~Thank you for your comments~

A/N : Kuberitahukan sebelumnya, cerita ini kubuat berdasarkan sebuah visual novel berjudul Narcissu. Tentu saja kata-kata, beberapa scene dan ending cerita yang kubuat berbeda dengan yang aslinya.

Prologue – Jessica

Memang sejak kecil kesehatanku kurang baik. Meski begitu aku tetap menjalani masa SD ku dengan normal layaknya anak-anak yang lain.
Saat aku memasuki masa SMP. Beberapa hari sebelum ujian tengah semester.. pertama kalinya aku masuk rumah sakit.
Pada awalnya banyak teman-teman sekelas yang datang menjenguk. Dan waktu aku keluar dari rumah sakit, pada akhir minggu mereka main ke rumahku. Tapi itu baru permulaan.
Musim gugur datang, musim dingin berlalu. Bulan-bulan terus berganti, keluar masuk rumah sakit sudah menjadi bagian dari rutinitas. Orang-orang yang tadinya kusebut teman, semakin menjauh dariku dan lama-lama menjadi orang asing. Perlahan-lahan aku mulai menghilang dari ingatan mereka.
“Mereka semua pasti sudah melupakanku…” ucapku tanpa emosi sambil menatap ke luar jendela rumah sakit. Di luar hujan deras menghiasi langit malam.
Buku-buku SMPku masih seperti buku baru. Aku tidak punya kesempatan untuk benar-benar membolak-balik halaman itu. Dan seragam SMPku hampir tidak punya kesempatan untuk kupakai ke sekolah. Warnanya tetap secerah saat baru dibeli.
Masa-masa bahagia itu… perlahan-lahan mulai menjauh…
Seolah pada saat itu, waktu berhenti…
Kemudian tahun-tahun berlalu.

Prologue – Yuri

Suatu pagi ketika aku bangun dadaku terasa sakit, sehingga aku dibawa ke rumah sakit ditemani oleh Umma. Disana aku menjalani berbagai pemeriksaan seperti X-ray dan tes darah. Dan aku harus menunggu dalam kebosanan. Di saat bosan, iseng-iseng aku merogoh saku jaketku. Dan aku menemukan sim A. Ijin untuk mengendarai mobil yang baru saja kudapat beberapa hari yang lalu.
Cring.
Dan sebuah benda perak yang kusembunyikan dalam sakuku rapat-rapat.
Kemudian aku harus mengisi dokumen-dokumen rawat inap rumah sakit ini. Tampaknya waktu debut sim ini semakin menjauh…
Dimulailah hari-hariku di rumah sakit. Tentu saja aku tidak selalu berada di rumah sakit. Sesekali aku akan keluar dari rumah sakit. Bulan lalu adalah operasi pertamaku. Tapi kemudian aku harus kembali lagi ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Keluar, kembali lagi, begitu terus berulang kali.
Kanker paru-paru. Begitu diagnosa dokter. Tidak mengherankan karena meski seorang yeoja aku suka merokok. Padahal awalnya aku hanya ikut-ikutan teman karena terlihat keren. Dan kini sekarang kalau kupikir-pikir ternyata aku bodoh juga menganggap merokok itu keren. Seketika itu juga rimbul kebencianku pada rokok.
Sejak itu selera makanku makin memburuk. Jumlah dan tipe obat-obatan yang harus kukonsumsi pun bertambah. Bahkan aku bisa merasakannya sendiri tubuhku semakin melemah. Ternyata benar apa yang pernah kudengar bahwa hanya berbaring satu minggu di rumah sakit saja dapat membuat tubuhmu melemah. Sepertinya kakiku juga tampak lebih kurus. Itu bukan cuma perasaanmu, seolah obat-obatan itu berkata begitu.
Semua ini terjadi begitu tiba-tiba. Bahkan aku sendiri masih belum percaya bahwa ini adalah kenyataan.
Di akhir tahun, saat dunia tengah merayakan natal aku diperbolehkan pulang. Walaupun hanya sementara dan berhalangan oleh hujan tapi aku sedikit senang. Dan entah kenapa seluruh keluargaku berkumpul. Padahal biasanya mereka jarang berkumpul bersama karena kesibukannya masing-masing. Kakak laki-lakiku yang biasanya tidak akur denganku membelikan takoyaki kesukaanku. Bahkan Umma yang biasanya mudah mengomel kali ini tersenyum lembut padaku.
Kami duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan yang tersedia. Appa menyodorkan sepiring buah padaku, kakakku menuangkan segelas jus untukku. Suasana yang hangat, mereka benar-benar perhatian, itulah kesan yang kudapat ketika berada di tengah mereka. Dan aku tahu kenapa mereka jadi sebaik ini…
Setelah tahun berganti aku kembali ke rumah sakit. Dan entah kenapa aku tidak ditempatkan di ruangan yang biasanya. Aku mendengar Appa berbincang-bincang dengan dokter.
“Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara, sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut.”
Mereka bicaranya berbelit-belit tapi sepertinya aku tidak bisa ditolong dan pada akhirnya aku akan mati. Dan kemudian aku pun dipindah ke ruangan lain yang katanya untuk mendapatkan terapi khusus untuk pengobatanku.
Dari ruangan yang tadinya berisi beberapa orang menjadi ruangan privat. Lantai 7. Lantai paling atas. Entah kenapa aku merasa lantai ini sedikit berbeda dibanding lantai-lantai lainnya. Lantainya mengkilap. Langit-langitnya lebih luas. Ruangan-ruangannya juga sangat bersih. Dan tiap ruangan memiliki desain jendela yang besar untuk membiarkan banyak cahaya matahari yang masuk. Tapi jendelanya hanya bisa terbuka sedikit. Ketika aku mencoba untuk mengukurnya, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan kepalaku.
Dan hal lain yang kusadari adalah warna gelang tanganku berubah sejak hari aku dipindah. Dari biru menjadi putih. Di rumah sakit ini setiap pasien memakai gelang tangan yang menunjukkan nama dan golongan darahnya. Aku membaca milikku. Kwon Yuri, golongan darah AB. Tulisan itu tidak berubah. Hanya warna gelangnya yang berubah.
Dan di awal tahun ini, aku bertemu dengannya…
______________________________________________________________________________________________________________________

Yuri’s POV

Di ujung lorong, seberang ruang perawat, ada sebuah tempat seperti ruang tunggu yang luas, tampaknya tempat ini adalah tempat untuk bersantai bagi para pasien. Tempat itu benar-benar sepi. Ada sebuah TV 28 inchi, sedang menyiarkan acara-acara tahun baru. Kelihatannya membosankan. Tapi ada seorang gadis yang sedang menonton acara yang membosankan itu.
Rambutnya berwarna coklat panjang lurus. Dia memakai piyama lengan panjang berwarna pink. Untuk orang yang sakit wajahnya tergolong cantik. Dia memakai gelang tangan yang warnanya sama denganku. Sudah pasti dia pasien lantai tujuh ini sama sepertiku.
Karena tidak ada siapa-siapa selain dia disini aku mendekatinya.
“Yah, apa acaranya seru?” kataku berbasa-basi. Tentu saja maksudnya adalah acara yang sedang ditayangkan di TV tersebut.
“Aniyo,” hanya itu jawabannya. Dia bahkan tidak memandang ke arahku ketika aku menanyakannya. Mungkin dia sama sekali tidak tertarik padaku atau sedang malas menengok. Dia terus memandang layar televisi dengan raut wajah bosan.
Kalau bosan kan mestinya nggak usah ditonton. Sambil berpikir begitu aku duduk di kursi sebelahnya, ikut menonton. Soalnya nggak ada lagi hal yang bisa dilakukan selain itu.
Kami terus menonton sambil membisu. Di layar TV, acara tahun baru terus berlangsung. Seperti biasa setiap tahun selalu ada. Pembawa acara yang sesekali tertawa untuk menciptakan suasana ceria. Suaranya terdengar memenuhi ruangan yang kosong. Namun humornya sama sekali tidak mencairkan mood di ruangan ini.
“Yah kamu…”
Tiba-tiba gadis itu berkata padaku sambil masih tetap memandang layar TV.
“Kamu yang keberapa kali?”
“Ke berapa? Maksudnya?”
“Datang kesini… ke lantai 7”
“Mianhae, aku nggak ngerti maksudnya.”
“Begitu… jadi ini yang pertama bagimu. Karena nggak ada siapa-siapa disini selain aku dan kamu, maka aku yang akan menjelaskan.”
“?”
“Di lantai ini ada sebuah peraturan, dengarkan baik-baik”
Kemudian gadis itu menjelaskan. Bahwa lantai tujuh ini adalah tempat pasien yang menunggu kematian. Benar-benar berlawanan dengan kata-kata dokter yang kudengar. Itu katanya. Sebenarnya aku sendiri sudah merasakannya. Para dokter merahasiakannya karena memikirkan kondisi mental pasien. Takut pasien akan syok mendengarnya.
“Aku yang kedua kalinya”
“Kedua kalinya? Apa itu?”
“Datang ke tempat ini…”
Masih melihat ke layar televisi gadis itu melanjutkan dengan nada datar, “Orang yang ditempatkan disini walau penyakitnya nggak mungkin disembuhkan, jika kesehatannya membaik maka mereka diperbolehkan untuk pulang. Tapi setelah beberapa waktu kondisinya akan kembali memburuk dan harus kembali lagi kesini. Begitu terus sampai pada akhirnya mati. Kelihatannya tidak ada seorangpun yang pernah bisa lolos dari takdir itu. Dan tidak pernah ada yang pulang keempat kalinya.”
“Jangan makan apa-apa, itulah jalan tercepat, kalau kamu tidak ingin membebani keluargamu.”
Aku terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Lalu aku jadi mengerti bahwa ini yang dimaksud oleh gadis itu.
“Suatu saat, katakanlah ini juga pada para pendatang baru oke,” selesai berkata begitu, gadis itu beranjak bangun dari kursinya. Saat ia berjalan melewatiku, ujung rambutnya sedikit mengenai hidungku.
“Sudah waktunya untuk mengukur suhu,” katanya.
Lalu ia berjalan pergi, meninggalkanku sendiri di ruang tunggu yang kosong, dengan TV yang masih menyala dan bunga-bunga yang menghiasi jendela. Pada akhirnya gadis itu tidak pernah sekalipun menatap ke arahku.
Beberapa hari telah berlalu sejak saat itu. Siaran-siaran tahun baru sudah berakhir. Tidak lama lagi sekolah akan dimulai.
Hari ini seperti biasa aku bersama gadis itu menonton televisi. Memang tidak banyak yang bisa kita lakukan disini. Daripada berbaring di kamar tanpa bisa tertidur, kami lebih memilih menonton televisi disini.
“Bosen ya”
“Ne”
Dia membalas kata-kataku, tapi kami tetap melanjutkan percakapan sambil menatap ke layar TV.
“Apa tempat ini selalu seperti ini?”
“Aku nggak ngerti maksud pertanyaanmu.”
“Ah maksudku, tempat ini selalu sepi.”
Tentu saja selain perawat dan dokter, aku tidak pernah melihat yang lain.
“Apakah karena masih tahun baru?”
“Kamu mau tahu alasannya?”
“Ah ng-nggak”
Kemudian gadis itu tidak berkata apa-apa. Sebenarnya aku baru sadar saat dia bertanya apa aku mau tahu alasannya. Tentu saja karena tempat ini adalah tempat untuk para pasien yang punya penyakit tidak bisa disembuhkan. Jika tidak ada siapa-siapa disini berarti saat ini hanya ada kami berdua. Dan lebih baik jika rumah sakit hanya memiliki sedikit pasien yang seperti kami daripada banyak.
Kemudian kami membisu lagi. Obrolan kami bahkan tidak bisa disebut percakapan. Dari jendela yang terbuka sedikit, sesekali angin berhembus masuk dan meniup rambut kami dan juga bunga-bunga putih yang menghiasi jendela. Kami berdua menghabiskan waktu menonton siaran TV yang membosankan.
Tidak lama seorang perawat setengah baya melangkah masuk.
“Jessica, kamu nggak demam kan?”
“Aku baik-baik saja”
Jessica. Tampaknya nama gadis ini adalah Jessica.
“Jangan jalan-jalan keluar lagi ya. ”
“…………”
“Kamu bikin semuanya khawatir.”
“Peduli amat,” jawabnya acuh tak acuh.
“Kok bicaranya gitu sih. Ampun deh anak jaman sekarang bicaranya kasar.”
Kemudian suster itu terus mengomel-ngomel, tapi gadis itu menanggapinya dengan wajah acuh sambil tetap menatap layar TV.
“Nanti aku akan datang lagi untuk ambil darah,” lalu perawat itu pergi.
“Yah… apa aku boleh panggil kamu Sica? Kamu boleh panggil aku Yuri,” tanyaku sambil melihat nama yang tertera di gelang miliknya.
“…kenapa kamu tidak memanggilku dengan sebutan unnie”
“Hahh??”
“Aku lebih tua dari kamu tahu”
“Mwo? biar kelihatannya begini aku sudah dua puluh dua tahun tahu”
“Bulan berapa kamu lahir?”
“Desember”
“Ternyata memang lebih muda,” gadis itu berkata tanpa emosi.
“Memangnya kamu sendiri bulan berapa?”
“April, tepatnya tanggal 18”
Jujur aku sama sekali tidak menyangka kalau aku lebih muda darinya.
______________________________________________________________________________________________________________________

Pagi itu, aku menemukan Jessica sedang mematung di ruang tunggu. Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang ia lakukan sampai aku melihat ada sebuah gunting di tangannya. Jessica sedang menelusuri pergelangan tangannya. Dengan gunting yang terbuka…
Tanpa perlu waktu lama aku sudah menduga apa yang hendak dilakukannya dengan gunting yang mengarah ke pergelangannya. Kemudian ekor matanya tidak sengaja menangkapku yang sedang memandangnya dari jauh.
“…………….”
“…………….”
Seperti sedang bertanding dalam kontes kebisuan. Aku tidak membuat pergerakan sedikitpun. Aku hanya terus menatapnya tanpa memalingkan pandanganku darinya. Tapi kemudian ia menggerakkan bibirnya.
“Kamu tidak mau menghentikanku?”
“Eh?” sesaat aku terenyak, tapi lalu kemudian aku mengerti.
“Memangnya kamu ingin aku menghentikanmu?”
“Aniyo,” jawabnya singkat.
Normalnya dalam situasi seperti ini, kamu akan mencoba untuk menghentikan orang yang mau bunuh diri, tidak peduli kamu mengenal orang itu atau tidak. Tapi aku seperti tidak punya niat sama sekali untuk melakukannya.
Jessica sakit. Dan ia tidak bisa disembuhkan. Karena itu aku sangat mengerti perasaannya yang juga dalam kondisi sama.
“Kira-kira kalau aku melakukannya, sakit nggak ya…”
Apa dia sedang bertanya padaku?
“Ya…. sangat…” kataku tertunduk.
“Hmm… kalau begitu tidak jadi…”
Jessica… apa dia memang berniat untuk bunuh diri…
Kemudian ia berjalan pergi. Karena khawatir aku mengikutinya, tapi ternyata Jessica hanya menaruh gunting itu di ruang jaga perawat diam-diam. Rupanya dia mencurinya dari sana.
Sepertinya Jessica itu cukup nekat, kemarin saja perawat memarahinya karena ia jalan-jalan keluar.

Apa aku juga mencobanya sekali saja ya?
Pagi itu, setelah pengambilan suhu badan aku menyelinap ke lift disaat para perawat tidak melihat. Aku juga ingin mencoba jalan-jalan keluar. Tidak ada alasan. Aku tidak bermaksud melarikan diri. Aku hanya ingin mencobanya saja seperti Jessica.
Tanpa tujuan yang jelas, aku hanya terus berjalan menjauh dari rumah sakit. Di tengah jalan, aku cukup mencolok. Tentu saja karena aku memakai piyama rumah sakit.
Entah kenapa setelah berada diluar aku merasa seperti bisa pergi kemana saja. Ketika aku mengamati orang-orang berlalu, pikiran itu terlintas di kepalaku.
Setelah cukup puas aku segera kembali sebelum terjadi kehebohan.

*~To Be Continued~*

Advertisements

Comments on: "If There is No Tomorrow (Chapter 1)" (60)

  1. Whoaah, yulsic 🙂
    crta’a krend eon,
    lnjut,,, lnjut,, lnjut… 😉

  2. ryne#s0ne said:

    jangan2 ntar mereka meninggalnya bareng nih,, #ngasal -_-

    lanjut thor, lanjuut.
    YulSic jjang~

  3. @kyungsee said:

    Aaah T.T dari sejak keluarga Yul lebih perhatian sama yul, aku udah pengen nangis. Huwaaaa!!! ToT

  4. phe pie said:

    Hm tampaknya prmulaan critanya masih dipnuhi olh banyak prtanyaan n tanda tanya nih. BTW dilihat dari chaptr 1 n judulnya kayaknya ini endingnya bakalan sdih kayak crita YulSic yang sblumnya ya thor? Sorry lupa judulnya thor, klo gak salah my heart will always…for you. Peace.

  5. kenapa settingnya rumah sakit?
    parahny d bangsal orang sekarat lg..
    seolah2 mrk g punya harapan hdp dan kesempatan berbahagia layakny org pd umumnya.
    suram,sedih.
    hiks..
    tp bikin penasaran jg.
    wehehehe smg bukan sad end nantinya.

    lanjut thor.

    oh ya thor,kok g pernah bikin drabble lg sih?
    ato kelanjutan analisa detektif soo yg kocak itu?

    • makanya disinilah menceritakan perjuangan mereka menghadapinya

      ahaha tentang drabble itu kan tergantung ide kalau lg ada 😀

  6. taetae_fun said:

    prtama liat jdulnya,,,prasaan udh gak enak…trnyata bner…
    crita Yulsic yg pnuh dngan pnderitaan,,,siapin mntal dlu…kyknya rda ngarah ke sad ending…
    cpet lnjutkan thor,,bkin pnasaran..

  7. Whooaaa… Yulsic yulsic yulsic….
    Tapi kenapa pada penyakitan semua?? Kaya’a bakal sad ending nih. 😦
    Lanjut lanjut thor

  8. Wuaaa ~
    Kenapa yulsic sakit semua ? 😦
    perasaanku sudah tak enak ini TT_____TT
    Lanjut !

  9. Ceritanya menarik.
    Aq tgu kelanjutannya. . .

  10. sunnyjiyeon said:

    jgn smpe endingny kyk ‘hati slalu hnya untkmu’
    happy ending..happy ending..happy ending..(doaku..)
    mudah2n,,amen..

  11. yeyeyeye yulsic #nari geje ….

    ._. sepertinya taeny akan habis >,< (keinget TxT) huhuhu~

  12. Yulsic penyakitan Щ(ºДºщ)
    Omo~ tapi ceritanya cukup menarik, thor
    Lanjut ._.

  13. cih selalu ak TBC saat yg ga tepat, muak aku liat tulisan TBC itu thor. wkwkwwk….

    kasian ya mereka, tinggal menunggu hari2 kematian mereka. cih, malas aku membayangkan endingnya…

    semangat thor….!!!!

  14. yulsictaenyjjang said:

    wah,,,, asik yulsic,,,,
    heheh,,,, bgus critanya,,,,,
    tpi endingnya susah d tebak nih,,,,
    d tggu klanjuutannya thor,,,

  15. Jangan sad ending ya thor 😦
    Wkwkwk

  16. paling suka ff kaya gini thor! Lanjutin sampe panjang yak

  17. penggambaran setting n susananya bagus unnie,
    walopun karakter sica ma yuri disni belum keliatan jelas,
    tapi aku rasa itu keren.. bikin reader jadi bertanya tanya 🙂
    lagian mungkin ini masih awal, aku belum bisa nangkep intinya,
    nah, untuk membantu saya biar cepet nangkep makna dari ff ni unnie,,
    cepet update yah,, wkwkwkw 😛
    ditunggu, selalu… 🙂
    fighitng unnie!!!

  18. ya ampunn…yulsic punya penyakit yg sama atau beda? *mksdnya sama” akan mati gtu?*

    wlaau belum nagkep critanya tp aku rasa aku sudah tau *sok tau*
    kekeke..

    ya ampun gmnm itu? @@

  19. Dana Muzticka said:

    wah akhirnya ada juga yg buat ff critanya kyak gini…
    uda lma aku nunggu…
    aku slalu brharap ada yg buat pmain nya kena penyakit dua2,,,,

    thanks thor…

  20. keren ceritanya….
    penasaran ma kelanjutannya
    ditunggu ff selanjutnya
    semangat 🙂

  21. kyaaaaa ,yulsic ,tapi sama” penyakitan T~T
    pas baca ini suasananya nyesek gitu ,hiks hiks T^T
    chapter 1 masih banyak menimbulkan(?) pertanyaan
    lanjut thor ,sepcepatnya~~
    hwaiting^^

  22. keren ceritanya,, bikin penasaran u,u
    next part ditunggu ^^
    mm..btw, ak mencium bau2(?) sad ending ini #plakk #sotoy wakaka

  23. aghhhhhhh….frustasi…keren banget nie ff…lanjut lanjut lanjut…└(^o^)┘

  24. YS_addict said:

    storynya bagus…tp bukan genben yah? yoweslah gpp,jd yulsic udh kronis ya penyakitnya. keajaiban datanglaaaah 😀

  25. sip-sip ditunggu lanjutanya thor!!! ^^

  26. lulu amanda said:

    jiah….yulsic jjang…

    lanjut thor…lanjut…..
    semangat…!!!

  27. Cimooonn, kpn2 pnjem novelnya donk. Keknya bagus deh.. 😀

    Critanya bnr2 suram.. Suram muram. Lengkap deh.. I like this.. Penuh misteri, tragedy banget.

  28. siLent_Reader said:

    masih bingung sama ceritanya .
    udah baca 2x tetep aja gg paham -.-

  29. Ya Tuhan…..sembuhkanlah mereka dari penyakit itu ….AMIN….
    #aku dah berdoa mudah2an gag mati deh . .

    lanjut thor

  30. YulSic penyakitan #durhaka
    yul appa kamu badung juga yahh -___- siapa ngajarin kamu ngerokok ?
    ini YulSic masih abg labil banget yahh wkwkwkwkwk
    tapi dicerita ini aku blom lahir kan thor ?
    hahahha

  31. emz kasian yulsic penyakitan
    gnih critanya bgs thor.

  32. seneng ada ff yulsic lagi tp ceritanya mereka sakit-sakitan gitu, sama2 parah lagi penyakitnya 😦
    tp bagus kok, temanya beda dari ff yang pernah kubaca 🙂

  33. Kungttadadak said:

    Ceritanya keren! Tapi agak serem… Kasian mereka pada sakit TwT *lanjut ke next chap*

  34. sica udah pasrah gtu menghadapi kematian

  35. Nyesek bangedd deh kayaknya nasib Sica ma Yul.. T____T

    Dari judulnya aja udah ketahuan pasti Sad story #sotoy banged deh saya hehe..

    Lanjut~

  36. sehidup sematikah?
    maaf thor baru baca
    maaf banget 😦

  37. yoesry said:

    author, req cerita panjang smpe brcapter2 tentang soosun, yg happy ending ya..

  38. Feel-nya dapet~ ceritanya bagus. baru pertama kali baca ff yulsic, ternyata seru juga,ya~ hehe 😀 hwaiting,thor!!

  39. gorjes spazer said:

    next chapternya kapan??ud maret 2013

  40. oke… sumpah demi apa gue udah pernah baca ini di FFNet udah lama bgt tp castnya bukan YulSic, gue jadi penasaran sama authornya -_-a

  41. detting tempatnya menakukan

  42. Hhmm yulsic cerita nya mereka sakit keras ya latar belakang nya rumah sakit sica sakit apa ya author

  43. Ternyata YulSic unnie disini dua-duanya sakit yah ?
    Hmmm, nggak papalah. Kayak kakak Maifate bilang, yang penting happy ending ^^ 🙂

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: