~Thank you for your comments~

Di bawah langit berawan, mobil sedan kami terus melaju. Tanpa tujuan.
Kalau melihat kembali, tiga hari sudah berlalu tanpa terjadi sesuatu yang berarti.
Uang kami sudah semakin menipis. Dan lebih lagi, bensin kami sudah mencapai garis bawah.
“Sica, kamu sudah capek?” tanyaku.
Maksudku, capek akan perjalanan ini.
“Aniyo”
“……………..”
“Suaranya berisik”
“Ha? Ada apa tiba-tiba”
“Suara mobilnya… jadi lebih keras dari sebelumnya”
“Ah,” aku terdiam sejenak untuk mendengarkan, “Benar juga”
Mungkin karena saat melarikan diri waktu itu, saat knalpotnya terbentur.
Aku tidak mengkhawatirkannya karena tidak mengganggu aktivitas mengemudi. Yang jadi masalah sekarang bensin. Sudah lima menit aku masih terus mengemudi sejak bensin mencapai garis kosong. Uang kita yang sekarang tidak cukup untuk beli lagi. Tapi kalau kami mogok sekarang, maka berakhirlah sudah.
“…………..”
Setelah mengambil keputusan cepat, aku segera menuju pom bensin. Pom bensin yang self-service.
“Isi bensin dulu”
“Ya”
“Sica, jangan keluar dari mobil,” kataku.
“…………..” Jessica terdiam, dia seperti mengerti apa yang akan kulakukan.
Kebetulan sedang sepi, tidak ada mobil lain.
Kubuka tutup bensin mobil dan mulai mengisinya.
Di area belakang aku melihat sebuah bangunan kecil yang menjual snack dan minuman serta mesin penjual minuman otomatis. Aku juga melihat seseorang yang tampaknya seorang petugas. Kemungkinan besar disitulah tempat membayar bonnya.
Tentu saja maksudku setelah penuh aku akan kabur.
Omo, sejak kapan aku jadi senekat ini…
Aku mulai grogi. Tidak seperti sebelumnya, meteran itu terasa berjalan sangat lambat.
Dan kemudian setelah melebihi empat puluh liter-
“Selamat datang!” serunya dengan bersemangat.
Petugas yang tadinya berada dalam bangunan itu entah kenapa datang kemari.
“Apakah semuanya baik-baik saja? Barangkali ada yang bisa dibantu?”
“Eh, em, semuanya baik-baik saja, kamsahamnida.”
Dan petugas itu membersihkan kaca mobil sebagai servis.
Mesin itu memberitahu bahwa tangkinya sudah penuh. Dan mesin itu mengeluarkan kertas bukti tanda terima.
“Ah, tolong dibayar disana,” ujar petugas itu sambil menunjuk bangunan tadi.
Aku hanya terpaku di tempat dengan kertas itu berada di tanganku.
“Ada apa?”
“A, aniyo…”
Aku masuk kembali ke dalam mobil dan menghidupkan mobil.
Ottoke…
Petugas itu sedang membersihkan kaca jendela belakang sekarang.
Jantungku berdegup kencang.
Bagaimana ini…
Kalau aku tancap gas sekarang pasti plat nomor mobil kita akan dicatat dan jika ada razia kami pasti akan tertangkap.
Tapi untuk bisa melarikan diri dari sini…
Aku membuat keputusan.
Tanganku meremas rem tangan dengan erat. Dan ketika aku hampir mengganti gigi tiba-tiba.
“Ini…”
“Eh?”
“Pakailah”
Tiba-tiba Jessica mengeluarkan sebuah amplop. Lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya padaku.
“Sica… ka-kamu punya uang?”
Padahal tadinya kupikir dia tidak membawa uang.
Kalau saja dari awal dia bilang, aku nggak perlu mengalami semua masalah itu.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“………….memangnya kamu tanya?”
“Eh, ah, itu…”
“Karena kamu nggak nanya…”
Dan dengan jawaban itu sekali lagi dia memandang keluar jendela.
Aku memang tidak bisa berdebat dengannya. Tapi aku juga tidak bisa kesal padanya.

Dan, jadi sekali lagi mobil sedan kami melaju.
Sekarang tangki sudah penuh dengan bensin. Tapi aku lebih tertarik dengan apa yang baru saja terjadi.
“Yah, Sica…”
“Ambillah semua”
“Eh?”
Dia memberiku sebuah amplop penuh dengan lembaran puluhan ribu won.
“Aku boleh pakai semua ini?”
“Silakan”
Kalau dihitung-hitung, dengan begini kami akan aman sementara waktu. Namun aku jadi bertanya-tanya, darimana dia dapatkan uang sebanyak ini? Mungkinkah dia sudah menyiapkan untuk ini sejak lama?
“Hei, uang ini….kamu berencana mau pergi ke suatu tempat?”
Aku ingat dia pernah berkata bahwa selama ia masih bisa berjalan ia akan pergi ke suatu tempat. Dia juga pernah menanyaiku, apakah aku akan menghentikannya ataukah ikut dengannya.
“Aniyo”
“Aku nggak ngerti kalau kamu terus bilang begitu”
“…………..”
Kalau begitu Jessica… hanya mengumpulkan semua uang ini untuk pergi ke suatu tempat di masa yang akan datang? Tapi saat ini dia masih belum tahu?
“Kamu sendiri gimana?” balasnya.
“Ah, aku juga sama, nggak”
“Jangan ikut-ikutan”
“Aku nggak ikut-ikutan”
Kami yang pergi dari lantai tujuh atas dorongan hati, sampai saat ini masih belum memiliki tujuan. Kemudian aku memutuskan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke taman bunga itu?”
“Eh?”
“Dengan uang uang yang kita miliki sekarang, pasti cukup. Kamu mau kesana juga kan, Sica?”
“…………..” Dia hanya terdiam, aku menganggap kediamannya itu sebagai jawaban. Bagiku tidak masalah pergi kemana saja, karena aku tidak mau terus berkeliaran tanpa tujuan.
Sekali lagi ia memandang keluar jendela. Seperti biasa, matanya menerawang jauh. Aku jadi penasaran apa yang ia pikirkan, apa yang ia inginkan.
______________________________________________________________________________________________________________________

Tadi malam, kami sudah sepakat untuk pergi ke taman bunga itu. Walau kelihatannya lebih seperti kesepakatan sepihak…
Aku tidak tahu jalan. Ketika sampai di persimpangan, tanpa berpikir panjang aku hampir mengambil jalan lurus. Tapi tiba-tiba.
“Kiri”
“Eh?”
“Belok kiri”
Tiba-tiba Jessica memberi arah. Aku mengikuti instruksinya sambil bertanya-tanya dalam hati. Sampai sekarang ini dia hanya mengikutiku. Ini pertama kalinya dia benar-benar memberi arah secara langsung.
“Sica, kamu mau pergi kesana?”
“…..nggak boleh?”
“Ah nggak, bukan itu maksudku”
“…tapi jangan salah sangka, bukan berarti aku berharap sesuatu”
Lalu aku melanjutkan perjalanan sambil mengikuti arah yang Jessica berikan. Pengetahuannya bahkan lebih hebat daripada sistem navigasi. Aku tidak tahu tapi instingku mengatakan kami berada di rute yang benar.
“Sica ah, kamu mau pergi kesana?” aku menunjuk sebuah toko baju di pinggir jalan. Tentu saja karena aku tahu outlet disana tidak menjual baju yang mahal karena hanya menjual baju-baju dan celana casual. Dan juga uang kita masih banyak.
“Tenang saja nggak mahal kok. Lagian sebagai seorang yeoja jujur aku jenuh memakai baju yang sama terus berhari-hari.”
“Kita kesana ya? oke?”
“…………..”
Tidak ada jawaban, tapi dia tidak protes juga.
Mungkinkah kalau dia tidak menjawab berarti bisa kuanggap kalau dia setuju?
Kemudian setelah memarkir mobil, kami memasuki toko.
Kami melihat deretan penuh dengan baju-baju girly. Seperti biasa Jessica tetap terdiam, tapi sorot matanya sedikit berbeda dengan saat dia sedang menonton televisi. Dia melihat-lihat, sesekali mengambil baju yang menarik perhatiannya, lalu melihat price tag yang menempel di baju tersebut. Kemudian wajahnya seperti sedang menimbang-nimbang.
Tindakan sepele seperti itu menarik perhatianku. Aku melihat sisi lain Jessica yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan. Dan entah kenapa aku merasa sedikit senang dan bersyukur aku membawanya ke toko ini. Sampai-sampai aku sendiri lupa untuk memilih baju.
Kemudian ia pergi mencobanya dan datang padaku.
“Cocok?”
“Bagus sekali, cocok banget!”
“Aneh… nggak?”
“Hmm, mungkin sedikit aneh…” kataku membuat gesture seperti sedang menilai.
Jessica bolak-balik ganti dan memperlihatkannya padaku. Dia tidak tersenyum, tapi aku merasa dia benar-benar menikmatinya karena nada suaranya terdengar lebih cerah.
Setengah jam kemudian.
“Sudah putuskan mau beli yang mana?”
“Ini”
Sebuah baju berwarna pink yang imut dan rok mini berwarna kecoklatan. Baju itu lebih terlihat seperti baju untuk anak remaja, tapi ia memakainya dengan senang. Padahal dia bilang dia lebih tua dari aku…
Tapi kalau kamu melihat wajahnya yang cantik, baju itu sangat cocok untuknya.
“Tapi rok itu… apa nggak lebih baik kamu pilih yang lain saja?”
“Eh?”
“Ah bukan karena nggak cocok buat kamu Sica, tapi akhir-akhir ini anginnya agak dingin”
“Nggak apa-apa, aku tahan kok,” aku melihat pipinya sedikit memerah. Kelihatannya dia begitu menginginkannya. Hehe lucu.
Sip, bajuku juga nggak akan kalah imut! Tapi aku nggak mau pakai rok ah, nanti dingin.

Setelah membelinya, kami melanjutkan perjalanan kami.
Jessica seperti biasa memandang keluar jendela, dia sedang mengagumi pantulan dirinya yang memakai baju baru di kaca samping mobil. Walau dia berusaha untuk berpura-pura tapi aku menyadarinya.
“Apa?”
“Ah nggak, kelihatannya kamu suka banget sama baju itu,” godaku.
“…nggak kok,” lalu ia berhenti melihat kaca samping. Tapi tidak berapa lama saat aku nggak melihat ke arahnya, dia melihatnya lagi.
Pada akhirnya meski dingin, Jessica juga punya sisi manis. Aku tersenyum.

Matahari sudah terbenam. Di pinggir jalan yang sepi kami menghabiskan makan di dalam mobil.
“Kira-kira sekarang gimana ya keadaan disana…?”
Aku melihat gelang putih yang melingkari pergelangan tanganku. Menatap nama rumah sakit yang tertulis di gelang itu.
“Pasti terjadi keributan”
“…mungkin”
Sudah hampir satu minggu kami menghilang, tanpa berkata apa-apa pada siapapun. Orang tuaku, dokter dan para perawat disana pasti pada khawatir…
Maaf semuanya… karena sudah egois…
“Kamu…”
“Hmm? Wae?”
“Waktu pertama kali kamu tahu kalau kamu akan meninggal, apa kamu nangis?”
“…………..”
Pertanyaannya mengagetkanku sejenak. Kemudian aku memikirkan bobotnya pertanyaan yang diajukan selama beberapa waktu.
“…sepertinya…nggak…”
“Kalau begitu apa kamu bertanya ‘kenapa aku?’ atau mengutuk takdir?”
“Aku…nggak gitu ingat”
Kenapa? apakah karena aku tidak pernah benar-benar memikirkan masa depan?
Karena… walau dipikir-pikir atau direncanakan dengan masak-masak pun masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa ditebak. Dan bisa saja tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu. Aku tipe yang lebih cenderung go with the flow.
Ataukah karena aku sudah menduganya? Semenjak aku mulai mengalami gejala-gejala batuk ringan. Karena itu aku sudah siap?
Selama ini memang hidupku berjalan dengan datar. Sampai terkadang cenderung menyedihkan dan membosankan. Apakah karena itu?
Ataukah karena aku tidak memiliki seseorang atau sesuatu yang berharga di dunia ini, jadi aku tidak peduli meski mati atau tidak?
Ataukah karena aku berpikir cepat atau lambat semua manusia akan mati?
Ada berbagai macam alasan. Pada awal ketika aku mengetahuinya pun aku merasa seperti semuanya tidak nyata.
Mungkin waktu itu aku sempat merasa ‘kenapa aku?’
Walaupun aku berkata pada diriku sendiri bahwa ini adalah takdir. Tapi ada suatu perasaan nggak mau pasrah dalam diriku.
“Kamu sendiri gimana?”
“Aku? …..”
“Aku sama sekali tidak keberatan”
“…kenapa?”
“Karena aku sudah menyerah…”
“Oh…”
Karena jika dari awal kamu sudah menyerah, kamu tidak akan dikecewakan. Jika kamu berpikir begitu maka hidupmu tidak akan ada kesedihan maupun kebahagiaan. Tapi aku merasa cara berpikir seperti itu… terlalu menyedihkan.
Atau mungkin dalam sudut pandangnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya.
“Dari film yang kutonton, katanya masa hidup serigala tiga tahun.”
“Hah? Serigala??” tiba-tiba Jessica mengucapkan hal yang tidak kumengerti.
“Tapi keledai bisa hidup selama sembilan tahun”
“Lalu? Apa maksudnya?”
“Keledai lebih berguna daripada serigala, jadi mereka hidup lebih lama. Sepertinya begitu…”
Jessica terlihat kesepian sewaktu mengatakannya. Lalu aku mengerti maksudnya. Mungkin Jessica berpikir bahwa hidupnya tidak berguna bagi orang lain, makanya hidupnya singkat. Tapi…bukannya itu hanya alasan? Nyatanya di dunia ini ada orang baik yang pergi lebih cepat dibanding orang jahat yang mendekam di penjara.
Tapi aku tidak mengatakannya.
Tiba-tiba ada beberapa kilasan petir dan suara guntur, tidak lama hujan turun dengan sangat deras. Saking derasnya sampai memperpendek jarak pandangan. Aku segera menyalakan wiper. Tapi meski sudah yang paling cepat pun, hujan dengan segera menutupinya lagi.
“Wah, kalau sederas ini aku nggak bisa melihat”
Aku menghentikan mobil di sisi jalan. Lalu mematikan mesin mobil.
“Apa boleh buat, lagian sudah malam, kita istirahat saja”
Aku menurunkan sandaran kursi. Lalu mencoba untuk tidur. Tapi walau sudah berbaring selama setengah jam aku tetap tidak bisa tertidur karena derasnya suara hujan yang mengguyuri mobil. Lalu aku mendengarnya bertanya.
“Hei… bagaimana Tuhan menurut kamu?”
“Tuhan? Kenapa dengan-Nya?”
“Tidakkah kamu pernah merasa bahwa Tuhan tidak adil?”
Aku terenyak mendengar perkataan itu.
“Di dunia ini ada anak tidak berdosa yang sakit-sakitan sehingga harus berkali-kali menjalani operasi sementara diluar sana ada orang yang korupsi dan berfoya-foya dengan hartanya”
“Tidakkah kamu merasa bahwa itu tidak adil?”
“…mungkin Tuhan punya maksud dibalik cobaan yang Ia berikan”
“Benarkah? Kalau begitu apa itu?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan itu.
“Aku nggak tahu…”
“……………”
“Mungkin…ini adalah hukuman…” tapi wajah Jessica saat itu seperti bertanya ‘tapi apa yang telah kulakukan?’
“…..hei, menurutmu kalau aku meminta maaf pada Tuhan, apa dia akan memaafkanku? Mungkin saja ia akan berpikir dua kali dan menyembuhkan penyakitku…”
Tapi apakah hanya dengan meminta maaf dan doa sederhana saja bisa mengubah takdir?
Aku memang dengar pernah ada orang yang selamat dengan keajaiban doa. Tapi bila itu bisa terjadi pada semua orang, maka tidak akan ada orang yang meninggal karena sakit di dunia ini.
“Terkadang Tuhan tidak menjawab doa kita…”
“Begitu… pasti Dia benar-benar sibuk…” gumam Jessica dengan pendapatnya sendiri.
“…Yah Sica, gimana kalau kita ke Gereja?”
“……………”
“Kalau kita berdoa disana, mungkin akan terjadi keajaiban”
Ya, kalau ingin keajaiban menjadi kenyataan, aku harus mempercayainya.

Keesokan harinya, kami mampir ke sebuah Gereja yang tak kukenal. Aku tidak tahu apa agama Jessica atau mungkin dia tidak punya agama, tapi tidak ada salahnya mengajaknya kesini.
Aku sendiri bukan orang religius yang rajin berdoa. Tapi aku masih percaya akan adanya suatu kekuatan lain di luar kekuatan kita.
Aku mendorong pintu kayu Gereja. Pintu kayu itu berderit saat terbuka. Baguslah tidak dikunci.
Aku menggandeng Jessica masuk ke dalam.
Di dalamnya sepi karena sedang tidak ada misa. Deretan kursi yang banyak dan di depan sana terdapat sebuah altar. Di belakang altar terdapat sebuah salib besar dan kaca yang membiarkan sinar matahari masuk. Menciptakan siluet yang drastis pada salib itu.
Kemudian aku berlutut di depan altar dan melipat tangan. Berdoa dengan sungguh-sungguh demi aku dan Jessica.
“………….” Jessica mengikutiku.
Setetes air mata mengalir dari mataku yang terpejam.
Apakah memang tidak mungkin untuk sembuh…
Maafkan kami ya Tuhan… semoga Engkau memberi kami kebahagiaan menjelang akhir hidup kami…
Terimalah kami disisiMu…

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 5)" (57)

  1. bnr2 mnydihkn jln hdup yulsic 😥
    Mdh2n mrka cpt sembuh,, aminnn ❗

    Lanjut thor !!

  2. phe pie said:

    Wah mrka k Gereja mau bertobat memohon kesembuhan. Smoga doa mrka bisa trkabul. Sudah di Gereja skalian aja YulSic dinikahkan thor. Hehe. Trnyata bnar dugaan saya di commnt chaptr sblumnya klo Sica trnyata punya banyak uang
    Yah prjuangan Yuri nyolong n kabur slama ini jadi gimana gitu thor.

  3. amin ._.

    yul unnie jangan nangis, ntar sica jadi ikut nangis #lebay

    berasa baca novel lo, ckckck author pinter nulis ya, pasti nilai ngarang bahasa indonesianya dapet seratus? :O

  4. yulsictaenyjjang said:

    apakah yulsic akan bersatu,,,,,
    makin penasaran nih,,,,
    lanjut lg thor d tggu update soon

  5. hmm.. udah ada sedikit interaksi antara yuri n jessica nih..
    mungkinkah ada saatnya mereka berdua menjatuhkan diri dalam cinta yang sama..???
    jeng jeng jeng..
    nantikan episode selanjutnya.. 😀
    hehehe

    koq menurutku chap ini ceritanya datar2 aja ya.. atau cuma perasaaanku aja?
    hmm. ah cuma perasaanku aja kali ya.. hehehe 😛
    tapi ini rasanya baca cerita ini serasa naik gunung turun gunung lewat jalan tol n.. udah2, malah random commentku, wkwkwkw
    lanjutkan unnie!!!!
    fighitng!
    jempol jempol… 🙂

    • memang alurnya naik turun gak bisa ditebak sih 😛
      yg bagian ngisi bensin itu kalau km jd yuri pasti tegang sekali

      • rainyfansoshi said:

        hahaha.. aku pernah ngerasain lho unnie..
        waktu itu aku ga nyadar kalo ternyata aku ga bawa dompet!
        baru nyadar pas mas2 petugas lagi ngisi..
        padahal itu lagi antri panjang..
        kabur berbahaya,,
        nggak kabur memalukan..
        😀
        alhasil muka tembok yang aku pasang

  6. sunnyjiyeon said:

    yulsic,
    ksembuhan kln ad ditangan author..hehe
    crtany smkin mengharukan,kshn sica,pesimis mulu..T.T

  7. Hidup itu trdiri dr brbagai genree cerita, gk melulu soal prcintaan. Itu knp aku suka bgt cerita ini.

    Dalem, moral n emosi yg berusaha dsampaikan emg ngena. Plg ad bbrp kata kurang baku yg kliatannya g cocok aja dsini, sekedar komentar 🙂

    Enak banget menikmati prjalanan mereka yg mungkin keliatan datar2 aja, tp ad bbrp detail yg bkin ketagihan baca. Teruskan!

    • ahaha memang sengaja gak kubakuin biar gak terlalu kaku
      soalnya kalau kita ngomong sehari-hari jg gak baku bgt kan 😛

  8. omigod aku hampir nangis waktu baca mrk ngobrol soal tuhan.
    aplg pas d gereja..
    hiks kasihan.

  9. taetae_fun said:

    aku setuju ama marisa,genre ff ni beda dri yg lain,,,mslah khdupan yg ddrita yulsic bwat ff ni jdi gmana gtu..
    dan aku jdi tmbh suka bnget ma ff ni…
    doa yul buat aku jdi mewek T.T
    semoga doa yul trkabul di ff ni,,amin….

  10. taetae_fun said:

    aku setuju ama marisa,genre ff ni beda dri yg lain,,,mslah khdupan yg ddrita yulsic bwat ff ni jdi gmana gtu..
    dan aku jdi tmbh suka bnget ma ff ni…
    doa yul itu,buat aku jdi mewek T.T
    semoga doa yul trkabul di ff ni,,amin….

  11. hedeh aku jd sedih baca part2 akhir…

    kutunggu updatenya thor…

  12. YS_addict said:

    yaolo…berikan mukjizat biar yulsic sembuh,tolong baim yaolo XD
    makin seruuuu >__< Sica mulai terbuka nih ama yuri,biarpun ttp pasif sih -,- ini ff msh blm bisa ditebak endingnya gmn,tp aku harap happy ending ya ^^ good job

  13. Aigooo. . .
    Kasian banget YulSic*mewek

    Awas loh law sad ending thor~
    pokok’a harus Happy end. . .

  14. ryne#s0ne said:

    banyak pesan moral yang terkandung di ff ini,,#halah..!
    suka bgt sama kata2ny thor ^o^d

    sembuhkan yulsic thor, jgn bikin mreka meninggal#emang bisa*plak..!

    lanjuuut…

  15. kwon eya said:

    Yul, segitu dalamnyakah perasaanmu sama sica zampe rela nglakuin apapun demi dia? hmmm, mau dunk jadi sica…. plak!!!!
    lanjut thor! ceritanya menarik banget, bisa buat bahan pembelajaran. semoga nggak sad ending yah. kacian mereka….

  16. Huhu..
    Mengharukan ;-(

  17. susah ditebak nih bakal kaya gimna ending nya?
    Tp smoga aja yulsic happily ever after

  18. Semoga yulsic mendapat keajaiban
    dan penyakit yang dideritanya bisa disembuhkan
    Amiiinn
    Update soon author
    Hwaiting (ʃƪ´▽`)

  19. 'rusa' said:

    Sedih banget pas mereka mampir di gereja 😦
    Semoga tuhan ngabulin doa yulsic

  20. bloxtwins said:

    pray for yulsic..
    smoga yulsic mendapatkan apa yg d ingikan
    n g ada penyesalan or kesedihan d akhr hdupnya.Amiiiin~
    dtnggu lanjutannya 😀

  21. Bneran, ini makin menyedihkan.
    Alurnya trasa lamaaaaa sekali.
    Jd smakin menyedihkan.

  22. Kungttadadak said:

    Mengharukan,bangettt!!!!!
    Akhrinya jessica mulai terbuka sama Yuri,lucu dibagian Jessica jadi ngaca terus gara2 punya baju baru ahahahaha cute banget. Update soon,thor! Semoga Tuhan memberikan YulSic kesembuhan jadi mereka bisa bersama,Amin

  23. @kyungsee said:

    Tuhan sibuk 0_0 oh my sica~ kau terlihat seperti anak kecil yg polos dan menggemaskan. Tapi lumayan menyebalkan >_< bilang kek kalo bawa uang!! Tapi sama seperti yuri, aku gak bisa marah ke dia.

  24. ahh ada lapak baru 😀
    salam kenal author saya new reader.. baru aj nemu wp ini -,-”
    udah baca dari part awal tp maaf ya komennya disini hehe ^_^V

    ceritanya bagus..emosi, nilai kehidupan, kepedulian.. dll.. ngena banget..
    aku terharu bacanya..
    jempol buat author.. (^.^)b
    kosa kata bahasanya jg enak ko pake bahasa sehari hari jd ringan gt bacanya 🙂

    lanjutkan author..saya fans jd fans baru karyamu nih kekeke dan wp ini saya bookmark di lappy XD
    sebentar mau lanjut baca cerita yg lain dah..
    author HWAITING!!!!

  25. Karakter sica disini misterius bngt#nyanyi lagu beast – mystery
    tp q ska bngt krakternya n dtiap chap si sica udh sdkit kliatan sifat aslinya

    Oke dtnggu lnjtnya,mian bru komen ^^

  26. taengppany said:

    Tuhan semoga YulSic sembuh dari sakitnya dan mereka bisa bersama selamanya, amin

    Yuri kayanya emang di takdirin buat bukan jadi pencuri ya,gagal mulu oprasi pencuriannya 😀

  27. Taeny shipper said:

    Ini kapan selesainya…… Jessica ngga bersatu nih sama yuri……..

  28. Rasanya mw nangis baca ff ini 😦
    update soon buat authornya^^
    hwaiting 😀

  29. hiks..ga kbayang jk mereka meninggal nanti,,atau mgknkah author mau mmberi keajaiban n memberi mreka ksmpatan ke 2 untuk mnikmati hdup??
    moga end nya gak sdih
    cpt lnjt y thor…

  30. 1 kata buat athr
    W.O.W woow!!

  31. Thor..
    Karyamu sungguh” sngat indah d mtaku #sdikit lebay
    tp serius, bner” bz mnyentuh N bz bwt aku ad d dlam ksah it..
    Jgn stukan mreka d akhirat..
    Pplleeaassee bwt happy end..
    Kmu author fav ku..
    Tetap smangat mnciptakan karya yg menghanyutkanku(?) 😉

  32. Rosya_72 said:

    Cerita’a mengharukan skali author… ;-(
    kpn ne kelanjutan’a?? ga sabar deh,,

    “semoga AUTHOR memberikan kebahagian kepada mereka berdua.”
    Aamiiinn…

  33. siLent_Reader said:

    haduuhh udah mule sedih nih u.u

  34. ya Allah,kabulkan apapun doa mereka ㅠ_ㅠ

  35. clover said:

    makin lama makin sedih ceritanya 😦
    sembuhkan yulsic ya thor, gak tega kalo mereka jadi sakit-sakitan gini…

  36. Jantung aku aja hampir lepas dari t4nya apalagi jantungnya Yul :3
    Sica sica dari tadi kek ngomong klo punya uang #plakk~ ditabok Gorjess

    HUWAAA…. TTvTT
    Sumpah sedih banged ni part ;'(
    Terharu pas mereka Doa di Gereja. . .

    Smoga mereka bisa bahagia sblm ajalnya Amin

  37. kenapa jd menyedihkan? TT

  38. merinding pas baca waktu yul ke gereja
    dia bener bener serahkan dirinya sama Tuhan
    huah jadi terharu

  39. Aaargh seru banget nih cerita!! Dibikin buku aja,thor!! Hehe 😀 lanjut ah~ 😀

    • haha gak mgkin, soalnya ini sebagian ide ceritanya udh dr visual novel
      nanti dibilang plagiat
      tp endingnya sih itu aku murni bikin sendiri^^

  40. msih g ngeh sma jalN critanya hhehe

  41. Cerita nya sedih kenapa yulsic harus sakit bahkan ga bisa sembuh semoga doa mereka biar cepet sembuh terkabul yulsic sabar ya terus lah berdoa sampai keajaiban muncul menolong mereka berdua o:)

  42. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, merinding bacanya. Makin kesini kok makin sedih sih kak ceritanya ? 😦
    Mungkin nggak sih ini berakhir bahagia ???
    Sumpah, aku nggak terima kalok harus sad ending lagi…..
    Aku bakalan demo.
    Sedih kali ngebayangin YulSic unnie nyawanya diujung tanjuk. Seolah” aku bisa ngerasain sakitnya. Apalagi waktu Yuri unnie berdoa sambil menangis 😦
    Tuhan, sembuhkan dan bahagiakanlah mereka berdua. Amin..

    Kak Maifate, kalimat yang ini : “Ya, kalau ingin keajaiban menjadi kenyataan, aku harus mempercayainya.” benar” bisa dibuat sebagai salah satu penyemangat bagi kita semua. Kayak lagu yang bilang “Muzijat Itu Nyata”
    Uhhhhhh, selain sedih, ntah kenapa baca cerita ini, ada sedikit rasa syukur yang tiba” singgap di aku kak
    Wahhh, cerita kak Maifate walaupun banyak yang NC, tapi ada juga yang bisa buat perubahan nih 😀
    Semangat kak Authorrrr!!! 😀

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: