~Thank you for your comments~

Malam harinya, setelah lampu dimatikan. Karena tidak bisa tidur, aku berjalan ke ruang tunggu. Normalnya berkeliaran setelah lampu dimatikan itu dilarang. Tapi khusus untuk kami para pasien lantai 7, kami diberikan hak khusus untuk itu selama kami tidak keluar dari rumah sakit dan tetap berada di lantai 7.
Ketika aku sampai, ruang tunggu itu gelap. Cahaya rembulan menyinari figurnya yang tegak di sisi jendela.
“Yah, nggak bisa tidur?”
“He eh,” ia mengangguk.
Kemudian aku berdiri di sebelahnya dan menceritakannya.
“Hari ini tadi aku keluar rumah sakit seperti kamu”
“Begitu,” tapi respon gadis itu tetap datar seperti biasa. Padahal aku mengharapkan reaksi lebih.
“Waktu kamu keluar, kemana kamu pergi?” kataku mencoba melanjutkan percakapan.
“Nggak kemana-mana”
“O-oh…” hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Aku bingung harus mengobrol apa lagi dengannya. Tapi tidak lama gadis itu yang memulai duluan.
“Sebentar lagi… aku akan pulang”
“Eh?”
“Ini yang ketiga kalinya, jadi mungkin kita tidak akan bisa ketemu lagi…”
“Mm… ah,” lalu aku teringat penjelasannya waktu itu dan terdiam.
“Hei… kamu lebih suka yang mana?”
“Hah?”
“Mati di rumah atau mati di rumah sakit”
Mendengar kata-kata ‘kematian’ nafasku tercekat di tenggorokan.
“Aku belum… memikirkannya”
“…begitu….. memang… kamu baru yang pertama…” gumaman gadis itu terdengar kesepian.
Tentu saja aku tahu kalau aku nggak akan bisa berada disini selamanya. Seperti semua pendahulu kami, keluar masuk rumah sakit sampai akhirnya melemah dan…
Pada akhirnya kami hanya bisa memilih di antara kedua itu.
“Aku nggak mau di rumah… tapi aku juga nggak mau disini,” ujarnya tanpa emosi.
Aku bisa mengerti alasannya. Kalau di rumah tentu kamu nggak ingin melihat wajah keluargamu yang bersedih.
“Kalau begitu gimana?” tanyaku.
“Selama aku masih bisa berjalan aku akan pergi ke suatu tempat.”
“Memangnya… ada tempat yang ingin kamu datangi?”
“……………..”
Gadis itu terdiam selama beberapa saat.
“Apa kamu akan mencegahku?”
“Eh?”
“Ataukah kamu mau ikut denganku?”
“Aku tidak bermaksud…”
“…kalau begitu jangan tanya”
Jessica terus menatap keluar jendela sambil berkata dengan acuh. Tapi saat itu aku melihat… matanya yang biasanya memandang tanpa emosi kini bersorot sedih.
Bagiku yang masih belum merasa ini semua adalah kenyataan, tapi… akankah suatu saat aku akan mengalami takdir yang sama dengan Jessica?
Kemudian aku teringat akan hal yang kupikirkan sewaktu aku jalan-jalan keluar tadi siang. Tapi… sepertinya untuk saat ini masih belum bisa. Lagipula tidak ada tujuan.
Jessica menyentuh kelopak bunga di dekat jendela itu. Ia mengelusnya, tampaknya ia menyukai bunga itu.
______________________________________________________________________________________________________________________

Diluar langit hujan deras. Seperti biasa aku berada di ruang tunggu lantai 7 yang kosong. Sambil menonton televisi.
“Menarik nggak?” terdengar sebuah suara yang kukenal.
“Nggak, membosankan”
Lalu ia duduk disebelahku dan ikut menonton. Dan seperti itulah hari-hari kami terus berlalu.
Beberapa hari sudah berlalu dan seperti biasa kami menonton televisi di ruang tunggu yang hampa.
“Bosen ya?”
“Ya”
Seperti mengulang, hanya kalimat itu yang biasanya kukatakan.
“Ngomong-ngomong, kapan kamu pulang?”
“….hari ini”
“Hmm, hari ini ya…”
“Mungkin kita nggak akan bisa ketemu lagi…”
“…………..”
“Apa kamu sudah memutuskan?”
“Belum”
Kemudian terdengar langkah kaki mendekat.
“Jessica, ayo pulang,” ujar seorang wanita setengah baya yang sepertinya adalah Umma Jessica. Ketika ia melihatku ia menundukkan kepalanya sedikit. Refleks aku balas menunduk.
“Kamu sudah siap?”
“Ya”
“Kalau begitu permisi,” Umma Jessica berkata kepadaku.
Umma Jessica menarik tangan Jessica, tapi Jessica tidak beranjak dari kursinya.
“Ada apa, Jessica?”
“Sakit sedikit…”
“Eh sakit?! Dimana?!”
“Dadaku…”
“Tunggu disini, aku akan panggil dokter!” kemudian Umma Jessica pergi dengan tergopoh-gopoh. Disini hanya tinggal kami berdua.
Kondisi Jessica…aku tidak tahu sama sekali. Yang kutahu hanyalah namanya Jessica Jung, golongan darah B. Semua itu tertulis di gelangnya. Namun setidaknya aku tahu bahwa kondisinya lebih parah dariku karena dia lebih lama disini.
“Kamu nggak apa-apa? Sambil menunggu dokter datang, kamu mau berbaring dulu?” aku menunjuk ke sofa yang letaknya di seberang. “Aku bisa gendong kamu.”
“Nggak usah, aku sudah nggak apa-apa,” kemudian dia berdiri.
“He-hei kamu!”
Jangan memaksakan diri. Itu kata-kata yang hendak kukatakan, tapi dia sudah keburu keluar sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.

Malam hari, karena tidak bisa tidur aku membaca sebuah novel. Setelah satu jam aku mulai merasa jenuh dan memutuskan untuk jalan-jalan keluar kamar sebentar. Lorong sudah gelap. Aku berjalan ke arah ruang tunggu. Kupikir kalau kesana mungkin aku akan menemukan dia lagi. Dan ternyata dia memang sedang berdiri di dekat jendela.
“Yah, kamu disini lagi”
Jessica mengangguk.
“Ada apa? Kamu sakit lagi?”
“Aniyo,” ujar gadis itu sambil masih menatap keluar jendela.
Sepertinya pada akhirnya kepulangan gadis itu harus ditunda. Aku tidak tahu kapan tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat ini.
“Yah… apa kamu hari ini tadi cuma pura-pura sakit?”
“…kenapa kamu berpikir begitu?”
“Eng itu soalnya, kalau kamu pulang kan kamu nggak ada kesempatan lagi.”
Gadis itu tidak menjawab. Sepertinya tebakanku benar.
“Tapi aku nggak benar-benar bohong…”
“Yang kamu maksud punya arti yang berbeda”
“…….umma saja yang salah mengerti…”
“Dia cuma khawatir padamu”
“…………….”
Aku memandangi wajahnya yang cantik dari samping.
Sebenarnya aku juga nggak mau kamu pulang Jessica… karena nanti aku sendirian disini…
Berdua saja sudah sepi apalagi sendiri.
Sambil berpikir begitu aku meletakkan kedua tanganku di ambang jendela dan ikut memandang bulan di luar sana.

Siang harinya ketika aku menatap keluar, orang-orang diluar sana berlalu lalang, menjalani kehidupan mereka yang normal. Tadinya aku juga berada di antara mereka, sekarang semua itu terlihat bagaikan mimpi.
Aku hanya bisa memejamkan mata dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa hari berlalu. Saat dimana langit tidak berawan. Karena sedang iseng aku jalan-jalan ke kantin. Aku tidak membeli apa-apa disana. Hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin sambil berlalu lalang. Tapi begitu aku kembali ke kamar ada sebuah kejutan, Appa datang berkunjung. Di tangannya terdapat sekeranjang buah-buahan. Wajahnya nampak terluka saat menatapku. Lalu ia duduk di kursi sebelah ranjang.
“Gimana keadaanmu?”
“Oh, aku baik-baik saja kok, Appa”
Lalu ia bercerita sedikit tentang keluarga, “Umma sudah nggak ikut arisan dan sekarang ia ikut les memasak. Lalu kakakmu juga mengenalkan yeojachingunya pada kami.”
Lalu aku juga bercerita sedikit.
“Appa, aku punya teman, namanya Jessica. Dia sama denganku, pasien lantai 7”
Sesaat aku melihat mulut Appa terbuka sedikit tapi lalu ia tersenyum dan mengelus rambutku.
“Baguslah kalau begitu”
Tadinya kupikir Appa tidak setuju kalau aku berteman dengan sesama pasien lantai tujuh. Tapi mungkin dia kasihan karena nanti aku kesepian.
Lalu Appa beranjak dari kursinya, “Sekarang Appa mau bicara sama dokter. Makanlah buah itu, lalu kalau ada sesuatu yang kamu ingin Appa bawakan, katakan saja,” lalu Appa keluar ruangan dan menutup pintu.
Ketika hanya tinggal aku sendirian di ruangan. Aku memakan buah-buahan yang Appa bawakan. Melihat Appa aku jadi teringat pada kejadian sebelum aku sakit. Sebelumnya aku pernah meminta ijin untuk meminjam kunci mobil, tapi Appa menolak dengan alasan bahaya. Aku sudah menduga jawaban seperti itu.
“Appa…”
Dan sim yang kini berada di saku piyamaku. Meskipun sejak hari itu sim ini tidak pernah dipakai tapi aku terus membawanya.
Aku mengeluarkannya dan menatap sim itu. Sim ini adalah bukti bahwa dulu aku masih menjalani hari-hari yang normal. Bayangan wajah Jessica yang sedih terlintas dalam benakku. Lalu aku memutuskan.
Aku bergegas mengambil sesuatu dari tas kecilku. Sebuah kunci mobil. Kunci ini adalah kunci cadangan yang kubuat diam-diam sejak aku dilarang meminjam mobil Appa. Waktu membuat kunci cadangan ini aku bertekad untuk mengendarai mobil Appa diam-diam suatu saat nanti. Selama ini kusembunyikan rahasia ini rapat-rapat karena takut ketahuan, tidak ada seorangpun yang tahu, tidak juga Umma maupun oppa. Pasti Appa datang kesini naik mobil itu, pikirku. Hanya sekaranglah kesempatannya.
Tanpa berkata apa-apa aku menggenggam kunci mobil itu dengan erat. Kemudian aku beranjak untuk mengambil semua obat-obatku untuk jatah berminggu-minggu dan menaruhnya ke dalam plastik. Lalu tak lupa juga membawa uang. Uang ini adalah tabunganku sendiri. Sengaja kubawa dari rumah waktu aku pulang pada akhir tahun. Supaya tidak diambil oleh keluargaku. Dan dengan langkah mantap aku berjalan menuju ruang tunggu.
Gadis itu, Jessica masih tetap berada di tempat yang sama seperti kemarin-kemarin. Masih menonton TV dengan ekspresi bosan. Sesekali matanya menerawang jauh.
“Menarik nggak?”
“Memang di matamu kelihatannya menarik?” gadis itu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan juga.
“Nggak sama sekali. Kalau begitu bagaimana kalau pergi bersamaku?”
“Eh?”
CRING
Sambil menunjukkan kunci mobil aku berkata, “Aku juga nggak suka rumah maupun lantai 7, jadi… kamu mau ikut sama aku?”
“Mau”
Dia tidak banyak berkata dan langsung beranjak dari kursinya. Sepertinya dia memang sudah sejak lama menginginkan seseorang mengajaknya pergi. Aku mematikan TV lalu aku mengikutinya masuk kamar. Kalau dipikir-pikir, inilah pertama kalinya aku masuk kamar rawat Jessica. Ia menyiapkan beberapa obat-obatan miliknya dan memasukkannya ke dalam tas plastik.
Kami mengendap-ngendap saat melewati ruang perawat tanpa kusadari tanganku yang tidak membawa barang memegang tangan Jessica. Jessica menatap tanganku yang menggenggam tangannya, tapi ia tidak melepaskannya. Kami berjalan menuju lift. Turun dari lantai paling atas ke lantai paling bawah. Kemudian kami keluar dan menuju ke tempat parkir. Diluar hembusan angin terasa menusuk tulang.
Aku masih tidak melepaskan tangannya. Dadaku berdebar-debar, ini adalah pelarian kami. Aku mempererat genggamanku, seolah untuk menenangkan Jessica sekaligus diriku sendiri. Bersama dengannya, aku melihat-lihat sekitar, mencarinya. Dan akhirnya aku menemukannya, mobil Appa.
Sebuah mobil sedan berwarna silver. Mobil yang Appa banggakan meski sudah keluaran agak lama.
Heran, darimana aku mendapatkan keberanian seperti ini? Diam-diam mengambil mobil Appa. Sesaat aku terpaku menatap mobil di depanku.
“Apa ini mobilnya?” sebuah suara menyentakkanku kembali dari lamunanku.
“A….iya”
Aku tidak akan bimbang. Aku melepaskan tangan Jessica untuk mengeluarkan kunci mobil dan dengan segera memasukkannya ke lubang kunci dan membuka pintu.
Mungkin… Appa akan berpikir bahwa mobilnya dicuri…
Aku menggigit bibir.
Maafkan putrimu ini, Appa… tapi ini juga adalah keinginanku terakhirku…
“Masuklah”
“Ne”
Pada saat itu aku tidak sadar bahwa Appa sebenarnya sedang melihatku dari lantai atas. Aku tidak menyadari tatapannya.
Aku duduk di kursi pengemudi dan meletakkan tas berisi obat-obatan dan uang di bangku belakang. Setelah gadis itu duduk di kursi penumpang sebelahku, aku menyalakan mesinnya, melepas rem, dan melakukannya seperti yang sudah kupelajari.
“Let’s go”
Jessica mengangguk kecil. Lalu aku menginjak gas. Suara deru mesin mobil terdengar.
“Sedikit berguncang ya”
“Ah, soalnya ini pertama kalinya aku naik mobil ini, dan aku baru saja mendapatkan sim sebelum masuk rumah sakit.”
“Begitu ya”
Kami keluar dari tempat parkir menuju jalan besar. Aku merasa tidak biasa memegang setir ini sampai mobil di belakang kami membunyikan klakson. Meskipun begitu aku berusaha cuek dan tetap mengemudi dengan tenang.
“Kamu takut?” tanyaku.
“…apa lebih bagus kalau aku takut?”
“Aniyo”
Diluar matahari sudah tinggi. Langit Januari berwarna biru sampai terlihat agak melankolis. Meski tidak punya tujuan yang jelas, hari itu kami menapaki jalan menuju masa depan tak terlihat.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 2)" (68)

  1. Cepet bgt thor updatenya ._. heheh
    Ngg.. Jessica jutek amat ya di sini -..-
    Mereka mau kmn ituuu? Ikuttt!! #plakkk
    next part ditunggu..cemungudh thor ^^

  2. keren cerita nya..jadi penasaran sama ending nya ntar..

    Yulsic mau kmna, mau keliling seoul, atau pantai nih..haha
    Yul, hati2 nabrak yah, bawa anak orng lg..haha

    dtnggu klanjutan nya..

  3. sunnyjiyeon said:

    mdh2n mrka perginy ke pengobatan alternatif,,biar crtany happy ending..hehe

  4. Sica mau diajak kemana tuh?? Kerumahku ya yul??#plak
    Lanjut thor

  5. ya ampun kabur berdua?
    jgn blg mrk mw bunuh diri bersama dlm pelarian mrk?

  6. Lovely story.. Pasti ceritanya bagus banget.. Dijamin.. Idenya mengusung lantai 7 sebagai tmpat prtemuan, n kemuraman dr settingnya. Satu kata..

    Keren.

    • ya, memang ceritanya bagus banget menurutku, makanya aku bela-belain buat ke SNSD nih^^
      ada beberapa yg kuubah sebagian sih

  7. yoonaddict si new reader said:

    Baru muncul di chapter ini ,, mian thor (˘̩̩̩ʃƪ˘̩̩̩)
    Maklum keasikan baca ,,,

    Jessica bener bener mirip ice di ff ini …
    Kasian yul ,, hrus bnyak basa basi …

    Cepet lanjut thor ,, penasaran ,tu mobil mau kemana..

    ** yul eon hati2 bensin habis ,, harga bbm mau naik ,, cepet2 diisi tangkinya tu XD

  8. Ni ff keren author (0.0)b
    aku suka sama karakter sica yg dingin n cuek gimana gitu^^
    Bytheway yuri mau bawa sica kemana tu ? Jangan jauh-jauh ya ntar nyasar hehe
    Update soon ya author
    Author Jjang Hwaiting^^

  9. taetae_fun said:

    author jjang,,fellnya krasa bnget,,,kyknya mreka bner2 udh trma klo mreka gak bsa smbuh lgi..
    Knapa appa yuri gak nhan dia??
    dtunggu lnjtannya thor..

    • karena appa yuri jg kasihan sm putrinya, jd membiarkan yuri berbuat sesukanya untuk yg terakhir kalinya sbg rasa sayangnya

  10. navy99blue said:

    Jessica dapet banget coolnya.. Ngeselinnya sekaligus bikin penasaran..
    Yulnya itu gmn ya? Blom dapet kata2 yg pas buat ngegambarinnya tapi suka sama perannya disini..
    Ini dari novel pengarangnya sapa ya?

    • kalau ada di kondisi sica kau akan mengerti, hoho
      memang di dua chapter ini sifat yul blm jelas, sabar saja nanti jg terlihat di chapter2 mendatang
      pengarangnya Tomo Kataoka

  11. JihanEunKi said:

    1 kata yg ingin kuucapkan
    “Keren Thor”
    membuatku smakin pnasaran^^

  12. ni cerita makin bikin penasaran 🙂
    kasian ya, intinya yulsic nunggu kematian gitu~

  13. wadawwwww…ini pelarian namanyaa mw dibwa kmna ya?

    jd sedih kalo mreka kan…..

    T__________T

  14. cih lagi2 TBC, padahal adrenaline ku udah ikut terpompa nih….

    buruan update thor…. hehehe GPL

  15. wah.. ceritanya susah ditebak nih!!
    bahasanya semakin nyastra aja unnie.. hehe 🙂
    dari lantai 7 menuju kemana tuh?
    jadi berasa naget feelnya orang yang lagi sakit parah dan seakan nggak punya harapan untuk sembuh..
    hmmm… KEREN!!

    ditunggu kelanjutannya!
    fighitng!!

  16. siLent_Reader said:

    AAAAAAAAAAAA Jessica , auramu mistis sekali.
    dinginnya mamen -,-

    masih belum nangkep ceritanya .
    mungkin karna belum ada konflik kali yaa .

    semoga chap selanjutnya ada konflik 🙂

  17. waaa yul berani juga, pelarian besar2an nih ._.

    masih nunggu kejutan author di ff ini, kira2 adegan romatis2 apalagi yang akan author buat? (manggut2 kepala, tangan di dagu kekeke~)

  18. phe pie said:

    Wah YulSic mulai bertualang. Tampaknya inti critanya akan dimulai dari skarang nih thor?

  19. Aku masih menunggu kelanjutannya.

    Ff yulsic ini kesannya serius tapi alurnya aku suka.

    Cpt update y. . .

  20. bgus critany,, bnr2 mnyentuh 😦

    Thor jgn lma2 updatex yaa..
    Hwaiting..

  21. Sica ngapa cuek bgt ama yul?, apa krn dia yg bkal mati dluan?
    Ff ni panjang gak thor? Smpe brapa chapter?
    *plak #banyak tanya nih orang

  22. yulsic…oh yulsic…apa ada mujizat bagi mereka untuk terus hidup bersama?? *ya ga mungkinlah dasar reader aneh -_-‘

  23. Locksmith's said:

    hicks..sdih bnget deh ama nasibny yulsic dsini. T X T dicpetin y, author! fighting!^^

  24. yulsictaenyjjang said:

    penasaran apaka endingnya bakal sama kayak hatiku selalu hanya untukmu,,,
    alias sad ending ,,,, wah penasaran,,,,
    d tggu update soon thor

  25. Sukses buat ceritanya mudah”an cepet di jadiin Buku atau Film, tp jangan sinetron ya please 😀

  26. YS_addict said:

    nah mulai nih petualangan ala YulSic,ini msh belum muncul kah rasa cinta dihati mereka *sok tua bgt bhsnya 😀 ahaha…
    apa mreka bakal mati bareng?? hhmm ga relaaa

  27. (!`☐´)づ)˚з°) ah~
    Author ini memang baik !
    Cepet banget update nya !! (う˘▿˘)ε˘と)
    Yul mau ajak sica kemana tuh ?
    Jangan kau apa2kan my SICA BABY !! *eh

  28. Kwon Eya said:

    ehm,mch blm bz mmbc jln crtany. Lnjut th0r!

  29. wah mereka kabur ya??
    Aku jadi semakin mantab juga buat kabur…kabur dari penjara#Plaaaak.heheheehhe

    Lanjut ya thor..
    FIGHTING!!!

    YUK DUNK ! ! !

  30. @kyungsee said:

    “Hari ini tadi aku keluar rumah sakit seperti kamu”
    “Begitu,” tapi respon gadis itu tetap datar seperti biasa << jawaban jessica gitu banget -___- haha. rasanya pengen nangis pas tau kalo appanya yuri melihat yuri dari lantai atas T.T seharusnya itu gak bikin sedih, tapi aku sedih ToT~ hari ini aku sebenarnya aku punya pertanyaan aneh, 'apa merk mobil appanya yuri?' XD tapi aku gak punya stok sendal buat di lempar ke author hahaha XD kayaknya ini commentku yang teraneh x_x kaborrrrrrrrr

  31. wowwww ,mau kabur kemana mereka ?
    ikutan boleh gak ? ._.

    lanjut thorrrr!

  32. feelnya dapet banget nie…keren2…

  33. yulsic mau kbr ke kosan aq dah kayanya hahahaha mau nya#PLAK
    appa nya yul liat gmana tuh
    mkn bkn pnasaran aj ah.

  34. bloxtwins said:

    bakalan sad ending kah?
    the runaway..kereeeen..
    dtnggu aja lanjutan nya..
    SEMANGAT 😀

  35. itu yul mau bwa sica kabur kmana tuh…???????

  36. Kungttadadak said:

    Ahhh sedih thor sedihhhh pengen nangisss T~T *lanjut ke next chap*

  37. clover said:

    wah yulsic kabur!!! *daripada kabur mendingan ke rumah aku aja sini hehe*
    btw, disini sica bener2 kayak ice princess banget ya tp kasian gimana ntar mereka bisa bertahan dijalanan 😦
    lanjut ah ke next chap

  38. yul anak nakal.padahal lagi sakit parah.tpi yul nekat bgt.ngajak2 sica pula

  39. Ga tau mau coment apa~
    Nyesek-senyesek-nyeseknya kalo bayangin Yulsic T____T

    Ayo cari kebahagiaan kalian berdua #hug Yulsic

  40. yah ga enak banget baca kalimat yul yang keinginan terakhir
    nusuk banget dah 😥
    mau kemana ya mereka?
    hati hati ya yul
    hwaiting thor

  41. Ciekan kabur berdua~ hahaha 😀 mau kemana,tuh? xD

  42. Fey_yulsicforever said:

    $readr bru$ Bisa dibilang menyedihkan dan menakutkan namun penuh perasan¥ ceileh sotoy bgt ane.. thor sembuh dong yulsic’a.. Gimana ending’a yah pnasaran bgt.. Lajut thor cpt updt yah..

  43. thor… kamu nulis di FFnet juga ya?? gomen kalo ga sopan, gue cuma mau nanya ini ff punya kamu? soalnye gue udah pernah baca di ffnet cuma beda castnya aja sumpah… Atau kamu itu author yg di ffnet itu?

  44. oh iya bukan ffnet, tp FictionPress… gomennasai m(_._)m sekali lagi maaf ya thor maksudnya FP bkan ffnet… hontou gomen ne…

    iya itu castnya… Huaaa jadi beneran kamu authornya yg di fictionpress itu, kyaaa~ ga nyangka ^o^

    • haha pasti iya dong, kan aku jg yg ngasih link WP ini ke FP

      • wahaha gue ga liat tp linknya haha gue ga namatin kalo ada link wp ini disana, dan maaf ya thor gue disana jadi sider haha ga tau cara komen/reviewnya gimana haha udah lama bgt kyknya ya di fp 😀

  45. Hhmm mereka mau kabur kemana knp ga pake jaket kan di luar angin nya dingin kasian sica nya..
    Waahh ga sabar pengen baca part selanjut nya..:)

  46. Uuuhhhhh, melankolisnya cerita ini…..
    YulSic unnie, tenanglah, Dewa Maifate sudah bilang kalau di ff ini kalian akan bahagia 😀
    Fighting XD

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: