~Thank you for your comments~

Crimson Sacrifice (part 1)

A/N : Sebelumnya mianhae untuk yang menunggu cerita Locksmith, author pusing, jadinya cerita itu masih harus menunggu sampai selesai ujian. Kira-kira febuari tanggal belasan baru bisa update.
Cerita ini pernah kubuat sebelumnya dalam versi lain, jadi aku nggak banyak mikir :p
Lagu untuk cerita ini adalah Forever, sudah aku taruh di tengah-tengah cerita, mudah-mudahan pas 😀

Kuberi prolog sebagai pendahulu cerita agar lebih mudah mengerti.

Dahulu kala di sebuah kota terpencil hidup sepasang kekasih. Mereka saling mencintai. Tapi suatu hari sang kekasih perempuan jatuh sakit. Sakitnya sangat parah sampai-sampai para dokter setempat sudah angkat tangan. Akhirnya sang pria melakukan sebuah ritual untuk menyelamatkannya.
Ritual tersebut mengharuskan sang pria mengorbankan darahnya kepada sang dewa. Karena dewa tersebut haus akan darah. Perempuan itu tersembuhkan dari penyakitnya berkat pengorbanan sang pria, akan tetapi karena kekurangan banyak darah sang pria meninggal dunia.
Kemudian kisahnya menjadi legenda di kota itu.
Sampai satu abad ke depannya pun legenda itu masih hidup di kota itu sebagai tradisi. Dan dipercaya bahwa melakukan ritual berdarah-darah itu sama dengan pernyataan cinta. Ritual ini disebut dengan Crimson Sacrifice.
Sering juga orang-orang melakukannya hanya untuk sakit yang ringan.

……………………………………………
…………………………………

Yuri’s POV
“Yoona! Jangan kau korbankan dirimu untuk menolongku lagi“ pintaku sungguh-sungguh ketika kami sedang makan siang bersama di kantin.
Hari ini Yoona lagi-lagi mengorbankan dirinya dalam ritual crimson sacrifice. Akibatnya sekarang ada goresan sepanjang 5 cm di lengannya. Padahal luka-luka sebelumnya juga masih belum hilang.
“Hah? mwo? kau cinta padaku, Yul? Ah nggak heran, aku ini memang populer sih hehehe” ujarnya dengan senyum bodoh di wajahnya.
“Seriuslah sedikit, Im Yoona! Aku tahu kamu mendengar apa yang kukatakan!”
“Yeah yeah, habis aku harus gimana? Aku gak bisa diem aja ngeliat kamu menderita”
“Aku gak semenderita itu!” sergahku gusar.
“Oke oke! Jangan marah dong, aku cuma gak suka ngeliat kamu sakit-sakitan!”
Namaku Kwon Yuri. Sepupuku yang sebaya denganku ini namanya Im Yoona, mulai semester ini kami satu sekolah, sekelas, bahkan satu atap.
Sejak kecil tubuhku sering sakit-sakitan sampai sekarang. Mengetahui itu dulu Yoona sering melakukan ritual crimson sacrifice diam-diam tanpa sepengetahuanku, sampai sekarang pun masih ia lakukan ketika kami bertemu kembali. Tapi aku langsung tahu karena demamku atau sakitku hilang mendadak, dan sering mendapati luka di lengannya.
Kuraih tangannya yang tergeletak di atas meja dan meremasnya dengan lembut.
“Yoona, kamu itu seorang yeoja, kalau lukanya membekas gimana…”
“Ah, kalau pakai wristband kan gak masalah” sahutnya enteng seperti biasa.
Memang sekarang Yoona sedang memakai sebuah wristband di pergelangan tangan kirinya.
Aku menghela nafas. Percuma membujuk Yoona, dia itu keras kepala seperti batu.
“Kenapa kamu melakukan ini, Yoona…?” keluhku putus asa.
“Kan sudah sering kubilang, kalau aku tuh suka sama kamu”
Melihat keseriusan mata Yoona, aku jadi merasa bahwa Yoona bahkan rela mati demi aku.
Hhh, aku menghela nafas lagi. Satu-satunya cara adalah aku harus menjaga diriku baik-baik supaya aku gak gampang sakit, tapi itu susah karena bagaimanapun juga tubuhku ini bawaan sejak lahir.
Yoona mengutil sebutir takoyaki milikku, soalnya takoyakinya sendiri sudah habis.
“Yah!”
“Habis dari tadi kamu gak makan” ujarnya sambil menjulurkan lidah dengan jenaka, lalu memakan takoyaki jatahku.
“Dasar” kataku pura-pura sebal.
Kelakuan Yoona selalu membawa senyum di bibirku. Aku menyukai sepupuku yang tomboy ini.
_______________________________________________________________________________________________

Saat itu rumah sedang sepi.
Kriet
Aku membuka pintu kamar Yoona yang tidak terkunci. Nggak ada maksud buruk, cuma penasaran saja seperti apa kamarnya. Akhir-akhir ini aku jarang ke kamarnya, lebih sering dia yang datang ke kamarku. Sebuah silet di atas meja menarik perhatianku.
Aku mendekat dan mengambilnya. Mengelus permukaannya yang tajam dengan hati-hati.
Apa Yoona selalu menggunakan silet ini untuk mengiris dirinya sendiri?
Mendadak aku jadi ingin mencobanya. Ingin tahu seperti apa rasanya.
Jantungku berdebar nggak karuan ketika aku mendekatkan ujung silet yang tajam itu ke tanganku.
Deg deg deg
Pasti sakit…
Kuhentikan tanganku dan menjauhkan silet itu.
Tidak! Aku tidak bisa! Membayangkannya saja aku sudah ngeri!
Aku tidak berani melukai diri sendiri, kenapa Yoona bisa melakukannya?
Bukannya dia pasti tahu kalau sakit…
Apa dia memang seberani itu? Ataukah Yoona memang suka menyakiti dirinya sendiri?
Aish, aku tidak boleh berpikir seperti itu, pikirku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
Tapi tidak sengaja aku malah melukai jariku.
“Ah!” aku menarik jariku seperti tersengat.
Kriet
“Lho Yuri? Ngapain kamu di kamarku? Eh kamu terluka!” buru-buru Yoona menghampiriku dan menarik tanganku untuk memeriksa luka di jariku.
“Cu-cuma tergores kok”
Tapi dia malah mengemut lukaku.
“Yo-Yoona!”
Tentu saja aku kaget. Hal seperti itu hanya ada di film dan komik kan?
Setelah beberapa detik dia melepaskan jariku, “Jangan terluka lagi, Yuri…” bisiknya lembut.
Apaan
Padahal kamu sendiri sering terluka demi aku…
Aku memalingkan wajahku agar Yoona tidak melihat ekspresiku.
“Tunggu, kuambilkan plester”
Dia mengambil sebuah plester di lemarinya lalu membalut lukaku.
Tidak adil
Aku juga ingin bisa menolongmu Yoona…
…………………………………
Besoknya aku malah demam.
Setelah membantuku berbaring dan minum obat, Yoona menyambar tas dan menyelempangkannya di bahu. “Kalau begitu aku berangkat dulu”
“Tunggu Yoona!” aku menarik tangannya.
Mata kami saling bertatapan. Aku menarik nafas dan menatapnya dengan serius.
“Jangan melakukan crimson sacrifice, aku cuma demam, bukan hal besar.”
“Iya iya, aku tahu kok” ujarnya sambil melepaskan tanganku.
Meski berkata begitu aku tahu Yoona tetap bisa tidak mematuhi perintahku. Jadi aku menarik tangannya lagi.
“Please Yoona!” pintaku.
Dari sorot matanya sepertinya Yoona akhirnya menyerah.
“Oke oke aku janji, aku mau berangkat, telat nih!” lalu aku melepaskan tangannya, Yoona berjalan keluar dan menutup pintu.
Aku menghembuskan nafas dan kembali bersandar di bantal. Aku melirik boneka pemberian Yoona di samping bantalku. Aku mengambilnya dan memeluknya.
“Yoona Yoona… kau benar-benar keras kepala”
……………………………………
Untungnya keesokan harinya aku sembuh dan bisa pergi ke sekolah. Tapi aku tetap curiga.
“Yoona, kamu tidak melakukan ritual crimson sacrifice diam-diam lagi kan?” tanyaku sambil menyipitkan mata padanya.
“Nggak kok”
Aku menarik tangannya, menyingkirkan wrist band yang menutupi pergelangan tangannya. Memeriksanya apakah ada luka baru lagi atau tidak. Tidak ada. Tapi bisa saja dia melakukannya di bagian tubuh lain yang tidak terlihat oleh mataku.
“Sudah kubilang nggak kok! Kamu nggak percaya?”
“Percaya”
Setidaknya untuk kali ini aku memutuskan untuk mempercayainya.
“Tapi tatapan matamu itu seperti menuduhku” gerutu Yoona.
“Habis biasanya kamu tetap akan melakukannya walau sudah kularang”
“Kali ini benar tidak. Huh, aku marah nih”
“Ahaha, maaf maaf Yoona, aku benar percaya kok,” aku merangkulnya agar kemarahannya reda.
_______________________________________________________________________________________________

Jam istirahat.
“Yuri, kudengar kemarin kamu sakit, kamu sudah baikan?” tanya Minho khawatir.
“Aku sudah masuk sekolah kan?”
“Syukurlah, eh bagaimana kalau hari ini kuantar kamu pulang?”
“Gak usah, aku pulang bareng Yoona”
“Jangan gitu dong Yuri, beri aku kesempatan” dia menarik tanganku.
Aku mulai merasa jengah. Cowok bernama Minho ini sering mengejarku, padahal aku sudah memberi sinyal yang jelas bahwa aku tidak menyukainya dan tidak mau memberinya harapan tapi dia masih saja tidak mau berhenti mengejarku.
“Ajak aja cewek lain”
“Tapi aku cuma mau sama kamu!”
“Lepaskan!” aku membelalak kesal, berusaha melepaskan tangannya.
“Yuri, kamu tidak berperasaan!”
Sesosok bayangan merayap ke belakang Minho dan ia memelintir sebelah tangannya.
“Aduuuhhhh!!” pekik Minho kesakitan, pegangan tangannya padaku menjadi longgar sehingga aku berhasil melepaskan diri.
Dan sosok itu berdiri menengahi kami.
“Seharusnya sebagai seorang cowok, kamu bisa mundur dengan jantan setelah ditolak, tapi kamu malah memaksakan perasaanmu seperti ini…”
“Cowok macam kamu tidak akan pantas jadi pacar Yuri!” lanjutnya.
“Yoona…”
Sesaat Yoona terlihat begitu keren di mataku.
“Ck!” Minho melangkah pergi dengan kesal.
“Yuri, kamu gak diapa-apain sama dia kan?”
“Iya”
Yoona menarikku ke dalam pelukannya. “Syukurlah”
Di dalam pelukan Yoona aku selalu merasa aman dan nyaman…
Apakah aku menyukai Yoona?
_______________________________________________________________________________________________

Karena aku sering ditolong oleh Yoona setidaknya aku ingin memberinya sebuah hadiah.
‘Apa ya… hadiah yang bagus buat Yoona?’
Aku sedang berada di toko pernak-pernik, melihat-lihat perhiasan yang lucu-lucu.
“Ah jepitan rambut ini imut!” aku mengambil sebuah jepitan rambut berbentuk bunga.
‘Tapi Yoona itu kan tomboy, mungkin dia gak suka dengan benda yang imut seperti ini…’ pikirku kecewa.
Aku merasakan debaran yang hangat di dadaku ketika sedang memikirkan Yoona, lalu aku tersenyum.
Mungkin aku memang suka Yoona…

Keesokan harinya
Aku mengetuk pintu kamar Yoona.
“Nggak dikunci” seru Yoona dari dalam kamar.
Lalu detik berikutnya aku sudah memutar kenop pintunya dan melangkah masuk.
“Yah, Yuri ada apa? kok rapi banget?” tanyanya setelah melihat penampilanku.
“Yoona, kita kencan yuk?”
“Heh?” tanya Yoona memasang tampang bego.
“Jalan berdua, kencan”
“Oke, tapi ada apa tiba-tiba”
“Cuma pingin keluar aja, mau kan?”
“Oke” ujar Yoona sambil meletakkan bukunya dan bangkit dari kasur.
“Kalau begitu cepat siap-siap, aku tunggu di depan pertigaan”
“Eh? Gak bareng aja?”
“Kalau ketemuan diluar daripada berangkat bareng lebih terasa seperti kencan kan?” kataku sambil tersenyum.
“Ada-ada saja” Yoona tersenyum penuh pengertian. “Oke, tunggu aku ya”
“Ya”
Lalu keluar dari kamar Yoona dan kemudian pergi.
10 menit kemudian. Aku masih menunggu Yoona di pertigaan. Tapi ada seorang namja yang tegak di sebelahku yang membuat aku jadi jengah, soalnya dari tadi dia terus menanyaiku dan dekat-dekat aku.
‘Aduh Yoona, cepetan datang dong!’
Kali ini dia bahkan memegang pinggangku tanpa permisi.
“Lepaskan!” aku menepiskan tangannya. “Sudah kubilang aku sedang nunggu kekasihku!”
Kupakai kata ‘kekasihku’ supaya namja itu cepat menyingkir, tapi ternyata tidak. Dan namja itu terus saja membujukku dengan segala macam rayuan.
Tiba-tiba namja itu seperti terdorong ke samping. Begitu aku menoleh ke arah pendorongnya ternyata adalah Yoona. Yoona menatap namja itu dengan geram.
Namja itu menjadi marah dan bermaksud memukul Yoona.
“Awas!” teriakku.
Syut
Yoona menghindar dengan mulus. Tinjunya hanya mengenai udara. Dan dengan sebuah pukulan namja itu langsung jatuh berlutut memegangi perutnya.
“Jangan ganggu Yuri!”
“Uhh!”
Yoona terus menatap tajam namja itu sampai dia pergi.
“Yoona… kamu bisa bela diri?!” tanyaku antara terkejut bercampur heran.
“Gak kok”
“Terus kok kamu bisa ngalahin namja itu dengan satu pukulan?!” seruku masih belum bisa menghilangkan rasa takjubku.
“Aku gak memukulnya kok, aku hanya menggunakan ini” Yoona mengacungkan jari telunjuknya.
“Jari?”
“Yup. Aku menusuknya kuat-kuat dengan satu jariku. Aku pernah belajar di komik kalau semakin kecil titik pukulnya maka kerusakannya akan semakin besar, makanya itu aku hanya menggunakan satu jari saja sehingga kekuatannya akan jadi lebih terpusat. Seperti totokan, kira-kira seperti itulah.” Jelas Yoona.
Yoona
Lagi-lagi aku ditolong olehnya…
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Yoona naik ke motornya yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengikutinya, lalu kami berdua pergi.
“Mau nonton bioskop?”
Aku mengangguk. Berusaha menyembunyikan perasaanku.
“Jadi, mau nonton apa Yuri? Kamu suka romance kan?”
“Genre romance kayaknya menarik”
Aku dan Yoona memasuki gedung bioskop dan membeli karcis. Lalu kami mencari tempat duduk.
Begitu lampu dipadamkan, Yoona langsung mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku dan meremasnya dengan lembut.
Aku membalasnya meskipun harus menahan nafas karena gugup. Maklum aku belum pernah pacaran, apalagi yang ada di sebelahku adalah sepupuku sendiri yang sudah lama kukenal.
Dia mendekatkan tubuhnya padaku dan membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahuku. Konsentrasiku jadi buyar. Aku hampir tidak tahu lagi film itu bercerita tentang apa.
Dadaku terus berdebar-debar.
Setelah film selesai kami keluar dari gedung bioskop. Kemesraan itu masih kami bawa, kami saling bergandengan tangan. Tidak peduli kalau ada yang menatap kami dengan aneh.
“Masih terlalu sore untuk pulang, jalan-jalan keliling kota yuk?” ajak Yoona sambil menstarter motornya. Dia memberiku sebuah helm.
Aku mengangguk dan memakainya lalu membonceng di belakangnya. Sambil memeluk pinggangnya erat-erat aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Oke, pegang erat-erat” Yoona tersenyum dan menjalankan motornya.
Saat itu kupikir kebahagiaan ini akan terus berlanjut.
Tapi mungkin karena kami terlalu terbuai oleh kebahagiaan kami terlambat menyadari saat ada sebuah bis yang melintas ke arah kami.
!!!
………………………………
…………………………
………………………
Aku tersadar dengan kepala nyeri dan beberapa luka lecet di lenganku. Beberapa meter dari tempatku, aku melihat Yoona berlumuran darah. Mataku terpana. Tidak percaya melihatnya.
Yoona!!
Syok
Mendadak aku sadar
Baru saja dia sengaja menabrakkan dirinya demi melindungiku…
Karena kalau tidak biasanya yang terluka parah adalah yang duduk di belakang……………… bukan?
Tidak…
Yoona membuka matanya dan menatap mataku dengan lemah. Meski ramai mendadak sekeliling terasa begitu sunyi, hanya ada kami berdua. Seolah waktu sendiri telah berhenti. Meski jauh aku bisa mendengar suaranya yang memanggil namaku.
“Yuri…”
Aku membuka mulutku.
“Yoona…” ucapku dengan suara gemetar.
Yoona pasti kesakitan. Aku tidak tega melihatnya.
Di mata itu aku menemukan sesirat perasaan lega dan kasih sayang yang dalam padaku.
Air mataku menitik.
Kenapa sampai akhir aku selalu ditolong…
Aku menggigit bibirku. Meraih pecahan kaca yang tersebar di sekelilingku. Memegangnya terlalu erat hingga ujungnya yang tajam menusuk telapak tanganku. Dalam diriku mendadak timbul emosi yang yang tak dapat kujelaskan.
“Yoona… kamu selalu berkorban buat aku… kali ini gilirankulah yang berkorban untukmu…” aku merasa tubuhku menjadi panas dingin ketika aku mendekatkan benda tajam itu perlahan ke pergelangan tanganku.
Yoona yang melihat apa yang hendak kulakukan menjadi panik, “Jangan, Yuri! Hentikan!”
Tapi aku tetap tidak mengindahkan protes Yoona. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya bisa berteriak tanpa bisa berbuat apa-apa dari jauh.
“YURIIIIII!!!” teriaknya sekuat paru-parunya.
Akhirnya sekarang aku mengerti kenapa Yoona sering keras kepala walau sudah kuperingatkan semua itu karena…
“Yoona, aku sayang kamu…”
Kupejamkan mataku.
Aku heran darimana aku mendapat keberanian seperti ini, padahal tadinya aku sangat takut…
Aku tersenyum.
Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku… Yoona…
Sret
Aku merasakan sakit yang amat sangat. Darahku mengalir keluar dari luka yang kutorehkan. Seperti pelan-pelan membawa keluar kehidupan yang kumiliki…
Tapi tiba-tiba aku tidak merasakan apa-apa lagi. Segalanya mendadak lenyap. Gelap.
_______________________________________________________________________________________________


Ini mimpi buruk!
Tidak! Seharusnya tidak jadi seperti ini!
Tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Hanya bisa menyaksikan kejadian yang membuat hatiku menjerit. Lalu waktu terasa seperti berputar kembali.
“………………………………Yoona”
“……………………Yoona”
Samar-samar terdengar suara lembut yang memanggilnya.
“Hah?! Yuri, itukah kamu?!”
Yuri tersenyum.
“Syukurlah!” Yoona memeluk Yuri erat-erat. “Takkan kubiarkan! Takkan kubiarkan kamu meninggal Yuri!”
Sosok itu hanya terus tersenyum.
Tapi dari jauh terdengar suara-suara.
“Yoona unnie……………sadarlah……………………Yoona unnie!”
“Berisik! Siapa sih?! Jangan ganggu!”
“Yoona unnie, sadarlah!”
Kali ini Yoona benar-benar tersadar dari alam mimpinya. Ternyata yang sedang dia peluk adalah Seohyun, mantannya. Bukan Yuri.
“Yuri unnie sudah meninggal!” ujarnya sambil melepaskan pelukan Yoona.
Syok melanda dirinya.
“Itu mustahil… Tadi dia ada di sisiku kok”
“Aku bahkan bisa memeluknya…”
“Unnie…!”
“DIAMLAH!” bentak Yoona. Seohyun terenyak oleh suara Yoona yang meninggi.
“Aku gak mau percaya Yuri sudah tiada…” ujar Yoona dengan kemarahan meluap, sambil meremas seprai kasur. Air matanya mengalir dengan deras. Dia sedih sekaligus marah karena tak bisa berbuat apa-apa.
Kalau dia tahu akan begini jadinya, dia pasti akan mengajak Yuri untuk langsung pulang saja. Atau malah lebih baik tidak usah pergi saja.
“……………” Seohyun terdiam. Dia menatap Yoona dengan agak ketus, tidak peduli orang yang dicintainya baru saja meninggal.
Mungkin dia mendendam karena ditinggalkan sama Yoona tanpa alasan, dan masih belum bisa sepenuhnya menghilangkan perasaannya pada Yoona.
“Ini” Seohyun menjatuhkan sesuatu ke kasur tempat Yoona berbaring.
Sebuah kotak yang terbungkus dengan indah.
“Punya Yuri unnie, tertulis buat unnie, tapi sepertinya terlalu imut untuk unnie” kata Seohyun melangkah keluar kamar.
Sambil sesenggukan Yoona meraih kotak itu dan membukanya. Isinya sebuah gelang yang cantik.
Melihat kalung itu mendadak ia teringat kata-kata Yuri.
“Yoona, kamu kayak cowok, cobalah lebih feminin sedikit”
“Yuri……HUWAAAAAAAA!!!!!” pekik Yoona. Jeritannya terdengar sampai keluar kamar. Seohyun yang sedang berdiri di depan kamarnya ikut merasa sedih mendengar teriakannya.

*~To Be Continued ~*

A/N : Kalau ada yang merasa kurang jelas, silakan tanyakan saja, akan kujawab semampuku.

Advertisements

Comments on: "Crimson Sacrifice (part 1)" (32)

  1. yoonyul T_T….huaaaaaa,kenapa harus ada kematiannya….lanjut thor….daebak

  2. aduh. crimson sacrifice itu sebetulnya bikin aku inget sama aktivitas abege labil yang suka ngorek-ngorek tangan pake silet kalo lagi broken heart.. hahahaha..

    tapi di cerita ini jadi sedih ya, gak jadi alay lagi…

  3. Astaga… Kasian nya yoona…
    Akhirnya yuri emang harus pergi yah…

    YOONYUL!!!!!!!! I love this!!!!!
    Keren thor!!!!! Ini fairing langka, harus di budidayakan. Weleh, emangnya marga satwa…

    Thor, jgn lama2 update nya yah, aku tunggu lho…!!!!
    Fudanshi ALWAYS mode ON…
    Hihihi…

  4. huaaaaa…aotro jahat amat…ko kek gni..aku bancir air mata dr kemarin baca FF yg sedih trus hikss….*nangis dikolong meja*
    tp Nice FF 10 jempol buat author…
    update soon ya ^^

  5. YoonYul!!! ><
    udah lama gak baca ff tntg mereka. .
    kasihan Yoonanya di tinggal Yuri. 😦
    yoona yang kuat ya T________T
    tragis bener. . .
    seo unnie kasian dicuekin ama Yoona unnie 😦
    gapapalah unnie #eluseluspundakSeo

  6. lleea tackeyz said:

    yuriiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!! jgn mati donk . . . .gmn nasib yoona nanti????ku tunggu kelanjutannya thor . . ..mudah2an hanya mimpi buruk atau firasat saja….yoonyul!!!i like it. . .
    owh iya thor q minta pwnya locksmith chaptr 7 nya ya…krm k email atw fb q : triyuanitaelyawati@rocketmail.com . .. gumawo sblumnya. .

  7. huaaaaaaaaaaaaT.T
    yul meninggal.

    crimson sacrifice itu mitos daerah mana author?

  8. Youngie_bunny said:

    Kyaa aku ga kuat ngebyangin silet tangan ><
    yuri meninggal?? sabar ya yoona T_T
    lanjut thor

    • tp katanya awal silet tangan itu gak sakit kok, nyatanya kadang orng gak sadar dirinya sdh luka
      sakitnya mgkin beberapa detik setelah itu kalau coba dirasa-rasa
      Itu udh update kelanjutannya 😀

  9. Wah, aku penasaran . Gak bisa nebak alur ceritanya . Keren .
    Lanjutt,thor ! Semangitt *eh
    Semangatt !

  10. @kyungsee said:

    Ceritanya gak biasa!! *ngesok ke part berikutnya*

  11. Kungttadadak said:

    Waaaaa *ikut teriak kayak yoona* ceritanya bagus! Bagus banget padahal aku gasuka yoonyul .-. Kerasa feelnya aaaaaaa

  12. huah kok yul nya mate
    nangis kejer huah

  13. Hueeee……T_T
    Andwaeeee….Yul gak boleh mati,
    gak ridho….. ;(

  14. #meweeek:(:(:(#
    mereka berdua psangan yg aku sukai di snsd . knp hrus pisah ? :(:(
    tp seruuu 🙂 he

  15. MeeYoon said:

    aigoo knp ff nya kau buat sedih terus thor! Wae..? Wae?! T^T

  16. weits
    belajar dari mana tuh yoona bela dirinya?
    dri komik kungfu boy yak?
    –”
    sad ending
    sedih aku sedih
    😥

  17. shriesifanytastics said:

    telat jauh bgd ea coment:|
    sedih bgd ceritanya thor;(
    langsung lanjut akh..:)

  18. shyemlakkumaa said:

    ehh? Yurinya matii? yuri yg udah mati2an dijagain yoong mati??
    arrggghh.. Eonnii.. kau tegaa sekaliiii..
    huukkss,,
    ini beneran? bukan mimpi? aiishh..*galau..
    hiikss..
    huffhh……
    mending langsung kabur ke next chapter dehh yahh..~~

  19. oke gue pernah baca yg di ffnet tp gue lupa castnya siapa tp kalo ga salah sakura, hinata, ino eh tp kalo salah gomen hehehe ^^v

    • aku gak niru mana2
      adanya yg aku buat sendiri di fictionpress (bkn ffnet ya) tp karakternya bkn SNSD melainkan original karakter

  20. hennyhilda said:

    Maaf seohyun x ni aq menduakanmu dgn yoonyul 😦
    Salahin authornya seohyun huhuhu
    semangat author

  21. Ok, baru episod awal Yuri unnie udah meninggal aja.
    Next chapter!

  22. Yoonyul manis tuk dapat bersama.padahal baru ja dikataksn yoonyul abis kencan yg indah berduaan itu sweet ..ga rela thor yul nya uda sehat lg kasmarannya dgn yoong ..berharap da keajaiban tuk hubungan mrka 😟😭

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: