~Thank you for your comments~

I Hate You But I Love You

A/N : Pairing YulSic, just iseng aja, mudah-mudahan bagus bagi para pembaca ❤
rencana mau buat pairing lain tp ini selesai duluan deh~
Maaf, ada yang sudut pandangnya campuran, supaya pembaca lebih mengerti apa yang dipikirkan mereka 😀
Sebenarnya cerita ini sedikit mature, tapi tidak ada kata-kata yang benar-benar byun. Jadi tidak tahu apakah sebaiknya di proteksi atau tidak. Coba dibaca ya, bagaimana menurut kalian?

Jessica’s POV

Kalau mereka sedang membicarakan tentang cowok. Aku sering kali tidak tahu harus berkomentar apa.
Bukannya aku tidak tertarik dengan cowok.
Tapi sekarang aku sudah punya orang yang kusuka.
Yahh… meski dia itu cewek…
Lalu tatapanku berpindah pada Kwon Yuri yang duduk dua meter dariku.
Dialah orangnya.
Aku tidak bisa memandang orang lain selain dirinya. Bagiku dialah satu-satunya. Seluruh perhatianku hanya terpusat padanya.

**

“Yul, sebenarnya dari dulu aku menyukaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?”
Jessica menatap lurus ke dalam mata Yuri. Walau tubuhnya gemetar, ia tetap memberanikan diri menatapnya.
“Sica…”
Yuri mengangguk.
“Benarkah Yul?! Kamu mau menjadi kekasihku?!” tanyanya tidak percaya.
“Ya…”
“Uh…”
“Sica?”
“Yuwreeeeee!!!”
Yuri sedikit kaget dengan teriakan Jessica yang tiba-tiba. Jessica memeluk Yuri erat-erat.
“Senangnya! Yul, ini bukan mimpi kan?!”
“Sica bodoh, tentu saja bukan” Yuri memejamkan mata dan balas memeluknya.

Yuri’s POV

Aku terbangun, masih dengan mata mengantuk.
“Nggh… jam berapa sekarang?”
Aku memandang jam digital di samping tempat tidurku.
“Hah?! jam 9.58?! Gawat! Aku telat!”
Buru-buru aku bangun dari tempat tidurku, tidak sempat merapikannya.
Lalu berganti baju dan sedikit berdandan.
Aduh, mudah-mudahan aku tidak terlihat berantakan…
Kemarin… Sica dan aku resmi jadian. Hari ini aku dan Sica janjian kencan di taman jam 10.
Saat tiba di taman aku sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Disana aku melihat soerang gadis berambut coklat dengan style sangat keren sedang duduk menungguku dengan gaya yang enak dilihat. Kuperhatikan semua orang yang melewatinya pasti melihat ke arahnya, baik cowok maupun cewek.
Dia pacarku…
Deg
Entah kenapa aku merasa sedikit bangga dan senang
“Yul” Sica memanggilku dengan mesra.
“Maaf, aku telat!”
Tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat kesal.
Dia menggenggam tanganku dengan lembut.
“Demi kamu berapa jam pun kutunggu”
“Sica ah…”
Dan kemudian kami berjalan-jalan saja. Tidak ada tujuan. Kami sudah puas hanya dengan merasakan kehadiran satu sama lain.
“Taeng dan Fany punya aksesori kembaran, jadi kupikir kenapa kita tidak”
Sica merogoh sesuatu dari sakunya.
“Jeng! Aku beli couple ring!”
“Nah, Yul, kemarikan jarimu”
“Ah”
Jantungku berdegup kencang saat Sica memegang tanganku dan memasukkan cincin itu di jari manis kiriku.
“Yul, maukah kau memakaikannya padaku?”
Lalu aku memasangkan cincin itu di jari manis kirinya.
“Hehe sekarang kita sepasang” Sica tersenyum bahagia.
Aku memandang cincin di jari manis kiriku itu, ada secercah perasaan bahagia yang sulit dijelaskan merayap di hatiku.
“Yul…”
Sica mengecup bibirku lalu memelukku dengan mesra.
“Saat ini aku merasa sangat bahagia”
“Sica…”
Pertama kalinya ada yang berkata seperti itu karena kehadiranku di sisinya.
Rasanya hatiku mencair saking bahagianya.
_________________________________________________________________________________________________________

“Pagi” sapa Jessica.
“Pagi Sica” jawab Taeyeon.
“Pagi unnie” jawab Seohyun.
“Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini Jessica unnie tampak lebih ceria ya”
“Padahal Sica dulu lebih dingin, dan kayaknya sulit didekati.”
“Jessica the ice princess, tampaknya es di hatinya sudah mencair” ujar Sunny.
_________________________________________________________________________________________________________

Jessica dan Yuri menghabiskan waktu berdua di sebuah cafe. Mereka bercanda sambil mengobrol. Suasana cafe yang remang-remang dan lantunan suara musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis.
Setelah itu mereka pulang ke apartemen Jessica. Hati mereka masih terbawa oleh suasana romantis di café tadi.
Yuri langsung memangut bibir Jessica. Dan Jessica membalasnya dengan penuh nafsu.
Selama beberapa menit mereka saling berciuman dengan penuh gairah. Tangan Yuri meraba paha Jessica yang memakai mini skirt.
“Ah… Yul…”
Tangan Jessica juga meremas-remas dada Yuri.
“Sica… kita lanjutkan di kamar ya”
“Mm”
_________________________________________________________________________________________________________

Di kamar keduanya sudah dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjang.
Tangan Jessica membelai pipi Yuri, lalu turun ke leher, dada dan perutnya. Kulitnya terasa sangat lembut dibawah sentuhan jarinya.
“Sica… ini pertama kaliku…”
“Benarkah Yul? Karena ini pertama kaliku juga” sahut Jessica senang.
Lalu kemudian mereka saling berciuman.
*SKIP SKIP SKIP
Mereka masih berbaring tanpa mengenakan pakaian. Jessica memandang kekasihnya dengan mesra. Jari-jarinya memainkan rambut Yuri yang panjang. Yuri tersenyum manis.
“Semoga… kita bisa terus bersama selamanya seperti ini Yul…”
Yuri mencium tangan Jessica.
“Ya Sica… kita bersama selamanya…”
_________________________________________________________________________________________________________

“Ada apa oppa?”
“Maafkan aku Yuri…”
“Eh?”
“Sebenarnya sejak aku menolakmu saat itu aku selalu menyesal dan aku baru sadar… kalau sebenarnya aku juga menyukaimu Yuri…”
Jantungku terhenti sejenak.
“Jadi emm… kalau bisa aku ingin kamu menjadi pacarku”
Aku tidak percaya ini!
Yunho oppa yang sangat kucintai sekarang berada di sini memintaku untuk menjadi pacarnya, padahal dulu dia pernah menolakku!
!!
Lalu mendadak pikiranku kembali pada Sica.
Aku sangat senang.
Tapi bagaimana dengan Sica…
Aku tidak pernah menceritakannya pada Sica. Sebenarnya oppa adalah cinta pertamaku yang sampai saat ini tidak bisa kulupakan.
Perasaanku pada oppa kukunci rapat-rapat dalam hatiku karena aku tidak mau menyakiti hatinya.
Yuri menggigit bibirnya.
“Maaf, beri aku waktu…”
Aku tidak bisa menolak oppa…
_________________________________________________________________________________________________________

Tiga hari kemudian.
“Sudah musim dingin, cepat sekali ya” ujar Jessica sambil memandangi salju-salju putih yang menumpuk di pinggiran.
“…………………”
“Kamu kedinginan?”
Jessica menggenggam tangan Yuri, sentuhan tangannya terasa hangat.
“Yul, bagaimana kalau kau pindah ke apartemenku saja? kita bisa hidup bersama”
“…………………”
Jessica memperhatikan Yuri, sepertinya dia tahu ada yang dicemaskan.
“Yul? Kau kenapa?”
Dengan segenap kemampuannya akhirnya Yuri mengatakannya.
“Sica… lebih baik kita putus saja…”
Kalimat itu membuat syok Jessica lebih dari yang Yuri kira.
“Eh?!”
“Maafkan aku, aku hanya sedang kalap, waktu kamu menyatakan cinta padaku, aku habis ditolak oleh Yunho oppa, kupikir dengan jadian denganmu, aku bisa melupakan oppa tapi ternyata tidak”
Yuri menangis.
“Sampai sekarang…! aku masih tidak bisa melupakan oppa…”
“……………”
“Aku sudah janji… akan pindah dengan Yunho oppa”
“……………”
“Sica… maaf”
Jessica mengepalkan tinjunya.
“Apaan itu… kupikir selama ini kau juga mencintaiku… jadi… aku cuma sebagai pelampiasan ya…”
“Rasanya seperti orang bodoh saja, senang sendiri”
Tubuhnya gemetar hebat, air mata demi air mata mengalir di pipinya.
“Sica…”
Yuri menyentuh tangan Jessica.
PLAK!
Jessica menyentakkan tangan Yuri dengan kasar. Yuri menjadi syok.
“Aku tidak mau dengar lagi…”
“Cukup sudah! Jangan menyakitiku lebih dari ini!”
Jessica berlari pergi.
“!!”
Hari itu… di tengah hujan salju. Sosoknya berlari meninggalkanku.
Baik ekspresinya
Air mata
Kata-katanya
Dan pemandangan saat itu… selamanya tidak akan pernah kulupakan…

**

PRANG
“Ahhhh!” dengan sengit Jessica menyingkirkan barang-barang di atas meja.
BRAK BRUK
BRET BRET
Menarik gorden dengan kasar
Nafasnya terengah-engah. Perlahan kemarahannya mulai mereda.
Lalu Jessica membenamkan dirinya di tempat tidur. Meremas seprai sekuat tenaga sampai ujung jari-jarinya memutih.
“Aku benci… aku benci kamu Yul!”

**

“Yuri”
“Oppa…”
Yunho memeluk Yuri.
“Aku sangat senang kau memutuskan untuk tinggal bersamaku.”
Yuri masih kepikiran tentang kejadian tadi. Bayangan akan wajah Jessica kembali terlintas.
“Mm”
Yuri memejamkan matanya, berusaha melupakan kejadian menyakitkan tadi untuk menyambut kebahagiaan baru.
_________________________________________________________________________________________________________

Dua tahun kemudian.
“Yuri…”
Aku segera menyambutnya yang baru pulang dari kerja.
Dia mencium bibirku.
Matanya memandangku dengan gairah. Aku tahu apa yang diinginkannya. Aku membiarkan oppa menggendongku seperti tuan putri. Dia membaringkanku di kasur dan mulai melucuti pakaianku dan pakaiannya.
Aku memejamkan mataku dan menerima apa yang diberikannya.
“……………”
Belaian oppa kasar tidak seperti dirinya…
Sica… tangannya yang lembut membelai tubuhku… mengantarku menuju klimaks…
…………………………………………
“Aku puas sekali Yuri, bagaimana denganmu?”
Aku hanya mengangguk sambil memejamkan mataku rapat-rapat, takut oppa dapat menerka ada orang lain yang baru saja hadir dalam pikiranku.
_________________________________________________________________________________________________________

Keesokan harinya.
“Kalau begitu aku berangkat Yuri” dia mengecup keningku. Lalu aku melambai kecil padanya saat dia berjalan keluar.
Hening seketika.
Tidak bisa kupercaya…
Setiap kali sedang bercinta dengan oppa, malah Sica yang terlintas dalam pikiranku!
Tidak… bukannya aku merasa tidak puas.
Sepertinya memang benar, tidak peduli berapa lama kau pasti akan selalu teringat dengan siapa kau melakukan pertama kalimu.
Tapi kenapa…
Air mataku meleleh.
Kenapa aku begitu merindukannya…
Terbayang kembali hari-hariku yang meski singkat tapi menyenangkan bersama dengan Sica.
Kenapa sekarang… aku malah ingin bertemu dengannya…
Apa aku sudah bosan dengan oppa? Sedangkal itukah cintaku padanya?
Sejak saat itu sudah berlalu dua tahun. Aku tidak pernah bertemu dengan Sica lagi. Dia juga tidak pernah mengontakku lagi.
Waktu itu Sica menangis.
Aku sudah terlanjur menyakitinya. Dan aku tidak pernah bisa melupakannya.
Aku melihat cincin di jari manis kananku.
Agar tidak dicurigai oppa, aku memindahkannya ke bagian kanan. Hingga kini aku tidak pernah melepaskannya.
Sica…
Aku mengecup cincin itu. Mataku terasa perih.
Aku mencintainya! Aku mencintainya lebih dari aku mencintai oppa!
Tapi hubungan kami… sudah tidak mungkin bisa kembali lagi… sesalku.
_________________________________________________________________________________________________________

Dengan lesu aku segera bersiap-siap untuk berangkat kerja part time. Aku bekerja di sebuah café sebagai pelayan. Café yang dulu pernah kudatangi.
Tiap kali datang aku akan selalu melihat ke bangku itu…
Tempat dimana kami saling berpandangan dengan mesra.
Tak ada satu katapun yang terucap, seolah semuanya sudah tersampaikan hanya melalui pandangan mata dan genggaman tangan.
“Tolong antarkan ke meja nomor 5”
“Baik”
Aku mengangkat nampan berisi dua ice coffe yang diberikan padaku.
Itu adalah meja kenangan kami.
Oh coba kalau bisa… aku rela memberikan apapun untuk mengembalikan hubunganku dengannya…
Bagiku seluruh dunia tak ada artinya lagi tanpa Sica.
Dan saat itu aku tertegun.

Jessica’s POV

Seorang cowok random yang akhir-akhir ini tertarik denganku. Aku bahkan tidak hapal nama panjangnya. Dia terus mengejar-ngejarku. Kali ini pun dia membawaku ke sebuah café untuk sekedar minum-minum sambil ngobrol. Saat aku menginjakkan kaki di café itu terlintaslah kenanganku bersama dengannya. Apalagi cowok ini mengajakku duduk di meja nomor 5.
“Terus mantanku itu…”
Dari tadi dia terus saja membicarakan soal mantannya.
Tahu nggak sih, kalau cewek itu paling bete denger cowok cerita soal mantannya. Seharusnya kalau kau ingin memikatku, carilah topik lain yang lebih menarik!
“…………………”
Ah seandainya… yang ada di depanku bukan cowok ini tapi Kwon Yuri…
Ah tidak tidak! Mikir apa sih aku! aku kan membenci Kwon Yuri!
Benar! Aku harus melupakannya dan move on!
Toh sekarang dia pasti sedang bersenang-senang bersama dengan cowok sialan itu! Dia nggak mungkin ingat aku lagi!
“Hei Jessi kau dengar tidak sih?”
“Iya iya”
“Jadi minggu besok nanti kau ada waktu?”
“Maaf, besok aku mau istirahat.”
Terus terang aku sama sekali tidak tertarik menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
“Jangan begitu dong, masa kamu mau sendirian seharian? Nggak kesepian apa?”
Dia memegang tanganku.
“Hei lepasin!”
Saat itu aku lengah, dia mengambil kesempatan untuk mencuri bibirku.
“!!”
Dan lebih terkejut lagi, aku melihat dia berdiri di samping meja kami.
Kwon Yuri?!
“………”
Situasi apa ini.
Setelah dua tahun, kenapa kami malah bertemu dalam situasi seperti ini…
Yul tersenyum lalu ia menaruh pesanan kami.
“Maaf menunggu, dua ice coffe ya, silakan dinikmati”
Lalu setelah itu ia berjalan pergi.
……………
Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah
Jadi dia sama sekali tidak menganggapku ya…
Mungkin baginya aku hanyalah masa lalu yang sudah dilupakannya.
Hatiku terasa perih.
Perasaan yang sering kurasakan ini muncul kembali. Padahal sudah berlalu dua tahun…
“Aku mau pulang” kataku bangkit berdiri.
“Eh? Lalu besok gimana?”
“Maaf, aku ingin waktu untuk sendiri”
Aku berjalan menuju pintu keluar, tak sengaja berada di belakangnya.
Model rambutnya, cara berjalannya, dia sama sekali tidak berubah.
Tidak, aku tidak mencintainya lagi!
Bagiku Yul juga cuma bagian dari masa laluku.
Benar, sekarang kami adalah orang asing.
Lalu aku melihat Tiffany yang juga salah seorang pelayan berjalan ke arahnya sedang membawa minuman, dia terpeleset.
“Kyaa!”
Refleks aku maju untuk menyingkirkan Yuri.
“eh?”
CUURR!!
“!!”
Lenganku tersiram teh panas itu.
Aku memegang lengannya, “Kamu nggak kena kan?!” tanyaku padanya.
“Eh… ah.. aku baik-baik saja”
“Ukh…!” aku melepaskan lengannya dan memegangi lenganku yang tersiram.
“Sica!” dia menyentuhku.
Aku menyentakkan tangannya. Lalu membalikkan badanku.
“Aku bukannya mau nolong kamu kok…”
“Ma-maaf, sini kubasuh air” kata Fany merasa bersalah.
“Nggak usah, bukan hal besar, aku mau pulang”
Lalu aku berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Yuri’s POV

Aku kaget sekali, tiba-tiba melihat Sica sedang berciuman dengan seorang cowok.
Sama sekali tidak akan menyangka kalau aku akan melihatnya di café ini.
Bodoh… sudah dua tahun.
Sudah pasti Sica sudah menyukai orang lain kan.
Pasti dia tidak ingin melihatku lagi.
Aku tersenyum bisnis dan menaruh pesanannya.
Sebenarnya aku cemburu…
…salahku sendiri.
Aku tidak boleh mengganggunya lagi.
Saat aku sudah menjauh darinya.
PRAK!
“eh?”
Kulihat nampan yang kupegang telah patah menjadi dua.
“A-apa yang kamu lakukan Yul?! Aku tahu kamu lagi kalap tapi jangan sampai matahin nampan dong!” seru Yoona, rekan kerjaku.
“Ma-maaf”
“……………”
Saat itu aku tidak melihat, tiba-tiba dia berada di depanku. Aku kaget sekali saat dia mendorongku menyingkir.
!!
Tiffany menumpahkan teh panas.
“Kamu nggak kena kan?!”
“Eh… ah.. aku baik-baik saja”
Lalu aku melihat Sica memegangi lengannya dan kesakitan!
“Sica!”
Dia menyentakkan tanganku dengan kasar.
Dia memang membenciku…
Tiffany yang tidak sengaja menumpahkan teh panas itu berkata.
“Aduh maaf sekali! apa Sica tidak apa-apa? padahal tangannya kesiram teh panas begitu”
Aku memandang punggungnya yang menjauh.
Sica…
_________________________________________________________________________________________________________

Di apartemen.
Jessica menekuk lengan bajunya dan memandang kulitnya yang memerah, bekas tersiram teh panas tadi.
“Huh… kenapa aku malah melindunginya.”
Ting Tong
Terdengar bel pintu berbunyi.
Jessica berjalan ke arah pintu dan membukanya dan terkejut.
“?!”
Yang berdiri di depannya benar Kwon Yuri, bukan Yoona atau orang lain.
“Anu… maaf tiba-tiba”
“Tadi terima kasih sudah melindungiku. Tanganmu pasti luka, jadi tadi aku belikan obat.”
“Gak kok, pulang sana!”
Yuri melihat lengan Jessica yang memerah yang berusaha disembunyikannya.
“Gawat, harus cepat diobati”
Jessica menyingkirkan tangan Yuri dengan kasar.
“Jangan sentuh! Gak ada hubungannya denganmu, aku cuma sedang sial saja! Sudah kusuruh pulang kan?!”
“Ada hubungannya! Kamu luka gara-gara aku!”
“Berisik! Cepat pulang sana!” Jessica mendorong Yuri keluar. Tapi tangannya terhenti ketika melihat ekspresi Yuri yang seperti mau menangis.
“Aku khawatir… aku nggak bisa pulang”
“Aku tahu Sica membenciku sampai tidak mau melihat wajahku lagi… tapi setidaknya kumohon… biarkan aku merawat lukamu.”
“………………”
“Ck! Ya sudah kalau begitu cepatlah!”
_________________________________________________________________________________________________________

Di ruang tamu mereka duduk di sofa, Yuri mengobati lengan Jessica. Jessica memalingkan wajahnya sambil berpangku tangan.
Sepertinya sakit… kulitnya merah sekali…
Gara-gara melindungiku…
Yuri memerban luka Jessica dengan hati-hati. Saat Yuri sedang mengobatinya sesekali Jessica melirik ke arahnya. Wajahnya sedikit memerah melihat kecantikan Yuri dari dekat. Jantungnya juga sedikit tidak tenang.
“……………………………”
“……………………………”
Yuri mengelus dengan hati-hati tangan Jessica yang kini telah selesai diperban.
Meski sudah selesai Yuri tidak mau beranjak pergi. Akhirnya dia mengutarakan keinginannya.
“Sica… sebenarnya aku……… ingin kembali denganmu…”
“……………………” Jessica berpaling dan menatap Yuri dengan dingin.
“Lalu bagaimana dengan oppamu itu?”
“………aku akan putus dengannya…”
“Heee~ jadi begitu. Setelah kau menyakitiku sedemikian rupa sekarang kau malah ingin kembali denganku” ejek Jessica dengan nada sinis.
Yuri terpaksa harus menelan pahit. Dadanya terasa sangat sakit. Tapi dia merasa dia pantas menerima semua itu.
Dua tahun yang lalu Yuri telah sangat menyakiti hati Jessica. Karena itu lebih baik dia menerima segala ejekan dan makian dari Jessica.
“Boleh saja, tapi ada dua syaratnya.”
“Syarat?”
Jessica menatap Yuri sambil tersenyum keji, “Besok kamu harus datang ke taman waktu itu jam 10 tepat, tunggu aku disana”
Jantung Yuri kembali berdebar, dia teringat akan kejadian dua tahun yang lalu. Saat kencan pertama mereka sebagai sepasang kekasih.
“Kalau kamu bisa menyanggupi syaratku baru bisa kuputuskan akan menerimamu kembali atau tidak.”
Yuri merasa ada secercah harapan.
“Te-terima kasih Sica, maafkan aku…”
_________________________________________________________________________________________________________

Mixed POV

Keesokan harinya di taman jam 10 tepat.
Sip, kali ini aku tidak telat lagi. Malah sepuluh menit lebih cepat.
Sekarang tinggal menunggu Sica.
…………………………………………………
Detik-detik berlalu.
Aku bersandar di kursi dan menatap ke langit.
Sica lama sekali…
Sudah tiga puluh menit…
Inikah yang dia rasakan waktu dia menungguku hari itu…?
Plok
Aku merasakan sesuatu yang dingin menempel di topiku. Aku mencoba menyentuhnya, dingin.
“Salju…”
Lalu aku mendongak ke langit.
Turun salju… sama seperti hari itu
Saat itu Yuri tidak sadar bahwa sebenarnya Jessica sedang mengawasinya tak jauh dari situ. Berada di dalam kafe, sedang minum teh hangat.
Paling kamu cuma akan menyakitiku lagi Yul
Huh rasakan, tetap tunggu saja aku disitu, karena berapa lamapun kau tunggu, aku tidak akan datang!
Lalu kemudian kamu akan sadar bahwa kamu sudah ditipu!
Inilah pembalasanku!
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Yuri masih berada di luar di tengah hujan salju, sedangkan Jessica berada di dalam dengan kehangatan dari café.
…………………………………………………
Hei hei… yang benar saja… mau sampai kapan kamu menunggu disitu?! ini kan sudah tiga jam!
Kwon Yuri! Harusnya kau sadar dong kalau sudah ditipu!
Yuri memeluk lengannya berusaha mencari kehangatan yang tersisa di tubuhnya. Tubuhnya menggigil.
“Sica…”
Cepatlah pulang Yul, karena Sica yang kau tunggu itu tidak akan datang menemuimu!
“………………” dia menghembuskan nafas hangat beberapa kali ke tangannya.
Yuri beranjak bangun.
Bagus, pulang sana.
Eh?
Yuri berjalan menuju ke kafe ini!
Waa
Buru-buru aku memakai kaca mata hitam dan menyembunyikan wajahku dengan majalah yang kupegang. Lalu aku mendengar suaranya.
“Maaf, bisa pinjam toilet sebentar?”
Heh?
Lalu kemudian Yuri masuk ke toilet. Dan tak lama kemudian dia keluar, mengucapkan terima kasih dan keluar café. Lalu kembali duduk disana. Menungguku…
“……………”
Tidak mungkin…
Kenapa kamu…
Padahal kamu sudah menggigil seperti itu…
Ck! Kalau begini aku yang jadi terlihat seperti orang jahat!
Aku meninggalkan bayaran untuk minumanku dan segera berjalan keluar café dan menghampirinya. Aku berjalan pelan-pelan ke arahnya sambil memasukkan kedua tanganku di jaketku.
Yuri sedang memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar kedinginan.
“Yul”
Dia mengangkat wajahnya. Kulihat bibirnya sudah membiru akibat dingin.
“Akhirnya… kamu datang Sica… sudah kutunggu dari tadi” dia tersenyum.
Aku menggeretakkan gigiku dengan kesal.
“Kamu bodoh apa?! mana ada orang yang menunggu selama itu! apa kamu tidak sadar kalau kamu sedang dibohongi?!”
“Dibohongi…?”
Aku memelototinya, Yul tampak tidak mengerti.
“Tapi… bukannya Sica datang?”
Nafasku tersangkut di tenggorokan. Dadaku terasa sakit mendengarnya.
“Aku percaya Sica tidak akan ingkar janji… nyatanya meski telat, Sica tetap datang kan?” dia tersenyum lemah.
“!”
“Bukannya Sica pernah bilang… aku juga sama, demi Sica berapa lama pun aku rela menunggu…”
Kemudian setelah itu ia ambruk.
“Yul!” aku segera memeluknya.
“Wah panas sekali! kamu demam!”
“Hahh………… Sica…………”
Aku menjadi kesal.
Gadis ini… benar-benar bodoh.
Tapi aku sayang dia.
Aku menggendongnya dan pergi mencari taksi.
Di taksi aku melepas jaketku dan menyelimutinya lalu memeluknya supaya dia tidak kedinginan.
Sepuluh menit kemudian kami sampai di apartemenku.
Kubaringkan dia di kasurku. Lalu pergi mengambil obat demam dan segelas air.
“………sica……… sica………”
Dia mulai mengingau namaku dengan suara parau.
“Nih minum obatnya!”
“Nggh…”
Aku mendorong pil itu masuk ke mulutnya, tapi lalu ia memuntahkannya lagi.
“Ck! Apa boleh buat!”
Ia membuka matanya, memandangku dengan tatapan lemah, “Sica…”
“Tutup matamu! Aku benci kamu tahu!”
Aku memungut obatnya lalu menenggak air. Dan mendekat ke wajahnya.
Aku menutup kedua matanya dengan salah satu tanganku dan kemudian mencium bibirnya. Memasukkan obat itu melalui mulut.
Aku membiarkan bibirku tetap melekat di bibirnya sampai mendengar dia menelan obatnya, lalu baru melepasnya.
Dia memandangku sesaat, lalu perlahan-lahan kelopak matanya menutup. Dia tertidur. Aku duduk di sampingnya.
“Huh! Kenapa aku malah jadi mengurusnya!”
Aku memandangi wajahnya yang sedang tertidur.
Padahal aku tidak mau melihatnya lagi, tapi kenapa sekarang dia malah muncul di hadapanku.
Dia sudah membuat hidupku berantakan!
_________________________________________________________________________________________________________

“Sica…”
Yuri terbangun dan mendapati Jessica duduk di tepi kasurnya.
“………………”
Yuri duduk, matanya memandang dengan penuh keinginan sosok Jessica yang memunggunginya.
“………saranghae Sica… saranghae…”
“Selama dua tahun ini aku selalu menyesal…”
“Apakah hubungan kita sudah tidak bisa kembali lagi?”
Yuri berjuang menahan tangis. Jessica berpaling menatapnya.
“Kamu masih belum menyanggupi syarat keduamu”
“Apa itu…?”
“Syarat kedua adalah”
Jessica mendorong Yuri ke ranjang. Dan menahan kedua tangannya.
“Kau harus membayarnya dengan tubuhmu”
Jessica mengoyak kemeja yang dipakai Yuri hingga kancing-kancingnya berterbangan.
“!!”
Lalu mencium bibir Yuri dengan paksa.
“Ngg!!”
Tubuh Yuri gemetar.
Kasar… takut…
Ini… bukan Sica yang kukenal.
Sica yang kukenal sangat lembut dan dia tidak akan memaksa seperti ini
Rasanya seperti… dia kembali menjadi dingin…
Tapi… ini semua gara-garaku.
Aku yang telah membuatnya berubah seperti ini

Jessica’s POV

Buktikan kalau kata-katamu bukan sekedar bualan!
Aku muak dengan dirimu yang mempermainkanku!
Kutelanjangi dirinya, kucium bibirnya dengan paksa hingga dia kesulitan bernafas. Kumasukkan jariku dengan kasar hingga Yul mengerang kesakitan.
Meskipun kusakiti tapi dia malah berkata.
“Tidak apa-apa Sica… perlakukan saja aku sesukamu…”
Kenapa… kalau kamu sudah bilang begitu… aku…!
Aku menangis.
“Sica…”
“Aku benci! Aku benci kamu!”
Lalu Yul memelukku.
“Tapi aku mencintaimu Yul! Tanpamu rasanya aku bisa gila!”
Yul menenangkanku, dia mengelus-elus punggungku.
Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
“Saranghae Sica… maaf… aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi…”
_________________________________________________________________________________________________________

Yuri’s POV

Setelahnya aku memutuskan Yunho oppa.
“Kenapa Yuri?! Apa ada yang kulakukan yang membuat kamu kecewa?!”
Aku membungkukkan badan, “…maafkan aku oppa, sebenarnya aku menyukai orang lain… dan aku baru menyadarinya…”
“Maafkan aku… terima kasih…”
Aku menarik koperku menjauh.
Aku akan tinggal bersama dengan Sica di apartemennya.
Kali ini aku yakin aku tidak akan menyesal dengan pilihanku.

*~The End~*

Advertisements

Comments on: "I Hate You But I Love You" (24)

  1. Namaste…
    hwaaahh gilaaa…!!!!!
    Ternyata yul beneran nekat yah, wkwkwkwk… Salut buat yul, tapi kasian jg sih yuri nya, ah enggak ding, sica yg kasian. Wah gmna yah sama2 kasian, aku bingung,wkwkwkwkwk…
    Bagus ceritanya author, i like this… Walaupun aku ga sberapa suka fairing nya, hehehe tapi, at all ceritanya bagus thor…
    Kutunggu karya selanjutnya thor, n jgn lupa fairing yg laen yah. Wkwkwkwk

    btw, gambar yulsic yg paling atas bagus bnget thor…

    Semangat…!!!!

  2. Ih… YulNya Jahat Banget Sih~
    Enak Banget Mutusin Orang Kayak Gitu, Kasian SicaNya *gigit bantal*
    Tapi Untunglah Berakhir Dengan Happy Ending! Yey..! 😀

    Ditunggu Next eP-ePnya! Fighting! 🙂

  3. Annyeong new readers here 😉
    Uwaahhhh ff nya keren chingu akhirnya yulsic bisa bersatu kembali^^
    Ditunggu ya ff yulsic yang lainnya!!
    Fighting!!!!

  4. aku bingung siapa yang jahat dan siapa yang kasihan… adil ah untuk sica sama yuri akhirnya bersama juga….. saranghae yulsic!! sebaagi adik ipar dan fans kalian aku mendukung dengan 360 derajat kebulatan hatku…….. eh..eh.. ??

    semagnat!

  5. wah. .pdhl aku udh penasaran dari awal mana bagian yg nyeritain ada yg bakal benci. .
    coz dari awal ceritanya udh baik2 aja apalagi mrk udah ‘tiiiiit’ di apartemen. .
    ternyata oh ternyata krn Yunho -,-
    Yuri emg jahat sih dan mnrtku sica trlalu baik bsa nerima lagi.
    Love power YULSIC. . ><

    yulsic jjang !!!!

  6. Choi soora said:

    Wah , so sweet ya. Meskipun awalnya sling benci tapi endingnya juga saling cinta. Daebak unnie. Hwaiting

  7. Yeaahh,,apa ya,,saya bngung,,tpi daebak lah,bneran keren,,!!!
    Tpi pas wktu Yul berbuat ma Yunho,agk sdikit gak rela saya,,*kokBisa hhee
    Tpi untung d pkirannya hnya ada sica,,!!!wkwk
    Tpi Bneran Happy ending,,
    Suka,,suka,,sukaaaaaa….

  8. wah hebat nih FF-nya…
    izin copy thor…

  9. ckck… Yul gampang banget mutusin sica… terus pacaran sama yunho sampe nglakuin *uhuk dan giliran udah bosen sama yunho minta balik sama sica, ckckck

  10. blue ocean said:

    annyeong author,aq new reader..
    melted berat sm chapter ini
    mana sambil dengrin time machine sm all my lov for you lg..
    hua hua hua
    sebenarny uda baca sbagian besar karya author tp ragu utk komen mianhae..
    tetap berkarya!!!

    • Kalau begitu sering sering lah beri komentar mulai skrng 🙂

      • blue ocean said:

        ssiiiaaapppp…
        huuuaaaa author minta pasword. itu bisa utk semua ato perchapter beda?? dl pertama baca langsung loveless.. shock berat smp ketagihan.. gomawo

      • Beda
        Udh dikirim ke emailmu

        Oh haha soalnya karakter Sunny disitu unik wkwkwk

        Author msh bakal lanjutin bikin ff, hanya saja bakal hiatus setidaknya smp febuari

  11. blue ocean said:

    ga ada emailny author.. hikz hikz mau buka yg saengil cukhae hamnida sunny.. hiks.. ato d email satuny
    buanalangitmerah@gmail.com

  12. Ckyhyun said:

    Yaampuun yuri tega bgt ama sica. Tp sica jg tega bgt ama yuri. Satu sama lah, dn akhirnya mrka brsma yee.

  13. Junior Kwon said:

    Rasa sesal akan selalu dtg diakhir tp bsa diperbaiki dimasa yg akan dtg..good job yul..

  14. hennyhilda said:

    Aq sk bgt author m ff nya >.<
    Keren bgt
    semangat author
    ganbatte

  15. hennyhilda said:

    You’re my angel,my tears n laughter born to love each other

  16. Kim/Choi said:

    Ninggalin jejak kotor lagi ah 😀
    Kali ini pairingnya YulSic unnie. Yeeeeeeeehhhhhhhh, sweet ending. Kak Author, lanjutkan! 😀

Comments from Sone

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: