~Thank you for your comments~

Perlahan aku mulai terbiasa mengendarai mobil ini. Sekarang aku mengerti kenapa Appa bangga dengan mobil ini. Alasannya sederhana yaitu karena ini mobil impor, setirnya di sebelah kanan. Yang membuatnya berbeda dengan mobil korea pada umumnya.
Langit perlahan-lahan berubah warna menjadi oranye. Kami masih melanjutkan mengemudi hingga sampai di tempat yang tidak kukenal.
“Aku berhenti sebentar”
“Oke”
Aku menghentikan mobil di sisi jalan yang kelihatannya tidak ramai. Aku mengecek apa yang ada dalam dashboard. Kami pergi terlalu buru-buru hingga sepertinya persiapannya kurang matang.
Di dalamnya hanya ada beberapa uang dari kembalian. Dan ada sebuah kamera langsung jadi. Kami bahkan tidak punya HP, wajar karena di dalam rumah sakit tidak diperbolehkan memakai HP. Bahkan mobil ini tidak memiliki sistem navigasi.
Dengan uang yang kumiliki saat ini, mungkin kami bahkan tidak bisa menyewa tempat menginap yang nyaman. Dan aku ragu Jessica bawa uang. Aku mengajaknya pergi sangat mendadak. Aku bisa merasakan bahwa tidak lama lagi kita akan mendapat masalah.
“Ada apa?”
“Ah aniyo”
Apa boleh buat. Harusnya aku tahu kalau akan jadi seperti ini. Dari awal kita nggak ada rencana apa-apa. Aku hanya mendapat dorongan hati saat melihat kunci mobil. Lagian melihat wajah Jessica yang sedih membuatku ingin melakukan sesuatu untuknya, aku tidak ingin diam saja.
Lalu aku kembali menjalankan mobil.
“Ngomong-ngomong kamu laper nggak?”
“Nggak”
“Yah jangan begitu, tadi kita belum makan siang kan. Gimana kalau kita beli makan?”
“Nggak mau”
“Ayolah, setidaknya makanannya pasti lebih enak daripada di lantai 7”
“……………..”
Jessica terdiam, wajahnya tertunduk. Ketika aku mengikuti arah tatapannya, mataku terbentur pada piyama pink yang dikenakannya.
“Ah benar juga”
Aku melihat ke baju yang kukenakan. Dengan piyama seperti ini kemanapun kita pergi kita pasti akan sangat mencolok.
Kami sama sekali tidak punya baju ganti. Untuk sekarang, sepertinya kami harus mengatasi masalah baju ini dulu.
Setelah membuat keputusan, aku membanting setir menuju pusat kota. Setelah mengemudi beberapa saat sampailah kita di jalan yang tidak kukenal namanya. Aku menebak sepertinya kami tidak jauh dari stasiun karena jalannya cukup ramai.
Kalau di tempat ramai seperti ini pasti ada kan…
Sambil mengemudi aku mencondongkan badanku ke depan dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling.
“Ah ketemu”
Aku menemukan toko kecil yang menyediakan jasa laundry di sudut jalan. Kelihatannya cukup kumuh juga. Pas sekali.
Aku memarkir mobilku tidak jauh dari pintu masuk.
“Baiklah, tunggu sebentar”
“…?”
Aku meninggalkan Jessica dengan tatapan masih bertanya-tanya di mobil. Kemudian berjalan masuk ke dalam.
Ketika sudah di dalam hidungku langsung menangkap bau pemutih dan deterjen. Di dalamnya hanya ada mesin cuci dan alat pengering seadanya.
“Mumpung nggak ada siapa-siapa..” kataku bergumam pada diriku sendiri.
Aku mendekati salah satu mesin yang masih berjalan dan mengecek timernya.
“……………..”
Kelihatannya waktunya di set selama tiga puluh menit dan baru lima menit berjalan. Menurut dugaanku, orang yang mencucinya pasti meninggalkannya sementara sampai waktunya habis.
Kemudian aku memastikan lagi tidak ada siapa-siapa disana. Lalu membuka mesin itu, secara otomatis mesin itu berhenti sendiri.
Kucuekin hembusan panas dan udara lembab dari mesin itu dan kukeluarkan sejumlah pakaian setengah kering dari dalam sana. Dan langsung membawanya seperti itu. Aku melirik sekilas sekali lagi sebelum keluar dari toko itu.
“Ah…”
Melihat tumpukan pakaian di kedua tanganku, dia terlihat sedikit kaget.
Tapi aku tetap cuek dan melemparnya ke kursi belakang.
“Nah, jalan”
Kemudian aku menghidupkan mesin dan mulai mengendarai mobil menjauh.
……………………….
Dengan satu tangan memegang setir, aku melihat sekilas melalui kaca spion tumpukan baju di kursi belakang.
Ada beberapa t-shirt casual dan celana jeans. Saat kupegang tadi masih cukup basah, tapi tidak masalah, kalau dibiarkan saja nanti juga pasti kering, ini kan di dalam mobil.
……………………………………………….
……………………………………..
Matahari telah tenggelam sepenuhnya dan pemandangan di luar jendela gelap gulita.
Aku menepikan mobil di sebuah taman yang kosong. Tampaknya ini adalah taman untuk kanak-kanak.
Kemudian aku berpaling pada Jessica.
“Gantilah, pilih yang mana saja yang kamu suka”
“…………….”
Jessica tidak menjawab. Matanya hanya terpaku pada tumpukan laundry.
“Memang apa lagi yang bisa kita lakukan?” kataku dengan suara yang tidak terlalu lembut.
“…aku tahu”
Bahkan aku sendiri sebenarnya nggak suka ini.
Tapi dengan jumlah uang yang kita miliki sekarang, kalau membeli baju baru akan membuat anggaran kita terjepit.
Aku mulai mengaduk-aduk tumpukan baju yang kucuri tadi. Laundry-laundry itu sudah tidak basah lagi.
Aku mengambil sepasang baju dan celana jeans. Sambil masih tetap duduk di bangku pengemudi aku mulai berganti.
“Ada apa? Kamu juga gantilah”
“……bajunya agak… kebesaran”
“Memangnya kamu mau pakai piyama terus?”
“Baiklah…”
Aku sudah selesai melepas piyamaku ketika aku menatap Jessica yang sedari tadi masih mematung.
“Nggak usah malu, kita sama-sama yeoja,” aku berkata sambil memasukkan kepalaku melewati bagian kerah baju.
“Aku nggak malu,” lalu dengan gerakan pelan Jessica mulai melepas kancing piyamanya.
Dan aku melihat bekas luka yang sangat besar di dadanya.
Menyadari aku menatap lukanya, ia membuka mulut, “Jelek ya…”
“Punyaku lebih jelek,” kataku spontan, entah hanya sebagai kata untuk menghiburnya atau bukan.
“……………..”
Aku mengangkat sedikit tubuh bagian bawahku untuk menaikkan celana. Lalu mengancing dan menaikkan risletingnya. Rasanya agak longgar dan modelnya memang kecowokan. Tapi lebih baik dari pada tidak.
Aku melihat ke arahnya yang baru saja selesai berganti juga.
“Lebih baik pakai piyama,” katanya.
“Jangan bilang begitu”
Kelihatannya dia tidak puas.
“Kamu pingin baju yang lebih feminin?”
“Aniyo,” jawabnya seperti biasa.
Kemudian parasnya kembali tanpa emosi seperti biasa.
Tatapannya tertuju pada piyama pink di pangkuannya.
Mungkinkah karena dia lebih suka warna pink?

“Ah ya sudah, yuk kita makan?”
Kami pergi membeli nasi dan lauk seadanya, yang tidak mahal. Dengan masing-masing sekaleng pocari sweat. Kami menghabiskan makanan kami dalam kebisuan di dalam mobil.
Makanannya cukup enak dibanding makanan di rumah sakit seperti kataku. Tiba-tiba terdengar rintik-rintik dan tidak lama kemudian hujan deras. Untuk sejenak kesunyian merebak dalam hantaman hujan yang turun deras.
Di sisi jalan terlihat sekumpulan bunga putih.
“Yah, bunga-bunga itu seperti yang ada di rumah sakit ya”
“…ne”
Mendadak aku jadi tertarik untuk melanjutkan percakapan ini.
“Apa kamu tahu tempat bunga-bunga itu bermekaran?”
“Mereka ada dimana-mana, tapi ada satu tempat dimana bunga-bunga itu banyak bermekaran”
“Kita kan nggak punya tujuan, bagaimana kalau kita kesana?”
“Tapi tempat itu sangat jauh… bisa beratus-ratus kilometer dari sini”
Patah semangatku mendengarnya. Keuangan kita tidak mungkin mencukupi.
“Kayaknya nggak mungkin…”
“Siapa yang bilang aku mau pergi”
“Eh?”
“Kamu tanya, jadinya kujawab itu saja”
Dengan jawaban itu sekali lagi Jessica memandang ke bunga-bunga itu dari kaca jendela yang berembun. Selesai makan kubereskan sisa-sisa makanku dan aku menyadari bahwa Jessica masih tetap melihat ke arah bunga itu dan tidak menyentuh makanannya.
“Yah, kamu harus makan, kalau nggak tubuhmu akan melemah”
“…………….”
“Sica”
Akhirnya ia menggerakkan sendok plastiknya dan memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
“Kamu nggak suka ya?”
Jessica mengangguk.
“Apa boleh buat, bersabarlah selama perjalanan ini”
Jessica terus makan tanpa berkata apa-apa. Aku menungguinya sampai ia selesai makan lalu membantu membereskannya. Kemudian setelah itu aku menurunkan kursi sandaranku sampai paling pol. Sudah malam jadi sebaiknya tidur.
Jessica tidak protes dan ikut menurunkan sandaran kursinya. Tampaknya ia mengerti kalau kami harus menginap di mobil demi menghemat anggaran.
Aku menyamankan diriku di sandaran kursi lalu menoleh sekilas ke arah Jessica. Aku melihatnya sedang membenarkan posisi tidurnya lalu memejamkan matanya. Saat memejamkan mataku aku teringat seluruh kejadian hari ini.
Dimulai dari pelarian kami yang diam-diam. Semuanya.
Appa… apa dia tahu kalau aku melarikan mobilnya?
Aku sama Jessica… akan jadi apa perjalanan ini…
Mengingat kami sama sekali tidak punya tujuan.
Sebuah tangan memegang tanganku. Aku terkejut dan menolej pada Jessica. Dia menatapku dengan datar dan berkata.
“Kalau saling berpegangan tangan, rasa kekhawatiran kita akan berkurang. Itu yang kamu lakukan tadi siang kan?”
Jessica… yang normalnya cuek, sepertinya ia bisa membaca kekhawatiranku.
Dari genggaman tangannya yang hangat aku menemukan ketenangan atas jiwaku yang resah.
“Ya, kamu benar”
Perjalanan kami baru dimulai. Aku harus optimis.
Aku menyelipkan jari-jariku di sela-sela jarinya. Jessica memalingkan wajahnya tapi ia tidak melepaskan tanganku. Aku tersenyum kecil.
“Hehe kamu tahu? kalau kita tidur sambil berpegangan tangan seperti ini kita bisa mendapat mimpi yang sama”
“…oh ya?”
“Kita buktikan saja malam ini,” aku tersenyum puas dan berharap akan mendapat mimpi indah malam ini.
______________________________________________________________________________________________________________________

Jessica’s POV

Hari itu dalam mobil yang sedikit berguncang. Aku menatap sekilas ke arah yeoja yang masih mengemudi di sebelahku. Kelopak mataku terasa berat. Akhirnya aku memejamkan mata.
Ya benar. Jika aku memejamkan mata seperti ini aku bisa pergi kemana-mana. Serasa dunia dalam jangkauanku…
Lalu aku membayangkan sedang berlari-larian di sepanjang pantai di bawah langit biru yang cerah.

Ketika aku sedang berada di ambang lamunanku, aku mendengar suaranya yang menyarankan supaya aku menurunkan sandaran kursiku.
Aku nggak mau tidur… sedangkan kamu capek-capek mengemudi.

Yuri’s POV

Di luar, dibawah pancaran sinar matahari bulan Januari yang terik. Seperti biasa kami melanjutkan perjalanan tanpa tujuan. Aku melirik sekilas ke arah gadis yang duduk di sampingku. Ia sedang memejamkan mata, tapi kelihatannya ia tidak sedang tertidur.
“Kalau mau tidur kamu bisa turunkan sandaran kursimu”
“……………” tapi gadis itu tidak menjawab.
Aku memikirkan tentang percakapan kami semalam. Pada akhirnya kami masih belum punya tujuan.
Dan meski semalam aku tidak mendapat mimpi tapi aku merasa bisa tertidur nyenyak.
“……………”
Untuk menghilangkan kejenuhan aku memutuskan untuk membuka percakapan.
“Tahu nggak, walaupun nggak punya tujuan tapi aku senang, karena mengendarai mobil seperti ini adalah keinginanku.”
“Keinginan?” aku berhasil menarik perhatiannya. Sepertinya memang dia tidak tidur.
“Ya, hal-hal yang ingin kulakukan sebelum meninggal, memangnya kamu nggak punya?”
“…………….”
Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan percakapan, tapi karena Jessica tidak berkata apa-apa mungkin lebih baik aku diam.

Jessica’s POV

Keinginan…
Sudah tentu aku punya tapi sudah lama pula aku membuang semua keinginan itu karena kutahu itu hal yang mustahil.
Namun ada satu hal yang kuinginkan. Setidaknya yang satu ini saja.

Yuri’s POV

Sebelum kusadari aku sudah sampai ke jalan yang tidak kukenal. Nama-nama dan tempat yang tidak kukenal. Aku menyipitkan mata, berusaha melihat-lihat papan-papan penunjuk jalan. Ketika melihat aku kebingungan. Jessica menunjukkan jalan padaku. Aku terkejut, dia sepertinya tahu banyak. Padahal kelihatannya dia bukan tipe yang sering bepergian.

______________________________________________________________________________________________________________________

Sebuah pantai yang tidak kukenal. Entah bagaimana aku malah sampai kesini. Langit sudah gelap, tidak ada seorangpun disini. Kami berdua keluar dari mobil dan memandang ke arah laut yang gelap.
Debur ombak memecah kesunyian. Ombak yang bergulung untuk memecah pasir di pantai lalu kembali surut dan kemudian datang lagi. Begitu terus berulang-ulang, disertai udara dingin yang bertiup.
“Brrr… dingin ya?”
“Ne…”
Pandangan Jessica menerawang jauh ke kaki langit dimana langit dan laut terhubung oleh suatu garis.
Dan kemudian setelah beberapa waktu ia berjalan ke tepi laut.
“Hei… kira-kira apa yang akan terjadi ya…?”
“Aku nggak ngerti maksud pertanyaanmu”
“…apa kamu pikir aku akan bisa mati dengan tenang? …..kalau aku pergi ke laut seperti ini,” dia berkata sambil membelakangiku.
Bagi Jessica yang sudah hampir dipulangkan dari rumah sakit untuk yang ketiga kalinya, ajalnya sudah semakin dekat, sebab tidak ada yang keempat.
Pasien hanya bisa memilih di antara lantai 7 dan rumah. Tidak pernah ada seorang pun yang bisa lolos dari situ. Itulah yang dikatakannya padaku.
“……………..”
Kalau ini berada dalam situasi normal mungkin aku akan bercanda dan mengatakan, ‘Nggak tahu, aku kan nggak pernah hanyut di laut sebelumnya.’
“Kalau sekarang aku pergi ke laut seperti ini… apa… kamu akan menghentikanku?” dia berpaling untuk menatapku sekarang, sinar rembulan menyinari sosoknya dari belakang, menciptakan sedikit siluet.
Jessica pernah sekali hampir mencoba membunuh diri di hadapanku. Ini adalah hidupnya, Jessica sendirilah yang harus memutuskannya dan…. aku merasa tidak punya hak untuk menghentikannya kalau tidak punya alasan yang kuat…
Dan sekali lagi ia memunggungiku dan berjalan ke arah laut.
Aku tertunduk memandang pasir di bawah kakiku, “Apa…kamu ingin aku menghentikanmu?”
“……………”
“Kalau kamu ingin aku menghentikanmu, akan kulakukan sekarang juga”
Dia tidak menjawab. Karena itu kupikir kediamannya itulah jawabannya.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 3)" (56)

  1. ajmjgjtjajg..Yuri mau nolongin Sica kok tanya mulu sii..ak cubit jga pipi ni anak..

    Keinginan Sica pasti bisa brsama orang dcintai nya saat trakhirkan..hehe

    dtnggu klanjutan nya..

  2. JihanEunKi said:

    Brrr,,, dngin ya? klau dngin knpa Sica ng9x memeluk Yuri, lmayan kan bisa menghilangkan sdikit kedinginan,,,, hahahaha^^

  3. yuri ngelakuin apapun buat sica, sampe rela nyuri pakaian di laundry 🙂
    Agak sedih bacanya…

  4. phe pie said:

    Sica mau bunuh diri kok bilang2 c, pasti maunya dihntikan ama Yul tuh. ^^

  5. Aah..
    Yulsic moment’a mengharukan 😥 abiz ini mrka mw kmana lgi yah?
    Lnjut…

  6. kok aku jd mrinding ya pas baca crita ini?
    hbsny tokohny sering bgt membicarakan kematian sih.
    kyk g ada topik laen aja.
    hihihi
    d pantai aj pake bawa2 pengen bunuh diri lagi sgala.

  7. demi apapun,nie ff bkin dag dig dug aja..agghhh kenapa kayaknya sad ending ya…jgan dunk thor hehe…lanjut B-)

  8. sunnyjiyeon said:

    yulsic..
    kangenny aq,,tp crtany sdih gni..T.T

  9. wahhh bagus ceritanya…
    si yulsic bingung mau pergi kemna mending kerumah ak ja…. 😛
    penasaran ma kelanjutannya
    semangat

  10. sedih ane baca ceritanya u,u
    Hmmm jadi penasaran dgn kelanjutanya
    Update soon author
    Hwating

  11. Jesica makin misterius aj nie.

    Gw suka. Gw suka!

  12. yulsictaenyjjang said:

    makin penasaran nih,,,
    d tggu update soon thor,,,,

  13. paling suka cerita yulsic yang ini…
    menyentuh banget 😦
    ..
    semangat thor cepet di update yah ceritanya >.<

  14. ._. weits suram suram bacanya

    can’t wait next chapt 😀

  15. taetae_fun said:

    bru bca crita yg bginian,,,kta2 di ff ni mwkili bnget ama keadaan dskitarnya,,jdi krasa bneran,,

    yulsic udh mlai brpetualang,,kyknya hri2 mreka bkalan seru,,wlopun kematian bkal dtng mnghampiri mrka…

    dtunggu lnjutannya thor…

  16. Gak ada romantis2 nya nih yulsic #yaeyalah namanya jg org sakid

  17. ya ampunnn..uhuhuhuh mati” bareng aja deh kalo gtu T______T

  18. ya ampun nih anak berdua pake nyuri segala, knp ga minta sama aku aja, pasti aku kasih, sekarung skalian n aku setrikain lg, kan kasian…

    sica pasti ntar menceburkan diri ke laut trus terbawa ombak ke tengah n yuri buru2 nyebur buat nolong jessica trus gara2 ombak terlalu kuat mreka hanyut k tengah laut n terdampar dalam keadaan pingsan di pantai tepi laut entah berantah lalu mereka berdua di temukan oleh tabib yg pandai pengobatan tradisional n mereka berdua sembuh dari segala penyakit yg ada d tubuh mereka trus yuri dan jessi jadi istri si tabib pandai dan semuanya bahagia.

    perkenalkan, tabib tersebut adalah saya. salam kenal…

    no flame, yg ngehujat aku doa’in pantatnya melebar.

  19. taebaragi said:

    kalo aku jadi yuri udah aku jorokkin si sica ke laut….haha….sebel juga kalo punya temen kayak gitu,ngga menghargai hidup bgt…..
    btw,penggambaran karakternya bagus bgt thor,ngebacanya jadi serasa ikut kebawa…eke sampe lupa napas…..hha

  20. sica sica masa mau bunuh diri pake nanya dulu….. kasian bangt ma mereka, truslah brjuang kali ja dpat keajaiban….

  21. Menghanyutkan (?) ._.

    Ditunggu chap berikutnya ^^

  22. Ah~ author sumpah bae banget !!
    Update nya selalu cepat dan panjang !! XD
    YulSic gtw gimana caranya cepatlah bersatu :p

  23. Locksmith's said:

    author jjang!
    update trus y!
    FIGHTING 😀

  24. yul mau ngelakuin apa aja dmi sica sangat mengharukan
    yul peluk sica biar sica gak kesepian lg
    thor lanjut smangat.

  25. pengorbanan pertama yuri: jadi maling jemuran..
    hahahahaha… 😀
    tapi keren unnie..
    aku belum pernah baca cerita sesuram n se emosional ini!
    rasa kesepian sica n rasa keputus asaan bikin aku terhanyut sedih.. huhuhu (lebay mode on)
    tapi aku suka karakter yuri yang nekat abis…
    aku jadi ga sabar ma chap selanjutnya..
    lanjukan unnie!
    fighting!!

  26. @kyungsee said:

    @_@ hmmmm.. Yul baik banget ya, rasanya Yul lebih tua dari sica. Gak rela YulSic pake baju orang T.T orang itu pasti beruntung banget bajunya dipake sama YulSic. Dan akhirnya mereka gak dapet mimpi ya XD yul asal ngomong sih!

  27. This story is awesome..

    *speechless* keren banget.

  28. wahh,,semakin seru aja nih thor..aneh juga kalau sama-sama ga ada feel..tapi berani melarikan diri berdua …
    pasti ada something tu..*bawa kaca pembesar ala dektetif

  29. YS_addict said:

    makin galau aja nih yulsic :p seru sih ceritanya tp rada bingung,abis sica pasif bgt si…hahaa coba lbh cerewet lagi #apasi
    yaolo jgn renggut yulsic ku(?)

  30. yuri yuri ada orang mau bunuh diri ko nanya dulu mau di tolong apa ngga -_-
    sicanya dingin bgt dah pantes di sebut ice princess hehe

  31. Kungttadadak said:

    Aaaaa penasaran sama akhirnyaaaa… Gimana kelanjutannyaaaa kisah jessica dan yuri… Yang semakin hari ajalnya semakin dekat…. Author ini ceritanya sangat kerennnn TwT

  32. Kwon Eya said:

    Nekat jga ne ank b-2. Prgi tnp prsyapn xm se x!

    lanjut-lanjut!!

  33. waw keren!!Yuri berani Yuri di Laundry . . .

    Sica jangan maju terus ke pantai donk….Paerjalanan kalian masih harus dilanjutkan . . .

    next ah . .
    YUK DUNK!!!

  34. bloxtwins said:

    sica bikin penasaran…
    banyak diem nya ==”
    jadi, mau mu apa dong sicaaaaa???
    langsung aja deh k chap slanjutnya.kekeke~

  35. clover said:

    kasian ampe nyuri baju biar duitnya gak abis 😦 bakalan susah nih nantinya perjalanan yulsic…
    sica jangan pengen bunuh diri terus donk ntar yuri-nya sedih….

  36. siLent_Reader said:

    aaaaaaaa .
    yuling ku sayang sama sica ..

    suka banget pas adegan pegangan tangan di mobil *.*

  37. Sica kayaknya diam2 suka Yuri deh,
    Dari kemarin nanya mulu “kamu akan menghentikan aku” :3

    Lnjut~

  38. aq harus berlanjut k next chapter, bye author…

  39. eh sica jangan bunuh diri adoh….
    yul tahan yul

  40. Sica kayaknya mau mati cepet2 T.T sementara yuri,kalau mau menghentikan sica selalu nanya mulu-_- ampun deh nih orang-_-“

  41. Fey_yulsicforever said:

    Ehem.. Emm aduh larut bgt ane baca ni ff sumpah nikmat and yang sangat ane suka feel’a dapt terus keren.. Thor lanjut thor£^~¥

  42. Sica mulai ngerasa putus asa sampe mau bunuh diri lagi yuri klo mau nolongin sica ga usan tanya dulu dunk langsung aja tolong sica

  43. Ceritanya manis binggoooooooo, bahasanya ituloh, tenang bacanya 😀
    Perfect story (y)
    YulSic unnie semangat yahhhhh 🙂 Kalian harus bahagiaaaaaa
    Ahhhhhh, ceritanyaaaaaaaaaaaaa………

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: