~Thank you for your comments~

Di bawah langit biru sebuah mobil sedan perak melaju membelah jalanan.
Hari ini juga kami melanjutkan perjalanan kami. Aku duduk di kursi pengemudi sedang Jessica tetap duduk di sebelahku. Aku tidak tahu dimana sekarang ini, tapi mulai muncul masalah baru. Bensinnya sudah mendekati garis E. Dari awal aku tidak membawa uang banyak, ditambah lagi sebagian sudah dihabiskan untuk membeli makanan. Aku tidak tahu butuh berapa banyak liter tapi sepertinya anggaran kami masih cukup untuk mengisinya sekali.
Memang kami masih tidak punya tujuan, tapi kalau kami sampai tidak bisa bergerak maka berakhirlah sudah.
“Aku mau isi bensin dulu,” kataku memberitahu lalu membelokkan setir menuju pom bensin di depan mata.
Aku meminta untuk diisi sampai penuh kepada petugasnya. Aku menunggu di dalam mobil sementara petugas itu mengurusnya. Bau bensin mulai memenuhi mobil. Meteran itu berjalan menunjukkan berapa liter bensin yang telah terisi ke dalam tangki.
Walau aku meminta untuk diisi sampai penuh tapi sebetulnya aku tidak memperhitungkannya sama sekali. Aku tidak tahu seberapa besar tangki mobil ini dan apakah jumlah uang yang kumiliki cukup atau tidak. Meteran itu masih tetap berjalan.
“………….”
Gimana jadinya kalau uangku nggak cukup?
Memikirkannya aku jadi semakin cemas. Tapi kemudian ketika meteran itu berhenti dan menunjukkan jumlah harga yang harus dibayar aku merasa lega. Setelah membayar dan menerima kembaliannya aku kembali melajukan mobil ke jalanan. Dengan begini masalah bensin sementara ini beres. Dan sekali lagi kami melanjutkan perjalanan kami.

……………………………………………
………………………………….

Kalau dihitung-hitung dengan jumlah uang yang tersisa, paling hanya cukup untuk makan tiga atau empat hari lagi.
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku nggak ngerti maksud pertanyaanmu.”
“Uang kita tinggal sedikit”
“Terus?”
“Terus? Kamu ini…”
Jessica tetap cuek seperti biasa. Dia sedang melanjutkan makannya.
Kalau terus berlanjut seperti ini, lama-lama bensinnya juga akan habis. Tampaknya akhir dari perjalanan kami sudah semakin jelas.
“………….”
Pada kenyataannya kalau seandainya kami tidak kabur mungkin akan lebih baik. Terus mendekam di rumah sakit atau di rumah, melalui hari-hari yang damai dengan perhatian dari orang-orang di sekitar. Tapi tidak melakukan apa-apa dan hanya berpasrah saja rasanya terlalu menyakitkan. Sambil berpikir begitu aku terus mengemudi.
“Yah, apa kamu mau ke taman bunga itu?”
“………….”
Tidak ada jawaban, karena itu aku sendiri yang menjawab, “Aku ingin kesana”
“Wae?” tanyanya.
“Karena…”
Dari awal ketika kami kabur kami sama sekali tidak punya tujuan. Karena itu mau ke barat mau ke timur atau kemanapun tidak masalah bagiku. Aku hanya menginginkan tempat tujuan.
______________________________________________________________________________________________________________________

Ketika hari berganti malam. Aku sampai di sebuah pasar malam. Aku sadar dengan uang sejumlah ini, kami tidak akan cukup untuk melanjutkan perjalanan. Karena itu di tengah keramaian seperti ini, aku rasa aku sanggup mencuri beberapa ribu won. Karena itu aku memarkir mobil dan kuutarakan rencanaku pada Jessica.
“Kamu mau ikut?”
“…aniyo”
“Oh, ya sudah”
Jawaban yang sudah kuduga. Dari awal aku sudah menduga kalau dia akan menolak. Memangnya siapa yang mau diajak mencuri? Kecuali kalau dia bukan orang baik-baik.
Lagian dengan mengajaknya seperti ini bukan berarti aku mau meminta bantuannya. Aku cuma mau memberitahunya, seperti deklarasi.
“Kalau begitu tunggu sebentar,” kataku sambil keluar dari mobil lalu aku berjalan ke tengah keramaian. Cukup jauh aku harus berjalan, karena tempat parkirnya cukup jauh. Aku harus menembus keramaian. Aku tidak suka ini karena rasanya membuat udara di sekelilingku tipis.
banyak sekali manusia yang menyesaki tempat seperti semut. Para pembeli saling bersenggolan dan berdesakan. Beberapa dari mereka ribut-ribut menawar harga. Suasananya benar-benar ramai. Saking ramainya sampai rasanya tempat ini terasa seperti pameran tahunan yang biasanya diadakan selama sebulan. Atau mungkin memang pameran tahunan? Aku tidak tahu yang jelas aku merasa ini adalah tempat yang tepat.
Aku tahu ini bukan perbuatan yang terpuji. Dan tidak seperti aku melakukannya karena mau.
“…………..” sekarang aku jadi mengerti perasaan seorang pencuri yang terpaksa mencuri.
Maafkan aku, bisikku dalam hati.
Setelah mengamat-ngamati keadaan sekitar. Aku menemukan sasaran yang cocok. Ada seorang Ibu-ibu setengah baya dengan tas tangan yang terbuka. Kelihatannya dia sedang melihat-lihat barang yang dipajangkan oleh pedagang. Asesori, baju, dan lain-lain, aku sama sekali tidak tertarik. Dari apa yang kulihat kelihatannya ia datang sendirian. Selain itu juga tidak ada satpam yang berjaga di dekat sini. Walaupun aku menyelipkan tanganku ke dalam tasnya, dia tidak akan sadar.
Aku berjalan ke belakangnya. Untuk menghindari kecurigaan aku berusaha tampil sewajar mungkin. Sewaktu aku melirik ke isi tas itu aku melihat sebuah HP yang kelihatannya cukup mahal dan dari sudut ini kelihatannya bisa kuambil dengan mudah.
Aku menelan ludah dengan gugup. Keringat dingin mulai membasahi tanganku. Aku memang pernah mencuri. Mencuri jambu dan mangga atau pulpen milik teman waktu aku masih kecil, tapi itu hanya sebatas kenakalan anak-anak saja. Aku tidak pernah mencuri barang seperti ponsel atau dompet milik seseorang.
Hati kecilku berteriak jangan dan hentikan.
Tapi… aku masih ingin melanjutkan perjalanan dengan Jessica…
Kalau berpikir bahwa mungkin dengan perjalanan ini akan bisa sedikit menyenangkan hati gadis itu…
Ah… betapa aku ingin melihatnya tersenyum padaku.
Dia memang tidak pernah tersenyum. Pasti wajahnya cantik sekali kalau tersenyum.
Aku menarik nafas panjang, menyiapkan hatiku.
Jadi pendosa pun tidak apa-apa, asalkan demi Jessica…
Aku sedikit menyamping untuk menyelipkan tangan kananku di bawah lengan kiriku. Dengan begitu tidak akan begitu kentara. Dan dengan hati-hati tangan kananku masuk ke dalam tas.
Sedikit lagi…
Aku memicingkan mataku, menatap sasaran.
Aku berhasil menyentuh benda itu dan menariknya keluar. Tapi di saat benda itu sudah berhasil kukeluarkan dari tas, mungkin karena tanganku berkeringat atau karena sedikit terburu-buru, ponsel itu terjatuh dan menimbulkan bunyi.
TRAK
Saat itu Ibu itu berpaling kepadaku dan mungkin dia tidak sadar. Begitu juga dengan orang-orang di sekelilingku mungkin tidak sadar akan apa yang baru saja kuperbuat. Tapi aku sudah sangat ketakutan, sehingga aku langsung mengambil langkah seribu.
Saat berlari aku tidak mendengar Ibu itu atau ada seseorang yang meneriakiku. Tapi aku terus berlari meski sesekali aku menabrak orang-orang yang berada di depanku. Terdengar umpatan dan sumpah serapah dari orang-orang yang kusenggol bahunya. Aku terus berlari menerobos kerumunan. Yang kupikirkan saat itu hanyalah kabur secepat mungkin dari sini. Aku tidak mau tertangkap, kalau sampai terjadi perjalananku akan berakhir. Dan mungkin Jessica akan tertinggal sendirian, dengan masih menungguku di mobil.
Akhirnya mobilku terlihat, aku segera naik. Menyalakan mesin dengan terburu-buru dan menginjak gas. Membalikkan setir dan mengeluarkan mobil dari tempat parkir. Saat itu…
Terdengar suara keras mobil yang terbentur.
“Kyaaa!” Jessica menjerit kecil.
“Ukh!” aku menggigit bibir.
Mungkin karena aku terburu-buru, bagian belakang mobil menabrak pembatas jalan.
Tapi bukan waktunya untuk mengkhawatirkan itu! Aku segera melajukan mobil ke jalan.

Kira-kira sepuluh menit kemudian.
“Haah…haahhh…fiuh”
Aku menebah dadaku sebentar. Nafasku masih sedikit memburu. Rasanya jantungku mau copot.
Mobil kami sudah berada cukup jauh dari pasar malam itu. Aku menghentikan mobilku di tepi jalan.
“Hahh…hahh…” kupejamkan mataku, mengatur nafasku.
“Kamu nggak apa-apa?” sebuah suara yang lembut tapi menyiratkan sedikit kekhawatiran menyapaku.
“Ah iya nggak apa-apa kok, bentar lagi juga kembali”
Kemudian aku menjelaskan, “Aku gagal…” kataku singkat.
“Begitu… aku memang sudah menduganya”
“Kenapa?”
“Soalnya wajahmu nggak cocok untuk jadi pencuri,” entah Jessica mengatakannya serius atau bercanda, aku tidak tahu karena ekspresinya tetap datar.
“Ahaha,” aku tertawa garing atas komentarnya. Lalu aku turun untuk memeriksa bagian yang terbentur.
“Gimana?” Jessica bertanya dari kursi penumpang.
“Ah tenang saja, nggak parah”
Bumper belakang sedikit penyok dan ujung knalpotnya sedikit retka. Tapi itu bukan kerusakan yang berarti.
Kemudian aku kembali masuk ke dalam mobil. Sambil menyandarkan punggungku di kursi, aku menghembuskan nafas lega. Tak urung aku kembali mengingat kejadian yang barusan kualami.
Benar-benar nyaris. Aku gagal, padahal tinggal sedikit lagi. Tapi aku bersyukur karena Ibu itu tidak cepat sadar. Kalau sampai tertangkap, aku tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi…
Lalu aku sadar bahwa tubuhku yang sekarang sudah tidak sama lagi dengan yang dulu. Aku menyadarinya pada saat berlari tadi, aku merasa lebih cepat lelah, padahal kalau aku yang dulu aku tidak akan capek hanya dengan berlari jarak segini.
Mengingat hati kecilku yang menentangku. Sepertinya aku nggak akan bisa mencuri. Mungkin sebaiknya aku menyerah saja.

Jessica’s POV

Pernahkah kamu berpikir…
Jika tidak ada hari esok untukmu?
Dan apabila hal itu benar-benar terjadi padamu, apa yang akan kau lakukan?

Biasanya aku akan menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku atau novel. Aku juga suka melihat-lihat peta kota. Dan biasanya aku akan membaca mereka berulang-ulang hingga aku hafal nama-nama dan jalan diluar otak.
Tapi tidak peduli seberapa banyak pengetahuan yang kumiliki. Aku tidak bisa pergi keluar sana, ke tempat-tempat baru. Rasanya… pengetahuanku jadi tidak ada artinya…
Aku hanya bisa melakukannya jika aku menutup mata. Tapi walaupun aku menutup mata, dunia ini masih tetap berputar.
Seiring berlalunya waktu… kenyataan dan hatiku menjadi semakin rapuh.
Aku punya uang, aku punya pengetahuan, tapi aku tidak punya masa depan. Aku hanya bisa menatap dunia luar melalui jendela yang terbuka beberapa senti. Kalau kujulurkan tanganku untuk menyentuhnya, aku hanya bisa merasakan betapa dinginnya sentuhan kaca yang membawaku kembali ke realita.
Tapi… kenapa selalu aku berandai…
Andaikan semua ini hanya mimpi
Andaikan semua ini tidak pernah terjadi dan aku bisa sekolah seperti anak-anak yang lain
Atau mungkin berpacaran seperti tokoh-tokoh dalam novel yang kubaca
Cinta…seperti apa rasanya?
Aku tidak pernah mengerti, kenapa para tokoh-tokoh dalam novel itu rela berkorban meski mereka tahu hasil pengorbanannya akan membuat sakit hati diri mereka sendiri? Meskipun perasaan mereka tidak terbalas…
Lalu kemudian aku membuat suatu teori, bahwa cinta dapat membuat manusia melakukan apapun demi orang yang dicintainya.
Kedengarannya keren… akankah suatu saat ada orang yang akan melakukan semua itu untukku?

Sekali lagi aku tersadar dari khayalanku. Hanya menghabiskan waktu di rumah sakit atau dalam gelapnya tidur. Hanya bisa memilih antara lantai tujuh atau rumah. Rasanya menyedihkan…
“Sekali saja…biarkan aku melakukan apa yang kusuka…”
Kupikir hatiku sekarang sudah tidak lagi merasakan sakit, tapi saat aku mengucapkan kalimat itu… hatiku terasa sakit…
______________________________________________________________________________________________________________________

Yuri’s POV

Seperti waktu itu, punggungnya membelakangiku. Dengan kaki telanjang ia berjalan menuju pantai.
“Selamat tinggal Yuri…”
DEG
Ombak terus menerpa kakinya tapi tidak menghentikan langkahnya. Seolah tekadnya sudah bulat. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tapi aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Hanya terpaku di tempat, mengawasi punggungnya yang semakin menjauh. Dadaku terasa tertekan oleh rasa sakit yang amat sangat.
“!!” meskipun aku membuka mulut, tidak ada satu kata pun yang keluar. Seolah mendadak aku kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Akhirnya aku hanya bisa berusaha menggapai-gapai udara dengan sia-sia. Berharap agar Jessica menghentikan langkahnya. Tapi sudah terlambat… separuh tubuhnya sudah terendam air. Dan tidak lama lagi tubuhnya akan hanyut terbawa ombak.

“Hah…! Hah…!” aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal.
“Kamu nggak apa-apa? wajahmu pucat,” bola matanya yang bulat menatapku dengan seksama.
Jessica masih berada disisiku. Ya, ia belum pergi.
Oh
Lalu aku sadar. Tadinya aku hanya bermaksud untuk istirahat selama setengah jam tapi tampaknya aku malah ketiduran.
“Penyakitmu kambuh?”
“Ah nggak, aku cuma sedikit capek,” aku meraba keningku.
Mimpi buruk. Mimpi itu mengingatkanku pada kejadian beberapa waktu yang lalu. Waktu itu juga Jessica berjalan ke pantai seperti dalam mimpiku. Sepertinya ia hendak bunuh diri, tapi untung ia masih belum melakukannya. Saat itu, aku tidak mengatakan apa-apa atau mencegahnya, tapi sebenarnya hatiku sakit.
Diluar langit sudah berwarna oranye. Kemudian aku teringat.
Apa yang harus kita lakukan? Keuangan kita semakin ketat.
“Hei, kamu…”
Saat aku berpikir begitu, aku terkejut tiba-tiba Jessica berkata kepadaku.
“Apa kamu diperbolehkan mandi?”
“Ah, boleh asalkan tidak lama”
“Begitu… berarti sama denganku.”
Maksud Jessica adalah apa dokter melarangku mandi atau tidak. Khususnya pada penderita penyakit ginjal dan saluran pencernaan yang tubuhnya dipasangi tabung. Penderita dilarang mandi.
“Kamu mau mandi?”
“…memangnya nggak boleh?”
“Bukan itu maksudku, aku juga mau mandi”
Sebagai seorang yeoja, kalau lama nggak mandi rasanya kotor dan jijik.
Tapi karena masalah keuangan, kami tidak mungkin bisa mandi di hotel.
“Kalau begitu kita mandi di pemandian umum?”
“Pemandian umum?”
“Ah, tapi uang kita…”
“………….setelah dipikir-pikir nggak jadi saja”
“Apa? Kamu benar yakin?”
Sejak hari kita meninggalkan lantai 7, sudah berlalu tiga hari. Di rumah sakit seminggu kami mandi dua kali. Dan biasanya kami hanya mengelap tubuh dengan handuk basah yang telah disediakan.
Karena cuacanya tidak panas dan kami menghabiskan sebagian besar waktu di dalam mobil, kami hampir tidak kotor, tapi…
“Atau kamu malu mandi di pemandian umum?”
“………….aniyo, bukan begitu maksudku…”

Akhirnya langit mulai gelap. Bulan mulai menampakkan dirinya di langit.
Setelah mengemudi beberapa waktu, aku menemukan sebuah taman. Disini mungkin ada, pikirku. Aku menghentikan mobil di sisi jalan dekat pintu masuk taman.
Lalu aku mulai mengaduk-aduk tumpukan laundry di kursi belakang. Aku yakin ada dua atau tiga handuk yang kuambil. Kusingkirkan baju-baju yang tidak ada hubungannya sampai aku menemukannya.
“Tunggu sebentar”
“…?”
Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju ke taman. Untunglah ada beberapa lampu yang menerangi, jadi tidak terlalu gelap. Dan tidak lama aku menemukan apa yang kucari. Sebuah kran air. Saat aku memutarnya, air mengalir dengan sangat deras. Airnya terasa sangat dingin.
“Wah!”
Aku memutarnya sedikit untuk mengecilkan aliran airnya. Lalu aku membasahi handuk di kedua tanganku dan memerasnya. Kemudian mematikan airnya dan berjalan kembali ke mobil.
“Nih,” aku memberikan salah satu handuk padanya.
Kemudian melepaskan baju yang kupakai. “Hmm,” lalu aku juga melepaskan bra yang kupakai.
Lagipula diluar gelap dan sepi jadi tidak ada yang bakal melihat. Di dalam mobil yang hangat, handuk lembab itu terasa nyaman di kulit.
Kulihat Jessica juga melepaskan baju dan branya, meski dia terlihat sedikit enggan memperlihatkan tubuhnya. Tanpa kusadari aku malah jadi memandanginya yang sedang membersihkan tubuhnya.
“Apa liat-liat”
“Ah,” aku segera memalingkan tatapanku kembali ke depan dan melanjutkan mengelap tubuhku.
Sesaat tadi Jessica terlihat imut, jadi aku memandangnya.
Bekas luka operasi di dadanya, kelihatan sekali kalau Jessica tidak menyukainya. Aku memang tidak tahu tapi bekas lukanya lebih besar dari punyaku. Aku jadi ingin memeluknya, sekedar untuk menghiburnya. Aku merasakan pipiku memanas. Lalu aku meliriknya sekali lagi.
…aku
Meski belum ada sebulan sejak aku mengenalnya, tapi aku merasakan sebuah ikatan dengannya.
Aneh. Barangkali karena kami senasib.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 4)" (51)

  1. sunnyjiyeon said:

    smkin mnrik thor..
    jd gk sabar nggu part brktnya..hehe,
    cocok bgt outhor slalu update pas tengah mlm,jdny crtany kebawa mimpi..hahaha

  2. Waah yuri mau nyuri, yuri ngliat dada sica?? Mau jg donk liat#plakk
    Lanjut thor 😀

  3. so sweet, mandi bareng dalem mobil (?)

    😀 Yulsic romantisnyaa hehehe

    yak bentar kagi yulsic bakal bersatu

  4. ya ampun yuri sampe rela mw jadi pencuri sgala demi sica?
    ckckck
    udh gtu sica ny cm diem g usaha apa gtu?
    wah parah,kabur berdua tp yg ribet cm yuri.
    mentang2 image yuri seobang,jd dia yg mesti susah.
    udh gtu yuri cm ngintip dikit aj sica udh ngomel2 kyk gtu.
    galak amat.

    kok blm ada cinta2anny sih thor?

  5. Trharu bnget wktu yul nekat mw nyuri dmi sica 😥
    smoga mrka cpet brsatu.. 🙂

    lnjuut
    fighting!! 😉

  6. like this chapter as well

    bahasanya oke betewe, ini cimon ada ubah-ubah sedikit atau emang bener adaptasi dari novel yang bersangkutan?

    asik deh buruan di lanjut.

    • ada yg diubah, ada scene yg ditambah, kata2 yg diganti dan dikurangi, tp lbh dr 50 persen sama.
      sebenarnya sih kubuat jd lbh romantis jg 😛
      dan kalau soal ending sangat berbeda…

  7. yayaya gemercik air cinta akan membasahi yulsic hahahah
    author satu ini,,sekali jalan 1,2 ff terlampaui [?]

  8. @kyungsee said:

    aku jg pengen meluk sica T.T huhuuu. Pengen deh liat mereka mandi bareng ._. aaahh *pipi merah* kyaaaa >.< AKU TERGODA!

  9. ff nya keren 😀
    Yuri kayaknya udah mulai ada rasa nih sama Sica..
    kekekkk
    Lanjut thor!

  10. phe pie said:

    YulSic meski blum mesra tapi sudah ada tanda2 chemistrynya nih. ^^
    Itu pasti critanya Sica orang kaya ya thor? Kan katanya; “Aku punya uang, ………..”
    Apalahi kayaknya disini Sica juga manja ya, jangan2 tar tiba2 pas mrka khabisan uang dia ngluarin karu kredit/debit lagi thor (Hanya khayalan aja^^), klo bnar gitu c sia2 dong kenekatan Yuri slama ini. ^^

  11. aq sangat terharu wktu yul jd pencuri rela nyuri demi sica
    tp knp jessica dingin aja ma yul ya,,,di tunggu part slanjutnya thor.smangat

  12. JihanEunKi said:

    Kya, Sica knpa kau mrah” sama yuri, pipinya yul jdi memanaskan, akhirny prasaan itu akan sgera mncul^^

  13. Trasa nyata klo bca ff yulsic 😡
    Mrka bgitu cocok :-p

    “yul knp gx lgsng peluk ajh tu sica,
    sica jg mw tu 😀 he..

    Lnjut thor ,, fighting !!!

  14. Viny_215 said:

    Lama lama jd suka Yulsic nih selain taeny. .romantis tp sica.a msh agak cuek , ,
    kelanjutan.a hrus lbh romantis ya thor ^^
    ditunggu 😀

  15. 'rusa' said:

    Cieee… Itu pasti ikatan cinta,yul~ 🙂

  16. Ah~
    YulSic cepatlah kalian bersatu :3
    Sica diem mulu :p jangan2 sariawan dia ! *eh
    Update soon thor :p

  17. DAEBAKKK^^
    Kid seneng bgt deh, soal’a apdet’a cepet banget!!!*jingkrak2

    oh ya, Salam kenal. . . .
    Kid reader baru nie~
    Jd Mian yah Author law gak komen di setiap ff. . . =3

    & bisa minta pw ff yg di protect gak??
    Kirim ke fb kid yah. . .
    @Kid-chan SungHyun UchiMaki Zaoldyeck

    Gomawo sebelum’a (^0~)>

  18. yulsictaenyjjang said:

    penasaran nih mah ni crita,,,,
    d tggu klanjutanya thor,,,,

  19. taeny927 said:

    “Apa liat-liat?” Hahaha Jessica Jessica. FFnya semakin seru thor, gomawo ya karena updatenya sungguh sangat cepat! Kalau boleh tahu, apa autho ga pegel ngetik? Hohoho sekali lagi gomawo 😀

  20. taetae_fun said:

    smakin sru kan……

    Bner tu kta sica,mkannya yuri cntik amat,mna cocok jdi pncuri…
    ksian bnget sica,ngbsin wktu dngen bca novel ama liat peta,,pntes sica pda twu jalan ya…

    cpet lnjutkan thor…

  21. huaaaa.. terbawa suasana…., okeh banget penggambarannya jadi bisa baca terus ngebayanginnya… 🙂 good job thor

  22. Kungttadadak said:

    Lucu pas Jessica bilang “apa liat-liat” ngebayangin ekspresi dia yang datar sambil ngomong kayak gitu, haha. Wah… Fanficnya semakin lama semakin menarik, daebakkkk!

  23. YS_addict said:

    jessica jutek bgt pas yuri liat2 dia lg ngelap dada..lol
    ayolaaah kapan muncul cinta antara mereka hahahha

  24. Rosya72 said:

    Cerita’a menarik author,,
    aq suka cerita’a. Di tunggu chapter selanjut’a dan cerita2 yg lain lg ya author… 🙂

  25. Yuri mulai ada rasa rasa nih sama Sica sampai terpaku liat Sica nglap dada #ya ia lah
    aku jg kalau jadi Yuri bakal melototin Sica haha

    di tunggu ya chapter selanjutnya

  26. Imyoonga said:

    Aku sukaaaaaaaaaaaa banget sma karakter Sica disini
    🙂
    Bawaannya tenang!

  27. Ceritanya yahutt thor ^__________^

    Wkwkwkwk :DD
    LANJUT ~~

  28. Locksmith's said:

    wah…
    Ksian yul jd pncuri,, tp demi sica..hahaha, rela brkorban dia. YulSic jjang!. update trus y, thor^^. smangat! 😀

  29. OMO?? ganti pakaian bersama??#Melamun . .
    Eeh Yul melirik melihat Tubuh sica??wa…..

    Benih2 cinta bermekaran tuh . .Amin…

    segera di lanjut thor. . .
    Yuk Dunk!!!

  30. Taeny shipper said:

    Haduh itu yuri main liat2 aja…..dasar byun…!!

    Kapan nih yulsic bersatu kayanya masih lama deh……

  31. wah wah yuri udah mulai curi2 pandang…. wkwkwkwkwk…

    kutunggu next chapter thor. semangat…!!!

  32. rainyfansoshi said:

    wuuhh… keren!
    emang bener kata unnie, yuri semakin nekat!
    ga hanya udah mulai nekat mencuri, tapi juga nekat ngeliatin jessica ganti 😛
    wkwkwkw….
    dan ceritanya semakin menarik aja!
    hmm.. kenapa jessica belum sadar, kalo dia bisa jadi kaya’ di novel2 percintaan yang dia baca. seseorang bakalan berani berkorban atau rela ngelakuin apapun demi seseorang yang dicintainya.. nah, yuri itu udah sedikit ngebuktiin, walaupun dengan cara yang ga lazim, hehehe.
    semangat terus lanjutkan unnie!!
    fighitng!!!

  33. bloxtwins said:

    itu namanya ikatan cinta,yuri…
    hho~
    lanjut ahh..

  34. siLent_Reader said:

    ” Jadi pendosa pun tidak apa-apa, asalkan demi Jessica ”
    AAAAAAAAAAAAAAAAA YURI !!!! I LOVE YOU :*:*:*:*

    sicaaaa beruntung banget sih loooooo >//<

  35. huaaaa kenapa kenapa kenapa aku telat bacanya #hebohndiri #plak abaikan…makin cinta ma karakter yul disini,sica juga,authornya juga (?) haha…

  36. clover said:

    wah… yuri nakal nih sica lagi ganti baju malah diliatin *byun mode on*
    udah mulai ada rasa suka nih…
    mereka jadi kan tuh ke taman bunganya??

  37. ByunYul kumat :3 wkwkwk…

  38. wah, yuri udh ngerasain resuatu k jessica nih. Tp sayang sekali tidak untuk sebaliknya

  39. wew di peluk hihihihi
    wah ikatan batin tuh si yul sama sica
    asik mulai jatuh cinta kah?
    amin deh hehehe

  40. yul liat2 punya jessica, romantis banget !!! yulnya keren, hehehe 😀

  41. Taeng!! Tuh dapet temen namanya yuri!! Hahaha 😀 ciekan taeng dpt temen sesama byuntae~ ._.V lanjut ah~

  42. YulSic kaya bolang = bocah ilang :v wkwkwk

  43. Aissshhh, sedihnya cerita ini
    Suka bingit waktu Yuri unnie bilang : “Ah… betapa aku ingin melihatnya tersenyum padaku.” Ahhhh, tulusnya, padahal baru kenal
    Terus sedih juga waktu Jessica unnie bilang : “Aku punya uang, aku punya pengetahuan, tapi aku tidak punya masa depan”
    Huaaaaaaa

    Kalok aku jadi Jessica unnie, pasti sedih nian. Sayang, padahal kayaknya di cerita ini Sica unnie kaya dan pintar. Tapi karna penyakitnya…….. 😥
    Huaaaaaa hiks hiks hiks 😥

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: