia akan memarahiku karena aku membawa putrinya lari tanpa ijin.
Rumor tentang kami melarikan diri sudah tersebar ke seluruh Korea.
Pada akhirnya orang tuaku memarahiku, aku sudah menduganya. Tapi aku tahu kalau sebenarnya mereka cuma khawatir terjadi apa-apa sama aku…
Mungkin karena penasaran, banyak orang yang juga menanyaiku, seperti para perawat dan dokter, termasuk temanku.
Kebanyakan dari mereka menganggap perbuatan kami nekad dan bodoh, karena itu aku tidak begitu suka menceritakannya.
“Jessica, apa anak itu tersenyum?”
“Eh?” pertanyaan ini tidak kusangka.
“Ceritakan padaku apa yang kamu ketahui tentang anak itu… seperti apa dia selama perjalanan.”
Lalu aku menceritakan sedikit tentang Jessica selama perjalanan. Terutama pada saat dia membeli baju dan bermain di pantai.
Aku bahkan juga menunjukkan foto Jessica.
“Jika benar begitu, aku bahagia untuk anak itu, sebab anak itu jarang menunjukkan emosinya,” Ummanya menangis bahagia. “Kamsahamnida… kamsahamnida…”
Aku tidak menduga aku malah mendapat ucapan terima kasih dari Umma Jessica.
______________________________________________________________________________________________________________________

April.
Aku melihat ke arah vas bunga yang menghiasi kamarku. Bunga yang sama dengan yang kami lihat di padang bunga itu. Aku yang meminta untuk ditaruh sebagian di kamar rawatku. Ketika aku bertanya pada perawat tentang bunga ini, tampaknya bunga ini ditanam di halaman rumah sakit.
Kalau begitu kenapa waktu itu Sica…
Apakah karena dia tidak suka rumah sakit?
Seseorang mengetuk pintu lalu membukanya. Seorang perawat muda. Tampaknya dia masih baru, aku belum pernah melihatnya. Dia memiliki wajah yang tenang menyejukkan.
“Siang, gimana kesehatan unnie?”
“Baik,” jawabku seadanya.
“Kelihatannya unnie suka sekali sama bunga itu ya?”
Aku berpaling menatap bunga itu.
“Ya, sedikit”
“Eh tapi bahasa bunga itu kan”
“Suster tahu bahasa bunga ini?”
“Ya, artinya cinta sejati yang diliputi duka…”
Aku sendiri sebenarnya sudah tahu artinya.
“Makanya aku lebih menyukai bunga tulip,” aku tersenyum mengenang kalung bunga tulip yang kuberikan padanya.
“Oh! Kalau bunga tulip artinya lebih bagus,” perawat itu tersenyum. “Apa Yuri unnie punya orang yang disukai?”
“Ya, seseorang… yang sangat kucintai…” jawabku sambil menatap lembut foto Jessica.
______________________________________________________________________________________________________________________

Juni.
Di bawah langit berwarna biru. Kepulanganku untuk yang ketiga kalinya ditunda.
“Uhuk! uhuk!”
“Unnie nggak apa-apa?” tanya perawat yang kutahu bernama Seohyun itu.
“A-ah, uhuk! Nggak apa-apa…”
Aku sadar waktuku sudah semakin dekat.
Lalu aku menyadari hal lain, sejak dua bulan terakhir ini tidak ada pasien lain yang datang ke lantai 7.
“Yah, kenapa nggak ada pasien lain?”
“Ah, sepertinya untuk setengah tahun ke depan rumah sakit ini tidak menerima pasien baru.”
Pasti penyebabnya adalah pelarian kita.
“Kalau begitu suster, ah boleh kupanggil Seohyun saja?”
“Silakan, unnie kan lebih tua dariku”
“Seohyun, aku ada permintaan terakhir…”

24 tahun kemudian.

Jessica’s POV

“Jessica, sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu”
“Eh? Em aku merasa sangat tersanjung tapi… aku sudah punya orang yang kusukai, jadi… mianhae”
“Oh… ya sudah, makasih ya sudah mau meluangkan waktunya…” kemudian namja itu berjalan pergi. Setelah beberapa meter ia berbalik dan melambai dengan sedih. Aku hanya bisa membalas lambaiannya dengan rasa simpati.
Namja yang sopan, pikirku.
Saat itu aku tidak sadar, ada beberapa orang yang mengendap-endap di belakangku bermaksud mengagetiku.
“Sicaaa~!” tiba-tiba seseorang memegang bahuku dengan kencang.
Aku memekik kecil, “Rupanya kalian!”
Yang mengagetiku adalah kedua sahabatku. Namanya Taeyeon dan Tiffany.
“Menjelang wisuda, makin banyak saja yang menyatakan cinta ya,” kata Taeyeon.
“Barusan Onew oppa menyatakan cinta ke kamu ya Jess?” tanya Tiffany memastikan.
Aku mengangguk.
“Kenapa malah kamu tolak? Aku bukannya nyuruh kamu jadian sih, tapi kan Onew oppa oke banget, sudah seorang ketua, ganteng, tinggi lagi.”
“…kalau begitu kenapa nggak kamu saja yang terima sana, Fany ah?”
“Awww Jessie gimana sih, dia kan menyatakan cintanya ke kamu bukan ke aku. Lagian,” Tiffany melirik ke Taeyeon. “Kalau aku jadian nanti Taeng cemburu^^”
Taeyeon menggenggam tangan Tiffany, “Kamu nggak perlu namja! Kalau kamu menginginkan seseorang yang bisa menjagamu, aku yang akan menjagamu Tiffany!”
“Tuh kan^^”
“Ya ya,” kataku cuek.
“Ah Taeng, kamu ngaku saja kalau kamu suka aku^^”
“N-nggak kok!”
“Ah Taeng yang lagi malu-malu lucu^^”
“Si-siapa yang malu-malu?!”
“Ya ya kalian pasangan TaeNy pergi saja sana, jangan ganggu aku!”
“Ah Jessie ngambek deh sekarang, maaf maaf^^”
Tentu saja aku marah, karena beberapa waktu yang lalu dia bilang TaengSic Shi Dae, mananya?
“Jessie, jangan-jangan kamu nungguin pangeranmu lagi ya?”
Aku menunduk dan memegang kalung di dadaku. Kalung bergambar bunga tulip. Lalu aku cerita.
“Kalung ini adalah hartaku yang berharga. Waktu aku berumur empat tahun, seseorang yang sangat kucintai memberiku hadiah ini. Walau sampai sekarang aku tidak tahu siapa orangnya. Tapi aku selalu menunggunya.”
“Hah? apaan itu Jessie? kamu sudah punya pacar dari umur empat tahun? Omo…”
Aku sendiri tidak bisa menyangkal itu, karena aku tidak bisa benar-benar mengingatnya.
“Tapi selama ini pangeranmu nggak pernah datang nemuin kamu kan?”
“……………”
“Sudahlah, kamu buang saja tuh kalung. Kalau nggak selamanya kamu nggak bakal punya pacar. Emang kamu mau begitu?”
“……………”
Tentu saja aku tidak mau begitu, tapi aku merasa tidak bisa membuangnya begitu saja.
Kalung ini… seperti punya arti yang dalam bagiku…
______________________________________________________________________________________________________________________

Sepulang dari kampus, aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi malah menuju ke pantai.
“Ohh…”
Sejenak aku merasakan suatu nostalgia aneh ketika melihat birunya laut dan angin yang menerpa diriku. Kupejamkan mataku.

Selama dua puluh dua tahun aku menjalani kehidupan yang normal. Bisa sekolah sampai kuliah meskipun kehidupanku berjalan dengan datar, tapi aku sangat beryukur.
“Sica”
Aku berpaling pada sumber suara itu.
“Yuri, kok kamu ada disini?”
Dia adalah sepupuku, namanya Kwon Yuri, dia sedikit lebih muda dariku. Satu kampus denganku.
“Karena kamu nggak langsung pulang, aku jadi penasaran dan mengikutimu.”
“Ohh…”
Tiba-tiba angin berhembus kencang, aku kembali menatap laut sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi mataku.
Kulepaskan sepatu dan berdiri di pantai berpasir itu dengan bertelanjang kaki.
Aku merasa aneh. Seperti ada perasaan aku pernah mencoba menghanyutkan diriku di pantai yang sepi ini, tapi tidak jadi.
Kira-kira kenapa ya aku memiliki perasaan seperti ini?
“Lautnya indah sekali, mungkin kalau aku pergi seperti ini aku bisa hanyut dengan tenang,” sambil berkata begitu aku melangkahkan kaki menuju pantai berombak.
Sesuatu seperti melintas dalam pikiran Yuri, sosok Jessica yang berada di laut. Walau dia sendiri tidak mengerti tapi dia tiba-tiba saja menjadi panik.
“Si-Sica! Tunggu! Jangan!”
Mataku membelalak terkejut, tidak menyangka Yuri akan berteriak begitu. Tahu tahu dia sudah ada di sampingku.
“Ada apa Yuri? Kamu kelihatan terguncang”
“ah…”
“Kamu pikir aku akan benar-benar melakukannya?” aku tersenyum melihat wajahnya yang mengkhawatirkanku. “Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu. Tapi makasih kamu sudah mau menghentikanku.”
“Sica, aku…”
Aku memikirkan kata-kata Tiffany barusan.
Kukeluarkan kalung itu dari saku rokku. Kalung yang selama ini menemaniku selama belasan tahun. Kalung yang tidak kuingat pemberian dari siapa.
“Baiklah, bagaimana kalau kamu saja yang menggantikanku…” kataku sambil menggenggam kalung itu di tanganku. Memejamkan mataku, mengingat kenangan selama aku memakai kalung ini.
“??”
Lalu aku kembali memandang ke arah laut dan melemparnya sejauh mungkin.
“Apa yang kamu lempar?”
“Hartaku yang berharga, hanya sebuah kalung bergambar bunga, tapi menurutku sangat cocok untuk menggantikanku…” aku tersenyum sendu.
“Oh ya ngomong-ngomong soal kalung aku ingin memberimu ini.”
Yuri merogoh sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak dengan hiasan yang manis.
“Ini, selamat ulang tahun yang ke dua puluh tiga.”
“Ah!”
“Haha kamu lupa ya kalau hari ini hari ulang tahunmu?”
“Aku sama sekali nggak ingat,” aku menerima hadiah darinya.
“Boleh kubuka?”
“Silakan”
Ketika aku membukanya aku merasa terkejut. “Hah??”
“Simpanlah, sebagai ganti kalung yang kamu buang. Selain itu, aku yakin kalung yang ini pasti lebih bagus daripada yang kamu lempar.”
Pandanganku beralih dari kalung di tanganku dan Yuri. Yuri memalingkan wajahnya karena malu. Parasnya memerah.
“Tapi… jangan dibuang ya”
Kalung bunga tulip.
Apa maksudnya ini? Apa ini hanya kebetulan belaka?
Kalung yang sangat berharga bagiku. Tidak, kalung ini kuanggap berharga karena diberikan oleh orang yang kucintai. Dan sekarang Yuri memberiku kalung yang sama.
Apa itu berarti Yuri adalah…
Dan tiba-tiba aku teringat seorang yeoja yang memberiku kalung ini baik di kehidupan dulu maupun di masa sekarang.
Aku nggak sadar… kalau pangeran yang selama ini kucari ternyata begitu dekat denganku.
Aku tersenyum.
“Yuri, dulu kamu pernah memberiku hadiah ini juga kan?”
“Eh? Masa??”
“Ya, masa kamu lupa? hehe”
“Hmm entahlah… Umma memang bilang aku pernah punya sepa-” kata-katanya tersendat saat potongan-potongan masa lalunya berkelebat seperti runtuhan air hujan. “sang…”
Seorang gadis… dan taman bunga putih.
Eh? Lho?
Kapan aku pernah mengalami hal itu?
Dan gadis itu… Jessica?
Yuri membelalakkan matanya tidak percaya.
“Ngomong-ngomong Yuri, kamu tahu bahasa bunga tulip?”

*~The End~*

A/N : Untuk Jessica unnie yang bulan ini berulang tahun ❤
sisanya kuserahkan pada imajinasi readers.
don’t be a silent reader please…

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 7 – End)" (92)

  1. Omo…
    Aqu bner” mewek tiap bca nie ff 😥
    udh end yah? Gk krasa.., aqu pkir ending’a msih lma,,

    gk ada kta laen dh yg bsa aqu blg,, author jjang!! 🙂

    Lnjut k ff yg lain yak.. 😉

  2. Hikz hikz hikz 😥
    sedih banget,

    tp untung aja yulsic reinkarnasi jd happy ending deh
    benerbener dapet feelnya, author daebakk!!! Author THE BEST dah!!!

    Cepet bgt tamatnya thor??

  3. yahh end >,,< ditunggu yaa

  4. sunnyjiyeon said:

    sdih bgt..T.T
    Untung mrka msh ktmu wktu reinkarnasi..
    jd sdkt trhibur..
    tp,tmben crtany agak gntung thor..

    • memang ini tipe cerita yg endingnya diserahkan pd imajinasi pembaca 🙂

      • sunnyjiyeon said:

        owh…
        tp..crtanya bgs bgt..mengharukan…hiks..hiks..
        jd gk iklas krna udah end..TT

      • haha setiap cerita kan harus ada ending^^
        kalau dipanjang-panjangin nanti jd kayak sinetron yg gak selesai2 smp brp season, wkwkwk

  5. Hikz hikz hikz 😥
    sedih banget,

    tp untung aja yulsic reinkarnasi jd happy ending deh
    benerbener dapet feelnya, author daebakk!!! Author THE BEST!!!

    Cepet bgt tamatnya thor??

    • dr awal kan author dah bilang memang ceritanya lbh pendek dr T x T dan Locksmith
      tp author kayaknya cuma bilang di comment sih, wkwkwk

  6. Hikz hikz hikz 😥
    sedih bgt

    tp untung aja yulsic reinkarnasi jd happy ending deh…
    Author HEUBAD!!! 4jempol buat author!
    Ngapa cepet amat tamatnya thor?

  7. siLent_Reader said:

    saya nangis thorrrrrrrrrrr
    itu sumpah sedih banget pas sica meninggal dipangkuan yuri.
    tuhan emang sayang banget sama sica 😦

  8. taengppany said:

    tiap malem mantengin ff in sampai lupa belajar ternyata ga nyesel 🙂
    romantis bgt YulSicnya, suka bgt pas acara pangku pangkuan dalem mobil berasa bgt feelnya tp knp sica meninggal?huhu nangis darah bacanya 😥 ga nyangka secepat itu sica pergi

    author hebat! saya fansmu thor haha (y)

    • hehe tp akhirnya hidup kembali 😀
      makasih^^
      nah karena sudah end ceritanya, sana belajar, jgn sampai jeblok nilainya nanti author yg merasa bersalah 😛

  9. ya ampun awalny aja romantis krn pernyataan cinta itu terucap jg.
    bhkn ada adegan pangkuan sgala,eeh mkn ke belakang malah bikin mewek.
    hiks kasihan sica meninggal d taman bunga.

    tp plg tdk mrk reinkarnasi dan ketemu jga.
    klo jodoh emg g kmn.
    hihihi

  10. Daebak! Daebak!
    Aku suka pembahasaannya!
    Endingnya jg g sad.

    Kirain bkalan sad end. Tp nie bneran bgs lho!

  11. navy99blue said:

    Baca beginian jam 4 pagi itu rasanya.. Ngaduk2..
    Ahahaha
    Mmm.. Yuri minta apa sama seo ya?
    minta anak seo dinamain jessica? Trus dikasiin kalung? hwew.. Jadi ngimajinasiin banyak..
    Memuaskan tho..!! 😉

  12. Huaaa..sedih nya dpet bnget walaupun diawal, pas diakhir jadi happyending dh..
    Aahhh..pengn nangis..pas Sica nya udh gak ad…

    Keren kata2 nya… Daebakk lahhhhh..

  13. (T▽T) sedih..
    kata-katanya itu bkin terharu
    pa lg pas sica mau meninggal
    ya.. dah end
    ditunggu ff selanjutnya 🙂

  14. wahh yulsic tetap bersatu…tapi waktu meninggalnay jessica,,itu bena-benar mnyentuhh
    author..jjang!!

  15. 'rusa' said:

    sedih banget pas detik2 sica meninggal TwT #nangisBombay
    Tapi akhirnya seneng lagi pas tau mereka reinkarnasi lagi, kyk janji mereka dulu
    Ya semoga kehidupan mereka yang baru bisa happy ending 😉

  16. aku suka ending nya thor
    dan akhir nya yulsic bersatu.

  17. 😥 😥 😥 😥

  18. @kyungsee said:

    Udah abis ceritanya 0_0 gak relaaaaaa

  19. yoonaddictsoshi said:

    sepicles ga bs berkata apa2..
    Keren.

  20. Kwon Eya said:

    huweeeeee *nangis dipuncak pohon bambu!. (part 1)
    yeeeeeeew *joget iwak peyek. saking senengnya, karena ahirnya yulsic ketemu lagi. Ceritanya bagus thor. terus bqin yah, jgn bosen2! hwaiting!!!

  21. Yaacchh
    dh end yaa..:(
    Ehhmm
    tp aku ngrsa end’x agk mksa yaa..–‘
    mian..mian..
    Sungguh terharu driku huhu TT__TT
    bersatulah kau slmax YulSic ❤

  22. phe pie said:

    Critanya sdih bangt pas Sica mninggal thor T.T BTW, itu prmintaan trakhir Yuri ke SroHyun apa ya? Jangan2 untuk memberikan kalung tulip pninggalannya ke reinkarnasi Sica ya? Tapi kan Sica gak jlas tar reinkarnasinya tinggal dimana, jadi siapa dong yang kasih kalung itu ke Sica waktu dia umur 4 tahun ya?

    • mengenai permintaan terakhir yuri itu kuserahkan pd imajinasi kalian karena bisa bermacam-macam 🙂
      tp kalau menurut imajinasi author sendiri sih yuri ingin seo menaruh bunga tulip di tempat peristirahatannya
      atau meminta seo bilang ke ortunya untuk ditempatkan di sisi jessica
      yg ngasih kalung ke Sica wktu umur 4 thn itu Yuri sendiri, cuma dia lupa

      • phe pie said:

        Owh gitu thor ‘manggut2’.Thx buat pncrahannya thor. Aku tadinya kira SeoHyun dikasih misi ama Yul buat cari reinkarnasinya Sica sampai dapat buat dikasih kalung tulip pninggalan Yul stlah dia maninggal tar. Imaginasinya ktinggian nih.

  23. owh kami-sama, terimakasih telah mempertemukan yulsic lg…

    bener2 menyedihkan waktu scene di padang bunga… hebat kau thor. thousands thumbs are up for this…

  24. End??
    Yaah~
    Buat YulSic lagi dund. . . . Tapi jangan yang sad ne~
    yang fluff aja /(^0^)/

  25. wahhh keren unnie.
    dari awal aku deg-degan bacanya, takut sesuatu yang buruk terjadi..
    tapi syukur deh happy ending ^^

    semangat terus berkarya!!!!
    fighting!

  26. Ah~
    Mewek deh aku (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩ )
    Tanggung jawab !!
    Dapet banget FEEL nya (!`☐´)づ)˚з°)
    Nyesek pas yg di taman bunga itu 😦
    Kapan2 buat FF yulsic lagi ya thor :*

  27. Taeny shipper said:

    Waaa akhirnya yuri sama sica bersatu!!!!!

    Ada reinkarnasinya lagi,manjur tuh emang….nyatuin darah….tapi serem ya…..

  28. yulsictaenyjjang said:

    sedih banget,,,,, sampe mewek,,,,
    akhirnya the end juga,,,,
    tpi akhirnya gantung bgt,,,,tp gak papa yg pnting yulsic bersatu,,,,yeyyy
    d tggu update soon thor,,,,,,,,,,

  29. taetae_fun said:

    Ukkhh,,gak twu mau coment apa,,yg jlas aku gak bsa brhenti nangs…Apa lgi yg wktu adegan sica meninggal…
    Feelnya dpet bnget author…

    Author jjang….

  30. MeeYoon said:

    ga tau mw komen apa lg, ceritanya cukup bwt nyadarin betapa berharga’a hidup ini T^T
    sblm’a maaf bgt kalo tiba2 lgsg komen di ending (ga bertahap) karna uda ktinggalan n pnasaran sm crita’a hehe ^^v
    di tunggu next ff ya thor!
    Author jjang ^3^ chu ~

  31. permintaan yuri yg trkhr tu apa?#pnasaran bngt

    mewek bca ni ff sumpah g rela bngt sica meninggal…
    Q agak bngung jalan critanya paz akhr2^^

    • mengenai permintaan terakhir yuri itu kuserahkan pd imajinasi kalian karena bisa bermacam-macam 🙂
      kalau menurut imajinasi author sendiri sih yuri ingin seo menaruh bunga tulip di tempat peristirahatannya
      atau meminta seo bilang ke ortunya untuk ditempatkan di sisi jessica

  32. YS_addict said:

    terharu bgt pas adegan yuri nyium sica tp sica udh ngga ada 😥 aaaa ga reka bgt kl yulsic ga bersatu. oh ya tp itu 24thn kemudian?? lah cerita yulsic yg dulu itu apa?? *ngga ngerti tp suka ama ceritanya(?) haha lanjutt

  33. YS_addict said:

    terharu bgt pas adegan yuri nyium sica tp sica udh ngga ada 😥 aaaa ga reka bgt kl yulsic ga bersatu. oh ya tp itu 24thn kemudian?? lah cerita yulsic yg dulu itu apa?? *ngga ngerti tp suka ama ceritanya(?) haha akhirnya selesai jg

  34. Kungttadadak said:

    Kerennnn!
    Aku nangis pas sica meninggal… Tulus… Tulus banget…. Sica… TwT ahh… Fanfic ini bener2 kerennnn! Daebakkkk! Cocoknya dijadiin film bioskop tp yang mainin YulSic juga TwT kerennn gabisa diungkapin dengan kata2! Ini ff favoritekuuuu! Daebak author daebakkkk!

  35. Sumpah, aku gak tau kalo ini baru dipublish tgl 4. Aku baru baca sekarang. Malah langsung baca yg yoonyul.
    Disitu sica udah reinkarnasi dan terlahir kembali ya?? Akhirnya yulsic bisa hidup bahagia, kirain berakhir waktu sica udah mati, ternyata masih lanjut hingga sica terlahir kembali. Keren 😀
    Lanjut

  36. Kimtaeyeoung said:

    Annyeong tjor mian langsung komen disini..
    Huhuuhu awalny sedih kirain sad emding ternyata akhirny bahagia jg…
    Wah ada taeny yg ngegemesin deh nongol meski bentar tp q suka..kan di sebelumny klo g salah soosun ya??
    Iih q suka ceritany nasihat,moral,dll’y membuat cerita ini bner2 ngena..
    Lanjutkan dengan taeny again+couple2 lainny..
    Daebak author..

  37. bloxtwins said:

    Hhu..so sad.. 😦
    Tuhan adil..bikin mrka reinkarnasi
    n d pertemukan kembali.
    tp knp harus sepupuan statusnya?huwaaaa..
    okelah yg pnting yulsic brtemu kembali.
    Author jjang.!
    ffnya DAEBAK 😀

    • karena menurut dr yg author baca seseorang yg dekat di kehidupan sebelumnya akan terlahir kembali sbg satu keluarga
      makanya disini Yuri jd sepupunya (lagipula sepupu msh bisa nikah)

  38. kok saya gak bisa komen?? aaiiiihh..

    padahal aku mau curhat dan isi curhatanku adalah… kisah yulsicnya amat sangat nyentuh…
    baru datang.. milih cerita yang ini ternyata pilihanku tepat sekali.. MANTAP!!
    dari awal sampai akhir, berasa nonton FTV, atau film layar lebar (??)
    semangat dan terus lanjutkan karyamu thor.. masih kebawa suasaana ff itu..
    LANJUTGAN! 😀

  39. clover said:

    sedih bacanya pas sica meninggal *author bikin aku mewek nih* 😦
    untung yulsic bersatu lagi krn renkarnasi & gak pake sakit-sakitan lagi 🙂

    daebak ceritanya thor ^_^b

  40. Aih, , ,keren kali pas Yuri gigit jarinya n dari Sica trus nempelin,. . .bener2 ikatan yang Kuat,Bisa bertemu kembali . .

    Bagus Chingu . . .Lanjut yah

    FIGHTING!!!^^

    YUK DUNK!!!

  41. Sbenarx kisahnya mirip2 sama kisah2 jepang yg pernah kubaca n ku tonton tapi kali ini lebih menarik karena castnya Yulsic shi dae ehehe..

    Sica mati sambil tersenyum di pangkuan Yuri benar2 menguras emosi dan air mata apalagi lgi denger lagunya Jung Yong Hwa- because i miss you T___T

    Daebak author^^// cemüngüdd

  42. Huaaaaa pas adegan dipantai itu sangat-sangat menyedihkan, ane kaga nyangka kalo sica nya meninggal disitu T_____T
    Daebak ini ff yulsic terbaik yg pernah ane baca >,<
    Sering2 bikin ff yulsic lagi ya thor, tapi yg happy ending ya 😉
    author jjang!!!

  43. Gandhi said:

    Hhuuuwwwwaaaaaaaahhhh..

    Ajiiipp ne ff nya.. Keren bgt..
    Trnyata ending nya Yulsic idup lg.. Mank ga tega kalo Yulsic pisah..hahaaaaaaa

    author kereeenn pisan euy!!!!

    Luph YulSic 4eva !!!

  44. asli aku nangis pas tau ternyata sica harus meninggal
    tapi untungnya di kehidupan yang baru ketemu lagi
    semangat thor
    aku suka banget cerita ini

  45. jungyu said:

    aa! Jinja ni ff daebak bgt!
    Beneran deh! Nangis ku bacaanya..
    Author jinja daebak!

  46. dorkey said:

    no other words,
    this is the best “yulsic”‘s fanfic! o.o
    biarpun dari narcissu, tetep aja skill nulis author very nice

    • makasih^^
      tp mendekati ending sm endingnya beda sih dgn di narcissu
      dan msh ada beberapa lg yg beda
      cuma intinya sama, mereka melakukan perjalanan dgn mobil

  47. Keren banget dah nih ff!! T.T jadi yang di akhir2 itu reinkarnasi-nya ya? Pokoknya keren banget deh,kak!! 😀

  48. kaitoyoong said:

    so great ending, love it ❤ ❤ ❤

  49. Elma Noveria Tiranda said:

    Author the BEST!
    I wanna cry seeing this …
    ;’) I LOVE YULSIC 😀

  50. cry,cry,cry :’
    bagus banget thor, cara menulis,tata bahasa bagus, bikin reader jadi hanyut dalam cerita…

  51. Thor saya nangis :”
    Nyesek sekali rasanya T.T

  52. Author aku udah 2 kali baca ff ini.
    Huhu masih jadi ff favorit ku di wordpress ini sih T.T
    Sedih, feel nya dapet banget T.T

    Karakter Jessica yang kalo ditanya malah nanya balik itu kesannya ice princess banget :B

    Terus aku suka jenis ff yang pemeran utama nya itu deket dari awal yang ngga saling kenal.
    Kaya ff ini sama With Every Heartbeat.

    Yang aku suka dari ff ini ya tadi itu. Feel nya dapet banget.
    Kaya bagian setelah Jessica meninggal, terus Yuri nge-flashback moment dia sama Jessica duh itu nggerus sekali authorr :”

    Author keren (y)

  53. Hhmm sedih deh baca ff ini apalagi pas sica pergi selama nya di pangkuan nya yuri tp cerita masa depan nya jadi kaya de javu ya ngulang kejadian dulu lagi
    Author keren ff nya (y)

  54. Ranz12 said:

    aku baru baca._. baru nemu situsnya hehe. kamu sama Hiro Namida org yg sama ya? soalnya pas baca ff situs ini dari awal ada beberapa ff yg mirip -persis- karya Hiro Namida walaupun ada beberapa alur yg sedikit beda di ending atau…. diubah? hehehe gak bermaksud apa-apa. aku cuma nanya aja 🙂

  55. Kwon kkab yulsic said:

    Q telat baca… Tapi ga telat nangis 0_o !! Baca ending dulu *kebiasaan klu baca buku* trs baru baca dr pertama ampe ending lg…. Q nangis..Tiap part-ya.. I love Yulsic.. Hati ikut perih,,apalagi liat realita sekarang…Tp author-nya keceh badai..Hebatttttttttttttttttttt !!!! #nangis_lagi

  56. Aishh, kak Maifateeeeeeeee 😦
    Aku nggak tau ff ini sad ending atau udah termasuk happy ending
    Tapi yang jelas…….. ah sudahlah

    Kak Maifate kak Maifate, kapan” boleh nggak kakak buat ff YulSic yang bahagia kayak Locksimth ?
    Aku pengen banget bacanya. Tapi itu sih terserah kakak aja. Apapun pairingnya, kalok happy ending rasanya jauh lebih enak kak

    Tetap semangat berkarya kak Maifateeeeee ^^
    Selesai di ff ini. Best story about YulSic yang pernah aku baca di WP ini. Aku harap ada yang lain…… 🙂
    Anyyeong If There is no Tommorow… 🙂

    Eh, satu lagi kak Maifate, biar lebih jelas. Berarti YulSic unnie dalam cerita ini reinkarnasinya cepat yah kak ? Nggak sampek nunggu 100 tahun ? atau gimana ?
    Maklum lah kak, lagi korslet, dari tadi kebanyakan baca sama nebak” ceritanya.. 😀
    Hehehe 😀 Sekian ^^

  57. nindz85 said:

    hiks sedih ceritanya….
    true love never end
    akhirnya yulsic dipertemukan lagi…
    love yulsic

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: