~Thank you for your comments~

Karena saat ini jumlah uang kami masih banyak, maka kami lewat jalan toll. Dibandingkan dengan jalan-jalan biasa yang kami lewati, melewati jalan toll terasa lebih menyenangkan. Tidak ada macet, tidak ada jalan rusak dan bisa lebih cepat.
Aku bersenandung sambil mengemudi. Aku menyadari Jessica sedang memandang ke arahku.
“Yah Sica, kamu mau coba nyetir mobil?”
“Eh? Tapi aku nggak punya sim”
“Gwenchana, nanti kita coba di pantai yang sepi saja”
Mobil ini bukan tipe matic, jadi pasti lebih bagus untuk latihan.
“Kalau ketemu nanti aku ajarin. Ah tapi ngomong-ngomong aku sendiri juga masih pemula sih, jadi mungkin aku tidak begitu mahir.”
“Aku mau… aku mau coba”
“Oke, nanti ya kalau kita sudah ketemu pantai yang sepi.”

Hari sudah menjelang sore.
Aku mengemudi dengan pelan dan santai.
“Kamu mau istirahat sebentar?”
“A…y-ya…” suaranya terdengar sedikit dipaksakan.
“Ada apa?”
“Aku sedikit capek…” Jessica terlihat lemas.
Tidak mengherankan. Dari awal kita memang bukan orang sehat.
“Tunggu, aku akan belikan kamu makanan dan minuman”
Kemudian aku keluar dengan sedikit terburu-buru, membeli sebungkus nasi dan sekaleng pocari sweat di toko 24 jam terdekat. Lalu kembali.
“Nih, dimakan”
“…hmm…” hanya itu jawabannya, dia menerimanya tapi tidak langsung memakannya. Berpikir mungkin Jessica kesusahan, aku membantu membukakan kaleng pocarinya.
“Nih”
Tapi dia bahkan tidak meminum seteguk pun. Dia cuma memegang kaleng itu di atas pahanya. Apa dia tidak nafsu makan?
“Sica, kamu nggak apa-apa?”
“…uh…”
“Apa jangan-jangan… kondisimu mulai memburuk?”
“….obatku….habis…”
Jantungku berhenti berdebar sesaat.
Inilah yang kutakuti.
Tidak. Harusnya aku memang sudah menduga hal ini akan terjadi semenjak kita meninggalkan rumah sakit. Bukan berarti aku memang sengaja melupakannya.
Aku mulai agak panik. Tapi lalu segera kembali tenang setelah menarik nafas dalam. Panik tidak akan mengubah apapun.
“Dari kapan obatnya habis?”
“…dari tadi malam”
Aku sama sekali tidak menyadarinya.
“…berarti sudah hampir seharian”
Obat-obat ini memang tidak bisa menyembuhkanmu tapi setidaknya bisa memperpanjang harapan hidup. Dalam kasusku, dokter bilang batas nggak minum obat paling lama hanya dua hari. Dengan kata lain bila lebih dari itu maka tubuh tidak akan bisa bertahan. Sepertinya tidak jauh beda dengan kasus Jessica.
Setelah dipikir-pikir, sudah delapan sejak kami meninggalkan rumah sakit. Tentu saja jumlah obatnya sudah berkurang. Aku sendiri sih tidak khawatir karena aku membawa punyaku sendiri dalam jumlah yang sangat banyak.
Sekarang apa yang harus kulakukan?
Sambil menyalakan mesin mobil aku berpikir.
Pulang kembali?
Seperti bisa membaca pikiranku dia berkata, “Yah… aku nggak suka lantai tujuh.”
“Ya aku tahu, kamu juga nggak suka di rumah kan?”
“Ne…”

Aku mencari-cari rumah sakit. Ah bukan, lebih tepatnya, apotik yang bersebelahan dengan rumah sakit. Aku yakin apotik dekat rumah sakit besar pasti mempunyai persediaan obat yang lengkap.
Jujur, sebenarnya lebih baik pergi ke rumah sakit. Jika sakitnya adalah sakit biasa pasti akan langsung kubawa tanpa ragu lagi.
Tapi…kita adalah pasien lantai tujuh. Dan juga gelang putih melingkari pergelangan tangan kami. Apalagi kita adalah pelarian. Tidak diragukan lagi kalau sampai ketahuan kami akan ditangkap.
“Ketemu,” kataku hampir berseru.
Di pinggir jalan, ada sebuah rumah sakit universitas yang besar dengan sebuah apotik disebelahnya. Aku menemukan tempat kosong dan segera memarkir mobil.
“Pinjam bungkusan obatnya, Sica”
Dia memberinya dengan tatapan lemah. Melihat kondisinya, hatiku seperti ditikam.
Aku mengambilnya dan mengeluarkan kertas yang berisi penjelasan nama obat-obat.
“Aku akan segera kembali,” kutinggalkan dia di dalam mobil dan kemudian berlari kecil ke arah apotik.
Jessica’s POV
Yuri… kamu…
Aku menatap sosoknya yang sedang berlari menuju apotik.
Tubuhku terasa sangat lemas. Tapi ada rasa aneh dalam diriku ketika melihat sosoknya yang berjuang sedemikian rupa.
………………………………………..
Tidak lama setelah itu aku sangat kaget ketika melihat sosoknya yang keluar dari apotik itu. Dadaku terasa nyeri…

Yuri’s POV

Begitu masuk, aku langsung menuju ke kasir.
“Selamat datang, mau beli obat apa?” tanya seorang pria setengah baya, dia memakai kemeja putih. Sepertinya dia apoteker disini.
“Aku butuh obat ini,” kataku sambil menunjukkan kertas yang kubawa.
“Ya, tunggu sebentar”
Pria itu mengambil kertas itu dan menghilang ke belakang.
Sambil menunggu aku melihat-lihat. Sepertinya daripada menyediakan obat-obat biasa. Apotik ini lebih menyediakan obat-obat untuk keperluan rumah sakit.
…………………..
“Maaf telah menunggu”
Di tangannya terdapat dua bungkus penuh dengan kapsul. Sepertinya itu sesuai dengan yang tertulis di resep. Kalau kuperkirakan sepertinya akan cukup untuk seminggu, bahkan mungkin lebih.
Saat aku mengeluarkan dompetku.
“Ah sebelum itu, boleh kuminta resepnya?”
“Resep?”
“Maksudku resep untuk obat ini. Karena obat ini hanya untuk penggunaan medis”
“……………..”
“Dokter sudah memberikannya kan?”
Aku tidak menduga ini. Tidak, aku yang memang bodoh. Obat ini tidak ikut dipajangkan di depan, karena normalnya kamu tidak akan bisa membeli obat ini tanpa resep dokter. Harusnya aku tahu itu.
Apoteker itu memataiku.
“Uh….” aku tidak berani membalas tatapannya.
Aku mulai bimbang, kecurigaannya semakin bertambah.
“Tunggu, itu,” aku mengikuti tatapan matanya dan mataku terbentur pada gelang di pergelangan tanganku. Sepertinya ia sadar itu bukan gelang biasa. Dia menyipitkan matanya berusaha membaca nama rumah sakit yang tertulis di gelangku.
Masa bodoh, Jessica menungguku. Dia memerlukan obat ini segera!
Tanpa berpikir dua kali aku langsung merampas kedua bungkusan itu dari meja kasir.
“Ah!”
Aku sudah berlari sewaktu dia berteriak, “Yahh!”
Jaraknya hanya lima meter dari kasir ke pintu. Langkahku terhuyung tapi aku tetap berlari.
Saat itu
BRAK!! PRAK!!
“AUWW!!”
Selama beberapa saat kesadaranku menjadi putih. Karena terburu-buru aku menabrak pintu kaca sampai retak. Entah karena kacanya yang terlalu transparan jadi tidak terlihat atau karena aku yang terlalu panik. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menghilangkan rasa pusing yang diakibatkan oleh benturan tersebut. Kemudian mendorong pintu itu hingga terbuka.
Setelah berhasil keluar, aku langsung berlari ke mobil. Tanpa melepaskan bungkusan obat yang kubawa.
“Hahh…! Hahh…!” sekali lagi aku kehabisan nafas. Padahal jarak mobil dari apotik itu hanya beberapa puluh meter tapi terasa sangat lama.
…sebenarnya aku tidak bermaksud mencuri, tapi karena sudah seperti ini tidak ada jalan lain…
Kelihatannya tidak ada yang mengejarku. Mungkin mereka terhenti ketika melihatku menabrak kaca? Apapun itu yang penting aku beruntung.
Setelah naik mobil aku langsung tancap gas.
Padahal jarak yang kutempuh sekarang dibanding dengan jarak waktu di pasar malam itu lebih pendek. Tubuhku benar-benar semakin melemah…
Melalui kaca spion aku melihat darah mengalir dari dahiku. Tempat yang terbentur itu masih terasa berdenyut-denyut. Kalau hanya segini, paling juga bentar lagi darahnya berhenti.
Aku mengambil dua lembar tisu. Dan pelan-pelan menekannya ke dahiku. Kukatupkan rahangku menahan rasa sakit.
“….sakit?”
“Gwenchana”
“Tapi…kamu berdarah…” melihat keadaanku, kali ini wajahnya benar-benar menunjukkan rasa khawatir yang dalam.
“Nggak usah khawatir, bentar lagi juga berhenti,” aku melambaikan tangan, mengisyaratkan supaya dia nggak khawatir.
Memang sakit sih, tapi kurasa nggak perlu sampai masuk rumah sakit.
Sambil masih menyetir aku memberikan bungkusan obat yang sedari tadi kupegang padanya. “Minum obatnya”
“Ah…” Jessica menerimanya dengan tatapan sedih. Mungkin karena aku terluka sampai berdarah demi mendapatkannya.
Dengan begini kami akan tenang untuk sementara waktu. Tapi bila obat ini habis lagi, apa yang akan terjadi?
Kali ini aku berhasil melewatinya dengan sukses. Tapi semakin lama kekuatanku semakin melemah…
Pada awalnya karena kami tidak punya tujuan ataupun keinginan, kami tidak takut kehilangan apapun. Tapi sekarang berbeda. Perasaan takut kehilangan itu semakin tumbuh.
Sebagai seorang yeoja aku selalu mengatai diriku sendiri agar menjadi kuat. Apapun yang terjadi harus tetap tegar.
Tapi aku sendiri terkejut dengan aksiku barusan. Sepertinya semenjak aku melakukan perjalanan ini yang ada hanyalah ketegangan tanpa henti. Tapi saat itu berhubungan dengan nyawa Jessica, entah kenapa aku merasa harus berusaha mati-matian…
Nyut nyut nyut
Aishhh…
Baru kali ini aku terbentur kaca sekeras ini. Mungkin ini karma. Tapi dalam situasi terdesak seperti itu, apalagi yang harus kulakukan?
Diam-diam aku meminta maaf.

….

Third Person’s POV

Rasa sakit membuat Yuri sejak tadi terus terjaga. Yuri menyingkirkan tisu basah yang mengompres keningnya. Darahnya memang sudah lama berhenti.
Yuri memandang sekilas gadis yang tertidur di sampingnya. Wajahnya tidak menghadap ke arahnya. Dadanya naik turun dengan irama yang stabil. Tadi dia juga melihatnya minum obat sebelum tidur.
Yuri menghembuskan nafas lega dan memejamkan mata.
Saat itu Yuri tidak menyadari kalau sebenarnya Jessica belum tertidur. Kini gantian Jessica yang memandangnya. Pandangan matanya menyampaikan seribu pesan yang sangat sulit dibingkai kata-kata. Rasa sedih, rasa berterima kasih, dan juga pertanyaan mengapa dia sampai melakukan hal seperti itu demi dirinya. Semua tersirat dalam sorotan matanya.
“…………..”
Jessica ingin mengelus luka Yuri, ingin bertanya apakah masih sakit tidak. Tapi diurungkannya niatnya karena tidak mau membangunkan Yuri. Kemudian dia melanjutkan tidurnya.
______________________________________________________________________________________________________________________

Yuri’s POV

Sejak hari kami meninggalkan lantai 7, sudah berlalu sebelas hari. Kelihatannya jauh tapi sebenarnya tujuan kami tidak sejauh itu. Itu karena pada awalnya kami hanya terus berputar-putar tanpa tujuan selama beberapa hari.
Sambil mengemudi aku melihat sekilas ke cermin. Ada sebuah memar yang sudah pudar di dahiku.
Kami tiba di sebuah jembatan besar. Jembatan yang dibangun di atas laut itu membuat kesan seolah kami sedang meluncur di atas laut. Di tengah-tengah jembatan, banyak mobil yang parkir di tepian. Sepertinya mereka-mereka itu turis yang sedang mengambil foto kenang-kenangan. Mengikuti orang-orang itu, aku menepikan mobil di sisi jalan.
“Nggak boleh berhenti disini,” kata Jessica.
“Kalau cuma bentar kayaknya nggak apa-apa”
Karena bukan hanya kita saja, banyak orang lain yang juga melakukannya.
“Kita lihat-lihat bentar yuk”
“……………”
“Daripada terus mengurung diri dalam mobil.”
“…oke”
Dia kedengarannya sedikit enggan, tapi dia tetap keluar mengikutiku. Begitu keluar, angin dingin langsung menyambutku.
“Uh dingin”
“Ne”
Apalagi karena kita jarang keluar dari mobil, jadi rasa dingin itu lebih terasa di kulit.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mereka yang datang kesini kebanyakan adalah pasangan. Juga tidak jauh dari sini, ada sejumlah orang dewasa dan beberapa anak kecil yang sepertinya adalah keluarga. Mereka semua mengambil foto kenang-kenangan. Memang tempat ini memiliki pemandangan yang bagus.
Hmm, foto ya?
“Ah, iya!” aku teringat akan sesuatu.
“Mwo?”
“Tunggu sebentar”
Kalau tidak salah waktu itu aku menemukan kamera di mobil. Aku membuka dashboard dan menemukannya.
Kamera ini adalah kamera langsung jadi. Appa sengaja meninggalkannya di dalam mobil untuk dipakai saat kita piknik.
Aku mengecek isi filmnya, “Bagus, filmnya masih ada,” walaupun isinya hanya tinggal dua lembar. Lalu aku kembali pada Jessica, “Foto yuk, aku fotoin kamu duluan ya”
“Eh?”
“Kita kan sudah sampai kesini, setidaknya foto satu dua lembar dong”
“Nggak mau…”
“Jangan gitu dong, ayo pasang pose,” sambil berkata begitu aku menyiapkan kamera.
“……………..”
“Ayo senyum”
“……………..”
Akhirnya ia menghadap ke kamera. Mungkin karena dia malu, ekspresinya jadi terlihat kaku.
Atau mungkin… dia sedang berusaha tersenyum?
Saat aku sedang berpikir begitu seseorang menegurku.
“Maaf, boleh minta tolong fotoin kami nggak?”
“Eh? Ah, ok”
Seorang yeoja, dia lebih tinggi sedikit dariku. Dia memberikan kameranya. Lalu aku menerimanya. Kemudian dia merangkul pasangannya yang pendek itu dengan mesra. Aku yang melihatnya pun merasa lucu, terdapat jarak tinggi badan yang cukup jauh di antara mereka.
“Ok, siap?”
“Siap”
Aku membidik mereka melalui jendela viewfinder dan menekan shutter.
Jepret
“Gomawo,” yeoja pendek itu tersenyum padaku dan memperlihatkan eye smile yang menurutku sangat manis. Kalau melihat wajahnya yang secerah matahari aku seperti mendapat sebuah energi aneh. Seolah kamu habis meminum pil energi.
“Yah, kita gantian, karena kamu sudah fotoin kita,” ujar yeoja tinggi itu. Sebelum aku sempat menjawab dia sudah mengambil kameraku. “Pencet yang ini kan?”
“Ayo kalian, jangan jauh-jauhan gitu,” kata yeoja yang memberi kesan pertama seperti matahari itu.
Aku bergeser ke dekat Jessica. Jessica juga begeser ke dekatku masih tanpa emosi seperti biasa.
Senyuman usil tersungging di bibirku.
Aku akan memanfaatkan kesempatan ini.
“Siap?”
“Ya!” kataku sambil merangkul bahunya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, tanganku yang satunya lagi membuat tanda peace.
“Ah-” dia kelihatannya malu.
Kukedipkan sebelah mataku dan memasang senyuman terbaik.
Cklik
Setelah itu ia mengembalikan kameranya padaku dan berjalan pergi bersama yeojachingunya, seperti puas telah melakukan hal yang baik. Kami pun kembali ke dalam mobil.
Aku melihat foto yang baru saja diambil. Kertas foto yang tadinya gelap itu perlahan-lahan mulai memperlihatkan warnanya.
“Hmm, not bad. Lihat Sica, kamu cantik deh,” aku melihat pipinya bersemu merah dalam foto ini.
“……………” dia tetap menghadap ke arah jendela. Tapi aku merasa kali ini dia cuma memalingkan wajahnya karena malu.
______________________________________________________________________________________________________________________

Suasana senja di pantai terasa indah tatkala warna oranye menghiasi hamparan langit. Aku bertukar tempat duduk dengan Jessica.
“Sudah terasa pas pijakannya?”
“Ya”
“Oke, sekarang ganti gigi dari netral ke gigi satu”
“Aku tahu”
“Ya sudah kalau gitu”
Eskpresinya tampak serius saat sedang memegang setir.
Sambil bersandar di kursi penumpang aku berkata, “Lepas kopling secara perlahan”
Jessica berusaha melakukannya sesuai petunjukku. Ia menggigit bibirnya saat mencoba berkonsentrasi. Karena Jessica biasanya jarang menunjukkan emosi, bagiku pemandangan ini terlihat sangat menarik.
Tentu saja pada awalnya kita tidak bisa langsung mahir. Gaya mengemudi Jessica yang payah membuatku pusing.
“Yah, entar aku mual nih”
“Ta-tahu ah”
Matahari sudah menghilang di balik ufuk laut. Angin laut mulai berubah menjadi angin darat. Sebuah bulan keperakan menggantung di atas langit.
Sekarang tampaknya dia sudah agak terbiasa menginjak kopling.
“Gimana kalau kamu bikin sim saja?”
“Apa aku sudah bisa?”
“Gak tahu, aku sendiri baru dapat sim belum lama ini, jadi pasti standarku beda”
Sekarang ini tidak ada artinya memiliki sim. Kita berdua tahu itu. Kita tidak punya masa depan.
“Kalau gitu, kukasih punyaku,” kukeluarkan sim dari sakuku. “Nih”
“hhh…walaupun kuambil, aku nggak punya waktu untuk memakainya”
Setelah memasuki lantai tujuh, tidak ada seorangpun yang bisa lolos dari cengkeraman maut. Langit-langitnya yang tinggi, jendela yang hanya bisa terbuka beberapa cm, dan gelang warna putih. Jessica sudah hampir tiga kali.
“Lagipula itu punya kamu”
“Gwenchana, terimalah, anggap saja sebagai tanda kalau aku meluluskan kamu. Selamat telah lulus.”
“Gomawo…” Jessica mengangguk kecil sambil menerimanya.
Dengan begini kuanggap dia sudah sah. Aku serius. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mau melakukan ini.
Selama beberapa saat ia memandangi sim pemberianku itu. Mungkin ini cuma perasaanku, tapi aku merasa Jessica seperti menginginkannya.
Ya, saat aku menawarkan diri untuk mengajarinya saja dia langsung mau. Mungkin itulah sebabnya aku memberikan simku.

*~To Be Continued~*

A/N : Author bingung apa harus menyertakan lagu atau tidak. Lagu original dari novelnya atau lagu SNSD? kalau lagu SNSD kira-kira yang cocok apa ya…

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 6)" (50)

  1. sifat sica d sini membingungkan ya
    tapi aku suka ceritanya 😀
    walopun menyedihkan

  2. ya ampun yuri nabrak pintu kaca sampe dahinya berdarah.

    pasti yg memotret yulsic td ppany kan thor?
    asal nebak sih,hbsny ada kata kunci eye smile sih jd keinget ppany.
    blm lg dgn yeojachinguny yg bertubuh pendek,pasti itu taetae.
    hahahaha

    lanjut thor.
    hwaiting

  3. wihh update nya cpet oyy,,,hmm smakin kau cpt update,,smakin pnasaran q ma akhir ff ini!!

  4. Thor, mereka mau kemana?? Kok terus-terusan kabur??:cry: kasian yuri,kpalanya nabrak pintu kaca 😀
    Lanjut

  5. Yang difoto yuri itu soosun ya?? Udah bsa ketebak dari perbedaan tinggi yg menonjol (-.-“)

  6. akhirnya diuodate juga ^^

    wah itu pasti taeny ya yang numpang eksis? kekekeke

    eh gomawo ya unn kemarin bantuannya ^^

    mungkinkah ada keajaiban yulsic bakal sembuh? >,<

    gimana endingnya, gak berharap sad ending. hueee

  7. ._. baru nyadar ternyata yang punya eye smile yang pendek (sunny kan ya)
    yang tinggi ya pasti sooyoung, berarti soosun to hahahah

    kirain taeny, taeny mah kebalikan ya taeyeon yang pendek, fany yang tinggi dengan eye smile #innocent

  8. yang minta foto pasti sooyoung sama sunny! haha ia kan kan kan kan??????

    Yuri kejedot kaca sampai berdarah?untung ga pingsan di tempat ya, knp tu gelang kaga di buka aja ya?

    asik mulai ada benih cinta nih hhe makin semangat 45 bacanya

  9. @kyungsee said:

    Ciyeee Yul jadi guru menyetir XD seharusnya yul nyium pipinya sica pas difoto 0_0 itu baru namanya ide jail XD kapan ya sica bakal senyum? Gak sabar @_@

  10. sunnyjiyeon said:

    wah,,td ad soosun..hihi
    aq pnsaran thor m jalan crtany,pgn bca novelnya,.tp gk biasa bca novel romance,kcuali novel misteri ato komik..wkwkwk
    aq msh brhrap keajaiban bwt yulsic..
    lanjut thor..^.^

  11. bneran dech,yul disini keren banget…tp psti akan ada saatnya sica yg berkorban buat seobangnya,iya kan tho???#sotoy haha…lanjuut ♡

  12. Aqu gk bsa ngmong apa” lgi dah,, sllu trharu tiap bca ini ff 😥

  13. phe pie said:

    Pngorbanan Yuri buat Sica smakin bsarg aj thor. T.T Tapi untung ada hasilnya bisa mnggrakkan hati Sica yang sdingin es. Tapi aku bingung thor mang glang rumah sakit itu canggih amat ya sampai gak bisa dilpas? Prasaan dulu punya aku gampang aja dilpasnya. Hehe. Lagunya yang cocok Forever atau Tears mungkin thor.

  14. yulsictaenyjjang said:

    daebak dah sama perjuangan yuri,,,
    rela jidatnya berdarah demi obat buat jessica,,,,
    itu yg minta di fotoin ma yuri soosun couple kan,,,,gampang tertebak
    hehehhe,,,
    dtggu update soon thor

  15. Sepertinya yuri cinta mati sma sica, sampe rela bkorban gtu banget buat sica

  16. yoonaddict si new reader said:

    Lanjut thor (˘̩̩̩ʃƪ˘̩̩̩)

    Mwo yul eon sosuit bnget (O̷̴̷̴̐εO̷̴̷̴̐ƪ)

    Gmana Lagu complete taw forever thor O̷̴̷̴̐ﻬO̷̴̷̴̐

  17. Kayaknya yuri cinta mati sma sica, sampe rela b’korban segitunya buat sica
    salut bgt dah

    aku tau! pasti sooyoung&sunny kan yg ambil pto yulsic

  18. yul udah muali suka sica tuh~ abisnya perahtian sih ciee~

    itu yg jd cameo pasti soosun ^_^ clue : pasangan tinggi dan pendek.. eyesmile.. senyuman seperti memberi energi.. Energi Pill itu sebutannya sunny~ kekeke

    huhh.. ceritanya semakin seru..
    ost aslinya bagus ga thor?
    kalo ost SNSD yg cocok menurut aku Time Machine

  19. clover said:

    yuri keren bgt…>_<
    rela ngelakuin apa aja buat sica 🙂 btw, soosun nongol jadi cameo nih hehe

    kalo pake lagu aku saranin sih yang forever / complete *selalu merinding kalo dengerin dua lagu itu*

  20. Kwon Eya said:

    Ya ampun yul, km tuh yah! Dlm k’adaan papun,sdar at0w g, emg dzarnya uda mentok ama sica. Papun rela km lakukn dmi dy. Sicaa,c0mmon imbangilah *?* yul. Jgn dtar gt dunk!

  21. critax smkin seru nie 😛

    Thor mending pke lgu snsd ajh yg “forever” 💡
    Tu lgu ksukaan q thor #cumangasihtau 🙂

    Hwaiting 😎 😎

  22. ah~
    Kayanya SooSun tuh yang tadi ketemu yulsic :p
    Yulsic cepatlah bersatu !!
    Makasih ya thor update nya cepet xD
    author saranghae~ *eh

  23. YS_addict said:

    ini makin seruuuu sicababy knp malu foto ama kwon seobang hihi…kayanya makin akrab yah yulsic. sica tunjukan perhatianmu ama yuri. okeee *cipok sica (?)

  24. lagu2 rekomen dari yg lain bgs2 tuh..
    Mmm.. How great is your love mungkin?hehe
    Rencananya brp chapter, thor?
    masih panjang ya?

  25. rainyfansoshi said:

    yah.. yuri nekat lagi! keren 😀
    eh, pasangan yang foto yulsic itu soosun kan unnie..
    aku udah nebak dari kata2 yeoja tinggi dan teoja pendek.. hehehe
    hmm.. lagu yang pas, apa ya.. lagunya snsd aja kayaknya lebih pas..
    gimana kalo complete?
    abiznya kayaknya karakter yuri cenderung ngelindungin sica 🙂
    lanjut unnie!
    fighitng!!

    • hmm ya lbh baik lagu snsd aja
      kayaknya gak cocok, soalnya lagu complete terlalu ceria untuk suasana ff ini

  26. 'rusa' said:

    Yul rela nyuri & nabrak kaca ampe berdarah demi obat sica 😦
    semakin sedih bacanya… Mereka beneran ga punya masa depan ya???

  27. cih, lagi asik2nya malah TBC…

    tp gpp lah, updatenya kan cepat. hehe…,

    ntar yuri ma sica d tilang polisi trus d jeblosin k penjara karena salah info n d anggap buronan.
    trus d penjara mereka ketemu ma dokter jenius lalu ngobatin mereka berdua hingga sembuh dan mereka akhirnya d bebaskan setelah pihak kepolisian menerima laporan yg benar. si dokter jenius jg bebas dengan tebusan uang sebagai jaminan yg dibayarkan ortu yulsic. stelah itu yuri n jessi hidup berdua dengan bahagia, sedangkan si dokter jenius d kabarkan mengikuti terapi d indo dan menetap d sana.. anda pasti tau siapa dokter jenius tsb. hehehe…

    lumayan lah buat menghibur diri sendiri, soalnya ga ada happy2 nya sih. huhuhu…

    nevermind, kutunggu karya selanjutnya thor, semangat.,,!!!!

  28. lulu amanda said:

    kyaaa…
    mian thor ketinggalan…
    sumpah deh….
    sumpah ni cerita mya bikin sesak npas karna sedih banget…..

    yul semangat ya sica psti jdi milikmu kok….
    lanjut thor…..!!!

  29. bloxtwins said:

    akhrnya..dikit demi sdikit yuri bsa melihat ekspresi dwajah sica.hho~
    Langka deeeeh..
    semua yg yuri lakuin bwt sica tu
    kesan nya bikin sisa hdup sica lbh brarti..
    dtnggu scepatnya y lanjutan nya.hhe 😀

  30. ASTAJIM . ..kenekatan Yuri yang membuatku saluuuuuuuuuuuut. . .
    pengen deh bisa kayak gitu..tp gag mau kalo mpe nabrak pintu#plaaaaak,Apa-apaan??

    Lanjut thor. . .

    YUK DUNK!!!

  31. Kungttadadak said:

    Aaaah authorrrrrrrrr ini adalah fanfic terfavoritku! Suka banget… Jessica disini sebenernya kekanak kanakan tapi dia gamau nunjukin ke Yuri, cute banget! Yuri juga,hero bangettttt
    Daebak,thorrrr update soon yah! Hwaitiiiing..

  32. siLent_Reader said:

    masih gg paham sama karater sica -____-
    tapi ceritanya bagus u,u

  33. Wow Yuri kau memang Gentle (?)eh
    Demi apapun yuri rela lakuin buat sica aww so sweet~

    Sica pake malu2 lgi, gemes deh liatnya…

    Klo aku bacanya pas lgi denger lagunya Sunny-finally now :3

  34. emank sim bsa d kasih k org y thor?
    G’ ada nama gitu? Mm.. Aneh

    • tentu saja ada namanya
      tp mereka jg gak bakal pakai simnya lg
      cuma ngasih karena sekedar simpati aja

  35. ah makin dapet feel antara mereka
    huuhuhuhu
    makin keren thor ceritanya

  36. aku suka bgt sama ceritanya…

  37. Yaampun aku terharu T.T
    Sedih yaa T.T

  38. Itu pasti SooSun yang ngefotoin-_- ahaha =))

  39. Aishhh, udah hampir chapter akhir. Tapi kok belum dapat” yah kak gambarannya ?
    Pokoknya harus happy ending. Nggak mau tau. Kak Maifate udah janji. Langsung go aja ke chapter akhir !
    Yuhuuuu

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: